25. Turnamen Keakraban

Hari percontohan turnamen tiba. Clarine harus berusaha keras agar bisa nampak cukup antusias saat sebuah tali asap mendekatinya dan memilihnya sebagai peserta. Tak hanya Clarine, beberapa gadis tampaknya juga harus berusaha keras untuk memberikan tepuk tangan pengantar saat Clarine berjalan menghampiri teman satu timnya yaitu Zoenoel.

Perasaan Clarine semakin tidak enak saat ia harus berdiri di antara Zoenoel dan Valaria yang sudah lebih dahulu berbaris di depan penonton. Pandangan-pandangan sinis dari beberapa gadis bisa Clarine rasakan. Menurut logika, harusnya Clarine tidak perlu merasa bersalah. Namun tetap saja Clarine tertekan dengan perasaan tersebut.

"Hai." Sebuah senyuman terlukis di wajah Zoenoel saat Clarine mengambil tempat di samping pemuda itu.

Selama beberapa detik, Clarine terpaku. Gabungan antara terposona dan tak habis pikir. Begitu ia sadar, buru-buru Clarine membalas senyuman dan sapaan Zoenoel. Sepertinya bukan hanya Clarine yang diancam Dazt untuk bersandiwara hari ini.

Konflik dalam diri Clarine pun semakin berat. Jangankan bisa berpura-pura menjadi pasangan kasmaran selama turnamen, saat ini saja pertahanan Clarine sudah melemah. Clarine mulai tergoda untuk percaya bahwa Zoenoel punya perhatian dan perasaan khusus untuknya.

Selama Pak Walikota berbicara tentang maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan turnamen serta peraturan-peraturan dalam permainan. Clarine memilih sibuk dengan pikirannya. Peran Clarine sebagai Eucharistia sudah membuatnya tahu banyak tentang acara ini. Yang belum diketahui Clarine adalah bagaimana ia harus bersikap sepanjang turnamen berlangsung.

Masalahnya, Katharina dengan jelas ingin menjual kisah asmara Zoenoel. Beberapa tantangan dalam permainan ini sengaja dirancang agar mendorong terjadinya adegan romantis. Bahkan bisa dibilang tidak ada tantangan yang benar-benar mengancam nyawa seperti yang dulu dilalui Faenish dan teman-temannya.

Meski begitu, bukan berarti semua ini mudah bagi Clarine. Ia justru tertekan dan stress mencari alasan penguatan akan kewarasannya.

Pada akhirnya, tepat sebelum beberapa kembang api menyala sebagai tanda dimulainya turnamen, Clarine mengambil keputusan. Ia akan melupakan sejenak segala kerumitan hubungannya dengan Zoenoel dan berusaha menikmati momen bersama pemuda itu. Tak peduli ini hanya sandiwara atau sejenisnya, Clarine hanya berharap ia bisa menjadikan imajinasinya beberapa bulan lalu menjadi kenyataan. Setidaknya, jika memang hubungan mereka tidak dapat diselamatkan, Clarine sudah cukup memberikan kesempatan bagi perasaannya untuk tersampaikan.

Di tengah kemeriahan kembang api, tiga pintu muncul di hadapan ketiga pasangan peserta. Di depan Clarine dan Zoenoel muncul sebuah pintu kayu yang nampak cukup normal dengan ukiran angka 1. Hanya saja, di bawah angka tersebut terdapat peringatan dengan simbol petir dalam segitiga, serta tulisan: Area Terbatas.

Tanda pada pintu tersebut menginformasikan bahwa apapun tantangan yang ada di balik pintu, harus diselesaikan tanpa menggunakan bakat. Dengan kata lain, Kaum Berbakat tidak diperkenankan menggambar segel atau menggunakan ramuan dalam area tersebut. Jika melanggar, peserta tersebut akan disengat listrik sampai pingsan dalam waktu cukup lama.

Selain membuat beberapa area larangan penggunaan bakat, perubahan lain yang dilakukan Eucharistia dalam permainan ini adalah soal pergerakan pemain. Berbeda dengan permainan ular tangga biasanya, dalam permainan kali ini pergerakan pemain tidak ditentukan oleh dadu. Banyaknya langkah ditentukan oleh akumulasi penilaian dari penampilan peserta saat menyelesaikan tantangan sebelumnya. Sementara itu, untuk tantangan pertama, sengaja dipilih berdasarkan penilaian dasar para juri akan kemampuan peserta serta cerita yang ingin mereka jual kepada publik.

Begitu melewati pintu, Clarine dan Zoenoel melangkah ke sebuah area hutan dengan pohon-pohon menjulang tinggi.

"Sepertinya kita harus memasak," ujar Clarine setelah mengedarkan pandangannya. Pemandangan di sekeliling mereka bisa dikatakan tidak normal. Di antara pepohonan, nampak tumbuh beberapa jenis rempah yang sebenarnya tak umum tumbuh berdampingan. Ada juga beberapa ekor ayam yang tengah bertengger di dahan pohon. Di samping salah satu ayam bahkan terlihat sebuah kuali yang tergantung janggal.

Perannya sebagai Eucharistia jelas memberikan Clarine sedikit keuntungan untuk mengetahui banyak hal tentang setiap tantangan dalam permainan ini, tetapi bukan berarti Clarine berniat bermain curang. Ia sendiri tidak memiliki waktu untuk berlatih memasak, jadi untuk tantangan pertama kali ini, ia berharap banyak kepada Zoenoel.

Tantangan memasak memang terdengar cukup konyol. Namun nyatanya tugas tersebut bukanlah tugas yang mudah, apalagi Clarine dan Zoenoel jarang bekerja sama. Karena itu tidak heran jika mereka berdua agak kurang kompak dalam melakukan suatu pekerjaan bersama.

Kendala lain yang dihadapi Clarine adalah ia tidak terlalu mengenal Zoenoel hingga ia tidak sengaja memancing sisi lain pemuda itu. Clarine sama sekali tidak menyangka kalau seorang Zoenoel tidak sanggup membunuh seekor ayam. Pemuda itu memang dengan sangat cepat menangkap seekor ayam, saat Clarine memintanya menyiapkan ayam panggang. Masalahnya, begitu si ayam berada dalam genggaman, ayam itu hanya dipelototi. Lebih parahnya lagi, yang nampak pucat justru Zoenoel bukannya si ayam yang akan disembelih.

Jika saja Clarine tidak pernah melihat ingatan masa lalu Zoenoel, Clarine dipastikan akan tertawa. Namun, Clarine bisa mengerti alasan tindakan konyol Zoenoel saat ini. Clarine bahkan merutuki diri sendiri karena sama sekali tidak peka dengan persaan pemuda yang ia sukai.

Masalahnya, meski Clarine dan Zoenoel nampak hanya berdua, tetapi seluruh jalannya permainan ditonton secara langsung oleh para penduduk. Pergulatan batin Zoenoel jelas bukan sesuatu yang baik untuk dipertontonkan, karena itu Clarine segera menghampiri Zoenoel.

"Sepertinya aku tidak begitu bisa mengatur bumbu, bagaimana kalau kita bertukar pekerjaan?" ujar Clarine.

Zoenoel tidak menjawab, ia masih diam bergeming.

"Zoenoel?" Clarine memberanikan diri untuk menyentuh lengan pemuda di depannya itu.

"Aku yang akan mengurus ayam dan bumbunya. Kau ambil saja air dan tambahan kayu bakar." Pandangan Zoenoel masih terpaku pada si ayam. Ia pun belum juga bergerak, tetapi Clarine tidak membantah.

"Baiklah. Mohon bantuannya." Clarine tersenyum dan memberikan tepukan ringan untuk menguatkan pemuda itu. Ia yakin butuh usaha yang besar untuk menaklukan sebuah trauma.

Selama beberapa menit kemudian, Clarine dan Zoenoel sibuk mempersiapkan masakan mereka. Meski harus berulang kali mengulang pekerjaan yang sama karena kesalahmengertian antara satu sama lain, Clarine tetap menikmati momen kerbersamaannya dengan Zoenoel. Ia merasa jaraknya dengan Zoenoel semakin dekat setelah melakukan beberapa pekerjaan bersama. Tidak peduli hasil masakan mereka nampak agak kurang meyakinkan, Clarine tidak bisa berhenti tersenyum.

Ia nyaris melupakan di mana mereka dan segala peraturan permainan. Clarine bahkan sudah berniat menyuapkan makanan kepada Zoenoel ketika papan permainan tiba-tiba muncul di depan mereka.

Di atas papan, dua minatur yang menggambarkan Clarine dan Zoenoel bergerak maju tiga langkah. Artinya akumulasi penilaian mereka adalah setengah dari skor sempurna.

Detik selanjutnya, sebuah pintu dengan nomor 4 muncul. Pintu tersebut nampak seperti permukaan danau yang ditumbuhi teratai. Hanya gagang pintu dan ukiran angka empat yang nampak kontras karena terbuat dari batu berlian.

Pintu itu nampak indah dan tak ada tanda larangan penggunaan bakat. Namun Clarine justru mengembuskan nafas berat. Ruangan selanjutnya adalah hasil karya Drina dan itu agak kurang menyenangkan.

Tantangan di balik pintu tersebut adalah menangkap sang Ratu Katak dan mengurung makhluk itu dalam kandang. Masalahnya, sang ratu beserta puluhan pasukannya memiliki kulit sekeras batu permata. Duel antara Pak Krav dan Profesor Anggelita telah memberikan Drina sebuah ide menggunakan Ramuan Kulit Berlian.

Sialnya lagi, Drina sedikit berimprofisasi dengan menambahkan ramuan ciptaannya. Setiap katak yang harus mereka hadapi memiliki kemampuan untuk menyengat dengan lidah yang berlumur ramuan Sengatan Kenangan. Ramuan yang membuat kenangan buruk seseorang menjadi kuat sehingga sekilas orang tersebut akan merasa seolah kembali ke masa-masa terburuk dalam hidup mereka.

"Kita pasti bisa melawati ini," Clarine memberanikan diri memeluk Zoenoel sebelum pemuda itu membuka pintu.

Awalnya Zoenoel merasa canggung, tetapi ia kemudian balas memeluk Clarine dan mengelus rambutnya penuh kelembutan. "Kita akan baik-baik saja."

Untuk beberapa alasan yang tidak bisa dijelaskannya, air mata Clarine mengalir. Ia tidak peduli jika Zoenoel dan para penonton berpikir bahwa dirinya gila dan menjijikan. Clarine hanya tidak bisa menahan ketakutannya akan penderitaan Zoenoel nanti. Hatinya benar-benar sakit hanya dengan membayangkan saat Zoenoel tersiksa.

"Kita akan melewati apapun di balik pintu ini." Zoenoel akhirnya melepas pelukannya, tersenyum meyakinkan, lalu membuka pintu.

Seketika air setinggi lutut Clarine menerjang masuk. Di balik pintu terdapat hamparan telaga berlapiskan berbagai tanaman air yang memanjakan mata. Di atas beberapa daun teratai terdapat katak yang terlihat aneh karena lebih mirip bongkahan batu berlian yang bergerak.

***

Entah berapa lama mereka berjuang di ruangan tersebut hingga Zoenoel berhasil melemparkan sebagian besar katak beserta ratu mereka ke dalam kandang emas yang sudah disediakan. Satu hal yang pasti, tugas di ruangan itu akhirnya berakhir.

Nafas Clarine dan Zoenoel sama-sama memburu. Keringat mengucur deras melewati beberapa lebam yang mereka miliki. Keduanya tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar mereka yang luluh lantak, ataupun kondisi badan mereka yang penuh lumpur.

"Apa kau baik-baik saja?" suara Clarine terdengar lemah.

Zoenoel tidak menyahut. Ia hanya menganggukan kepala dan memaksakan senyum sekilas. Wajah pemuda itu nampak pucat dan ekpresinya lebih dingin dari biasanya.

Clarine jelas tidak bisa melupakan teriakan-teriakan pilu yang dikeluarkan Zoenoel saat beberapa kali disengat katak. Tingkah Zoenoel yang sempat menjadi agak tidak sabaran dan kehilangan kendali menunjukan dengan jelas perasaan frustasi pemuda itu. Clarine benar-benar bersyukur semuanya sudah berakhir.

Papan permainan pun muncul menggantikan kandang yang penuh dijejali katak. Bidak mereka kembali bergerak, kali ini maju sejauh lima langkah dan sebuah pintu batu bertuliskan angka sembilan muncul.

Clarine melirik Zoenoel heran. Ia sadar betul kalau dirinya dan Zoenoel juga tidak begitu kompak dalam menyelesaikan tantangan kedua mereka, tetapi entah bagaimana mereka justru mendapat nilai tinggi. Kecurigaan Clarine diperparah oleh fakta bahwa kini bidak mereka berada dalam nomor yang sama dengan empat bidak lain.

Mungkinkah tindakannya saat memeluk Zoenoel sebelum memasuki pintu dihitung? Pikir Clarine.

Zoenoel nampak mengangkat bahu sekilas dan balas menatap Clarine bingung. Tidak ada percakapan, keduanya hanya saling memandang selama beberapa detik sebelum Zoenoel akhirnya mengangguk dan melangkah mendekati pintu bernomor sembilan di hadapan mereka.

Pintu batu tersebut juga memiliki tanda larangan penggunaan bakat, tetapi Clarine tidak begitu mengkhawatirkan tantangan selanjutnya. Mereka hanya akan diharuskan untuk menyeberangi jurang tanpa menggunakan kemampuan Kaum Berbakat. Rasanya tidak ada yang berbahaya selain kemungkinan jatuh ke dalam jurang buatan.

Clarine mengikuti langkah Zoenoel seraya memikirkan apa yang sedang direncanakan oleh Telly selaku orang yang mengurus skenario permainan. Keenam pemain berkumpul dalam satu tantangan jelas bukan suatu kebetulan.

"Perhatikan langkahmu," tegur Zoenoel saat Clarine nyaris jatuh mencium batu.

Untung saja Zoenoel sempat memeluk tubuh Clarine sebelum hal buruk terjadi.

"Clarine? Zoenoel? Kalian juga di sini?" Seruan Queena membuat Zoenoel refleks melepaskan pelukannya dan Clarine juga buru-buru berdiri dan membuat jarak.

"Apa kalian baru saja bertarung melawan kerbau?" goda Maery.

Clarine tak sempat menjawab. Zoenoel sudah lebih dahulu menggunakan segel air untuk membersikan diri mereka. Clarine jelas tidak mau mengambil risiko menelan begitu banyak air karena membuka mulut sekarang.

Agar dirinya tidak canggung setelah proses pembersihan selesai, Clarine sengaja mengedarkan pandangan. Mengalihkan pikiran pada pemandangan ujung tebing yang ada di sekelilingnya. Tak jauh di depan, Maery tengah sibuk mengikat sesuatu menyerupai tali pada sebatang pohon besar. Valaria dan Queena duduk tak jauh di samping Maery, keduanya sedang sibuk menjalin akar-akar gantung agar menjadi tali. Di sisi terjauh, dekat bibir jurang, nampak Rexel yang melilitkan diri pada ujung lain tali.

"Apa ini artinya kita harus bertarung antar kelompok atau sejenisnya untuk mencapai papan permainan?" celetuk Rexel. Pemuda itu nampak perlahan semakin mendekati sebuah jembatan lapuk yang ada di belakangnya. Ia dipastikan berniat lari mendahului mereka hingga ke seberang tebing tempat kotak permainan sudah menunggu.

"Kurasa kita justru harus bekerja sama," ujar Maery seraya mengakhiri ikatannya dengan susah payah.

"Aku setuju dengan Maery," seru Queena. Ia segera melompat berdiri dan berjalan mendekati Clarine. "Kita akan membutuhkan lebih banyak akar untuk membuat tali. Clarine, bisakah kau temani aku mengumpulkan beberapa akar? Sementara itu bisakah kau membantu memastikan keadaan jembatannya, Zoenoel?"

Clarine mengangguk sementara Zoenoel tidak menjawab. Pemuda itu langsung berjalan mendekati Rexel.

"Tenang saja, jembatan ini bisa kulalui dengan mudah." Rexel berseru dengan bersemangat seraya mulai melangkahkan kaki di atas jembatan.

"Sulit menghentikan anak itu," gumam Maery.

"Ia sama sekali tidak terlihat seperti Faenish." Clarine menyetujui. "Apa mereka benar-benar bersaudara?"

Maery tertawa. "Zoenoel juga tidak mirip dengan Glassina."

"Kita sebaiknya mengawasi tali dan jembatannya," usul Valaria. Suara gadis itu terdengar khawatir.

"Valaria benar," ujar Queena, "kalian awasi dia, aku dan Clarine akan segera kembali."

Dari sudut matanya, Clarine bisa melihat Zoenoel berjalan mendekati tali. Posisi yang dipilih Zoenoel adalah tepat di ujung jembatan, tempat yang cukup berdekatan dengan posisi yang dipilih Valaria. Clarine hanya bisa tersenyum miris sebelum mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Queena yang sudah melangkah lebih dahulu ke barisan pepohonan.

Clarine baru beberapa langkah mengikuti sosok Queena yang menghilang di balik sebuah pohon besar, ketika tiba-tiba terdengar suara memekakan telinga disusul gempa hebat. Goncangan itu memang hanya terjadi sekitar 15 detik, tetapi Clarine dan yang lain dengan mudah dibuat tersungkur jatuh.

Bunyi gemeretuk bebatuan dan dentuman pohon tumbang saling tumpang tindih dengan suara teriakan. Beberapa bagian tepi jurang pun ikut amblas dengan suara berdebum keras.

Setelah 15 detik, pergeseran permukaan tanah masih sesekali terjadi. Namun tidak sekuat sebelumnya.

"Rexel." Teriakan panik Valaria membuat Clarine menolehkan kepala ke arah jembatan yang kini tak lagi jelas bentuknya.

Clarine tidak bisa melihat sosok Rexel. Namun dari usaha Valaria dan Zoenoel yang tengah menarik tali, Clarine yakin Rexel masih bisa diselamatkan. Clarine justru panik dengan kondisi Maery yang tak terlihat di mana pun.

Saat melihat Queena berlari melewati dirinya untuk ikut menarik Rexel, Clarine memutuskan untuk berjalan ke arah pohon tempat Maery berdiri sebelumnya. Pohon itu sudah tumbang dan sesuai dugaan Clarine, Maery sedang terbaring tak sadarkan diri. Gadis itu bahkan tampak memprihatinkan dengan beberapa garis aliran darah menghiasi wajahnya serta ranting yang cukup besar menindih kaki kanannya.

Clarine baru akan membantu Maery, ketika ia merasakan ada perubahan arah angin yang cukup aneh. Sehelai daun terbang melewati Clarine dan menuju ke arah tebing seberang.

Perasaan Clarine jadi tak enak. Gambaran Lubang Hitam langsung terlintas di pikirannya. Begitu menoleh, Clarine hanya bisa menelan ludah berat saat mendapati lubang di dinding tebing seberang.

Ukuran lubang tersebut memang tak seberapa besar, tetapi tampak cukup dalam. Clarine yakin jauh di balik bebatuan terdapat Lubang Hitam yang berukuran lebih besar dan sementara berusaha melahap segala sesuatu yang ada, termasuk mereka.

Posisi Rexel paling tidak diuntungkan terutama dengan kondisinya yang tidak sadarakan diri. Dalam beberapa saat, anak itu dipastikan akan menjadi orang pertama yang tersedot masuk ke ketiadaan.

BRUAK

Bunyi memekakan telinga terdengar. Clarine menoleh untuk melihat beberapa bagian tanah yang melesak amblas, termasuk tempat Queena, Valaria dan Zoenoel berpijak.

Teriakan Valaria terdengar saat ia ditarik oleh Queena menjauhi area longsor. Namun, pandangan ngeri Clarine justru tertuju pada tali yang kini bergerak dengan cepat ke arah Lubang Hitam. Tak ada seorang pun yang menahan tali pengikat Rexel. Tali itu berada jauh dari jangkauan Clarine. Sementara tubuh Rexel sudah hampir melalui dinding tebing.

Tiba-tiba, Clarine merasakan sensasi pembuatan segel dan tubuh Rexel tampak ditarik kembali hingga terhempas beberapa meter di dekat mereka. Rexel kini aman sementara sang pembuat segel langsung menerima konsekuensi di detik selanjutnya. Tubuh Queena tampak bergetar hebat saat gadis itu dikenai sengatan listrik.

Peristiwa itu menyadarkan Clarine akan satu hal. Ia berbakat dan bakatnya tidak terdeteksi. Setelah bersikap selayaknya Kaum Nonberbakat, Clarine melupakan fakta penting ini. Betapa cerobohnya dia.

Clarine yakin ia tidak akan tersengat listrik karena sensor pendeteksi tidak bisa merasakan pembuatan segelnya. Permasalahannya hanya tinggal risiko tereksposnya bakat Clarine yang tak biasa. Akan tidak mudah menjelaskan kemunculan efek segel saat semua orang sedang mengawasi mereka.

Clarine dengan segera membuat segel untuk menggerakkan sebuah batu besar agar menyumbat lubang di tebing. Selanjutnya Clarine juga membuat segel angin untuk mengangkat batang pohon yang menindih tubuh Maery. Ia berusaha melakukan semua pergerakan segel dengan sealami mungkin agar tidak terlalu mencolok. Jika Clarine membongkar identitasnya sekarang, kedua orang tuanya bisa dalam bahaya. Jadi meski ingin melakukan sesuatu yang lebih untuk situasi ini, Clarine memilih untuk tetap berhati-hati.

Tekanan udara kembali normal, tetapi Clarine tahu ini tak akan berlangsung lama. Mereka harus segera keluar. Menyadari Valaria hendak menghampiri Rexel, Clarine segera berteriak.

"Bawa yang lain keluar. Biar aku yang meraih Rexel."

Namun Valaria menunjukkan sifat keras kepalanya. Gadis itu tetap saja memanjat naik sebuah batu besar untuk mendekati ujung tebing.

Buru-buru Clarine berlari menghampiri Valaria sebelum gadis itu berbuat lebih nekat. Kondisi Valaria sama sekali tidak terlihat baik, ia berjalan pincang sementara tangan kirinya nampak menggantung lunglai. Darah mengucur dari pelipis serta beberapa tempat lain.

"Jangan memaksakan diri, Valaria. Biarkan aku yang mengurus Rexel." Kali ini Clarine tidak menunggu respons Valaria. Ia justru berlari mendahului gadis itu.

Baru saja Clarine memapah tubuh Rexel, ketakutan Clarine mulai menampakan wujud nyata. Aliran udara kembali bergerak ke arah Lubang Hitam. Dengan diiringi bunyi gemeretak mengerikan, lubang tersebut kembali terbuka. Sumbat yang dipasang Clarine sebelumnya sudah lenyap dan justru memperbesar ukuran lubang.

Bebatuan dan dahan pohon kembali bergerak. Pasokan udara dalam tempat itu semakin menipis. Clarine merasa semakin perih setiap kali ia menarik nafas.

Peringatan Clarine kepada Valaria pun ikut menjadi nyata, tubuh gadis itu herhempas dan ia tidak memiliki apapun sebagai pegangan. Sialnya, Clarine dan Rexel juga ikut merasakan dampak. Tubuh Valaria menyambar Clarine dan Rexel hingga mereka bertiga pun dengan cepat ditarik mendekati Lubang Hitam.

Jika saja tidak ada batang pohon besar melintang di dinding tebing yang berlubang, mereka dipastikan sudah berada di anta beranta.

Hanya saja, bertahan di antara tekanan udara dan tamparan bebatuan serta ranting bukanlah hal mudah. Aliran darah yang semakin deras dari luka Valaria menunjukkan fakta itu dengan jelas. Kondisi ini tentu saja membuat Clarine harus berusaha keras dalam berkosentarsi menggambar segel untuk menyelamatkan mereka.

Agar tidak terlalu mencolok, Clarine menggerakkan bebatuan di bagian dalam tebing sehingga mengalihkan daerah serapan lubang hitam. Hal yang cukup menguras tenaga, tetapi sepadan untuk membuat keadaan lebih baik. Clarine juga tak lupa menggerakkan bebatuan tebing agar mereka bertiga mendapat pijakan dan tidak terjatuh ke dalam jurang.

"Ahhh." Teriakan memekakan telinga keluar dari mulut Valaria saat gadis itu mendarat di bebatuan.

Clarine benar-benar tidak bermaksud membalas Valaria. Satu-satunya ide yang terpikirkan Clarine hanyalah membuat pendaratan darurat dan ia tidak punya waktu untuk memikirkan bentuk bebatuan yang ditariknya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Valaria akan jatuh ke bagian batu yang cukup runcing hingga kaki kanan gadis itu tertusuk dalam.

Dengan konsisi nyaris pingsan, Valaria memaksakan diri untuk menggambar segel dalam ukuran besar. Sensasi getaran udara yang dirasakan Clarine bahkan sampai membuatnya pening. Saat segel itu diaktifkan, Clarine tak sanggup memperhatikan apa yang terjadi selama beberapa detik. Satu hal yang pasti, lokasi di sekitar mereka tak lagi tampak sama.

Aksi Valaria dengan jelas menunjukan betapa besar bakat gadis itu. Clarine tentu saja tak akan sanggup memindahkan nyaris seluru isi ruangan seluas 400 meter persegi untuk menyumbat Lubang Hitam.

Clarine sempat melihat kilatan samar di langit-langit, tetapi Valaria tidak pernah tersengat listrik seperti Queena. Tampaknya Satuan Manguni sudah mematikan sensor pendeteksi bakat di ruangan itu. Meski begitu, Valaria tetap saja roboh tak sadarkan diri. Kalau saja tidak mendengar suara kedatangan para anggota Satuan Manguni, Clarine pasti sudah nekat membuat segel teleportasi.

Sosok Zoenoel menjadi orang pertama yang mencapai tempat mereka dengan mengikatkan dirinya sendiri pada tali. Clarine tahu dengan kempuan tali darurat yang ada, Zoenoel hanya memiliki kesempatan menyelamatkan salah satu dari antara mereka dan sudah jelas siapa yang paling membutuhkan pertolongan. Namun tetap saja, saat melihat Zoenoel menggapai Valaria, Clarine merasa terluka.

Apalagi Zoenoel sama sekali tidak menyempatkan diri untuk memberikan penguatan kecil bagi Clarine. Tidak perlu muluk-muluk, Clarine hanya mengharapkan sebuah tatapan atau anggukan kecil yang mengisyaratkan bahwa pemuda itu percaya Clarine sanggup berjuang sendiri. Setidaknya Clarine butuh kode bahwa Zoenoel menyadari keberadaannya. Namun tidak, tidak ada apapun.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top