23. Perpisahan Eksentrik

"Hai Clarine."

Sekali lagi, Tante Sayang nyaris membuat Clarine kena serangan jantung dengan keberadaannya yang tak terduga di dalam kamar. Hari sudah malam dan mendapat kejutan mendadak seperti ini, jelas tidak baik untuk kesehatan jantung Clarine.

"Hari yang menyenangkan, bukan begitu?" tanya Tante Sayang

Clarine mengangguk sebagai respons. Dirinya masih sibuk menenangkan ritme jantung serta memikirkan apa yang akan dilakukan Tante Sayang selanjutnya.

"Ini juga malam terakhir aku menginap," lanjut Tante Sayang. "Jadi mari kita langsung saja. Aku ingin kita menyelesaikan beberapa urusan sekarang."

Tante Sayang tiba-tiba melakukan hal tak terduga. Ia berlutut dengan satu kaki dan mempersembahkan sebuah kotak merah kecil. "Ini hadiah perpisahan dariku."

Clarine mengerutkan kening. Tindakan mirip prosesi lamaran di drama romantis jelas tampak menggelikan jika dilakukan oleh Tante Sayang padanya.

"Bukalah." Senyuman Tante Sayang tetap merekah, sama sekali tak terpengaruh dengan ekspresi horor di wajah Clarine. "Oh ayolah Clarine, umurku sudah tidak memungkinkan persendianku untuk bertahan lama dalam posisi ini."

Merasa tak enak, Clarine mengambil hadiahnya.

Tante Sayang pun bangkit berdiri dan menatap Clarine dengan bersemangat. Ia menanti Clarine untuk membuka si kotak merah.

Untung saja tidak ada cincin di dalam hadiah tersebut. Hanya ada sebuah kotak kado mungil berwarna biru, lengkap dengan lilitan pita kuning. Namun, saat Clarine mengeluarkannya, kado tersebut membesar 3 kali lipat seperti balon yang ditiup.

"Ah belum terlihat isinya, kau belum beruntung. Ayo coba lagi." Tante Sayang bertingkah seakan dirinya pembawa acara kuis berhadiah.

Clarine membuka kotak kado tersebut dan sekali lagi ia menemukan kotak kado lainnya. Seperti sebelumnya, begitu kotak itu dikeluarkan, benda itu bertambah besar dan bertambah berat.

Kemungkinan isinya adalah cincin jelas sudah tidak ada lagi. Clarine mulai bersemangat membuka-buka kado berbagai bentuk dan ukuran yang ditemukannya. Hingga akhirnya Clarine mengeluarkan sebuah buku, alih-alih kotak kado lainnya.

Tante Sayang bertepuk tangan dan mengucapkan selamat.

"Petunjuk Manual Pencari?" Clarine membaca judul buku di tangannya.

"Buku itu kutulis ulang dengan tanganku sendiri. Namun sebagian besar isinya berasal dari para leluhur dari setiap generasinya. Aku hanya menambahkan beberapa tips dan trik yang cukup kekinian." Tante Sayang menjelaskan dengan bangga sebelum mengusulkan, "Sebaiknya kau berbaring sekarang. Akan ku berikan kisahku sebagai cerita pengantar tidurmu."

Selimut Clarine tiba-tiba tersingkap dan badan Clarine melayang menuju ke tempat tidur. Tak ada sensasi apapun sebagai tanda penggunaan segel. Namun Clarine melihat sendiri Tante Sayang menggambar segel.

Tante Sayang tersenyum semakin lebar saat Clarine memandangnya penuh tanya. Ia menunggu sampai Clarine berbaring dan diselimuti sebelum kembali bersuara. "Yah, kau benar. Aku berbakat, dan diriku keturunan keluarga Amamesa. Nama keluargaku sudah lama hilang karena kami sebagian besar perempuan. Namun itu bukan bagian yang penting.

"Kisah yang ingin kuceritakan berawal dari masa yang sangat jauh. Dimulai dari orang pulau pertama yang berhasil menyelinap pergi dan beranak pinak di luar sana, tanpa menyadari bahwa beberapa keturunan mereka akan dianugerahi bakat istimewa. Adalah tugas keluargaku untuk mencari dan membawa para keturunan spesial itu ke tempat seharusnya. Bukan tugas yang mudah. Apalagi dalam keluargaku jarang ada yang berbakat. Keturunan yang tak berbakat berarti juga tidak memiliki kemampuan istimewa dalam mendeteksi bakat orang lain. Karena itu, ibuku menjadi bersemangat dengan percobaan nenekmu. Menambah populasi akan sangat membantu.

"Kalau bisa tolong hasilkan banyak anak, Clarine. Usiaku sudah rentan untuk melanjutkan garis keturunan. Karena itu, aku mengandalkan keturunanmu untuk melanjutkan tugas keluargaku. Semua yang perlu kau tahu ada di buku petunjuk yang kuhadiakan padamu.

"Ah ... Entah kita akan bertemu lagi atau tidak." Tante Sayang nampak menerawang. Akhirnya setelah beberapa menit mengoceh tanpa henti, wanita itu kini diam.

Masalahnya, Clarine sudah terlanjur memiliki banyak pertanyaan yang mengantri di benaknya. Maka ia pun mulai bertanya, "Apa Anda pernah menemukan Kaum Berbakat di luar sana?"

"Tentu saja," seru tante Sayang bersemangat. "Anggelita adalah yang pertama kali kutemukan. Aku nyaris terlambat menemukannya. Wanita itu sudah cukup berumur dan hampir bunuh diri karena ditinggal mati kekasihnya. Aku sempat takut ia tidak akan bertahan. Untung saja ketertarikannya pada obat-obatan tradisional membawanya kepada tujuan hidup yang baru dalam bidang ramuan."

"Profesor Anggelita?" Clarine memastikan.

"Ya. Wanita itu sekarang menjadi profesor, betapa bangganya diriku." Tante sayang menepuk dada kirinya dengan senyuman terlukis lebar. "Ah, aku juga menemukan seseorang lagi yang pasti kau kenal, namanya Faithy. Hidupnya cukup sulit saat kutemukan. Ia dibuang karena kondisi fisiknya. Ah, Faithy seharusnya bisa juga disebut sebagai ibumu karena dari dialah kemampuan membuat segel dalam pikiran bisa kau dapatkan. Jadi, bersikap baiklah padanya."

Tante Sayang pun terus bercerita tentang orang-orang yang ia temui di sepanjang pencariannya. Clarine berusaha menyimak, hingga ia perlahan terlelap.

***

Mengingat popularitasnya yang meningkat sejak pertunjukan di Hari Syukuran Kelulusan, Tante Sayang memilih untuk berangkat tengah malam. Ia tak ingin membuat kehebohan saat dirinya pergi. Namun Maery berkeras untuk membuatkan sebuah pesta perpisahan kecil-kecilan di rumah Clarine dengan mengundang Faithy dan Eka.

Alhasil, malam itu rumah Clarine dibuat ramai dengan canda tawa dan beberapa pertunjukan. Waktu terasa berlalu cepat hingga bunyi jam malam terdengar dan tiba waktunya bagi Tante Sayang untuk pamit.

Layaknya cerita dongeng, Tante Sayang menghias kereta kudanya dengan pernak-pernik. Ia bahkan menyalakan kembang api saat melambaikan tangan untuk terakhir kalinya. Kereta pun melaju meninggalkan percikan-percikan berwarna serta asap yang membuat kepergian Tante Sayang nampak misterius dan ajaib.

"Aku akan merindukannya," gumam Maery.

"Kita semua akan merindukannya," imbuh Eka, disusul anggukan setuju dari Faithy dan Clarine.

"Kalau begitu kami juga permisi." Eka berpamitan begitu kereta Tante Sayang menghilang dari pandangan. Ia pun segera membantu Faithy menaiki mobil dan melambai sebelum berkendara pergi.

Clarine dan Maery baru saja akan kembali masuk ke rumah saat terdengar suara ledakan dan tampak semburat warna kemerahan dari arah yang sebelumnya dituju Tante Sayang. Mereka pun segera berlari menuju mobil. Clarine tak bisa menggunakan kemampuan berteleportasinya karena ia tidak tahu lokasi pasti dari ledakan tersebut.

"Semoga ini hanya bagian dari ide gila Tante Sayang." Maery terdengar tidak begitu yakin dengan pernyataannya. Clarine juga meragukan hal tersebut.

Setelah berkendara beberapa saat, Maery akhirnya menghentikan mobil di tepi jembatan. Tanda menghitam di jalan serta kerusakan pada pembatas jembatan menunjukkan dengan pasti lokasi kejadian. Namun tak ada tanda-tanda keberadaan kereta karnafal di sana.

Tanpa menunggu Maery, Clarine segera berteleportasi ke tepi jembatan untuk melihat ke bawah. Tak juga ada bangkai kereta yang nampak, setidaknya tidak ada yang utuh. Sepihan kayu tersebar di sungai, beberapa masih berasap, dan yang paling membuat perut Clarine bergejolak adalah potongan kepala kuda yang tersangkut di bebatuan. Mata hitamnya balas menatap Clarine.

Maery menyusul Clarine di tepi jembatan. Clarine juga bisa merasakan kedatangan beberapa anggota Satuan Manguni dari sensasi pembukaan portal tak jauh dari mereka. Namun ia tidak begitu menyadari kapan jembatan itu menjadi begitu ramai, dan kapan dirinya sudah dipindahkan ke dalam sebuah mobil.

Kesadaran Clarine baru kembali saat ia merasakan sensasi teleportasi lain. Ia berharap Tante Sayang akan muncul dan berkata: terima kasih sudah menyaksikan pertunjukan saya. Sayangnya harapan Clarine tidak terkabul, ia justru mendapat mimpi buruk lainnya. Sosok Zoenoel muncul dengan menggandeng Valaria. Keduanya muncul dengan begitu serasi karena menggunakan baju yang senada.

Clarine menggeleng, mengusir pikiran-pikran tak masuk akal dalam pikirannya. Ia harus fokus pada masalah Tante Sayang.

"Apa mungkin Katharina terlibat dalam hal ini?" gumam Maery pelan hingga hanya Clarine yang sanggup mendengarnya. "Aku jadi teringat pada ancaman yang diceritakan Ryn di hari Syukuran Kelulusan."

Clarine tiba-tiba berdiri. Meski agak limbung, ia memaksakan kakinya berjalan ke arah pepohonan di sebelah kiri jembatan.

"Clarine kau mau ke mana?" tanya Maery.

"Aku akan menemukannya." Clarine merasakan getaran samar yang bisa ia klasifikasikan sebagai tirai satu arah. Jadi dengan yakin, Clarine pun berkata, "Dia masih di sini."

Mengabaikan kepalanya yang berdenyut, Clarine terus saja melangkah ke arah sumber getaran. Ia bahkan tidak peduli dengan seruan para Satuan Manguni yang mempertanyakan tingkahnya serta teman-temannya yang menyusul di belakang. Clarine tak peduli lagi jika orang-orang tahu kalau dia bisa mendeteksi bakat. Ia pun tidak peduli jika nanti disidang, asalkan Clarine bisa menyeret sang pelaku yang ia yakini adalah Queena.

Masih lima meter jaraknya, tetapi Clarine tak sabar lagi. Ia tahu bahwa banyak orang berada tak jauh di belakangnya dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi saksi. Clarine segera membuat segel dan membuka Tirai Satu Arah di depannya.

Tak sesuai dugaan Clarine, tidak ada Queena di sana. Tidak juga Katharina.

"Ayah?" gumam Valaria.

"Hei kalian tidak seharusnya berkeliaran di—Tuan Valerius?" salah satu anggota Satuan Manguni ikut menghampiri. "Apa yang Anda lakukan di sini dalam lindungan Tirai Satu Arah?"

Kepanikan di wajah Valerius secara tidak langsung menjawab kecurigaan dalam benak setiap orang yang memandangnya. Ditambah ceracauan gugupnya, "Aku tidak tahu keretanya akan meledak... aku ... aku hanya ..."

"Anda sebaiknya mengikuti kami ke kantor," ujar sang anggota Satuan Manguni.

"Tidak." Valaria berteriak histeris. "Ayah ..."

Zoenoel dengan cepat sudah menahan Valaria. Lengan pemuda itu melingkar dengan mantap di tubuh Valaria. Mereka berada sangat dekat. Terlalu dekat untuk bisa ditahan Clarine, jadi ia segera berteleportasi pulang.

Clarine bukannya cemburu, tidak, justru Clarine membayangkan dirinya berada dalam posisi Valaria dengan lengan Zoenoel melingkupinya, memberikan kehangatan—ah Clarine juga tidak mengerti kenapa otaknya jadi tidak beres. Mungkin dirinya terlalu banyak bergaul dengan Dazt, ataukah pengaruh segel perjodohannya dengan Zoenoel semakin memburuk?

Bulu kuduk Clarine meremang. Jika memang ini semua pengaruh segel perjodohan yang mengikat mereka, Clarine tak berani membayangkan apa yang mungkin ia rasakan terhadap Zoenoel saat dorongan hormon semakin membesar seiring perkembangan tubuhnya.

Clarine menekan bantal di wajahnya. Ia jelas tidak mau apabila setiap kali memandang Zoenoel, dorongan hormon akan membuatnya membayangkan hal-hal gila.

***

Dazt melangkah masuk ke kamar Clarine tanpa permisi. "Kau gila Clarine? Untung saja Zoenoel ada di sana sehingga dia bisa langsung menculik Pak Krav dan ingatan dua Satuan Manguni yang melihat teleportasimu bisa diedit."

Clarine tidak menanggapi. Hanya ada satu alasan pemuda itu berada di sini, Zoenoel tidak bisa datang dan tugas menjaga Clarine dilimpahkan kepada Dazt. Entah Clarine harus bersyukur dengan keadaan yang membuatnya tidak perlu berhadapan dengan Zoenoel dalam situasi aneh ini, ataukah ia harus merutuki nasib percintaannya yang jelas tak berakhir dengan baik.

"Hanya saja," lanjut Dazt. "Setelah melihat tingkah Pak Krav yang langsung datang membantu tanpa bertanya banyak, lalu mengingat Pak Krav yang selalu membantumu secara cuma-cuma, aku jadi penasaran. Apa Pak Krav kandidat lain yang dijodohkan padamu? Maksudku nenekmu mungkin saja menyiapkan beberapa jodoh cadangan jika kau dengan Zoenoel tidak berhasil. Pak Krav sepertinya mau-mau saja jika disuru melakukan apapun demi dirimu. Dia mau kerja rodi di kementerian lalu ia tak akan mengomel jika kau memintanya menghapus ingatan di sana-sini. Pak Krav juga memiliki kemampuan spesial dan jika saja tak terlalu banyak meminum ramuan yang mempengaruhi kesehatannya, aku yakin ia pasti cukup tampan di usianya yang baru 29 tahun. Bagaimana menurutmu?"

Clarine tidak menanggapi. Namun perkataan Dazt jelas mempengaruhinya. Walaupun terdengar mengerikan, teori Dazt terdengar logis. Selama ini yang Clarine tahu hanyalah soal kemampuan Pak Krav yang adalah hasil karya neneknya. Ia bukannya tidak menyadari kejanggalan tingkah Pak Krav yang banyak membantunya, hanya saja, Clarine tidak pernah terpikir jawaban yang masuk akal.

Clarine dengan segera menyingkirkan pikiran-pikiran tidak bermutu yang bermunculan karena teori Dazt. Kepala Clarine sudah nyaris pecah sekarang.

"Bisakah aku meminjam pemutar musikmu," gumam Clarine setelah ia mendiamkan Dazt cukup lama.

"Sudah kuduga kau akan ketagihan dengan lagu ibuku. Karena itu aku sudah membawa ini." Dazt membuka koper hitam yang dibawanya. Tak ada yang ia keluarkan, ia terus saja membuka benda itu selayaknya kertas lipat. Setelah beberapa bukaan, Dazt menyentaknya dan di depan pemuda itu kini terdapat sebuah piano. "Aku akan memainkannya langsung untukmu, Honey."

"Tidak terima kasih," tolak Clarine. "Kau pasti akan menuntut imbalan tak wajar nanti. Lagi pula aku tidak ingin mendengar suaramu. Aku pinjam pemutar musikmu saja."

"Ah, kau salah paham Honey." Dazt mengoreksi. "Aku tidak akan bernyanyi. Aku hanya akan memainkan melodi untukmu. Untuk mendengar suaraku, kau jelas harus membayar mahal, karena kemampuan bernyanyiku tak kalah dengan mendiang ibuku."

Belum sempat Clarine memikirkan kalimat balasan, Dazt sudah menekan jemarinya pada tuts dan nada-nada pun terdengar.

Alunan melodi yang terdengar membuat Clarine mengurungkan niatnya untuk protes. Ia memilih untuk menikmati suasana damai yang mulai bisa terasa. Pikiran Clarine semakin tenang, ia pasti sudah tertidur jika saja Dazt tidak membuka percakapan setelah sekian lama yang terdengar hanyalah lantunan melodi.

"Mana yang paling membuatmu tertekan. Kehilangan Tante Sayang, menemukan sang pelaku yang tak lain adalah ayah sahabatmu, atau karena pacarmu datang bersama gadis lain?"

Clarine mengabaikan Dazt. Namun pemuda itu terus saja mengoceh. "Aku tak tahu banyak soal tante eksentrikmu ataupun ayah sahabatmu, tetapi aku jelas mengetahui banyak hal tentang pacarmu. Beberapa hal yang perlu kau tahu tentang Zoenoel, di antaranya: Pemuda itu merasa Katharina melakukan sesuatu padanya hingga ia nyaris menyerupai para Tangan Bayangan. Entah bagaimana Zoenoel juga bisa mendengarkan perintah Katharina menggema di dalam kepalanya. Namun berbeda dengan para Tangan Bayangan, Zoenoel bisa membantah perintah tersebut.

"Dalam misi hidup Zoenoel untuk memusnakan kelemahannya terhadap Katharina, Zoenoel mewajibkan dirinya untuk melakukan segala sesuatu yang berlawanan dengan keinginan ibunya. Dia mencintaimu Clarine. Hanya saja, melihat respons postif Katharina pada hubungan kalian membuat dilema besar dalam hidup Zoenoel. Ia menyayangimu tetapi ia juga tidak ingin Katharina senang. Pemuda itu cukup keras pada dirinya sendiri, tetapi begitulah dia."

Clarine akhirnya bergumam, "Apa yang membuatmu mengatakan semua itu?"

"Hubungan kalian sekarang benar-benar menyusahkan," jawab Dazt. "Kau pikir enak berada di tengah-tengah? Aku cuma ingin ini semua lekas berakhir agar kalian berdua tidak semakin menyusahkan dan membuatku sakit kepala."

"Tentu saja. Sejak kapan kau murah hati?"

"Kau mengenalku dengan baik Honey." Dazt mengerling seperti biasanya.

Selanjutnya tidak ada percakapan lain. Hanya ada lantunan melodi pengantar tidur. Namun, setelah beberapa saat, Dazt perlahan mengiringi melodi yang mengalun dengan suaranya.

***

Saat Clarine terbangun esok paginya, ia tidak mendapati Dazt di mana pun. Justru ia disambut keberadaan Maery.

"Aku mengkhawatirkanmu dan ternyata kau menghabiskan malam romantis," gerutu Maery. Ia memberi kode ke arah secarik kertas pada nakas yang berisi pesan:

Jangan Lupa Tersenyum

Dazt

"Kau seperti tidak kenal Dazt saja. lagi pula dia hanya bermain piano dan ... bernyanyi." Clarine tidak terlalu yakin apakah itu adalah mimpi atau memang Dazt benar-benar mengeluarkan suaranya. "Tidak ada yang perlu kau lebih-lebihkan."

"Dazt menyanyi?" Maery justru semakin heboh. "Asal kau tahu saja, Dazt tidak pernah bernyanyi untuk siapapun. Bahkan saat bersama Queena, ia juga tidak bernyanyi. Mereka memang sering tampil tetapi Dazt hanya memainkan piano tanpa sedikit pun mengambil bagian dalam nyanyian yang selalu menjadi tugas Queena."

"Jangan mulai mengatakan hal yang aneh," pinta Clarine. "Aku tahu hubunganku dengan Zoenoel tidak berjalan baik, tetapi bukan berarti kau harus melemparku kepada pemuda lain. Aku baik-baik saja."

"Apa suaranya bagus?" tuntut Maery, ia tidak memberi Clarine kesempatan untuk mengajukan protes lainnya. "Kalau kau mendengar suara ibunya, kau pasti kagum. Aku yakin Dazt mewarisi hal itu. Aku benar-benar mengagumi suara tante Oxy. Aku bahkan pernah memaksa Drina untuk membuatkan ramuan pengubah suara yang bisa mengubah suaraku menjadi seperti tante Oxy. Namun tentu saja aku tidak bisa meminumnya karena aku bukan Kaum Berbakat, jadi ramuan itu tetap tersimpan damai dalam lemariku."

Clarine hanya bisa memutar bola mata dan membiarkan Maery mulai mengoceh serta membuat teori gila lainnya.

"Selamat pagi."

Clarine dan Maery sama-sama terlonjak kaget saat mendengar sapaan dari suara yang tak asing. Begitu keduanya menoleh, mereka mendapati sosok Tante Sayang melangkah keluar dari lemari baju.

"Hai. Aku belum mati, kalian tidak perlu pucat begitu." Tante Sayang memasang senyuman lebar tanpa dosa. "Hanya saja, situasi sekarang membuatku berencana untuk menjelajah cukup jauh dari sini. Ada banyak tempat yang perlu kukunjungi dan yah, aku tidak ingin dibunuh lebih dari sekali. Jadi kalian akan sulit berkomunikasi denganku untuk waktu yang cukup lama, rasanya pasti sama saja dengan aku sudah mati. Aku datang sekarang hanya untuk pamit. Kalau begitu, selamat malam Clarine, Maery. Selamat melanjutkan hidup tanpaku."

Tante Sayang melambaikan tangan sementara tangan satunya membuka pintu lemari pakaian Clarine. Dengan senyuman aneh, Tante Sayang melangkah masuk ke lemari dan menutup pintunya.

"Apa kau membuat portal ke dunia orang mati di lemarimu?" tanya Maery.

Clarine mendengus geli. Portal ke dunia orang mati jelas tidak mungkin dibuat. Clarine bahkan tidak pernah membuat portal apapun di lemarinya. Sepertinya Clarine terlalu meremehkan bakat Tante Sayang. Wanita itu dipastikan baru saja berteleportasi.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top