19. Rumah Tua Keluarga Woranz
Begitu Clarine sepenuhnya menembus jenasah Rafelo, ia sudah berada di sebuah trowongan lain. Kali ini semua sisi dilapisi oleh besi dan terdapat barisan lentera di dinding sebagai penerangan. Di sini, Clarine sama sekali tidak merasakan perlindungan yang melingkupinya.
"Jalan rahasia, siapa sangka," seru Dazt saat menyusul Clarine. "Kau sudah bisa berjalan sendiri? Kurasa perjalanan romantis kita sekarang berganti petualangan horror. Hebat sekali."
Mengabaikan gerutuan Dazt, Clarine melangkah menyusuri trowongan. Ia masih harus sesekali menyangga tubuhnya ke dinding, tetapi Clarine menolak dengan tegas untuk meminta bantuan Dazt.
Walaupun sudah tidak terasa sensasi perlindungan di torongan ini, Clarine masih merasakan beberapa sensasi yang diyakininya sebagai jebakan di beberapa tempat. Jadi, berulang kali Clarine menyerukan instruksi kepada Dazt agar pemuda itu tidak melewati sensor yang dipastikan akan memicu jebakan.
Setelah melewati beberapa meter trowongan dengan serangkaian jebakan, mereka akhirnya berakhir di sebuah balkon yang terhubung dengan anak tangga besi ke lantai atas dan lantai bawah.
Anak tangga ke bawah menuju pada lapangan yang luasnya dua kali lapangan bola, sementara anak tangga ke atas menghubungkan tiga lantai lainnya.
Clarine dan Dazt menjelajahi tempat itu mulai dari lantai teratas. Sebagian besar ruangan berisi halang rintang atau peralatan untuk latihan militer. Sisanya berupa barak atau bilik-bilik yang nyaris seperti penjara.
"Whoa, kurasa ini kamarnya Rael. Ayo mampir." Dazt tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu besi dengan ukiran yang menyerupai rumput tak beraturan, sama sekali tidak dimengerti Clarine.
"Kamar Rael?" tanya Clarine, ikut berhenti.
"Yup, Tidakkah kau baca sandi rumput yang tertera di pintu ini? Goresan-goresan ini berarti: tempat pribadi, Rael." Tanpa tindakan perlindungan diri apapun, Dazt dengan santai mendorong pintu di depannya.
Untung saja tidak ada jebakan yang menanti Dazt di balik pintu. Mereka hanya menemukan sebuah tempat tidur, lemari, meja dan sebuah kursi yang semuanya terbuat dari besi. Meski begitu, hiasan dinding yang ada cukup membuat Clarine bergidik. Berbagai jenis senjata berbaris rapi di sebagian besar pemukaan dinding.
"Pantas saja Rael tampak nyaman dalam kurungannya. Jelas sekali kita memberikan kamar yang lebih layak daripada yang ia miliki di sini." Dazt berjalan berkeliling sementara Clarine hanya berdiri diam di samping pintu.
"Whoa Rael menguasai kapak ini sejak umur 6 tahun?" Seru Dazt seraya membaca catatan-catatan yang berada di bawah masing-masing senjata. "Mereka jelas memiliki definisi berbeda soal tempat bermain, kamar dan mainan para remaja."
"Ayo lihat tempat lain," ajak Clarine. Ia merasa tidak nyaman berada terlalu lama di tempat itu.
Dazt menurut, pemuda itu ikut berjalan keluar dan mereka pun melanjutkan penjelajahan mereka.
Setelah barisan kamar, mereka menjumpai berbagai macam ruangan lainnya. Namun hanya satu ruangan di mana Clarine bertahan lebih lama dari satu menit. Tempat itu adalah sebuah ruangan yang berisi perlengapan perakitan bom.
Clarine benar-benar terpaku menatap sebuah bungkusan yang terletak di atas meja. Bungkusan tersebut tampak sama dengan bom yang tadi diletakannya di ruangan Profesor Agristi.
"Ayo pergi dari sini." Untuk ke sekian kalinya Clarine mengajak Dazt pergi. Namun kali ini yang ia maksudkan bukan hanya keluar dari ruangan, tetapi dari tempat yang ia yakini adalah rumah para Tangan Bayangan ini. Gambaran sosok Zoenoel yang sedang merakit bom tiba-tiba muncul di kepala Clarine dan membuatnya mual.
Melihat Clarine menggunakan langkah-langkah panjang dan melewati pintu selanjutnya, Dazt segera berlari menyusul. "Apa kau bermaksud untuk pulang sekarang?"
Clarine memberikan jawaban dengan semakin mempercepat langkahnya.
"Kau sudah menyerah? Bukankah kau yang tadi bersikeras datang ke sini?" Dazt kembali berusaha menggoda Clarine, tetapi Clarine tetap bungkam. "Ayolah, tidakkah kau ingin melanjutkan petualangan ini? Kita bahkan belum mampir ke kamar lama Ezer."
Langkah Clarine berhenti.
Dazt ikut berhenti, ia mengangkat satu alisnya, mempertanyakan sikap Clarine yang sampai sekarang belum mengeluarkan suara.
Clarine sendiri sedang berusaha merasakan sensasi perlindungan yang samar-samar bisa dirasakannya. Tanpa peringatan, Clarine segera memutar langkah ke arah asal sensasi.
Berbeda dengan semua ruangan lain di tempat itu, dari sebuah pintu, Clarine bisa merasakan sensasi perlindungan yang cukup kuat.
Rasa penasarannya kembali terusik. Hanya saja, ia butuh sedikit waktu untuk mengumpulkan keberanian sebelum membuka pintu.
Daun pintu mengayun terbuka dengan mudah begitu Clarine mendorongnya. Pintu itu tidak terkunci. Aneh.
Ruangan di baliknya temaram. Clarine tak bisa melihat banyak, tetapi Dazt dengan nekat melangkah masuk.
"Sepertinya itu orang," seru Dazt seraya menatap sosok hitam yang berbaring pada meja beton di ujung lain ruangan.
Clarine buru-buru membungkam mulut Dazt dengan tangannya. Ia sebenarnya enggan menyentuh Dazt dengan cara yang bisa memancing ejekan pemuda itu, tetapi Clarine tidak punya pilihan lain. Clarine yakin betul Dazt tidak akan mendengarkannya jika ia hanya meminta pemuda itu untuk diam, sementara Clarine merasakan sensasi getaran udara yang semakin kuat setiap Dazt bicara.
Menyadari benda besar yang bergerak menuju ke arah mereka, Clarine buru-buru mendorong tubuh Dazt. Keduanya berguling-guling di lantai besi, dan berakhir dalam posisi Clarine menindih tubuh Dazt.
Bukan posisi yang menyenangkan tetapi setidaknya mereka berdua selamat dari risiko menjadi daging giling. Di tempat Clarine dan Dazt tadi berdiri, kini terdapat sebuah bola besi besar penuh duri.
"Ah. Kalau tahu kita akan berakhir dalam posisi begini, aku akan menginjak ranjau sejak tadi," bisik Dazt saat Clarine buru-buru bangkit berdiri.
Sekali lagi Clarine merasakan sensasi getaran udara. Sepertinya mereka tidak diperkenankan bersuara. Sialnya, Dazt sudah memancing serangan berikutnya dengan ocehan bodoh. Terpaksa, Clarine menarik tubuh Dazt.
Punggung Clarine membentur dinding dengan keras, disusul tabrakan dari tubuh Dazt yang menekan dirinya. Untung saja Dazt sempat memeluk kepala Clarine dengan sebelah tangannya, jadi Clarine terhindar dari kemungkinan geger otak.
Terlepas dari posisi menyebalkannya sekarang, Clarine segera membungkam mulut Dazt sebelum pemuda itu mengeluarkan kata-kata bodohnya lagi.
Dua kali nyaris ditimpa alat penggiling daging ternyata cukup untuk membuat Dazt bijak, pemuda itu kini menyadari kesalahannya dan menggunakan isyarat untuk berkomunikasi dengan Clarine.
Dengan gerakan kepala, Dazt mengisyaratkan untuk berjalan mendekati sosok yang tadi dipandanginya. Clarine menggeleng. Ia tidak yakin apakah cukup aman bagi mereka untuk berjalan semakin jauh dalam ruangan dengan sensasi perlindungan kuat seperti ini.
Wajah Dazt sontak menjadi frustasi, pemuda itu mulai menggerak-gerakkan badannya hingga membentuk berbagai pose untuk memberikan penjelasan dan pertimbangan kepada Clarine. Hal tersebut justru membuat Clarine setenga mati menahan tawa melihat pergerakan tubuh Dazt yang tampak sangat konyol.
Terlepas dari siksaan menahan tawa, anehnya Clarine bisa memahami apa yang coba dikatakan Dazt, dan tak butuh waktu lama hingga ia berhasil diyakinkan. Meski enggan, tak bisa dipungkiri kalau Clarine juga penasaran.
Perlahan, keduanya berjalan mendekati sang sosok hitam. Clarine memimpin, sementara Dazt berjalan tepat satu langkah di belakangnya. Sesekali Dazt berbuat usil dengan memepet terlalu dekat sehingga Clarine harus berusaha keras untuk berpikir jernih. Ia bukannya berpikir yang kotor, Clarine justru harus melawan hasratnya untuk tidak memaki pemuda itu.
Perjalanan berat itu pun berakhir dengan satu kejutan besar.
Sosok hitam yang dilihat Dazt ternyata benar adalah seorang manusia. Tepatnya seorang pemuda dengan tubuh kurus dan ringkih. Baju si pemuda nampak sobek di beberapa tempat sehingga menampakan lebam-lebam dan bekas-bekas darah kering yang memenuhi permukaan kulitnya yang terekspos.
"Jo—"
Telapak tangan Dazt langsung membekap mulut Clarine, menghentikan Clarine untuk mengucapkan nama sang pemuda, Jovan.
***
Saat kembali menyusuri koridor penuh jenasah dan kolong rumah tua keluarga Woranz, Clarine kembali merasa pening sehingga tidak bisa banyak bertanya saat Dazt berjalan menjahui portal di pilar batu. Dazt justru membawa Clarine dan Jovan keluar dari kolong rumah dan menyusuri pepohonan.
Dazt sesekali melirik Clarine, memastikan apakah mereka sudah keluar dari cangkupan perlindungan di sekitar rumah. Begitu nafas Clarine mulai terdengar teratur tanda ia tak tertekan lagi dengan efek perlindungan, barulah Dazt berhenti.
Tubuh Clarine diletakan bersandar pada sebatang pohon, begitu juga Jovan. Sementara Dazt merebahkan diri dengan meletakkan kepala di atas pangkuan Clarine tanpa permisi.
"Ah benar-benar melelahkan," keluh Dazt.
Tenaga Clarine belum pulih benar untuk mengusir Dazt. Terpaksa, ia membiarkan pemuda itu. Lagi pula Clarine perlu mengembalikan tenaganya agar bisa berteleportasi untuk mencari bantuan.
Begitu Clarine sudah merasa kuat, ia sengaja langsung beteleportasi tanpa mengatakan apapun, sehingga dipastikan kepala Dazt yang bersandar pada pangkuannya akan langsung terjatuh ke tanah.
Clarine memunculkan diri di kamar Maery, dan ia langsung disambut seruan kaget sang pemilik kamar. Belum sempat Maery bertanya, Clarine sudah mengajukan pertanyaan lebih dahulu, "Mana Drina?"
"Dia a—"
"Aku di sini, ada apa?" sosok Drina tiba-tiba muncul dari balik pintu.
"Jovan sepertinya sekarat," tutur Clarine. "Bisakah kau menyiapkan ramuan dan ikut denganku. Aku akan segera kembali setelah mengabari Faenish."
"Kalian menemukan Jovan?" seru Maery.
Belum sempat Clarine menjelaskan kepada Maery, Drina sudah lebih dahulu berseru, "Sebaiknya kita tidak memberitahu Faenish dulu. Bakat Ezer sudah sepenuhnya hilang dan dia sedang koma."
Clarine ingin bertanya soal keadaan Ezer dan Faenish tetapi ia sadar kalau masalah Jovan perlu segera di urus. "Kalau begitu segeralah bersiap," pinta Clarine kepada Drina sebelum ia melirik Maery. "Bisakah kau menyusul kami dengan kendaraan, kurasa Jovan tidak dalam kondisi bagus untuk diteleportasikan?"
Beberapa saat kemudian, Clarine membawa Drina berteleportasi kembali ke tempat Dazt dan Jovan menunggu. Tanpa mengatakan apapun, Drina langsung menghampiri Jovan sementara Dazt mendatangi Clarine dan menjitak kepalanya.
Clarine tidak sempat protes karena tubuh Jovan tiba-tiba menghilang. Di tempat Jovan berbaring kini terdapat seekor anjing yang mengenakan pakaian compang-camping.
"Apa yang kau lakukan?" tuntut Dazt.
"Aku bahkan belum melakukan apapun," protes Drina sama terkejutnya. "Kalian mungkin salah menyelamatkan orang. Ini mungkin jebakan atau sejenisnya."
Mengabaikan perdebatan Dazt dan Drina, Clarine segera berjongkok untuk mengecek belakang kepala si anjing. Takutnya, apa yang menimpa Zoenoel, kini menimpa Jovan.
Ternyata dugaan Clarine benar, setelah menyibakkan beberapa helaian rambut, ia melihat tanda segel.
"Dazt..." gumam Clarine samar.
"Whoa," seru Dazt saat mengenali segel tersebut. "Zoenoel akhirnya punya teman sependeritaan. Sekarang Jovan anjing jadi-jadian," celetuknya.
"Apa maksud kalian?" tuntut Drina tak mengerti.
"Ini Jovan. Hanya saja, er—ku jelaskan nanti. Rawat saja dia selayaknya ... manusia?" ujar Dazt.
***
Tidur Clarine malam itu jelas tidak tenang. Berbagai pikiran mengganggu dirinya. Mulai dari rencana Zoenoel hingga masalah Jovan. Tadi siang, Dazt langsung menyuruh Clarine pulang tanpa membiarkannya mengetahui keadaan Jovan lebih jauh.
Rencana Zoenoel dengan bom juga belum bisa Clarine pahami sehingga sulit baginya untuk menilai apakah usaha mereka berhasil atau tidak. Apalagi situasi sekolah keesokan paginya tidak sesuai dengan bayangan Clarine.
Sekolah begitu tenang tanpa ada gosip, spekulasi, atau berita tentang Lubang Hitam maupun bom.
"Tenang saja. Rencana kalian berhasil," bisik Maery saat gadis itu menghampiri Clarine. "Pemerintah menganggap bom yang ditemukan di kelas segel dan ledakan kemarin sebagai bentuk perlawanan dari Pengkor. Kemarin, akademi katanya sempat heboh dan Drina mendapat surat panggilan rapat darurat tak lama setelah kau pulang."
"Rapat?"
"Tenang saja, Katharina sudah membuatkan alasan tersendiri bagi ketidakhadiranmu. Saat Zoenoel mampir ke rumah untuk melihat kondisi Jovan, ia juga memintaku untuk memberitahumu bahwa Eucharistia sebaiknya tidak muncul hari ini. Untuk lebih jelasnya, Zoenoel akan menemuimu nanti malam." Maery menyempatkan diri untuk tersenyum menyebalkan sebelum ia menekuk muka dan melanjutkan ocehannya. "Yang aku tahu, telah disepakati bahwa persoalan kemarin akan dirahasiakan dari publik. Selain untuk mencegah kepanikan, memberitakan kebenaran ini sama saja dengan mempermalukan sistem keamanan Kaum Berbakat.
"Ingatan para siswa yang menjadi korban pun sudah diubah," lanjut Maery. "Bagi mereka, kejadian kemarin hanyalah sebuah ledakan kecil yang disebabkan oleh kelalaian seorang siswa dalam mencampur ramuan. Be—"
"BERITA BESAR!" seru seorang siswa seraya berlari masuk ke kelas. "Valerius diperiksa karena tuduhan menggunakan ramuan berbahaya untuk mempengaruhi para penontonnya di pertunjukan sulap."
"Valerius? Ayah Valaria?" satu siswa lain memastikan.
"Ah, aku lupa memberitahumu sisi buruk dari peristiwa kemarin." Maery mencodongkan badannya ke arah Clarine agar suaranya tidak tenggelam dalam percakapan yang mulai meramaikan seisi kelas. "Berita soal Valerius sengaja diangkat sebagai pengalihan isu."
"SEBERBAHAYA ITU?" seruan memekakan telinga terdengar dari kerumunan. Clarine dan Maery sontak melirik ke arah mereka dan menajamkan pendengaran untuk mencuri dengar.
"Ya, sangat berbahaya." Terdengar suara lain menyahut dari antara kerumunan. "Apalagi jika terlalu sering mencium aroma ramuan itu. Selain membuat penghirupnya ketergantungan, ramuan tersebut juga bisa mengakibatkan ganguan mental. Tak heran jika banyak yang menjadi terlalu fanatik pada pertunjukan Valerius."
"Kurasa Valerius terlalu frustasi dengan keadaan sekarang, sehingga ia memaksakan kadar ramuan hingga di luar batas." Terdengar suara lain memberikan komentar. "Dari dulu aku merasa dia gila popularitas, dan sekarang setelah keberadaan Kaum Berbakat diungkap ia tak hanya kehilangan popularitas di daerah ini, kudengar ia juga mendapat rival yang kuat di luar pulau."
"Jangan merasa bersalah begitu," tegur Maery begitu menyadari raut wajah Clarine. "Itu salah Valerius sendiri."
Meski Maery berkata demikian, tetap saja Clarine merasa tidak enak. Apalagi kalau memikirkan Valaria yang sudah pasti dibuat tertekan dengan masalah ini.
"Bagaimana keadaan Jovan?" tanya Clarine akhirnya. Ia memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan dan pikirannya.
"Drina masih berusaha mempelajari kondisinya," jawab Maery. "Sejauh yang kutahu, Jovan tidak dalam kondisi kritis. Namun tentu saja tidak dalam kondisi baik, ia terus saja berubah dari manusia menjadi kau tahulah."
"Bisakah kita mengunjunginya sepulang sekolah?"
"Aku agak ragu. Kau tahu Ryn. Dia agak bertingkah berlebihan perihal kedekatanmu dengan Ezer."
Clarine tersenyum sendu. "Ya, sebaiknya aku memang tidak menambah beban pikiran Faenish. Apa Ezer belum juga sadar?"
Maery menggeleng lemah.
***
Karena perkataan Maery soal kedatangan Zoenoel, Clarine benar-benar salah tingkah saat menunggu di kamarnya malam itu. Clarine memang berusaha agar tidak terlalu berharap banyak, tetapi antusiasme yang muncul dalam dirinya bukalah sesuatu yang bisa dikendalikan.
Walaupun malam semakin larut dan belum ada tanda-tanda kedatangan Zoenoel, Clarine tetap bergerak-gerak dalam kegugupan. Sama sekali tidak terpikir untuk tidur. Ia terus saja memikirkan satu pertanyaan yang tak kunjung bisa dijawabnya, bagaimana seharusnya ia bersikap saat Zoenoel datang nanti?
Sayangnya, Clarine tetap tak menemukan jawaban yang cocok saat sosok Zoenoel muncul di depannya. Alhasil, Clarine hanya diam bergeming.
"Hadirlah dalam pertemuan para menteri selanjutnya, dan bawa ini." Zoenoel menyerahkan sebuah amplop coklat tebal yang disambut Clarine dengan gerakan kaku.
"Apa—"
"Dazt yang akan menjagamu malam ini. Pergilah ke tempatnya sebelum dia datang menjemputmu dengan cara yang tidak akan kau sukai." Zoenoel pun berteleportasi.
Clarine benar-benar tidak bisa memahami pemuda itu. Dengan mengembuskan nafas berat, Clarine berusaha mengabaikan perasaan kesal yang nyaris menguasainya. Clarine pun mencoba mengalihkan pikiran pada dokumen pemberian Zoenoel.
Namun bukannya teralihkan, pikiran Clarine justru semakin penuh dengan berbagai dugaan. Bagaimana tidak, berkas-berkas yang dibawa Zoenoel yaitu: blueprint Akademi Pelatihan Bakat, cara merakit bom yang sebelumnya diletakkan Clarine di ruangan kelas, data tentang sebuah bangunan di area pasar, serta beberapa biodata warga.
Clarine langsung paham bahwa alasan yang digunakan untuk ketidakhadiran Eucharistia adalah bahwa ia sedang menyelidiki tentang pelaku pembuatan bom. Hanya saja, yang tidak dimengerti Clarine adalah bagaimana Zoenoel bisa mendapatkan informasi sebanyak ini dalam dua hari? Mungkinkah Zoenoel sudah lama menyelidiki soal kelompok pemberontakan dan bermaksud mengkambing hitamkan mereka pada kasus Lubang Hitam?
Namun mengingat ketidaksukaan Zoenoel pada Katharina, ada juga kemungkinan bahwa Zoenoel memang terlibat dengan suatu kelompok pemberontak yang biasa disebut Pengkor.
Dengan pikiran-pikiran yang semakin membebaninya, Clarine memaksakan diri untuk menuruti Zoenoel soal berteleportasi ke tempat Dazt. Clarine sudah cukup pusing saat ini, tak perlu tambahan kelakuan gila dari seorang Dazt.
Sayangnya, Clarine kurang beruntung. Saat memasuki ruangannya di Arena Duel, ia disambut oleh keberadaan ratusan lilin yang memenuhi tempat itu.
"Apa lagi ini?" keluh Clarine.
"Anggap saja sebuah perayaan." Sosok Dazt muncul dari balik lindungan bayang. Pemuda itu tampak menggunakan setelan rapi. "Kita sudah melakukan banyak hal besar, menemukan Jovan, menjaga rahasia keberadaan Lubang Hitam, dan sebagainya."
"Perayaan? Dengan membakar tempat ini?" Clarine balas bertanya dengan sinis.
"Jangan terlalu khawatir, kau dan aku lebih dari mampu untuk memadamkan api dengan segel. Nikmati saja keindahan ini dan bersyukurlah karena ada aku. Kau tidak mungkin mengharapkan Zoenoel melakukan hal seperti ini, bukan?"
Pernyataan Dazt jelas menusuk Clarine. Tak ingin meladeni pemuda itu, Clarine pun menggambarkan segel air di kepalanya. Hari ini sudah cukup menyebalkan.
"Kau tidak sabaran." Dazt berdecak seraya melayangkan sebuah amplop merah jambu ke arah Clarine.
Perhatian Clarine teralihkan. Ia mengenali amplop di depannya. Amplop itu mirip dengan yang diberikan Ezer sebelumnya, aromanya pun sama. Hanya saja, tidak ada lukisan di dalamnya.
Clarine mengeluarkan selembar kertas yang merupakan sobekan buku. Salah satu sisinya menjelaskan tentang Ramuan Mata Perekam. Clarine langsung teringat pada buku yang ditemukannya dalam ruang rahasia Kelompok Pelindung.
"Bagaimana—" pertanyaan Clarine terhenti begitu ia mendapati sosok Dazt sudah berada di depannya dan sedang menawarkan seikat bunga.
"Dari pengagummu," Dazt berbisik dengan nada merayu. Senyuman Dazt nampak mencurigakan.
Ingatan Clarine berputar kembali pada saat pertama kali ia mendapatkan kiriman bunga yang berakhir dengan kehebohan di kelas. Lalu pada kali kedua di mana ia mendapat bunga beserta surat dari Glassina yang berujung pada bencana. Sekarang Clarine menjadi cukup khawatir dengan apa yang mungkin terjadi.
Bunga itu tak mungkin berasal dari Ezer. Kalau dipikir-pikir, tidak ada alasan masuk akal yang bisa mendasari sikap aneh Dazt yang memberinya bunga.
Kalau yang dimaksud Dazt dengan pengagum adalah orang lain, mungkinkah itu Zoenoel? Pikir Clarine.
Clarine menggeleng keras, mustahil rasanya Zoenoel mengiriminya bunga. Kalaupun Zoenoel berubah romantis, rasanya aneh jika ia menitipkan bunga melalui Dazt. Hanya saja, kalau bukan Zoenoel, Clarine tak bisa memikirkan seorang pun yang mungkin menjadi pengirimnya.
"Kalau kau tidak mengambilnya. Aku akan melakukan tahap selanjutnya," ancam Dazt. "Kau tahukan, setelah surat cinta, bunga, lalu mungkin sebuah pelukan disusul ciuman. Ah, apa harus ada hadiah dahulu?"
Clarine melipat tangan di dada dan menatap Dazt tajam. Ia terlalu kesal untuk mengikuti permainan pemuda itu malam ini.
"Oh baiklah. Ambil bunganya dan kau akan kutinggalkan untuk beristirahat dengan tenang. Aku serius soal ciuman yang akan kupaksakan kalau kau membuatku menunggu lebih lama lagi. Bukan hanya kau yang tidak dalam kondisis hati yang baik hari ini."
Dengan dengusan kesal, Clarine meraih bunga di tangan Dazt. Pemudaitu tersenyum sekilas sebelum menepati janjinya. Tanpa melakukan hal gilalainnya, Dazt berjalan keluar.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top