16. Efek Cemburu
Clarine meringkuk di atas tempat tidur orang tuanya. Dengan aroma Deslia dan Grifalen, Clarine membayangkan dirinya sedang dalam pelukan mereka dan mencoba menenangkan pikiran.
Sayang, usaha Clarine ini pun cukup sia-sia karena pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Kekhawatiran tentang Maery masih jelas ia rasakan. Pikiran-pikiran soal hubungannya dengan Zoenoel juga masih mendominasi.
Clarine sama sekali tidak meragukan perasaannya kepada Zoenoel. Apa yang ia rasakan bukanlah sesuatu yang hanya diakibatkan oleh tarikan segel semata. Yang membuat Clarine tak yakin justru perasaan Zoenoel. Ia ragu perasaannya terbalaskan oleh pemuda itu.
"Apa ini karena Zoenoel sudah memberitahumu soal segel perjodohan kalian?" sosok Dazt entah sejak kapan sudah bersandar di kosen pintu.
"Aku sedang tidak ingin melihatmu, apalagi mendengar ocehanmu," usir Clarine tanpa melirik lama pada pemuda itu.
"Baiklah." Berlawanan dengan pernyataannya, Dazt tidak pergi. Ia justru membaringkan diri di samping Clarine sehingga punggung mereka saling bersandaran.
"Dazt, tolong. Aku sedang tidak ingin menambah masalah denganmu." Clarine buru-buru bangkit, tetapi Dazt menariknya kembali.
Dazt mengurung pergerakan Clarine dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengeluarkan sebuah pemutar musik dari dalam kantong baju. Dengan santainya, Dazt memasangkan sebelah headset di telinga kirinya dan sebelanya lagi dipasang tanpa izin di telinga Clarine.
"Kau bilang tidak mau melihatku apalagi mendengar ocehanku, jadi menghadaplah ke sisi yang lain, diamlah, jangan ajak aku bicara terus, dan dengarkan saja musiknya. Tidak perlu sungkan untuk menangis, berteriak, atau tertawa. Namun, jangan pernah berpikir untuk berdiri tanpa seizinku."
Clarine sedang malas berdebat. Ia tahu betul Dazt bisa melakukan hal yang akan lebih menyusahkan jika ia tak menuruti pemuda itu. Lagi pula, Clarine mulai menikmati musik yang mengalun, jadi ia berbaring diam.
Suara lembut seorang wanita mengalun dengan begitu indahnya diiringi dentang piano. Clarine tak pernah mendengar lagu dan suara seperti ini sebelumnya, tetapi yang pasti alunan musik tersebut membuat Clarine jauh lebih tenang.
Entah berapa lama mereka terus diam, mendengarkan lagu dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Menurut perkiraan Clarine, hari sudah tengah malam saat ia akhirnya memutuskan untuk kembali membuka percakapan. Ia yakin Dazt masih terjaga. Kalaupun tidak, bukan masalah.
"Sejak kapan kau tahu soal segel yang mengikat kami?"
"Cukup lama." Dazt langsung menjawab. Dugaan Clarine tepat. "Aku dan Zoenoel sering melakukan barter informasi. Zoenoel memberikan alasan yang cukup untuk mencegahku agar tidak langsung meracunimu sampai mati karena membuatku menjadi pembantu si Krav dengan kenekatanmu menyusup ke akademi. Zoenoel juga menugaskanku untuk melatihmu dan memintaku memberikan semua informasi tentangmu padanya."
"Apa saja yang diberitahukannya padamu?" tanya Clarine.
"Kau mau memberiku apa sebagai gantinya?" Dazt balas bertanya.
Clarine mendengus, ia tidak tertarik melakukan kesepakatan dengan Dazt saat dirinya bahkan kurang bisa berpikir jernih. Clarine baru saja berniat untuk kembali diam saat keajaiban terjadi, Dazt menjawab pertanyaannya tanpa imbalan.
"Zoenoel mengetahui soal perjodohan kalian serta beberapa hal buruk lain tepat sehari sebelum kalian bertemu. Fransisca, neneknya Zoenoel, menitipkan sebuah jurnal sebagai hadiah ulang tahun yang ke delapan belas. Jurnal itu berisi: Cara Membuat Zoenoel Zafier Woranz Bisa Berubah Menjadi Kucing Dan Memiliki Jodoh Yang Terikat Dengan Segel.
"Isi buku itu cukup mengerikan, bahkan lebih parah dari jurnal nenekmu. Kuakui Fransisca lebih brutal. Jadi tak mengherankan apabila Zoenoel memberikan tanggapan berbeda denganmu perihal asal usul kemampuan tak biasa kalian.
"Menurutmu apa yang dirasakan Zoenoel saat melihatmu di hari pertama sekolah? Kurang dari dua belas jam, ia menemukan keberadaanmu beserta sebuah segel yang menjadi pembuktian nyata atas semua kegilaan yang tertulis dalam jurnal neneknya.
"Belum selesai masalah jurnal dan dirimu, Zoenoel juga masih harus menghadapi masalah dari ibu dan adiknya. Glassina sudah menyusulnya di SMA, dan dalam beberapa bulan lagi gadis itu akan berulang tahun ke enam belas. Glassina akan mencari tumbal untuk melanjutkan tahap kedua Ritual Tukar Darah.
"Hari pertama tahun ajaran itu jelas bukan hari yang menyenangkan untuk Zoenoel. Tak heran, ia sampai membuat sensasi dengan menyerang Bu Allure. Namun, harus kuakui hari itu ia menjadi pria yang cukup seru, setidaknya dalam standarku."
Clarine memberikan tatapan miring kepada Dazt yang justru membuat pria itu terbahak.
"Baiklah, maksudku Zoenoel memiliki banyak pikiran sejak hari itu. Ia yakin ibunya akan mengincarmu, sementara Glassina dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada bakat Valaria. Berhubung Zoenoel tidak bisa menjaga kalian berdua pada saat yang bersamaan, maka salah satu tugas itu berpindah padaku. Karena aku tidak memungkinkan untuk menjaga Valaria, sementara Zoenoel bisa berubah menjadi kucing kecil yang dengan mudah bisa menyelinap keluar masuk ke penjara mewah milik Valaria, maka kau jatuh ke tanganku.
"Jadi, tugasku bukan lagi hanya melatih bakatmu dan melaporkannya, tetapi mengawasi dan menjagamu juga. Sekarang kau tahu kan bahwa pacarmu sendiri yang memintaku menjagamu pada malam hari, karena itu kalau kau mau marah, silahkan hubungi yang bersangkutan, jangan mengamuk padaku.
"Satu hal yang perlu kutekankan, kenyataan kalau Zoenoel lebih memilih untuk menjaga Valaria saat itu dibandingkan dirimu bukan berarti ia tidak menyayangimu. Kalau dia tidak sayang, ia tidak akan melawan godaan besar untuk menyentuhmu. Godaan akan kebutuhan biologis bagi kami bukan hal yang mudah dilawan. Apalagi jika pengaruhnya diperparah oleh tarikan segel. Dengan menjagamu, ia selalu mengalami malam yang berat. Jadi, kujamin kau adalah cinta pertama Zoenoel, dan Valaria adalah cinta keduanya."
"Itu yang kau sebut kata-kata penghiburaan?"
"Hey, aku tidak sedang menghiburmu," sangga Dazt. "Aku hanya membantumu melihat masalah ini dari sudut yang berbeda. Siapa tahu kau sedikit pulih dari keterpurukanmu saat ini, sehingga aku bisa mengomeli dan menghukummu dengan tenang."
"Menghukumku? Atas dasar apa?" tuntut Clarine.
"Kau sudah berbuat onar di rumah sakit serta membuat Queena curiga, kenapa seorang Clarine bisa menyerangnya dengan kemampuan yang harusnya tidak dimiliki Kaum Nonberbakat sepertimu."
"Kalian bisa meminta Pak Krav untuk mengubah memori Queena atau berikan dia ramuan pengabur memori," protes Clarine.
"Masalah ingatan Queena memang sudah dibereskan, Drina sudah memberikan ramuan padanya. Namun, bukan berarti kau bebas dari hukuman. Mulai saat ini juga kau akan menjalani hukumanmu yaitu Eucharistia harus jadi pacarku."
"Kau gila?" pekik Clarine. "Kau pikir berapa usia Eucharistia seharusnya? Kau mau membuatku digugat turun dari jabatan menteri pendidikan?"
"Kalau begitu, kau tidak boleh putus dengan Zoenoel. Itu hukumanmu. Tak peduli apapun yang kau rasakan padanya sekarang, Zoenoel tetap harus berada di sisimu. Terutama di malam hari. Atau kau lebih suka aku yang menjalin hubungan dengan sosok Clarine?"
"Hukuman macam apa itu?"
"Seseorang harus terus berada di sampingmu untuk melindungimu, dan pilihanmu cuma aku atau Zoenoel. Siapa yang akan kau pilih?"
Tanpa memberikan kesempatan Clarine mengutarakan jawabannya, Dazt bangkit berdiri secara tiba-tiba. Ia menarik kabel headset di telinga Clarine dan memasang senyuman. "Jangan bertindak ceroboh lagi. Queena tidak boleh tahu kalau kau adalah Eucharistia."
"Kau takut dia cemburu karena yang kau ajak menari di festival bukanlah nenek-nenek?" Clarine mencemoo.
Dazt memasang wajah serius. "Jika kau bilang sifat dasarku adalah brengsek, maka sifat dasarnya adalah iri hati. Jangan tunjukan sesuatu yang berkilau padanya jika kau tidak ingin hal itu direbutnya darimu."
"Apa maksudnya itu?"
Bukannya menjawab, Dazt hanya tersenyum sebelum membalik badan dan berjalan menjauh. "Aku akan menjaga dari luar, di sini godaannya terlalu berat."
Dazt sudah mencapai pintu saat Clarine kembali berujar. "Menurutmu apa yang mungkin terjadi jika aku memberitahu kedua orang tuaku soal bakatku dan semua hal lainnya, termasuk tentang Eucharistia?"
Langkah Dazt terhenti. Ia kembali menghadap Clarine dan memandangnya lekat. "Kau ingin mereka tahu?"
"Kalau bisa, ya."
"Apa untungnya?" tanya Dazt. "Kemungkinan terbesarnya adalah mereka akan melarangmu melakukan ini dan itu karena terlalu khawatir kau akan terluka. Apa itu yang kau inginkan?"
"Aku hanya merasa tidak enak hati saat menyebut mereka orang tuaku, tetapi aku sendiri bahkan tidak memberitahukan hal-hal penting dalam hidupku kepada mereka," ucap Clarine, pandangannya menerawang. "Aku merasa bersalah setiap kali berkeliaran di luar sementara ibuku tahu aku sedang terlelap. Aku juga tidak bisa menceritakan masalahku atau bertanya nasehat dari mereka."
"Dua pertanyaan terakhir," ujar Dazt. "Bagaimana jika hal ini memiliki konsekuensi? Bagaimana jika pengetahuan kedua orang tuamu nantinya akan menempatkan mereka pada situasi berbahaya?"
"Bagaimana jika ketidaktahuan justru membawa mereka dalam bahaya yang lebih besar?" Clarine balas bertanya.
Dazt tersenyum miring. "Kalau begitu silahkan memberitahu mereka, tetapi menurutku kau tidak akan sanggup menjelaskan semuanya sendiri, terlebih dengan kondisimu saat ini. Ajaklah Maery, dia dekat dengan ibumu bukan?"
"Tetapi Maery—"
"Dia sudah baik-baik saja," potong Dazt. "Besok kujamin Maery sudah mengoceh seperti biasanya, hanya butuh beberapa hari dan ia akan kembali pulih. Lagipula ibumu juga perlu sedikit waktu untuk menguatkan diri sebelum menerima berita besar yang akan kau katakan."
***
Pagi harinya, Clarine tersentak bangun dengan dua pertanyaan. Apa Zoenoel datang semalam? Apa Zoenoel melihat Dazt berbaring di sampingnya?
Clarine benar-benar berharap jawabannya adalah tidak. Ia akan terlihat seperti wanita murahan yang mencari pelampiasan pada pria lain.
Dua pertanyaan itu benar-benar mengganggu Clarine hingga ia tidak cukup memperhatikan sekitar dan berujung pada kejadian tak menyenangkan. Atau lebih tepatnya menjijikan.
Segumpal besar ingus kehijauan mendarat di kemeja sekolah Clarine setelah ia tanpa sadar berjalan di depan seorang siswa yang bersin. Parahnya lagi, kejadian itu ditonton banyak orang, termasuk Queena yang entah bagaimana bisa berada di area sekolah pada pagi hari.
Queena juga tampak semakin mencurigakan dengan membawa seekor merpati di pelukannya. Meski begitu, Clarine memilih untuk mengabaikan Queena, ia perlu membersikan kemejanya segera.
Sayangnya ketidakberuntungan Clarine berlanjut saat ia hampir memasuki gedung terdekat. Kotoran burung yang cukup besar tiba-tiba jatuh ke pundaknya, dan saat Clarine menengadah untuk melihat sang pelaku, ia justru dihadiai bonus kotoran burung lainnya tepat di pipi kiri.
Satu kali, masih bisa dibilang wajar, walaupun kasus dibuangi kotoran oleh burung adalah sesuatu yang jarang terjadi. Namun jika sudah dua kali berturut-turut, jelas ada yang aneh. Kecuali si burung mengalami diare atau memiliki dendam pribadi terhadap Clarine.
Tak berniat menerima seragan ketiga, buru-buru Clarine berjalan masuk. Ia mengabaikan pandangan orang-orang dan memfokuskan pikiran untuk mencari toilet.
Untung saja sepanjang sisa jam pelajaran di sekolah, Clarine tidak mendapat kesialan lain. Ia baru menemui sedikit momen kurang beruntung saat pergi menjenguk Maery dan mendapati keberadaan Valaria.
Setelah kunjungannya ke kamar Zoenoel, Clarine semakin merasa tidak enak hati untuk melihat Valaria. Namun ia sudah terlambat untuk kabur karena Maery terlanjur melihat keberadaannya.
"Masuklah Clarine," seru Maery. "Kenapa kau tampak takut seperti itu? Apa kau pikir aku arwah atau sejenisnya?"
Clarine pun melangkah masuk dengan ragu-ragu.
"Ini bukan salahmu Clarine," tegas Maery segera. "Melihatmu seperti ini, aku jadi sulit percaya cerita Valaria soal kau yang menjadi cukup ganas kemarin."
"Aku tidak berpikiran jernih saat itu. Maaf karena sudah membuat ulah." Clarine juga tidak begitu ingat kekacauan yang ia ciptakan. Namun itu jelas tidak baik.
"Kami semua bisa mengerti keadaanmu Clarine," ucap Valaria. "Queena juga baik-baik saja dan kejadian kemarin sudah ditutupi dari Satuan Manguni maupun publik. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan."
"Kau juga tidak perlu repot-repot meminta maaf kepada Queena karena ia tidak akan ingat soal seranganmu," canda Maery. "Jadi kita hanya perlu berterima kasih atas bantuannya."
"Berterima kasih?" Clarine rasanya salah dengar.
"Queena menyelamatkan Maery," ujar Valaria. "Jika saja ia tidak segera menemukan penyebab keracunan dan memberitahu obatnya, Maery tidak akan bertahan. Efek samping ramuan rusak itu terlalu berbahaya bagi Kaum Nonberbakat seperti Maery."
"Queena menemukan penawarnya?" tanya Clarine memastikan. Ia masih sulit percaya dengan jalan pikiran teman-temannya. Tidakkah mereka seharusnya curiga dengan fakta itu. "Bukankah itu juga bisa berarti kalau dia sejak awal merencanakan ini, maksudku—"
"Queena tidak meracuni ramuannya," koreksi Valaria. "Faenish meminta Ryn mencari beberapa bahan ramuan karena ia harus menjaga Ezer. Sayangnya karena kurangnya pasokan bahan ramuan akibat berbagai proyek pemerintah, Ryn mengalami kesulitan dan tak sengaja mengambil bahan dari tanaman yang sakit. Ramuan itu sudah berbahaya sebelum Queena menyentuhnya."
"Tetapi bagaimana bisa Queena bisa tahu obat penawarnya?" tuntut Clarine, masih tidak terima. "Bagaimana dengan Drina? Bukankah dia yang paling mengenal ramuan di antara kita semua?"
"Drina tidak membaca beberapa buku yang pernah dibaca Queena." Kali ini Maery yang mencoba untuk menjelaskan. "Drina tidak pernah membaca buku-buku terlarang yang kita pikir sudah dimusnakan Kaum Berbakat—tenang saja Clarine, Queena sudah menceritakan soal buku-buku terlarang yang tidak dimusnakannya saat menjabat sebagai ketua Kelompok Pelindung."
"Dan tidak ada dari kalian yang mempermasalahkan fakta bahwa Queena sebagai Ketua Kelompok Pelindung saat itu melakukan pembohongan publik dengan berpura-pura memusnakan buku-buku itu?" seru Clarine tidak percaya.
"Jika bukan karena pengetahuan dari buku-buku itu, Maery dipastikan tidak akan ada di sini." Valaria mengajukan pendapatnya. "Lagi pula tindakan yang diambil Queena serta beberapa Kelompok Pelindung tentang buku-buku itu adalah tepat. Tidak semua orang akan menggunakan buku-buku tersebut dengan bijak. Segelintir orang juga akan panik jika tahu buku itu masih berkeliaran dan memiliki kemungkinan untuk berada pada tangan yang salah. Di lain pihak, dalam menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan, beberapa para Kelompok Pelindung perlu dibekali informasi tentang apa yang mungkin mereka hadapi.
"Kita ambil contoh kasus Katharina, Kelompok Pelindung tidak akan pernah tahu kalau Katharina memodifikasi buku yang dijadikan bukti pada persidangan yang lalu, jika mereka tidak memiliki buku yang sama sebagai pembandingnya. Kau lihat, ini justru adalah bukti nyata bahwa Queena berkompeten dalam tugasnya," tutur Valaria.
"Kau berpihak pada Queena?" tukas Clarine.
"Ini bukan soal siapa berpihak pada siapa," ralat Valaria. "Aku hanya mengutarakan pendapatku."
"Kurasa kau terpengaruh rasa cemburu Clarine," imbuh Maery sambil terkikik geli.
"Cemburu? Pada Queena? Tentu saja tidak." Clarine nyaris berteriak. "Gadis itu benar-benar mencurigakan. Beberapa hari yang lalu aku bahkan mendapatinya sedang berbisik-bisik dengan Yudi di sudut ruangan. Pagi tadi, aku bahkan melihat Queena berada dalam area sekolah."
"Mungkin Queena dan Pak Yudi sedang membicarakan soal diundangnya Queena ke Akademi," ujar Valaria. "Hal itu juga menjelaskan keberadaan Queena di lingkungan sekolah."
"Queena masuk akademi?" tanya Maery. "Seingatku, empat tahun lalu dia sudah dinyatakan selesai dengan semua kelas yang bersesuaian dengan batas bakatnya."
"Bagaimana bisa Eucharistia tidak mendapat pemberitahuan soal penambahan murid di akademi?" Clarine ikut mengajukan pertanyaan.
"Queena memang sudah menyelesaikan pelajarannya di akademi," jawab Valaria. "Namun karena ia menggunakan identitas baru sebagai pendatang, dan sensor pendeteksi bakat menyadari keberadaannya, maka ia diundang kembali. Soal pemberitahuan ke kementerian, Pak Krav yang menerimanya."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top