6. Pecundang Itu ... Aku
Cold Heart
Story © zhaErza
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter VI
Pecundang Itu ... Aku
.
.
.
Merasa khawatir terhadap kondisi Sakura yang benar-benar marah kepadanya, satu harian ini, Neji memperhatikan aktivitas gadis itu dengan Byakugan-nya. Murung, sedih, menangis. Tidak napsu makan, tidak mau berbicara kepada ibunya, mengurung diri di kamar dan menangis. Sampai malam, ketika Neji menggunakan kemampuan mata untuk mengecek keadaan Sakura, yang dilihat adalah ekspresi murung gadis itu. Kali ini pun sama, sudah pukul sepuluh malam, dan Sakura berada di bangku batu yang ada di jalan untuk ke luar desa.
Mengendap-endap, Neji memutuskan untuk mengecek langsung keadaan gadis itu. Kemudian, ia melihat beberapa orang berhenti dan menegur Sakura.
Rombongan Kazekage, ah, benar juga. Esok adalah pembukaan ujian Chuunin. Pastilah lima Kage akan hadir di Konoha.
Gaara menghentikan langkah, ketika melihat sosok tak asing di bangku terbuat dari batu. Malam-malam begini, kenapa Sakura berada di sini? Ia kemudian menyerukan kepada Kankuro untuk pergi terlebih dahulu ke kantor Hokage, ia ingin bersua dengan Sakura. Setelah kepergian rekan-rekannya, ia mendekati gadis itu dan menyapa Sakura. Pupil jade itu membesar, ketika menyadari sang Gadis seperti melamun dan habis menangis. Tiba-tiba ia menjadi canggung, bodoh sekali tidak memikirkan penyebab seorang gadis sendirian di tempat seperti ini. Pastilah ada masalah yang menimpanya.
"Ah, Gaara-kun, kapan kau tiba?" suara Sakura terdengar ceria, tetapi Gaara yakin, gadis itu hanya berusaha menutupi kesedihannya.
Tersenyum, kemudian berkata, "Sejak beberapa menit yang lalu, aku sudah duduk di sampingmu, Sakura."
Bola mata hijau itu membesar, wajahnya terlihat panik seketika. Apa ia melamun separah itu hingga tidak menyadari kedatangan Gaara?
Gadis itu tertawa canggung.
"Maafkan aku, aku melamun." Mengembuskan napas, Sakura pun mengerucutkan bibir.
Menyandarkan punggung untuk membuat rileks, Gaara pun kembali mengatakan sesuatu yang membuat sang Gadis semakin malu.
"Aku tidak menyangka, salah satu kepala tim medis termuda, ternyata bisa melamun juga."
Perempatan siku muncul di kepala Sakura, kalau saja yang mengatakan hal itu adalah Naruto, sudah pasti ia menusuk rusuk si maniak ramen dengan sikunya. Namun, yang berada di sampingnya adalah seorang Kazekage.
"Tidak semua orang seperti Anda yang selalu bisa mengendalikan suasana hati, Kazekage-sama."
Gaara menolehkan wajah, menatap mata Sakura yang agak bengkak dan kemerahan, hidung gadis itu pun berkondisi sama.
"Beruntunglah bagimu karena bisa mengekspresikan segala suasana hatimu, Sakura." Terdiam sejenak, angin berembus menggoyangkan rambut mereka. "Temari-nee bilang, jika ada seorang gadis yang bersedih maka pinjamkanlah bahumu kepadanya." Bola mata jade Gaara menatap emerald Sakura yang membesar, bibir gadis itu terlihat terbuka, tidak bisa mengatakan sesuatu untuk membalaskan perkataan sang Kazekage. "Jangan menahan perasaanmu, Sakura."
Bibir Sakura digigit, matanya berkaca-kaca, perlahan kepalanya menunduk dan menjadikan pundak Gaara sebagai sandaran. Sakura masih berusaha menahan suaranya, tetapi isaknya gagal ia tutupi. Bahu Sakura begertar, sebelah tangannya ia gunakan untuk menutup mulut, dengan napas tersendat-sendat karena tidak bisa mengendalikan suasana hati yang semakin pilu.
Melihat hal demikian, membuat Gaara menatap dengan prihatin. Sudah berapa lama gadis ini menahan gejolak hatinya, hingga bisa menangis seperti sekarang? Gaara yang tidak tahu harus melakukan apa, hanya terdiam dan menatap Sakura yang perlahan-lahan tangisnya mereda. Kemudian, dahi Gaara berkerut, saat ia menyadari sesuatu.
Siapa? Cakra ini? Batinnya bermonolog, sebelah tangannya bergerak untuk menutup salah satu mata, menjadikan pasir sebagai mata pengganti, kemudian melihat sosok yang sedang bersembunyi di balik pohon. Pupilnya melebar, menemukan salah satu anggota keluarga Naruto berada di tempat ini dan tengah menggunakan kekkei genkai khas Hyuuga.
Agak jauh dari lokasi dirinya dan Sakura memang, tetapi tetap saja membuatnya bertanya-tanya. Perlahan, pasirnya mulai mengumpul menyempurnakan tubuh untuk bola mata pengganti. Jurus bayangan pasir.
Hyuuga Neji jelas sudah memikirkan hal ini, sang Kazekage lambat laun pasti akan menyadari keberadaannya. Mungkin, Sakura memang tidak akan tahu karena gadis itu tengah terombang-ambing dengan permasalahan pernikahan. Sekarang, bayangan pasir sang Kage dari Suuna tengah berada di hadapannya.
"Apa yang kaulakukan di sini, dan tengah menatap kami dengan Byakugan-mu, Hyuuga?"
Neji mendengus, ia tengah duduk menyandar di batang pohon, dan tak menatap sang Kage karena masih terfokus pada pandangannya terhadap Sakura yang menangis di bahu laki-laki itu.
"Aku rasa, aku tak perlu menjawabnya, Kazekage-sama." nada suara sang Pria terdengar sinis.
"Kuperingatkan, jika kau berani bertindak gegabah, aku tidak akan segan-segan, Hyuuga."
Tidak menunggu jawaban, Gaara meleburkan tubuhnya dan menganggap yang dilakukan lelaki Hyuuga itu bukanlah ancaman. Dahinya masih berkerut, tetapi sekarang ia mengejnyahkan prihal si Hyuuga dan menatap Sakura karena gadis itu telah mengangkat kepala. Bahu yang dijadikan tumpuan gadis itu terlihat agak basah. Menyoroti Sakura yang masih mengendalikan diri dengan menghirup napas dan mengeluarkan secara teratur, sebelah tangan Gaara terulur dan memberikan sang Bunga sebuah sapu tangan.
Tidak berbicara untuk beberapa saat, akhirnya Sakura membuka suara.
"Aku sangat cengeng, ya," aku sang Gadis sambil tersenyum lelah, menatap jade Gaara.
"Kadang-kadang, orang yang paling kuat pun membutuhkan waktu untuk merenung dan menangis, Sakura." Kepala merah muda itu mengangguk.
"Aku ... aku hanya ... tidak ingin ...." Sakura terbata-bata, tidak bisa melanjutkan apa yang menjadi masalah dan penyebab dari tangisannya.
"Tidak apa-apa, jika tidak ingin mengatakannya."
Menggelengkan kepala, sang Musim semi tersenyum tulus.
"Aku sangat berterimakasih, Gaara-kun. Aku tidak menyangka, anak lelaki yang dahulu pernah menyerangku dengan tangan Shukaku hingga aku berkali-kali pingsan, bisa-"
Gaara terkejut, tentu saja ia mengingat hal itu, di mana ia menyiksa Sakura dengan cengkeraman Shukaku. Kepala lelaki itu menunduk murung, menggumamkan kata maaf kepada Sakura. Melihat hal itu, tentu saja Sakura menjadi tidak enak hati, ia tertawa canggung dan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Tidak, aku tidak bermaksud. Lagi pula, kau harus mendengar kalimatku sampai selesai, Kazekage-sama. Walau kau dulu menyeramkan, lambat laun kau menjadi lebih baik, bahkan bisa menghiburku di saat aku sedih."
Menolehkan wajah ke arah Sakura, lelaki itu berkata, "Sungguh?"
Menganggukkan kepala, Sakura tersenyum hingga matanya menyipit.
"Yah, aku ini bukan orang pendendam tahu. Lagi pula, itu sudah teramat lama sekali. Ya, walaupun kalau memikirkannya membuatku kesal juga, aku kira rusuk dan bahuku akan remuk karena cengkeraman Shukak-" Sakura langsung terdiam, menatap bola mata Gaara yang memandangnya tidak percaya dan terlihat sekali laki-laki itu merasa bersalah. "Ahahaahh, tidak, aku benar-benar tidak bermaksud, Gaara-kun." Kepalan tangan Sakura meninju pelan bahu Gaara, tetapi tentu saja membuat laki-laki itu terlonjak karena pada dasarnya tenaga Sakura teramat besar.
Melihat Sakura yang kembali riang, sang Lelaki mengembangkan senyumnya.
"Kau itu ekspresif sekali, eh?" Gaara bersmirk dan membuat bibir Sakura mengerucut.
"Seharusnya kau yang lebih banyak tersenyum, lihatlah Naruto, dia selalu tersenyum walau menyebalkan dan sekarang dia menjadi laki-laki populer dan mendapatkan cinta sejatinya. Sedangkan kau, wajahmu itu teramat datar dan jujur saja agak seram. Kalau kau datang ke biro jodoh, aku berani menjamin semua gadis akan kabur." Sakura cekikikan, membuat Gaara juga mendengus geli karena sempat membayangkan apa yang dikatakan gadis itu.
"Setidaknya ada kau, Sakura. Kau tidak kabur."
"Aku sudah terbiasa menghadapi orang-orang bertampang sepertimu. Baiklah, ayo latih senyumanmu, Gaara-kun." Laki-laki itu mengahadap Sakura, dengan tangan bersidekap. Melakukan apa yang gadis itu sarankan, tetapi hasilnya tidak terlalu baik sepertinya, sebab Sakura terus saja tertawa.
"Astaga, sepertinya wajahmu sudah seram sejak lahir."
"Puas sekali mengerjai seorang Kazekage, Sakura?"
Laki-laki itu berdiri, kemudian mengajak Sakura untuk segera pulang karena malam sudah benar-benar larut.
"Apa kau ingin mengantarku?"
"Apa kau tidak ingin kuantar?"
Mengerutkan alis, kemudian Sakura berdiri dan membungkuk hormat.
"Suatu kehormatan diantar oleh sang Kazekage."
Mereka melangkah, sambil mengobrol banyak hal tentang masa-masa gennin dahulu, Sakura juga menceritakan tentang misinya bersama Naruto dan Ino yang harus mengambil bunga pelangi, dan sialnya ketika mencabut bunga indah itu mereka langsung berhadapan dengan seorang Gaara.
Gaara hanya tersenyum tipis, melihat si gadis yang terus mengoceh tentang banyak hal. Tiba-tiba, gadis itu menyeletuk kembali.
"Aku sungguh-sunguh, kau harus banyak berlatih tersenyum. Yang kutakutkan, jika orang melihat senyumanmu itu, mereka pasti mengira kalau kau sedang merencanakan perbuatan jahat, Gaara-kun. Kau akan tidak dapat pacar jika seperti ini terus."
"Aku tidak berniat berpacaran."
"Kau ingin menjadi perjaka tua?" gadis itu terhenti, menatap Gaara tidak percaya. Padahal yang tidak ingin menikah di saat ini adalah Sakura sendiri.
Mengendikkan bahu, laki-laki itu melanjutkan langkah.
"Jika tidak ada yang berminat, kau yang akan menjadi pendamping Kazekage, bagiamana?" Sakura tertawa kecil.
"Maaf saja, aku tidak suka padang pasir." Gadis itu memeletkan lidah dan tersenyum usil.
Gaara menggelengkan kepala dan tertawa kecil, untuk pertama kalinya.
"Gadis yang kejam."
Sakura tadi menangis begitu menyedihkan, kemudian mulai terhibur. Tersenyum, tertawa, membicarakan banyak hal. Tertawa, tertawa, begitu riang dan melupakan masalah yang disebabkan oleh dirinya. Dari pandangan Byakugan, ia masih bisa melihat senyum gadis itu, bersama seorang Kazakage yang tadi sudah memergokinya. Neji menghela napas, berdiri dan kembali ke kediamannya.
Memikirkan tangisan Sakura, membuatnya menajadi merasa bersalah. Gadis itu kehilangan cahaya di mata saat bertemu dengannya karena pernikahan ini. Ia sadar, tiada yang bisa diharapkan karena sang Gadis tidak menginginkan pernikahan. Namun, ia sendiri sudah berjanji untuk memujuk Sakura, kedua orang tua gadis itu juga berharap banyak kepadanya.
Duduk di futon-nya, sekali lagi Neji menggunakan Byakugan untuk melihat apa yang sedang sang Gadis lakukan. Sakura sedang berdiri di depan pintu, bersama Gaara dan tengah membicarakan banyak hal. Terlihat dari mulut gadis itu berceloteh dan sesekali diindahkan oleh sang Kazekage. Kemudian, pintu terbuka dan Mebuki terlihat menatap Gaara bingung, kemungkinan wanita itu tidak terlalu menyukai karena Sakura diantar oleh laki-laki lain dan bukannya dirinya. Kemudian, Mebuki bertanya tentang si lelaki dan dijelaskanlah Sakura.
Punggung Mebuki membungkung, mengetahui yang mengantarkan putrinya adalah seorang Kazekage. Menginginkan Gaara untuk mampir, tetapi lelaki itu menolak sopan karena kemungkinan harus menemui Hokage dan mereka pun berpisah. Sakura terlihat melambaikan tangan, dan Gaara tersenyum sambil melangkah. Kemudian, Sakura terlihat memanggil sang Lelaki, mereka membicarakan sesuatu dan Sakura memberikan sapu tangan milik Gaara. Lelaki itu mengeleng dan mendorong tangan Sakura, kemungkinan mengatakan kepada gadis itu untuk menyimpannya saja.
Setelahnya, Gaara menghilang menjadi pasir yang ditiup angin.
Neji menghentikan Byakugan-nya, tepat ketika melihat Sakura yang terus tersenyum menatap sosok Gaara yang sudah tidak ada di sana. Kenapa? Mendadak membuat perasaannya menjadi tidak mengenakkan seperti ini. Menghirup napas, Neji menjatuhkan tubuhnya ke atas fuuton. Sekarang keputusannya sudah bulat.
.
.
.
"Bagaimana bisa kau bertemu dengan Kazekage itu, Sakura?" sang Gadis yang diberikan pertanyaan pun menjawab, bahwa ia hanya kebetulan bertemu karena Gaara sedang berkunjung ke Konoha untuk pembukaan ujian Chuunin esok hari. Gadis itu juga menejelaskan bahwa Gaara hanya bisa satu hari bermalam di desa ini karena Suuna sedang mengalami permasalah cukup serius.
Gaara memang menceritakan keberadaannya di Konoha tidak bisa telalu lama, hanya satu hari saja dan setelah pembukaan, maka ia harus kembali ke negerinya. Laki-laki itu juga akan membicarakan masalah ini kepada Hokage, dan jika nanti keadaan di Suuna semakin parah maka negeri padang pasir itu akan membutuhkan bantuan dari Konoha. Gaara memang tidak dalam situasi kepemimpinan yang baik, timbulnya kelompok untuk melengserkan kepemimpinan Gaara membuat lelaki itu sulit keluar dari desa untuk menghadiri pertemuan lima kage.
Apalagi beberapa penyerangan telah terjadi, kelompok pemberontakan itu juga semakin hari semakin banyak, dan mengakibatkan korban yang semakin bertambah.
Itulah sebabnya Sakura mengatakan sang Lelaki benar-benar bisa menjaga suasana hati, dengan permasalahan seberat itu, wajah Gaara sama sekali tidak terlihat tertekan walau ia sadar gurat-gurat kelelahan cukup tertera pada wajah sang Kazekage.
.
.
.
Keesokan harinya, Neji mengatakan apa yang sudah dipikirkannya kepada Hiashi, tentu saja laki-laki itu menolak mentah-mentah apalagi hanya tinggal empat hari menuju pernikahan. Ia benar-benar yakin, bahwa sang Paman pasti tidak akan menerima hal ini dan Neji pun disarankan agar segera meninggalkan ruangannya karena menggangu pekerjaan lelaki itu.
Sore menjelang, Hyuuga Hiashi bukanlah tipe orang yang gampang menarik sesuatu yang telah diputuskan, apalagi untuk hal seperti ini. Keluar dari ruangan sang Pemimpin Klan, ia pun berjalan dengan tatapan merenung. Harus melakukan apa? Ia yakin, jika terus menyuarakan ini pun akan percuma. Tiba-tiba, Neji seperti mendengar suara Sakura yang meneriakinya pecundang. Kenangan beberapa waktu lalu pun muncul di benaknya.
Menghela napas, ia pun melanjutkan langkah. Di teras, ia melihat Naruto, Hinata dan Gaara sedang berbicara, laki-laki yang adalah Kazekage itu terlihat berdiri karena telah dijemput oleh bawahannya, dan kemudian sang Bawahan menghilang. Sang Lelaki membalikkan tubuh, melihat dirinya yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, mereka saling melewati, tanpa bersapa atau bahkan saling melirik. Tatapan masing-masing dari mereka tertuju ke depan, menganggap masing-masing yang mereka lewati tidak lebih dari bayangan.
Melihat hal itu, tentu saja membuat Naruto dan Hinata saling berpandangan.
Neji pun melangkah menuju ruangan sang Tetua Hyuuga, kali ini ia bertekat untuk menyuarakan apa yang telah ia putuskan, memberi tahu kepada orang paling dihormati di tempat ini. Hinata dan Naruto hanya ia sapa sekadarnya saja, laki-laki itu lalu membelokkan tubuh mengikuti lorong dan menemui pintu dari ruangan pribadi sosok yang ingin ditemui. Menarik napas, Neji pun mengetuk pintu.
Setelah mendengar seruan agar dirinya masuk, ia melangkahkan kaki ke dalam. Melihat sang Tetua yang sedang melukis kaligrafi di atas kain putih, ia pun menundukkan punggung memberi hormat.
"Duduklah, Neji. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" sang Tetua menaruh kuasnya ke tempat tinta, dan ia menatap lelaki yang telah berusia dua puluh tiga tahun di hadapannya ini.
"Ini tentang pernikahan saya, Tetua."
Laki-laki tua itu hanya diam, kemudian bersidekap dan mengucapkan agar Neji melanjutkan perkataannya.
"Saya ingin membatalkan pernikahan ini, Tetua." Neji melihat kelopak mata kakek dari Hinata itu tertutup, beberapa saat terpejam hingga ketika terbuka, sorot marah lah yang terlihat.
"Apa kau mengira ini adalah permainan? Beberapa hari lagi menjelang upacara dan kau mengatakan hal sedemikian?"
"Sakura, dia tidak menginginkan ini. Begitu juga dengan ... saya." Neji menjelaskan dengan suaranya yang sarat dengan rasa penyesalan.
"Neji, kau tahu apa konsekuensinya jika berani melanggar persetujuaan yang telah kau katakan. Dan lagi, jika hal ini sampai diketahui oleh khalayak umum, tidakkah kau memikirkan Hyuuga dan gadis itu. Dia gagal menikah, khalayak akan mengira dirinya atau kau membawa nasib buruk hingga pernikahan batal. Neji, jangan kau pertaruhkan semua yang telah direncanakan hanya karena perasaan bernama cinta, sudah aku bilang hal itu berangsur-angsur akan hadir karena kalian memiliki sifat saling melengkapi."
Sang Tetua menasihati Neji, laki-laki itu bahkan akan melukai perasaan orang tua dari Sakura, tidakkah dia menyaksikan betapa bahagianya ketika mereka melamar gadis itu? Namun, yang sekarang terbayang adalah wajah Sakura yang menangis, bersedih dan terlihat murung. Gadis itu tidak menginginkan hal ini, membuatnya serasa mencekik lehernya dengan balutan perjanjian suci nanti.
Mata Neji terpejam, alisnya mengerut. Ia tidak tahu harus bagaimana, tetapi ia juga tidak ingin Sakura dipaksa untuk menjadi pendamping hidupnya. Baginya, pernikahan adalah kerelaan, walau tanpa cinta, setidaknya kedua pasangan tidak dalam keterpasksaan.
"Saya akan menanggungnya, Tetua. Maka dari itu, saya ingin membatalkan pernikahan." Meja rendah itu digebrak oleh sebelah tangan kakek dari Hinata, wajah sang Tetua terlihat marah dan kecewa karena mengetahui kekerasan hati Neji yang tidak mau menepati persetujuan, yang sebelumnya sudah lelaki itu terima.
Menggelengkan kepala, Tetua pun menyerukan dengan tegas agar Neji keluar dari ruanganya, laki-laki muda itu berdiri dan memberi hormat sebelum melangkahkan kaki. Setelahnya, Tetua menyuruh bawahannya agar memanggil Hiashi, ia ingin permasalahan ini diurus oleh anaknya itu. Tidak bisa dipercaya, ia sendiri sampai memikirkan, apa yang menyebabkan Neji melanggar janjinya yang telah setuju semenjak perencanaan pernikahan ini didiskusikan kepada lelaki itu?
.
.
.
Mengetahui hal ini dari ayahnya, Hiashi pun mengajak Neji sekali lagi untuk mendiskusikan ernikahan. Namun, sama dengan peryataan laki-laki itu beberapa jam lalu, tidak ada yang bisa mereka hasilkan karena buah dari kekeraskepalaan masing-masing. Tetap pada pendirian, Hiashi pun melayangkan tangannya untuk memberikan kesadaran kepada lelaki itu.
"Neji, apa yang kau rencanakan dengan semua ini? Kau mau mempermalukanku di hadapan keluarga Haruno, Godaime dan Rokudaime?"
Mata Neji berkedip, wajahnya masih tertoleh ke samping agak menunduk karena tamparan dari Souke-nya. Bibirnya berdarah, tetapi tidak ada yang terucap dari sana. Neji memperbaiki duduknya, menatap mata Hiashi dengan sorotnya yang tegas.
"Saya tetap tidak ingin melanjutkan pernikahan, Hiashi-sama." Suara dalam lelaki itu terdengar kukuh, tidak peduli bahwa ia akan mendapatkan ganjaran dari tindakannya ini.
Menarik napas tajam, Hiashi pun memijat pangkal hidungnya.
"Apa kau masih berkeras hati? Neji, masuklah ke sel bawah tanah untuk memikirkan semua ini. Kuharap kau bisa bijaksana dengan keputusanmu."
Dengan perkataan Hiashi, masuklah dua orang dan membawa laki-laki itu ke tempat yang pernah beberapa kali didiaminya. Sel bawah tanah yang cukup jarang terpakai karena banyak dari Hyuuga Bunke yang memang selalu mematuhi dan tidak pernah membuat kesalahan. Namun, sekarang Neji berada di sana, dengan pakaian atas yang dilepaskan dan kedua tangan diikat ke ke atas, kakinya ditekuk berlutut setelah dipasang pasung.
Hiashi berdiri di hadapan sang Lelaki, menatap segel Byakugan laki-laki itu yang berkilau karena tertimpa cahaya obor dan keringat.
"Kau masih tidak ingin mematuhinya?"
"Saya tidak akan menikah...." Belum sempat perkataan Neji selesai, ia bisa merasakan cambuk-cambuk menyayat kulitnya bergantian.
Terus-terusan, pagi menjelang hingga petang lagi, pernikahan tinggal dua hari dan Neji masih berada di selnya, karena masih juga berkeras hati dan tidak ingin mengikat janji dengan gadis yang telah dipilih orang berpengaruh di klan Hyuuga.
Sorot matanya sayu, tubuhnya lelah karena posisi yang memang tidak membiarkan diri untuk berbaring, juga bergerak sedikitpun. Nampan berisi makanan dan air, tetapi tidak ada yang ia sentuh, bukan karena tidak merasakan lapar, tetapi karena memang tidak bisa menggerakkan tubuh. Napasnya mengembus perlahan, biarlah ia merasakan hal ini lagi, demi pernikahan yang dibatalkan. Namun, mungkinkah terwujudkan karena hanya tinggal dua hari lagi?
Kembali pagi menjelang, sinar masuk ketika pintu dibuka, kelopak matanya berkedip karena merasakan cahaya yang menyoroti. Di hadapannya telah berdiri sang Tuan, Hyuuga Hiashi yang menatap dirinya dengan sorot mata datar. Wajah laki-laki itu terpahat sempurna dalam kekakuan, sekali lagi memperhatikan sosok Bunke yang telah dinaunginya begitu lama.
"Neji, aku bertanya lagi dan lagi, apa kau masih tak ingin mematuhinya?"
Napas sang Lelaki terdengar, satu-satu, tetapi ia berusaha untuk berbicara.
"S-saya, tidak ... bersedia," bisik suara itu masih jelas terdengar dan Hiashi pun mengerutkan dahi, habis sudah kesabarannya, laki-laki ini benar-benar keras kepala.
Segel tangan dilakukan, dan Neji tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Untuk pertama kalinya setelah dua hari diberikan hukuman cambuk, Neji berteriak begitu kuat karena hukuman kali ini.
"ARRRRRGGGGGG!"
Tubuhya bergetar, Byakugan aktif tanpa perintah, tetapi membuatnya teramat menderita. Sakit itu menyerang di derah mata, sampai ke otak. Seluruh kepalanya berdenyut mengerikan, ia menggeleng-gelengkan kepala berusaha meredakannya, tetapi ia tahu semua itu tidaklah berguna. Tubunya menunduk, dengan kepala yang juga bernasib sama, padahal kedua tangannya sedang terikat dengan rantai. Menjadikan kondisinya sangat terlihat memprihatinkan, Hiashi menghentikan segel Byakugan sang Lelaki. Saat itu juga suara teriakan Neji tidak terdengar lagi, air liurnya berceceran, napasnya terengah-engah meraup oksigen, keringat membanjiri tubuh hingga berubah merah ketika menyatu dengan darah bekas luka cambuk.
Saat itu, Hiashi memberi waktu, tetapi ketika ia bertanya kembali, tetap saja kekukuhan Neji yang didapatnya.
Lagi, segel itu digunakan untuk memberi pelajaran kepada sang Hyuuga, menjadikan tubuh laki-laki itu bereaksi dan menggigil. Teriak tiada henti, siapa saja yang mendengar tidak akan sampai hati.
Di ujung lorong, Sakura, dan Naruto berlari secepat mungkin. Siang tadi Naruto menariknya dari rumah karena mengetahui keadaan Neji yang sedang dihukum teramat mengerikan. Awalnya, laki-laki manika ramen itu tidak menyadari ketidakhadiran Neji, tetapi setelah beselang nyaris dua hari, ia pun merasa khawatir. Apalagi laki-laki itu sedang tidak ada tugas misi karena akan menikah. Menyuruh Hinata mencarinya dengan Byakugan, perasaan tak enaknya pun ternyata berasal dari Neji yang sedang berada di penjara bawah tanah dan sedang dihukum oleh Hiashi.
Langsung saja, Naruto pergi mencari Sakura, tau kemungkinan permasalahan ini berkaitan tentang pernikahan dua orang yang yang baginya sangat penting.
Dan di sinilah mereka sekarang, di penjara bawah tanah yang berisi Neji sebagai tawanan dan Hiashi yang sedang memberikan hukuman.
Suara teriakan Neji membuat Sakura bergetar, laki-laki itu pasti sedang teramat menderita.
"Hyuuga-san!" Sakura berteriak, tetapi yang diserukan namanya hanya menatap dari lirikan saja.
"Ayah, hentikan. Kumohon," ucap Naruto dengan suara tercekat.
Mereka langsung mendenkati Neji, membenarkan posisi tubuh laki-laki itu yang nyaris bersujud dengan hati-hati, Sakura terbelalak karena menatap mata Neji yang masih dalam mode Byakugan, tetapi terlihat kosong. Laki-laki mengerang, suaranya bergetar ketika tubunya ditegakkan.
"Hyuuga-san, apa yang terjadi? Kenapa menghukum Neji-san seperti ini?"
Tidak ada jawaban, tetapi kemudian Hiashi kembali memberi Neji pertanyaan.
"Neji, apa kau tidak mau mematuhinya?"
"Ti ... dak. Arggggggg!"
"Hyuuga-san, hentikan! Kubilang hentikan!"
Hiashi mantap Sakura, yang sekarang berdiri di depannya. Menyorotinya dengan tatapan tajam, tetapi ia tidak peduli.
"Ini keputusannya, inikah yang kau dan dirinya mau, Sakura? Maka dari itu, ia akan mendapat akibat dari perbuatannya yang menolak pernikahan."
"Neji menolak pernikahan?" Naruto dan Sakura sama-sama berucap. Mereka terkejut karena mengetahu fakta ini.
Naruto membelakakkan matanya, menatap Neji yang kembali membungkukkan tubuh karena rasa sakit yang diderita. Ia mencoba menahan tubuh Neji, menyerukan dengan mata berkaca-kaca karena tidak sanggup mendengar teriakan Neji, agar jangan menundukkan tubuh karena kedua pergelangan tangan bisa saja patah.
Sakura berteriak, menyerukan agar Hiashi menghentikan hukumannya, mengatakan bahwa lelaki itu tidak berhak menghakimi keputusan Neji seperti ini. Namun, Hiashi sama keras kepalanya seperti Neji, pernikahan dua hari lagi dan sekarang sang Lelaki Hyuuga terus saja tidak mau mengindahkan keputusan yang sempat disetujui lelaki itu.
Mengepalakan tangan, Sakura menghantamkan tinjunya kepada ayah dari Hinata, tetapi dengan secepat kilah Hiashi menghindar. Napas Sakura terengah-engah.
"Hentikan! Aku bersedia menikah dengan Neji," bisiknya dengan air mata yang menggenang, tetapi Hiashi tidak menghentikan juga hukumannya. Sakura berjalan cepat mendekati Neji yang dipegangi Naruto dan terus berteriak hingga suaranya serak.
Memegangi pundak Neji, Sakura berkata agar lelaki itu mau mengikuti keinginan ini. Namun, Neji seperti sudah tidak menyadari suara Sakura, hingga membuatnya terengah-engah karena tidak tahu harus melakukan apa.
"Aku akan membujuknya, tetapi kumohon hentikan semua ini. Kami akan menikah, kami akan menikah maka hentikanlah, kumohon!" Sakura berteriak, air matanya mengalir dan tepat ketika ia memejamkan mata karena tidak tahan melihat Neji yang menderita, ia pun mendengar gumaman Hiashi, dan Neji berangsur-angsur tenang dan tidak sadarkan diri.
Melangkahkan kaki, Hiashi keluar dari sel tahanan ini. Sakura menarik napas, merasakan desakan air matanya akan mengalir, begitu pula dengan Naruto yang tampangnya teramat kusut dan terlihat sedih.
Mereka melepaskan rantai dan pasung, kemudian Sakura pun memeriksa mata lelaki itu yang masih terlihat aktif dengan Byakugan, terbukti denga urat-urat yang menonjol di pelipis sampai ke pipi Neji.
"Hukuman ini menyerang syaraf-syarafnya, aku bisa memulihkan, tetapi mungkin Neji akan kesusahan melihat dan berjalan untuk beberapa jam belakangan." Sakura berbisik, tidak menatap Naruto dan hanya menyoroti mata Neji yang terbuka sayu karena tidak sadarkan diri.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Sakura menggunakan Byakugo untuk menyembuhkan segala luka yang berada di tubuh Neji, Naruto telah berlalu untuk mengambilkan hidangan dan pakaian bersih, dan sekarang Neji telah sadarkan diri, melihat Sakura dalam pandangan kabur, tetapi menyadari tubuh itu dikelilingi sulur-sulur kekuatan medis terhebat.
"Kau sudah sadar," bisik Sakura.
"Tidak seharusnya kau di sini, Sakura." Neji berkata dengan intonasi lelah, dan Sakura mengangkat tangannya dari dada Neji. Menatap laki-laki itu tidak percaya.
Neji memang tengah terduduk, ketika ia ingin menarik kaki untuk menekuk lutut, ia menyadari tidak bisa menggerakkannya. Ah, efek dari hukuman. Ia menundukkan kepala, kemudian mulai berkata lagi.
"Sama saja, bukan?" Sakura menegakkan kepala, menatap wajah Neji yang masih tetunduk. "Aku memang pecundang yang menyedihkan," bisiknya. Dan kali ini Sakura merasakan hatinya berdesir karena rasa bersalah. Tidak seharusnya ia mengatakan hal jahat kepada Neji beberapa hari lalu, tahu hidup laki-laki itu tidak semudah yang ia jalani.
Menggigit bibir, Sakura tersenyum.
"Kau adalah laki-laki yang hebat, Neji-san." Telapak tangannya menyentuh dahi Neji, mengalirkan cakra penyembuh karena melihat laki-laki itu kesusahan bernapas. "Setidaknya, kau selalu berusaha. Yang kukatakan saat itu ... adalah tentang diriku," suara Sakura bergetar, menahan sesak di dada. "Pecundang itu ... adalah aku." Kepalanya ia tegakkan, menatap bola mata Neji yang melebar dan juga tengah menatapnya.
Sakura tengah tersenyum, tetapi air mata menetes dari permata hijau memesona itu. Neji menundukkan kepala, napasnya terasa berat kembali setelah menatap wajah sang Gadis yang teramat menderita dalam senyum kepalsuan. Saat itu juga, air mata dari manik mutiara itu turun dan mengalir ke pipi.
.
.
.
Bersambung
Erza Note:
Seharushnya Erza mau buat pernikahan di chapter ini, tapi setelah Erza inget-inget lagi, masih belum bisa lagian ini dah terlalu panjang juga 4k bokkk.
Ok, chapter depan pernikahan kalau bisa :") Alurnya emang lambat. Huhu.
Huaaaa chapter ini kok nyesek banget sih, ih Erza kalau gak tahan-tahani karena ngetiknya gak tengah malam, dan masih ada ade cewe yang belajar, pasti dan nangis Bombay huhuhu.
Scene paling nyesek itu sebelum TBC, yang Neji juga ikut nangis dalam diam huhuhuu. Kenapa kusuka buat chara cowo macho kesiksa, anak sulung pastinya hiks hiks.
Ok, terimakasih sudah membaca, ditunggu komen dan votenya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top