2. Ucapan Terimakasih

Cold Heart

Story © zhaErza

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Chapter 2

Ucapan Terimakasih

.

.

.

Dua hari paska diobati Sakura, Neji pun akhirnya keluar dari sel yang telah mengurungnya karena hukuman, sebab sudah melakukan kesalahan. Ia kemudian bisa lega karena akhirnya mengistirahatkan diri di kamar kediaman Bunke, tubuhnya sudah lebih bersih, rambutnya juga ia cuci walau badan hanya bisa dibasuh seadanya dengan kain basah karena perban yang masih membalut.

Sekitar pukul tiga sore nanti, ia berencana akan menemui Sakura seperti perkataan gadis itu. Ia berada di atas futon, tadi Hinata dan Naruto datang memberikan teh dan bubur seperti sebelum-sebelumnya. Lukanya memang sudah tidak terlalu sakit, tetapi keletihan yang ia rasakan terutama di bagian kaki karena dipaksa terus menerus berlutut membuat kebas di sana menjadi tak terkira.

Memejamkan mata, dan mengembuskan napas, ia pun memutuskan untuk berlabuh ke negeri mimpi.

Siang hari, Neji terbangun dan menyadari bahwa di samping futon terdapat baki berisikan hidangan seperti nasi, sup daging dan acar, juga teh dan air mineral. Ia menghela napas karena tidak sepantasnya Hinata melakukan hal ini kepada dirinya yang adalah seorang Bunke, tetapi ia tahu betapa gadis itu keras kepala, dan jika ia mengatakan hal ini pasti Hinata tidak akan terima. Berjalan ke kamar mandi, Neji pun membasuh wajah. Setelahnya ia menyantap hidangan yang sudah disediakan sang Sepupu.

Mengganti pakaian, ia lalu bersiap untuk pergi ke rumah sakit, kali ini ia merasa sudah lebih baik sehingga memutuskan untuk tidak merepotkan pasangan suami istri Uzumaki itu. Memakai pakaian putih seperti biasa, sepatu ninja dan ikat kepala Konoha untuk menutupi segel klan Hyuuga khas Bunke, ia pun telah siap ke luar rumah.

Jalanan desa ramai, beberapa kali ia berpapasan dengan rekannya, seperti Kiba dan juga Shikamaru dan Chouji. Ia sama sekali tidak mengatakan bahwa harus pergi ke rumah sakit, hanya menjelaskan bahwa dirinya sedang ada urusan. Tempat yang dituju pun telah tertangkap oleh irisnya yang keperakan bak rembulan, menuju meja resepsionis, Neji menanyakan di mana ruangan dari Haruno Sakura berada.

"Ah, Sakura Shiso masih di ruangan oprasi, tetapi Hyuuga-san bisa menunggu di ruangan beliau karena sudah membuat janji." Sang Resepsionis menjabarkan di mana letak ruangan sang Gadis, mengikuti petunjuknya, Neji pun berjalan dan menemukan pintu berpapan nama orang yang dicari.

Duduk di salah satu kursi, Neji memperhatikan ruangan yang di dalamnya terdapat meja kerja, sofa, kasur untuk memeriksa pasien dan sebuah pintu lagi yang ia perkirakan adalah kamar kecil. Sekitar setengah jan, akhirnya pintu terbuka dengan menampilkan sosok berambut merah muda.

Berdiri, Neji pun memberi salam dan menganggukkan kepala sebagai kesopanan. Ia melihat mata hijau Sakura membesar, kemudian gadis itu membentuk sebuah senyuman.

"Ah, Neji-san. Kau sudah menunggu lama? Maaf aku tadi ada oprasi. Silakan duduk, kau mau teh atau jus?" gadis itu menuju meja kerjanya, meletakkan beberapa berkas dan menuju sebuah westafel untuk mencuci tangan.

"Setengah jam. Tidak, terimakasih. Jangan merepotkan dirimu, Sakura."

Namun, Sakura tetap membuatkan teh, untuk dirinya yang juga lelah, dan untuk Neji karena sudah menunggu lama. Gadis itu mengembangkan kembali senyum ketika meletakkan gelas tembikan dan sebuah wasagi kepada Neji. Mendapati hal itu, sang Pria pun menghela napas.

"Silakan, Neji-san. Aku akan mempersiapkan beberapa hal dahulu."

Lelaki itu mengangguk, kemudian mengambil teh dan menyesabnya, ia memperhatikan Sakura yang mulai mengambil baskom, air hangat dan antiseptik, kain kasa dan lainnya. Setelah persiapan selesai, Sakura pun mempesilakan Neji untuk berpindah tempat ke ranjang pasien yang sudah tersedia. Laki-laki itu membuka baju putih panjangnya dan membiarkan Sakura melepaskan perban dan membersihkan luka di tubuhnya. Setelah semua diselesaikan, Sakura membersihkan bekas-bekas perban lama dan menaruhnya di tempat sampah di luar ruangan, sementara Neji memperbaiki pakaiannya.

Laki-laki itu terdiam sejenak, menghela napas sambil berkata, "Terimakasih, Sakura." Mata perak itu menatap sang Gadis yang telah kembali mendekat, terlihat bibirnya tersenyum tipis dan dibalas Sakura dengan senyum semringah dan anggukan kepala.

"Itu telah menjadi kewajibanku, Neji-san. Lagi pula, kau adalah kakak ipar dari sahabatku." Sekarang Sakura berjalan ke arah sofa dan meminum teh yang ia buat tadi. Hyuuga Neji pun tak mungkin langsung undur diri, sementara teh yang ia minum bahkan belum sampai setengah, lagi pula wasagi yang dihidangkan Sakura juga belum ia sentuh. Maka dari itu, Neji kembali ke tempat duduknya di sofa panjang tempatnya tadi dan menghabiskan suguhan sang Gadis.

Beberapa saat setelahnya, Sakura menjelaskan bahwa Neji tidak lagi perlu ke rumah sakit untuk mengganti perban karena dua hari lagi sudah bisa dilepaskan dan tidak perlu lagi diperban. Karena Neji baru saja pulih, maka Sakura menyarankan agar lelaki itu beristirahat ketika nanti sampai di kediaman Hyuuga.

.

.

.

Menghirup wangi angin malam, sang Gadis berdiri di balkon kamarnya, mendongakkan wajah ke angkasa dan menatap gemintang yang sekarang entah kenapa tidak terlihat bersinar karena tertutup awan gelap. Apakah hujan akan turun? Entahlah, tetapi Haruno Sakura sangat ingin keluar dan berjalan-jalan ke pusat desa. Hari ini sejak tadi pagi ketika bertugas, ia merasa gundah. Padahal sorenya ia sudah menyempatkan diri untuk menjenguk Sasuke di pusarannya, tetapi perasaannya tak juga membaik.

Mengembuskan napas, Sakura menutup pintu balkon dan keluar dari kamar, ia ingin berjalan-jalan sebentar. Pusat desa mulai terlihat, ia menatap keramaian padahal malam mulai melarut. Kedai makanan dan kedai sake semakin ramai, warung ramen kesukaan Naruto dan juga toko-toko yang berjajar rapi. Langkahnya tidak berhenti, ia terus saja menggerakkan kaki hingga membawanya ke jalan menuju pintu keluar desa. Dan ia pun sekarang terpaku, ketika beberapa langkah lagi di hadapannya terlihat bangku terbuat dari batu yang selalu menjadi tempat persinggahannya di kala hati gelisah.

Terdiam beberapa saat, Sakura pun menggerakkan diri. Ketika berada di hadapannya, ia sekilas terbayang masa-masa lalu di tempat ini. Tangannya pun terulur, menyentuh bangku batu sedingin es. Ia mendudukkan dirinya di sana, untuk beberapa saat bola matanya memandang hampa ke arah pohon dan semak di depannya. Mengenang orang yang terkasih dan telah tiada, sudah lima tahun lamanya.

Duduk entah beberapa lama, mungkin sekarang malam memang telah benar-benar larut, tetapi karena gemuruh itu belum juga pergi, maka Sakura berpikir untuk berada di tempat ini beberapa saat lagi. Matanya memejam, menikmati angin malam yang sebenarnya menyengat kulit. Namun, biarlah semua itu ia anggap sebagai pengobat rasa tak menyenangkan di hati.

Tapak kaki terdengar, kemudian terhenti, Sakura tetap tidak peduli karena ia tidak merasakan adanya tanda bahaya. Namun, tiba-tiba saja ia tersentak ketika mendengar suara yang ia kenali.

"Sakura?" sosok itu berdiri di samping tubuhnya, mengerutkan alis karena berpikir Sakura tertidur di tempat seperti ini.

Awalnya, Neji cukup yakin ketika matanya yang perak menangkap seberkas merah muda di malam larut. Ia pun terdiam karena menyadari mata gadis itu memejam, berpikir apakah Sakura tertidur di kursi batu ini? Namun, ketika ia mendekat dan memanggil nama gadis itu, Sakura tersentak dan menandakan bahwa sebenarnya gadis itu hanyalah memejamkan mata.

"Ah, Neji-san? Apa yang kaulakukan malam-malam begini?" bola mata hijau itu melebar, menatap wajah sang Lelaki yang mengerutkan alis dalam.

"Tidakkah itu seharusnya pertanyaanku, Sakura? Aku baru saja kembali dari misi tunggal."

Gadis itu mengangguk-angguk, kemudian kembali bola matanya terlihat membesar.

"Ah, apa kau langsung menerima misi, bahkan dengan tubuh yang baru saja pulih?"

Neji mendenguskan napas, memang ia baru saja pulih dua hari lalu, dan ia langsung mengambil misi karena sudah cukup bosan di rumah saja. Lagi pula, ia juga tidaklah menderita sakit parah, hanya bekas luka cambuk karena hukuman dan kurang nutrisi karena beberapa hari tidak makan dan minum dengan teratur.

"Aku merasa baik-baik saja," ucap pemuda itu lugas.

Tidak mau membuat keributan, Sakura pun menghela napasnya dan berusaha mengerti walau ia tak yakin saat mengambil misi Neji telah sembuh seratus persen.

"Terserah kau saja, dan sebaiknya kau segera pulang dan beristirahat, Neji-san." Sakura mengatakan hal itu bukan tanpa alasan, ia melihat wajah Neji yang memang terpancar kelelahan di sana, belum lagi baju lelaki itu sedikit kotor karena keringat atau malah bekas hujan yang hampir mengering. Astasa, apa lelaki ini tidak berteduh terlebih dahulu dan berhujan-hujan agar cepat sampai ke desa?

"Kau sendiri?"

Mengembangkan senyum, Sakura berkata ia ingin beberapa saat lagi di tempat ini.

Walaupun Sakura telah menjelaskan sedemikian kepada Neji, lelaki itu sampai sekarang tidak juga bergerak dari tempatnya, membuat alis Sakura mengerut kesal. Kenapa lagi?

"Ada apa lagi, Neji-san?"

"Apa kau tidak pulang?"

Terdengar helaan cukup kuat dari bibir Sakura, gadis itu menggeleng. Dan mengatakan ia hanya ingin di sini untuk menikmati suasana yang sedang mendung. Tentu saja mendengar alasan tidak masuk akal Sakura membuat Neji semakin mengerutkan alisnya.

Lelaki itu memang tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi dengan berdiri tepat di hadapan tubuhnya, membuat Sakura kesal juga. Mendecak, Sakura pun berdiri dan mengatakan kalau ia akan pulang sekarang, melangkah dan mengeluh di dalam hati, Sakura tidak mengetahui kalau sekarang Neji mendengus sambil tersenyum karena melihat aksi Sakura yang menurutnya lucu.

Mereka berada di pusat desa, Neji di sebelahnya berjalan, sepertinya sengaja karena dia telah menguji beberapa kali. Ketika berjalan cepat, lelaki Hyuuga itu akan melebarkan langkah, ketika ia berjalan lambat, pun Neji melakukan hal yang sama.

"Hei, bukannya kita berlawanan arah, Neji-san?" Sakura menghentikan langkah, dan memelototi Neji. Sementara itu, sang Lelaki hanya mengendikkan bahu dan berucap 'ayo'.

Gerimis mulai turun, orang-orang di desa berlarian, dan tiba-tiba beberapa detik setelahnya hujan lebat menumbuki tanah yang meraka pijak. Sakura panik, bukan karena takut basah, tetapi ada hal yang lebih penting lagi. Ia bisa saja melompati gedung-gedung, tetapi pastinya tubuhnya akan kuyub. Namun, tidak, untuk saat ini ia lebih memilih berteduh di emperan toko.

Ia berlari, mengikuti penduduk yang masih berlalu lalang mencari tempat berlindung, dan sampailah di sebuah empertan toko beratap lebar sehingga mereka bisa berteduh di sana.

Menghela napas, Sakura tentu merasa lega, hari ini adalah tanggal merahnya. Ceroboh sekali, karena gundah di dada, ia sampai tidak mengingat hari ini adalah masa bulanannya. Neji berada di samping, sedang mengibas-kibaskan pakaian dengan menggosokkan telapak ke legan dan rambut cokelat panjang. Kalau saja mereka masih di dekat bangku batu tempat Sakura menenangkan diri, pasti ia sudah kebasahan dan akan merasa malu bukan main karena Neji akan melihat hal yang paling fatal bagi seluruh wanita.

Mata hijau Sakura melihat pakaian Neji yang sekarang semakin basah, bahkan tubuh laki-laki itu tercetak jelas di balik pakaian putih mirip kimono yang dikenakan.

"Pakai ini," saran gadis merah muda di sampan Neji. Sakura memang membawa saputangan di kantungnya, ia sekarang tengah memakai sweeter hijau dengan jins putih yang panjangnya sebetis. "Kau basah sekali, sebelum ini juga telah kehujanan, ya? Bisa-bisa kau sakit lagi, Neji-san," keluh Sakura, memperhatikan pakaian kuyup yang dipakai sang Lelaki.

Namun, Neji hanya menampilkan smirk, dan berkata, "Kalau begitu kau akan kurepotkan lagi." Gadis merah muda itu pun langsung merotasikan bola matanya.

Nyaris setengah jam, mereka pun bisa melangkah karena sekarang rintik-rintik hujan mulai mereda. Sakura mengehela napsanya dan menyampaikan kepada Neji agar mereka sebaiknya lekas pulang sebelum cuaca kembali tidak bersahabat, tetapi nyatanya lelaki itu benar-benar keras kepala. Hingga Sakura menggunakan cakranya untuk melompati atap gedung agar ia bisa lebih capat sampai di rumah. Sepuluh meter sebelum gedung rumahnya, Sakura menginjak tanah dan langsung berbalik dan mencerca Neji.

"Astaga, apa yang kaulakukan dengan mengikuti sampai ke sini, Neji-san? Ck, kau benar-benar keras kepala." Tidak memedulikan kekesalan Sakura, Neji terlihat biasa saja dengan wajah datarnya, lelaki itu kemudian melangkah, dan Sakura hanya bisa menarik napas panjang untuk menghadapi sang Hyuuga karena sudah menguji kesabarannya. Mungkin Hyuuga Neji telah tertular Naruto karena bisa terus menerus membuatnya sebal.

Sesampainya di depan gedung, Sakura membalikkan tubuh dan berkacak pinggang.

"Aku tak tahu apa yang kaupikirkan, tetapi aku benar-benar serius untuk menyuruhmu agar cepat pulang dan mengganti pakaianmu sebelum aku kembali dikejutkan karena melihat kau jatuh sakit lagi, Neji-san."

"Tentu, aku akan mengingat ucapanmu, Sakura. Ini," ujar Neji sambil menyerahkan sebuah bungkusan yang sejak tadi memang dibawa lelaki itu.

Mengerutkan alis, Sakura hanya menatapnya, tanpa menyambut uluran tangan Neji.

"Apa itu?"

"Anggap saja sebagai balasan dan ucapan terimakasih, Sakura."

Berkedip, Sakura mengatakan kalau itu memanglah kewajiban dan tugasnya sebagai iryou-nin. Maka Neji tidak perlu bersusah untuk membalasnya. Namun, akhinya Sakura menerima bungkusan Neji karena memang tidak mungkin ia menolaknya.

"Ini, tidakkah untuk keluargamu saja, Neji-san?"

Kantung yang tersisa di tangan sang Pria, ia angkat, menunjukkan kepada Sakura bahwa lelaki itu memang sudah mempersiapkan semua ini. Mungkin, jika tidak bertemu di jalan, Neji memang akan berkunjung untuk menyerahkan oleh-oleh sebagai ucapan terimakasih.

"Kalau begitu, aku permisi, Sakura." sang Pria menganggukkan kepala dan beranjak pergi ketika Sakura menyerukan agar lelaki itu hati-hati di jalan.

Setelah Neji menghilang dari pandangannya, Sakura mengintip hadiah apa yang ada di balik bungkusan plastik ini, ia melihat sebuah kotak terbuat dari kertas. Di dalam kamar, setelah mengganti pakaian, ia mengambil oleh-oleh dari Neji dan membukanya. Itu adalah patung kecil terbuat dari tanah liat yang berbentuk dan berwarna seperti Katsuyu, hewan kuchiyose Sakura. Tersenyum, ia pun meletakkan benda itu di atas meja nakas, bersebelahan dengan foto anggota tim tujuh.

.

.

.

Bersambung

Erza Note:

Terimakasih untuk yang sudah menunggu, Erza ubah jadwal up yaitu hari jumat heheh.
Ok, jangan lupa meninggalkan kesan pesan berbentuk komentar dan juga vote.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top