SEMAKIN DEKAT
Entah sudah berapa lama Mimi tertidur, tidak seperti di rumahnya dulu. Ia harus bangun sebelum jam 7 pagi. Membantu ibunya menyiapkan sarapan, bekerja mencari barang bekas, lau bekerja lagi untuk mencukupi kebutuhannya. Yah bekerja hanya dilakukannya sepulang sekolah, tabungannya mungkin sudah cukup terkumpul untuk membeli tas baru untuk semester berikutnya.
Mimi segera bangkit setelah mendengar suara ketukan pintu dari luar, ia memakai kacamata bulatnya agar bisa melihat jelas. Dia menemukan sesosok anak perempuan manis berdiri di ambang pintu, anak itu tersenyum kepadanya. Dia menghampiri Mimi.
"Aku Yooa, jadi kau Mimi? Aku senang sekali punya teman baru di sini," serunya.
Yooa menarik tangan Mimi, ia ingin mengajak Mimi ke kamarnya. Mimi hanya pasrah saja, ia tidak mencoba melakukan perlawanan. Yooa berhenti sejenak, dia berbalik.
"Apa kau ingin makan dulu? Kenapa kau diam saja? Kau ini bukan boneka kan?"
"Bukan, hanya saja-
Suara perut Mimi segera menjelaskan segalanya. Yooa tertawa geli mendengarnya, ia mengajak Mimi ke dapur. Para pelayan di rumah Yooa akan segera menyiapkan apa saja yang nona kecilnya butuhkan, meskipun itu hal yang tidak mungkin untuk diwujudkan dalam sekejap.
Ini seperti sebuah keajaiban bagi Mimi, semua makanan yang ingin ia santap sudah berada di depan matanya begitu saja. Anak itu bahkan susah payah menelan ludahnya sendiri. Dengan perlahan tangannya meraih mangkok nasi beserta sumpit.
"Apa kenyang jika dilihat seperti itu? Makanlah yang banyak, kita akan pergi ke sekolah."
'Sekolah?' batin Mimi. Apa ia akan bersekolah di sekolah elite? Ah itu tidak penting. Ia harus menghabiskan semua makanan ini. Yooa tersenyum melihat betapa lahapnya Mimi makan. Ibunya sudah bercerita tentang Mimi, seorang gadis manis berkacamata bulat terlihat sedikit pemalu awalnya tapi ia orang yang baik. Ibunya berpesan untuk tetap bersama Mimi. Tentu saja ia tahu itu.
Pada awalnya Mimi terkejut melihat Yooa kecil yang selalu mengikutinya kemana pun, pernah saat jam istirahat ia meninggalkan Yooa di kelas. Ia berjalan secepat mungkin ke arah kantin. Bukan, ini bukan karena ia membenci Yooa, ia memang benar-benar ingin menjauh dari gadis itu. Lebih tepatnya Mimi ingin pergi sejauh mungkin dari pandangan teman-teman Yooa yang menganggapnya rendah. Semasa sekolah menengah pertama ia bahkan pernah di bully oleh teman-teman Yooa, mereka mengira Mimi akan memberitahukan kejelekan mereka kepada Yooa. Yooa terlalu polos hingga mudah saja dibohongi oleh mereka. Hal yang membuat Mimi bersyukur adalah tidak satu kelas dengan mereka dan juga tidak pernah satu kelas dengan Yooa hingga saat ini. Penderitaan begitu pula rasa sakit yang Mimi rasakan tak pernah ia beritahukan kepada Yooa. Sebaliknya ia membalas dendam kepada mereka dengan cara yang tak terduga. Mimi menelpon Ibu Yooa saat putrinya tengah tertidur, ia menceritakan semua yang dilihatnya, kecuali bagian saat dibully. Dengan cerita yang sedikit dilebih-lebihkan, ia berhasil mempengaruhi Ibu Yooa untuk mengeluarkan mereka . Yah walaupun dengan intrik uang disana-sini. Toh kenyamanan putrinya saat bersekolah jauh lebih penting ketimbang uang yang dikeluarkannya .
Mimi tersenyum sinis melihat kepergian mereka dari kelas Yooa. Ia melambaikan tangannya seraya berkata, 'Bye bye' dengan pelan. Yooa hanya merengut sedih melihat teman-temannya keluar dari sekolah ini. Otomatis ia akan selalu sendiri mulai sekarang, tapi kan ia masih punya Mimi. Teringat itu langsung masuk ke kelas sebelah, menghampiri Mimi yang tengah asyik dengan bukunya. Ia langsung menutup mata Mimi dengan tangan mungilnya.
"Hyerin hentikan ini, kau tahu kan aku tidak suka bermain-main seperti ini!" gertak Mimi kasar.
"Hmm.. benarkah?"
Dengan cepat Mimi berbalik dan mendapati Yooa dengan wajah murungnya. Yooa memeluk Mimi erat seakan tidak ingin kehilangannya.
"Lepaskan Yooa! Kau tahu kau ini berat, tanganmu membuatku sesak napas."
Yooa segera melepaskan pelukannya. Matanya sedikit berair dan sembab. Ia terlihat begitu menyedihkan. Mimi dengan sigap berdiri, menarik tangan Yooa agar mengikutinya. Mereka berjalan ke arah atap sekolah. Sesampainya di sana Mimi menyerahkan saputangannya.
"Bersihkan dengan itu," suruhnya.
Gadis berkacamata bulat itu berbalik, melihat ke arah luasnya lapangan sekolah mereka. Yooa mengikutinya. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua. Hari itu berakhir begitu saja tanpa adanya adu mulut yang biasanya mereka lakukan.
Dua bulan sudah terlewati, Mimi menikmati damainya hari-hari seperti kemain. Ia menjinjing tas ranselnya, membopongnya keluar kelas. Sepertinya kelas Yooa berakhir lebih cepat. Biasanya Yooa akan menjemput Mimi dari kelasnya. Sekolah sudah sepi, belum ia melangkahkan kakinya hingga pintu keluar. Gadis itu sudah ditarik masuk kembali. Ternyata ada kejutan yang menunggunya dari tadi. Mimi tahu dirinya sedang dalam bahaya. Tidak, ia tidak takut dengan mereka. Tangannya dipegangi oleh dua anggota lainnya dari mereka.
"Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Mimi," tanya seseorang yang terlihat seperti ketua kelompok di sana.
"Hei jangan pasang tampang seperti itu! Aku benci melihatnya! Lihat apa yang telah kau lakukan kepada kami huh? Kau pikir kami tidak tahu? Bajingan cilik satu minta diberi pelajaran rupanya," serbu sang Ketua. Dia melepas kacamata Mimi, menginjaknya hingga hancur. Mimi terkejut dengan apa yang telah dilakukannya. Satu-satunya hadiah dari Ibunya menjadi sampah yang tak ternilai lagi, air matanya jatuh begitu saja tanpa diminta olehnya. Ia tidak dapat menahannya lagi.
"Apa yang kau lakukan? Apa salah benda itu hingga kau menghancurkannya?" lirih Mimi, sorot matanya hanya tertuju pada benda yang sudah menjadi sampah di bawah sana.
"Kau ini dekat kan dengan Yooa, minta saja kepadanya untuk membeli yang baru. Kau ini benar-benar naïf! Kau tahu? Hidup kami jadi susah semenjak kami keluar dari sini. Ini semua gara-gara kau!"
"Itu semua salah kalian, hentikan ini."
"Apa? Jika kau tidak melakukan ini pada kami, pasti kami bisa memanfaatkan anak bodoh itu lebih lama! Kau juga memanfaatkannya kan? Mengaku saja, kau mengusir kami agar mendapat bagian yang lebih banyak kan?"
"Aku tidak sehina kalian yang hanya bisa memanfaatkan gadis polos seperti Yooa," balas Mimi tajam. Ia tersenyum sinis ke arah mereka.
Salah seorang dari mereka dengan tak sabaran menampar Mimi, ia menjambak rambutnya dan menamparnya berulang kali. Hal itu membuat cairan kental bernama darah keluar dari hidungnya. Mimi tersungkur jatuh, ia tak kuasa menahan beban tubuhnya. Belum cukup puas, orang itu mengambil ancang-ancang untung menendang tubuh Mimi.
"HENTIKAN!" teriak seseorang yang sukses membuat mereka lari kocar-kacir meninggalkan Mimi yang hampir kehilangan kesadarannya.
Dia adalah Yooa. Dia terkejut melihat teman-teman sekelasnya dulu tega melakukan ini semua pada Mimi, dengan sigap Yooa menelpon 119, tak lupa ia juga menelpon ibunya. Air matanya sudah tumpah ruah duluan. Ia merasa bersalah, seharusnya tadi ia menunggu Mimi sampai kelasnya keluar. Hal ini pasti tidak akan terjadi.
"Mimi maafkan aku," ucap Yooa.
Karena kejadian kemarin, membuat Yooa berubah. Ia menjadi pemilih, ia menuruti perkataan Mimi untuk menjauhi orang-orang yang hanya akan memanfaatkannya. Selama ini Yooa hanya memikirkan dirinya sendiri. Memang benar ia tidak bisa bila sendirian, tetapi ia tidak pernah memikirkan orang yang selama ini selalu berada di sisinya. Apa orang tersebut sedang ada masalah atau tidak, apa orang itu sudah makan dengan benar atau belum. Ia tidak pernah tahu semua itu, hingga seseorang menyadarkannya. Dia adalah Mimi. Walaupun bukan dengan kata-kata, ia tahu Mimi akan menolongnya, dia selalu berada di sisinya. Mimi hanya memendam masalahnya sendiri, memendam rasa sakit selama bersamanya. Mimi selalu berusaha untuk kelihatan baik-baik saja di depannya.
Semenjak itu Yooa menjadi pribadi yang sedikit tertutup, ia hanya ingin menebus rasa bersalahnya pada Mimi. Yooa tidak akan pernah mengulangi kesalahannya dan membuat Mimi menderita. Itulah yang menyebabkan Yooa jarang bermain bersama teman sekelasnya seperti dulu. Ia akan pergi jika dirasa perlu.
Pernah suatu saat Mimi bertanya kepadanya, "Kenapa kau takut sendirian?"
Yooa terdiam sejenak, ia mengalihkan perhatiannya kearah lain. Tentu saja seharusnya ini adalah pertanyaan yang mudah dijawab baginya. Tapi ia malah pergi meninggalkan Mimi. Apa ia harus menceritakan rahasianya kepada Mimi?
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top