PERUBAHAN
Normal pov
Yooa masih memikirkan bagaimana membawa Mimi dengan tenang, dia juga mengantisipasinya dengan kemungkinan-kemungkinan yang lain tapi kenyataannya Mimi langsung menuruti Yooa. Anak perempuan berkacamata bulat itu sepertinya juga bosan dengan rambut coklat kepang dua miliknya, apa rambut ini masih menjadi trend di tahun 2017, pikirnya. Mimi terlihat tenang, dia masih membaca buku tebal yang dimilikinya, jika tahu begini daridulu saja ia mengajak Mimi ke salon. Yooa mendesah, sedikit lega, anak perempuan itu memperhatikan Mimi dari kursi tunggu yang disediakan, membaca beberapa majalah di atas meja. Salon yang merupakan langganan Yooa memang mempunyai fasilitas yang tidak bisa dibandingkan dengan salon lainnya. Pegawai di sini juga bukan pekerja sembarangan, mereka dipilih dengan cara yang tidak biasa, gajinya juga setara dengan manager yang bekerja di perusahaan ternama. Fantastis bukan?
Kekayaan yang dimiliki keluarga Yooa memang luar biasa, salon ini juga termasuk salah satu aset keluarganya. Jangan heran juga jika Yooa hidup bergelimangan harta, ini semua berkat kerja keras keluarganya, kerja dan kerja, itulah yang selalu mereka lakukan hingga akhir hayatnya karena mereka tidak ingin keturunan mereka kesulitan dalam hal financial seperti pendahulunya, ini sudah seperti prinsip yang mengakar. Mungkin Yooa juga akan seperti mereka, masa depan yang sudah di tentukan bahkan sebelum ia lahir ke dunia yang kejam ini. Tapi... bagaimana dengan Mimi nanti?
Yooa terus saja memikirkan hal itu. Jika ia sudah bisa sembuh dari ketakutannya ini, apa Mimi akan pergi darinya? Tentu saja suatu saat Mimi harus pergi, mereka harus menjalani kehidupan masing-masing, berkerja, berkeluarga, mempunyai anak, menjadi orang tua lalu... Semakin memikirkannya semakin membuat Yooa tidak bisa melepaskan Mimi. Ia juga sudah bertekad untuk melindunginya. Ia harus bisa mengusir semua bayangan itu agar bisa membebaskan Mimi, dia pasti merindukan keluarganya. Ah benar keluarga! Kenapa tidak terpikirkan olehnya.
"Yooa..."
Yooa segera tersadar dari lamunannya, ia menghampiri Mimi yang telihat berbeda dengan rambut barunya, warnanya mecolok sekali, pirang keemasan. Tapi Yooa suka melihat ini, Mimi tetaplah Mimi hanya rambutnya saja yang berubah. Anak itu kembali lagi dengan kacamata bulatnya. Yooa yang sedari tadi memperhatikan penampilan baru Mimi hanya senyum-senyum tak jelas.
"Hei! Otakmu sudah bergeser ya?" singgung Mimi yang tak nyaman dengan pandangan Yooa kepadanya. Yooa hanya tertawa kecil menanggapinya.
"Kau suka dengan rambut barumu?"
"Yah.. seperti yang kau lihat, apa ini terlihat cocok untukku? Aku sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan warna mecolok seperti ini tapi karena salah satu pegawai menyarankanku-
"Kau terlihat jauh berbeda, aku suka. Lagipula di sekolah tidak ada aturan dengan warna rambut bukan?" potong Yooa.
Yooa menyunggingkan senyumnya sekali lagi, ia berjalan keluar duluan. Anak ini sebenarnya sedang memikirkan hal lain. Besok adalah hari libur nasional, ia juga tidak ada rencana untuk berpergian, jika di rumah saja pasti akan terasa bosan. Sekelebat ide muncul dalam benaknya. Bagaimana jika berkunjung ke rumah lama Mimi? Ah dia pasti senang. Yooa terus saja menyunggingkan senyumnnya bahkan hingga masuk mobil pun, ia masih saja melengkungkan bibir cherinya itu, Mimi yang dari tadi mengekor di belakangnya baru sadar dengan keanehan Yooa. "Hei.. apa yang sedang kau lamunkan, Yooa?"
"Ah.. tidak, tidak, aku sedang senang karena besok libur, jadi kita bisa berduaan saja," jawabnya dengan kerlingan nakal ke arah Mimi.
"Ternyata otakmu memang sudah bergeser ya?" balas Mimi mengejek.
"Cuman bercanda," kilah Yooa, sekali lagi anak itu tersenyum seperti seorang gadis yang tengah kasmaran.
Musim semi kali ini terasa jauh lebih hangat, pohon-pohon mulai memekarkan daunnya yang indah. Melihat bunga-bunga yang mulai bersemi membuat Yooa semakin menjauh dari dunianya, ia membayangkan apa yang akan terjadi besok dan betapa gembiranya Mimi bisa mengunjungi keluarganya. "Yooa? Yooa?" Yooa? Yoo-
"A-apa? Kenapa?" jawab gadis yang sedari tadi hanyut dengan imajinasinya.
"Kita sudah sampai. Kau tidak mau turun?"
"Benarkah?"
Yooa melihat ke sekelilingnya dan benar dia sekarang sudah berada di halaaman depan rumahnya sendiri. Sepertinya otaknya memang sudah bergeser beberapa centi dari tempatnya. Dia sampai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, menuruni mobil yang dinaikinya. Berjalan sempoyongan ke arah Mimi layaknya orang mabuk.
"Yooa! Kau tidak apa-apa?" tanya orang yang dihampirinya, khawatir.
"Eh? Memangnya aku kenapa?"
Anak ini, sepertinya dia butuh mineral, batin Mimi.
Suara ribut-ribut dari arah dapur utama mulai menyadarkan kedua gadis itu. Mereka saling bertatapan satu sama lain menyadari ada sesuatu yang salah mereka langsung bergegas gerak cepat apalagi jika bukan lari, kurang dari 3 menit mereka sudah sampai di tempat kejadian. Mimi hanya terdiam di tempat, Yooa yang sampai lebih dulu mulai melihat ke sekitarnya, di sana ada panci besar jatuh bukan hanya itu saja ada sesuatu yang aneh di sini. Tumben sekali semua pelayan berkumpul di dapur, ada apa ini sebenarnya?
"Ka-kami tidak bermaksud mengacau seperti ini Nona, maafkan kami tolong jangan pecat kami," ucap salah seorang pelayan yang terlihat berantakan, seragamnya sangat tidak layak pakai, noda-noda bekas penggorengan bercampur menjadi satu dengan jas yang mereka kenakan ditambah muka mereka yang dipenuhi oleh ceceran tepung terigu.
"Pelayan Jo bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, masak sebanyak ini untuk siapa?" tanya Yooa yang daritadi diliputi rasa penasaran.
"Ini.. –
"Ya?"
"Keluarga Nona Mimi nanti malam akan datang ke sini, Nyonya Shin mengundang mereka untuk makan malam bersama-sama sebagai bentuk rasa terima kasih-
"Benarkah?" lagi, perkataan Pelayan Jo dipotong.
Wanita setengah baya yang masih memakai seragamnya dengan rapih itu mengangguk. Mimi terlihat tidak percaya denga n apa yang didengarnya barusan, raut muka marah Mimi mulai keluar, menunjukkan bahwa dirinya tak suka akan hal itu. Yooa hanya memperhatikannya, dia tidak tau apa yang dirasakan Mimi saat ini, seharusnya Mimi senang dengan hal itu bukan? Kenapa ia terlihat tidak suka jika hal itu terjadi? Gadis berambut blonde keemasan itu mulai meninggalkan dapur utama, ia pergi ke kamarnya dengan perasaan yang tidak bisa dijelakan, anak itu menatap kosong ke arah cermin. Pandangannya tertuju pada pantulan dirinya sendiri. Pikirannya melayang jauh ke masa lalu, masa dimana ia sangat bahagia tinggal bersama dengan kedua orang tuanya dan adiknya, Kim Jiho. Masa-masa sulit dimana saat ibu pemilik rumah Mimi mulai menagih uang sewa kepada keluarganya, membentak mereka dengan kata-kata kasar, diperlakukan secara tak adil oleh orang-orang yang derajatnya jauh lebih tinggi hanya karena mereka memiliki uang yang sedikit lebih banyak dari keluarganya. Ayah dan ibunya selalu bekerja siang dan malam tanpa henti, lahir di keluarga yang tergolong miskin, Mimi memang seharusnya memaklumi hal ini. Ayah yang hanya lulusan Sma, Ibu yang berhenti sekolah saat Sma karena kesulitan biaya. Mereka berdua dilahirkan dengan nasib yang tidak jauh berbeda, jadi mereka menikah untuk terus melanjutkan nasib mereka yang seperti ini?
Mimi memang terlihat sangat membenci kedua orang tuanya tapi di dalam hatil kecilnya, ia masih menyayangi mereka, dia merindukan adiknya. Adiknya sangat ceria, berbeda dengan Mimi yang pendiam, pernah sempat terpikir olehnya untuk mengikuti audisi untuk idol di sebuah agensi. Mana mungkin anak sepertinya akan diterima, ia bahkan tidak pernah bernyanyi ataupun menari. Wajahnya juga tidak secantik anak-anak seusianya. Jika ia mengikuti audisi tersebut, ia sudah pasti ditolak bahkan jauh sebelum ia memasuki ruang audisi. Setetes air mata jatuh, ia tidak tahu sampai kapan ia harus bertahan di sini. Anak itu bukannya tidak ingin berkunjung atau kembali ke rumahnya, ia hanya tidak bisa melihat kedua orang tuanya direndahkan, melihat meraka dihina dan ditindas, ia tidak sanggup.
"Maaf.. hiks ma-af Ibu.. Ayah, Ji-ho," bisik Mimi pelan, ia menangis sesenggukan,ia merasa seperti anak yang durhaka.
Yooa yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa terdiam. Ia tahu Mimi pasti sangat merindukan keluarganya, anak itu juga ingin sekali sembuh dari penyakitnya ini. Mimi masih saja menangis, layaknya seorang anak yang kehilangan orang tuanya, dada Yooa terasa sesak, ia juga merindukan kedua orang tuanya, ia ingin sekali mendapat perhatian dari mereka, ia juga tidak ingin menyusahkan orang-orang di sekitarnya seperti ini. Ia sudah membulatkan niatnya untuk sembuh, ia harus bisa, bagaimanapun caranya.
TBC
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top