KAMI

Seorang anak perempuan yang senang sekali menyaksikan pantulan dirinya di cermin bertingkah bak Putri kecantikan di sana. Mengenakan beberapa perhiasan yang luar biasa beratnya, memamerkannya pada dirinya sendiri di depan sana. Dia adalah Yooa.

"Mimi, apa kau sudah melihat ini? Ibuku yang membelikannya. Kau tahu? Ini terlihat sangat mewah."

Dia segera menghampiri Mimi, memperlihatkan perhiasan yang tengah dipakainya.

"Ayolah lihat sebentar ke sini, buang bukumu yang tidak berguna itu!"

Baaakk..

Suara buku tertutup yang mengagetkan, sontak membuat Yooa terhentak. Pancaran kemarahan Mimi yang merasa terganggu mulai menguar, ia melihat sinis ke arah Yooa. Pergi dari tempatnya, meninggalkan Yooa sendiri.

"Mimi jangan tinggalkan aku.. aku takut," bisiknya.

Tubuhnya menggigil, ia memeluk dirinya sendiri. Jatuh ke lantai marmer yang dingin. Menutup matanya erat.

Di sisi lain, dari kejauhan Mimi begitu iba melihat penyakit Yooa.

"Kau harus terbiasa Yooa, aku tahu kau bisa sembuh," bisiknya dari kejauhan meninggalkan Yooa di sana sendiri.

CLOSER

PRESENTED BY

©BANADEULLE

WARNING!

CERITA INI HANYA FIKSI BELAKA. MENGANDUNG UNSUR KEBOSANAN DAN TYPO YANG TIDAK DISENGAJA. HARAP SEGERA MENUTUP LAMAN INI JIKA ANDA TIDAK BERKENAN UNTUK MEMBACA.

Cahaya kekuningan dari sang mentari mulai menyinari tempatnya berbaring, begitu hangat dan damai. Masih dengan mata terpejam, gadis itu meraba-raba tempat tidurnya. Ia terbangun ketika tidak mendapati seorangpun di sana. Matanya terbelalak, nafasnya pendek dan tersendat-sendat.

"Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan semuanya," suara yang entah dari mana asalnya menyadarkannya.

"Ck.. hei cepat mandi jangan hanya bengong seperti itu, aku akan tetap di sini. Jadi cepatlah mandi!"

Yang dipanggil pun segera berhambur menuju kamar mandi, ia menjulurkan sedikit kepalanya dari balik pintu yang tidak terkunci, hanya untuk memastikan.

"Masih banyak yang harus kuseleseikan, aku harap kau tidak muncul begitu dan menakutiku Yooa," serunya tanpa melihat ke arah gadis yang sudah setengah telanjang di balik sana.

Hari yang akan membuat Mimi sedikit lelah karena kesibukannya di sekolah, setidaknya ini satu-satunya cara untuk lepas dari cengkraman seorang Yooa yah selain pergi untuk sekedar buang air dan mandi tentunya.

Bagi kebanyakan orang sekolah bagaikan 'Neraka Kecil' yang harus mereka lalui tapi ini tidak berlaku bagi Mimi.

Hanya di sekolah ia bisa merasakan apa itu 'Kebebasan'. Jika harus memilih untuk pergi bersamanya atau terkurung dalam ruangan sempit. Tentu ia akan memilih pilihan ke dua.

Kedua gadis itu memasuki mobil mereka dengan bawaannya masing-masing. Mimi masih saja membaca buku didepannya. Yooa di sebelahnya hanya terdiam melihat betapa seriusnya Mimi sekarang, ia tidak ingin membuat Mimi kesal karena mengganggunya seperti dulu saat mereka kanak-kanak. Ia teringat saat pertama kali bertemu Mimi, seorang gadis yang terlihat manis dan lugu. Pakaiannya yang lusuh serta kacamata bulat yang setia menemaninya. Semua itu membuat Mimi seperti gadis kecil manis yang polos.

Yooa yang masih saja larut dengan kenangannya, tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di sekolah, 5 menit yang lalu. Hingga seorang gadis harus mengetuk jendela mobil, tempat Yooa bersandar sambil memandangi langit biru cerah di atas sana. Yooa terkejut melihat tas punggung yang ia kenal menjauh darinya. Bahkan ia sampai lupa bagaimana cara membuka pintu mobil.

Di sekolah Yooa bukanlah anak yang aktif dan juga bukan anak yang pasif, ia hanya senang memperhatikan lingkungan sekitar dan bergaul jika itu memang dibutuhkan.

Mimi berada di kelas yang berbeda, dia selalu berada di peringkat pertama. Ia tidak ingin diremehkan, ia tidak mau lagi di pandang sebelah mata seperti keluarganya. Gadis itu benar-benar muak dengan keluarganya, mereka begitu mudahnya menyetujui perjanjian dengan orang yang tidak mereka kenal. Meskipun itu begitu menguntungkan bagi Mimi, tapi tetap saja ia merasa dikhianati. Tanpa pemberitahuan apapun orang-orang itu menjemput paksa gadis tersebut dan membawanya kepada seorang gadis pengidap Autophobia.

Saat jam istirahat, Yooa menjemput Mimi untuk bersama ke kantin. Ia benar-benar merasa nyaman jika sudah bersama Mimi. Mereka selalu makan bersama, terkadang Mimi heran, mengapa Yooa bersama teman-temannya saja? Mereka selalu mengajak Yooa pergi bersama. Mimi hanya mengaduk-ngaduk makanannya saja sambil memperhatikan Yooa. Orang yang diperhatikan pun merasa terganggu.

"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau sedang ada masalah?," tanya Yooa penasaran.

Mimi berkilah, menggelengkan kepalanya dan tersenyum, seperti mengucapkan 'Aku baik-baik saja'. Melanjutkan kegiatannya yang tertunda, tapi bukan Yooa namanya jika mudah dibohongi Mimi begitu saja. Gantianlah Yooa yang memperhatikan Mimi seacara intens. Bahkan hingga pulang sekolah pun Yooa masih saja berkutat dengan hal yang sama, memperhatikan Mimi.

"Ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu, aku risih tau!" seru Mimi yang memang tidak suka diperhatikan berlebihan seperti sekarang ini.

Yooa memanyunkan bibir mungilnya, menatap ke arah depan kaca mobil dan kembali lagi menatap Mimi. Tangannya memegang kening Mimi, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membuka mulut Mimi secara paksa, dan lagi ia tak menemukan apapun di sana. Yooa benar-benar menyayangi Mimi, ia sudah menganggap gadis itu sebagai saudaranya sendiri, jika terjadi apa-apa pada Mimi, ia akan selalu melindunginya, yah walaupun pada kenyataannya Mimilah yang selalu menolong Yooa jika sedang berada dalam kesulitan.

"Kau ini kenapa Mimi? jika ada masalah katakanlah! Aku pasti akan menolongmu!" serbu Yooa.

Mimi menggaruk-garuk kepalanya yang sudah pasti tidak gatal, membenarkan kacamata bulatnya. Ia memegang pundak Yooa seraya berkata, "Aku tidak apa-apa Yooa, jangan khawatirkan aku."

Yooa terperangah dengan kata-kata Mimi, sepertinya berkedip pun akan sulit untuknya. Ia kembali memandang jendela kaca di sampingnya. Berpikir ke masa yang akan dating, satu pertanyaan pun muncul dalam benaknya, 'Apakah ia akan sanggup jika berpisah dari Mimi?'

Hampir 18 tahun Yooa selalu hidup bersama Mimi, makan bersama, tidur bersama, berangkat sekolah bersama, semua itu ia lakukan bersama Mimi. Sebelum ia mengenal Mimi, Yooa kecil selalu ditemani pengasuhnya melakukan apapun, ia takut ditinggal sendiri. Ada satu rahasia yang Yooa pendam hingga sekarang. Ia tidak pernah memberi tahu hal ini ke siapapun termasuk Mimi.

Orang tua Yooa benar-benar sibuk, gadis itu sendiri tidak tahu apa yang mereka lakukan sampai mereka tidak bisa menemani Yooa barang sedetik pun. Mereka hanya kembali ke rumah untuk istirahat, selain hal itu mereka kerjakan di luar rumah. Hidupnya memang mewah, apa saja yang diminta Yooa akan mereka turuti, tapi ia tidak membutuhkan semua itu. Yang ia butuhkan hanya orang yang peduli dengannya. Itu saja, ya hanya itu.

Kembali lagi pada 10 tahun yang lalu, hidup yang dijalani Mimi tidak mudah. Setiap hari ia selalu memakan makanan yang sama, keluarganya yang begitu kecil mungkin tidak akan kelihatan jika bukan karena Shin Yun Ri, yup dia adalah ibu Yooa, seorang wanita dari kalangan berada. Wanita itu hanya ingin putri semata wayangnya tidak kesepian karena ditinggal oleh pengasuhnya. Dia bukannya tidak ingin menemani Yooa, ia tidak bisa. Tak kuasa melawan perintah suaminya, mertuanya, dan juga orang tuanya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan keluarga kecil tersebut, melihat perjuangan mereka, ia benar-benar merasa terharu. Mereka juga memiliki seorang anak perempuan yang seumuran dengan putrinya. Sekelebat ide muncul dari dalam kepalanya. Ia memberanikan diri untuk mengadopsi putri mereka, membawanya untuk menemani Yooa. Tak sulit untuk membujuk mereka karena sepertinya mereka tidak punya pilihan lain toh ini juga demi kebaikan Mimi, mendapatkan hidup yang layak dan setiap bulan mereka akan dibayar tanpa perlu melakukan apapun. Akhirnya ia mendapatkan izin tersebut. Wanita itu menyuruh orang lain untuk membawa putri mereka yang bernama Mimi.

Awalnya Mimi memberontak, anak itu tak mau berpisah dengan keluarganya. Dengan sedikit paksaan -orang-orang yang memang tidak Mimi kenal- memasukkannya ke dalam mobil. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir, ia sampai diancam oleh mereka yang membawanya. Mimi kecil tidak mengerti mengapa orang-orang ini membawanya kepada wanita ini. Wanita yang selalu mengunjungi rumahnya, memberikan keluarganya uang beserta makanan. Suara sesenggukan Mimi begitu keras terdengar, wanita tersebut menenangkan Mimi. Ia tersenyum kepada Mimi.

"Jangan menangis lagi, aku tidak kuat jika melihat anak manis sepertimu menangis," tenangnya. Wanita itu membersihkan kacamata Mimi, memberikan Mimi saputangan yang sampai sekarang masih disimpan olehnya.

"Anggap saja aku ini ibumu, kau boleh meminta apapun dariku. Mulai sekarang ini adalah tempat tinggalmu, aku juga punya seorang putri seumuran denganmu. Tapi-

Wanita itu memotong kalimatnya, ia menunduk. Mimi terlihat begitu penasaran dengan kelanjutannya. Ia menari napas perlahan dan menghembuskannya.

Ia punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan obat," lanjutnya sembari menatap Mimi dalam. Wanita tersebut memeluknya dan membisikkan sesuatu, "Jadi, aku harap kau bisa mengerti kondisiku seperti aku mengerti kondisi keluargamu."

Ia melepas pelukannya, tersenyum hangat. Tangannya mengusap wajah Mimi dengan lembut.

"Tidurlah, besok pagi kau harus bisa beradaptasi dengan rumah ini," ujarnya. Ia mengelus rambut Mimi, berlalu pergi meninggalkan Mimi sendiri yang dipenuhi dengan tanda tanya.

TBC

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top