1. Jadi anak kos yang begini

Callen Rawikara Zhong adalah seorang beta, dan ia percaya akan menjadi beta seumur hidupnya.

Di dunia dengan dua gender primer dan tiga gender sekunder, Callen Rawikara Zhong terlahir sebagai salah satu yang sangat biasa. Dia laki-laki, dan dia seorang beta. Populasi beta saat ini mencapai tujuh puluh persen di seluruh dunia, terlalu banyak jika dibandingkan dengan alpha yang hanya dua puluh persen, dan omega yang malah sepuluh persen saja.

Artinya, manusia sejenis Callen bisa ditemukan di mana-mana, sama sekali tidak seperti martabak asin dengan dua telur bebek. Dia tidak spesial.

Tentu ia suka menjadi beta, karena menjadi mayoritas adalah sesuatu yang mudah. Tampil paling istimewa juga bukan cita-citanya.

Usianya kini delapan belas, dan tidak ada tanda-tanda akan berubah. Fix, Callen pasti beta selama-lamanya.

Pertengahan tahun ini, Callen juga disibukkan dengan jadwalnya menjadi maba, menjadi mahasiswa baru yang sedang semangat-semangatnya menempuh jenjang pendidikan paling keren nan bermutu, menurutnya.

Empat jam perjalanan ia habiskan untuk ke luar kota, mencari kos-kosan murah dan anti huru hara. Ia bahkan harus tega melihat ibunya meraung-raung dramatis ketika pergi dari rumah. Meskipun ia tahu, air mata ibunya akan mengering tidak sampai semenit kemudian.

Yah, mau bagaimana lagi, sekarang adalah masa yang istimewa. Callen siap menempuh perjalanan baru di hidupnya yang tidak santai-santai amat.

Sayang sekali, baru sehari menginjak kaki di tempat tinggal baru, seorang bapak kos tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya.

"Nak, Nak. Bisa minta tolong, nggak?"

Callen yang sedang asik memakan abon lele, cepat-cepat menjilati tiga jarinya, lalu mengelap tangannya yang basah ke kaosnya yang buluk bergambar lumba-lumba.

"Kenapa, Pak?" tanya Callen otomatis, ketika ia membuka pintu kamar.

Bapak kos yang sudah siap dengan baju batik dan peci terlihat sedikit gelisah. "Di kamar atas, ada omega yang lagi panas. Yang di kos cuma kamu sendiri, bisa minta tolong awasi dia, nggak? Saya mau kondangan ke luar kota. Besok baru balik," jelas Pak Kos cepat.

Mendengar itu Callen hanya nyengir kecil. "Iya deh, Pak. Saya juga udah biasa ngerawat yang begituan."

"Tapi jangan diapa-apakan, ya? Dia udah ada alpha. Galak bener alphanya," sambung Pak Kos.

"Tenang, Pak. Saya mah kuat iman banget ini."

"Lagian omeganya cowok, sih. Kamu juga mungkin nggak terlalu tergoda."

Callen nyengir kecil lagi. Ia tidak berani mengatakan bahwa beta seperti dirinya pun, bisa-bisa saja suka sama cowok omega.

Semua orang juga tahu, omega, entah perempuan atau laki-laki, rata-rata punya wajah cantik dan badan ideal. Mereka langsing, pantatnya penuh, kulit halus, bulu mata lentik, tidak lebih tinggi dari laki-laki, suara lembut, lenggok menawan, dan masih banyak lagi.

Secara umum, laki-laki akan suka dengan omega. Terlebih, mereka bisa mengandung anak terlepas dari jenis kelamin pertama.

Walaupun untuk laki-laki omega, memang kadang punya kondisi tertentu. Ada yang hanya bisa dihamili alpha, ada juga yang hormonnya cenderung resesif, sehingga sulit mengandung bayi.

Yah, terlepas dari itu semua, Callen sebenarnya punya kecenderungan menyukai mereka. Mungkin karena tipe idealnya adalah cewek imut yang lucu.

Callen menempeleng kepalanya sendiri, berusaha menyadarkan diri.

***

Sesuai intruksi Bapak Kos, Callen pergi ke lantai dua. Ia mengetuk pintu nomer 05. Mengetuk sekali, dua kali, belum dijawab juga. Untung saja, ketukan yang ke tiga membuat seseorang di dalam kamar membukakan pintu untuknya.

"Si ... apa?" tanya si pemilik kamar. Wajahnya tampak memerah, keningnya basah penuh keringat. Oh, itu seorang pemuda omega.

"Callen. Anak kos baru," jawab Callen cepat. "Lo butuh apa? Bapak Kos nyuruh gue ngawasin lo. Udah makan?"

Si pemilik kamar, seorang pemuda dengan kulit putih mirip artis Korea, menggeleng pelan dan tampak lelah.

Callen yang melihat itu, mana mungkin bisa tega. "Mau makan apa? Gue beliin," tawarnya langsung.

Pemuda itu menjawab sedikit kesulitan. "Apa ... aja."

Melihat orang yang hampir kehilangan kesadaran, Callen pun menuntun Si Pemuda kembali ke kamar. Ia papah dengan lembut dan hati-hati, juga menghindari kontak fisik berlebih. Maklum, omega heat sensitif sekali.

"Lo tiduran aja, deh. Kasian bener," ujar Callen apa adanya.

Pemuda itu tidak menjawab, hanya tampak lega karena sudah kembali meringkuk di kasurnya yang seperti tempat pembuangan pakaian bekas. Ranjangnya penuh sampai ujung kasur pun tidak terlihat.

Dia dah buat sarang ternyata, pikir Callen. Berarti ucapan Bapak Kos itu benar, pemuda omega ini sudah punya alpha. Namun, di mana alpha-nya?

"Lo ada minum supresan?" tanya Callen kemudian.

Pemuda di atas ranjang mengangguk lemah, tubuhnya tenggelam di antara pakaian-pakaian yang kemungkinan beraroma alpha. "Itu, di nakas," jelasnya lirih, hampir menutup mata.

Callen mengambil beberapa obat di atas nakas samping tempat tidur. Ia membaca satu demi satu kandungan obat yang tertera di pembungkusnya. Tidak sampai semenit, ia sudah memberi kesimpulan, "Obat lo mahal-mahal, tapi belum tentu efektif buat kondisi lo sekarang."

"Permisi bentar, gue boleh pegang dahi sama telapak tangan lo?" izin Callen.

"Um."

Mendapat izin, Callen pun mengecek kondisi omega di depannya dengan lebih detail. Ia menanyakan keluhan, lamanya heat, hingga hal-hal lain yang sekiranya berhubungan.

Setelah itu, Callen pamit pergi. Ia menutup pintu dan berjalan ke luar kos dengan berjalan kaki, tidak begitu peduli dengan penampilannya yang mirip orang belum pernah mandi. Kaosnya bernoda abon, celana trainingnya tertekuk sebelah, sendalnya japit entah milik siapa.

"Update dulu, ah." Tapi bercuit di sosial media, dia tidak lupa.​

***


***

Tbc_
30 September 2024

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top