We Are Brothers, No Matter What!
Tangan golem itu seperti pilar penyangga istana, atau sebesar batang pohon berusia ratusan tahun. Terayun dengan keras bagai jatuh dari langit persis ke atas Jane. Angin yang dibawanya jatuh mengempaskan butiran-butiran salju halus ke udara.
Klan Brotherhood bersiaga, mengganti pedang dengan tombak. Bagi yang tidak punya tombak, mereka mempersiapkan crossbow. Sebelum mereka bergerak secara liar, Ignus berseru, "tahan! Jangan sembarangan menembak!"
Beberapa orang tidak mengindahkan peringatan tersebut, dan menembakkan beberapa batang anak panah ke monster golem itu. Panah-panah itu tertelan ke dalam tubuh selunak salju itu dan termuntahkan kembali keluar. Permukaan tubuh yang sempat runtuh oleh tusukan anak-anak panah itu memanggil butiran salju dari tanah untuk kembali menutupi bagian yang hilang.
"Aku bilang jangan sembarangan menembak, bisa dengar tidak?!" bentak Ignus pada mereka.
"Kalau tidak bergerak, kita yang akan mati seperti gadis itu!" balas mereka.
"Gadis itu belum mati!"
Perlahan kepulan salju yang sempat naik seperti debu itu terjatuh kembali ke permukaan tanah, menampakkan Jane yang sedang menahan kedua tangan golem dengan sebilah pedang raksasa yang ukurannya lebih panjang daripada tubuhnya sendiri.
"Darimana pedang itu muncul?"
"Bagaimana dia bisa mengangkat pedang itu?"
Mereka berkata-kata dengan riuh, tapi tidak mengetahui bahwa bukan Jane yang melakukannya, melainkan jiwa lain yang kini menumpang dalam tubuhnya. Jiwa itu menggerakkan Jane melibaskan pedangnya dengan ayunan kuat sehingga mematahkan jari-jari tangan golem. Satu lompatan kuat mengangkat tubuh kecil itu ke udara dan kedua tangan halus dengan permukaan kulit yang lembut itu menggenggam erat pedang itu dan bertolak di udara melesat cepat ke kepala golem. Golem itu mencoba melindungi kepalanya dengan meletakkan tangan di depan kepalanya, namun lesatan itu sangat kuat sehingga tangannya turut terpotong dan kepalanya tetap terbelah dua.
"Hebat sekali! Tapi bagaimana dia bisa melesat seperti itu di udara?" para anggota klan itu bertanya-tanya.
"Karena yang melakukannya adalah elementer udara," Jake mencoba menjelaskan.
"Ooh ...." Jawab mereka beriringan.
"Lumayan, Jake," bisik Ignus. "Tapi sebenarnya itu bukan Faolan si elementer udara. Itu Caleb si hybrid."
"Tiga jiwa dalam satu pedang, membuat pengguna pedang itu bisa mengeluarkan kemampuan jiwa-jiwa di dalam pedang itu? Menarik." Jake menyimpulkan.
"Dari memorimu, aku melihat kau sudah membaca pesan terakhir penempanya sebelum mati. Harusnya kau tahu bahwa jiwa-jiwa dalam pedang itu justru mengambil alih induk semangnya," jelas Ignus.
"Terserah deh, aku tidak pernah bagus dalam menyimpulkan sesuatu," kedua tangan Jake bersedekap.
"Penempa itu menempatkan dirinya sebagai Valkyrie, yang mengumpulkan jiwa-jiwa para pemberani yang telah mati untuk dapat beserta dalam pertempuran abadi. Pedang itu adalah Einherjar," kata Ignus.
Potongan tubuh golem yang jatuh ke atas tanah bersalju itu bergerak-gerak sendiri dan tersedot kembali ke tempatnya. Golem itu melawan balik manusia kecil yang melayang-layang di udara, dia mampu mengangkat pilar badai dari atas tanah bersalju untuk menghantam tubuh Jane, dan belum lagi serangan tangannya yang bisa merusak badan seorang gadis berusia 17 tahun itu bila sampai terhantam.
Jake mengambil potongan pedang gladius yang tergeletak di tanah bersalju dan membayangkan sesuatu dari sana. Pada bagian besi yang patah, tersemburlah muntahan api sejauh dua meter. Begitu kerasnya semburan itu, sampai-sampai terdengar bunyi "VROO..." yang cukup keras dan melelehkan lapisan salju di sekitarnya. Perlahan semburan api itu memadat, menyambungkan bentuk mulai dari bagian besi yang patah, sampai akhirnya membentuk mata pedang yang baru, yang lebih besar dan bentuknya melengkung di ujung. Permukaan pedang yang baru itu berwarna merah menyala, terbentuk dari api yang memadat, seperti besi yang sedang ditempa. Rupanya melihat Einherjar berubah menjadi cahaya telah memberinya ide untuk mengkhayalkan pedang api.
Pedangnya telah siap, Jake berlari menerjang golem es itu dengan gladius api nya yang menyeret tanah. Salju-salju yang disentuh oleh pedang api itu meleleh seketika, sampai Jake mengangkatnya, bersiap untuk menghajar bagian kaki golem es itu. "Kembalilah ke alam mimpi, Harmin!"
Sebelum Jake mengayunkan pedangnya, golem itu mengembuskan pilar salju yang dingin dan mengempas tubuhnya kembali ke permukaan salju. Tubuhnya terpelanting menimpa serpihan salju yang sedang terangkat untuk menambal bagian tubuh golem api yang tersayat oleh Einherjar. Namun gladius api di tangannya tetap digenggam dengan erat.
"Matanya tinggal satu, sih," ejek Ignus.
"Aku dengar itu, orang tua! Awas kau nanti!" seru Jake, sebelum dia siap untuk menyerang lagi, kaki golem telah terangkat untuk menginjaknya dan dia harus menyelamatkan diri.
"Kita tidak bisa membiarkan Jake sendirian!" seru seorang anak klan Brotherhood. "Ayo bantu dia!"
Yang lain setuju dan kembali mengangkat senjata. Mereka sudah menghadapi banyak hal bersama dengan Jake; beast hingga Dragonoid. Apapun yang Jake lakukan, seheboh apapun saat mereka bertengkar atau saling ejek, namun bila mengesampingkan perintah dan kepentingan pimpinan klan, Jake lebih lama bersama mereka. Jake adalah saudara mereka! Dia selalu di depan mereka, membuka jalan dan mereka selalu melindungi dia dari serangan musuh di belakang punggungnya, sementara Angelo di Benedito selalu ada di belakang untuk menonton dan tertawa. Tapi kemudian golem es itu menangkap Jane dengan tangannya. Mereka berhenti bernafas, membayangkan tubuh gadis kecil yang lemah lembut itu terlumat seperti kertas di dalam kepalan tangan raksasa itu.
Mereka terdiam dan merasa yakin akan ada tetesan darah yang merembes keluar dari sela-sela jari golem itu dan melihat pemandangan mengganggu tentang seongok tubuh ringsek tak berbentuk lagi seperti mayat yang tercabik-cabik. Namun tangan golem itu meledak! Jane—atau Caleb—tanpa terluka sedikitpun, menancapkan pedangnya pada bagian tangan golem yang tersisa, lalu mengayunkan tubuhnya ke depan. Hukum fisika bekerja; setelah pedang yang tertancap di lengan golem itu terlepas, terayunlah dia dengan begitu kuat sehingga lengan es itu retak. Semburan api yang kuat dari bawah menjadikannya runtuh, dan Jane—Caleb—menghajarnya lagi dan lagi sampai benar-benar hancur.
Jane—Caleb—mendarat di permukaan salju di sebelah Jake, Jake memanfaatkan ini unutk menyampaikan apa yang diketahuinya, "corenya! Serang core di dadanya, bila benda itu hancur, jiwa yang terperangkap di sana akan terbebas."
Tapi Jane—Caleb—seakan tidak mendengarnya dan kembali melayang di udara untuk memberi tebasan-tebasan lain karena lengan golem itu kini perlahan menyembuhkan diri.
"Dasar arogan!" geram Jake sambil mencoba melakukan sesuatu dengan pedang apinya. Dia merasa kesal karena tidak bisa melompat setinggi itu untuk mencapai dada golem, dimana core tersebut tersembunyi dengan aman.
"Pasukan!" seorang kapten tentara bayaran bernama Hector itu maju memimpin anak buahnya. "Bentuk barisan! Kalian dengar kata Jake tadi, kelemahan golem itu ada di dadanya!"
Seperti sudah tahu apa yang harus dilakukan, anggota klan itu berbaris sendiri dengan rapi. Pasukan crossbow berbaris rapi dua baris; barisan depan berlutut mengisi ulang crosbow dengan anak-anak panah, dan barisan belakang yang sudah siap menembak, menunggu aba-aba dari Hector.
"Tembak!!" Hector mengayunkan pedangnya dan puluhan panah meluncur dari crossbow melesat ambisius dengan dada golem sebagai sasarannya. Terkena serangan bertubi-tubi, bagian depan dada itu runtuh, namun tidak begitu dalam.
"Gelombang B, bangkit!" sekarang barisan yang tadi berlutut mengisi crossbow dengan anak panah itu berdiri, dan barisan belakang yang barusan menembak itu berlutut untuk mengisi ulang crossbow mereka.
"Tembak!!" Hector mengayunkan pedangnya sekali lagi dan dada golem itu kembali dihujani dengan puluhan panah.
Golem itu meraung, dia menghantam tanah bersalju di sekitarnya sehingga permukaan salju itu naik seperti dinding. Dari sana terbentuklah puluhan duri tajam sepanjang tombak dan melesatlah semuanya untuk menghajar pasukan tentara bayaran tersebut.
Sebongkah pilar es naik ke atas setinggi dua meter, permukaannya begitu keras sehingga puluhan duri es itu gagal menghajar sasarannya. Hector dan teman-temannya berkeringat dingin, menyadari mereka baru saja selamat dari kematian mengerikan. Dia menoleh ke belakang mereka, dimana Ignus yang baru saja menyelamatkan mereka itu menganggukkan kepala.
Golem es, Harmin masih diganggu oleh Jane—Caleb—yang berkelebatan di udara, kini menancapkan Einherjar ke dada golem itu, sesuai dari apa yang dia dengar dari Jake tadi. Namun golem itu sedang bergerak untuk mengibaskan lengannya untuk meniupkan hawa dingin ke arah perkemahan baru klan Brotherhood. Serangannya meleset dan tertanamlah Einherjar di dalam dada golem itu, dan beberapa anak-anak klan Brotherhood yang terkena tiupan angin dingin itu mengalami radang dingin seketika.
Jake yang tak terlihat oleh golem itu sedang berlindung dibalik batu, selamat dari tiupan yang mengakibatkan radang dingin itu dan mengintip sejenak. Dia melihat Jane jatuh lemas ke atas tanah bersalju. Pada dada golem, tidak jauh dari tempat pedang Einherjar tertancap, dia melihat ada sesuatu berbentuk bola, dan berkilauan warna merah seperti sedang bernafas. Itu core!! Cepat-cepat dia melemparkan gladius apinya ke sana. Pedang itu berputar dari kanan ke kiri dan melesat ke sana. Namun terpental kembali ke luar dan jatuh tidak jauh dari tubuh Jane berbaring tak sadarkan diri.
Salju-salju yang berkumpul di dekat golem itu terangkat dan tertutuplah badannya yang terkelupas, kembali menjadi sedia kala.
"Argh! Sial, kurang cepat!" keluh Jake dengan kesal sambil berlari untuk menyelamatkan Jane yang akan diinjak oleh si golem. Pada saat yang tepat, dia berhasil menyambar tubuh Jane dan melompat sehingga selamatlah mereka berdua dari injakan maut yang mampu menghancurkan batu.
Ignus menurunkan benteng es yang tadi diciptakannya untuk menahan serangan duri-duri salju itu lalu berkata pada Hector, "jangan cemaskan duri-duri es itu, serang lagi!"
Hector mengangguk, "teman-teman! Siaga!"
Pasukan pemanah kembali siap dalam barisannya, namun terdengar kembali suara Harmin menggema di sepanjang kawah, "bangkitlah pasukanku, batalyon 3! Maju dan serang pasukan musuh!"
Lambat laun terdengar suara menderu, seperti puluhan kaki bersepatu besi yang bergerak kompak bersamaan. Mereka muncul dari balik kawah, pasukan berpakaian besi ringan dengan simbol serigala di dada dan pedang dan perisai di tangan. Tubuh pasukan berpakaian besi itu terlapisi es, dan kulit mereka tampak biru, membeku hingga ke dalam daging. Mereka mengidentifikasi musuh; klan Brotherhood. Lalu berseru lantang sambil menerjang musuh dihadapan mata.
"Pasukan tombak, maju!" Hector memberi perintah. Pasukan bersenjata tombak klan Brotherhood muncul, dengan berani berbaris tiga lapis untuk melindungi pasukan crossbow dan bertahan disana menyambut musuh yang datang. Klan itu hanya memberikan gaji pada anak buahnya, sehingga untuk beli perlengkapan senjata, mereka harus beli sendiri. Dan Klan Brotherhood tidak terbiasa bertarung menggunakan perisai, maka mereka hanya berdiri di sana dan bertahan sekenanya dengan tombak di tangan. Mereka menangkis, menyabet, atau sekadar mendukung teman mereka di lapisan terdepan agar tidak jatuh di terjang musuh yang berupa zombi es itu.
"Panah, siaga dan ... tembak!!" Hector mengayunkan senjatanya, dan mereka melesatkan panah kembali ke dada golem itu.
Jake membaringkan Jane di tempat yang aman dan kembali ke medan perang. Pasukan pemanah telah berhasil meruntuhkan lapisan dada golem yang melindungi core, namun masih sedikit yang terekspos. Untuk mempertipis lapisan es di sana, Jake melemparkan bola api dari tangannya tepat mengenai sasaran. Runtuhlah bagian depan dada golem itu seperti salju yang jatuh dari dahan pohon. Tapi dia tidak punya senjata di tangan untuk menyerang core itu ..
"Gelombang B! tembak!!" seru Hector dengan lantang. Gelombang B kini melesatkan panah-panah mereka dengan core tersebut sebagai sasarannya. Panah pertama yang mengenai core itu terpelanting jatuh, namun menimbulkan retakan di sana. Panah kedua yang mengenai sisi lain dari core itu juga terpental jatuh ke tanah salju. Tapi juga menimbulkan retakan lain dan panah ketiga memperbesar retakan tersebut.
Jake mencabut belati sakunya dan melemparnya dengan kuat. Belati itu melesat dan masuk ke dalam core, meretakkan permukaan bola tersebut dan tertanam cukup dalam.
Sesuatu mengasap keluar dari bola yang berkelap-kelip semakin cepat itu, dan terjadi gempa di tepi kawah. Tubuh golem itu runtuh seperti rangkaian besi yang kehilangan magnet di dalamnya, berjatuhan ke atas tanah seperti bangunan runtuh.
Setelah gempa berakhir, core itu berguling di atas salju dan meredup untuk selamanya. Ignus bisa melihat jiwa Harmin melayang ke angkasa ke arah sungai langit, kembali ke arus jiwa-jiwa bersama seluruh pasukan batalyonnya.
Matahari terbit di timur, langit perlahan berubah warna. Begitu cerahnya langit pagi ini sehingga terlihat tiga gradasi warna dari hitam ke biru, biru ke kuning. Einherjar menancap di atas tanah bersalju, bagian mata pada ukiran kepala Dragon di sana berkilau sesaat dan meredup.
"Kita berhasil ...," bisik Hector dengan lega.
"Kita berhasil!!" seru anggota klan Brotherhood yang lain, disusul sorak-sorai anggota lainnya. Mereka berhamburan mendatangi Jake dan merayakan kemenangan ini bersama-sama. Ada alasan kenapa mereka menyebut klan ini "Brotherhood".
***
Angelo di Benedito keluar dari tendanya, diikuti seorang anak muda yang sedang menyisir rambut panjangnya yang menggapai pantat itu. "Ada apa ini ribut-ribut? Berisik sekali."
Seorang anggota klan yang berada di dekatnya, memberitahukan apa yang baru saja mereka lakukan. Wajahnya terlihat bersemangat dan riang, ada rasa bangga ketika berhasil mengalahkan makhluk-makhluk yang harusnya bisa melumatkan manusia dengan mudah.
Angelo di Benedito mendekati Ignus, langkahnya terdengar oleh seer itu dan seer itu segera berlutut. Namun Angelo di Benedito melewatinya dan melangkah sampai di dekat Jake yang sedang bersenang-senang dengan teman-temannya. Mereka membentuk lingkaran besar dan bernyanyi dengan kompak.
"Ada pekerjaan, beast sedang berulah.
Datang klan Brotherhood, maju tanpa takut.
Lizzardman kita penggal, Dragon tunggang langgang.
Oh, kita klan Brotherhood ...
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh! Hurray...!!"
"Hidup Jake!!" seru Hector.
"Hidup!!" balas yang lain.
"Hidup Hector!!" balas Jake.
"Hidup!!" sahut yang lain, semakin riang.
"Hidup Jones!" seru Hector, dan mendapat sahutan yang sama. Kemudian Jones menyerukan "Hidup Gerrard!!" setelah di sahut "Hidup!!" lagi, Gerrard mengulang seruan yang sama dengan nama temannya yang lain. Mereka menyukainya, dan selalu melakukannya setiap berhasil menyelesaikan misi besar.
Kedatangan Angelo di Benedito di dekat mereka memutuskan rantai sambung-menyambung itu. Lingkaran bubar, dan keriangan membisu. Mereka berdiri tegap seakan sudah dikomandokan untuk demikian.
"Apa yang kalian pikir kalian lakukan?" omel di Benedito dengan tegas.
Hanya karena alasan dia telah mendapatkan berkah empat pilar dunia, maka setiap anggota klan Brotherhood takut padanya. Itu, dan karena Angelo di Benedito merupakan sepupu ketua mereka yang dulu, Michael di Benedito.
"Kita sedang bergembira, Angelo, apa kau tidak sadar betapa sepinya kawah ini sekarang?" Jake menunjuk sekitar kawah, dimana pilar badai itu telah menghilang tanpa disadari di Benedito. Lelaki itu terbelalak dan berjalan ke tepian kawah. Kini dia bisa melihat dari atas kawah, ratusan rumah-rumah dan pasar di sekitar kastil, semua tertutup lapisan es. Dia bsia melihat kastil Hoffenburg yang berbentuk persegi dengan tumpukan-tumpukan menara sambung menyambung. Bukan kastil yang besar, namun di masa seribu tahun lalu, kastil seperti itu terbilang mewah.
"Apa yang telah terjadi?" tanya di Benedito, cukup keras sehingga mereka khawatir salju akan runtuh dan menimbun kota di dasar kawah itu. Bila itu terjadi, mereka harus menggali lagi sampai ke dasar.
Seseorang kembali menceritakan bagaimana gadis itu datang dan membawa pedang besar ke tepi kawah. Pedang itu mengakibatkan terbentuknya sesosok golem dan akhirnya terjadi perkelahian karena golem itu menghalangi mereka masuk ke kawah.
"Kenapa tidak ada yang membangunkan aku?!" Angelo di Benedito memerah wajahnya karena marah. "Bagaimana kalau kalian mati?"
"Tapi kenyataannya kami tidak mati, kami berhasil mengalahkan golem itu," sahut Hector masih mencoba menyampaikan dengan sikap hormat.
"Kamu terlalu meremehkan kita, Angelo!" kata Jake.
"Kita? Sejak kapan kami menerimamu kembali ke klan, Jake sinting?!" hardik salah seorang anggota klan Brotherhood. Suara itu terdengar serius, kemudian yang lain ikut menyahuti ucapan tersebut, dan kemudian mengolok-olok Jake.
"Sial kalian! Jangan harap aku kembali ke klan!" balas Jake.
"Diam kalian semua!" Angelo di Benedito benar-benar serius. Dia mendatangi Ignus dan marah-marah, "kenapa tidak membangunkan aku?!"
"Maaf, tuanku, saya berpikir anda pasti sangat lelah, kami hanya tidak ingin merepotkan anda. Anda harus punya energi yang penuh sebelum masuk ke sana, bukan? Agar saat menyatu dengan Warog, anda bisa masih punya cukup energi." Jawabnya, bagi Angelo, itu cukup memuaskan.
"Kau benar," kemarahan Angelo di Benedito menyurut dengan cepat. "Sudah pagi. Cepat kalian sarapan dan kita akan turun ke sana setelahnya!"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top