Riwayat Vidarr
Mungkin sudah saatnya Caleb pulang, kampung halaman yang terancam maut itu membutuhkannya. Pencariannya terhadap kekuatan berakhir, pria tinggi besar itu pulang. Dia muncul di kejauhan, dari balik hutan bersalju dalam suasana musim dingin yang putih. Sosoknya tampak seperti bayangan hitam yang datang mendekat. Penjaga kota membunyikan bell keras-keras, memberitahu semua orang bahwa pahlawan mereka kembali. Dia kembali untuk menendang semua beast itu dan mengenyahkan mereka dari Hoffenburg.
Dia kembali membawa sesuatu yang menangis, sesuatu yang menangis itu tampak tidak wajar. Pertama-tama, suara tangisannya yang tidak terdengar seperti suara bayi manusia, melainkan suara burung kelaparan yang meraung-raung pada ibunya. Saat Caleb menjawab bayi apa itu, pesta penyambutan kepulangan sang pahlawan yang telah lama dipersiapkan itu segera berakhir.
Apa yang pencipta pikirkan waktu mereka menciptakan beast? Makhluk itu tidak ada bagus-bagusnya sama sekali, tidak ada baik-baiknya sama sekali, dan sekali mereka mengayunkan senjata, setidaknya tiga orang roboh. Bila bukan karena manusia jumlahnya lebih banyak daripada mereka, tentunya perang ini sudah lama berakhir—dengan masa depan di pihak mereka. Satu-satunya keadilan yang semesta berikan pada mereka hanyalah rentang hidup mereka yang sangat singkat.
"Kamu sih, sudah tahu orang-orang benci beast, tapi masih saja bawa dia pulang," tegur ayah Caleb.
"Dia bukan beast," Caleb mendebat.
"Secara apa yang tampak, dia adalah beast. Dan aku sudah hidup bersama manusia cukup lama untuk mengerti bahwa manusia selalu melihat dari apa yang tampak."
"Tapi dia bukan beast, lihat dia ..." dengan keempat jarinya, Caleb menunjuk makhluk yang kemarin masih bayi, tapi sekarang sudah bisa berlarian ke sana kemari dengan kedua kakinya. Makhluk itu sedang bermain dengan anjing tua milik ayah Caleb dan tertawa saat merasakan hangatnya tengkuk anjing tua itu di pipinya. Kemudian anjing tua itu menjilati pipinya yang segembul roti, dan bayi itu mencium ujung hidung si anjing tua.
"Tidak ada binatang yang suka pada beast. Dan tidak ada beast yang mencium makhluk lain, sekalipun mereka masih bayi. Beast selalu menghancurkan sesuatu."
Baru saja ayah Caleb akan membuka mulut, bayi itu menyebut nama Caleb dengan jelas. Kedua pria raksasa itu tertegun dan memandangi bayi itu. Merasa dirinya diperhatikan, bayi itu semakin senang dan menyebut nama Caleb lagi berulang-ulang. Dia baru saja bisa bicara dan menyukai kemampuan barunya itu, dia akan bermain dengan kata apapun yang bisa dia ucapkan.
"Baiklah, kurasa rumahku bisa menampungnya," ayah Caleb menyerah. "Tapi kau harus ingat, kita bukan orangtuanya, dan ketika dewasa nanti, dia akan tumbuh dengan kebencian dari lingkungannya. Kau tahu apa yang bisa dibentuk oleh kebencian?"
Itu adalah salah satu nasihat yang paling sering diucapkan ayah Caleb di masa kecilnya. Menurutnya, kebencian terhadap seseorang bisa membuat orang itu layu dan mati perlahan, atau sebaliknya, memakan kebencian tersebut dan menjadi kebencian itu sendiri.
"Dia bukan manusia biasa, dia cepat belajar. Dia akan baik-baik saja, ayah," kata Caleb.
Perang selama delapan tahun yang mengerikan itu berakhir, iring-iringan pasukan baru saja masuk ke dalam kota, berjalan bangga di tengah sambutan rakyat Hoffenburg yang lega. Caleb berjalan paling depan, tidak mendengar namanya yang berulang kali diserukan oleh rakyat. Penghargaan ini bukan untuknya, kenapa manusia begitu ingin melihat apa yang ingin mereka lihat? Sepertiga darah yang mengalir dalam tubuh Caleb adalah manusia, dan mendadak Caleb merasa muak terhadap sepertiga darahnya tersebut.
Sampai di hadapan raja, dia berlutut di barisan terdepan sementara Raja Wolfgang mengungkapkan betapa bangga dia akan pasukan Penjaga Timur yang dipimpin Caleb itu.
"... para beast itu mungkin sudah musnah sekarang, tapi di luar sana masih ada banyak ancaman yang belum kita ketahui sekarang. Aku berharap kalian akan melanjutkan pengabdian yang luar biasa ini hingga seterusnya." Raja memungut cawan emas yang sejak tadi dipegangi seorang budak di atas bantal ungu, mengangkatnya lebih tinggi di atas kepalanya, raja berkata, "ini cawan emas, sengaja kuleburkan dari salah cincin-cincin di jari tanganku, aku membuatkan ini bagi dia yang paling berjasa dalam pertempuran ini. Caleb!"
Pria tinggi besar itu berdiri, tanpa rasa bangga dia menerima cawan emas itu.
"Terima kasih atas jasa-jasamu, Caleb, aku banyak mendengar cerita mengagumkan tentangmu dari mereka," bisik raja di telinganya.
Namun Caleb menghadapi orang-orang di belakangnya, para pria dan wanita yang mengikutinya selama lima tahun terakhir, baik rekrutan baru atau wajah lama.
"Kita semua tahu bahwa benda ini lebih cocok untuk Vidarr!" Di hadapan Raja Wolfgang, suaranya bergema ke langit-langit istana memanggil orang itu. Desas-desus segera mengudara, seakan ada sesuatu yang picik yang akan segera terjadi.
Sesosok manusia gemuk berdiri dari antara barisan prajurit yang memenuhi aula pertemuan di istana. Tubuhnya yang bau daging basi itu ditumbuhi rambut-rambut keriting warna putih di mana-mana kecuali kepala. Wajahnya bulat, jauh dari tampan. Di tengah wajah mengerikan itu ada dua lubang yang tampak seperti permukaan tanah yang ditusuk tiang kemudian dicabut begitu saja, itu adalah hidungnya. Kotor dan berlendir. Persis di bawah hidung itu bagian piltrum yang biasa dimiliki manusia menghilang, langsung terdapat celah lebar dimana gigi-gigi taring mencuat ke luar bibirnya.
Luka-luka menghiasi tubuh yang hanya dibalut celana dan sabuk untuk menyangga kampak besar di punggungnya. Baik luka yang sudah lama mengering, maupun yang masih basah. Luka yang diakibatkan oleh para beast, maupun luka yang ditorehkan manusia lain.
"Vidarr, ambillah!" kata Caleb, "aku menyerahkan ini padamu, siapa yang tidak setuju, langkahi mayatku!"
Banyak yang dilihat Caleb mengenai Vidarr. Dia melihat anak itu tumbuh dewasa menangisi anjing ayah Caleb yang mati karena sudah terlalu tua. Dia melihat anak itu tertawa menemukan anak kucing yang lucu dan memutuskan untuk memeliharanya. Dia melihat anak itu menangis setelah anak-anak nakal melemparinya dengan batu. Dan dia melihat Vidarr berhenti menangis, mengatakan padanya bahwa dia ingin menjadi prajurit.
Dia tidak mengatakan apapun kenapa dia ingin jadi prajurit. Dan di setiap pertempuran dia maju sendirian, berlari paling cepat, membunuh paling banyak. Kaum lizzardman sudah kabur ketakutan begitu mendengar derap langkahnya mendekat.
Ketika mereka menemukan sarang lizzardman di sebuah goa, Caleb bertanya siapa yang mau memasang peledak di sana untuk menghancurkan telur-telur lizzardman itu dan mengakhiri riwayat mereka di Hoffenburg. Vidarr saat itu diam saja, dia memang tidak pernah mau menonjolkan diri. Mungkin dia merasa bau badannya saja sudah cukup untuk mengundang perhatian, sekalipun dia sudah mandi berulang kali. Dia mendatangi Caleb secara rahasia dan menawarkan diri.
"Terima kasih, Caleb," kata Vidarr. "Sudah lama aku menginginkan ini."
Peperangan itu berlangsung di tepi sungai, mereka menarik perhatian para lizzardman dewasa agar mau bertarung di luar sarang. Cukup mudah untuk memancing mereka keluar, mungkin karena mereka nyaris tidak punya otak untuk berpikir panjang, dan sama sekali tidak terpikir seseorang menyelinap masuk ke dalam sarang mereka yang terdalam dan menanam bom di sana dan meledakkannya seketika itu juga.
Pertempuran berakhir, mereka berseru-seru gembira, tidak percaya akhirnya mereka menang. Tapi mereka tidak ingat, siapa pembunuh paling banyak dalam perang ini. Dialah orang yang saat ini terkubur di perut liang sarang lizzardman. Dan saat mereka mengelu-elukannya sebagai pahlawan, Caleb merasa ingin muntah.
Dia mendorong mereka untuk menyingkir, dan menggunakan pedangnya, dia menggali sarang kadal yang telah hancur itu. Dalam, dan semakin dalam. Sambil menggali, teringat kembali ucapan Vidarr semalam.
"Sudah lama aku menginginkan ini."
Sadarlah Caleb, mungkin selama ini Vidarr selalu maju seorang diri ke tengah kepungan musuh kemudian mengamuk, adalah karena dia menginginkan kematian. Dia tidak bertempur demi kemerdekaan Hoffenburg, ataupun demi mencari penghormatan dari mereka yang menindasnya dan mengata-ngatainya hanya karena dia buruk rupa seperti hoggards. Dia ingin mati, tapi mati terhormat. Mati di medan perang sebagai seorang prajurit. Tapi kematian itu tidak pernah menjemputnya sehingga dia melihat misi ini sebagai kesempatan emas.
Caleb menemukan tubuh Vidarr, dan mengangkatnya dari reruntuhan. Dia membentak manusia hoggard itu, "bodoh!! Aku sudah katakan padamu berulang kali! Mereka akan menginjak-injak dirimu, mereka akan memandangmu remeh, karena kamu buruk rupa! Karena kamu tidak indah! Tapi jangan pernah..."
Suara Caleb begitu keras sehingga prajurit lain yang berada di luar liang mampu mendengarnya dengan jelas.
"... jangan pernah biarkan kebencian mereka yang dangkal itu menghancurkanmu! Bodoh!"
Vidarr menerima cawan emas itu dari tangan Caleb. Ketika tangan gemuknya yang kotor dan berkeringat itu menyentuh dinginnya lapisan emas yang dibuat dari cincin-cincin raja, tangannya gemetar. Ia merasakan sesuatu merambat di sekujur bahunya sampai ke tengkuk.
"Kamu adalah pahlawan, Vidarr!" kata Caleb.
Kedua mata Vidarr membesar, tidak berani menutup. Begitu kencang otot lehernya menegang sehingga dia merasa kering di dalam sana. Tapi sesuatu tak terduga terjadi. Orang-orang di belakang Vidarr, para prajurit itu, mereka semua berdiri.
Tepuk tangan hangat memenuhi ruangan.
Vidarr tidak mampu membendung air matanya yang jatuh bertumpahan. Mereka jatuh berderai tanpa bisa ditahannya, dan setengah dari diri Vidarr membenci itu. Namun setengah dari dirinya lagi merasakan sesuatu yang enak; kelegaan.
"Mereka menerimaku, Caleb?"
Caleb mengangguk, "ya, Vidarr. Kamu adalah bagian dari kami."
Para prajurit itu kini menyebut nama Vidarr berulang-ulang, seperti mereka mengelu-elukan Caleb.
Tidak ada beast yang menangis, apapun alasannya.
Malam itu mereka berpesta. Di atas meja kayu besar yang panjang terhidang beragam makanan mulai dari babi guling sampai ayam bakar, roti-roti yang keras dan hangat, dengan kue-kue pie isi potongan apel yang dicampur dengan stroberi lumat, Vidarr hanya makan buah-buahan di sana dan sedikit pie.
"Kenapa, Vidarr? Takut disebut kanibal? Ha ha ha!!" gurau seseorang yang duduk di sebelahnya, tertawa dengan mulut penuh minyak daging. Kemudian sambil menatap Vidarr, dia merobek potongan kaki babi dengan giginya, kemudian melumatnya.
Vidarr tidak lagi memedulikan dia, melayangkan pandangan ke tempat lain. Masih ada banyak yang bisa dilihat di dalam ruangan ini. Sekelompok perempuan muda yang menari mengikuti irama musik dari seorang bard, sampai seorang jester yang dengan lincahnya melemparkan lima bola merah ke udara. Sesekali salah satu bola itu ditangkap dengan sisi pelipisnya, dan sambil membiarkan kepalanya miring mempertahankan bola tersebut, tangannya yang lain masih tetap memutar-mutar bola lainnya.
Pandangan Vidarr berpaling pada tempat lain. Caleb sedang minum bersama ksatria lain yang sudah beruban janggutnya, pelayan wanita di belakang mereka siap dengan guci berisi anggur merah, siap untuk mengisi setiap kali gelas di tangan mereka kosong. Di tempat lain sekelompok prajurit mulai mabuk, membicarakan hal mesum keras-keras. Dan disuatu tempat, Vidarr menyadari seorang pemuda menatapnya bergeming.
Rambutnya hitam, matanya dalam dan tubuhnya cukup pendek dan kurus, dia memiliki tulang yang kecil sehingga tampaknya ringan. Dia sedang menatap lurus padanya dengan tatapan bingung; "apa yang dilakukan beast itu di sini? tunggu dulu, itu beast atau bukan?"
Vidarr menyikut seseorang di sisinya dan bertanya, "siapa dia?"
"Itu?" orang itu terkekeh sesaat, "itu Faolan, si penjaga Raffenwald. Ksatria baru satu pangkat dengan Caleb. Kau tidak mau bertemu dengannya, Vidarr, dia pembunuh hoggards nomer satu di dunia. Tidak ada yang membunuh babi lebih banyak daripada dia. Ha ha ha!"
Ketika Vidarr kembali memperhatikan pemuda itu, dia juga sedang berbicara dengan seseorang di sebelahnya. Sesekali mata mereka melirik ke arahnya dan ksatria muda itu mengangguk-angguk kecil, walau dia tampak tidak menyukai apa yang baru dia dengar dari orang di sebelahnya. Mungkin mereka sedang membicarakan dirinya. Terbayang oleh Vidarr, ksatria itu bertanya apa yang dilakukan babi itu di sini? Dan mereka menjelaskan bahwa babi itu memenangkan cawan emas yang dileburkan dari cincin-cincin raja. Apapun yang mereka bicarakan, ksatria itu menghilang meninggalkan pesta tanpa banyak bicara. Potongan daging yang tercecer di atas piringnya diambil oleh orang lewat begitu saja. Faolan tidak kembali lagi ke ruang makan malam itu.
Hari-hari setelahnya, Vidarr tetap menjadi prajurit Hoffenburg berpangkat rendah. Mereka lebih suka dirinya berada di garis depan, karena dia bertarung tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri. Untuk sebuah alasan, itu menjadi kekuatan utamanya.
Hidup berdiam di suatu tempat bukanlah sesuatu yang disukai Caleb. Dirinya selalu berada di tempat tinggi, memandangi kabut-kabut dibalik pegunungan, membayangkan apa yang akan menanti dirinya di sana. Ayahnya mengatakan bahwa dia lahir di suatu tempat bernama Elfraim. Di sana hidup banyak aelf, ada air terjun seluas gunung, dengan matahari sejuk yang bersinar abadi di balik bukit. Peri-peri kecil tinggal di padang bunga, menggantikan kupu-kupu, dan di sanalah, kakeknya yang bernama Maldor hidup sebagai seorang rasis yang membenci manusia. Apa yang akan dia katakan andai mengetahui bahwa cucunya memiliki darah manusia? Caleb tersenyum membayangkan reaksi yang mungkin akan ditunjukkan oleh kakeknya.
Suatu malam dia bermimpi tentang tempat itu, dimana tebing putih dengan lumut oranye yang dialiri air terjun seluas gunung berada. Dibalik tebing itu matahari sejuk bersinar lembut dan peri-peri bermain di padang bunga menggantikan kupu-kupu. Caleb memunguti barang-barangnya pagi itu dan bersiap untuk mencari Elfraim. Namun sebelum kakinya melangkah keluar dari istana, dia dapat mendengar suara tangis dari dalam bangunan megah tersebut, dan seorang budak berlari mencari-cari dirinya.
Caleb mencium tanda bahaya dan bergegas menemui raja. Sosoknya yang tinggi besar memenuhi koridor istana Hoffenburg, dia harus membungkuk saat masuk ke dalam ruangan dimana Raja Wolfgang yang pengampun itu berbaring dengan wajah menahan rasa sakit.
"Aku ceroboh sekali ..." gumamnya dengan lirih.
"Apa yang terjadi, yang mulia?"
Raja mencoba menjelaskan, namun dia terlalu lemah untuk bicara. Maka Koltz yang berbicara, "tadi malam raja tergelincir saat menuruni tangga, dan dia mengalami demam tinggi. Sekarang dia tidak bisa menggerakkan kaki sama sekali."
"Kotlz ...," panggil Raja. "Bisakah kau tinggalkan kami berdua?"
Koltz membungkuk hormat lalu membawa orang lain selain Caleb untuk keluar dari ruangan raja. Pintu ditutup dan raja menghirup nafas dalam-dalam.
"Aku takut ..."
"Apa yang anda takutkan, tuanku?"
"Semalam aku bermimpi, ayahku, kakekku, dan raja-raja Hoffenburg yang pernah ada ... memanggilku untuk menyeberangi samudera."
"Yang mulia, anda hanya tergelincir." Kata Caleb.
Raja menggeleng, "apapun yang akan kualami, bila sudah waktunya, apa yang bisa kuperbuat? Mau jadi kaisar sekalipun, kita tetap tidak akan bisa lolos dari kematian."
Caleb setuju, dan dia menyayangkannya.
"Aku takut karena anakku, Freida masih sangat muda. Dia baru 12 tahun dan masih sangat lugu."
"Yang mulia jangan khawatir, ada Koltz ..."
"Koltz yang membuatku cemas, dia terlalu ..." raja menghela nafas lagi. "... cerdik, kadang aku tidak tahu apa yang dia pikirkan."
Caleb hanya bisa setuju, walau dia tidak pernah punya prasangka buruk terhadap Koltz selama ini.
"Caleb, apakah selama mengabdi padaku, aku berbuat kesalahan padamu?"
"Tidak, yang mulia, saya sangat senang bisa mengabdi pada raja seperti anda," terutama karena raja tidak pernah melarang hasratnya dalam berpetualang. Raja juga tidak pernah terlalu termakan omongan dan selalu terbuka terhadap apa yang semua orang pikirkan. Terlalu terbuka sampai-sampai Caleb cemas ada yang berani kurang ajar padanya.
"Bila aku berbuat kesalahan, maafkan aku," kata Raja dengan mata memerah. Kepalanya terasa berdenyut-denyut.
"Aku juga, yang mulia."
"Caleb, aku tahu kau ingin pergi. Kau tidak pernah kerasan tinggal di tempat yang sama dalam waktu yang lama. Aku benar-benar paham. Tapi dari semua orang di sini, hanya kau yang bisa aku percaya."
Firasat Caleb tidak enak, terutama karena dia harus melupakan pencariannya terhadap Elfraim.
"Bila aku harus mati, tolong kau temani Freida. Tolong jangan tinggalkan dia dan jaga dia baik-baik. Demi aku, tolong anggap dia sebagai putrimu sendiri, putri yang harus kau jaga dan rawat baik-baik. Apakah kau bersedia melakukan permintaanku ini?" tanya Raja dengan nafas yang tersengal.
"Yang mulia tidak perlu meminta. Saya tidak akan pernah meninggalkan Putri Freida. Apapun yang terjadi!"
"Terima kasih, Caleb."
Dan selamat tinggal, Elfraim.
Penyakit raja semakin parah, dan dia koma selama beberapa hari sebelum jiwanya kembali ke arus jiwa-jiwa.
Hal yang tersulit dari tugas ini adalah, kenyataan bahwa Putri Freida takut padanya. Setiap kali Caleb akan mendekat, nona muda itu akan mengernyitkan alisnya dan melotot penuh kecurigaan. Setiap Caleb berada dalam jarak pandang, Putri Freida selalu gemetaran dan akhirnya menyuruh pengawal untuk menyingkirkan dia dari pandangan.
Mungkin Raja Wolfgang tidak pernah menceritakan tentang Caleb, mungkin raja belum menyampaikan bahwa Caleb telah ditunjuk untuk menjaganya. Caleb boleh berprasangka apapun, namun tugas tetap tugas, dia akan melaksanakannya demi rasa hormatnya terhadap sahabat yang telah kembali ke arus jiwa-jiwa.
Putri Freida juga takut pada Vidarr, dia selalu meminta agar orang mengerikan itu dibuang—bila bukan dibunuh—sejauh-jauhnya. Tapi para prajurit yang mulai menyukai Vidarr itu selalu berhasil menemukan cara untuk menyembunyikan Vidarr dan mengelabui Putri Freida agar teman buruk rupa mereka selamat.
"Tidak bisakah kau katakan padanya? Putri butuh pemahaman lebih jauh mengenai bagaimana negeri ini terbentuk. Dia masih sangat kecil saat perang beast itu muncul, dan aku ragu seseorang pernah menceritakan kisah keras itu padanya."
"Ya, ya, itu urusan mudah, Caleb. Dia hanya anak kecil, beri dia waktu beberapa tahun dan dia akan siap untuk menerima hal-hal yang menurutnya menyeramkan," Koltz tergesa-gesa dan segera beranjak pergi. Namun kerah pakaiannya ditarik oleh Caleb sehingga dia tidak bisa ke mana-mana.
"Dengar, ya, Raja Wolfgang berpesan padaku di penghujung hidupnya. Dia memintaku untuk selalu dekat dengan Putri Freida."
"Oh? Raja mengatakan itu? Apa ada buktinya?" tatapan Koltz seakan menantang pria setinggi tiga meter itu. Melihat Caleb jadi bungkam, Kotlz menambahkan, "bagaimana kalau begini, Raja juga mengatakan padaku agar mengusir si monster hoggard itu agar putrinya aman?"
Caleb tidak bisa melakukan apapun untuk menahan Koltz lagi, dan pria paruh baya yang kurus itu meluncur pergi kembali ke ruang kerjanya. Tampaknya dahulu saat para ksatria sibuk bertaruh nyawa di hutan berburu beast, Koltz menikmati kehidupan aman tentram di dalam istana. Putri Freida sudah terbiasa dengannya, dan setelah kematian ayahnya, keputusan paling masuk akal bagi ratu muda itu adalah mempercayai orang yang sudah sering dilihatnya sejak dia masih sangat muda.
Vidarr semakin tua, hidupnya tak lama lagi akan berakhir. Dia menjadi semakin lambat dan semakin lemah. Otaknya tidak lagi setajam dulu dan dia bahkan tidak bisa memastikan apakah batu yang jatuh itu merupakan daun atau anak-anak nakal sedang melemparinya? Namun seiring bertambahnya usia, bau badannya semakin menyengat.
Suatu hari, Ratu Freida minta berjalan-jalan untuk melihat Raffenwald. Kotlz dengan setia menemaninya. Pada saat mereka keluar melalui pintu gerbang istana, dia mencium bau tidak sedap yang sangat menyengat hidungnya. Ratu Freida menjadi kacau suasana hatinya dan membatalkan rencana jalan-jalannya ke Raffenwald.
"Kenapa makhluk itu tidak disingkirkan dari istanaku?! Kalian mau melawanku?!" bentaknya dari kursi singasana. "Cepat bawa babi itu ke mari!"
"Tapi dia sudah sangat tua, dan pada saat perang dulu, dia berjasa besar pada negara. Biarkanlah dia menghabiskan sisa hidupnya di sini, yang mulia!" para prajurit itu mencoba untuk membela Vidarr.
"Kalian berani membantahku?! Cepat masukkan dia ke dalam penjara!" seru Ratu Freida, dan dua orang prajurit itu segera dijebloskan ke dalam penjara.
"Aku mau babi bau itu di bawa ke mari! Ke hadapanku sekarang juga!" jeritnya lagi.
Seorang pria tinggi besar muncul di hadapannya, dan Ratu Freida gemetar. Dia menoleh kepada Koltz yang berdiri di sebelahnya, penasihat itu mengangguk untuk memberikan keberanian bagi ratu muda itu.
"Siapa yang mengundangmu kemari?!" suara kanak-kanak itu lantang berkumandang di ruang pertemuan.
Agar sosoknya tidak mengintimidasi, Caleb berlutut dan menundukkan kepala di hadapan Ratu. Kemudian dia menjelaskan persahabatan antara dirinya dan Raja Wolfgang, dan bagaimana raja memberi permintaan terakhir untuk menjaga Ratu, apapun yang terjadi.
"Apa buktinya bahwa ayahku mengatakan itu?! Tidak ada, bukan?!"
Bila kalimat itu diucapkan oleh seorang wanita dewasa yang sudah banyak membaca atau berpengalaman dalam berhubungan dengan orang lain atau politik, mungkin Caleb tidak akan curiga. Tapi kalimat itu diungkapkan oleh seorang bocah perempuan cilik berusia 12 tahun yang terintimidasi akan beban yang diberikan oleh garis keturunannya.
Pada saat Caleb menyadarinya, semua sudah terlambat. Yang dia lihat hanyalah senyum kecil yang tersembunyi di sudut wajah Koltz. Mata orangtua itu menatapnya rendah, seakan dia telah memiliki kerajaan ini sepenuhnya. Pada saat mereka menyeret Caleb ke dalam penjara khusus, Ratu Freida melarikan diri ke kamarnya.
Ada sesuatu yang mengusik hatinya dan membuatnya menangis. Dia terlalu muda untuk memahami apa itu, kenapa dia menangis, dan satu hal yang selalu menggangunya; apakah yang dia lakukan ini salah?
Kepalanya diusap seseorang dengan lembut. Dia kenal tangan itu, tangan yang selalu memeluknya sejak dia masih sangat kecil dan hanya berbalut kain sutra yang lembut. Sang ratu mengangkat wajahnya dan memeluk kakak haramnya.
"Yseult! Aku tidak menginginkan ini semua. Aku tidak mau!" isaknya dalam pelukan kakaknya.
"Beowulf, leluhur anda sangat tangguh. Karena kekuatan hatinya, dia sanggup mempersatukan para pemuda dan berhasil mengalahkan Dragon Warog. Anda juga," Yseult mengangkat dagu adiknya perlahan dengan jari-jari tangannya yang lembut. "... mewarisi hati yang berani itu. Ratu adalah kekuatan negara, bila anda lemah, rakyat akan berpegang pada siapa?"
"Tapi aku baru saja memenjarakan paman Caleb. Mereka bilang paman Caleb sangat kejam di medan perang. Dia sanggup membunuh para beast itu dan katanya dia yang membunuh ayah ..."
Mata Yseult terbelalak mendengarnya, "kata siapa?"
"Paman Kotlz ..." jawab ratu itu.
Malam itu juga Yseult mendatangi ruang dimana Kotlz dan keluarganya tinggal. Lelaki tua itu sejujurnya tidak tahu apa yang diinginkan Yseult, tapi dia tahu kisahnya dengan salah seorang ksatria yang dulu katananya diperbaiki oleh Forgo berkat idenya, berkat jasanya. Dia tahu kisah rahasia itu, saat mereka bertemu diam-diam di tepi telaga di belakang istana.
Dia mempersilakan Yseult masuk dan duduk di atas kursi merah dengan corak indah. Wajah Yseult tampak memendam kemarahan, matanya begitu tajam, seperti mata kakeknya, Raja Randulf.
"Aku meminta dengan baik-baik, sebagai seorang keturunan Beowulf," Yseult memotong segenap basa-basi.
"Apapun itu, Putri Yseult?"
"Aku minta anda untuk mundur dari jabatan anda," permintaan itu seperti petir yang menyambar persis ke jantung Koltz pada saat itu juga. "Saat ini juga, detik ini juga. Malam ini juga, anda kemasi barang anda, dan bawa seluruh keluarga anda untuk meninggalkan tempat ini."
Kotlz gemetar. Mungkin karena marah.
"Dan jangan pernah berbicara dengan adikku lagi. Selamanya."
"Tapi ..."
"Aku tidak mau dengar apapun lagi. Anda pikir aku tidak tahu hukum kerajaan Hoffenburg, bahwa apabila sang raja tidak bisa memutuskan sesuatu, maka keluarganya bisa mengambil bagian itu? Hal itu juga diperjelas dalam artian bahwa raja atau ratu yang sedang memerintah terlalu muda untuk mengambil keputusan krusial. Dan pada hari ini, aku menyadari bahwa ada duri dalam daging, duri yang mencoba menjadi tulang tempat daging melekat. Dan aku tidak menginginkan duri." Yseult menunggu jawaban Koltz. Hanya ada satu jawaban yang dia inginkan, dan itu segera diberikan Koltz sambil berlutut. Baru setelah itu, Yseult merasa puas dan pergi.
Satu hal yang Yseult muda tidak ketahui, pendukung Koltz cukup banyak untuk menguasai seluruh birokrasi istana. Pagi itu juga, Ratu tidak bisa keluar dari ruangannya. Katanya ada kudeta dan perdana mentri Kotlz memerintahkan agar Ratu dijaga dengan ketat. Jangan sampai pemberontak itu menemukan Ratu, agar nyawanya selamat.
Yseult berlutut di atas karpet merah, dan pipinya ditampar.
"Kamu gadis cantik, dan mewarisi segala ketegasan dan keberanian Beowulf. Tapi sayang, ... kau hanya anak haram. Tidakkah kau tahu bahwa yang mengusulkan pada ayahmu agar kau jangan dibuang dari keluarga ... adalah aku?"
Kotlz mampu melihat mata Yseult melebar karena terkejut, sebagai jawabannya.
"Tidakkah kau tahu bahwa yang berhasil membawa kekasihmu Faolan kemari dan menjadikannya ksatria adalah aku?" Kotlz menaikkan suaranya. "Dan tidakkah kau tahu bahwa akulah yang berkali-kali mendukung ayahmu yang lemah itu, untuk tidak menyerah dalam setiap masalah yang dia hadapi selama memimpin negara ini?"
"Aku! Aku! Aku!" rambut Kotlz yang rapi itu terurai sedikit ke dahi karena getaran kemarahannya. "Bila ada alasan kenapa Hoffenburg masih berdiri sampai sekarang ini, jawabannya adalah Getafe Kotlz! Aku! Dan hari ini ... anak haram yang darahnya ternoda itu mengusirku dari kerajaan yang banyak berhutang padaku. Coba katakan dimana moral dan etikanya!"
"Mungkin benar bahwa anda adalah orang paling berjasa di sini," jawab Yseult dengan berani. "Tapi yang kulihat di depan mataku adalah seorang licik yang ingin menjadikan adikku boneka. Seseorang yang ingin menguasai Hoffenburg dengan memanipulasi adikku yang masih terlalu kecil! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!"
Sekali lagi punggung tangan Koltz mendarat keras di pipi Yseult.
"Tunggu!" seru seseorang dari luar pintu. Dia menggenakan pakaian zirah berat berwarna hitam dengan kepala serigala di dadanya. Ada jubah hitam yang melingkari lehernya, berkibar saat dia melesat masuk menengahi mereka. Dia berganti memandangi antara pria yang dihormatinya dan wanita yang dicintainya. "Apa yang terjadi di sini?"
"Bukankah seharusnya kamu ada di Raffenwald?" Koltz memincingkan matanya.
"Aku mendengar ada berita kudeta, dan aku bergegas kemari. Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi?"
"Hanya ada seorang wanita yang seharusnya tidak berada di sini, tidak terima adiknya yang masih terlalu muda menjadi pemimpin kerajaan. Lantas dia bermaksud menyingkirkan aku agar dia bisa memanfaatkan adiknya..."
"Bohong!! Faolan, kau tahu aku tidak seperti itu! Aku mencintai adikku!" Yseult berusaha memberontak melepaskan diri dari dua prajurit yang sedang menahannya.
"Pasti ada kesalah-pahaman di sini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik," bujuk Faolan.
"Kau benar. Pengadilan adalah hak sang Ratu," saat melangkah keluar dari ruangan itu, Koltz menyeringai. Dia tahu dirinya sudah memenangkan permainan ini.
Dia menjelaskan apa yang terjadi—menurut versinya—kepada Ratu muda yang ketakutan. Dan mengetahui bahwa kakak tiri yang selama ini begitu dihormatinya itu ternyata mencoba untuk mengkhianatinya, Ratu Freida mengusir semua orang dari kamarnya, karena dia butuh waktu sendirian. Sekalipun masih sangat muda, tapi dia punya prinsip untuk tidak menunjukkan kerapuhannya pada orang lain.
Sendirian di kamar, Ratu menangis sampai dia tertidur dalam rasa terkhianati yang begitu dalam. Dia sungguh tidak percaya kakaknya tega melakukan itu padanya. Wajah yang begitu baik dan tangan yang selalu menenangkan hatinya, ternyata tidak lebih dari seorang pengkhianat yang iri hati karena lahir dari wanita yang salah.
Ratu menjadi sedingin es ketika dia terbangun dan menemui semua orang yang ditahan oleh Koltz. Dia menjadi lebih kuat, lebih tidak berperasaan dan lebih mantap dengan keputusannya.
Dia menunjuk kakaknya, untuk dihukum mati.
"Apakah tidak bisa dipertimbangkan lagi? Tuan Putri tidak mungkin melakukan itu! Pasti ada kesalahan!"
"Kalau kamu sebegitu suka padanya, jangan-jangan kamu juga bersekongkol dengannya! Bunuh dia juga! Hukum mati Faolan di perbatasan, jangan biarkan darahnya jatuh ke tanahku. Dan bawa pula babi bau itu bersamanya, bunuh mereka berdua. Kurung Yseult dalam kamarnya, dan kunci sepanjang hari. Jaga ketat pintu dan jendela agar dia tidak bisa keluar! Jangan beri dia makan agar dia mati sendirian!"
Sosok tinggi besar muncul dari balik pintu, kehadiran pahlawan itu membungkam semua orang di ruangan, termasuk sang ratu muda.
"Jadi, beginilah akhirnya? Anda menghukum mati semua orang yang tak bersalah, hanya karena perkataan orang-orang yang ingin meracuni anda?" tanya sosok itu. Ada rantai di tangannya yang terlepas paksa karena dia memberontak lepas.
"Kenapa dia bisa lepas?! Kalian tidak mengurungnya?! Hukum mati semua yang bertugas untuk menjaga penjara orang itu!"
Caleb tertawa.
Mereka menyeretnya ke rawa, rombongan itu. Hanya Yseult yang dikembalikan ke dalam kamarnya, dimana dia memandangi perbatasan di selatan dengan hampa. Ada satu alasan kenapa Koltz membujuk raja untuk mempertahankan bayi haram itu dan menamainya. Tentunya sebagai seorang terpelajar, Kotlz tahu mengenai kisah jiwa purba itu. Dia memahami ciri-cirinya, terutama saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari bayi perempuan itu.
"Anak anda ini rupanya adalah reinkarnasi jiwa purba. Bila kita mempertahankan dia, mungkin dia bisa menolong kita di masa sulit suatu saat." Kata-kata itu membujuk Raja Wolfgang untuk menerima anak itu dalam kastilnya.
Sepertinya kisah itu terlupakan karena Yseult tidak pernah menggunakan kemampuannya. Tak pernah sekalipun.
Hari itu dia sangat emosional, patah hati, terkhianati dan kalah. Dia bukan seorang seer, tapi perasaannya yang terikat pada Faolan begitu kuat sehingga dia mampu merasakan saat mereka menyeretnya ke tepi rawa, menundukkannya di sana. Kapak besar yang tajam terangkat, terayun kuat agar sekali sabet bisa memisahkan kepala seseorang dari tubuhnya.
Sesuatu memukul jantungnya begitu keras, saat itu terjadi, dan saat kepala Faolan jatuh terbenam ke air rawa, air mata Yseult bergulir jatuh dari pipinya.
Satu tetesan itu membawa segenap emosi yang begitu kuat. Saat terjatuh dan pecah di lantai, dalam sekejap seluruh Hoffenburg membeku. Sampai ke Raffenwald.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top