[Rewrited] Sang Raja

Sebelum anda membaca 2 chapter terakhir cerita ini, mungkin sebaiknya saya harus beritahu dulu bahwa writer's block yang menyerangku sekuat final boss di JRPG tradisional. Menghalalkan segala cara (nonton youtube, film, ikut online course, melakukan hal2 yang berbeda), kuputuskan untuk langsung masuk editing saja. Ternyata cara itu berhasil, dan akhirnya draft 1 ini selesai juga. Tapi ... berhubung kurang suka dengan nama 4 tokoh utama yang rata2 berjumlah 4 huruf, dan berpola ..a..e, maka kuganti nama2 itu. Jake jadi Jarrett, Gabriel jadi Jan-Axel (I'm glad both of them back as 1 person lol), Jane jadi Rose, Kia kembali jadi Kaya. Selain nama, beberapa bagian cerita ku ganti urutannya dan kuubah sedikit. Selamat membaca, semoga cerita ini bisa dinikmati sampai akhir.

(Chapter ini memang ditulis ulang sebagian, karena sepertinya lebih enak menuliskannya dari sudut pandang Jan dulu)

---

Bagaimanapun juga, perut terasa lapar sampai sakit rasanya. Beberapa anggota klan berburu di hutan terdekat dan menangkap beberapa binatang liar untuk dimasak. Mereka menguliti kelinci liar yang gemuk, atau burung hutan. Jarrett menangkap rusa liar, meminjam crossbow Jan dan membenamkan panahnya ke paru-paru rusa tersebut. Rusa itu dibagi dua bagian, setengah untuk dia dan ketiga temannya, dan setengah lagi terserah untuk siapa di klan.

Mereka menunggu sarapan siap dan mulai berbagi makanan.

Ada lima orang tentara bayaran yang sejak semalam berdiam di perkemahan dekat Raffenwald, kini datang untuk menyusul. Wajah mereka tidak terlihat senang.

"Saat matahari terbit, orang-orang di desa itu mendadak jadi aneh. Mereka membiru dan sepertinya tampak seperti orang mati namun hidup dan bersuara-suara aneh seperti lenguhan dan gerutu yang tidak jelas. Kami merasa takut dan bergegas kemari," lapor mereka pada Hector, dan Hector akan menyampaikannya pada pimpinan klan, Angelo di Benedito.

"Kau dengar itu?" tanya Jan.

Jarrett tidak terkejut sebenarnya, dia memotong bagian kaki rusa yang telah matang itu dan membagikannya pada Jan. "Seperti pada saat hari bulan Indigo. Kurasa tempat itu disegel sesuatu yang berhubungan dengan Aether."

"Dia bilang tadi pagi pada saat matahari terbit, saat itu kalian baru saja menghabisi golem itu, kan?" Jan menyimpulkan.

"Mungkin Harmin adalah alasan kenapa Raffenwald menjadi terkutuk ...," Jarrett mencoba menyimpulkan, namun setelah dipikir kembali, sepertinya tidak juga.

"Pemacu piranti, Jarrett," seseorang datang untuk bergabung dengan keempat orang pemuda yang memisahkan diri dari kelompok besar di perkemahan itu. Jarrett sudah tahu siapa orang itu. "Core yang kau retakkan itu adalah pelaksana mantra yang diucapkan Mecius untuk menyegel tempat ini. Dengan alat itu dia menciptakan ilusi yang mengakibatkan waktu para penduduk desa Raffelwald terulang terus menerus satu hari sebelum mereka terkutuk, kemudian banshee di utara, dan penjaga pintu kastil. Jadi bila kalian tidak membunuh banshee, dengan merusak core itu, banshee itu juga akan hilang sendiri."

"Oh ya, karena ahlinya sudah datang, kenapa bukan dia saja yang cerita?" Jarrett menyerahkan potongan kaki rusa yang lain untuk Ignus.

"Terima kasih," Ignus menerima potongan kaki rusa itu dan mencabiknya sedikit dengan giginya. Saat matanya sampai pada Rose, dia menyadari gadis remaja itu tersenyum-senyum padanya, Ignus yang selalu berada dalam suasana hati riang, bertanya, "kau cukup bersemangat untuk ukuran seseorang dengan banyak kepribadian. Siapapun pangeran yang melewatkanmu, dia akan menyesal seumur hidup."

Rose melambung mendengar pujian itu, merasa dirinya diakui kecantikannya. "Terima kasih. Benarkah itu? Kenapa mereka menyesal?"

"Karena selain cantik, kamu sanggup mengalahkan golem. Kurang apa lagi?"

"Ah, terima kasih. Ngomong-ngomong istri anda pasti sangat beruntung karena punya suami seperti anda."

"Kenapa?" balas Ignus.

"Karena selain tampan, anda juga pandai bicara," kata Rose sambil memilin ujung rambutnya, dari wajahnya sungguh jelas terlihat rasa tertariknya terhadap Ignus. Selain tampan, juga selalu tampak percaya diri. Kalau orangnya seperti ini, bukan pangeranpun Rose bersedia jatuh cinta padanya.

"Bagaimana temanmu? Apakah dia sudah mengatakan sesuatu?" Ignus menunjuk Kaya.

"Oh, aku tidak memperhatikan, sepertinya ..."

"Belum, belum banyak. Tapi lumayan, dia sudah bisa berkedip," sejak tadi pagi, saat orang-orang sibuk melawan golem, Jan menyelinap keluar dari tendanya dan menjaga Kaya.

"Oh, cukup cepat juga. Dia seer yang berbakat," puji Ignus, kali ini apa adanya. "Jarrett, bisa aku bicara denganmu empat mata?"

"Ayo," meletakkan kembali potongan daging itu di atas batu panas pipih yang tertempel dekat api unggun, Jarrett mengikuti Ignus ke tepian hutan tak jauh dari perkemahan. Mereka bicara sebentar, kemudian berpisah. Ignus kembali duduk di dekat di Benedito dan Jarrett kembali ke api unggunnya.

"Apa yang dia katakan?" tanya Jan.

"Dia bilang di Benedito ingin aku ikut turun dengannya ke dalam kawah. Kalian bertiga terserah mau apa, asal tidak mengganggunya."

"Mau apa dia di dalam sana? Mengambil Warog, kan? Kita tidak bisa biarkan dia melakukannya, Jarrett." Kata Jan.

"Tadinya aku tidak mau ikut campur," Jarrett memutar-mutar liontin emas berukiran nama Gloriana Ettleheart di antara jari-jarinya. "tapi karena sudah terlanjur sampai di sini, aku harus melakukan sesuatu. Coba lihat nanti, mungkin aku akan menemukan kesempatan."

"Haduhhh ... dia ganteng sekali ya?" keluh Rose, mabuk kepayang.

"Siapa yang ganteng, Rose? Aku?" ledek Jan.

Rose menggeleng, tatapannya tidak juga berpaling dari seseorang. Saat Jarrett yang penasaran mengikuti tatapan gadis itu, dia menemukan rombongan di Benedito. "Kau suka di Beneditto?"

"Bukaan..."

"Hector sudah punya istri, lupakan dia." Kata Jarrett.

"Siapa itu Hector. Maksudku adalah seer tinggi itu ..."

Jan menahan tawanya yang ingin meledak sehingga dia terlihat seakan sedang tersedak.

"Selamat bermimpi," sahut Jarrett, memungut daging rusa yang semakin matang di atas batu panas.

"Hei, Jarrett. Jan bilang dia ayah angkatmu? Benarkah itu? Kok dia tidak terlihat tua? Apa dia punya istri? Istrinya masih hidup tidak? Dia suka wanita seperti apa?"

"Katanya kau ingin mencari pangeran tampan?" jawab Jarrett.

"Dunia lahir dan mati bersamanya," untuk pertama kalinya sejak semalam, Kaya berbicara dan membuat semua teman-temannya tertegun.

"Kau membicarakan di Benedito?" tanya Jarrett, walau dia sebenarnya mengira Kaya sedang membicarakan Ignus karena sejak tadi gadis itu juga memandangi ayah angkatnya yang sudah bersemir rambut itu.

"Kita semua adalah boneka tali, dibawah kendalinya ..." kata Kaya sekali lagi, kemudian matanya tertuju pada Jarrett. "Dia sayang padamu, yah? Cinta yang tak berkondisi."

Tidak hanya karena kalimat Kaya yang sedemikian rupa, tapi mungkin juga karena tatapan gadis itu sekarang seperti tatapan orang gila.

"Oh, tidak, kami memang dekat, tidur bersama, makan bersama, tapi tidak seperti itu. Bukan seperti itu. Dia pernah punya istri dan aku punya seorang pacar yang pastinya seorang perempuan ..."

"'Pernah punya istri', hmm ..." Rose terlihat sangat senang.

"Dia lakukan segalanya untukmu ... semua ini demi kau, kau cahaya hidupnya, ... boneka tali utamanya," Kaya tersenyum. Dan senyumnya benar-benar terasa aneh, seperti ketika seorang kanibal mengatakan bahwa dia menginginkan seseorang.

Jarrett harus bersyukur bahwa Kaya tidak berbicara lagi setelah itu, karena Rose menyumpal mulutnya dengan daging rusa. Gadis itu makan seperti serigala kelaparan, bibirnya belepotan lemak. Jarrett merasa kasihan dan mencari-cari sesuatu untuk membersihkan wajahnya, namun Jan lebih cepat mengambil sapu tangannya. Dia menyentuh dagu Kaya untuk mempermudah dirinya membersihkan sisa-sisa makanan di sekitar mulut Kaya yang masih mengunyah. Perlahan senyum lembut terlihat dari wajahnya yang menatap pemuda baik hati itu.

Gadis pribumi gila dan seorang pangeran romantis.

Pasangan yang aneh, pikir Jarrett.

"Hei, cowok romantis," panggil Jarrett. Saat Jan menengok padanya, dia melemparkan kantung goni.

"Apa ini?" tanya Jan, dengan tidak sabar dia membuka kantung itu dan menemukan buku tulisan Maldor. "Ini asli...!" Jan membuka isinya dan seringainya semakin lebar. "Tulisan tangan asli! Bahasa aelf asli! Wah ini sangat berharga! Dimana kau menemukannya?"

"Sebuah kabin di hutan," jawab Jarrett.

"Terima kasih, teman!"

Setelah makan, dia berdiri di tepi kawah dan memandang baik-baik ke bawah sana. Membiarkan angin dingin melewati pucuk-pucuk rambut coklatnya yang pendek, Jarrett melihat betapa bercoraknya kawah ini. Yang paling jelas terlihat adalah corak melingkar di dinding kawah, seakan ada sesuatu yang besar menyeretnya hingga berputar melingkar sampai ke pusat kawah. Jarrett menduga bahwa garis-garis corak itu adalah bekas arus angin yang ditimbulkan oleh pilar badai abadi yang dikeluarkan oleh core itu. Tidak ada sedikitpun dari rumah-rumah dan bagian istana itu yang runtuh karena sapuan angin selama nyaris lima abad.

Jarrett memperhatikan istana yang berdiri persis di tengah kawah itu, pada puncaknya terdapat banyak menara, dan menara paling tinggi memiliki semacam kubah, ada sesuatu yang berkilau warna merah di sana. Itu pasti apa yang dicari-cari oleh Angelo di Benedito.

Terpikir olehnya, andai mereka ke tempat ini lebih cepat dua hari, mungkin mereka tidak perlu melawan Harmin karena pada malam bulan Indigo, pilar badai itu mungkin menghilang. Tapi mereka tidak bisa lama di sana. Bila bulan Indigo muncul kembali, pilar badai itu akan kembali timbul. Bila sampai terjebak di dalamnya, Jarrett harus menunggu bulan berikutnya untuk keluar dari sini.

Menoleh ke kiri, Jarrett melihat Rose—yang sepertinya berada dalam pengaruh Faolan—berbincang-bicang dengan sekelebat awan putih yang tak terlihat oleh mata manusia biasa. Jarrett berdiri cukup dekat dengan mereka untuk mendengarkan ucapan Harmin pada temannya, "... dia yang membelenggu kita, Faolan. Bunuhlah dia, dan kita semua akan merdeka."

***

"Baiklah, prajurit, mari berkumpul!" seru Hector mengumpulkan teman-temannya. Di belakangnya berdiri Angelo di Benedito yang membisikkan kata-kata untuk dikomandokan Hector. Dan dibelakang di Benedito, berdiri Ignus dengan kepala yang kembali terbungkus kerudung kelabu.

"Tim satu akan menjaga perkemahan dan tim dua akan ikut kami menuruni kawah," katanya. Kemudian dia menugaskan dari tim dua itu, dua orang untuk mengawal Angelo di Benedito, dan sisanya menjelajahi kawah untuk mencari harta yang bisa mereka jarah.

Angelo di Benedito maju paling depan. Dengan kekuatannya, dia membuat tepian kawah itu menjadi padat, dan kemudian membentuk mereka menjadi undakan-undakan menyerupai tangga sehingga mereka tidak perlu memerosokkan diri jatuh ke tengah kawah. Jan tentu saja memilih untuk mengikuti Jarrett, dia harus bisa melihat secara langsung bagaimana proses manusia bersatu dengan Dragonoid. Rose dipaksa oleh di Benedito untuk berjalan di depannya, gadis itu masih dianggapnya sebagai kunci masuk menuju kastil tempat Warognya menanti, dan Jarrett berjalan persis di belakang di Benedito.

Kastil Hoffenburg dikelilingi rumah-rumah warga sipil yang hidup dari berdagang beragam hal di sana. Ada patung es pengendara kereta berisi muatan barang-barang seperti susu dan hasil peternakan, terguling dan tertumpuk oleh gunungan pasir beku, mereka tampak seperti patung yang hancur.

"Dia baru mengantarkan hasil peternakannya dari Raffenwald saat tempat ini berhenti untuk selamanya. Saat tempat ini runtuh, dia tertimbun bebatuan dan pasir sehingga jatuh seperti patung," mendadak Kaya sudah berada di sebelah Jarrett dan matanya liar memandangi sekitarnya.

"Lihatlah tempat ini, semuanya membeku sampai ke dalam-dalam. Kalau pun ada emas di sini, mungkin emas itu juga beku sampai ke dalam dan tidak bisa dipakai lagi," Jarrett mendengar gerutu seorang tentara yang berjalan di belakangnya. Wajah mereka mulai terlihat ragu akan bisa menemukan sesuatu yang masih bernilai di tempat ini.

Mereka mulai berpencar ke seluruh penjuru kota. Mereka menggali atau mengais tempat yang mencurigakan, berharap penduduk dari peradaban seribu tahun lalu itu menyimpan sesuatu di sana. Angelo di Benedito jelas tidak peduli lagi pada emas.

Sampai di depan pintu ganda kastil Hoffenburg yang tinggi besar itu, mereka berhenti. Saat Jarrett memeriksanya, dia mendapati pintu itu telah tertutup rapat. Lapisan es yang membeku di sana merekatkan sekat-sekatnya sehingga pintu itu kini tidak berbeda dengan dinding.

"Mungkin sedikit panas bisa melumerkan semua kekerasan ini ..." ada sinar yang muncul, telapak tangan di Benedito menyala.

"Tunggu dulu, tuanku!" sahut Ignus.

Sinar pada telapak tangan di Benedito padam.

"Bila anda mau melihat ke sekitar sana, ke sekeliling kita, semuanya adalah tumpukan salju. Suara ledakan saja bisa meruntuhkan mereka dan mengubur kita semua di dalam kawah." Kata Ignus.

"Baiklah, aku harap kau punya ide selain meledakkan pintu itu," kata di Benedito.

"Kadang, sesuatu yang keras biasanya rentan di dalam. Apabila kita bisa mendengar kekosongan di dalamnya, ..." Ignus mendekati pintu itu dan menempelkan telinganya di sana. Dia memejamkan mata dan mulai mendengarkan pintu itu baik-baik. Seperti memperhatikan teka-teki pada lautan bintang, Ignus mendengarkan gelombang demi gelombang yang berpendar dalam kehampaan.

Kristal-kristal es itu akhirnya bergerak. Mulai dari partikel yang paling kecil. Mereka berubah menjadi udara dan menelusup keluar seperti uap yang naik dari atas kendi yang mendidih. Tak lama, seluruh lapisan es di sana pun mencair dan hilang seluruhnya.

"Es yang dibuat oleh seorang elementer adalah es yang abadi, karena ekspresi elementer adalah ekspresi jiwa, tidak berbeda dengan emosi. Untuk meredakan emosi, kita harus memahaminya. Dengan cara itulah, kita akan masuk," Ignus mendorong kedua pintu besar itu hingga terbuka. Ada suara deritan yang terdengar saat sambungan pintu yang telah beratus-ratus tahun diam, akhirnya bergerak.

"Akhirnya, ... selangkah lebih dekat dengan belahan jiwaku ... aku bisa merasakannya!" Angelo di Benedito menyeringai lebar.

Kelihatannya pada saat tempat ini dikutuk, pintu istana sedang terbuka lebar. Tampak beberapa dayang istana sedang membersikan tempat ini, kulit mereka yang membiru terbungkus es itu memegang sapu dengan erat. Di halaman terlihat tukang kebun berjongkok memunguti rerumputan liar.

"Mereka tidak sadar apa yang sedang terjadi ..."

"Ya, semuanya pasti terjadi begitu cepat ..." sahut Jan. Dia sudah memperbaiki grafit patahnya dan mulai mencatat apapun yang menarik.

Pada saat memasuki bagian dalam istana, Rose terpaku memandangi seluruh isi istana. Ada rindu yang terasa dalam hatinya, seperti dulu saat dia merindukan Ottoballe.

"Ini menyedihkan ..." ada suara lain yang menyertai suara Rose, suara seorang pria dewasa. "... bila mengenang masa dimana kami berjuang gigih untuk melawan para beast itu, sungguh tragis bila semua perjuangan itu berakhir seperti ini."

"Hidup memang kadang tidak adil," kata Angelo di Benedito. Dia melangkah mendahului Rose—Faolan—masuk ke dalam istana. "Ayo Jarrett, ikuti aku! Akan kutunjukkan sesuatu padamu."

"Jaga mereka baik-baik, aku tidak akan lama," kata Jarrett dengan suara berbisik.

Jan mengangguk kecil pada temannya. Ada sebilah pisau kecil yang selalu terselip pada sepatu Jarrett, benda itu selalu tampil sebagai andalan terakhir. Dia akan mencari kesempatan untuk membereskan semua ini.

"Semoga berhasil, kawan," bisik Jan, matanya mengikuti tiga orang pria yang menghilang di balik pintu menuju menara berputar.

Dinding es mengepungnya, bahkan lantai dan karpet ikut beku. Nafas Jan berubah menjadi kepulan uap, dia mengambil kristal dari kantung yang tergantung di ikat pinggangnya, lalu menggosoknya hingga menyala. Terasa hangat menyelimuti tubuh, tangannya yang nyaris membeku itu serasa meleleh. Jan memasukkan kristal itu ke dalam kantung bajunya dan menghampiri Rose—Faolan—yang masih tertunduk dengan beribu kekecewaan berkelebat dalam hatinya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Jan pada gadis itu, atau pria yang berada di dalam gadis itu.

"Kau pernah merasa rindu pada kampung halaman?" tanya Rose—Faolan—padanya.

"Entahlah, sepertinya tidak terlalu memikirkannya. Dulu aku pernah berlayar sampai perairan benua Laboan untuk mengangkat situs bersejarah yang tenggelam di dasar samudra. Perjalanan itu memakan waktu lebih dari tiga bulan, tapi aku sama sekali tidak memikirkan rumah ataupun Detteroa," jawab Jan.

"Kau tidak berhati," sahut Rose—Faolan.

"Hei, bukan begitu. Aku cinta orangtua dan tanah airku. Hanya saja, mungkin kepalaku terlalu sibuk memikirkan hal lain daripada merindukan rumah."

"Kalau kau cinta tanah airmu, kau akan merindukannya setiap saat."

Jan pun menemukan sesuatu yang tidak dia sukai dari Faolan. Ya, dia berharap Faolan yang mengatakan itu, bukan Rose. Karena Rose adalah temannya, sedangkan Faolan kemungkinan besar hanya akan bersama dirinya sampai semua ini berakhir. Dia tidak akan bertemu dengan orang itu lagi setelah seseorang memulangkan semua arwah di sini.

Di hadapan aula besar itu, ada tangga dialasi karpet merah menuju sebuah pintu raksasa setinggi empat meter. Pintu itu terbuka sedikit, cukup sempit sehingga Kaya harus memiringkan tubuhnya saat dia akan mencoba masuk ke dalam. Melihat gadis yang sedang tidak berakal itu menggelandang penasaran sampai ke sana, Jan mengajak Rose—Faolan untuk menyusulnya.

"Ini ruang pertemuan dengan raja. Di tempat ini, rakyat bisa bertemu langsung dengan raja sambil membawa petisi. Apabila pintunya tertutup, kemungkinan besar raja sedang mengadakan sidang dengan para pejabat atau ksatria." Rose—Faolan—menjelaskan.

"Pasti ada alasan kenapa Kaya tertarik untuk masuk ke dalam sini..." Jan melangkah masuk, memiringkan tubuhnya dan menahan nafas agar tubuhnya menjadi lebih kurus. Namun Rose—Faolan—mengangkat tangannya dan dengan segera, menguaplah seluruh lapisan es yang merekat pintu itu dengan lantai dan sekat. Rose—Faolan—mendorongnya sampai terbuka cukup lebar agar dapat dilalui oleh mereka.

"Terima kasih, sangat membantu waktuku yang berharga," kata Jan.

"Sama-sama," jawab Rose—Faolan—tanpa menyadari sindiran yang terkandung di dalamnya.

Ruang sidang adalah ruangan yang sangat luas dan lebar. Dari lantai ke langit-langit tingginya empat meter. Di atas langit-langit sana, ada lukisan bayi-bayi malaikat sedang bermain musik dengan gembira. Lampu kristal yang tersusun indah membeku mulai dari gantungannya yang terpasang di tengah langit-langit. Sepanjang lantai membeku, menempelkan karpet merah yang tergelar dari pintu menuju undakan tempat singasana berada. Kanan kiri adalah jendela tinggi dengan puluhan kaca terpasang dalam bingkai kayu. Dua gorden merah yang beku juga membingkai jendela-jendela besar itu. Di antara jendela yang satu dengan yang lainnya terpasang obor.

"Kenapa tinggi sekali langit-langitnya?"

"Semua itu karena raja punya sahabat seorang srikandarv. Namanya Forgo, dia tinggal di sini berabad-abad lamanya. Setelah perang beast berakhir, dia pindah ke hutan untuk menikmati masa pensiun." Rose—Faolan—menjelaskan.

"Berarti srikandarv itu sering diajak rapat?"

"Katanya dia cukup penting, tapi aku baru di sini selama delapan tahun saja, aku belum tahu banyak soal seluk beluk Hoffenburg."

Tepat di seberang pintu ruangan, ada undakan panggung dimana singasana raja berdiri dengan agung. Kursinya besar dan lebar, ditutup kain warna merah sutera. Namun semua itu membeku sekarang, begitu pula dengan seseorang yang sedang duduk di atasnya. Kaya sedang berdiri di bawah panggung singasana itu, memeriksa empat orang beku yang sedang berdiri di bawah panggung.

Saat Jan menghampirinya, ada kilau yang terlihat dari telapak tangan Kaya yang menyentuh bahu salah seorang dari pria di bawah panggung tersebut. Kemudian Kaya menarik tangannya dengan cepat sambil mengaduh.

"Kaya?" panggil Jan-Axel, "Apa yang kau lakukan?"

Dengan mengerikan, Kaya memutar kepalanya dan menatap Jan dengan sorot matanya yang tegang. Rambutnya sudah sangat awut-awutan sehingga dia terlihat semakin mirip dengan orang gila di pinggir jalan.

"Pulang, ..." jawabnya, "mereka tidak bisa pulang."

"Maksudmu?"

"Tapi mereka ingin pulang, begitu inginnya sampai mereka menangis padaku. Minta dibawa pulang." Kata gadis itu.

"Apakah ada yang bisa kita lakukan?" tanya Jan.

Sepintas wajah Kaya terlihat sedih, seakan dia melihat keluarganya meregang nyawa. Namun mendadak dia terkikik geli, "manusia itu lucu, begitu kuat, dan begitu lemah. Lucu sekali."

Jan menarik Kaya mendekat dan mengguncang bahunya dengan pelan, "Kaya, apa yang terjadi padamu? Sadarlah Kaya, kami semua butuh kau dalam keadaan sadar. Kalau kau terus menerus begini, kau bisa gila, Kaya!"

Rambutnya yang panjang bergelombang itu terobrak-abrik ke segala arah, membuat wajahnya tertutup sebagian. Matanya yang tidak tertutup, terbuka lebar-lebar, menatap Jan seakan ingin menelan pemuda itu bulat-bulat. Tatapan itu sungguh mengerikan, entah pergi ke mana gadis pendiam dan pemalu yang dikenalnya beberapa hari lalu itu.

"Aku ingin kau kembali seperti kemarin, Kaya! Apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?!"

Gadis itu terkikik, suara tawanya terdengar mengerikan seperti hujan panah yang menghambur ke atas perisai. Jan melepaskannya dan berpaling sedih, "percuma ... Kaya sudah hilang. Orang ini, aku tidak tahu siapa."

"Dia masih temanmu yang dulu, hanya saja sepertinya dia sedang stress sehingga pikirannya lumpuh," Rose—Faolan—melangkahi Jan dan mengamati Kaya. Gadis itu memiringkan wajahnya saat dipandangi oleh Rose—Faolan.

"Hei, waktu terus berlalu, Faolan," tegur Kaya sambil terkikik sekali lagi.

"Kau benar. Waktu terus berlalu. Aku harus segera menemukan Sang Raja agar teman-temanku bisa kembali ke arus jiwa-jiwa." Rose—Faolan—berpaling untuk keluar dari ruangan itu. Namun sebelum dia pergi jauh, Kaya kembali memanggilnya.

"Faolan, mau ke mana?"

"Mencari Sang Raja."

"Kenapa keluar? Dia ada di sini."

Jari telunjuk Kaya naik mengacung pada sosok lelaki tua yang sedang duduk di atas singasana. Lelaki itu sedang tertawa, mulutnya yang terbuka lebar membeku dan dihiasi kristal-kristal padat. Kakinya sedang bersila, dia duduk agung seperti seorang raja yang sombong.

"Itu bukan Sang Raja, itu Getafe Koltz. Dia adalah perdana mentri Hoffenburg," kata Rose—Faolan.

"Faolan ...," panggil Kaya sekali lagi, "... lihat baik-baik."

Rose—Faolan memperhatikan Koltz beku itu secara mendalam. Dia melihat ada selubung perak yang menggeliat-geliat keluar dari tubuh beku itu, namun gagal. Kabut perak itu pantang menyerah, dia masih mencoba untuk keluar sehingga dia menjerit dan menangis. Itu arwah Koltz.

"Sang Raja ada di sana," desis Kaya sambil menyeringai.

Udara bergerak. Angin dingin menyusur dari segala tempat, terutama pintu ruangan yang terbuka. Sejenak Rose—Faolan—mendengar jeritan-jeritan Hoffenburg yang berlangsung selama seribu tahun. Tangisan jiwa yang rindu akan arus jiwa-jiwa, seperti tangisan jiwanya yang rindu akan Otoballe. Rindu akan kampung halaman, namun tidak bisa pulang.

Udara yang bergerak itu berkumpul di suatu tempat, terhisap masuk ke dalam mulut Koltz yang tertawa lepas. Sosok beku itu menjentikkan jari disusul bunyi retakan. Bunyi retakan itu masih terdengar dari tubuhnya, sehingga Koltz akhirnya bergerak dengan sendirinya. Mulutnya yang terbuka itu tertutup, jari-jari tangannya terkepal, dan kakinya yang bersilang itu turun menapak lantai. Akhirnya, kelopak matanya berkedip, meruntuhkan serpihan salju yang tersangkut pada alis matanya. Sosok beku Koltz duduk tegap, dia tidak lagi terkesan arogan. Kini dia terkesan agung dan kuat.

"Apa mau kalian di kerajaanku?" sosok beku itu bersuara tanpa membuka mulut. Hanya matanya yang bergerak-gerak dan berkedip sesekali yang membuktikan bahwa dia telah hidup kembali.

"Itu Sang Raja!" Rose—Faolan—mendesis, kemudian mengacungkan tangannya ke singasana. Kilau cahaya terbentang di tangannya, kemudian membentuk Einherjar. Pedang berbobot berat itu terangkat seperti seringan sapu. "Bebaskan teman-temanku. Bebaskan Hoffenburg."

"Bebaskan Hoffenburg ...?" sosok itu tertawa kecil, kemudian tawanya terlepas menjadi sangat lantang dan bergema di dinding kastil yang hening. "Usiaku sudah seribu empat ratus tahun, aku adalah Hoffenburg itu sendiri. Kau ingin membebaskan aku dari siapa?"

"Jiwa-jiwa di sini menjerit karena kau sekap selama ratusan tahun. Sudah saatnya kau melepaskan mereka dan masa kejayaanmu yang telah berlalu itu!" ujar Rose—Faolan—dengan berani.

"Faolan, Faolan. Aku melihatmu saat pertama kau datang ke tempatku. Aku melindungimu dari para hoggards itu, setiap kali kau merasa nyawamu selamat dengan keajaiban. Dan setelah semua berakhir, ini balasanmu padaku? Sungguh kau mau menggigit tangan orang yang memberimu makan?"

"Aku bukan anjing!"

Koltz beku itu tertawa lagi. "Pada detik ini juga, ada tiga orang sedang memanjat sampai ke atap, tempat dimana relik Warog yang kudapatkan dengan penuh perjuangan itu tersimpan. Sementara ada maling masuk ke dalam rumah majikanmu, kamu mengacungkan senjata ke hidungku. Bukankah kamu ini seorang pengkhianat tidak tahu malu?"

"Semua sudah berakhir."

Terdengar suara lolongan, raungan monster dari kejauhan. Jan memeluk Kaya, untuk melindungi gadis itu apabila suara mengerikan itu menampakkan diri dan muncul untuk membinasakan mereka di sini. Dia mencabut belatinya, menepi ke dinding dimana dia bisa mengintip ke luar jendela untuk melihat apa yang mungkin sedang terjadi di luar. Mendadak sekelebat bayangan hitam terjatuh ke bawah melewati jendela tersebut.

"Dia sudah mengambilnya. Negri yang susah payah kubangun dari nol ini, hancur sekali lagi karena dijarah maling." Suara Koltz kini terdengar rendah. Kembali terdengar suara lapisan es retak dari tubuhnya saat Koltz bangkit berdiri dari singasananya.

Rose—Faolan—bertindak cepat. Dia mengayunkan Einherjar secara vertikal, empasan angin setajam belati melesat lurus ke tubuh Koltz. Saat Koltz mengangkat tangannya ke atas, lantai menyeruak naik membelah angin tajam itu, kemudian terjatuh lagi setelah Koltz menurunkan tangannya.

"Kau bukan Koltz!" desis Rose—Faolan, "Koltz bukan elementer!"

"Aku adalah Hoffenburg," ujar seseorang yang sedang menggunakan tubuh Koltz itu. Dia menarik dua buah pilar berdiameter sekepalan tangannya dari lantai sampai setinggi pinggang. Kemudian orang di dalam tubuh Koltz itu memegang pilar tersebut di kanan kirinya, pilar itu pecah menjadi logam berbentuk pedang. Orang itu memutar pedang kembarnya dan langsung menyerang Rose—Faolan.

Serangan bertubi-tubi dan cepat itu menuntut Rose—Faolan—untuk menangkisnya dengan cepat. Pedang mereka beradu, menghasilkan dentingan-dentingan nyaring memenuhi istana. Rose—Faolan—melepaskan cambuk udara untuk melempar tubuh Koltz ke dinding sampai hancur.

Sebelum kepulan debu putih mengudara menutupi sosok Koltz, Rose—Faolan—telah melihatnya remuk seperti boneka porselen.

Ada tangan perkasa terangkat, pedang logam di tangannya di tusukkan ke lantai untuk membantu tubuhnya berdiri. Dari tubuh hancur Koltz, muncul sesosok makhluk lain bertubuh manusia dan berzirah ksatria dengan kepala serigala di dadanya. Ada jubah anggun yang terikat di lehernya. Dengan dua pedang besar di tangan, sosok itu berdiri tegap menatap Rose—Faolan.

Rose—Faolan—segera berlutut di hadapannya, kepalanya tertunduk. "Raja Beowulf! Hambamu, Faolan menghaturkan hormat."

"Faolan," panggil sosok itu. "Aku tidak bisa menerima ini semua. Negeri yang kubangun begitu baik, akhirnya hancur karena keserakahan seseorang. Beberapa jam lagi, tempat ini akan membeku seribu tahun. Semua jiwa yang membeku di sini akan termakan olehku. Bila kau ingin menyelamatkan teman-temanmu, ... dan Yseult, ..."

Nama itu menggetarkan Faolan dan memercikkan semangat dalam hatinya.

"... kau harus menghancurkan aku!"

Rose—Faolan—menyambar Einherjar yang tergeletak di sebelahnya untuk menahan serangan Beowulf yang melesat dengan ganasnya. Suara-suara ribut besi beradu kembali mengisi kekosongan istana. Beowulf begitu kuat dan begitu hebat kemampuannya. Dia seperti menari dengan pedang kembarnya sambil melepaskan serangan-serangan berbahaya ke daerah vital di tubuh Rose—Faolan.

Rose—Faolan—juga bukan sesuatu yang pantas diremehkan kemampuannya, namun dihadapan Beowulf yang perkasa, dia menjadi sedikit kewalahan. Dia harus menjaga tubuh induk semangnya agar tidak terluka saat menerima serangan-serangan berbahaya lawannya, dan memanfaatkan kesempatan yang muncul dari celah serangan-serangan Beowulf. Namun Sang Raja benar-benar pantas menyandang sebutan legenda. Gerakannya begitu sempurna nyaris tak bercelah. Rose—Faolan—terjerembap menabrak pilar dan kilau cahaya menyelubungi tubuhnya sesaat sebelum benturan terjadi agar tubuh rapuh Rose tidak celaka.

Pilar itu ambruk menabrak tubuh Faolan yang melindungi Rose, reruntuhannya mengubur si gladiator setinggi satu meter. Beowulf mendarat di hadapannya, belum yakin bila lawannya telah kalah. Reruntuhan itu meledak. Sang Raja mengibaskan pedangnya untuk menangkis reruntuhan yang berterbangan ke tubuhnya, kemudian menyilangkan pedang kembarnya untuk menahan Einherjar yang berkibas dari atas ke bawah.

Wajah Rose sudah terlihat berbeda, air muka melankolis di wajahnya berganti dengan air muka bersemangat yang senantiasa optimis. Bila tadi dia memegang Einherjar dengan kedua tangan, kini Rose memegang Einherjar dengan satu tangan, namun pedang raksasa itu bergerak selincah belati. Kini gantian Beowulf yang nyaris tidak punya kesempatan untuk menyerang karena sibuk menghalau serangan lawannya.

"Akhirnya aku bisa menjajal kekuatan anda, Sang Raja!" seru Rose—Caleb dengan bersemangat.

Beowulf melompat langsung ke beranda dalam kastil lantai dua. Dia memotong-motong tepian pagar beranda dalam itu dan menggunakan tenaga dalam melesatkannya ke bawah, menghujani Rose—Caleb dengan bebatuan yang turun seperti meteor. Rose—Caleb menghalau serangan-serangan itu dengan Einherjar seperti seseorang memukul bola dengan tongkat. Bebatuan itu melesat kembali ke atas kepada Beowulf. Bagian yang meleset mengenai lantai, membuat lantai beranda dalam itu jadi retak sehingga Beowulf harus berpindah tempat.

Sebagai elementer tanah, gravitasi bukan masalah bagi Beowulf. Dia berdiri di pilar seperti kelelawar, menyimpan pedang kembarnya lalu menggerakkan tanah di bawah kaki Rose—Caleb—untuk berguncang seperti gempa.

Untuk menyelamatkan diri, Rose—Caleb melompat ke pilar lain, dari sana dia bertolak ke pilar lainnya lagi dan sampai di beranda dekat Beowulf berdiri, kemudian menghajarnya dengan Einherjar. Dengan kecepatan luar biasa, Beowulf mengeluarkan pedangnya untuk menangkis sabetan mematikan itu. Namun begitu kuat kekuatan Rose—Caleb—sehingga pilar tempat Beowulf berpijak jadi retak.

Beowulf kembali ke lantai satu yang luas, dan Rose—Caleb—menyusulnya. Kali ini Beowulf menyerang terlebih dahulu dan tidak memberikan Rose—Caleb—kesempatan untuk membalas. Beberapa pengawal istana yang membeku yang kebetulan menghalangi langkah mereka, hancur tergilas atau terbabat pedang.

Beowulf kembali menahan serangan Einherjar yang datang padanya, namun dengan kekuatan luar biasa Einherjar mengarahkan pedang kembar Beowulf ke tanah. Rose—Caleb menginjaknya hingga terlepas dari tangan Beowulf dan menubruknya dengan bahu kiri. Tangan Beowulf terangkat, mencengkram wajah Rose dan melemparnya ke pilar besar terdekat. Mengempaskan tubuh itu menabrak pilar sampai hancur. Caleb harus melindunginya agar tubuh Rose tidak celaka.

Pilar besar itu kembali runtuh, beranda yang disangganya jatuh dalam bentuk puing. Gadis itu tidak celaka.

Mendadak Einherjar mengibaskan pedangnya dengan kuat, menyayat permukaan perut Beowulf. Walau sempat menghindar, namun sabetan cepat itu masih mengenainya. Beowulf melompat mundur untuk mengambil kembali pedang kembarnya di lantai, namun Einherjar berderap cepat, kembali mengibaskan pedangnya dengan kekuatan penuh. Beowulf menahan serangan tak terelakan itu dengan mengangkat kedua tangannya yang berubah menjadi sekeras batu. Einherjar mendorongnya untuk berlutut sampai ke lantai, Beowulf kalah tenaga, salah satu kakinya nyaris menyentuh lantai saat dia menyelamatkan diri dengan cara berteriak dan mengangkat dua dinding yang dengan cepat menghimpit Rose.

Namun Einherjar mengayunkan pedangnya tiga ratus enampuluh derajat sehingga kedua dinding itu runtuh sebelum melukai Rose. Dia segera menyadari Beowulf yang sudah mengambil kedua pedangnya dari lantai itu bergerak lagi untuk menyerangnya. Einherjar melangkah berani tanpa takut terluka, bahkan matanya pun tidak berkedip sekalipun! Dia menyerang serangan itu dengan serangan lain yang lebih kuat. Dia menghajar seperti kesetanan, seakan yang ada dalam pikirannya adalah menyerang. Tubuhnya adalah sampah, karena itu dia tidak mau melindungi tubuhnya, dan dia akan terus menyerang.

Beowulf merasakan pedang kembarnya berdenging akibat benturan bertubi-tubi yang cepat dan ganas. Seperti monster kelaparan yang mengamuk. Beowulf mencoba untuk menggunakan salah satu tangan untuk bertahan dan tangan lain untuk menyerang namun kedua pedangnya terbang tinggi setelah Einherjar berajun dari bawah ke atas dengan kuatnya. Beowulf tidak sempat melihat serangan-serangan lain yang sudah begitu saja menghajar badannya yang tak terlindungi dan akhirnya memenggal kepalanya.

"Jadi begitulah ...," Sang Raja menyeringai, tubuhnya terlentang dipenuhi garis-garis bekas sabetan Einherjar yang mengenainya dengan telak. "Pada akhirnya, yang mengakhiri riwayat Hoffenburg benar-benar seorang beast."

"Aku manusia!" seru Rose—Vidarr—dengan tegas. 

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top