Keluar dari Kandang Harimau

Kia tidak berani melihat bagaimana Jake menyelesaikan anak-anak Raffenwald itu. Karena begitu cepatnya gerakan mereka, Jake tidak tanggung-tanggung dalam menghancurkan tubuh-tubuh mungil itu. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada Gabe yang merangkulnya erat, menutup telinga dan matanya rapat-rapat sambil terus berlari masuk ke dalam penginapan.

Sementara Jake menahan pintu besar dengan menyandarkan punggungnya, Gabe dan Kia bekerja sama untuk menyeret perabotan penginapan dan menumpuknya di depan pintu. Meja, kursi, lemari, semua digulingkan dan disandarkan agar para warga Raffenwald itu tidak bisa menerobos masuk.

Tapi mereka belum bisa bernafas lega, Jake yang pertama teringat bahwa ada pintu belakang yang juga sering terbuka lebar. Dia segera bergegas ke sana untuk memastikan semua dalam keadaan aman. Ada suara aduan benda berat yang terdengar saat Jake meletakkan pedang lizzardman itu di atas meja, untuk menukarnya dengan sebilah pisau daging.

Seperti yang dapat tertebak, pintu itu terbuka lebar. Namun beberapa piring pecah dan ember yang terguling berserakan di halaman belakang membuatnya sadar telah terjadi perkelahian di sini.

"Mana Jane?" tanya Gabe.

"Entahlah, dia bersama Ludwig terakhir kita melihatnya. Aku tidak yakin manusia cengeng itu masih hidup sekarang, Ludwig orang sini, kan?" jawab Jake.

Mereka memeriksa halaman belakang itu sebentar, mencoba untuk menebak-nebak apa yang sekiranya tadi terjadi di belakang sini. Jake menemukan ada sekop yang tergeletak tak jauh dari sumur, dan ada bercak lumpur pada dinding sumur itu.

Sesuatu mendesaknya untuk melongok ke dalam sumur dan berharap dia menemukan Ludwig atau Jane di dasarnya. Tapi dia menemukan sesuatu yang lain. Tubuh mengambang pada permukaan air sumur itu, posisinya terlentang.

"Siapa dia?" tanya Jake.

"Aku tidak tahu, tapi itu bukan Jane."

"Sepertinya dia tidak di sini. Cepat kau cari di dalam, aku akan menutup pintu belakang."

"Kedengarannya ide bagus," Gabe meluncur ke dalam untuk memeriksa setiap sudut dari bangunan penginapan desa itu. Masih terdengar suara gaduh dari luar penginapan, dimana para warga Raffenwald masih penasaran dan menggaruk-garuk pintu. Beberapa dari mereka menghantamkan tubuh untuk menerobos masuk. Tapi terima kasih kepada tumpukan meja dan lemari yang menahan pintu, usaha itu menjadi sia-sia.

Gabe membuka pintu lemari yang cukup besar, dan hanya menemukan piring-piring di sana. Sementara itu Jake mulai bekerja menyeret perabotan dapur untuk menahan pintu belakang seperti mereka menahan pintu depan.

Pada saat Gabe membuka pintu kamar milik Ludwig, seorang wanita segera menyerangnya. Ia menghujamkan kuku-kuku jarinya yang tajam dan terawat itu ke kulit lengan Gabe yang terangkat untuk melindungi wajahnya. Gabe meraih apapun yang bisa dia raih dan menghantamnya ke kepala wanita itu.

Mangkuk tembikar itu pecah berkeping-keping, menebarkan bumbu bubuk jahe di dalamnya ke udara. Bagian kepala wanita itu terekspos dari luka yang tercipta. Ada otak yang terperangkap di sana, tak mampu bergerak karena darahnya membeku.

Wanita itu menegapkan bahunya, sekalipun kepalanya telah berlubang, dia masih bisa bergerak dengan baik, dan kembali menyerang Gabe. Gabe menjaga jaraknya, jangan sampai kuku-kuku terawat itu menambah luka yang dideritanya sejak tadi. Ia meraih kursi kayu dan mengayunkannya ke tubuh wanita itu.

Seperti patung tembikar yang rapuh, tubuh itu hancur berkeping-keping. Walau tidak mampu menghentikan wanita itu untuk bergerak, namun setidaknya sudah tidak ada yang bisa lagi dilakukannya dalam kondisi hancur lebur seperti itu.

Penuh rasa penasaran, Gabe berjongkok dan memeriksa pecahan daging yang tercecer. Antara kagum dan heran, dia menyadari ada serpihan kristal es hingga ke serat-serat jaringan yang paling tipis. Tubuh para penduduk Raffenwald ini beku hingga ke dalam.

Jake muncul dengan sapu dan cikrak kayu. Tanpa banyak bicara dia mengumpulkan serpihan-serpihan daging itu ke dalam cikrak. Dia berhenti sejenak untuk memeriksa ruangan lantai dasar penginapan, terlalu malas untuk membongkar kembali pintu belakang yang sudah disegel rapat oleh perabotan dapur, dia bergegask ke mulut tungku di dapur dan membuang serpihan daging itu di sana.

Gabe ingin tertawa melihat elementer api itu bersusah payah menciptakan api dari batu pematik dan terus gagal. Tapi dia segera melihat tubuh wanita itu kembali menyatu perlahan-lahan seperti besi tertarik magnet. Kembali pada tempatnya dengan teratur, dia pun merebut batu pematik di tangan Jake dan dengan cepat menciptakan api pada serabut rumput kering. Serabut rumput yang terbakar itu dilemparkan ke dalam tungku dan terbakarlah semuanya.

"Terima kasih atas apinya," Jake berlalu dengan cepat ke ruang depan dimana Kia sedang meringkuk di bawah tangga. Jake duduk tidak jauh dari Kia dan mencoba untuk mengabaikan suara-suara gaduh yang diciptakan para penduduk Raffenwald di luar pintu penginapan. Tidak hanya suara-suara benturan terhadap pintu kayu itu saja yang membuat stres, tapi juga suara raungan mereka yang tidak beraturan. Mereka seperti kerasukan.

"Aku tidak bisa menemukan Jane," Gabe muncul dari ruang dapur setelah memastikan wanita Raffenwald itu terbakar habis.

"Lupakan saja dia," kata Jake, lesu. "Bagaimana luka-lukamu? Tampaknya cukup parah."

Gabe melirik pada elementer es yang sedang duduk memeluk kedua lututnya di sisi tangga, namun Kia menggeleng, "maaf, aku sedang tidak fokus. Terlalu banyak ... aku tidak bisa melupakan tubuh-tubuh hancur itu..."

"Kau harus membiasakan diri dengan itu semua," kata Jake. "Di luar sana ada banyak beast berkeliaran, terutama di hutan-hutan dan pegunungan yang tak terjamah. Mereka tidak akan ragu untuk membongkar kepalamu untuk memberi makan bayi-bayi mereka yang imut."

"Stop, hentikanlah," Kia memalingkan wajahnya dari Jake. Tapi pada tempat yang dia pandang sekarang ada Gabe sedang menggulung lengan pakaiannya, memperlihatkan luka terbuka yang cukup dalam dan darah di sekujur lengannya. Kia menutup matanya dengan kedua tangan, lalu menghela nafas dalam-dalam.

"Maaf, kau tidak kuat melihat darah?" tanya Gabe.

Masih menutup matanya, Kia mengangguk. Dia mulai bisa mengabaikan raungan-raungan dan lenguhan dari luar penginapan.

"Ini sebabnya aku meninggalkan kampung halamanku," kata Kia. "Mereka melatihku bagaimana cara berkelahi dan membunuh, sekalipun aku tidak mau. Aku mencoba untuk bertahan dan bersabar, tapi aku tidak sanggup lagi. Aku tidak mau berperang, apalagi memimpin bangsaku untuk membunuh orang."

"Membunuh siapa?" tanya Jake.

"Lupakan." Kia kembali memalingkan wajahnya. Matanya sengaja menghindari Gabe.

"Aku harus mengambil kotak obatku di lantai atas, permisi." Pemuda berkumis tipis itu meluncur melewati Jake dan Kia dan menaiki tangga menuju lantai dua penginapan.

Setibanya di lantai dua, dia bergegas menuju pintu kamarnya. Namun tangannya yang terjulur itu berhenti sebelum menyentuh knop pintu kemudian tertarik kembali.

Gabe menahan nafas, mencoba untuk mendengarkan baik-baik sekali lagi. Tapi dia melihat ada sesuatu bergerak. Di seberang kamarnya ada pintu yang tertutup, melalui cahaya di bagian bawah pintu yang terhubung dengan lantai, dia melihat ada gerakan, seperti bayangan.

Mengumpulkan segenap keberaniannya, dia mengambil vas bunga dari tembikar yang terpajang di antara pintu kamar yang satu dan lainnya. Dengan hati-hati, dia mengendap mendekati pintu kamar itu, yakin ada sesuatu di sana.

Vas bunga di tangan kanan, tangan kirinya terangkat untuk mengetuk pintu kamar itu. Bila ada manusia, tentunya orang di dalam sana akan bersuara merespon ketukan pintunya. Tapi respon itu tidak pernah terdengar.

Gabe memperkuat pegangan vas bunganya, dia harus bergerak cepat atau seperti wanita tadi, ada luka baru pada tubuhnya. Dan orang-orang itu benar-benar tidak tanggung dalam menggigit atau mencakar. Dia harus mengayunkan vas ini sekuatnya, kalau bisa sampai kepala mereka hancur!

Pintu terbuka, dan Jane menjerit sambil mengayunkan gagang sapu ke kepala Gabe. Vas bunga melawan gagang sapu, kedua senjata itu beradu di udara, hancur berkeping-keping, dan yang melegakan, tidak ada yang terluka.

"Jane?"

"Hah .... Gabe ...?" perlahan-lahan mata gadis itu berkaca-kaca, berair dan kemudian tangisnya meledak saat dia memeluk Gabe dengan erat. "Huwaaa.... Mengerikan sekali! Ada tante tetangga yang datang berkunjung, tapi kemudian mereka terdiam dan mengamuk sendiri. Aku takut sekali!"

Gabe tidak mengerti darimana datangnya kekuatan luar biasa dari gadis ini sehingga dia merasa sesak karena pelukannya yang erat itu. "Jane, aku senang kau baik-baik saja, tolong lepaskan aku..."

Bukan karena dia tidak suka dipeluk Jane. Siapa yang tidak mau dipeluk gadis cantik berkulit halus seperti Jane? Masalahnya ada di tenaga gadis itu. Gabe langsung memasukkan Jane ke dalam daftar orang yang tidak boleh di tantang adu panco.

"Kalian selamat?" tegur suara tua dari ruangan yang sama. "Syukurlah kalian selamat. Aku mendengar suara gaduh di bawah, aku langsung menduga kalian kembali ke mari. Tapi gadis ini memaksaku untuk diam dan bersikeras bahwa keributan itu karena semua zombi di sini datang untuk mengejarnya."

"Tuan Ludwig? Anda tidak menjadi seperti mereka?"

"Aku? Zombi?" dia mendengus, seakan sedang tertawa. "Aku baru tiba di sini beberapa puluh tahun lalu."

Mereka berkumpul kembali di lantai satu, dimana Jake dan Kia duduk-duduk saling membisu. Ludwig berbicara banyak, dia memulai kisahnya mulai dari hari dimana dia melarikan diri dari pertambangan Gazawa dan tiba di desa bernama Raffenwald kemudian menikah dengan gadis yang mewarisi penginapan ini.

"Mereka adalah keluarga baruku, aku mencintai mereka seperti ayah dan ibuku sendiri, dan mereka mewariskanku penginapan ini."

"Jadi, kau berasal dari Detteroa?" tanya Jane.

"Benar, kau bilang kau anak seorang penambang yang dipindahkan ke Gazawa, bukan? Mungkin aku mengenal ayahmu sewaktu di penjara. Sebelum Guthree membeli para tahanan untuk dijadikan buruh tambang..." Ludwig mengusap keningnya dengan sapu tangan merah yang terlihat kumal.

"Dan begini caramu mempertahankan diri dari mereka setiap bulan Indigo muncul? Bersembunyi dalam penginapan?" tanya Jake, tatapannya penuh penilaian. Mungkin dia kagum pada semangat lelaki tua itu.

"Aku baru saja ingin membangun perlindungan, membuat pintu besi. Tapi uang tidak cukup. Biasanya aku tidak menerima tamu bila hari dimana bulan Indigo akan muncul, makanya aku keberatan dengan kedatangan kalian saat itu."

"Tunggu, tunggu ..." Gabe bersuara sedikit keras. "Berarti maksudmu, di seluruh wilayah Hoffenburg ini, semua orang akan menjadi gila seperti itu setiap bulan Indigo muncul?"

"Ya, semua. Semua yang lahir di Hoffenburg akan menjadi zombi es saat bulan Indigo tiba. Kupikir bulan itu hanya melumpuhkan para elementer saja, ternyata memunculkan zombi." Ludwig mengepalkan tangannya.

"Kenapa tidak pergi saja dari sini? Kenapa tidak kembali ke Detteroa?" tanya Jane.

Ludwig tertawa keras, "kau gila! Kalau aku kembali ke Detteroa, aku harus berurusan dengan para penipu, penjilat, perampok, munafik dan orang lain yang lebih mengerikan daripada para zombi es itu. Tidak mau!"

"Hmm ... menarik. Sementara medan Aether di atas tanah menghilang, tapi di tempat ini malah menguat dan mengubah orang-orang itu menjadi zombi. Aku ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi di sini."

Si tua Ludwig kembali mendengus, "nak, satu hal yang aku tahu selama hidup di sini, mereka tidak pernah menua. Anak-anak itu tetap anak-anak sejak aku pertama datang kemari. Setiap kali dibunuh, mereka akan muncul lagi, kecuali bila kau benar-benar menghancurkan tubuh mereka. Dan apa yang mereka lakukan setiap hari selalu sama kecuali bila kau berinteraksi dengan mereka. Bila kau bicara dengan mereka, mereka akan lupa keesokan harinya. Aku harus mengenalkan diriku sendiri pada kedua orangtua baruku setiap hari. Kau tahu apa maksudnya?"

Jake memberi tebakan liar, "ada yang memenjarakan penduduk di sini di dalam waktu."

"Benar. Ada seseorang yang mengutuk tempat ini." Ludwig mengepalkan tangannya erat-erat.

"Dan kau, Ludwig," Jake berdiri dengan kedua kakinya. Ada pisau daging tersembunyi di belakang punggungnya. "Mana orangtua angkatmu?"

Ludwig terdiam sesaat. Dia seperti sedang menangkap kenangan-kenangan lama yang menyakitkan di sekitarnya. Merasakan kembali apa yang terjadi di waktu lalu, yang juga merupakan penyesalannya yang terdalam seumur hidup. Dia mencintai mereka, dia tahu itu. Lebih daripada orangtua kandung yang selamanya tak pernah dia kenal di Detteroa. Dan lelaki tua itu menjawab dengan suara parau, "kubunuh."

Lanjutnya, "hari pertama bulan Indigoku di sini, mereka menyerangku. Jadi kubunuh. Tapi mereka hidup lagi dan bulan depan saat bulan Indigo itu muncul lagi, mereka menyerangku lagi. Maka aku menemukan cara untuk selamanya menghentikan mereka. Mereka harus dibakar sampai habis."

"Bagus, kita sudah dapat caranya. Ayo lakukan dan bebaskan seluruh penduduk di sini dari kutukan." Ujar Jake penuh semangat.

"Jangan!" seru Ludwig dengan cepat. "Bagaimanapun juga, mereka teman-temanku. Mungkin mereka mengerikan saat Bulan Indigo tiba, tapi di luar hari itu, aku akan menjadi sangat kesepian bila tidak ada mereka."

"Ludwig, ikutlah aku ke Detteroa," bujuk Jane penuh simpati sambil menyentuh lengan tua kakek itu. "Kita tinggal bersama, kau boleh memanggilku anak dan aku akan memanggilmu ayah."

"Tidak mau! Aku benci negeri terkutuk itu. Biarkan aku di sini, toh hidupku juga takkan lama lagi." jawab Ludwig.

"Ya sudah, terserah kau. Yang pasti begitu bulan Indigo ini menghilang, aku akan pergi dari sini," Jake mencoba mengintip keluar jendela penginapan, dan melihat orang-orang itu masih mencoba untuk menerobos masuk walau sudah tidak sesemangat beberapa saat lalu.

Tapi hari akan semakin malam, dan cahaya bulan Indigo akan semakin kuat. Pada malam bulan Indigo yang biasa, bulan itu berada jauh di atas langit, terlihat kecil. Tapi entah kenapa di Raffenwald ini jadi besar sekali. Semakin malam Jake merasakan nafasnya semakin sesak, dia benci oksigen, membuatnya pusing dan mengantuk. Dia tidak boleh terlalu banyak bergerak atau energinya akan terkuras habis. Dirinya mulai cemas andai mereka terus melakukannya dan berhasil menerobos masuk pada tengah malam nanti, mereka semakin kuat dan dia semakin lemah. Apakah teman-temannya akan mampu bertahan?

Matanya melirik Kia, banyak dari gadis itu yang mengingatkannya pada Caesar. Cara dia menatap, dan siapa pribadinya. Kecuali Caesar adalah seorang pria dan Kia seorang wanita. Mereka sama-sama seorang seer dan elementer es. Tergelitik oleh Jake untuk berpikir bahwa mungkin Kia adalah anak Caesar karena miripnya. Namun dia segera menertawakan pikiran tersebut.

"Bagaimana denganmu? Tidakkah bulan Indigo ini menyebalkan?" tanya Jake.

"Aku tidak terlalu mengandalkan Aether sepanjang hidup, mungkin itu sebabnya aku tidak begitu menderita dengan oksigen seperti kau," balas Kia sambil memalingkan wajah.

Dulu pada saat bulan Indigo tiba, dia selalu menjadi lebih malas dari biasanya, dia ingin tidur saja karena begitu lemasnya. Tapi Caesar akan menyiramnya dengan air, masih dengan wajahnya yang senantiasa santai lalu mengatakan, "jangan terlalu mengandalkan Aether, anak muda. Kau akan menjadi tidak berguna saat bulan Indigo tiba."

Dia masih ingat Caesar akan memaksanya berlari melintasi hutan dari bukit satu ke bukit lainnya. Dan semua latihan fisik itu tidak pernah berhenti sekalipun bulan Indigo tiba.

Suatu hari di malam dimana bulan Indigo bersinar di langit, Caesar membawanya berjalan menembus hutan. Tidak ada jalan setapak di hutan itu, jadi mereka memotong ilalang dan semak liar untuk membuka jalan.

"Awas lintah, kau tidak pernah tahu apa yang kau injak di lantai hutan." Kata Caesar.

"Kita kemana, Caesar? Aku ngantuk."

"Kita sengaja menunggu malam hari."

"Haruskah di malam menyebalkan ini?"

Caesar menoleh padanya sejenak, kemudian menjawab, "ya."

Awalnya Jacques hanya mengeluh sambil terus mengikuti si jangkung Caesar. Setelah orang ini memungutnya sebagai murid, Jacques tinggal di hutan-hutan dan bukit di sekitar perbatasan antara Detteroa dan Karibalum. Tapi dia tidak keberatan, semua ini tidak membosankan daripada dikejar-kejar oleh Robin Fooley si protagon jalanan yang masih saja menghantui mimpi-mimpinya.

"Bukankah seseorang datang memberimu tantangan tadi siang di kota?"

"Benar."

"Dia minta kau mengambil sesuatu di puncak bukit Teolor, kan?"

"Yap, aku senang kau memperhatikan hal-hal di sekitarmu dengan baik, Jacques."

"Tapi kau bodoh. Kau harusnya tahu bukit Teolor tidak bisa dikunjungi. Siapapun yang datang ke sana akan meleleh oleh udara panas di gunung itu. Aku pernah melihat Jargo pergi ke sana dan kembali dengan kulit yang menyatu dengan pakaian pelindungnya. Kemudian dia bunuh diri karena tidak ada gadis yang mau dengannya. Ha ha ha!" bocah itu tertawa.

Caesar hanya membalas dengan senyum ringan tanpa membalas dengan ucapan apapun. Mereka berdua terus berjalan melintasi hutan hingga tiba di kaki bukit Teolor.

Letak bukit itu ada di utara, dimana salju-salju menutupi tanah dan pinus-pinus roboh karena timbunan salju pada dahannya. Tapi bukit itu gundul sama sekali. Tidak ada rumput, pohon, apalagi hewan yang tinggal di sana. Persis di puncak gunung itu, berdiri sebuah kuil sederhana dengan cahaya kecil yang berkilau pada puncaknya.

"Kau lihat cahaya itu, Jacques?"

"Itukah yang harus kau ambil?"

"Benar, batu filusuf."

"Wow! Batu yang bisa mengabulkan beragam permintaan dan memberi keberuntungan pada pemiliknya itu, kan?"

"Kau benar lagi, nak. Pintar. Mari kita ambil!"

Saat Caesar mengangkat kakinya, Jacques menahannya dengan kuat. "Tunggu dulu! Jangan ke sana, Caesar! Kau bisa hangus oleh racun yang naik dari tanah bukit itu!"

"Begitulah kata legendanya, Jacques."

"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau masih melakukannya? Kau bodoh ya?!"

Caesar mengeluarkan sesuatu dari sebuah kantung di pinggangnya. "Ini adalah garam kabut, kabut yang mengendap. Kau tahu, bukan, bila kau melewati kabut, nafasmu akan membuat kabut menjadi berwarna seperti pelangi, karena kau mengembuskan Aether dari nafasmu."

"Maksudmu, kau membekukan kabut itu?"

"Lumayan loh kalau dijual ke tempat-tempat guild," kata Caesar. "Satu gram bisa mencapai 200 silver."

"Kenapa mereka mau membayar semahal itu?"

"Karena di tempat-tempat baru, mereka tidak pernah tahu apa yang mereka temukan. Dan di tempat baru itu selalu saja ada tempat yang dilindungi seseorang menggunakan kekuatan sihir. Mereka memerlukan benda ini untuk berhati-hati." Selesai berkata demikian, Caesar menaburkan garam kabut tersebut ke bukit Teolor. Di udara, serpihan garam itu berubah warna menjadi pelangi merah saat mereka tiba di daerah Teolor.

"Itu berarti tempat ini dipenuhi oleh medan Aether. Seseorang pernah melepaskan mantra yang membuat tempat ini mampu melelehkan apapun yang melewatinya, semua untuk melindungi batu filusuf di atas sana. Tapi berterima kasihlah pada bulan Indigo ..." Caesar melompat, mendarat di bukit Teolor.

"Medan ini tidak bisa berbuat apapun ... hanya untuk malam ini saja."

"Wow...!"

"Ayo, tunggu apa lagi? Ambil batu filusuf itu dan kita beli makanan paling enak di Detteroa."

"Hei, Caesar, tunggu aku!"

Melihat orang-orang ini, Jake menyadari sesuatu. Mereka benar-benar menggila, mengamuk tanpa akal dan kesadaran diri. Mungkin Ludwig benar, mereka adalah zombi.

"Hei, Gabe," panggil Jake. "Bila kau seorang master yang menguasai teknik Aether, apa yang kau lakukan bila kau terdampar di tempat seperti ini?"

"Mungkin aku akan menghanguskannya sebelum ada orang lain juga yang terdampar sepertiku." Jawab Gabe, acuh tak acuh, lengannya sedang diobati oleh Kia.

"Atau menyegelnya." Bisik Jake.

Perlahan dia melihat kawanan zombi itu mulai berkurang. Entah kenapa sepertinya mereka lebih sedikit daripada tadi saat terakhir Jake melihat mereka.

"Sepertinya mereka sudah bubar," ujar Jake.

"Pasti membosankan mengetuk pintu dan tidak segera mendapatkan jawaban dari dalam. Aku pernah magang di penerbitan sebagai sales buku," kata Gabe.

"Kurasa kita bisa kabur sekarang. Kita akan hajar mereka dan menerobos keluar dari desa keparat ini, keluar dari Hoffenburg. Terserah di Benedito mau apa dengan Warognya." Jake mulai mendorong lemari untuk menyingkir dari pintu.

"Tidak bisakah menunggu besok saja? Mereka pasti sudah kembali seperti semula besok."

Jake terus menyingkirkan perabotan-perabotan yang menumpuk itu. "Tadi saat kau berpelukan dengan nona cengeng itu di kamar penginapan, nona judes itu berkata bahwa dia melihat di Benedito sedang menyeberangi rawa. Dia sedang mengagumi wajah si Banshee yang kau penggal kemarin."

"Benarkah itu, Kia?"

"Muncul begitu saja dalam kepalaku."

"Dan aku akan menghargai sedikit bantuan di sini." Jake menatap Gabe, dan pemuda itu memberi isyarat dia tidak bisa karena sedang diobati. Saat dia menatap Kia, gadis itu tidak bisa karena sedang mengobati. Saat dia menatap Ludwig, lelaki tua itu mendadak sakit pinggang.

"Hei, kamu!" dia menunjuk Jane yang menganggur.

"A-aku tidak bisa, aku perempuan, aku tidak punya tenaga ..."

"Kemari atau kulempar kau ke kawanan zombi itu."

Diancam begitu, Jane segera manyun, berdiri dan sambil bersungut-sungut membantu Jake menyingkirkan meja, kursi dan lemari yang menahan pintu penginapan.

"Uh ... kenapa sih meja itu berat? Kenapa meja tidak ringan? Kenapa sih kita harus menahan semua ini di pintu? Kenapa harus sebanyak ini? kenapa sih harus ada zombi? Kenapa zombi harus mengejar kita? Kenapa zombi selalu agresif sih? Kenapa sih aku yang disuruh membantu?"

Jake berhenti menyingkirkan sebongkah kursi untuk mengorek lubang telinganya. Wajahnya terlihat sangat terganggu.

"Hei, non. Kurasa kudamu kabur bukan gara-gara kelelahan. Tapi gara-gara kau terlalu cerewet!" bentak Jake.

"Kurang ajar kau! Masih untung kubantu! Sekarang tidak ada Aether kau baru bisa rasakan bagaimana kita manusia biasa hidup, ya! Harusnya kau introspeksi diri! Ngaca! Ngaca yang bener! Jangan sombong mentang-mentang kuat! kelak aku akan cari cara untuk menempelkan bulan Indigo di belakangmu biar kamu ga bisa menghirup Aether seumur hidup! Biar kesombonganmu itu membuatmu malu!"

Jake pun hilang kesabaran, "berisik sekali sih?! Aku melakukan ini semua juga demi kita bersama juga! Kita harus pergi dari sini sebelum penjahat itu tiba di sini!"

"Sudah, sudah, jangan bertengkar!" Gabe berdiri untuk melerai mereka berdua. "Ayo, Kia, kita singkirkan semua perabotan ini."

Sementara keempat pemuda itu bekerja, Ludwig pergi ke dapur untuk mengambil air. Dari jendela pintu belakang dia mampu melihat sesuatu di luar sana, dan apa yang dia lihat bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Cepat-cepat dia kembali ke depan dengan tergopoh-gopoh. "K-kalian! Zombi-zombi itu tidak menghilang! Mereka memutar ke pintu belakang!"

Jane yang paling cepat bereaksi, "apa?! Ayo cepat singkirkan semua benda ini! kenapa sih kalian malas sekali! Lambat sekali, yang kuat sedikit kenapa?! Kau biasanya sok kuat dan sok paling bertenaga, sekarang jadi loyo dan tidak berguna!"

"Aku benci perempuan ini ..." Jake menggeram sambil terus menyingkirkan perabotan di depan pintu. Ketika tinggal satu kursi saja, Jake menyuruh mereka bersiap.

"Oke, begini rencananya. Segera setelah kusingkirkan ini, aku akan menerobos keluar. Aku akan melumpuhkan mereka, dan setelah itu kalian baru boleh keluar. Larilah ke arah selatan sampai bertemu rawa. Jelas?"

"Selatan? Rawa? Maksudmu ... hei! Di sana kan ada ksatria tanpa kepala itu?! jangan ke sana!" seru Jane.

Tapi Jake segera berkata, "jangan dengarkan orang bodoh bicara, percayalah pada tentara bayaran yang sudah menelan banyak pengalaman dan petualangan! Siap?"

Gabe dan Kia bersiap untuk menyingkirkan kursi terakhir. Sementara itu Jane memikirkan siasat balas dendam dalam kepalanya. Dia harus bisa membalas si beringas berotak kecil ini! Apapun caranya!

Meja disingkirkan, pintu tersibak terbuka, dengan pisau daging di tangan, Jake mengayunkan senjatanya dengan kuat menebas kepala demi kepala, tangan demi tangan sehingga tidak ada yang mampu melukai teman-temannya lagi.

"Sekarang, larilah kalian!" serunya.

"Kakek, ikutlah!" kata Jane.

Tapi Ludwig tersenyum pasrah. "Aku sudah terlalu tua untuk semua itu. Kalau aku ikut, hanya akan membebani kalian saja. Sudah pergilah sana, aku akan menemukan tempat untuk bersembunyi dari mereka."

"Apa? Jangan begitu, kakek! Ikutlah! Biar si Jake menggendongmu!" kata Jane dengan enaknya.

"Hei! Sembarangan saja bicara!" bentak Jake, kemudian dia berpaling pada Ludwig, "kalau begitu, sampai kita berjumpa lagi."

"Ya, ya, pergilah cepat, sana! Aku juga harus cepat." Kakek itu menaiki lantai dua dan menghilang di atas.

Keempat pemuda itu bergegas menuju selatan, keluar dari Raffenwald yang semakin gelap. Sekalipun medan Aether sudah menghilang, namun kecepatan lari Jake masih lebih cepat dibanding yang lain.

Jane tersangkut roknya sendiri dan jatuh ke atas tanah dan menjerit, kakinya terluka dan lututnya gemetaran saat dia mencoba untuk menggerakannya.

"Mari, nona Jane, biar kugendong," Gabe menawarkan punggungnya.

"Terima kasih, Gabe, kamu baik sekali,... tidak seperti beringasan tidak berguna yang cuma tau nafsu saja!" kata Jane sambil merangkul leher Gabe dan menyindir seseorang.

Tapi melihat sahabatnya yang sedang penuh luka itu, Jake maju untuk menggantikannya, "sudah, biar aku saja."

"Awas kalau kau menjatuhkan aku! Aku akan jadi hantu dan menghantuimu seumur hidup. Kau takkan bisa hidup tenang!"

"Kebetulan aku kenal seorang necromancer, dia bersedia membayar beberapa ratus perak demi sesosok jiwa." Kata Jake, singkat, segera membungkam Jane.

Tangan Kia menyentuh lengan Jake, jari-jarinya menekan kuat seakan meminta Jake untuk mendengarkannya. "Mereka sudah di sini, Jake! Teman-temanmu itu!"

"Tapi kita tidak mungkin diam di sini." Jake memandangi kumpulan zombi es yang sedang tertatih-tatih mengejar mereka.

"Kita bisa menembus persawahan, siapa tahu di sana tidak dijaga." Kata Gabe.

Maka mereka melewati persawahan, menyeberangi tanah bergambut dan becek. Padi baru saja ditanam, dan terpikirlah oleh Gabe apakah padi ini juga zombi seperti para hewan yang terjebak di Raffenwald itu?

Melewati dinding kabut yang gelap, mereka sampai di luar Raffenwald. Hari sudah mulai senja, dan puluhan crossbow teracung mengepung mereka.

Seseorang berambut pirang panjang sampai ke pantat duduk di atas kuda menghampiri keempat pemuda dengan kaki penuh lumpur itu dan menyapa dengan ramah.

"Halo, Jake Lancer."

Pemuda itu hanya terdiam membalas sapaan ramah di Benedito dengan geram.

"Aku tahu, kau pasti bertanya-tanya, ... bukankah seerku mengatakan bahwa Angelo di Benedito menungguku di pintu keluar desa? Kenapa dia ada di sawah juga? Aku tidak akan membuatmu penasaran, Jake, aku juga punya seer."

Seseorang bermantel kelabu berjalan mengikuti di Benedito. Tubuhnya cukup jangkung, namun wajahnya tertutup kain, yang terlihat hanya bagian bawah hidung dan bibirnya saja. Entah mengapa Jake tidak suka ini. Mungkin sebaiknya dia berharap bahwa semua itu hanya pikiran dan prasangkanya saja. Terutama saat dia melihat senyum penuh percaya diri di bibir seer itu. Senyum tipis yang membuat kedua pipinya jadi terlipat cukup dalam.

Tidak, tidak mungkin Caesar ada di sini.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top