Einherjar dan Valkyrie
Mata kapak Nerod menemukan kepala Jake, dan sesuatu mencuat keluar dari rongga matanya. Entah apa. Tapi yang diketahui Jake, mata kirinya tidak bisa dibuka dan banjir darah meluap dari sana.
Dia sudah lelah. Memaksa tubuhnya bergerak jauh lebih kuat dari yang biasa untuk mengimbangi beast yang bernafas Aether ini, dan mengeluarkan semburan-semburan api panas dari tinjunya berulang kali. Semuanya sia-sia, Nerod selalu bisa memadamkan apinya dengan empasan angin. Pada akhirnya, di sinilah dia sekarang, berbaring dengan tubuh diinjak oleh telapak kaki besar berjari tiga dengan selaput yang besar.
"Wah, capeknya. Oke, aku akui, aku kalah kali ini. Selamat, kadal!!" seru Jake sambil tertawa. Ia masih bisa merasakan darah mengucur deras dari mata kirinya.
Nerod mengusap dagunya, "hmm penggal atau mutilasi sampai mati ya?"
"Hahaha ... tak punya nyali melihat mayat terpenggal?!" tantang Jake.
Kata-kata "nyali" seakan menantangnya sampai ke inti jiwa si lizzardman, dia menyiapkan kapaknya yang masih mulus tinggi-tinggi di udara. "Kuperlihatkan padamu bagaimana rasanya kepala terpenggal!"
Terjadi perubahan udara di sekitar mereka dan Nerod terpaku. Insting beastnya yang tajam memberitahukannya bahwa ada sesuatu yang datang. Sesuatu yang berbahaya. Ada makhluk yang sepenuhnya terbuat dari kebencian, dendam, kesedihan, marah, dan semacamnya.
Sebelum dia melihat siapa yang datang, suara hempasan besi berat membelah udara terdengar. Kepala Nerod terguling jatuh dari tempatnya dan masuk ke dalam rawa. Hal terakhir yang dilihat lizzardman itu, setengah dari kepalanya masuk ke dalam kolam air berwarna hitam, sehitam neraka.
Tubuh manusia reptil yang beratnya sekitar seratus kilogram itu jatuh menimpa Jake. Menggunakan kekuatannya yang tersisa, pemuda itu mendorong ongokan tubuh tak bernyawa tersebut ke sisi kiri dan mencoba untuk berdiri.
Sesuatu menyengat pinggangnya. Saat dia menggunakan tangannya untuk menyentuh bagian yang sakit itu, darah segar menggumpal di sana.
"Jake! Kau tidak apa-apa?" terdengar seruan Jane dari suatu tempat.
Saat Jake mencoba mencarinya, dia tidak menemukan seorang gadis mungil dengan pakaian rok panjang yang harus diangkat bagian depannya dulu saat berjalan. Dia melihat sebilah pedang besar terbuat dari besi berkualitas tinggi, berkilauan dengan percikan-percikan listrik menjelajahi permukaannya. Ada kepala Dragon di antara pegangan dan pedangnya. Itukah pedang yang diceritakan Kia?
"Hei, perempuan! Kau yang penggal kepala kadal itu?" tanya Jake, setengah tidak percaya. Satu-satunya hal yang membuatnya percaya adalah tidak ada orang lain di sekitar sini yang kira-kira mampu melakukannya.
"Bu-bukan aku ..." wajah Jane terlihat benar-benar bingung, seakan dia baru saja melihat seorang manusia meledak tanpa sebab di depan matanya.
"Kalau bukan kamu, lalu siapa?"
"Pe-pedangnya ... pedangnya bergerak sendiri. Aku tidak bisa melepaskannya ..." dia terlihat ketakutan sekarang.
Jake mencoba bangkit, namun kakinya terasa lemah dan gemetar. Pasti gara-gara luka dalam di kakinya ini. Andai ada elementer air di sini, semua penderitaan ini akan segera sembuh.
"Jangan banyak bergerak, kau berlumur darah ... nanti kamu bisa mati ..."
Jake tertawa ringan. Dia mencari-cari sesuatu pada tas kecil di belakang pinggangnya, kemudian menemukan ada kristal sihir yang mengeluarkan kilau cahaya warna biru muda. Dia mendekatkan kristal itu pada hidungnya, kemudian mencoba menghirup Aether elementer air yang terpenjara dalam kristal tersebut.
Satu tarikan nafas, Jake memfokuskan pikirannya pada luka yang paling menyakitkan, pada bagian mata. Tentunya dia tidak bisa melihat ada kilauan pelangi seperti taburan berlian di sekitar matanya yang terluka, dan kemudian menyembuhkan luka-lukanya. Setelah tiga helaan nafas, Jake bisa merasakan matanya telah sembuh. Tapi saat dia mencoba membukanya, hanya ada kegelapan.
"Sial ... sepertinya bola mataku terlepas dari tubuh ..." gumam Jake, mencoba untuk mencari bola mata kirinya di sekitar sini.
"Ihh ... kenapa sih harus kau ucapkan? Kenapa tidak kau simpan sendiri saja?! Jijik, tahu! Seram ..." gerutu Jane. Dia melompat turun dan mendekati Jake. Dan bila melihat dari ekspresi wajah gadis itu yang tampak seakan dia tidak tahu apa yang dia lakukan, Jake bisa menebak bahwa gadis itu masih berada dalam pengaruh pedang.
Sekali lagi, Jake menghirup kristal air di tangannya. Kilau cahayanya mulai pudar, karena dia elementer api, energi yang digunakan jauh lebih besar daripada energi yang harusnya bisa digunakan secara normal. Kali ini dia fokus pada bagian vitalnya di pinggang yang terluka. Sepertinya hatinya robek oleh serangan kapak Nerod.
Di hadapannya, Jane memutar pedang itu, gerakan tubuhnya seperti seorang pendekar pedang yang sudah sangat mahir. Pedang itu kemudian ditancapkan di atas tanah rawa yang hitam, dan Jane memeganginya dengan kedua tangan.
"Apa yang terjadi padaku?" dalam hati, Jane sangat takut bila pedang ini membuatnya bergerak untuk membunuh Jake. Bila itu terjadi, dia tidak tahu apakah bisa memaafkan dirinya sendiri atau tidak.
"Andai aku tahu," jawab Jake dengan lega, mengetahui rasa sakit di pinggangnya telah sembuh. Tapi kristal itu telah kehabisan energi, dan seorang elementer air yang harus mengisinya kembali. Jake memasukkannya kembali ke dalam tas di pinggang belakangnya. "Habislah sudah kristal airku satu-satunya. Benda ini mahal sekali, bila kau ingin tahu."
"Aku ingin tahu apa yang pedang ini inginkan dariku!" rengek Jane.
Tak lama, penglihatannya membuyar, dan Jane merasakan tubuhnya begitu santai dan ringan. Hal terakhir yang dilihatnya, pedang itu berkilau tertutup cahaya dan seperti ular yang gesit, dia menyusup ke dalam badan Jane.
***
Cahaya mengelilingi Jane, dan gadis itu merasa seakan sedang melayang dalam kehampaan yang manis. Sejenak dia tidak bisa merasakan tubuhnya sama sekali, dia bahkan tidak ingat bahwa dia punya tubuh.
Jane hanya melihat, melihat dan mendengar.
Dia melihat sesosok pemuda yang mampu menciptakan gulungan angin taifun dengan ayunan tangannya. Dia juga seorang pendekar pedang membawa pedang di pingang yang bisa menyemburkan udara menyayat dari sana.
Dia menebang pohon tidak menggunakan pedang itu, tapi dia mengayunkan pedangnya dan membiarkan angin yang melesat dari tiupan pedangnya itu membelah pohon besar di hadapannya.
"Namaku Faolan," terdengar suara rendah dan dingin seperti air kolam. Dari suaranya saja sudah terasa hatinya yang baik.
Jane melihat lelaki itu di sudut ruangan sebuah istana yang dipenuhi oleh lelaki berpakaian pelindung besi. Dia terasing dari keramaian, matanya melirik kepada seseorang di seberang ruangan. Di sana ada seorang gadis cantik, rambutnya coklat kemerahan. Bergulung-gulung seperti spiral, tampak cantik dengan gaun kuningnya yang sederhana. Dengan malu-malu, dia membalas senyum pemuda itu.
"Terima kasih sudah membangunkanku. Aku sudah menyelamatkan temanmu, seperti yang kau inginkan."
Sekilas pandang, Jane yakin dia melihat bayangan seorang pemuda dengan postur tubuh tegap dengan rambut hitam. Dia tidak mampu melihat wajah itu, tapi dia yakin ada kumis dan janggut tipis di wajahnya.
"Aku harus pulang ke Hoffenburg ..." katanya lagi, "Yseult...aku harus melihat Yseult ..."
"Siapa kau?" tanya Jane pada akhirnya.
"Faolan."
Saat terbangun dari mimpi, Jane merasakan kepalanya terasa plong. Dia terbangun di titik perkemahan yang sama dengan hari dimana dia bertemu Kia untuk pertama kalinya.
"Sudah bangun?" tanya Jake di seberang perapian.
Ingin rasanya Jane menganggap semua itu sebagai mimpi. Termasuk lizzardman yang mengejar mereka. Tapi Jake sudah bersih, dan sehelai kain yang menutupi mata kirinya memberitahu Jane bahwa semua itu tadi bukanlah mimpi.
"Oh tidak, matamu ..."
Jake angkat bahu, tidak terlihat senang. "Cuma mata."
"Apakah buta permanen?"
Jake menggeram, tadi dia menemukan jaringan organ tubuh terkapar di lantai rawa berbentuk bola kecil dengan warna coklat kemerahan. "Ya, aku yakin Kia pun tidak bisa menyembuhkannya."
Jane menggigit bibir.
"Jangan khawatir, Jake, kamu masih tampan, kok. Para gadis di luar sana pasti mau menjadi pacarmu."
Jake menyeringai, "apakah cuma itu yang ada di kepalamu? Mencari pacar?"
"Setiap orang memang mencari pacar, kan? Pada akhirnya kita semua harus menikah, lalu punya anak, membesarkan anak, dan menikmati hari tua."
Jake memutar matanya sambil mendengus.
"Memangnya kamu tidak punya cita-cita, Jake?"
"Ada. Dulu."
"Apa itu?"
Jadi sekarang Jake harus menceritakan bagaimana inginnya dia menjadi seorang protagon sejak kecil dulu, hingga akhirnya dia semakin beranjak dewasa dan setelah terjun ke dalam realitanya, dia mengerti betapa munafiknya para protagon itu?
"Ah sudahlah, bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diceritakan."
"Ayolah, ceritakan!" dalam hati Jane mengira pasti ada impian masa kecil yang benar-benar berlawanan dengan apa yang dilakukan Jake sekarang. Bukan hal baru lagi baginya untuk melihat seorang pria kasar yang ingin menjadi penyanyi lagu balada di bar-bar, atau seorang pembunuh berdarah dingin yang sesungguhnya ingin menjadi seorang jester. Mungkin Jake tidak sekasar yang sesungguhnya, mungkin impiannya sangat manis sehingga dia harus menutupinya dengan sikap kasar.
"Ngomong-ngomong, sementara kamu pingsan tadi, aku berkeliling melihat-lihat hutan ini dan menemukan kabin. Mau lihat?"
Sungguh, sebenarnya niat Jake hanya mengalihkan topik pembicaraan. Bila Tuhan ada, dia pun tahu itu. Tapi mendengar kata "kabin di tengah hutan", terlebih mereka hanya berduaan saja sekarang, imajinasi Jane menggelandang.
"Kabin?" tanya Jane, hati-hati. "Ada apa di sana?"
"Ada dapur tempa, dan ranjang besar yang sudah dipenuhi dedaunan kering. Letaknya cukup sunyi dan mungkin kita bisa memasak sesuatu di sana."
Jane langsung melompat berdiri dan memasang kedua tangan terkepal di depan dada, "tidak! Tidak usah! Kau jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya! Kau pikir aku tidak tahu niat mesummu di sana?!"
"Mesum?"
"Jangan berpura-pura lagi! Mentang-mentang aku sendirian sekarang, lalu kau bisa mengambil manfaat dariku?! Jangan harap!"
"Kamu ini ngomong apa sih? Gak nyambung!" dengan kesal, Jake bangkit berdiri dan membersihkan celananya dari daun-daun berguguran. "Ya sudah kalau kau tidak tertarik, aku mau ke sana sendirian saja."
Jake pergi.
Sepeninggal Jake, ada angin bertiup dari rawa. Malam masih panjang, mungkin sebentar lagi subuh? Atau mungkin juga sekarang baru tengah malam.
Sesuatu yang aneh disadari oleh Jane. Suara dengkungan. Menyusul kemudian, suara kelebatan kelelawar di pohon. Dan akhirnya suara burung hantu. Sesuatu membujuknya untuk menengok ke rawa, dan Jane berhati-hati berjalan ke sana.
Semakin dekat, terdengar suara derik jangkrik dari sana. Rawa itu masih hitam, tapi itu karena gelap. Ada sesuatu yang berwarna kehijauan kini mewarnai air rawa. Saat Jane berlutut di tepi rawa untuk menciduk sedikit air dengan tangannya, dia melihat air rawa itu tidak lagi hitam. Warnanya kini bening walau masih diselimuti ganggang hijau di bagian atasnya.
Sesuatu yang luar biasa melegakan mendorong Jane untuk mengembangkan senyum. Dia ingin tahu apa yang terjadi, kenapa mendadak rawa ini berubah, tapi hanya Jake yang bisa ditanya dan orang itu sudah kabur ke suatu tempat. Jane berlari menyusulnya, mencoba mencari sambil memanggil namanya.
Orang itu muncul dengan kedua tangan di pinggang, wajahnya terlihat kesal. "Tadi tidak mau ikut? Sekarang ketakutan."
"Bukan, aku bukan ketakutan kok!" sahut Jane dengan ketus. "Jake, rawanya sudah berubah! Pada saat pertama datang ke sini, rawanya berbau anyir! Sama sekali tidak ada suara serangga ataupun hewan-hewan malam. Tapi sekarang ada! Sesuatu telah terjadi di sana, semua berubah normal! Kau tahu apa yang terjadi?"
Jake menutup bibirnya dengan jari-jari tangannya, mencoba berpikir sebentar. "Yang kutahu, kau mengambil pedang aneh itu tadi, kan?"
"Jadi maksudmu ada hubungannya?"
"Andai aku tahu bagaimana tempat ini pada malam bulan Indigo, mungkin aku bisa lebih memastikan. Tapi kurasa memang gara-gara pedang itu."
"Oh ya! Mana pedang itu? Mana mungkin pedang sebesar itu hilang entah ke mana?"
Jake menunjuk dada Jane dengan kedua jarinya. Refleks, gadis itu melonjak mundur sambil menutupi dadanya. Tatapannya pada Jake cukup galak, siap mencakar wajah orang itu bila dia berani pegang-pegang!
"Maksudku, pedang itu ada di dalam tubuhmu." Jake berpaling ke arah berlawanan dan berjalan ke sana.
"Hei, yang benar saja! Mana mungkin ada pedang bisa masuk ke badan orang? Apalagi pedang besar seperti itu!" Jane berusaha untuk tetap berada di belakang Jake dan tidak tertinggal.
Jake menjelaskan, "pedang itu berubah menjadi cahaya, udara yang bisa kau hirup dan masuk ke dalam tubuhmu. Begitu saja."
"Maksudmu, aku bernafas Aether sekarang?" gadis itu menghirup udara dalam-dalam. "Jadi seperti ini rasanya Aether ... segar juga."
Jake tertawa mengejek, "belum tentu kau langsung bisa menghirup Aether dengan cara begitu. Kalau mau tahu, coba kau cari wilayah berkabut pekat dan bernafas di sana. Kalau asap di sekitar nafasmu jadi pelangi, maka kau sudah menghirup Aether."
"Oh ya, tadi berapa lama aku pingsan?"
"Cuma sebentar. Kau pingsan, jadi kubawa ke perkemahan, setelah itu aku mencari air dan kebetulan menemukan kabin itu." Jawab Jake.
"Ah baik sekali kamu, mau repot-repot mencarikan air dan menggendongku ke tempat aman ..."
"Sebenarnya aku mencari air untuk mencuci wajahku yang berlumuran darah sih, dan aku menyeretmu sampai ke perkemahan."
"Apa?! Dasar tidak berperasaan! Kau ini dididik untuk menghargai wanita atau tidak sih waktu masih kecil?! Lelaki sejati mana yang menyeret perempuan pingsan?! Eh, kau tidak macam-macam denganku selama itu, kan?!"
Jake berhenti berjalan dan menghadapi Jane, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh. "Nona Jane Rodinger yang menuntut untuk jadi terhormat, ... kekasih sejatiku ada di Detteroa sana. Namanya Gloriana Ettlehart. Dan aku tidak tertarik untuk macam-macam denganmu karena dia selalu ada dalam hatiku. Jadi, jangan khawatir."
"Glorian ... oh gadis yang di liontin emas itu ya? Ahahaha ... ternyata kau ini tukang ngarep juga ya? Sudahlah, dia akan menikah dengan mantan ketua klanmu yang kaya raya itu. Kamu harus mencari orang lain, move on dong!"
Hampir saja Jane menabrak punggung Jake sekali lagi karena orang itu lagi-lagi berhenti berjalan secara mendadak. Penuh dendam, Jane memukul bahu kokoh itu dengan telapak tangannya.
"Nah, itu kabinnya. Aku belum sempat memeriksa tadi."
Jane memperhatikan kabin itu baik-baik, dan dia langsung merinding. Kabin itu tampak menyatu dengan pohon besar yang menjadi tiang tengahnya, ukurannya cukup kecil dan memiliki semacam tungku pada halaman luarnya. Dari atapnya terbangun dari papan-papan kayu, dan dindingnya tersusun dari bebatuan yang dicampur dengan tanah liat. Sepanjang sisinya terselimuti sulur-sulur tanaman rambat dan lumut sudah memenuhi sebagian besar dindingnya.
Menilai dari ukuran perabotan dan pintunya, Jake menebak siapapun yang tinggal di sini adalah sesosok raksasa.
"Kelihatannya mengerikan," Jane meringis jijik.
"Kalau takut, di sini saja," tidak sabar, Jake bergegas menuju pintu kabin itu. Dia memeriksa tempat dengan tungku yang padam itu sejenak.
Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa tempat ini adalah bengkel tempa. Ada cekungan berisi debu dan ranting serta dedaunan kering di dalamnya, seharusnya wadah itu berisi air untuk quenching besi yang sudah selesai ditempa. Ada sesuatu di dalam tungku api yang seharusnya bertemperatur tinggi itu. Melalui kilau dari tangannya, Jake mampu melihat ke dalam tungku, dan dia menemukan sesuatu yang bergerak.
Sepasang mata menatapnya tak berkedip. Cahaya yang terpantul di matanya menampakkan warna merah membara.
"Jadi, tempat apa ini?" tanya Jane, tidak berani menyentuh apapun yang ada di sini.
Jake meningalkan tungku, tak ingin mengusik ibu kucing hutan dan anak-anaknya yang sedang tertidur pulas itu.
"Bengkel tempa. Seseorang menempa sesuatu di sini."
"Jangan-jangan ... pedang besar itu." Jane menebak.
"Mungkin. Tapi kita belum tahu juga. Mungkin dia hanya penempa yang menghindari keramaian, dan membuat pisau dapur atau tapal kuda saja. Kurasa jawabannya ada di dalam kabin."
"Tuh kan, ini memang rumah tempat pedang itu ditempa," gerutu Jane sambil mengikuti Jake yang bergegas ke pintu kabin dan tercengang melihat betapa tinggi pintu itu.
"Jangan berharap banyak dulu. Melihat bagaimana pedang itu dipenuhi medan energi Aether, kurasa belum ada seorang penempapun yang bisa melakukannya. Atau mungkin juga, pedang itu tidak ditempa." Dengan sedikit sentakan, Jake berhasil membuka pintu kabin yang macet karena banyak tanaman merambat yang memenuhi celah-celah pintunya.
Bagian dalam kabin itu tidak lebih baik dari penampakan luarnya. Baru saja masuk, Jake sudah melihat ada ular kecil merayap melarikan diri dan menghilang ke luar jendela. Dia butuh cahaya, Jake membentuk telapak tangannya seperti mangkuk dan sekepul lidah api keluar dari sana. Lidah api itu dikendalikannya dengan pikiran, bila Jake ingin melihat ke arah kanan, lidah api itu bergerak ke kanan. Bila Jake ingin melihat lebih jauh, lidah api itu akan berkeliling ke sudut-sudut ruangan.
Tapi kabin itu bukan sesuatu yang luas dan rumit untuk dijelajahi. Di sisi kanan ada ranjang besar setinggi pinggang, siapapun yang menggunakan ranjang ini adalah seseorang dengan tubuh raksasa, bila bukan memiliki istri obsesitas. Ranjang itu sudah lapuk dan robek karena digerogoti waktu. Warnanya pun sudah pudar menjadi putih kusam bercampur tanah dan dedaunan kering. Seekor musang mengawasi Jake dari atas ranjang itu, kemudian memutuskan untuk kabur lewat jendela yang terbuka.
"Sudah berapa lama berlalu sejak pemilik kabin ini meninggal dunia?" Jake memandangi sesuatu di meja makan. Sesuatu yang membuat Jane merapat padanya dan memejamkan mata.
Baru kali ini Jake melihat ada makhluk yang lebih tinggi daripada Caesar, dan bukan seorang beast. Sosok itu seperti manusia, berahang kokoh dan kulitnya sudah menghitam. Serpihan kain masih membalut tubuhnya, walau sudah mengusam. Rambut-rambut perak yang tumbuh di kepalanya masih utuh. Rambut itu mohawk dan warnanya perak dimana bayangannya berwarna kebiruan.
"Srikandarv ..." bisik Jake.
"Apa?"
"Srikandarv, tidak ada srikandarv di Gazawa?"
Jane menggelengkan kepala, tidak mengerti apa yang dibicarakan Jake.
"Srikandarv, mereka memiliki tubuh jangkung dan kekuatan yang sangat besar. Namun inteligensi mereka menyerupai binatang atau mungkin setara dengan anak usia 3 tahun. Sekalipun begitu, kekuatan mereka sangat besar dan diantara semua ras yang ada di dunia ini, srikandarv yang paling menguasai Aether dalam nafasnya. Jauh lebih dekat dengan Aether dibandingkan para aelf."
"Kalau aelf aku tahu ... mereka manusia jangkung bertubuh panjang yang sangat cerdas, kan? Katanya kepala mereka terlihat kebesaran dibandingkan proporsi tubuh mereka."
"Kalau itu sih semua orang juga tahu," Jake bergegas mendekati sosok mumi yang sedang duduk di meja makan itu. Di hadapannya hanya ada piring dengan sisa-sisa makanan, kacang-kacangan yang sudah mengkerut dan mengering, garpu sudah terlepas dari tangannya, tapi sendok masih berada di salah satu tangannya.
"Dia pasti sedang sarapan saat dia mati," Jake menyimpulkan, dan lebih tertegun lagi saat melihat ada sisa-sisa makanan di atas piringnya. "Hewan-hewan hutan keluar masuk kabin ini seperti rumah mereka sendiri, tapi mereka tidak menyentuh makanan penempa ini."
"Pasti orang yang sangat mengerikan sampai-sampai hewan takut padanya bahkan setelah dia jadi mayat." Sahut Jane.
"Kau pasti belum pernah bertemu srikandarv, Jane. Mereka berhati lembut sekalipun sosok mereka keras. Binatang menyukai mereka. Mereka seperti monster bertubuh manusia dan bisa bicara." Jake sudah berpaling dari mayat itu kepada rak buku yang tertanam di dinding berbahan tanah liat.
"Sangat berlawanan denganmu, kalau begitu. Kau berwajah ganteng tapi berhati monster," Jane pun sudah berpaling ke sekitar ranjang, melihat-lihat apakah dapat menemukan sesuatu di sana.
"Terima kasih atas pujiannya," Jake menemukan bahwa orang ini sangat menyukai sastra. Ada banyak sastra kuno yang menjadi koleksi dalam rak bukunya. Yang mengejutkan, ada beberapa buku berat di sana yang ditulis oleh Maldor Guvnar. Srikandarv membaca buku-buku berat? Ini aneh sekali.
Jane menemukan sesuatu di dinding. Tampak seperti ada guratan-guratan yang tertera di sana. Seseorang pernah mencorat-coret dinding ini menggunakan sesuatu yang berwarna hitam. "Jake, bisa kau ke sini?"
Jake meninggalkan rak buku itu dan menghampiri Jane. Lidah api melayang di belakangnya sehingga semakin jelas terlihat rentetan tulisan di dinding itu.
"Tulisan apa ini?" Jane mengernyit.
Jake mengamati tulisan tersebut. "Yang pasti ditulis menggunakan arang, mungkin berasal dari tungku tempa."
Kemudian dia melihat ada corak berulang beberapa kali dari rentetan kalimat itu. Ini bukan tulisan simbolis, tapi alfabet. "Yang pasti bukan huruf ras aelf. Andai Gabe di sini, dia mungkin tahu huruf apa ini."
Jane berkeliling ruangan untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menulis dan sesuatu yang bisa digunakan untuk ditulis. Dia akan menuliskan semua simbol-simbol itu semirip-miripnya sehingga kelak bisa menanyakan maknanya pada seseorang yang sekiranya tahu. Dia berhasil menemukan kertas, tapi tidak menemukan tinta.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku penasaran, aku ingin tahu apa bunyinya."
Jake mendengus, "penasaran? Ini hanya tulisan. Paling dia sedang mencatat indahnya pagi hari, mengingat dia suka sastra."
"Aku ingin tahu, Jake, aku yakin ada sesuatu yang emosional dalam tulisan itu." Sekarang setelah dipikir kembali, Jane pun tidak bisa memastikan darimana datangnya firasat yang membuatnya berpikir demikian. Gadis itu benar-benar merasa bahwa ini semua adalah pesan untuknya, bila bukan tentangnya.
"Kau ini memang selalu ingin ikut campur urusan orang, ya." Gerutu Jake, "kalau seperti itu terus, kau bisa cepat mati."
Namun saat Jane menatap dinding itu sekali lagi, Jake bisa melihat ada kilauan emas di mata gadis itu walau hanya sekilas. Sejenak, gadis itu jadi membeku, terpaku seakan ada yang menekan tombol berhenti di belakang lehernya.
"Jane?"
Jane bergerak. Dia bergerak cukup lamban namun benar-benar terarah. Dia bergerak menghadap dinding itu dan melangkah seperti seorang pria dan membaca tulisan tersebut dengan suara yang datar.
"Tidak seharusnya kalian mati seperti itu. Caleb, Vidarr, dan Faolan. Kalian adalah Einherjar, dan aku adalah Valkyrienya."
Kilauan emas di mata gadis itu terlihat sekali lagi, dan Jane terhuyung seperti badai sedang mengamuk dalam kepalanya. Dia menyentuh kepalanya sampai semua itu reda. Tanpa bisa dihentikannya, kedua tangannya jadi gemetar dan butiran keringat bermunculan di sekitar dahinya.
"Kau membacanya," kata Jake, takjub. Dia bahkan lupa berkedip karenanya.
"Apa?" Jane berdesis. Tatapannya sangat tegang seakan dia baru saja melihat ayahnya diseret ke neraka oleh puluhan setan.
"Kau barusan membaca tulisan itu."
Sekali lagi kilasan warna emas melintas di kedua mata coklat gadis itu. Jane kembali bersikap dingin. Posturnya jadi tegap terbusung, seakan dia seorang lelaki yang sangat gagah.
"Siapa kau?" tanya Jake, menyadari ada sesuatu yang salah. Dia tahu ada yang salah, terutama sejak dia melihat gadis lembek dan cengeng serta cerewet seperti itu bisa memegang pedang besar dan bergerak seperti jago pedang. Semakin sadar akan ada sesuatu yang buruk terjadi saat pedang itu berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam tubuh Jane.
"Faolan," jawab Jane.
"Kaukah pedang itu? Itukah nama pedang aneh itu? Faolan?" tanya Jake. Dengan waspada dia sudah siap untuk mempertahankan diri sekiranya si Faolan ini mau berbuat keras.
"Tidak ada waktu lagi. Besok adalah tahun ke seribu aku berpisah dengan Yseult. Dia masih tertidur di kastil Hoffenburg. Aku harus kembali." Kata sesuatu bernama Faolan yang menggunakan suara Jane.
"Hooo ... tunggu dulu. Kami hanya orang numpang lewat. Dan di sana ada Warog. Aku punya firasat kalau aku ke sana, sesuatu yang buruk akan terjadi. Lagipula, kami tidak tahu dimana kastil Hoffenburg itu berada. Maaf, kami tidak bisa membantu." Jawab Jake.
Jake benar-benar tidak melihat kapan pedang itu muncul kembali, tahu-tahu ujungnya yang tajam itu sudah menempel di lehernya. Begitu menyadari bahwa siapapun yang bernama Faolan ini bisa membunuhnya kapan pun dia mau, Jake membeku.
"Kau berhutang nyawa padaku," seseorang bernama Faolan itu mengingatkan.
"Aku punya satu pertanyaan untukmu,..."
Faolan memiringkan kepalanya, isyarat bagi Jake untuk mengungkapkan pertanyaannya itu.
"Bisakah kamu membunuh Dragon?"
Faolan menggeleng, "aku tidak bisa. Aku hanya ahli pedang elementer angin."
Sebelum Jake memutuskan untuk menolaknya sekali lagi, Faolan kembali berkata, "Tapi Caleb bisa."
Caleb? Jake mencoba mengingat nama itu. Dimana dia pernah dengar? Oh ya, barusan dia mendengar nama itu. Caleb, Vidarr dan Faolan.
"Caleb berdarah srikandarv, aelf dan manusia, dia pasti cukup kuat untuk mengalahkan Dragon." Kata Faolan.
"Wow. Lengkap sekali. Orang itu pasti sekuat srikandarv, secerdas aelf, dan selihai manusia. Jadi, di mana kita bisa bertemu Caleb?" tanya Jake.
"Caleb bersamaku. Vidarr juga. Tapi mereka masih tidur. Bila kamu membawaku ke kastil, aku akan bangunkan Caleb dan Vidarr." Faolan berjanji.
"Aku punya ide. Kenapa kamu tidak merasuki tubuh gadis itu saja sepenuhnya lalu pergi ke kastil sendiri? Kami tidak perlu mengantarmu." Jake masih mencoba mencari jalan untuk menghindari Angelo di Benedito dan seernya itu.
"Tidak bisa. Kalau kami terus mengambil alih kesadaran gadis ini, dia akan mati."
Sekarang Jake tidak mampu memikirkan apapun yang bisa membuatnya menghindari mantan ketua klannya dan mantan ayah angkatnya. Tak ada pilihan, dia harus mencari kastil Hoffenburg sekarang.
"Tapi kami tidak tahu dimana kastil itu berada," kata Jake.
"Aku akan memberitahukan gadis ini dari alam bawah sadar. Dia akan tahu harus pergi ke mana. Kalian hanya perlu bergegas, karena dua hari lagi semuanya akan menjadi terlambat. Aku akan kehilangan Yseult untuk selamanya." Pedang berkepala naga itu kembali menjadi cahaya dan merasuk ke dalam tubuh Jane.
Jane berwajah kuat tadi sudah menghilang, kini hanya ada Jane yang ketakutan, gemetar seperti anak anjing yang tidak menemukan tempat berteduh di hujan deras pada malam hari yang gelap.
"Selamat datang kembali, apa kabar?" tanya Jake, mencoba berbasa-basi.
"Barusan aku melihat, tiga orang ksatria berjubah dengan pakaian besi yang luar biasa indah...." Jane terguncang, seperti menceritakan sesuatu yang traumatik. "... mereka dipenggal di tepi rawa. Seseorang mengambil darah dan jiwa mereka lalu mulai menempa ..."
Jake merasakan pori-pori lengannya merinding. Tengkuknya sedikit bergetar. Berdasarkan deskripsi yang baru saja dijelaskan Jane, dia bisa menduga bahwa pedang berat ini ditempa dengan teknik yang sama dengan yang digunakan oleh para beast dalam menempa pedang. Hanya saja penempa ini melakukan improvisasi. Rupanya memang benar ada nyawa manusia terjebak di dalam pedang itu.
"Jake ..." gadis itu berbisik, begitu takutnya sehingga suaranya nyaris hilang. "aku takut."
Tadinya Jake berencana untuk meninggalkan Jane agar gadis itu sendirian ke kastil Hoffenburg. Toh saat tiba di sana, dia pasti akan bertemu lagi dengan Kia dan Gabe yang mungkin sekarang sudah tertangkap oleh Angelo di Benedito. Tapi setelah mendengar ucapan Jane tadi, dia berubah pikiran.
.
.
Author's note :
Ada revisi di chapter ini, karena merasa tidak puas dengan ending chapter ini, jadi kuubah sedikit. Terima kasih atas vote dan komentarnya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top