Bangkitnya si Pengkhianat
Bagaimanapun juga, perut terasa lapar sampai sakit rasanya. Beberapa anggota klan berburu di hutan terdekat dan menangkap beberapa binatang liar untuk dimasak. Mereka menguliti kelinci liar yang gemuk, atau burung hutan. Jake menangkap rusa liar, meminjam crossbow Gabe dan membenamkan panahnya ke paru-paru rusa tersebut.
Mereka menunggu sarapan siap dan mulai berbagi makanan.
Tepat saat itulah ada lima orang dari klan Brotherhood yang sebelumnya diam di perkemahan dekat Raffenwald, kini datang untuk menyusul. Wajah mereka tidak terlihat senang.
"Saat matahari terbit, orang-orang di desa itu mendadak jadi aneh. Mereka membiru dan sepertinya tampak seperti orang mati namun hidup dan bersuara-suara aneh seperti lenguhan dan gerutu yang tidak jelas. Kami merasa takut dan bergegas kemari," lapor mereka pada Hector, dan Hector akan menyampaikannya pada pimpinan klan, Angelo di Benedito.
"Kau dengar itu?" tanya Gabe.
Jake tidak terkejut sebenarnya, dia memotong bagian kaki rusa yang telah matang itu dan membagikannya pada Gabe. "Seperti pada saat hari bulan Indigo. Kurasa tempat itu disegel sesuatu yang berhubungan dengan Aether."
"Dia bilang tadi pagi pada saat matahari terbit, saat itu kalian baru saja menghabisi golem itu, kan?"
"Mungkin Harmin adalah alasan kenapa Raffenwald menjadi terkutuk ...," Jake mencoba menyimpulkan, namun setelah dipikir kembali, sepertinya tidak juga.
"Pemacu piranti, Jake," seseorang datang untuk bergabung dengan keempat orang pemuda yang memisahkan diri dari kelompok besar di perkemahan itu. Jake sudah tahu siapa orang itu. "Core yang kau retakkan itu adalah mantra yang diucapkan Mecius untuk menyegel tempat ini. Dengan alat itu dia menciptakan ilusi yang mengakibatkan waktu para penduduk desa Raffelwald terulang terus menerus satu hari sebelum mereka terkutuk, kemudian Banshee di utara, dan penjaga pintu kastil. Jadi bila kalian tidak membunuh Banshee, dengan merusak core itu, Banshee itu juga akan hilang sendiri."
"Oh ya, karena ahlinya sudah datang, kenapa bukan dia saja yang cerita?" Jake menyerahkan potongan kaki rusa yang lain untuk Ignus.
"Terima kasih," Ignus menerima potongan kaki rusa itu dan mencabiknya sedikit dengan giginya. Saat matanya sampai pada Jane, dia menyadari gadis itu tersenyum-senyum padanya, Ignus yang selalu berada dalam suasana hati riang, bertanya, "kau cukup bersemangat untuk ukuran seseorang dengan banyak kepribadian."
"Terima kasih," kata Jane sambil memilin ujung rambutnya, dari wajahnya sungguh jelas terlihat rasa tertariknya terhadap Ignus. Selain tampan, juga pandai bicara dan selalu tampak percaya diri. Kalau orangnya seperti ini, bukan pangeranpun Jane bersedia jatuh cinta padanya.
"Bagaimana temanmu? Apakah dia sudah mengatakan sesuatu?" Ignus menunjuk Kia.
"Oh, aku tidak memperhatikan, sepertinya ..."
"Belum, belum banyak. Tapi lumayan, dia sudah bisa berkedip," sejak tadi pagi, saat orang-orang sibuk melawan golem, Gabe menyelinap keluar dari tendanya dan menjaga Kia.
Gadis Pamuyan Selatan itu biasanya pendiam, tapi kini dia benar-benar diam. Dia hanya duduk dengan rambut nya yang panjang bergelombang itu menutupi sebagian wajahnya. Dan sebagian wajahnya yang tidak tertutup rambut menatap lekat pada Ignus, tajam dan dalam. Seakan matanya adalah busur dan ada anak panah es yang sangat dingin yang siap dia luncurkan ke leher Ignus. Tatapan predator yang dingin.
"Kelihatannya dia ingin membunuhmu," Jake menyeringai pada Ignus.
"Kalau begitu, sebaiknya aku tidak berlama-lama di sini. Alasan aku datang kemari adalah untuk memberitahu kalian bahwa Angelo di Benedito ingin kau dan Jane ikut dengannya turun ke bawah sana," Ignus kembali berdiri.
Jake tertawa, menyenangkan bila berpikir dia takut pada gadis kecil pribumi seperti Kia, walau dia tahu Ignus pasti pergi terburu-buru karena dia tidak ingin terlihat akrab dengan orang yang tidak disukai tuannya, di Benedito.
"Bagaimana dengan Kia dan Gabe? Mereka ditinggal di sini?" tanya Jake sambil mendongakkan kepala.
"Katanya terserah, mereka berdua bebas mau melakukan apa di sini, asal tidak mengganggu. Permisi," Ignus tidak lupa berterima kasih atas kaki rusa yang diberikan untuknya tadi, dan sebelum berpaling pergi, dia mengangguk pada Jane dan gadis cantik itu melambaikan jari-jarinya sambil tersenyum pada Ignus.
"Haduhhh ... dia ganteng sekali ya?" keluh Jane, mabuk kepayang.
"Selamat bermimpi," sahut Jake.
"Hei, Jake. Gabe bilang dia ayah angkatmu? Benarkah itu? Kok dia tidak terlihat tua? Apa dia punya istri? Istrinya masih hidup tidak? Dia suka wanita seperti apa?"
"Katanya kau ingin mencari pangeran tampan?" jawab Jake.
"Kematiannya adalah pembuka turnamen, dan kelahirannya adalah penutup," untuk pertama kalinya sejak semalam, Kia berbicara dan membuat semua teman-temannya tertegun. Tak ada yang tahu apa yang sedang dibicarakan gadis itu. Jake mencoba untuk mengikuti arah kemana mata Kia menatap, dan dia menemukan rombongan klan Brotherhood sedang sarapan bersama.
"Kau membicarakan di Benedito?" tanya Jake, walau dia sebenarnya mengira Kia sedang membicarakan Ignus karena sejak tadi gadis itu memandangi ayah angkatnya yang sudah bersemir rambut itu.
"Kita semua adalah boneka tali, dibawah kendalinya ..." kata Kia sekali lagi, kemudian matanya tertuju pada Jake. "Dia sayang padamu, yah?"
Tidak hanya kalimat Kia yang sedemikian rupa, tapi mungkin juga karena tatapan gadis itu sekarang seperti tatapan orang gila.
"Oh, tidak, kami memang dekat, tidur bersama, makan bersama, tapi tidak seperti itu. Bukan seperti itu. Dia pernah punya istri dan aku punya seorang pacar yang pastinya seorang perempuan ..."
"'Pernah punya istri', hmm ..." Jane terlihat sangat senang.
"Dia lakukan segalanya untukmu ... semua ini demi kau, kau cahaya hidupnya, ... boneka tali utamanya," Kia tersenyum. Dan senyumnya benar-benar terasa aneh, seperti ketika seorang kanibal mengatakan bahwa dia menginginkan seseorang.
Jake harus bersyukur bahwa Kia tidak berbicara lagi setelah itu karena Jane menyumpal mulutnya dengan daging rusa. Gadis itu makan seperti serigala kelaparan, bibirnya belepotan lemak. Gabe mengambil sapu tangannya, berwarna putih dengan kemilau pelangi seakan terbuat dari mutiara. Dia menyentuh dagu Kia untuk mempermudah dirinya membersihkan sisa-sisa makanan di sekitar mulut Kia yang masih mengunyah. Perlahan senyum lembut terlihat dari wajahnya yang menatap pemuda baik hati itu.
Gadis primitif gila dan seorang pangeran romantis.
Pasangan yang aneh, pikir Jake.
Pada saat dia berdiri di tepi kawah dan memandang baik-baik sekarang, membiarkan angin dingin melewati pucuk-pucuk rambut coklatnya yang pendek, Jake melihat betapa bercoraknya kawah ini. Yang paling jelas terlihat adalah corak melingkar di dinding kawah, seakan ada sesuatu yang besar menyeretnya hingga berputar melingkar sampai ke pusat kawah. Jake menduga bahwa garis-garis corak itu adalah bekas arus angin yang ditimbulkan oleh pilar badai abadi yang dikeluarkan oleh core itu. Tidak ada sedikitpun dari rumah-rumah dan bagian istana itu yang runtuh karena sapuan angin selam nyaris lima abad.
Jake memperhatikan istana yang berdiri persis di tengah kawah itu, pada puncaknya terdapat banyak menara, dan menara paling tinggi memiliki semacam kubah, ada sesuatu yang berkilau warna merah di sana. Itu pasti apa yang dicari-cari oleh Angelo di Benedito.
Terpikir olehnya, andai mereka ke tempat ini lebih cepat dua hari, mungkin mereka tidak perlu melawan Harmin karena pada malam bulan Indigo, pilar badai itu mungkin menghilang. Tapi mereka tidak bisa lama di sana, karena bila bulan Indigo muncul kembali, pilar badai itu akan kembali timbul dan Jake harus menunggu bulan berikutnya untuk keluar dari sini.
"Baiklah, prajurit, mari berkumpul!" seru Hector mengumpulkan teman-temannya. Di belakangnya berdiri Angelo di Benedito yang membisikkan kata-kata untuk dikomandokan Hector. Dan dibelakang di Benedito, berdiri Ignus dengan kepala yang kembali terbungkus kerudung kelabu.
"Tim satu akan menjaga perkemahan dan tim dua akan ikut kami menuruni kawah," katanya. Kemudian dia menugaskan dari tim dua itu, dua orang untuk mengawal Angelo di Benedito, dan sisanya menjelajahi kawah untuk mencari harta yang bisa mereka jarah.
Angelo di Benedito maju paling depan, dan dengan kekuatannya, dia membuat tepian kawah itu menjadi padat, dan kemudian membentuk mereka menjadi undakan-undakan menyerupai tangga sehingga mereka tidak perlu memerosokkan diri jatuh ke tengah kawah. Gabe tentu saja memilih untuk mengikuti Jake, dia harus bisa melihat secara langsung bagaimana proses manusia bersatu dengan Dragonoid. Jane dipaksa oleh di Benedito untuk berjalan di depannya, gadis itu masih dianggapnya sebagai kunci masuk menuju kastil tempat Warognya menanti, dan Jake berjalan persis di belakang di Benedito.
Kastil Hoffenburg dikelilingi rumah-rumah warga sipil yang hidup dari berdagang beragam hal di sana. Ada patung es pengendara kereta berisi muatan barang-barang seperti susu dan hasil peternakan, terguling dan tertumpuk oleh gunungan pasir beku, mereka tampak seperti patung yang hancur.
"Dia baru mengantarkan hasil peternakannya dari Raffenwald saat tempat ini berhenti untuk selamanya. Saat tempat ini runtuh, dia tertimbun bebatuan dan pasir sehingga jatuh seperti patung," mendadak Kia sudah berada di sebelah Jake dan matanya liar memandangi sekitarnya.
"Lihatlah tempat ini, semuanya membeku sampai ke dalam-dalam. Kalau pun ada emas di sini, mungkin emas itu pun beku sampai ke dalam juga dan tidak bisa dipakai lagi," Jake mendengar gerutu seorang tentara yang berjalan di belakangnya. Wajah mereka mulai terlihat ragu akan bisa menemukan sesuatu yang masih bernilai di tempat ini.
Mereka mulai berpencar ke seluruh penjuru kota. Mereka menggali atau mengais tempat yang mencurigakan, berharap dugaan mereka benar bahwa penduduk dari peradaban seribu tahun lalu itu menyimpan sesuatu di sana. Angelo di Benedito terlihat jelas tidak peduli lagi pada emas, seperti warga Everloth yang tidak peduli lagi pada berlian.
Sampai di depan pintu ganda kastil Hoffenburg yang tinggi besar itu, mereka berhenti. Saat Jake memeriksanya, dia mendapati pintu itu telah tertutup rapat. Lapisan es yang membeku di sana merekatkan sekat-sekat pintunya sehingga pintu itu kini tidak berbeda dengan dinding.
"Mungkin sedikit panas bisa melumerkan semua kekerasan ini ..." ada sinar yang muncul, telapak tangan di Benedito menyala.
"Tunggu dulu, tuanku!" sahut Ignus.
Telapak tangan di Benedito padam.
"Mungkin anda mau mencari solusi lain selain meledakkan pintu itu. Bila anda mau melihat ke sekitar sana, ke sekeliling kita, semuanya adalah tumpukan salju. Suara ledakan saja bisa meruntuhkan mereka dan mengubur kita semua di dalam kawah." Kata Ignus.
"Baiklah, aku harap kau punya ide selain meledakkan pintu itu," kata di Benedito.
"Kadang, sesuatu yang keras biasanya rentan di dalam. Apabila kita bisa mendengar kekosongan di dalamnya, ..." Ignus mendekati pintu itu dan menempelkan telinganya di sana. Dia memejamkan mata dan mulai mendengarkan pintu itu baik-baik. Seperti memperhatikan teka-teki pada lautan bintang, Ignus mendengarkan gelombang demi gelombang, berpendar dalam kehampaan di sela-sela kekosongan yang diisi oleh kristal es.
Kristal-kristal es itu akhirnya bergerak. Mulai dari partikel yang paling kecil. Mereka berubah menjadi udara dan menelusup keluar seperti uap yang naik dari atas kendi yang mendidih. Tak lama, seluruh lapisan es di sana pun mencair dan hilang seluruhnya.
"Es yang dibuat oleh seorang elementer adalah es yang abadi, karena ekspresi elementer adalah ekspresi jiwa, tidak berbeda dengan emosi. Untuk meredakan emosi, kita harus memahaminya. Dengan cara itulah, kita akan masuk," Ignus mendorong kedua pintu besar itu hingga terbuka. Ada suara deritan yang terdengar saat sambungan pintu yang telah beratus-ratus tahun diam, akhirnya bergerak.
"Akhirnya, ... selangkah lebih dekat dengan belahan jiwaku ... aku bisa merasakannya!" Angelo di Benedito menyeringai lebar.
Kelihatannya pada saat tempat ini dikutuk, pintu istana sedang terbuka lebar. Tampak beberapa dayang istana sedang membersikan tempat ini, kulit mereka yang membiru terbungkus es itu memegang sapu dengan erat. Di halaman terlihat tukang kebun berjongkok memunguti rerumputan liar.
Jake merasakan ada yang aneh, "mereka tidak sadar apa yang sedang terjadi ..."
"Ya, semuanya pasti terjadi begitu cepat ..." sahut Gabe. Dia sudah memperbaiki grafit patahnya dan mulai mencatat apapun yang menarik baginya.
Pada saat memasuki bagian dalam istana, Jane terpaku. Dia diam saja mematung memandangi seluruh isi istana. "Aku tidak percaya ini ..."
Betapa terkejut Gabe dan Jake, karena mereka juga tidak menyadari bahwa rupanya Faolan sudah mengambil alih kesadaran Jane sejak tadi. Pantas gadis itu tidak berisik dan tidak banyak tanya!
"... pada hari itu, Ratu menjatuhkan hukuman mati atas kami. Dia pikir kami sedang merencanakan kudeta terhadapnya, padahal itu tidak benar. Pasti ada yang memfitnah kami. Tapi aku tidak menyangka kalau tempat ini akan membeku seperti ini ... apa yang telah terjadi?" bisik Jane—Faolan—penuh penyesalan.
"Anggap saja kematianmu telah membekukan tempat ini," Angelo di Benedito melangkah mendahului Jane—Faolan—masuk ke dalam istana. "Ayo Jake, ikuti aku! Akan kutunjukkan sesuatu padamu."
Jane—Faolan—masih tertunduk dengan beribu pertanyaan berkelebat dalam kepalanya. Sekalipun Ratu telah menghukumnya mati, tapi kesetiaannya terhadap Hoffenburg seluas angkasa, dia tidak rela melihat negeri yang dicintainya ini berakhir seperti ini. Beku, terpenjara dalam waktu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gabe pada gadis itu, atau pria yang berada di dalam gadis itu. Entah pria yang mana.
"Seumur hidup kau adalah seorang pengembara ..." kata Jane—Faolan sambil mengangkat wajahnya, memandangi seisi kastil yang megah dan tertutup es. "... tempat demi tempat kau datangi, dengan perasaan rindu, rindu akan kampung halaman. Tapi kamu tidak bisa pulang ke rumah ..."
"Kenapa begitu?" tanya Gabe.
"... karena rumah adalah tempat dimana hati berada, kan?" kata Jane—Faolan—dan dia mulai berjalan mengelilingi aula istana yang dipenuhi teman-temannya yang kini telah membeku. Sampai didekat seorang lelaki kurus dengan pundak bungkuk, dia berkata, "namanya Pepin, dia seorang pembersih senjata di ruang bawah tanah dekat penjara. Kami sering duduk bersama dan membicarakan hal-hal ringan, hidungnya selalu gatal setiap kali aku mengatakan sesuatu yang tidak dia pahami."
Kemudian dia mendatangi seorang wanita gemuk yang sedang memeras kain pel. Air yang keluar dari kain itu turut membeku sebelum jatuh ke dalam ember kayu di bawahnya. "Namanya Rosa, wajahnya buruk rupa, tapi hatinya sewangi mawar. Pada saat aku pertama kali tiba di Hoffenburg, dia yang mengajakku untuk bergabung dalam kelompok ksatria Hoffenburg. Bila tidak ada dia, aku tidak mengenal Yseult."
"Yseult itu adalah ...?"
"Wanita paling cantik di dunia," jawab Jane—Faolan. "Oh ya, ada di mana dia sekarang?"
Gabe menebak, "di kamarnya?"
"Mungkin! Mungkin dia di sana," segera Jane—Faolan—bergegas menaiki tangga utama. Dan di lantai dua, Gabe melihat Kia sedang berjalan memasuki sebuah ruangan berpintu besar, dan dia menjadi bimbang memilih Kia atau Jane yang sedang kerasukan?
"Mungkin Kia masih bisa menjaga dirinya sendiri, mengingat dia elementer es, tapi dia sedang tidak enak badan sejak kemarin. Tapi ... Jane ... ah, baiklah!" sekalipun segera menyesali keputusannya, namun Gabe tetap memilih untuk mengikuti Jane.
Sewaktu menuruni tangga artificialnya di tepi kawah tadi, di Benedito sudah melihat ada sesuatu yang berkilau di dalam menara di puncak kastil. Dia sudah bertanya pada penasihatnya, Ignus benarkah itu adalah apa yang mereka cari? Dan Ignus pun sudah memastikannya bahwa relik Warog tersimpan di sana.
Ada satu tantangan lagi sebelum mencapai sesuatu yang telah lama dia nantikan itu, rangkaian tangga yang akan membawa mereka langsung ke lantai lima dimana menara yang menyimpan relik Warog itu berada. Tangga itu cukup tinggi, dan karena dilapisi es artifisial, mereka bisa celaka bila tidak berhati-hati melangkah. Dikepung udara dingin, nafas-nafas mereka membeku menjadi uap.
"Dahulu ..." Angelo di Benedito menyentuh dadanya, tempat dimana jantung bersarang, seakan ada memento yang tertinggal di sana. Ada kenangan yang mengusik pikiran di Benedito, kenangan dari kehidupan jauh di masa lalu yang berhasil diingatnya kembali. "... dahulu ada bencana datang. Kami mencoba segala cara untuk melawan bencana itu. Kami mencoba untuk melawan kiamat yang datang mendekat ... tapi sebagai akibatnya, kami malah kehilangan nafas Aether kami ..."
"Jake," panggilnya. "Kau pernah dengar tentang Dragon Ixchell?"
"Dragon dari bulan itu?"
"Bila bencana itu tidak menelannya terlebih dahulu, setiap hari adalah bulan Indigo."
Membayangkannya saja sudah membuat Jake pusing.
"Tapi rupanya, setelah membunuh Ixchell, dia mengambil mustika Immaculatra yang ada di lehernya, dan dia tanamkan di jantungnya. Dengan mustika itu, dia memusnahkan seluruh kemampuan para Dragonoid dalam bernafas Aether. Dengan cara itulah, kami terpisahkan dari Dragon kami, dari belahan jiwa kami ... dan menyegel hak kami sampai hari ini ..."
Akhirnya pintu keluar terlihat juga! Pintu yang menandakan mereka sudah sampai di puncak kastil, dimana menara berisi relik Warog itu tersimpan selama berabad-abad. Angelo sudah habis kesabaran saat berhadapan dengan pintu itu, dia tidak mau menunggu Ignus mendengarkan emosi yang menyelimuti pintu itu rata dengan dinding. Langsung saja dia cabut pedangnya yang bercincin sembilan dan dia hajar pintu itu sampai runtuh. Suara hantamannya bergema sepanjang lorong menara tangga sampai ke bawah.
Pintu kayu itu jebol dan terbakar, ditendang oleh kaki di Benedito yang diselimuti api. Angin dingin menyeruak masuk membawa butiran-butiran salju yang selama ini mengendap di pelataran lantai puncak kastil. Sepergi melangkah menuju kebebasannya, Angelo di Benedito melangkah keluar dari menara tangga menuju lapangan yang luas dimana seseorang bisa memandang seluruh wilayah Hoffenburg.
"Andai tidak runtuh ke dalam kawah, pasti kita bisa melihat rawa dari sini," Jake menebak.
"Dan bila tidak berkabut, tentunya," tambah Ignus, dia merentangkan tangan dan menghirup udara dingin yang menyegarkan itu dalam-dalam.
"Kemana Gabe? Sebentar lagi seseorang akan mengadakan ritual penyatuan diri dengan Dragon, tidak semua orang punya kesempatan untuk menyaksikannya, dan katanya dia mau menendang buku-buku ayahnya di perpustakaan dengan tulisannya yang maha hebat itu," kata Jake.
"Dan inilah dia!" seru di Benedito, kedua matanya berbinar-binar melihat sesuatu yang tergantung seperti lonceng di sebuah panggung berkubah. Dia menaiki undakan-undakan kecil untuk menggapai benda yang terpajang itu. Ditempelkanlah kedua tangannya pada permukaan kaca yang menghalangi dia dan belahan jiwa. "Aku telah kehilanganmu selama ribuan tahun! Jiwaku melayang di sungai langit tanpamu ... akhirnya kita akan bersama lagi, Warog ...!"
"Harusnya dia dan Jane bisa jadi pasangan serasi," kata Jake, kemudian dia menoleh ke belakang sambil menertawakan leluconnya sendiri. Namun ada yang aneh dengan Ignus. Matanya tampak waspada, terbuka lebar mengawasi apa yang akan terjadi di sekitarnya. Seakan seratus meter di atasnya ada jendela rumah yang terbakar, dan seorang wanita akan melemparkan bayinya ke bawah, Ignus harus siap menangkap bayi itu saat dia terjatuh.
Terdengar bunyi sesuatu menghantam kaca. Lagi-lagi di Benedito menggunakan gagang pedangnya untuk menghancurkan sesuatu. Dia sangat tidak sabar untuk segera memecahkan kaca tersebut, dan liurnya sampai menetes keluar dari seringainya saat kaca itu meretak dan kemudian pecah.
"Obsesi membuat seseorang jadi gila, bukan?" gumam Jake.
Kaca itu telah pecah seluruhnya, di Benedito membuang pedang bercincinnya itu begitu saja. Dengan tangan gemetar karena tidak sabaran, dia meraih benda berbentuk bola itu, dimana didalamnya terpenjara seongok organ seperti jantung.
"Jake ... inilah dia ... relik Warog! Aku berhasil mendapatkannya!"
"Santai, aku tahu itu relik Warog," kata Jake.
"Pangeran Andrei, aku akan segera kembali, dan kejayaan Conisia akan kembali kita wujudkan di atas dunia baru ini!! Hahahaha ...!!" di Benedito mengangkat relik itu tinggi-tinggi di atas kepalanya, menyerahkan seluruh kekuatan Aether dalam tubuhnya untuk mengejutkan organ di dalamnya hingga kembali berdetak. Saat dia berdetak, selubung yang mengelilinginya retak. Semakin banyak Aether yang diberikan di Benedito, semakin kuat pergolakan relik itu untuk membebaskan diri. Dan saat selubung itu benar-benar runtuh seutuhnya, jantung itu berkilau terang sekali sehingga Jake harus menghalangi pandangannya dengan kedua tangan.
Kilau cahaya itu berubah menjadi cahaya nila, dan bergerak masuk ke dalam tubuh di Benedito sebagaimana Einherjar bergerak masuk ke dalam tubuh Jane kemarin malam. Tubuh di Benedito dikelilingi cahaya nila merah, dan api muncul membentenginya. Sesuatu meledak dari sana, menebarkan empasan udara yang membuat badan Jake terpental menabrak dinding di belakangnya dan jatuh terbatuk-batuk.
Sebelum penglihatannya kembali, Jake mendengar ada sesuatu yang terbakar di sekitarnya. Beberapa bagian istana terbakar, bahkan menara yang tadinya menyimpan relik itu sudah tiada, hancur berkeping-keping.
Tanah yang dipijak di Benedito tampak hangus terbakar, menghitam seperti arang. Dan bekas ledakan terlihat di sana. Sosok di Benedito menghilang, tergantikan oleh sesosok makhluk dengan mata menyala, berkepala Dragon, dengan tangan kekar yang bagian bawah lengannya berselaput lebar. Tangan itu terbentang saat makhluk itu tertawa, menampakkan sayap kelelawar yang sangat besar. Seluruh tubuh makhluk itu dipenuhi oleh sisik reptil. Ada helaian rambut merah yang panjang, dimana ujungnya mencapai pantat. Itu pasti di Benedito yang berhasil berubah menjadi Dragonoid!
"Pada zaman itu ..." makhluk itu berbicara, suaranya sudah bukan suara di Benedito lagi, lebih rendah dan lebih berat. "... semua Dragonoid musnah, disegel oleh kekuatan mustika Immaculatra ... kecuali satu Dragon ... satu Dragon yang tetap bisa memiliki kekuatannya sampai dia mati, sampai Ragnarok berakhir ... sampai sekarang."
Jake berjuang untuk berdiri di atas kedua kakinya, dadanya masih sesak akibat menabrak dinding tadi.
"Dragon yang selamat dari bencana itu ... dan kau tahu kenapa dia selamat?" di Benedito bertanya sejenak sebelum menjawab sendiri pertanyaannya itu, "karena dia menjual bangsanya sendiri pada Fomalhaut. Dan hari ini ... aku akan memberi perhitungan pada pengkhianat itu!"
Tanpa bisa dilihatnya, tahu-tahu Dragonoid Warog itu sudah sampai di hadapan Jake. Jake merasakan tubuhnya terangkat, dan sesuatu merembes keluar melalui dadanya di bagian depan dan belakang. Namun hal yang dia lihat hanyalah seringai Dragonoid Warog, tertawa dengan nafas berbau asap.
Jake dapat merasakan benda tajam menggelincir keluar melewati tubuhnya, dan segenap kekuatannya itu menghilang. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya, semua mati rasa. Dia hanya melihat Dragonoid Warog menjilat tangan kirinya yang basah oleh darah merah. Darah seseorang ... darahnya.
Dragonoid Warog segera terbang merayakan kekuatan barunya. Dia turun ke kota untuk menghancurkan apa yang bisa dia hancurkan. Dia sangat puas bisa menghajar dan mencabik dinding berbatu yang dilapisi es. Dengan cepat terlihat asap naik dari arah kota.
Jake memandang langit Hoffenburg yang hampa tanpa awan. "Inikah ramalan itu?"
Bila Angelo di Benedito ke Hoffenburg, kamu mati.
Ignus gagal meramalkan kapan dia dan Jane tiba di Hoffenburg. Dia juga gagal meramalkan bahwa saat menghadapi Nerod, Jake hanya akan kehilangan darah. Dari sekian banyak ramalannya yang gagal, kenapa bukan yang ini saja?
"Jacques," panggil Ignus, berjongkok di dekatnya. "Jacques, jangan takut. Ayahmu tidak kenal takut, kau juga seharusnya tidak mengenal takut."
Jake masih bisa mendengar ucapannya walau suara itu terdengar jauh.
"Ingatlah akan dia, Jacques! Ingat Eremos!!"
"E ... remos?" bibir Jake bergerak.
Nama itu terdengar tidak asing. Dimana dia pernah mendengar nama itu?
Udara dingin memenuhi dadanya, tanpa menyentuh, Jake sudah menyadari bahwa bagian dadanya telah berlubang. Bolong.
Eremos.
Eremos.
Eremos the savage.
Sesuatu yang tidak bersayap, sesuatu yang tak terkendali. Jake ingat dirinya melompat jauh sekali dari gunung satu ke gunung lain, dari pulau satu ke pulau lain. Dia tidak terbang, dia melompat.
Eremos ...
Setelah Ragnarok berakhir, satu persatu Dragon dan Naga kembali bereinkarnasi. Namun hanya ada satu Naga yang tidak hadir lagi di dunia ini.
Savage Naga, Eremos.
Dragon yang hilang.
Dari dadanya yang berlubang, Jake merasakan ada sesuatu yang berdenyut. Ada api naik dari sana menggantikan darah yang seharusnya terpompa. Jake merasakan seluruh tubuhnya terbakar...
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top