Aftermath

Kekuatan Sang Raja berkurang di seluruh Hoffenburg. Belenggu yang memenjara jiwa-jiwa Hoffenburg satu persatu terlepas. Kabut-kabut putih mengudara, naik sambil menyanyikan lagu jiwa yang damai. Pada langit-langit kastil yang berlubang, ada cahaya terang masuk ke dalam, sinarnya terhalang oleh retakan sehingga menimbulkan tirai cahaya yang indah.

Rose—Faolan—menikmati pemandangan damai ini. Caleb dan Vidarr sudah terlepas dari Einherjar yang sebagian sudah terbenam di lantai kastil Hoffenburg. Mereka berdua sedang melayang-layang seakan bercanda riang sambil kembali ke kampung halaman. Banyak jiwa yang berputar-putar mengelilingi Vidarr, dia sangat populer.

"Faolan ... ?" suara halus mendesah, bergema di langit-langit istana.

"Yseult!" seru Rose—Faolan, menemukan satu-satunya jiwa yang mendarat sampai ke lantai. Perlahan kabut itu membentuk bayangan wanita cantik yang mengulurkan tangannya. "Faolan, mari kita pulang."

Faolan mengangkat tangannya, menangkap tangan Yseult. Namun tangan Rose tidak lagi berada di bawah kendalinya. Yseult menarik jiwa Faolan terangkat ke langit. Keduanya berputar sambil naik ke angkasa seperti sepasang ikan koi di kolam teratai.

"Rose!!!" seru Jan, muncul bersama Kaya dari balik pintu ruang pertemuan yang telah hancur. Kini kastil itu dipenuhi puing-puing, sayatan pedang terlihat di mana-mana.

Jan melompati undakan tangga dan melewati reruntuhan untuk sigap menangkap tubuh Rose sebelum terjatuh lemas ke lantai yang mulai mencair dari kebekuan.

"... Jan? Apa yang ... telah terjadi?" tanya Rose dengan lemas.

"Kamu luar biasa, Rose!" puji Jan, kemudian mereka berdua berpaling pada Sang Raja yang tidak mampu menggerakan tubuhnya lagi.

"Pada awalnya aku hanya seorang gladiator liar yang melatih diriku sendiri. Semua orang menyebutku malas," Sang Raja berkisah pada Jan dan Rose yang berlutut di sisinya. Seluruh permukaan kulitnya berwarna biru seakan dia adalah persona. Mungkin dia memang sudah jadi persona, persona Hoffenburg. "Pada saat beast itu datang menyerang Hoffendale, hanya aku yang bisa mereka andalkan."

Perlahan-lahan permukaan kulit Sang Raja yang tersayat itu menutup, namun bukan karena sembuh. Jan melihat sosok Sang Raja menjadi semakin tembus pandang. Rose mencoba menyentuh dengan jarinya, namun tembus. Seperti menyentuh ilusi.

"Dia tidak bisa disentuh, dilupakan arus jiwa-jiwa, lenyap menjadi energi mentah," bisik Kaya yang baru datang bergabung bersama mereka. Matanya yang tidak tertutup rambut menatap lebar pada Sang Raja yang sekarat, "dia kembali pada ketiadaan."

Namun Sang Raja melanjutkan kisahnya. "Rupanya para beast itu menyerang Hoffendale karena tempat kelahiran mereka diserang Warog. Aku mengadakan perjanjian dengan mereka; bila aku berhasil menyelamatkan mereka dari Warog, mereka meninggalkan Hoffendale."

"Dan kau berhasil," tanya Jan dengan yakin.

"Aku mengalahkan Warog itu seorang diri, karena tak ada yang mau ikut denganku. Aku benar-benar dipermalukan, dan dibuang oleh orang-orang yang ingin kulindungi. Aku sendirian, dan selalu sendiri. Namun memang kenyataannya di puncak gunung hanya ada tempat untuk satu orang saja, kan?" Namun karena semua sudah masa lalu, Sang Raja bisa tersenyum mengenang masa-masa kelam itu.

"Aku pulang membawa relik Warog, mereka berhenti meremehkanku. Kerja kerasku, menjadikan aku pahlawan. Namun ketololan keturunanku, dan keserakahan seseorang menghancurkan segalanya. Aku tidak bisa menerimanya!" Sang Raja melepaskan sisa-sisa kekuatannya. Hoffenburg berguncang. Kawah bergoyang seakan semua salju bergerak untuk runtuh. Biar dia menghancurkan semua bersamanya!

"Raja! Kau adalah seorang Raja!" ucap Jan dengan berani. "Kau menjadi raja bukan karena kau lebih kuat daripada Dragon. Kau menjadi raja karena kau telah membuktikan pada mereka bahwa kau bisa melindungi mereka. Itu sebabnya orang menjunjungmu tinggi dan kau menjadi raja! Sekarang demi sesuatu yang sudah lama berakhir, kau malah menjadi ancaman bagi mereka. Masih pantaskah kau disebut raja?!"

Mata Sang Raja bergerak, dengan tajam menatap Jan. Pemuda itu seakan tersengat oleh kharisma dan kekuatan agung yang tersembunyi dari sorot mata Sang Raja. Namun Jan bersikukuh. Dia tidak boleh gentar. Dia seorang penulis, dia harus yakin dengan setiap kata yang dia ucapkan. Setiap kata yang dia sebutkan, harus bisa dia pertanggung jawabkan. Bila dia gemetar sekarang, dia harus malu pada dirinya sendiri!

Guncangan semakin kuat, seiring dengan melayangnya jiwa-iiwa ke angkasa, kastil pun terurai. Satu persatu potongan reruntuhan kastil terlepas dan berjatuhan ke lantai dasar.

Sebongkah lantai jatuh dari ketinggian tujuh meter. Satu detik sebelum menghantam kepala Jan, Sang Raja mengangkat tangannya, membuat bongkahan lantai itu berhenti di udara.

"Kau bukan gladiator, tapi berani sekali mengatakan itu padaku. Siapa kau?"

"Aku adalah seorang penulis!" Jawab Jan dengan mantap. Kata-kata itu membuatnya bangga pada dirinya sendiri.

"Tulislah kisahku, agar kenanganku tetap abadi walau tubuh dan jiwaku telah lenyap untuk selamanya. Beritahukan orang-orang, bahwa aku, Beowulf, pernah hidup! Kau harus hidup." Sang Raja mengusapkan tangannya ke wajah Jan, pemuda itu gemetar merasakan kekuatan elementer tanah yang menjadikan tubuhnya serupa magnet yang menolak benda padat mendekatinya.

"Pergilah!" kata Sang Raja pada Jan. "Bawa teman-temanmu dan pergilah dari sini. Aku tidak bisa menghentikan gempa yang sudah kubuat, tapi berkahku ... menyertaimu."

Jan menggandeng Rose dan Kaya, membawa mereka berlari meninggalkan kastil yang runtuh. Sebongkah menara pengawas terguncang gempa dan runtuh, namun puing-puing mereka sama sekali tidak menyentuh Jan dan siapapun yang dipegangnya.

"Ayo!" seru Jan tanpa sedikitpun melepaskan tangan Rose dan Kaya.

Bangunan berjatuhan menghalangi langkah mereka. Namun tidak ada sedikitpun yang mencelakai mereka. Seperti kekuatan magnet yang sama, yang saling tolak menolak, bahkan reruntuhan yang telah terjatuh dan menghalangi jalan pun tersingkir.

Salju di ujung-ujung kawah mulai runtuh, suara bergemuruh terdengar dan timbunan salju putih itu menggelinding mengubur Hoffenburg yang runtuh. Jan, Rose dan Kaya akhirnya sampai pada undakan-undakan yang membawa mereka ke atas kawah. Kepulan salju halus terangkat ke udara, seperti asap yang ingin menelan mereka.

Jan nyaris sampai di mulut kawah saat dia menyadari Kaya sudah tidak ada di tangan kirinya. "Kaya! Kaya!!" dia mencari-cari gadis itu dan menemukannya sedang berdiri pada undakan, memandang runtuhnya Hoffenburg. Setelah memastikan teman-teman Jarrett mengamankan Rose, Jan turun kembali ke bawah kawah dan menggandeng Kaya untuk naik. Tapi gadis itu tidak mau bergerak.

"Kaya! Semuanya akan runtuh! Ayo kita naik!"

"Jarrett mana?" tanya Kaya.

Saat dia melihat ke dalam kawah, semua sudah terkubur salju dan gempa masih belum berhenti juga. Guncangan hebat kembali terjadi, sesuatu runtuh di kejauhan di luar kawah. Itu adalah tebing tinggi yang letaknya di utara kawah, semuanya runtuh sepanjang tebing. Bongkahan tanah berjatuhan ke bawah, jatuh ke dasar kawah. Air menyembur keluar dari sana, menciptakan gelombang raksasa yang terjun bebas di ketinggian sembilan ratus meter.

"Jarrett ada di atas kawah! Dia menunggu kita!"

"Kamu bohong," kata Kaya tanpa emosi.

"Aku tidak bohong!"

Sekali lagi guncangan terjadi, bebatuan runtuh dari atas sana, Jan akhirnya menarik Kaya dan menggendongnya sambil memanjat undakan-undakan itu. Pada saat dia memijak undakan terakhir, dia melompat sampai mendarat di tepian kawah dan terlentang mengatur nafas yang nyaris habis.

Dari telinganya yang berdenyut-denyut, Jan mendengar para Brotherhood bersorak-sorai sambil tertawa membicarakan dirinya yang sempat selamat dari reruntuhan di detik-detik terakhir. Melompat seperti ikan salmon, padahal lari saja sudah cukup, kata mereka sambil tertawa. Jan sadar betul bahwa pasukan bayaran brengsek itu tengah menjadikannya bahan lelucon sebagai ekspresi gembira mereka. Ingin rasanya menyuruh mereka diam, namun dia merasakan tubuhnya panas, dia sangat lelah. Terlalu lelah untuk melakukan hal lain selain memejamkan mata dan beristirahat sebentar.

Gempa itu berhenti pada saat matahari terbenam. Senja itu Hoffenburg berubah menjadi telaga, air terjun mengucur dari ketinggian. Anak sungai terbentuk, mengalir hingga ke selatan. Para tentara bayaran sedang bersiap untuk membuat api, beberapa sedang berburu untuk makan malam.

Jan menjemur pakaiannya yang basah, dan bersyukur isi buku catatannya selamat walau pinggiran kertasnya lecek oleh air. Saat ini dia sedang duduk di tepi kawah di atas salju yang mulai mencair sambil menulis. Sesekali dia menggigit grafit kayunya, mencoba untuk mengingat-ingat hal yang dia alami di bawah sana sebelum ada yang terlupakan.

Bayangan hitam menutupi kertasnya, Jan mendongak ke atas dan menemukan Rose tersenyum manis dengan pipi kemerahan, "sedang apa, Jan?"

"Oh, aku sedang mencatat."

"Mencatat apa?"

"Apapun yang kuketahui barusan di bawah sana."

Rose duduk di sebelahnya, "memangnya apa yang kau ketahui? Aku benar-benar tidak ingat apapun. Rasanya aku tidur lama sekali dan tahu-tahu terbangun di suatu tempat yang sedang runtuh karena gempa."

"Makanya, biarkan aku menulis semuanya. Nanti kalau semua sudah rapi, kau bisa membacanya."

"Ngomong-ngomong, aku tidak menemukan Jarrett di mana-mana. Apa yang terjadi padanya?"

Jan menatap danau baru yang terbentuk setelah gempa itu. Dia tahu Jarrett masih ada di dalam sana. Mungkin dia sedang terjebak di suatu tempat dan tidak bisa keluar, atau belum bisa keluar. Tapi dia juga tidak melihat Angelo di Benedito di mana-mana. Mungkin sesuatu terjadi di antara mereka berdua.

"Kau tahu? Pada saat pertama kali aku bertemu Jarrett, aku menyuruhnya menyelam ke dasar samudra."

Rose membelalak, "untuk apa kau menyuruhnya begitu?"

"Karena itu tugasnya. Aku menugaskan dia untuk memungut reruntuhan peradaban kuno yang sudah tenggelam ke dasar samudra. Dan dia mengangkat bukti penting yang membuatku lulus ujian dan menjadi seorang sejarawan. Sejak itu, aku dikenal sebagai penulis."

"Tapi, Jarrett tidak apa-apa setelah menyelam ke dasar samudra itu?"

"Dia tidak apa-apa. Jadi kurasa, mungkin dia sedang terjebak di bawah sana dan berjuang untuk keluar. Cepat atau lambat dia akan kelaparan dan muncul juga."

"Baiklah, itu cukup melegakan."

"Ngomong-ngomong," Jan menutup bukunya, "apa kau mau ke Detteroa bersamaku?"

Rose senang sekali mendengarnya, tapi dia tidak boleh terlihat begitu gembira. Lelaki tampan yang cerdas berpendidikan mengajaknya pergi bersama. Jangan-jangan sebenarnya pangeran berkuda putih yang diharapkan Rose selama ini adalah Jan. Rose menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga, "ah, mau sih ... tapi ... aku kan tidak punya saudara di sana. Aku juga tidak punya uang untuk menginap di penginapan atau menyewa tempat..."

"Ayahku ini seorang bangsawan. Aku bisa mencarikanmu pekerjaan dengan cepat."

"Benarkah?! Terima kasih, Jan!"

"Nah, biarkan aku menyelesaikan catatanku dulu, oke?"

Rose berdiri dan berterima kasih sekali lagi kemudian meninggalkan Jan dan buku catatannya. Di seberang sana, Jan dapat melihat seorang gadis berkulit hitam kemerahan berjalan menyusuri tepian kawah.

Pada suatu tempat, gadis itu berhenti seakan menemukan sesuatu di bawah permukaan air danau. Dia duduk di sana dan mengacungkan jari telunjuknya. Kepala Jarrett muncul ke permukaan kolam, tepat di depan ujung jari telunjuk itu mengacung.

"Bum!"

"Kau menungguku ya?" Jarrett berenang-renang ke tepi kawah. Di tangannya ada mantel pengelana yang digunakan untuk membungkus sesuatu.

"Mana Caesar?" tanya Kaya.

"Entahlah. Kami berpisah di bawah sana." Jarrett mendorong sesuatu yang dibungkus mantel pengelananya itu sampai ke tepi kawah.

"Kenapa lama sekali? Kau serakah."

"Hei, kita ke sini sampai babak belur, kalau tidak pulang membawa oleh-oleh, menyedikan sekali jadinya."

Kaya tertawa kecil, dia masih kehilangan akal sehatnya.

Sebelum masuk kawah, Caesar memberitahunya bahwa gadis itu sedang kacau alam sadar dan bawah sadarnya sehingga akalnya tidak terkendali. Semua itu disebabkan karena Caesar membagi sebagian kecil pengetahuannya pada gadis itu, otaknya mengalami shock akibat terlalu banyak informasi yang masuk secara mendadak. Jarrett harus menjaganya sampai dia mendapatkan akal sehatnya kembali.

"Mulai hari ini kau ikut denganku, oke?" kata Jarrett pada gadis itu.

"Kita jadi ke Pamuyan Utara?"

Jarrett tertawa sambil mengangat tubuhnya keluar dari danau. Air berjatuhan dengan deras dari badannya, dia membuka sesuatu yang dibungkus oleh mantel pengelananya itu dan tampaklah peti besar.

Dari kejauhan, para prajurit bayaran itu meninggalkan pekerjaan mereka dan ribut menunjuk-nunjuk danau. "Jarrett!! Itu Jarrett!! Dia sudah kembali!!"

Mereka melemparkan perlengkapan begitu saja ke atas tanah; pisau yang sedang digunakan untuk menguliti kelinci, batu api yang sedang diketukkan ke mata kapak untuk membuat api, atau ember berisi kuali untuk memasak air. Para prajurit bayaran itu berlari dengan gembira, memanggil-manggil nama Jarrett.

Melihat mereka berlari padanya, Jarrett melambaikan tangan, "ayo kemari!! Aku menemukan emas!!"

Saat Jarrett membuka isi peti itu, air danau membeludak keluar. Masih banyak air yang tertampung di dalam peti itu. Jarrett meletakkan kedua telapak tangannya di atas peti, dan api dari tangannya menguapkan air yang tersisa di dalam peti itu sampai kering.

Dengan cepat mereka sudah dikerubungi oleh anggota klan Brotherhood. Melihat peti itu penuh berisi koin-koin emas, mereka bersorak sorai gembira dan berebutan mengambil isinya.

"Hei, jangan serakah! Bagi rata semuanya. Ingat, bukan kalian yang mengangkatnya dari bawah sana!" tegur Jarrett. Dia sendiri hanya mengambil tiga koin emas. Satu untuk disimpan sebagai kenang-kenangan, dua lainnya akan dia jual untuk bertahan hidup, makan, dan membeli pedang baru.

Di tangannya tergenggam liontin emas dengan nama Gloriana Ettleheart dan Angelo di Benedito. Mas kawin itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang, dia juga tidak mau meleburkannya untuk dijual. Maka Jarrett melemparnya jauh-jauh sampai ke tengah danau.

Emas yang dibeli oleh Angelo di Benedito seharga 50.000 gold itu berputar di udara, kemudian tenggelam ke dasar kawah.

Dia kehilangan mata kirinya, jantungnya telah berevolusi. Naga yang tertidur dalam tubuhnya telah bangkit dan bisa mengamuk sewaktu-waktu.

Namun Jarrett tersenyum puas. Dia berhasil menyelamatkan kekasihnya.

Clash of The Ancient Souls

Einherjar

-selesai-

,

---

---

Sulit mengungkapkan betapa senangnya menulis cerita ini, dan betapa puasnya waktu akhirnya kata "-selesai-" itu diketik. The Seer telah mengalami banyak sekali remake, bahkan sempat ada perubahan drastis dimana Kaya memulai cerita di Detteroa sebagai aktivis kemanusiaan (peranan itu diambil Gloriana Ettleheart sekarang) berdarah Pamuyan Selatan yang melakukan perjalanan bersama seorang scholar bernama Jan ke Hoffenburg untuk meneliti reruntuhan negeri hancur bernama Hoffenburg. Di sana mereka bertemu rombongan pemburu harta yang dipimpin Zhuge (Jake/Jarrett/Jacques). Tapi cerita itu gak berkembang.

Terima kasih sudah membaca cerita ini.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top