Prolog

Gerimis tipis itu masih menyapa bumi. Setelah orang-orang yang mengantarkan jenazah Aine menyelesaikan tugasnya untuk mengebumikannya. Maka tidak satu pun di antara mereka yang tinggal kecuali Bara, suaminya.

Masih terlihat jelas jejak air mata, meski Bara berusaha menahannya. Kehilangan istri setelah melahirkan putri cantik mereka seolah mengambil separuh penggalan napasnya di dunia.

"Kak Abbey pulang dulu saja dengan Bang Farhan. Aku ingin di sini beberapa menit lagi," ucapnya.

Sama halnya seperti Bara, Abbey merasakan kehilangan untuk kesekian kalinya dalam hidup. Adik semata wayangnya diambil oleh Allah setelah kedua orang tuanya secara beruntun diambil dalam waktu yang hampir bersamaan karena wabah yang melanda dunia.

Di sampingnya berdiri Farhan--suaminya, yang sedari tadi sudah menariknya untuk segera pulang. Abbey akhirnya mengikuti langkah Farhan dan meninggalkan Bara sendirian di depan pusara Aine.

"Kita pulang ke rumah Papa, ada yang ingin Mama sampaikan pada kita."

Mata Abbey melotot ke arah Farhan. Hal baru yang akhir-akhir ini dihindari Abbey adalah bertemu dengan kedua mertuanya. Bukan masalah apa-apa, sejak Aine hamil ketenangan hati Abbey selalu diusik oleh Farhan. Suami Abbey ini menuntut tanpa perkiraan, jika sebuah kehamilan itu bisa diproses layaknya membuat adonan kue yang bahannya bisa didapatkan dengan mudah di mini market ujung gang rumah mereka, Abbey tidak perlu repot-repot merasa malu di depan keluarga Farhan setiap kali bertemu mereka.

Dia bisa dengan mudah menjawab ketika semua bertanya, 'sudah lama menikah masih betah saja hanya tinggal berdua. Salah ngadon atau kurang bumbu? Butuh training khusus sepertinya.'

Abbey berusaha menyembunyikan semua resah yang ada di hatinya. Ketiadaan orang tua harusnya mendekatkan Abbey kepada keluarga Farhan, sayangnya dia tidak pernah bisa melakukan semua itu. Kepala Abbey selalu berdenyut akhir-akhir ini setelah selesai ngobrol dengan mereka.

"Kamu kenapa berkeringat dingin seperti ini, Bey? Kamu sakit?" Farhan menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah menyala.

"Nggak, aku agak pusing saja, Mas."

"Jangan-jangan kamu hamil, Bey?" Farhan mendadak cemas.

"Mas Farhan, bisa nggak sih nggak usah lebai begitu?" Abbey mengempaskan lengan Farhan yang berusaha menyentuh keningnya.

"Kita ke rumah sakit saja, periksa dulu. Siapa tahu kamu hamil, Bey." Mata Farhan membola, seolah mengabaikan keberatan Abbey, Farhan mengemudikan mobil yang mereka tumpangi ke rumah sakit.

Meski dengan hati yang dongkol, Abbey menurut juga saat Farhan membawanya ke ruang praktek dokter kandungan.

"Kalau dilihat dari USG, Bu Abbey ini belum hamil, Pak Farhan. Justru saat ini, ovumnya siap untuk dibuahi. Jadi saran saya, sebaiknya hari ini bisa disempurnakan prosesnya." Dokter itu memberikan kode mata kepada Farhan sebelum keduanya tertawa bersama.

Setelah keluar dari ruangan Dokter Erlando, Farhan justru mengajak langsung pulang. Padahan Abbey ingin sekali ke NICU, dia ingin melihat bagaimana keadaan Binar di sana.

Sementara Farhan justru menelepon orang tuanya membatalkan kedatangan mereka karena Farhan ingin menyelesaikan sedikit urusan dengan Abbey.

"Nggak perlu, kita juga nggak bisa melihatnya langsung, Bey. Binar juga masih harus di inkubator. Jadi untuk apa kalau kita hanya bisa melihat disekat kaca?"

"Mas tapi?" Abbey bertahan tetapi Farhan memaksa untuk segera pulang.

Tiba-tiba saat mereka masih bersilang pendapat, Bara lewat. Tanpa berniat untuk menginterupsi keduanya, Bara hanya tersenyum, mengangguk lalu berlalu melewati mereka.

"Bara, tunggu!" Abbey mengempaskan tangan Farhan. Dia memilih menyusul langkah Bara. "Kamu mau ke NICU? Aku ikut."

Tatapan menusuk dari Farhan membuat Bara menggelengkan kepala. Dia memilih melangkah tanpa Abbey. Berurusan dengan Farhan terkadang justru membuat kepala Bara semakin berdenyut nyeri.

-------------------------------->>

Nggak akan banyak kok, cuma 10-15 chapter, jadi bisa dibaca sambil tiduran 😍😍

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top