25. Collapse

"Ada masa ketika kita merasa begitu bahagia, seakan berada di atas awan. Namun, tiba-tiba terhempas dengan begitu keras, dan hati kembali kebas. Hidup memang penuh kejutan."

💙Happy Reading💙
.
.

Pagi-pagi sekali sebelum matahari menampakkan sinarnya, Daniel sudah berada di rumah. Dan sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak padanya, hal itu terbukti karena ketika ia sampai di rumah, mama dan papanya belum kembali, mereka masih berada di luar kota untuk urusan bisnis yang tidak pernah berhenti mengalir.

Beruntung hari ini adalah hari libur nasional, jadi Daniel tak perlu buru-buru untuk bersiap ke sekolah. Dilihatnya kamar Mattew juga masih tertutup rapat, itu menandakan bahkan si penghuni masih belum bangun. Karena biasanya jika hari libur, Mattew akan terbangun sekitar jam delapan atau sembilan pagi. Itu sudah paling minimal.

"Astaga, Kevin. Maaf, ya, kamu aku tinggal seharian," tukasnya pada hewan menggemaskan yang kini melingkar di kakinya.

Kucing itu mengeong dan menggesekkan tubuhnya terus-menerus di sela kaki Daniel. Tampak seperti sedang melaksanakan aksi protes karena ditinggal tanpa pamit.

Daniel segera mengangkat kucing yang kini sudah mulai tumbuh dewasa itu ke dalam gendongannya. Membawanya ke atas kasur dan mengusap bulunya secara perlahan.

Niat awal untuk berbaring nyaman dan bermain dengan Kevin terganggu dengan suara ketukan pintu. Dengan berat hati Daniel urungkan niat itu dan bergegas membuka pintu.

"Kak Matt?" Agak terkejut karena Daniel pikir Mattew masih tidur, tapi kini bocah kekar itu telah berdiri di hadapannya dengan pakaian rapi khas olahraga.

"Eh, temenin jogging, yuk. Mumpung hari libur, dan gue juga lagi free. Ntar sarapan gue yang traktir, deh," ajak Mattew langsung pada intinya.

Menatap ke dalam kamar sejenak kemudian menggeleng. "Nggak, Kevin belum makan. Gue mau ngurus dia dulu," tolak sang adik yang lebih mengkhawatirkan kucing kampung yang dulu pernah ditemukan.

"Lo lebih milih kucing daripada nemenin gue jogging?" Mattew berujar tak percaya.

Bagaimana tidak? Setelah Daniel menemukan kucing itu, entah sudah berapa bulan berlalu Mattew lupa. Daniel sangat mengistimewakan binatang berbulu itu lebih dari apa pun, seperti membelikan kandang, mainan, makanan dengan uang jajannya. Bahkan bisa dibilang, kucing itu seperti keluarga bagi Daniel.

"Karena dia lebih peka daripada manusia," sahut bocah yang hanya setinggi telinga Mattew itu.

Mattew bungkam, adiknya ini irit bicara tapi sekali berucap selalu menyiratkan makna yang dalam.

"Ada lagi yang mau diomongin? Kalau enggak gue masuk, mau mandiin Kevin," pamit Daniel hendak menutup pintu kamar.

"Please, lah. Temenin jogging, gue cuma bisa olahraga pas hari libur gini. Tega amat sama kakak sendiri." Tak mau menyerah begitu saja, Mattew mengeluarkan jurus rayuannya.

Bukannya tersentuh, Daniel malah risih dengan sikap sok manja yang kakaknya. Ia dorong tubuh Mattew hingga mundur satu meter kemudian memasang wajah masam.

"Jijik, Kak," cerca anak itu kesal.

Melihat adiknya memasang muka masam, sontak Mattew tertawa dan mengusap gemas kepala Daniel.

"Lucu banget sih lo," tutur Mattew masih gemas mengusap kepala Daniel.

"Kak ...."

Semburat merah menghiasi kedua pipi Daniel kala Mattew memperlakukan hal itu padanya. Rasanya sudah lama sekali semenjak seseorang mengusap manja kepalanya. Dan Daniel selalu malu jika seseorang mengusap kepalanya.

"Hahaha ... oke, oke, bercanda. Sekarang lo siap-siap, gue tunggu di bawah," titah Mattew kemudian berbalik pergi.

Alhasil niat Daniel untuk merebahkan diri harus ia urungkan karena ajakan Mattew. Huft ... beruntung semalam dia sudah menyempatkan diri untuk tidur sejenak, jadi rasa kantuk tidak begitu terasa. Sebenarnya, Daniel pulang di pagi buta adalah untuk menghindari tatap muka dengan ayah maupun ibunya, namun ternyata mereka belum kembali hingga esok menjelang.

"Ayo berangkat!" seru Mattew ketika melihat Daniel menuruni tangga. Anak itu nampak bersemangat untuk melakukan olahraga yang hanya sekedar jogging itu.

Daniel paham dengan kondisi sang kakak akhir-akhir ini. Mattew sudah berada di tingkat akhir SMA, detik-detik ujian semakin dekat. Wajar saja jika anak itu sudah tak memiliki waktu untuk berolahraga seperti biasanya, karena hari-harinya dipenuhi dengan belajar, belajar, dan belajar. Hidup yang singkat makin singkat karena waktu hanya digunakan untuk belajar.

Hanya berlari pelan, mereka kini sudah sampai di depan sebuah bangunan kosong yang pembangunannya tak selesai. Konon katanya, bangunan itu dulu akan dibangun menjadi sebuah pusat perbelanjaan, tetapi diurungkan karena sang pemrakarsa terkena dampak krisis moneter. Alhasil bangunan itu dibiarkan menganggur begitu saja hingga saat ini. Tak ada yang mau mengelola bangunan itu, ditambah dengan rumor hantu yang beredar di kalangan masyarakat membuat banyak orang takut untuk sekadar lewat di depannya.

Rumor bodoh seperti itu tak mempan jika dihadapkan pada Mattew. Anak itu tak percaya dengan mitos, tak percaya takhayul, apa lagi hantu. Bahkan dulu ia sering pergi ke lantai teratas dari gedung itu dan berolahraga di sana. Gedung yang kokoh dan halaman yang luas, mengapa tidak dimanfaatkan?

"Ngapain ke sini sih, Kak? Katanya mau cari makan buat sarapan," protes Daniel ketika mereka malah berhenti di depan bangunan kotor.

Mattew menatap bangunan di hadapannya sambil mendongak.

"Masuk, yuk." Mattew melangkah lebih dahulu meninggalkan Daniel yang masih senantiasa mematung.

"Kak, yang bener aja. Gue nggak mau, ah. Serem."

Berbanding terbalik dengan sang kakak, Daniel sangat takut dengan hal-hal mistis dan sejenisnya. Ia suka tidur dalam keadaan kamar gelap, tapi dia selalu was-was jika ada suara aneh terdengar. Intinya, Daniel takut hantu.

Mattew berdecak sebal. "Nggak usah takut, di sini nggak ada hantu. Gue mau nunjukin sesuatu," ucapnya terkesan memaksa.

Mau tak mau, Daniel akhirnya mengikuti langkah Mattew. Membawa mereka ke dalam bangunan lusuh itu. Semakin ke dalam, suasana semakin mencekam. Daniel tanpa sadar menggenggam erat lengan Mattew.

"Balik aja, Kak. Gue laper, cari makan aja, deh," rengek Daniel ketika mereka sudah sampai di lantai tiga bangunan tersebut.

Mattew memukul pelan kepala Daniel. "Ih, dibilangin nggak ada hantu, kok, masih takut. Udah nurut aja," tukas Mattew sedikit kesal.

Mengusap kepalanya yang berdenyut, Daniel akhirnya hanya pasrah mengikuti kemauan sang kakak. Setiap langkah membawa mereka naik ke lantai teratas bangunan itu. Embusan angin yang cukup kencang membuat rambut kedua anak itu bergoyang mengikuti arah angin.

"Kak," panggil Daniel.

Raut anak itu berubah semringah ketika matanya mendapati pemandangan yang kini tersaji di hadapannya. Dari ketinggian bangunan sepuluh lantai ini, dia dapat melihat pemandangan di sekitarnya dengan cukup jelas. Meski tempat ia tinggal termasuk daerah perkotaan, tapi dari atas sini Daniel dapat melihat pepohonan lebat di beberapa sudut tempat. Pemandangan yang cukup indah untuh dipandang.

"Ini yang mau gue tunjukkan ke elo. Di balik tampang serem bangunan jelek ini, ada destinasi buat orang yang hobi nge-rooftop kaya lo. Di sini juga gue sering olahraga, ngelatih otot biar nggak lembek," celetuk Mattew penuh percaya diri saat membahas soal otot. Memang benar, tubuh anak itu bisa dibilang lebih berisi dan kekar daripada anak seusianya.

Tak menggubris ucapan kakaknya, Daniel lebih memilih untuk berjalan mendekati pembatas gedung. Ia edarkan tatapan ke sekeliling kemudian memejamkan mata. Menikmati udara pagi yang masih cukup segar karena belum terlalu tercemar oleh asap kendaraan.

Entahlah, sejak dulu Daniel menyukai tempat seperti ini. Rasanya menenangkan tiap kali angin menerpa wajahnya dengan keras. Perpaduan antara sepi, tinggi dan sendiri benar-benar membuat Daniel merasa nyaman.

"Gimana? Lo suka, 'kan?" tanya Mattew pada bocah yang kini menatap lurus ke depan.

"Keren." Begitulah jawaban singkat yang diberikan.

Daniel kembali menikmati pemandangan yang ada di depan matanya dan Mattew membiarkan sang adik menikmati waktu itu. Lagi pula jarang sekali ia bisa melihat wajah tanpa beban milik Daniel seperti yang saat ini tersaji.

Seakan tak mau mengganggu ketenangan sang adik, Mattew memutuskan untuk sekedar duduk santai di atas tumpukkan kayu yang ada di salah satu sudut gedung. Karena tempat itu sering ia gunakan untuk berolahraga, maka itu tidak terlalu kotor.

🍁🍁🍁

Dua puluh menit berlalu, waktu yang Daniel habiskan hanya untuk mematung sembari menatap pemandangan alam yang tersaji dari atas gedung tersebut. Ia merasa kakinya mulai kesemutan lantas memutuskan untuk menyudahi kegiatan tersebut dan mendekat ke arah Mattew.

"Udah kelar makan anginnya?" Mattew bertanya dengan mata terfokus pada layar ponsel.

Waktu menunjukkan pukul 07.15 WIB, dan matahari sudah menampakkan diri sepenuhnya. Sudah waktunya untuk turun dan mencari sarapan karena cacing di perut Mattew sudah berontak sejak tadi.

"Cari sarapan, yuk. Gue yang traktir, Bi Atun 'kan baru balik ke kampung. Katanya baru pulang siang ini," tukas Mattew kemudian.

Mereka mulai bergerak menuruni anak tangga. Mattew sebagai yang lebih tua berjalan di depan Daniel, berjaga-jaga jika ada yang membahayakan. Karena meski ia sering datang ke tempat itu, kalau sudah dibiarkan kosong selama bertahun-tahun pasti akan ada binatang liar yang menghuninya.

"Kita makan di rumah aja, ya, Kak. Gue males keluar, ngantuk banget," keluh Daniel dengan wajah lesunya.

Memang benar, semalaman dua tidak tidur karena hang out bersama Arsen dan kawan-kawannya. Mereka terlalu menikmati waktu bermain sampai lupa jika hari sudah menjelang subuh. Dan yang ia butuhkan saat ini hanyalah tidur.

Menyadari jika sang adik dalam keadaan lelah, Mattew tak mau memaksa. Maka ia memutuskan untuk menuruti permintaan Daniel, mereka memutar arah untuk kembali ke rumah. Lagipula tidak rugi juga jika sarapan di rumah, karena ia bisa sarapan sambil belajar.

Jarak antara gedung kosong sampai dengan rumah mereka tidaklah jauh, hanya sekitar satu kilometer. Masih bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun berlari kecil.

"Mau sarapan apa? Biar gue bikinin," tawar Mattew ketika mereka sudah menginjakkan kaki ke halaman rumah.

Daniel menggeleng. "Nggak usah, biar gue aja yang bikin. Lo tunggu aja di ruang makan," tolak bocah itu bergegas menuju dapur.

Sesampainya di dapur, Daniel tak menemukan bahan makanan apa pun. Dan ia baru ingat jika Bi Atun tengah kembali ke kampung halamannya, itu berarti tak ada yang berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari mereka, yang salah satunya adalah makanan.

Hasil akhir dari pencarian adalah, ia menemukan sebungkus roti tawar lengkap dengan beberapa selai yang tersimpan di salah satu lemari. Daniel pikir, itu cukup untuk sarapan mereka.

Ia mengambil roti secukupnya dan memanggangnya sebentar lantas mengoleskan selai. Sarapan yang cukup sederhana dan mungkin tak akan bertahan lama. Tapi setidaknya itu dapat mengisi perut yang kosong.

"Nih." Daniel menyodorkan piring berisi roti ke hadapan sang kakak yang sudah menunggu di ruang makan.

"Cuma ada ini di dapur, maaf," ujarnya lantas mengambil tempat duduk di depan Mattew.

"Hmm ... makasih," sahut Mattew singkat. Anak itu sedang fokus membaca bukunya, ia hanya menyambar roti itu tanpa memandangnya.

"Papa sama Mama kapan pulang?" tanya yang lebih muda, sebenarnya hanya sekedar berbasa-basi. Pasalnya Mattew melahap makanan sekaligus belajar, dan Daniel pikir itu tindakan yang tidak tepat.

"Nggak tahu, tapi kayaknya siang nanti udah sampai rumah. Kenapa?" balas Mattew yang kini beralih menatap yang lebih muda.

Daniel menggeleng. "Nggak apa-apa, tanya aja. Ya udah, gue ke kamar dulu."

Sembari merapikan meja makan dan membawa piring yang tadi ia gunakan untuk meletakkan roti, Daniel bermaksud untuk membersihkan piring tersebut sebelum ia pergi ke kamar. Meski kebutuhan sehari-hari selalu dilayani oleh sang asisten rumah tangga, bukan berarti ia menjadi anak manja. Tak jarang ia juga mencuci bajunya sendiri karena kasihan jika melihat pekerjaan Bi Atun menumpuk.

"Niel!"

Panggilan Mattew yang cukup keras membuat Daniel terlonjak. Ia nyaris menjatuhkan piring di tangannya jika saja genggaman pada benda pipih itu tidak erat.

"Niel!" Lagi, Mattew berteriak memanggilnya.

Dengan tergesa Daniel mengambil langkah seribu untuk mendekati sang kakak. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati Mattew bersimpuh di lantai sembari memegangi dadanya.

"Kak Matt, lo kenapa?" tanya Daniel sarat akan kekhawatiran, ia nyaris terjungkal karena terlalu panik.

"Uhuk ... gue ... hah ...." Mattew tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia seperti seseorang yang kehabisan napas. Dadanya sesak dan kepalanya sangat pusing, ia benar-benar kesakitan sekarang.

"Kak ...." Daniel sangat panik, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Pikirannya mendadak kosong.

Beruntung hal itu tak bertahan lama karena Daniel segera tersadar dan berteriak memanggil satpam yang berjaga.

"Astaga, Aden," seru Pak Anto, salah satu dari dua satpam yang bekerja untuk menjaga kediaman Immanuel.

"P–pak ... tolong ba–bantu aku bawa Kak Mattew ke rumah sakit, Pak. Aku ... aku nggak tau Kak Mattew kenapa, tapi dia kesakitan," ujar Daniel dengan suara bergetar, bahkan tanpa sadar air mata sudah mengalir di kedua pipi anak itu dengan cukup deras. Ia benar-benar panik dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Mattew.

"Aden! Ayo ke rumah sakit, kasihan Den Mattew," tegur Pak Anto ketika tahu Daniel malah mematung.

Kini mereka dengan susah payah memapah Mattew ke arah mobil yang biasanya anak itu bawa menuju sekolah.

Kondisi jalan yang macet membuat suasana semakin tegang. Dan Mattew yang kini berada di pangkuan Daniel sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.

"Kak, jangan tidur, please," cicit bocah itu dengan suara bergetar menahan tangis yang nyatanya tak bisa dibendung.

🍁🍁🍁

Thanks udah mampir and see you next part~

Salam

Vha

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top