24. Having Fun

💙 Happy Reading 💙
.
.
.


Adakah yang tahu, mengapa manusia diciptakan dan diberi nyawa jika pada akhirnya mereka hanya akan mati? Apakah untuk menentukan mereka akan hidup di neraka atau surga? Huh, jika memang begitu, mengapa tidak dibuatkan daftar manusia penghuni surga dan neraka saja sejak awal? Sehingga Tuhan tidak perlu bersusah payah untuk menciptakan dunia dan seisinya untuk menampung manusia. Lagi pula, dunia yang indah ini juga akan dihancurkan pada hari yang disebut kiamat.

Ah, mengapa Daniel malah memikirkan itu di saat tugas sekolah sedang mengantri untuk dikerjakan?

"Gila," gumamnya lantas menggeleng.

Hal itu membuat Arsen yang sedari tadi memperhatikannya kini mengernyit heran.

"Lo ngomong apa barusan? Gila? Siapa yang gila?" tanya bocah itu penasaran.

Ini hari Minggu dan mereka sedang belajar bersama di kediaman Arsen. Namun, tidak bisa disebut dengan belajar bersama, karena sedari tadi Arsen fokus pada ponsel dan membiarkan Daniel mengerjakan tugas sendirian. Jika sudah selesai, Arsen tinggal menyalin apa tugas yang sudah Daniel kerjakan ke dalam buku tugasnya.

"Lo jangan mikir aneh-aneh deh, Niel. Kan udah gue bilang, kalau ada masalah tuh cerita." Lagi Arsen berucap saat perkataan sebelumnya diabaikan.

Daniel menggeleng. "Nggak ada masalah, kok. Cuma emang gue lagi mikir aneh aja," katanya diiringi senyuman tipis.

Lima bulan setelah mengenal Arsen, dan banyak hal berubah dari Daniel. Dua sahabat Arsen juga mengakui bahwa mengenal Arsen benar-benar memberi efek positif. Anak itu tahu bagaimana cara berinteraksi dengan Daniel yang sejatinya sangat sulit untuk sekedar disentuh. Entah ajian apa yang bocah jangkung itu gunakan sehingga mampu menyentuh hati seorang Daniel Immanuel.

Bocah itu bahkan mampu membuat Daniel mengeluarkan tawanya hanya karena kalimat frontal yang ia lontarkan setiap kali bercakap dengan orang-orang. Dan memang benar jika Arsen sering berkata kasar, tapi nyatanya anak itu tahu di mana batasannya. Intinya Arsen itu unik.

"Nggak usah mikir aneh terus, mending kira main. Mau ikut nggak? Tempatnya deket kok dari sini," ajak Arsen sembari merapikan buku di mejanya. Anak itu nampaknya sudah bosan dengan kegiatan belajarnya.

"Ke mana?" Tak langsung menyetujui, Daniel harus memastikan tempat mana yang akan Arsen tuju karena ia tak mau kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi.

"Clubbing," sahut bocah itu enteng lantas memilih baju dari dalam almari.

Daniel sontak membulatkan matanya begitu mendengar jawaban yang Arsen berikan. Kemudian menggeleng cepat.

"Nggak, nggak, nggak. Gue nggak mau ikut! Lo aja sendiri yang pergi, gue pulang aja," tolaknya tegas. Daniel tak mau kembali ke tempat terkutuk itu lagi. Pergaulan dan atmosfernya benar-benar tidak cocok dengan kepribadiannya.

"Hahaha, bercanda elah. Serius amat. Gini-gini, gue udah mau tobat, nih." Arsen tak mampu untuk menahan tawanya saat menyadari perubahan raut muka Daniel.

Hal itu mengingatkan Arsen pada kejadian dua minggu lalu. Hari di mana ia mengajak Daniel untuk datang ke klub pertama kalinya. Dan tahu apa yang terjadi? Bocah itu berlari keluar dari klub dengan wajah pucat, dan ketika Arsen bertanya mengapa? Dia bilang jika wanita di dalam klub terus meraba tubuhnya, ia takut dan memutuskan untuk meninggalkan tempat berisik itu. Astaga, mengingatnya saja sudah membuat Arsen tertawa terbahak.

"Gue pulang dulu." Daniel memutuskan untuk mengemasi peralatan sekolahnya dan memasukkan ke dalam tas. Lagi pula langit sudah berubah menjadi jingga, pertanda jika hari mulai sore.

"Eits ... tunggu bentar." Arsen mencegah langkah Daniel dengan menarik tudung hoodie yang dikenakan anak itu layaknya mengangkat seekor kucing.

"Apaan, sih? Lepasin nggak?" Daniel yang semula sudah hampir sampai di depan pintu, kini kembali ditarik mundur hingga berhadapan dengan Arsen.

"Iya, iya maaf." Arsen melepaskan genggamannya.

"Kita cuma mau hang out biasa, jalan-jalan ke mall apa cafe gitu buat hilangin gabut di malam Minggu, kok. Lo bilang di rumah nggak ada orang, mending ikut kita aja," lanjutnya kemudian.

Tawaran itu cukup menarik perhatian Daniel, karena memang benar dua minggu terakhir ini papa dan mamanya sangat sibuk. Bahkan mereka sampai tidak sempat untuk sekedar mampir ke rumah dan sarapan bersama mereka.

"Inget, kita jomblo. Jadi kita harus mampu memanfaatkan waktu luang seperti ini semaksimal mungkin, biar nggak ngenes-ngenes banget," imbuh Arsen lantas menjatuhkan lengannya ke bahu Daniel. Suka merangkul orang tanpa ijin, kebiasaan yang tak bisa hilang.

"Emang kalau jomblo harus keluar pas malam Minggu, ya? Tapi kenapa Kak Mattew yang nggak jomblo, juga selalu pergi pas malam Minggu?" tanya Daniel dengan polosnya, anak itu tak tahu jika ada aturan jomblo keluar rumah di malam Minggu.

"Astaga!" Arsen menepuk jidatnya keras.

"Mau marah rasanya," gumamnya yang terdengar hingga ke telinga Daniel.

"Hah? Kenapa marah?"

Arsen menggeleng cepat kemudian berujar, "Intinya lo mau ikut kita nggak? Kalau mau, lo nggak usah pulang. Pakai aja baju gue."

Beberapa saat diam dan berpikir, Daniel akhirnya mengangguk. Menyetujui untuk ikut hang out bersama Arsen dan dua kawannya. Ia hanya perlu memberi kabar pada Mattew jika ia menginap di rumah Arsen, maka semuanya selesai. Kakaknya kini makin sibuk dengan latihan-latihan menjelang ujian, jadi ia tak akan terlalu peduli padanya.

"Tapi jangan ke club lagi, gue nggak suka tempat begituan." Lagi, Daniel mewanti-wanti soal pergi ke club.

"Iya, cerewet banget, sih. Kek cewek aja," gerutu bocah berambut pirang itu. Iya pirang, karena dua hari yang lalu Arsen kembali mengubah warna rambutnya ke pirang setelah dua bulan bertahan di warna coklat. Aturan sekolah? Oh, sekolah tak pernah melarang murid untuk mewarnai rambutnya.

Kembali pada dua remaja tanggung yang kini sudah berdiri di dalam salah satu pusat perbelanjaan besar di ibu kota. Keduanya tengah menanti dua kawan lainnya untuk bergabung dalam keseruan malam minggu yang biasanya rutin Arsen lakukan. Apalagi kalau bukan, nongkrong-nongkrong tidak jelas?

"Eh, sorry, bro. Jalanan macet banget tadi," ulas Sony ketika sampai bersama dengan Brian, terlihat peluh menetes di kening keduanya.

Dengan wajah masam, Arsen berucap, "Lo berdua kalau nggak telat emang nggak hidup, ya? Dasar murid tauladan."

"Halah, bacot. Raja tauladan 'kan elo, karena kita begini gara-gara lo juga," balas Sony tak mau kalah.

Perdebatan kecil memang sering mereka lakukan, tapi semua itu tak pernah mempengaruhi pertemanan mereka. Hal itu sudah Daniel pahami semenjak ia mulai berteman dengan Arsen. Lambat laun ia juga mulai sadar, jika pertengkaran semacam ini terkadang memang diperlukan untuk menguji kekuatan persahabatan mereka.

Dalam hati Daniel bersyukur, karena sudah dipertemukan dengan sosok seperti Arsen dan dua temannya di saat ia merasa jika hidup yang ia jalani tak lebih dari sekadar menghitung hari.

🍁🍁🍁

"Makasih udah mau jadi temen gue," tukas Daniel tiba-tiba.

Kini mereka (Daniel, Arsen, Sony, Brian) sedang berdiri di trotoar sebuah jembatan yang biasanya dilalui banyak pejalan kaki. Malam sudah mulai larut dan mereka sudah banyak bersenang-senang hari ini. Dari nongkrong di cafe, bermain game di sebuah pasar malam yang kebetulan mereka lewati, membeli jajanan di pinggir jalan hingga menonton balap liar dan nyaris tertangkap polisi sudah mereka lakukan. Arsen memasang aturan tidak boleh menggunakan ponsel selama sedang berkumpul, jadilah mereka melakukan kegiatan-kegiatan itu agar terjauh dari benda bernama ponsel.

"Makasih," ujar Daniel memecah keheningan.

Tiga bocah yang semula asik memandangi air sungai di bawahnya kini secara serempak menoleh pada Daniel. Menatap heran pada bocah yang kini malah membuang muka ke arah sungai.

"For what?" Arsen balas bertanya. Ia tatap sosok mungil yang berdiri tepat di sampingnya itu dengan penuh keheranan.

Daniel menatap ketiganya secara bergantian kemudian tersenyum lebar hingga menampakkan dua lubang di kedua pipinya. Ya, Daniel memiliki lesung pipi sama seperti kakaknya, Mattew. Hanya saja milik Daniel akan terlihat jika anak itu benar-benar tersenyum lebar, tidak seperti Mattew yang hanya dengan berbicara saja dua lubang sudah tercipta di kedua sisi pipinya.

"Makasih udah mau jadi temen gue. Karena kalian, gue jadi tahu kalau dunia nggak seburuk yang gue pikirkan. Masih ada orang yang peduli, masih ada orang yang nggak palsu, dan masih ada yang mau berteman sama gue. Padahal kalian tahu, seburuk apa gue. Terutama lo, Arsen. Makasih banget," ungkap Daniel masih dengan senyum manisnya. Sebuah rasa yang disebut bahagia membuat ia mau tak mau menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum.

Mendengar ucapan yang baru saja Daniel lontarkan, bukannya senang atau bangga, Arsen malah merasa aneh. Ia tak tahu jika kehadirannya bisa memberi efek yang begitu besar bagi kehidupan Daniel.

"Lo ngomong apa, sih? Nggak paham gue," sahut Arsen diiringi tawa canggung. Begitu juga dengan kedua sahabatnya, mereka yang tak tahu harus berkata apa hanya bisa tertawa garing.

"Nggak paham juga nggak apa-apa, yang jelas gue benar-benar berterimakasih sama kalian," pungkas Daniel pada akhirnya.

Merasa jika suasana mendadak canggung, Arsen berinisiatif untuk mengambil ponsel di sakunya.

"Ambil foto, yuk. Itung-itung buat ngisi galeri," celetuk Arsen lantas mengambil pose sedemikian rupa. Tak lupa ia tarik Daniel untuk mendekat padanya.

"Satu, dua, tiga." Arsen mulai menghitung.

"Cendol dawet seger," ucap ketiganya tepat sebelum kamera ponsel mengambil gambar mereka.

Daniel mengernyit, dalam hati ia bertanya-tanya. Yel-yel macam apa yang mereka katakan barusan?

🍁🍁🍁


Salam

Vha

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top