Interlude_3
🕸
🕸
🕸
C h a p t e r 1 5 . 5
---Brotherhood---
🕸
🕸
🕸
Malu aku malu,
Pada nilai merah...
Yang tercetak di kertas,
Menatapku nge-gas, seakan penuh benci~
Mengapa oh teganya~
Remedial sama guru~~
Mordred, Atha, Galahad, Mashu dan Rei kicep. Kelima pasang mata mereka tertuju pada Billy dan Yan Qing yang sedang perform di klub koran---baca: curhat karena kena remed.
Awalnya mereka merasa heran dengan trio kwek-kwek klub koran yang formasinya tidak lengkap. Ya, Robin tidak ada disana. Namun setelah Billy menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Atha dan kawan-kawan mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
Alasannya, menggelikan. Sumpah.
Katanya, diantara persekutuan trio kwek-kwek, hanya Billy dan Yan Qing saja yang kena remed. Nah, Robin sendiri sepertinya sedang beruntung sehingga ia tidak perlu ikut remedial. Walau sebenarnya nilai Robin pas-pasan dengan KKM.
Untuk itu, Billy dan Yan Qing sedang musuhan sama Robin karena mereka bilang, "Robin tidak setia kawan."
Motto dari trio kwek-kwek kan, "Segala sesuatu harus selalu bersama."
Tolong, mereka terlalu ke kanak-kanakan!
Untuk itulah, begitu mereka sudah mengetahui hasil ujian yang hancur, Billy dan Yan Qing segera cabut ke klub koran untuk melampiaskan kegalauan hati mereka. Berakhirlah mereka akustikan dengan meminjam gitar milik Charlemagne yang belum dikembalikan oleh Atha dan menyanyikan tembang galau. Merusak lirik, tepatnya.
"Sial, besok aku harus ikut ujian lagi." Billy manyun.
Yan Qing menepuk punggung Billy, "I feel you, Bro!"
Kenapa suram banget, sih. Padahal cuma remed.
"Kalau boleh tau ... remedial apa aja, senpai?" Tanya Rei hati-hati.
Billy melirik Rei. Tatapannya sudah mirip seperti mata ikan mati, "Fisika, kimia dan matematika."
"Kalau Yan Qing-senpai?"
"Fisika, bahasa Inggris dan matematika."
Rei tersenyum maklum. Sedikitnya Rei bisa merasakan apa yang mereka rasakan, soalnya Rei juga agak kesulitan mengerjakan ujian di beberapa materi.
"Kita mau ngapalin apa buat remedial besok, Bil?"
Billy manyun, "Gatau. Ngitung kancing aja."
Yan Qing menjitak kepala Billy sampai Billy mengaduh kesakitan. "Bego. Mapel eyang Nikola Tesla mana ada pilihan ganda!"
Cih! Billy kesel. "Yaudah mengarang bebas. Isi aja lembar jawabannya sama kata-kata puitis 'nanya terus bapak kepo, yah?' Susah amat!"
"Lu auto dikasih nilai donat kalo begitumah."
"Yaudah tulis gini, 'mau tau atau mau tau banget?'."
Urat kesabaran Yan Qing hampir putus mendengar bacotan Billy yang gak berpotensi untuk merubah keadaan. "Bil, beliin palu, gih. Gua butuh buat mukul kepala elu biar pikirannya rada bener."
"Adanya gua geger otak, bambang!"
---ini debat gak mutu kapan beresnya coba?
"Atha, punya pop corn ga? Seru nih liatin mereka berantem." Bisik Rei.
"Ada, tuh." Atha menunjuk ke kantung keresek hitam yang diletakkan didekat jendela, "Tapi jagung buat makanan burung."
Sekarang Rei yang mulai ke-roast.
Demi mencegah virus percekcokan lebih membesar, Mordred dan Mashu segera memisah Atha dan Rei.
"Kalian berdua kenapa malah ikutan perang, sih?" Keluh Galahad.
"Yang mulai Rei, bukan aku." Jawab Atha kalem.
Haduh. Sekarang Galahad yang puyeng harus bagaimana. Pasalnya, suasana klub tidak kondusif untuk bersantai.
Pintu ruangan klub terbuka, disana muncul Okita, Nobu dan Isao. "Selamat siang!"
---makasih, Okita-senpai! Big respect for you. Galahad perlu sungkeman nanti sama Okita. Kedatangannya lumayan menetralisir energi negatif dari debat antara Billy dan Yan Qing.
"Okita-senpai, Nobu-senpai, Isao-senpai, selamat siang." Balas Mashu.
"Lagi ngapain kalian?" Okita kicep lihat Yan Qing dan Billy sedang saling jambak rambut di pojok ruangan.
Mordred berdeham, "Potret orang-orang hopeless karena besok harus ikutan remed."
Mor, gausah diperjelas.
Okita tersenyum kecut, "O kawaii koto."
Stop! Ntar nambah parah bengisnya si Billy ama Yan Qing kalau denger ucapan Okita.
"Lebih baik kalian belajar sana, bukannya baku hantam!" Tiba-tiba saja Osakabe muncul dari arah pintu.
"Okkie!!! Tolong kami!!" Teriak Billy dan Yan Qing dengan histeris.
Osakabe mendengus sebal. Demi kelancaran klub koran di festival, mau tidak mau dia harus membantu mencari cara agar Billy dan Yan Qing lulus remedial mapel Nikola Tesla.
Memutar otak sebentar, Osakabe baru ingat sesuatu. "Disini adakah yang pintar fisika dan kimia?"
Mordred dan Mashu refleks menunjuk Rei. "Nilai fisika dan kimia Rei paling tinggi diantara semua kelas." Jelas Mordred.
"Kalau Matematika?" Tanya Osakabe lagi.
Giliran Rei yang refleks menunjuk Atha, "Atha saja. Penjelasan matematikanya mudah dimengerti."
"Bahasa Inggris?"
Mordred, Galahad dan Mashu saling berpandangan. "Kami bisa bantu kalau soal itu. Ingat kami dari Britain." Kata Mordred.
"Bagus. Untuk pelajaran kelas satu kita sudah punya bala bantuan." Osakabe melirik Isao, "Isao bisa minta bantuan untuk mengajari mereka materi di kelas dua? Basically, materi yang diajarkan dikelas tiga itu hanya mengulang materi dari kelas satu dan dua. Jadi aku minta bantuan kalian, ya."
"Tidak apa-apa sih..." kata Rei.
"Boleh-boleh saja." Isao membenarkan letak kacamatanya yang agak kendur.
Atha kicep, "Boleh saja, sih."
Brak!
---siapa lagi yang datang? Mohon maaf, pintu juga punya hati. Jadi tolong lebih lembut saat membukanya!
"Karna ... senpai?" Gumam Rei.
Karna menarik masuk---baca: menyeret---mahluk bersurai merah dengan tampang seperti setan yang sudah dibakar diperapian neraka, alias mateng. Mukanya nge-gas banget. Sepertinya Rei tahu siapa orang ini. Dari ciri-ciri yang pernah dikatakan oleh Karna, manusia ini adalah teman Karna yang baru saja kembali dari India. Ituloh, yang ikut turnamen lempar ban.
"Ngapain kamu bawa dia?" Osakabe memijat pelipisnya pelan.
Karna membungkuk pada Osakabe, "Tolong ikut sertakan Ashwatthama untuk belajar bersama di klub!"
"Dia bukan dari klub koran, kan?" Bisik Nobu pada Okita.
"Tolong!" Ucap Karna dengan nada lebih tinggi, "Aku kewalahan jika mengajari Ashwatthama sendiri. Kumohon."
---derita banget gitu ngajarin Ashwatthama?
"Lebay!" Dengus Ashwatthama.
Atha loding lama, "Si-siapa namanya? Ash... Ashw... Asshu?"
Rei hampir tertawa, "Ashwatthama." Koreksi Rei.
"Ribet." Atha mendengus.
Osakabe melihat jam tangannya lalu berkomat-kamit seolah menghitung sesuatu. "Oke. Waktu kita kurang dari dua belas jam. Ayo kita mulai belajar kilatnya!"
HAH?!
"Boleh aku minum jus buku paket aja gak? Memori otakku sudah overload." Kata Yan Qing.
Billy mengangguk setuju pada perkataan Yan Qing.
"Bodo. Kalianmah susah diajak seriusnya." Osakabe memijat-mijat kepalanya, "Mau dibantu atau nggak?"
"MAU! Ajari kami suhu!"
"Kalau begitu, kalian bertiga cepat ambil posisi!" Osakabe tiba-tiba sudah memegang harisen di tangan kanannya.
Tuhkan! Osakabe kayaknya ada bakat sulap. Kemaren tongkat kasti, sekarang harisen.
Dengan perubahan Osakabe yang drastis, bahkan Ashwatthama yang badannya ototan aja kalah nyali. Wkwkwkwkwkw, met belajar ya.
"Oiya, satu lagi!" Osakabe menatap Yan Qing, Billy dan Ashwatthama bergantian, "Kalau kalian nyerah, jangan lambaikan tangan soalnya disini gaada CCTV."
---ini bukan acara uji nyali, O-baka-hime!
🕸
🕸
🕸
Hari berikutnya---
"Kira-kira ujian mereka lancar jaya tidak, ya?"
Mashu menatap ke salah satu jendela kelas tempat ujian remedial sedang berlangsung. Disana walau sedikit samar, ia bisa melihat Billy dan Yan Qing sedang duduk mengerjakan soal ujian. Tempat duduk mereka berdua sejajar, bersebelahan dengan jendela.
Untuk Ashwatthama sendiri, mahluk itu berada di ruangan yang berbeda. Diluar dugaan, Ashwatthama ternyata lumayan beruntung karena nilai matematika-nya tidak anjlok sehingga tidak perlu ikut ulangan remedial Nikola Tesla. Yang menjadi masalah untuk Ashwatthama adalah pelajaran sastra dari William Shakespears.
Beralih pada Billy dan Yan Qing, kedua manusia hopeless itu sedang dilanda kecemasan. Bolak-balik Billy melihat ke arah jam dinding, soal ujian dan lembar jawaban. Gusar. Galau. Pengen nyewa mesin waktu Doraemon.
Jadi, yang terjadi saat ini semata-mata bukan karena metode pembelajaran rancangan Osakabe yang gagal. Justru, belajar kilat kemarin sukses---walau ada yang keliru, namanya juga manusia. Hanya saja, Billy dan Yan Qing melupakan satu hal penting didalam mengerjakan soal matematika.
Rumus.
Rumus, gaes!
---yep. Billy dan Yan Qing bisa mengerjakan soal jika mereka mengetahui rumusnya. Sayangnya, mereka lupa. Ironis.
Waktu ujian remedial tersisa sepuluh menit lagi, sekarang apa yang harus mereka lakukan?
---
----
Srek!
Srek---
Muncul sesuatu dibalik daun pepohonan diarah jam sembilan dari tempat duduk Billy dan Yan Qing. Wajahnya tidak terlalu kelihatan karena seluruh tubuhnya tertutupi oleh ponco dengan warna yang hampir menyerupai warna dedaunan pohon. Kamumflase ceritanya.
Billy dan Yan Qing ternganga kaget saat mahluk yang Billy kira adalah kepompong raksasa itu membuka tudung yang menutupi kepalanya.
Robin.
---Robin Hood ada disana.
Robin kemudian mengambil sesuatu dibalik punggungnya. Ia sudah mempersiapkan hal ini sejak kemarin tanpa sepengetahuan Billy dan Yan Qing---karena kemarin dia dimusuhin.
Sesuatu yang dibawa oleh Robin adalah papan white board kecil lengkap dengan spidol dan penghapusnya. Ia menuliskan sesuatu dipapan tersebut.
"Aku akan menuliskan beberapa rumus, sisanya kalian bisa kan, mengerjakan soalnya?"
Billy dan Yan Qing melihat sejenak Nikola Tesla yang masih duduk santai di meja guru. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Robin.
Billy dan Yan Qing memberi isyarat berupa anggukan kepala pada Robin.
Mengerti akan hal itu, Robin segera memulai misi-nya. Tanpa ingin membuang waktu, ia segera menuliskan rumus-rumus matematika yang kemarin di hafalnya lalu menunjukkannya pada Billy dan Yan Qing.
Thanks Bro!
🕸
🕸
🕸
"BRO!!!!!"
---drama setelah sukses dari ujian remed: berpelukan ala Teletubbies.
"Makasih Bro!!"
"Mau ditraktir paan, Beb? Aku kasih permen onlen mau, ya!" Billy nemplok di punggung Robin dan mengacak-ngacak rambut Robin dengan kedua tangannya.
Robin menghela nafas panjang, "Jadi, aku dimaafin, nih?"
Billy dan Yan Qing saling berpandangan sejenak.
"Dimaafin!" Jawab mereka serempak.
Reaksi Atha, Rei, Mordred, Galahad dan Mashu masih sama seperti sebelumnya: kicep.
Kalau tahu kayak gini gausah musuhan aja, keleus.
"Bisa dikatakan klub koran selamat, kan?" Kata Galahad.
Mashu mengangguk, "Secara harfiah sih, begitu."
"Sebentar, aku kasih tahu Osakabe-senpai dulu." Mordred mengetik pesan untuk Osakabe di ponselnya.
Atha dan Rei bernafas lega melihat kondisi trio kwek-kwek maskot klub koran yang kembali seperti semula. Kejadian kemarin lucu, sih. Atha kira Robin akan begitu saja tidak membantu Billy dan Yan Qing untuk belajar. Tapi ternyata ... Robin datang sebagai pahlawan setengah kesiangan di ujian remedial.
Kemarin ternyata Robin tengah menghafal rumus di perpustakaan untuk mempersiapkan hal ini. Robin tahu jika kedua sahabatnya itu agak lola jika mengingat rumus. Untunglah kedatangannya tadi tidak terlambat.
Billy merangkul Robin dan Yan Qing, ia lalu hernyanyi, "Persahabatan bagai kepompong~"
Yan Qing nyengir, "Elu ulet-nya, ya!"
"Anjir, perusak mood." Billy setengah mencekik leher Yan Qing.
"Sudah. Kita tetap teman, kan?" Kata Robin.
Yan Qing dan Billy mengangguk, "Yep. Kita kan bersatu karena nasib yang hampir selalu sama."
"Yosha! Berarti kita bisa ikut festival dengan tenang, kan?" Tanya Robin.
"Ya. Seperti itulah."
Yan Qing tertawa, "Festival terakhir kita harus meledak ya, gaes!"
Billy menatap Yan Qing horor, "Lu mau bawa tabung elpiji?"
"Gausah tabung elpiji, si Arash juga langganan jihad. Untung ada si Asclepius, jadi hidupnya bisa agak lama."
---
---
----
"Eh, tunggu sebentar, gaes..." Billy menatap Yan Qing dan Robin bergantian.
"?"
Billy kemudian menyilangkan tangan didepan dada, "Kayaknya, aku mau resign sahabatan ama kalian."
"Why? Aya naon, Bro?" Robin dan Yan Qing panik.
Billy bermuka pucat. Ia tersenyum masam. "Diantara kita bertiga, hanya aku seorang yang belum pernah digebet cewek. Jadi bye!"
"ANJIR." Yan Qing tepok jidat.
"Cuma cewek, Bil!" Robin geleng-geleng kepala.
Billy ke-roast lihat reaksi Yan Qing dan Robin yang menanggapi masalah ini seolah masalah sepele.
"Kesel tau, ga! Robin digebet B.B, Yan Qing digebet Li Shishi, lah gua? Digebet guling mulu dikamar!" Ucap Billy nge-gas.
"Bil, stop! Kita baru kangen-kangenan sekarang udah mau perang lagi?" Kata Robin.
"Diem lu, tiang!!!" Billy memelototi Robin, "Gua marah karena kalian berdua bisa digebet ama cewek bohay sekelas Shikibu-sensei ya siapa yang gak kesel!?!?"
"Robin, punya lem aibon? Pengen nyumpel mulut si boncel pirang ini dong!" Sekarang Yan Qing yang tersulut emosi.
---
----
Robin be like: BODO AMAT.
🕸
🕸
🕸
Atha membatin melihat kejadian ini, apa festival klub koran akan berjalan lancar, ya?
🕸
🕸
🕸
Hai!
Maafkan jika tulisan di part ini gaje + ejaan ga jelas + bahasa ngegas + dll 😂
Ini murni karena ilham yang datang di saat mandi 🤣
Btw...
Chapter depan, kayaknya bakal ada cross-over dengan anime lain. Soalnya festival.
Ada ide gak, buat cross-over sama anime apa aja? Yang penting genre school-life ya!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top