03. Apakah Racun Pernah Mencintai Bunga yang Layu?

Oleh: akvbutterfly

***

"Apakah racun pernah mencintai bunga yang layu?"

Pertanyaan itu menggema di antara dinding-dinding kesunyian, memecah hening yang terlalu pekat untuk disentuh oleh waktu. Sebuah pertanyaan yang tidak akan dimengerti, tetapi justru itu yang membuatnya lebih jelas, lebih nyata. Layaknya bayang-bayang yang tersisa di tepi mata sebelum akhirnya menghilang, bagai langkah-langkah yang tidak pernah benar-benar terdengar. Namun, kita tahu seseorang ada di sana. Saat kita berusaha memahami, kita akan tersesat dalam serpihan-serpihan jawaban yang tak pernah sepenuhnya utuh.

Di ruang itu, tempat waktu tidak berputar, ada sepasang mata yang saling menatap. Memandang tanpa benar-benar melihat. Mereka duduk di kursi kayu tua yang berderit pelan, di bawah cahaya lampu yang bergoyang lesu. Menciptakan bayang-bayang yang menari di dinding. Itu adalah pertemuan yang tidak diharapkan, tetapi direncanakan oleh mereka yang tak lagi bisa diharapkan. Mereka berbicara dalam sunyi, menggunakan bahasa untuk mereka yang terluka.

"Apakah kamu tahu betapa manisnya racun ini?" Suara perempuan itu mengalir bagai angin di malam berembun. Bibirnya melengkung dalam senyum samar. Namanya Fana, sebuah nama yang menggambarkan sesuatu yang rapuh, tetapi juga abadi. Paradoks yang berjalan ringan di antara kehidupan dan kehancuran.

Ia tidak selalu seperti ini. Dulu, ia mencintai dengan sepenuh hati, tanpa keraguan. Namun, setiap kali ia memberi cintanya, sesuatu di dalamnya pecah. Ia mulai mengerti bahwa setiap cinta yang ia berikan mengandung racun. Tidak dengan sengaja, tapi cinta itu sendiri yang berubah menjadi racun saat mengalir dari dirinya. Sekarang, ia telah terbiasa. Baginya, cinta adalah perangkap, sesuatu yang manis di awal, tapi pahit saat berakhir.

Lelaki di hadapannya, Raung, tidak merespons. Ia hanya menatap. Dengan mata yang kosong, tapi penuh. Di dalam matanya, ada hutan terbakar, ada lautan tumpah, ada langit yang merintih di atas tanah yang tidak lagi merasakan hujan. Hatinya hancur berkeping-keping, tapi kepingan itu terlalu tajam untuk dipungut kembali. Ia pernah menjadi manusia yang utuh, tetapi sekarang ia hanya serpihan dari semua yang pernah ada.

"Kamu tahu, ini bukan pertama kali aku mencintai seseorang hanya untuk melukainya," lanjut Fana, sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang, membiarkan punggungnya tenggelam dalam bayangan. Suaranya lembut, hampir seperti lagu nina bobo yang menipu telinga. "Aku dirancang untuk ini. Diciptakan untuk merasakan cinta hanya demi menghancurkan apa yang aku cintai."

Raung tetap diam, seperti patung yang diukir dari rasa sakit dan kecewa. Namun, dalam kebisuannya ada sebuah perlawanan. Dia pernah mencintai Fana-atau setidaknya, ia pikir begitu. Namun, cinta mereka bukanlah sesuatu yang sehat. Cinta itu membawa luka, membungkus mereka dalam jaring yang semakin ketat. Setiap hari bersama Fana adalah permainan berbahaya antara cinta dan kehancuran, sampai akhirnya Raung memilih untuk menyerah.

"Aneh, 'kan?" Fana tertawa kecil, suaranya seperti kaca yang retak. "Cinta adalah senjata paling mematikan. Lalu aku, aku adalah pejuangnya. Aku memilihmu, Raung. Aku memilihmu untuk merasakan racunku."

Raung akhirnya bicara, suaranya pelan dan penuh beban, seolah setiap kata adalah batu yang harus ia bawa. "Apa kau benar-benar tahu apa artinya memilih?"

Fana mengerjapkan matanya. "Bukankah memilih adalah tentang kehendak? Tentang keputusan?"

Raung tertawa kecil, tetapi itu bukan tawa bahagia. Itu tawa seseorang yang telah melihat terlalu banyak, yang terlalu lelah untuk menangis. "Tidak. Memilih adalah tentang kehilangan. Setiap pilihan adalah kehilangan. Kau memilih satu hal, dan kamu kehilangan segalanya."

Kata-kata Raung menghantam Fana. Sesuatu yang jauh di dalam dirinya bergetar. Ia selalu berpikir bahwa memilih Raung adalah caranya mempertahankan kendali. Namun sekarang, ia menyadari bahwa dalam memilih, ia juga kehilangan. Ia telah kehilangan kemampuannya untuk mencintai tanpa rasa takut, kehilangan dirinya dalam hubungan yang tidak lagi ia pahami.

Diam merayap di antara mereka. Fana merasa racun itu semakin kuat, semakin dalam ia merasuki. Ini bukan racun yang ia tanam. Ini racun lain, yang berasal dari cinta yang tidak lagi ia kendalikan.

"Apa kamu tahu apa yang terburuk tentang racun?" tanya Raung tiba-tiba, suaranya serak, seperti suara dari dalam lubang yang dalam dan gelap. "Racun itu bekerja perlahan. Ia mengalir, merusak, menyusup ke setiap bagian dirimu. Dan pada akhirnya, kamu tidak akan tahu apa yang lebih menyakitkan-racunnya, atau fakta bahwa kamu tidak bisa menghindarinya."

Fana merasakan tenggorokannya mengering. Ia ingin menjawab, ingin berkata sesuatu yang cerdas. Sesuatu yang akan menghentikan kebisuan di antara mereka. Namun semua kata yang ia miliki hilang, lenyap seperti debu di angin malam.

"Apakah ini yang kamu rencanakan?" tanya Raung lagi, menatap langsung ke dalam matanya. "Apakah kami benar-benar merencanakan ini, Fana?"

Mendengar namanya disebut, Fana tersentak. Ia tidak tahu apakah ia yang merencanakan ini, atau apakah ia hanya bagian dari rencana yang lebih besar. Sebuah rencana yang digerakkan oleh tangan-tangan tak terlihat. Apakah ia benar-benar memilih Raung? Atau ia hanyalah alat, boneka dari kekuatan yang lebih gelap, lebih kejam, dan lebih tak termaafkan?

"Aku hanya ingin mencintaimu," Fana berbisik, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Raung. "Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana rasanya dicintai, bahkan jika itu harus menghancurkan kita berdua."

Raung berdiri, kakinya terasa berat, seolah-olah dunia menggantung di bahunya. Ia menatap Fana untuk terakhir kalinya, sebelum berjalan keluar dari ruangan itu. Setiap langkahnya bagai jarum yang menusuk tanah, meninggalkan jejak yang tidak akan pernah hilang.

Di belakangnya, Fana terdiam. Ada sesuatu yang rusak dalam dirinya, tetapi itu bukan sesuatu yang bisa diperbaiki dengan kata-kata. Racun yang ia berikan kepada Raung kini kembali kepadanya, melingkari hatinya seperti ular yang mencekik mangsanya. Lantas ia tahu, pada akhirnya, racun itu akan menghabisinya juga.

Namun sebelum itu terjadi, ia tersenyum. Sebuah senyum pahit, penuh kemarahan, putus asa, dan cinta yang tidak pernah sempat mekar. Ia tahu satu hal: cinta adalah racun, dan ia adalah satu-satunya yang tahu cara meramu racun itu dengan sempurna.

Lalu, di balik kesunyian yang memeluknya, pertanyaan itu muncul lagi, membingungkan. Namun, sarat makna: "Apakah racun pernah mencintai bunga yang layu?"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top