7 : DIA

Sudah satu minggu setelah kejadian Navier mengantar Zyan pulang. Gadis itu semakin gencar melakukan modal dusta jika ada kesempatan emas yang menghampirinya. Semangatnya untuk pergi sekolah kini hanya satu. Bisa bertemu dengan idolanya dan membuat kenangan yang tak terlupakan.

Membayangkannya saja sudah cukup membuat gadis itu merona. Ia merutuki dirinya karena memiliki hati yang mudah sekali luluh.

"ZYAN!"

Zyan menoleh saat merasa namanya dipanggil. Gadis itu terhenti tepat di koridor utama sekolah.

"CITRA?!" seru Zyan tak percaya. Gadis itu bahkan sampai tidak berkedip.

"Kedip! Sampai segitunya ngeliatin gue. Eh, maklum sih. Namanya juga kangen sama gue, kan, ya?" ujar gadis bernama Citra itu dengan percaya diri.

Zyan berdecak. "Lo habis sakit masih nggak berubah, ya? Tambah parah malah."

"Ah, masa?" tanya Citra disertai seringai.

"Bodo! Gue mau ke kelas," ujar Zyan tak peduli. Ia meninggalkan Citra begitu saja.

"Yhaa... Baper dianya," ucap Citra terkekeh geli.

"ZYAN! QUEEN DITUNGGUIN DONG!"

"MISSQUEEN MAKSUD LO?"

"WAH? NGESELIN LO, YA?"

"EMANG! BARU TAU?"

"Laknat dasar!" umpat Citra dalam gumaman.

"GUE DENGER LO NGOMONG APA!" seru Zyan meski sudah berada pada jarak yang jauh.

***

"Pulang bimbel jadi, Nav?" tanya Gilang memastikan.

Navier mengangguk. "Nggak apa, kan kalo sampai malem?"

"Sans, Brader!" ujar Gilang sembari tersenyum.

Brakk

"Ada apa nih? Pada bergosip ria tapi nggak ngajak ceritanya?" ujar Bani setelah ia menggebrak meja milik Navier.

"Sumpah lo, Ban! Gue lagi makan nih! Untung nggak keselek," protes Rafael yang terkejut. Lelaki yang kebetulan duduk di depan Navier itu hampir saja tersedak saat Bani menggebrak meja Navier.

"Maap, Raraf," ujar Bani dengan nada menyebalkan.

"Sekalian aja nama satu sekolah lo ubah! Navier jadi Roro. Gilang jadi Lalang. Terus sekarang Rafael jadi Raraf. Sekalian aja gue ikutan diganti namanya jadi Lalan!" sahut Delan kesal.

"Tau nih bocah! Nggak tau apa gue sama Delan lagi ngerjain tugas?" timpal Rafael.

"Bukannya lo lagi makan, Raf?" tanya Gilang.

"Ya, kan sambil ngerjain tugas nggak ada salahnya," jawab Rafael.

"Kalian terlalu rajin!" cibir Bani.

"Rajin-rajin gini lo pada juga akhirnya nyontek tugas ke kita, kan?" ujar Delan dan Rafael hampir bersamaan.

"Skakmat lo, Ban!" seru Navier tepat di depan wajah Bani.

"Skakmat-skakmat, makan tuh skakmat! Lo pada ngaca elah! Roro sama Lalang juga palingan nyontek Lalan sama Raraf," sahut Bani.

Navier dan Gilang saling bertatapan. Mereka berdua menahan tawa. Dengan gerakan hampir bersamaan, keduanya mengambil buku tugas yang berada pada laci meja mereka. Keduanya lalu menunjukkan buku tersebut kepada Bani.

"Jangan bilang kalo kalian udah selesai ngerjain tugas?" tanya Bani memastikan. Namun, mendengar tawa Navier dan Gilang yang pecah sudah jelas menjadi jawaban atas pertanyaan lelaki itu.

"MAMPUS LO!" seru Rafael sembari membuka kotak bekal berisi donat bertabur keju kesukaannya.

***

Zyan mendengus. Wajahnya tertekuk. Sudah dapat dipastikan jika suasana hatinya sedang tidak baik.

"Saya akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok, ya?" ujar Bu Saras, guru geografi kelas sepuluh.

"IYA, BUU!" jawab kelas X IPS 3 serempak, kelas Zyan.

Bu Saras membacakan tiap anggota yang sudah beliau bagi ke dalam beberapa kelompok.

"Untuk anggota kelompok tiga anggotanya adalah Ileano Stefano, Maresta Hanggardian, Rafardhan Kenzo, dan....." ucapan Bu Saras menggantung. Matanya sibuk mencari sesuatu di atas selembar kertas yang ia pegang.

"ZYAN ARANA!!" seru satu kelas serempak.

"Ah, iya. Zyan Arana, kamu kelompok tiga. Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa tahu jika Zyan Arana merupakan anggota kelompok tiga?" ujar Bu Saras.

Bukannya menjawab, seluruh murid kelas X IPS 3 justru memecahkan tawa mereka, kecuali Zyan.

Sial! Begitulah kira-kira batin Zyan. Siapa juga yang tidak tahu bagaimana hubungan Zyan dan Kenzo yang mendapatkan julukan Tom and Jerry? Ditambah lagi ia hanyalah anggota perempuan satu-satunya di kelompoknya.

Bahkan semua guru yang mengajar kelas sepuluh juga tahu bagaimana hubungan keduanya yang sering membuat keributan di setiap pelajaran mereka. Entah siapa pun yang memulai pertama kali, keduanya pasti akan berakhir dengan mendapatkan siraman rohani super panjang kali lebar kali tinggi dari setiap guru yang bersangkutan.

"Baiklah, silahkan kalian mulai mengerjakan tugas kalian dari sekarang. Kalian boleh mengerjakan di kelas atau pun di perpustakaan untuk mendapatkan lebih banyak referensi. Yang jelas kalian tidak boleh ramai!" kata Bu Saras.

Dan berakhirlah sekarang Zyan, Fano, Mares, dan Kenzo di perpustakaan. Hanya kelompoknya yang memilih untuk mengerjakan tugas di perpustakaan. Hal itu bukan tanpa alasan. Zyan lebih memilih mengerjakan tugas kelompoknya di perpustakaan karena ia tahu pasti bahwa nanti kelompoknya akan menjadi kelompok teramai di kelas. Tentu saja. Ada ia dan Kenzo di dalamnya.

"Berhubung soalnya ada empat dan anggota kelompok kita juga ada empat, nanti masing-masing anggota kedapetan satu nomor, ya?" ujar Zyan membuka percakapan.

"YAA!" jawab Kenzo, Fano, dan Mares serempak.

"Siapa yang mau jawab soal pertama?" tanya Zyan.

"LO!"

"Terus yang mau jawab soal kedua?" tanya Zyan lagi.

"LO!"

"Terus yang soal ketiga?" tanya Zyan lagi dan lagi.

"LO!"

"Dan soal yang terakhir?" tanya Zyan untuk terakhir kalinya

"LO!"

Zyan menatap tajam ke arah Kenzo. Lelaki itu terus saja menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama.

"Lo soal pertama aja deh, Zy. Biar kita tahu gimana cara jawab soal berikutnya. Kalo soal uraian, kan lo yang paling jago buat bikin jawabannya. Bahkan disaat lo gak tahu jawaban soal itu sendiri," ujar Mares mencoba menghentikan Zyan dan Kenzo.

"Oke," jawab Zyan singkat. Lagipula gadis itu juga ingin segera menyelesaikan tugasnya dan terbebas dari tuntutan untuk bersama dalam satu kelompok dengan makhluk paling menyebalkan yang pernah ia temui.

Jemari Zyan mulai menari di atas kertas lembar jawab. Kertas yang sebelumnya kosong tersebut menjadi terisi oleh tulisan tangannya yang rapi pada kolom jawaban soal pertama.

"Udah selesai. Siapa yang mau jawab soal ked--"

Terima kasih kalian barisan para mantan
Dan semua yang pergi tanpa sempat aku miliki

Ucapan Zyan terpaksa berhenti saat mendengar ada yang bersenandung dengan volume cukup keras.

Tak satupun yang aku sesali

"Zyan?" tanya Mares sembari memukul pelan lengan Zyan.

"Eh, iya kenapa?" ujar Zyan sedikit terkejut.

"Gue aja yang ngerjain soal kedua," ujar Mares.

"Hah? Oh, iya." Seketika Zyan merasa seperti orang linglung.

Begini rasanya terlatih patah hati

Senandungan itu kembali terdengar. Suaranya yang sebelumnya terdengar samar kini semakin jelas.

Bertepuk sebelah tangan
SUDAH BIASA!
Ditinggal tanpa alasan
SUDAH BIASA!

Zyan mengernyitkan dahinya. Sepertinya bukan hanya satu yang bersenandung, melainkan dua.

Gadis itu menatap pintu. Sepertinya ekor matanya tadi menangkap segerombolan siswa yang memasuki perpustakaan. Tapi mengapa sekarang tidak ada?

"Lo ngapain di perpus?"

"SETAN!" umpat Zyan karena latah. Lagi-lagi mulutnya tidak bisa dikontrol jika sedang latah.

"Maaf-maaf, gue bukannya bermaksud ngata--CRAZY PEOPLE?!" ujar Zyan terkejut. Bukan terkejut lagi, tapi benar-benar terkejut.

"Ini kedua kalinya lo ngatain gue," cibir Gilang saat merasa tak terima karena diumpati oleh adik kelas paling menyebalkan yang pernah ia temui itu

"Ini kedua kalinya juga lo muncul secara tiba-tiba dan ngebuat gue ngumpat karena latah," ujar Zyan tak mau kalah. "Tapi lo pantes sih gue katain setan. Lagian lo selalu ada di mana-mana. Nggak di gerbang nggak di perpustakaan, lo mulu yang gue temuin. Heran," tambahnya.

"Ngeselin lo, ya? Kalo gue setan, lo iblis!" sahut Gilang.

"Enak aja gue iblis! Gue ini malaikat," ujar Zyan.

"Hei, Anak iblis! Lo itu pede banget, ya ternyata?" kata Gilang.

"Hei, Anak setan! Lo itu nggak pernah ngaca, ya ternyata?" balas Zyan yang masih tak mau kalah.

"Udahlah! Zy, kapan kelar tugas kelompoknya kalo lo malah ribut gini?" ujar Kenzo.

"DIEM LO, NYET!" seru Zyan dan Gilang bersamaan.

"Ngegas sialan," umpat Kenzo.

"Your language!" ujar Mares sok bijak. Padahal ia juga sering berkata lebih dari yang Kenzo katakan.

Fano menjitak kepala Mares. "Sok inggris lo!"

"HUSTTT!"

Zyan, Gilang, Kenzo, Mares, dan Fano tersentak saat ada yang menyuruh mereka diam. Kelimanya menoleh dan mendapati penjaga perpustakaan yang menatap mereka tajam. Mereka melupakan jika perpustakaan juga ada penjaganya.

Lima belas menit terberat yang pernah ada di hidup Zyan. Emosionalnya kini tengah dicampur-adukkan. Kesal saat mendengar Kenzo yang sejak tadi mengoceh tidak jelas. Emosi karena rupanya kelas Gilang sedang jam kunjungan perpustakaan, dimana selama waktu itu berlangsung Gilang selalu menyindirnya dengan menggumamkan, 'Anak Iblis Yang Ngakunya Malaikat'. Dan juga senang karena kelas Gilang juga merupakan kelas Navier. Sejak tadi yang dilakukan gadis itu hanyalah memantau pekerjaan anggota kelompoknya dan memperhatikan Navier yang sedang membaca buku dengan headphone terpasang di telinganya secara diam-diam. Tangan kanan gadis itu ia gunakan untuk menyangga kepalanya.

Lagi baca buku aja tetep ganteng. Emang, ya? Kalo dasarnya udah cogan mau ngapain aja tetep ganteng, batin Zyan. Matanya menatap Navier penuh kekaguman.

Disaat tengah asyik memandang ciptaan Tuhan, Navier menyadari jika Zyan memperhatikan dirinya sejak tadi. Lelaki itu membalas tatapan Zyan. Sedangkan yang tatapannya dibalas justru salah tingkah dibuatnya.

Zyan membuang muka. Namanya juga perempuan. Gadis itu memilih untuk kembali memantau pekerjaan anggota kelompoknya. Tidak peduli sudah seberapa merah wajahnya karena ulah Navier.

Semacam surga dunia bagi Zyan.

***

Zyan berjalan menyusuri koridor sekolah. Ia hendak mengumpulkan tugas kelompok gegografinya ke ruang guru. Dan di sampingnya kini sudah terdapat makhluk absurd paling menyebalkan yang menemaninya.

Zyan menghembuskan napas panjang. Apakah tidak ada yang lain selain Kenzo yang bisa menemaninya? Setidaknya masih ada Mares atau pun Fano yang lebih baik. Gadis itu bahkan jengah mendengarkan Kenzo yang sejak tadi mengoceh tidak jelas. Seperti ini,

"Wah, Zy! Lo liat noh! Cewek cakep tuh!"

"Gila! Mulus bener tuh muka!"

"Yhaa... Penonton kecewa, Bung! Rupanya ia telah memiliki pujaan hati!"

"Eh, Zy, Zy! Liat juga noh yang lagi olahraga di lapangan! Badannya aduhai!"

"Mata zina," cibir Zyan dalam gumaman.

Keduanya melewati ruang kepala sekolah yang tepat terletak di samping ruang guru. Zyan tidak sengaja mengintip ruang kepala sekolah yang pintunya terbuka. Langkahnya terhenti. Pandangan gadis itu terfokus pada seseorang yang tengah terduduk di hadapan kepala sekolahnya.

Ya, Tuhan!

Zyan menggelengkan kepalanya. Ini mustahil! Gadis itu mencoba memperjelas penglihatannya. Siapa tahu saja ia salah melihat. Tapi sepertinya tidak.

"Anak iblis! Ngapain lo berhenti?" tanya Kenzo yang sepertinya baru menyadari jika Zyan tertinggal di belakangnya. Namun, gadis sama sekali tidak bergeming.

"Hei?" Kenzo menggoyangkan lengan Zyan. Mencoba menyadarkan gadis itu.

"Eh?" Zyan tersentak. Dia menatap Kenzo bingung.

"Lo ngapain berhenti?" tanya Kenzo sekali lagi. Zyan menatap ruang kepala sekolah sebelum akhirnya ia menjawab, "Nggak apa. Buruan kumpulin tugasnya."

Kini Zyan yang meninggalkan Kenzo. Lelaki itu menatap punggung temannya tidak mengerti.

"Dia denger nggak, ya kalo gue manggil dia tadi anak iblis? Tapi keknya nggak denger deh," gumam Kenzo.

***

"Nggak ada lagu tambahan? Masa cuma bawain satu lagu doang?" tanya Bani.

"Terus lo maunya kita bawain berapa lagu, Bambang?!" seru Gilang tampak kesal karena jengah mendengar Bani yang sejak tadi terus mengoceh. Lelaki itu bahkan hampir saja membanting gitarnya jika saja Delan tidak mencegahnya.

"Selow, Bro! Baban cuma tanya," ujar Bani.

"Kalem, Brader! Jangan kepancing! Kita harus nyiapin diri buat festival seni sekolah tahun ini. Waktu kita nggak banyak buat latian. Belum lagi ditambah sebentar lagi mau penilaian akhir semester, kita juga harus persiapin diri buat itu. Urusan berapa lagu yang bakal dibawain itu bisa jadi urusan belakangan. Yang penting kita harus ngelatih kekompakan kita dulu," ujar Navier bijak. Selaku leader, hal ini sudah tentu menjadi kewajibannya untuk selalu mengingatkan teman-temannya.

"Tumben bijak, Ro?" kata Bani mengejek.

"Ban!" Navier mencoba mengingatkan Bani agar tidak semakin memanasi suasana. Kelima lelaki itu tentu saja lelah. Bagaimana tidak? Mereka bahkan belum pulang hingga kini setelah mengikuti bimbingan belajar di sekolah. Kelima lelaki itu juga masih mengenakan seragam sekolah mereka.

"Gini deh. Dari pada ribut mulu, gimana kalo kita pesan makanan? Ini udah jam tujuh, udah masuk waktu makan malam," ujar Rafael memberi saran.

"Giliran makanan cepet lo! Inget juga ini udah masuk waktu Isya, kita belum shalat asal kalian inget," sahut Delan.

"Kita shalat dulu aja di mushola. Baru pesen makanan. Biar shalatnya nggak ngantuk karena kenyang," timpal Navier.

"Kuy lah!" sahut Bani antusias. Jika sudah urusan makanan, Bani tidak ada bedanya dengan Rafael. Hanya saja lelaki itu berada pada level sedikit lebih rendah dari Rafael.

Kelimanya keluar dari ruang musik. Mereka berpapasan dengan beberapa anak seni lainnya. Maklum saja. Sejak dahulu jika sudah menjelang festival seni, maka seluruh anak seni akan berada di sekolah hingga malam hari. Tentu saja untuk mempersiapkan yang terbaik untuk hari dimana mereka bisa menunjukkan kebolehannya.

Percakapan ringan antara Navier, Gilang, Bani, Delan, dan Rafael terdengar menggema di langit-langit koridor. Sepertinya mereka telah melupakan perdebatan kecil yang terjadi pada mereka tadi.

"NAVIER!"

Navier berbalik saat merasa namanya diserukan. Ia mendapati Azela. Murid sebayanya dengan ikatan rambut ekor kuda dengan poni yang tertata rapi menutupi separuh dahinya.

"Azela?" tanya Navier memastikan. Azela mendekati Navier. Gadis itu tersenyum.

"Lo masih ikut tari? Gue kira lo udah berhenti," ujar Navier.

"Gue masih ikut, kok. Buktinya gue ada di depan lo sekarang. Sama-sama lagi mempersiapkan diri yang terbaik buat ngewakilin ekskul masing-masing di festival," jawab Azela.

"Lo kenapa ada di luar? Bukannya ekskul tari latiannya di ruang seni budaya?" tanya Navier penasaran.

"Gue mau keluar sebentar. Disuruh cari bahan buat bikin properti stand ekskul tari," jawab Azela. "Lo sendiri ngapain di luar? Bukannya ekskul musik latiannya di ruang musik?" tambahnya.

"Lo kebiasaan, ya suka motokopi kalimat gue! Gue mau shalat dulu, udah masuk waktu Isya soalnya," kata Navier.

"Oh mau shalat, ya? Maaf gue nggak tau. Silakan lo shalat dulu aja. Gue juga mau keluar," ujar Azela tak enak hati. Gadis itu tidak tahu jika Navier akan melaksanakan ibadah. Karena sejatinya mereka berdua berbeda agama. Navier islam dan Azela katolik.

"Ada nyamuk prok...prok... Ada nyamuk prok...prok..." Bani bersenandung.

"Lo pada nggak gatel di gigitin nyamuk? Ada yang lagi ketemu sama gebetan sih," sahut Gilang.

"Beli obat nyamuk sana, Raf!" timpal Delan.

"Buat apa?" tanya Rafael yang berpura-pura tidak mengerti.

"Ya buat ngebasmi kita tentunya supaya nggak jadi nyamuk," jawab Delan.

Navier berdecak sebal. Sedangkan Azela hanya tersenyum.

Uhukk Uhukk

"Azela, Naviernya shalat dulu, ya? Nanti gampang ketemu lagi, kok," ujar Delan sembari menarik tangan Navier menuju mushola. Anak alim yang satu itu memanglah tidak suka jika harus menunda-nunda untuk menunaikan shalat.

"Eh, iya."

Kelimanya berjalan beriringan, kembali melanjutkan perjalanan menuju mushola.

"Yang abis ketemu gebetan pasti seneng, ya?" goda Rafael.

"Ya iyalah, Rafael! Mana ada yang nggak seneng kalo abis ketemu gebetan?" sahut Gilang.

"Tapi sayang...." ucapan Delan menggantung.

"BEDA KEYAKINAN!" seru Bani tanpa beban.

"YHAAAAAA!!" seloroh Gilang, Bani, Delan, dan Rafael bersamaan diiringi dengan tawa mereka yang pecah.

Navier menatap nyalang keempatnya.


CANDRAWULAN


Hola!

Tinggalkan jejak sebagai bukti bahwa kalian telah membaca bagian ini dengan pemberian vote + komen, biar gak sider.

Maafkan bila terjadi kesalahan dalam penulisan.

Keep reading CANDRAWULAN until the end.

Thanks and see you 💙

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top