CHAPTER 1 - Sekeping Kisah dan Senandung Malam (1)
Pertengahan Januari.
Eun-Ji harus ekstra hati-hati waktu membawakan tiga gelas kopi sebelum jam kantornya dimulai. Di depan kantornya, ada sebuah toko yang sangat ramai dan antriannya mengular. Selain karena kopinya yang nikmat, barista dan karyawan lainnya di sana sudah cukup hafal dengan pesanan-pesanan para pengunjung mereka di pagi hari. Jadi, para pengunjung tidak perlu bersusah payah menyebutkan ingin memesan apa, kecuali ada pesanan khusus atau lain daripada biasanya.
"Café au lait dua, dry cappuccino satu," pria di balik meja kasir, Jung Jae-Min, berkata sambil tersenyum saat tiba giliran Eun-Ji yang memesan.
"Kau memang sungguh pengertian," sahut Eun-Ji, ceria.
Eun-Ji sudah bekerja selama dua tahun di Haesun, kantor headhunter untuk merekrut karyawan bagi perusahaan lain. Dan dalam rentang waktu dua tahun itu pula, Eun-Ji langganan datang ke Mansonia, kedai kopi yang sudah jadi favorit para pekerja di area perkantoran ini.
Jae-Min sudah tahu kalau yang memesan Song Eun-Ji atau Go Ah-Na atau Kang Soo-Ra, pesanannya akan sama, kecuali kalau ada varian kopi baru di Mansonia. Ketiga gadis itu akan mencoba varian baru tersebut.
Jae-Min berlalu untuk menyiapkan pesanan Eun-Ji. Setelah selesai, pria itu mengingatkan Eun-Ji untuk menonton pertandingan bisbol nanti malam di TV—mereka berdua memang suka menonton bisbol dan bisa berbincang sepanjang pagi tentang olahraga itu.
Eun-Ji berjalan miring untuk menembus keramaian. Ah-Na dan Soo-Ra, dua orang teman baiknya, melambaikan tangan. Keduanya duduk di bawah salah satu payung yang ada di bagian luar Mansonia. Sekarang masih pukul delapan. Jam kantor dimulai pukul sembilan. Masih ada satu jam lagi untuk bersantai sebelum berjuang dengan tumpukan pekerjaan yang rasanya tidak kunjung usai.
"Perusahaan minyak Taeshin Group sedang mencari posisi manajer pemasaran. Bukan pekerjaan yang sulit. Tapi masalahnya, Kim Do-Min dari bagian personalia perusahaan itu, susah diajak kerjasama!" Go Ah-Na bercerita dengan menggebu. Uap dari mulutnya yang muncul karena cuaca dingin, berbaur dengan emosinya.
"Mwo?! Apa yang orang itu lakukan?!" Soo-Ra yang baru menikah bulan lalu, membulatkan mata. Penasaran.
Beda dengan Ah-Na dan Soo-Ra, Eun-Ji lebih santai bila mendengar gosip tentang klien mereka yang terbilang menyulitkan. Kalau mau memusingkan mereka, nanti saja bila memang dia mesti berhadapan langsung dengan klien itu. Ah-Na dan Soo-Ra sering menyebut Eun-Ji tidak punya empati pada teman yang sedang dirundung kesialan—tentu saja Ah-Na dan Soo-Ra tidak serius dengan cemoohan untuk Eun-Ji itu.
"Dia bilang akan menuntutku karena tidak becus mencari kandidat yang potensial dan malah menyodorkan kandidat yang sangat buruk dan tidak layak masuk jajaran manajerial!" Ah-Na bicara tanpa jeda saking kesalnya. "Micheosseo! Padahal aku menyodorkan tiga kandidat utama, mereka punya pilihan! Kenapa jadi aku yang disalahkan habis-habisan begini?!" Ah-Na makin naik pitam. Dia bahkan meneguk kopinya yang masih panas cepat-cepat!
"Ya! Kau juga memang punya andil bersalah, Ah-Na~ya. Kenapa kau memasukkan kandidat yang seperti itu dalam tiga kandidat utamanya?" Eun-Ji menyahut ringan. "Klienmu tidak sepenuhnya bersalah."
"Ya!!" Ah-Na dan Soo-Ra membentak Eun-Ji berbarengan.
Eun-Ji mengerucutkan bibirnya. "Benar kan, kataku?" tanyanya kemudian sambil nyengir.
"Aku tidak habis pikir kenapa aku sanggup berteman dengannya," Ah-Na mengipasi dirinya dengan kertas menu yang sebelumnya tergeletak di atas meja. "Bukannya membelaku, dia malah menyalahkanku. Soo-Ra~ya, aku tidak tahan berteman dengannya." Ah-Na memutar bola mata, pura-pura sebal pada Eun-Ji.
Soo-Ra geleng-geleng kepala. "Anak ini benar-benar, ya. Kurasa seseorang harus memperbaiki tombol 'pengertian pada teman' di kepalanya."
Eun-Ji mengendikkan bahu, terkekeh. Dia lalu menikmati kembali kopinya yang sangat pas diminum saat udara dingin seperti sekarang.
Beberapa saat kemudian, di tengah obrolan santai ketiga gadis itu, ponsel Eun-Ji berdering. Telepon dari ibunya.
"Ne, Eomma?"
"Kau bisa makan malam di rumah hari ini, Eun-Ji~ya?"
Eun-Ji tidak langsung menjawab. Seingatnya, malam ini ada acara perayaan teman kantornya. Park Ji-Nan, salah satu supervisor di departemennya, naik jabatan jadi manajer. Eun-Ji sudah bilang akan ikut, tidak enak juga kalau dia tiba-tiba membatalkannya.
"Ada apa, Eomma? Otokke? Aku sudah ada janji, sebetulnya...."
Di seberang telepon, Han Ha-Yun terdiam sesaat. "Bagaimana, ya? Ini penting sekali. Ada yang ingin kusampaikan. Atau, kau selesaikan dulu urusanmu, lalu cepat pulang. Eomma menunggumu."
Eun-Ji akhirnya mengangguk setelah disergap rasa ragu—dan khawatir—selama beberapa saat. Mengapa ibunya tiba-tiba ingin bicara segera? Hal penting apa yang ingin wanita itu sampaikan?
"Wae?" Soo-Ra bertanya setelah Eun-Ji menutup telepon.
Eun-Ji membuang napas panjang. "Eomma ingin aku pulang cepat nanti malam. Perasaanku jadi tidak enak."
"Hei! Siapa tahu ibumu malah mau membicarakan hal yang membahagiakan? Berpikiran positif sedikit lah, Song Eun-Ji!" Ah-Na memberi semangat, menepuk sebelah pundak Eun-Ji.
Eun-Ji mengangguk dan tersenyum kaku. Semoga saja, harapnya dalam hati.
***
"Terima kasih, Seonsaengnim!"
"Chukahaeyo!"
"Selamat atas posisi barumu sebagai manajer, Seonsaengnim!"
Suara riuh dari sembilan orang yang ada di restoran barbeque saling bersahutan. Mereka adalah teman satu departemen Eun-Ji; lima orang pria dan empat orang wanita. Untungnya Han Seonsaengnim sedang keluar kota, jadi tidak bisa hadir. Han Seonsaengnim yang adalah atasan Park Seonsaengnim, memang jadi public enemy di departemennya sendiri karena sangat galak dan sering memberi beban pekerjaan di luar akal sehat. Jadi, kalau dia tidak bisa hadir di pesta seperti sekarang, sungguh menyenangkan untuk para subordinatnya—termasuk bagi Eun-Ji, Ah-Na, dan Soo-Ra.
Mereka mengobrol sambil tertawa, merayakan naiknya jabatan Park Ji-Nan menjadi manajer. Untung saja Park Seonsaengnim dikenal sebagai atasan yang baik dan bertanggung jawab di kantor, sehingga semua orang bersenang-senang dalam acara perayaan ini.
"Kombe!"
Suara denting gelas yang beradu memeriahkan suasana, seiring tangan-tangan yang mengangkat gelas-gelas bir ke udara.
"Kamshamida! Ayo, silakan. Meogeo. Makan dan minumlah sepuasnya. Kita berpesta malam ini!" pekik Park Seonsaengnim sambil tertawa.
Bulgogi, galbi, sampai dak galbi di atas panggangan, belum lagi kimchi, labu siam, terong, jamur, sampai selada segar, benar-benar menggugah selera dan membuat perut mereka jadi terasa sangat lapar.
Sore tadi, sebenarnya Eun-Ji sudah mau bilang pada bosnya bahwa dirinya tidak jadi ikut, tapi Ah-Na dan Soo-Ra membujuknya terus, membantu mencari jalan tengah—perkara pesta perayaan memang jadi isu sensitif buat duo Ah-Na dan Soo-Ra. Mereka suka sekali berpesta.
Akhirnya, mereka mendapat solusi: Eun-Ji tetap ikut pesta itu setidaknya sampai ronde satu saja—makan-makan di restoran barbeque. Untuk ronde dua nanti, Eun-Ji memastikan dirinya tidak ikut. Daripada dia lupa diri dan mabuk karena kebanyakan minum alkohol, lalu akhirnya tidak jadi bicara dengan ibunya? Dia tidak mau ambil resiko. Sekarang pun, Eun-Ji tidak minum banyak. Hanya formalitas menghargai atasannya yang selama ini selalu baik padanya.
Dua jam kemudian, semua orang hendak pergi ke pesta ronde dua. Di depan restoran, Eun-Ji berpamitan, memberitahu Park Seonsaengnim kalau dia harus pulang karena ada acara keluarga. Untunglah Park Seonsaengnim tidak protes atau menganggap Eun-Ji tidak sopan karena tidak ikut ajakannya.
Selepas berpamitan, Ah-Na mengiriminya pesan—yang juga mewakili Soo-Ra.
Beritahu kami kalau ada apa-apa. Kami harap kabar bagus lah yang akan kau dengar.
Eun-Ji yang berjalan berlawanan arah dengan teman-temannya, membalas,
Semoga. Sampai jumpa besok.
Eun-Ji merapatkan mantelnya. Udara dingin membuat mulutnya terasa mati rasa. Tadinya dia mau menelepon ibunya, tapi dia urung melakukannya. Dia memutuskan untuk mengirimi pesan saja pada ibunya itu.
Eomma masih di rumah, kan? Aku sedang dijalan menuju rumah. Tunggu aku.
***
Catatan penulis:
Selamat malam! Akhirnya saya post juga Chapter 1-nya. Semoga suka, yaa, hehehe. Jangan lupa ikutin terus kisah ini & empat kisah lain dalam Memento Series. Thank you! ;)
Regards,
Pia
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top