Malam Terakhir
"Jadi, ini malam terakhir kita, ya?"
Aku meringis tertahan mendengar tanya dari suara paraunya. Tanganku yang merangkul pundaknya refleks mengerat, lalu mengusap-usap lembut lengannya yang menjadi tempat berlabuhnya jemariku.
"Aku berharap, aku bisa lihat bintang jatuh malam ini," bisiknya ke telingaku. Embus napasnya yang hangat menerpa leherku, membuat bulu kudukku berdiri karena takut.
Takut bila ternyata aku tidak mampu merasakan embus napas hangatnya lagi untuk esok hari dan ke depannya. Takut pada kenyataan yang akan segera mengakhiri ikatan di antara kami.
"Kamu tau gak kenapa aku pengin lihat bintang jatuh malam ini?" tanyanya, seraya menempatkan satu tangannya di daguku, ibu jarinya bergerak laun di sana.
Aku mengerlingnya, mempertemukan mataku dengan sorot sayu dari matanya. Aku meraih tangannya yang ada di daguku, membawanya ke depan bibirku dan mengecupnya lama-lama. Menyalurkan kasih sayangku untuknya, memberitahunya betapa aku teramat mencintainya.
Aku berusaha menampakkan senyum, kemudian menggeleng. "Emangnya kenapa kamu mau lihat bintang jatuh?" balasku menanyai.
Sosok terkasihku ini memejamkan mata, gurat senyuman pada paras indahnya begitu memikat. Membuatku semakin tak ingin esok cepat datang, menciptakan kalut yang kian membelengguku.
"Aku pengin buat permintaan," lirihnya menjawabku. Sudut mataku dapat melihatnya yang kini tengah mengigit bibirnya yang gemetaran. "Ka-kamu tau gak aku mau buat permintaan apa?" Sekali lagi dia bertanya, parau suaranya bertambah. Membuahkan sakit yang seketika menikam dadaku.
Aku melihat ke atas langit malam berbintang, bulan yang hampir penuh memancarkan cahayanya, menerangi kami yang terduduk di keremangan. Aku menghela napasku, sebelum balas menanyainya. "Emangnya kamu mau buat permintaan apa ke bintang jatuh?"
Sosok terkasihku menangkup wajahku, menatapku lekat dengan kedua bola matanya yang berkaca-kaca membiaskan luka serta harapan besarnya. "Aku mau... aku mau jadi perempuan," aku tercekat mengetahui jawaban yang dilontarkannya. "Supaya kita gak perlu pisah, biar aku dan kamu tetap sama-sama dan aku lah yang akan menjadi mempelai kamu di pelaminan besok." Setelah berucap demikian, setetes air matanya jatuh.
Wajahnya langsung memburam dalam pandanganku yang sedekat ini dengannya, mataku terasa panas, dan tahu-tahu pipiku telah basah.
"Aku mau... kita bahagia selamanya." Lirih suaranya bergetar dan hampir tak terdengar olehku.
Aku menariknya ke dalam pelukanku. Menepuk-nepuk bahunya yang bergetar, mencoba menenangkan suaranya yang terisak-isak dan membisikkan kata cintaku untuknya berulang-ulang.
"Kamu janji sama aku, meskipun kita gak bahagia sama-sama, kamu harus tetap bisa bahagia di kehidupan baru kamu. Ya?"
Aku mengangguk lamat-lamat, mengatakan tanpa lisan padanya, bahwa aku bersedia memenuhi pintanya yang lain itu. Bahwa aku akan bersungguh-sungguh menjalani kehidupanku yang baru tanpa keterikatan bersamanya.
Dapat aku rasakan embus napasnya yang lega membelai beberapa helai rambutku. Dia menarik diri, satu tangannya menyapu pipiku, senyuman tulus tersungging di bibirnya.
Tak ada lagi kata terucap yang terlontar dari mulut kami malam itu, tetapi kedua belah bibir kami saling menyatu. Berpagut dalam diam, mengecap asin air mata yang membaur basahi pipi, begitu erat merengkuh tubuh masing-masing.
Dia menerima satu kecupanku di keningnya, membalas senyumanku kepadanya, mengatakan melalui mataku bahwa aku mencintainya, kemudian dia hanya mengangguk. Tanda memahami semua maksud yang tak sanggup aku sampaikan secara langsung itu.
Tanganku dan tangannya saling melepaskan, tetapi tutur selamat tinggal tidak kami suarakan. Sebab kami sama-sama tahu, bahwa itu tidak diperlukan. Aku membalikkan tubuh tanpa ada niat untuk menoleh ke belakang, karena aku yakin, bahwa dia pun berlaku demikian.
Aku menengadah melihat langit, menghitung bintang dalam diam disertai tetes-tetes air mata yang jatuh untuk kesekian kalinya. Berusaha melupakan waktu yang terus bergulir, detik demi detik membawaku menuju hari esok yang sama sekali tidak kuinginkan, tetapi tetap mesti kuhadapi.
Malam terakhirku bersamanya aku janjikan pada diri sendiri tidak akan pernah aku lupakan. Seperti janjiku padanya tentang aku yang akan tetap bahagia meskipun kami tak lagi bersama.
Tersenyum dengan mata terpejam, aku banyak-banyak menghirup sejuk udara yang mendinginkan rongga di dadaku yang terasa menyempit, membuatnya mengembang perlahan-lahan.
"Selamat malam, cintaku. Terima kasih atas segala bahagia yang pernah kau berikan."
Udara di sekelilingku yang seolah memperdengarkan bisik lirih darinya yang membalas ucapanku barusan, membuahkan senyuman di bibirku pada penghujung malam yang menjadi saksi perpisahan kami.
--TAMAT--
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top