3. Lembur Malam
Cerita ini sedikit ada horornya biar gak bosen sama cerita-cerita sebelumnya.
"Zul di panggil mbak Ani," kata Roro salah satu pegawai di kantor yang Zulfia tempati.
Zulfia melihat ke depan "Ya Ro." Roro segera meninggalkan Zulfia.
Zulfia berdiri dan berjalan menuju ruang mbak Ani. Zulfia mengetuk pintu.
"Masuk." Kata mbak Ani.
Zulfia membuka pintu lalu berjalan menuju tempat duduk yang ada di depan meja mbak Ani.
"Ada apa mbak? Kok tumben jam segini memanggil saya?" tanyanya.
"Gini Zul nanti saya ada acara bisa gak ngerjain tugas ini?" Kata mbak Ani sambil membalikkan laptopnya.
"Tentu mbak. Ada lagi mbak?" Tanya Zulfia lagi.
"Tidak. Ini saja. Nanti kamu pulang pakai mobil saya aja biar lebih cepat pulangnya." Jawab mbak Ani.
"Baik mbak." Ucapnya seraya meninggalkan ruang mbak Ani.
Zulfia mulai mengerjakan tugas yang sudah di kirim mbak Ani lewat e-mail. Sesekali Zulfia melirik jam tangannya.
Dari kejauhan terdengar langkah kaki menuju ke Zulfia. Zulfia tidak sempat melihat orang yang menuju ke arahnya. Dia terlalu fokus dengan tugasnya.
Orang itu berhenti tepat di depan Zulfia dengan wajah yang pucat. "Mbak gak pulang? Ini sudah tengah malam." Kata orang yang di depan meja Zulfia.
Zulfia sepertinya kenal dengan suara yang ada di depannya. Zulfia mencoba untuk menebak "Ini Demal ya. Bentar ya nanggung Dem. Kalau kamu mau pulang sekalian tolong beritahukan jika saya masih di dalam kantor." Jawab Zulfia masih fokus ke laptopnya.
"Ya mbak. Ati-ati kalau lewat di jembatan. Tadi saya jatuh di sana." Kata Demal sambil meninggalkan Zulfia.
Zulfia mendongakkan kepalanya untuk mengucapkan terima kasih karena Demal sudah memberitahunya tetapi apa sangka Demal sudah tidak ada di ruangan itu. Belum ada satu menit jika di hitung. Kok perasaanku gak enak. Udah tadi Demal pesan suruh hati-hati kalau pulang. Ada apa sebenarnya? Batin Zulfia. Paling cuma perasaanku saja. Batin Zulfia lagi.
Tak berapa lama tugas Zulfia telah selesai. Zulfia turun ke bawah dan menuju parkiran. Dia segera menuju ke pos satpam untuk melapor jika dia akan pulang. Loh pak Kardi kok udah gak ada? Tapi kenapa kantor belum di tutup? Batin Zulfia lalu meninggalkan kantor.
Sedangkan dari dalam kantor terdapat seorang yang sedang tersenyum melihat kepergian Zulfia.
Zulfia hampir melewati jembatan yang tadi di beritahu Demal jika dia harus hati-hati.
Ketika Zulfia akan melewati jembatan itu hawa dingin menyergapnya serta bulunya meremang. Sampai di ujung jembatan dia mendengar orang merintih kesakitan.
Zulfia melihat ke kaca spion. Loh itu bukannya Damel? Kenapa dia memegangi tangannya dan kakinya? Kenapa pak Wawan malah hanya melihat saja kok gak membantunya? Bantuin gak ya? Batinnya. Tapi kenapa tatapan pak Wawan horor serta berwajah pucat? Mengapa tadi aku gak ketemu mereka pas lewat situ. Kenapa pas aku udah keluar dari jembatan mereka sudah ada di sana? Apa itu setan yang nakut-nakutin aku. Batin Zulfia. Zulfia merasakan dingin dan bulunya kembali meremang. Dia segera melajukan mobil dengan kecepatan lebih agar segera meninggalkan jembatan itu.
Zulfia sampai di rumah. Dia mandi dahulu sebelum tidur. Ketika dia keluar dari kamar mandi hpnya berbunyi tanda sms masuk.
Zulfia melihat hp, ada pesan dari mbak Ani. Zulfia buka dan melihat pesannya.
From: mbak Ani
Inalillahi.
Telah meninggal saudara kita yang bernama Demal dan Pak Wawan di sekitar jembatan Tundi di karenakan remnya dol dan mereka menabrak pembatas jembatan. Di mohon besok untuk karyawan mengadakan takziah bersama ke rumah Demal dan Pak Wawan.
Selesai membaca sms itu mulut Zulfia menganga. Bagaimana tidak tadi di kantor dia sempat bertemu dengan Damel di jembatan juga dia bertemu dengan Damel dan pak Wawan.
End
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top