Part 8 - Closer

Sebentar lagi adalah jadwal audit tahunan Kementerian Agraria, Infrastruktur, dan Transportasi untuk ISO 37000 yang berfokus pada Governance of organizations. Kesibukan setiap aparat yang sebelumnya sudah padat semakin mengetat, tak terkecuali Moon Jaehyun. Dalam seminggu ini, pria itu menghabiskan malamnya di ruang kerja. Bisa dihitung dengan satu tangan, berapa jam ia mengistirahatkan tubuhnya di apartemen.

Setiap pagi, ia harus memulai harinya dengan memeriksa checklist persiapan dari departemen-departemen di bawah Bidang Transportasi Umum. Seharusnya, hal ini menjadi tanggung jawab staf ahli. Namun, apa mau dikata. Bukan karena Kang kurang mumpuni mengingat pekerjaan ini tidak memerlukan keahlian khusus selain koordinasi dan penguasaan terhadap klausul yang ada di dalam guidance, tapi Jaehyun yang diam-diam tetap ingin membuktikan siapa dirinya.

Saking semangatnya, siang ini adalah jadwal meeting yang ketiga kalinya dalam minggu ini. Setiap hari Jaehyun akan mengadakan meeting untuk membahas progress dari projek yang melibatkannya.

"Menurut saya, ini 'kan hanya audit. Cukup sediakan-rekayasa- dokumen yang dipersyaratkan saja. Implementasi itu ... bisa menyusul lah," pungkas seorang pria baya dari Direktorat Transportasi.

"Lalu, data apa yang mau Anda tunjukkan?"

"Jangan dibuat susah, Moon Jaehyun. Kita bisa improvisasi. Minta saja Dahyun mengerjakannya."

Jaehyun tak menanggapi pendapat dari senior yang jauh lebih tua darinya. Berimajinasi dalam kedok improvisasi. Bisa-bisanya pria itu berdiplomasi. Ciiih. Ia hanya tersenyum kecut.

"Kau bisa minta siapapun. Bahkan staf administrasi itu ...," ucap pria bertubuh tambun itu seraya melirik ke arah satu-satunya gadis berambut blonde di ruangan. Mata Jaehyun pun turut mengikuti arah tangan seniornya.

"Aaaah, Jiho. Bahkan kau bisa menyuruh Jiho merekayasanya. Ini hal yang mudah. Tidak perlu otak, hanya perlu waktu dan tenaga."

Bibir Jaehyun tersenyum asimetris. "Di mana integritas Anda, Tuan Han?"

Judulnya saja, akreditasi untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap integritas kementerian ini, tetapi mental aparatnya masih bobrok. Hal ini sungguh mengecewakan bagi orang idealis semacam Jaehyun.

"Hahaha. Kupikir-pikir dipromosikan di usia muda itu bukan hal yang bagus, untuk individu, apalagi organisasi. Apa, ya? Mungkin lebih tepat disebut terlalu instan atau ... karbitan. Tingkat kematangannya hanya bisa dilihat dari luar saja," sindir Han Minkyu yang terang-terangan menatap lurus ke arah Jaehyun.

Senyum lebar Jaehyun terkembang. Ia masih pada prinsip, jika orang diam marah, maka ia akan tersenyum.

"Di era Joseon, kita mengenal 3 ketidakberuntungan dalam hidup, salah satunya adalah posisi yang tinggi di usia yang terlalu muda. Mungkin, mereka memang pintar, tapi belum punya kebijaksanaan dan terlalu idealis. Hal mudah pun bisa dibuat sulit," timpal salah seorang senior yang lain.

"Apakah Anda berdua masih hidup di era Joseon?" tanya Jaehyun mengejek. Sudah tahu apa yang dikatakan adalah prinsip hidup masa lalu, kenapa harus dibawa-bawa di tahun 2024?

"Tapi itu masuk akal mengingat hal-hal tidak wajar akan memunculkan kedengkian. Kapan pun dan di mana pun."

Jaehyun bertepuk tangan dengan tempo lambat. Senyumnya sudah tak cukup untuk meluapkan sedikit kekesalannya. "Sayangnya, itu lebih baik dari pada baru menjadi eselon 3 setahun menuju pensiun."

Sontak celetukan Jaehyun mengundang tawa seisi ruangan. Bagaimana tidak? Sosok Han Minkyu dan rekan yang menyindirnya sudah lebih dari 10 tahun berada pada level eselon 3 karena performanya yang kurang bagus. Sementara itu, Jaehyun berhasil naik hingga level eselon 2 karena kinerja dan koneksi yang dibangunnya setengah mati.

Han Minkyu hanya bisa tersenyum kecut dan melihat sahabatnya yang ikut tersindir. Bukannya tak senang melihat tawa bahagia rekan kerja yang lain, sebagai pimpinan rapat, Jaehyun meminta mereka semua untuk kembali fokus dan membahas soal implementasi risk governance sebagai poin terakhir yang perlu segera dievaluasi.

Karena atensi penuh tertuju pada Jaehyun, pria itu bisa menyelesaikan diskusi tanpa perdebatan panjang tidak sampai 30 menit. Prestasi sederhana yang cukup membanggakan di tengah agenda meeting yang sering bertele-tele.

Setelah mengakhiri meeting, tanpa sadar Jaehyun melirik ke arah teman kuliahnya yang sedang membereskan notebook dan dokumen yang dibawa gadis itu. Ia tak mengerti mengapa ia jadi memperhatikan gadis itu. Ketika gadis itu hampir selesai membereskan barangnya, Jaehyun buru-buru kembali membuka notebook, pura-pura bekerja sebagai pengalihan. Ia khawatir gerak-geriknya disadari.

Sayangnya, sang Gadis juga tak kunjung beranjak, gadis itu justru tampak kembali sibuk dengan kertas dan pena. Lantas, dari ekor matanya, Jaehyun menyadari kalau gadis itu melipat-lipat kertasnya. Apa ia pikir ini kelas kerajinan tangan?

Masih pura-pura bekerja, Jaehyun terkesiap saat mendapati sebuah pesawat kertas mendarat di samping notebook-nya. Ia tak perlu menengadah untuk memastikan. Seratus persen, pria itu yakin kalau ini adalah ulah ... Park Chaeyoung. Oh, bukan. Gadis itu minta disebut Lee Jiho sekarang.

Ia melirik pesawat kertas yang berada di hadapannya dengan tatapan tak suka. Sebenarnya ia ingin mengabaikannya, tapi mempertimbangkan sudah tidak ada orang lagi di dalam ruangan dan tampak siluet tulisan di dalam lipatan kertas tersebut, akhirnya Jaehyun melepas lipatannya dan membaca isi dalam pesawat kertas itu.

Hei!

Jangan terlalu serius! Meeting sudah selesai.

Berkacalah, kantung matamu sudah mirip panda,

Lebih baik kau melirik pacarmu yang ada di sini :p

Jaehyun mendengus membaca tulisan tangan gadis yang kini menjadi kekasih-nya. Apakah ia baru saja tertangkap basah mengamati gadis itu?

***

Belakangan ini, kadang Rose ingin tertawa keras. Hubungannya dengan Jaehyun belum bisa disebut sebagai in relationship. Ia lebih dari mengerti kalau ini hanya sebuah sandiwara. Tapi, tapi .... Hal ini pernah menjadi keinginannya semasa kuliah. Bagaimana tidak, mereka sempat dekat. Bahkan, ia pernah dikenalkan dengan kakak perempuan Jaehyun, yang juga senior mereka di kampus. Hanya saja, hubungan yang dibangunnya menjadi sia-sia ketika Jaehyun justru menyuruhnya berkencan dengan sahabat pria itu. Rose sangat marah kala itu. Bahkan, Jaehyun menghindar seolah ia adalah jamur beracun yang akan membuat Jaehyun mati di tempat. Sungguh menyebalkan kalau diingat.

Siapa sangka setelah waktu berlalu, Rose bisa menjadi kekasih pria itu dan duduk manis di dalam mobil Jaehyun. Terlepas, selalu ada alasan dari kebersamaannya dengan Jaehyun.

"Kenapa kau tersenyum-senyum- sendiri?"

Rose melirik pria di sebelahnya dengan wajah panik. Tidak mungkin ia menceritakan semua yang berada di otaknya sekarang. "Hanya mengingat hal konyol."

"Memang apa yang lucu?"

"Sebenarnya tidak selucu itu ... tidak biasanya kau memperhatikanku."

"Baiklah abaikan saja. Aku hanya melihat spion dan ekspresimu tentu tertangkap mataku," tukas Jaehyun mengakhiri percakapannya.

Namun, Rose justru merasa kecewa. Kapan lagi ia punya kesempatan bicara omong kosong dengan pria ini. Meskipun mereka mengumumkan kedekatannya, bukan berarti mereka dekat. Rose mungkin bisa bilang hubungannya dengan June jauh lebih dekat ketimbang dengan Jaehyun.

"Hmmm... tadi kau lihat proyek kampus baru di kiri jalan?" tanya Rose retoris. Ia yakin pria itu tidak terlalu memperhatikan dan hanya fokus pada tujuan mereka sekarang.

"Oh, tidak."

Ya, ya, ya. Rose tahu. "Aku jadi teringat waktu kita masih kuliah. Kupikir kau tidak banyak berubah. Masih idealis dan perfeksionis, seperti dulu."

"Lalu?"

"Terkecuali soal kopi, kau tak menghabiskan coffee latte yang kuberikan di rooftop. Padahal, dulu itu adalah minuman yang selalu kau beli sebelum ke perpustakaan. Kenapa? Rasanya tidak enak atau karena kalengnya tidak dilap bersih?"

Jaehyun berdecih. Sudah lama memang ia tak minum coffee latte. "Kalorinya tinggi."

"Kau ... bercanda?"

"Aku serius. Aku minum kopi bukan untuk senang-senang sepertimu. Kafein. Aku memerlukannya untuk menjaga fokusku. Jadi, semenjak di Princeton, aku belajar untuk mengkonsumsi apapun sesuai kebutuhan. Termasuk untuk kopi, aku hanya membeli americano."

Ya, Rose pernah dengar, lebih tepatnya ia mencari profil Jaehyun di Naver dan menemukan status pria itu yang melanjutkan studi di salah satu kampus Ivy League. Sedikit banyak hal itu pasti membentuk karakter dan kebiasaannya.

"Bukan karena harga coffee latte lebih mahal 'kan?"

Jaehyun menahan tawanya. Celetukan Rose mengingatkan betapa polosnya gadis itu di masa lalu. Ia pernah tertawa sepanjang hari hanya karena menghabiskan waktu dengan Rose muda.

"Aku bisa membeli keduanya."

"Tapi kalau kau membelinya di Princeton setiap hari, itu akan mengurangi uang sakumu. Harga susu di sana juga jauh lebih mahal dari Seoul. Jujur saja!"

Jaehyun mengendikkan bahu. Ia tak langsung menyetujui kata-kata Rose, meskipun tebakannya benar.

"Andai saja kau tidak melanjutkan studimu di Princeton. Kau pasti masih menyukai coffee latte, tapi mengapa kau memilih melanjutkan studimu di sana? Kau tidak mengejar seseorang di sana 'kan?" tanya Rose penuh selidik. Oh, my God! Dia sebenarnya tidak bermaksud, hanya ... kelepasan saja.

Jemari Jaehyun mengetuk kemudi dan pria itu tampak berpikir, atau mungkin merangkai kata. "It was my childhood dream."

"Kau tak pernah menceritakannya dulu."

"Oh, ya? Tapi aku selalu memprioritaskannya."

Rose berdecak mendengarnya. Ia bisa membayangkan bagaimana posisinya dulu jika prioritas pria itu saja tak pernah diceritakan padanya. Mulutnya jadi semakin gatal untuk tidak menanggapi, "Termasuk dengan tidak menjalin hubungan dengan wanita mana pun?"

Sontak Rose merasakan tubuhnya terdorong ke depan akibat rem yang diinjak tiba-tiba. Tenang, mereka tidak menabrak apapun. Hanya berhenti karena lampu merah.

Jaehyun melihat Rose dengan wajah jenaka, "Kau masih menaruh dendam padaku?"

"Dendam? Untuk apa?"

"Aku tak menemanimu datang ke gigs malam itu."

Rose melipat kedua tangannya di depan dada. "Tidak masalah. Taeyong orang yang lebih tepat untuk menonton konser. Ia lebih ekspresif, tidak sepertimu yang hanya menyanyi sesekali. Membosankan."

"Kalau begitu, seharusnya hubunganmu dan Taeyong berjalan dengan baik, bukan?"

"Cukuuup. Kami memiliki ketertarikan yang sama. Ia mengajakku datang ke pameran fotografi dan kursus desain. Kurasa aku belajar sangat banyak saat berteman dengan Taeyong."

"Lalu, kenapa sekarang kau tak berkencan dengannya?"

Bagaimana Rose menjelaskannya, ia sama sekali tak pernah berkencan dengan Taeyong. Hanya berteman selama masa kuliahnya dan semua berakhir ketika mereka lulus. Mungkin juga, Jaehyun tahu hal itu karena Taeyong masuk dalam circle-nya.

"Entahlah, bisa jadi karena ia berpikir aku hanya menganggapnya pelarian."

"Kalau kau mau, aku bisa memberikan kontaknya padamu. Kau bisa memperbaiki hubungan kalian."

Kepala Rose seperti dibenturkan ke jendela. Wah, pria di sampingnya sangat di luar nalar. Ia sedang fokus untuk menyelesaikan pekerjaan yang menyita waktu dan bisa-bisanya disuruh berkencan.

"Terima kasih sebelumnya. Tapi, bukankah kita sudah berkencan sekarang?"

"..."

"Sebaiknya, kita fokus pada hubungan kita saja," jawab Rose dengan senyum yang terkembang lebar. Sepertinya omong kosong ini memang harus diakhiri karena Jaehyun mulai menyeret orang hal yang tak ingin dibahasnya.

***

Kalau saja sore tadi Tuan Lee tak meminta tolong Jaehyun menyiapkan pesta anniversary pernikahan di sebuah restoran elit Seoul, Jaehyun tak akan buru-buru pulang dan membawa Rose ke apartemennya. Pria yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri itu memintanya dengan sangat, mengingat anak-anaknya yang tidak berdomisili di Korea Selatan. Sementara itu, Rose sudah lebih dulu dihubungi Nyonya Lee sehingga ia sudah menyiapkan pakaian yang pantas untuk nanti malam. Tapi, gadis itu tak mengabarkan apapun pada Jaehyun siang tadi.

Kalau saja Jaehyun tak mengajak Rose menemaninya menemui event organizer yang dipesan oleh Tuan Lee, mungkin saja mereka bergerak masing-masing. Sia-sia sudah sandiwara yang mereka pertontonkan.

Jaehyun mempersilakan Rose untuk masuk ke dalam apartemennya. Sebenarnya, ia jadi sedikit canggung setelah mengungkit soal Taeyong di mobil tadi. Bagaimanapun ia punya andil salah jika hubungan Rose dan Taeyong tidak berjalan mulus. Ya, tapi semua adalah bagian dari perjalanan hidup mereka.

"Kau bisa bersiap di sini, ya," tukas Jaehyun seraya membuka kamar tamunya.

"Baik. Terima kasih."

"Oh, sebentar. Aku ambilkan handuk dulu."

"Tidak perlu, aku sudah membawanya," tolak Rose singkat.

"Okay."

Pria itu lantas berjalan keluar dan menutup pintu kamar yang digunakan oleh Rose. Ia bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap.

Tepat ketika ia mencuci wajah, pikirannya tertuju pada botol sabun kamar tamu yang belum sempat diisi sejak minggu lalu. "Oh, shit! Bagaimana gadis itu bisa mandi?"

Ia buru-buru membasuh wajah dan membawakan botol sabun miliknya.

Tok Tok.

"Chaeng! Aku lupa bilang, sabunnya belum kuisi."

Tok Tok.

Tidak mendapat respon, Jaehyun pelan-pelan membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Sayangnya, ia tidak mendapati keberadaan siapapun di sana. Meskipun ini apartemennya sendiri, Jaehyun benar-benar segan untuk masuk de dalam kamar ini.

"Chaeyoung, sabunnya kutaruh di atas nakas, ya!" tegur Jaehyun agak keras. Namun, ia tak mendapat balasan apapun. Ia yakin gadis itu di dalam toilet karena terdengar suara berisik dari dalam sana.

"Besok? Kau pikir aku bisa menyulap uang?"

Teriakan dari dalam kamar mandi terdengar keras. Tentu, hal ini bukan untuk Jaehyun, tapi hati kecilnya membuat pria itu berani melangkah mendekati pintu kamar mandi.

"Aku kan sudah bilang kalau akan dibayarkan bulan depan. Kau hanya perlu bernegosiasi dengan pihak kampus, Minki. Apa susahnya dibandingkan mencari uang, sih?"

Suara gadis itu terdengar lebih jelas. Bukannya sok tahu, tapi Jaehyun curiga kalau temannya punya masalah finansial. Padahal kalau diingat-ingat, dulu gadis itu selalu diantar sopir ke kampus. Ia saja merasa berdosa jika harus mengajak gadis itu duduk di atas motornya.

"Begini saja, aku sedang di luar. Aku akan carikan pinjaman dalam minggu ini untuk bayar uang kuliahmu dan berhenti menerorku."

Mendengar panggilan berakhir, Jaehyun segera menjauhi pintu kamar mandi. Ia melirik letak botol sabun sekilas dan memindahkannya di samping pintu. Lantas, pria itu menutup pintu kamar rapat-rapat. Kalau tahu Jaehyun menguping, gadis itu pasti akan sangat sentimen dan Jaehyun bisa kehilangan harga dirinya. Jadi, ia mengambil ponsel di dalam sakunya dan mengetik,

Chaeng

Sabunnya habis dan kau tak menjawab panggilanku.

Kutaruh di samping pintu kamar.

Jangan lupa kunci kamarmu saat mandi!

***

"Jae, aku sudah siap!" panggil Rose seraya mengetuk pintu kamar Jaehyun.

"Aku baru selesai mandi. Apa kau mandi dan berdandan dengan benar?"

Rose berdecak. Ia baru tahu kalau ternyata pria itu mandi sangat lama. Ia hanya menghabiskan waktu tak lebih dari 20 menit untuk mandi dan berdandan. Kalau begini, sebenarnya siapa pria dan wanitanya, sih?

Gadis itu kembali duduk di sofa, memeriksa notifikasi media sosial. Saking lamanya Jaehyun bersiap, Rose sampai punya waktu untuk memperhatikan interior apartemen Jaehyun yang terbilang artistik. Mata Rose melotot mendapati satu sudut apartemen Jaehyun dengan rak besar seperti milik Lucifer Morningstar di balik meja barnya. Manik mata gadis itu menelisik, mencari perbedaan dari label botol yang terpajang. Kalau saja sebagian botol itu kosong dengan merk yang beragam, Chaeyoung bisa mengerti. Mungkin, Jaehyun adalah seorang kolektor. Namun, hanya ada satu nama brand yang bisa ditemukannya. "Unbelievable!"

"Untuk apa dia menimbun Grey Goose sebanyak ini?"

Gadis itu sampai menghitung satu per satu botol yang tertata rapi di dalam lemari.

"Jangan banyak berkomentar!"

Rose refleks menoleh mendapati Jaehyun ternyata sudah berdiri di balik meja pantry dan sedang menuangkan air minum ke dua gelas.

Kening gadis itu mengernyit. Setelah mengenal pria itu-lagi- terlebih dari concern-nya terhadap kalori, sosok Jaehyun lebih masuk akal tampil bersama makanan sehat seperti salad, infused water, atau hanya untuk iklan air mineral. Bagaimana bisa pria berkulit mulus bak pantat bayi banyak menyimpan minuman beralkohol dibandingkan buah-buahan? Lagi pula, pria itu memang sangat rewel soal gaya hidup sehat. Apakah tren zaman sekarang adalah makan sayuran dan minum vodka sebanyak-banyaknya?

"I was curious."

"Then, don't be curious!"

"Biar kulanjutkan kata-kataku.... Di lemarimu ada dari sekitar 50 botol grey goose dan aku yakin, lebih dari setengahnya adalah Ducasse. Berapa sering kau minum dalam seminggu?" tanya Rose benar-benar penasaran.

Jaehyun mendesah pelan. Ia tahu, image yang dimilikinya sedang dipertanyakan dengan ditemukannya botol-botol minuman itu.

"Tidak. Aku hanya minum sesekali kalau dia pulang."

"Dia?" tanya Rose penuh selidik.

"Kekasihku, Chaeng."

"Aku?"

Senyum asimetris Jaehyun tersungging. Tawanya terdengar sarkas. Baiklah, Rose mungkin hampir lupa siapa sosok Jaehyun yang sekarang berdiri di dekatnya. Setidaknya kata terakhir dan raut wajah Jaehyun cukup menyadarkan Rose.

"Oh, kalian tinggal bersama seperti yang dikatakan orang-orang?"

Jaehyun mengangguk sekilas. "Kalau dia sedang di Sejong saja. Kami LDR."

"Kau tidak pernah bilang. Aku pikir kalian sudah putus. Aku jadi takut dia menyerangku kalau tahu aku menempel padamu."

Sekali lagi, tawa lolos dari bibir Jaehyun. Tak lagi sarkas, lebih terdengar jenaka. Ternyata, hanya dengan mengingatkan gadis itu akan statusnya sudah membuatnya was-was. Jika ia tahu sejak kemarin, sudah tentu ia akan mengingatkan soal kekasihnya.

"Sebulan sekali dia terbang ke Incheon dari LA."

"Terima kasih untuk peringatanmu, Tuan Moon."

Sebenarnya ini mau lebih panjang, tapi nanti makin bertele-tele. Jadi segini dulu aja.

Mumpung lagi ada ide dan mood buat mengkorelasikan draft2 yang udah sempat dibikin. Though udah sempat ngetik beberapa sub chapter, ternyata lama juga ngedit dan review 2 chapters ini. Sampai jumpa di lain waktu!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top