Sebelum Mekar

Gekko ...

Gekko Hakai, bangunlah

Bangunlah, anakku

Sudah saatnya kau hidup kembali

Ini adalah hidup terakhirmu, nikmatilah

Sebagai hadiah karena kau telah melakukan semua titahku

Kali ini kupersembahkan kepadamu hadiah yang menarik

Temuilah orang-orang yang paling kau cintai

Bersamalah dengan mereka

Hidup dengan bahagia

Apa pun kehidupan yang menanti, aku akan memberikan akhir yang bahagia untukmu, untuk anak cucumu

Lakukanlah dengan baik, supaya kita nanti bertemu lagi di surga

.

.

Gekko membuka matanya dengan tergesa, keringat bercucuran di pelipisnya bagai sungai yang menganak.

Lagi-lagi ia bermimpi ketika sedang bermeditasi. Benar-benar hal aneh yang tidak bisa dilogika. Harusnya ia tidak bisa bermimpi, karena meskipun mata tertutup tapi ia tidak tidur. Namun, mengapa selalu ada suara familier yang menembus pikirannya? Suara tersebut bahkan seolah diucapkan langsung di samping telinganya, dalam keadaan ia sepenuhnya sadar dengan pikiran sejernih cermin di kamar ibunya.

Apakah mungkin hantu?

"Gekko, meditasimu tidak lancar." Sebuah suara menginterupsi.

Gekko mengangguk, kemudian bersujud sekali di depan seorang pria tinggi besar berambut perak. "Maafkan aku, Ayah. Sepertinya ada hantu yang menggangguku," ujarnya serius seraya kembali duduk tegap.

Shansain, sang ayah, hanya mengernyit kecil tapi tidak mengeluarkan ekspresi lainnya. "Bicarakanlah dengan Yuki."

"Sudah kulakukan, dan dia menertawakanku."

"Karena?"

"Dia selalu mengatakan tidak ada hantu yang berani mendekatiku."

Kali ini Shansain yang mengangguk. "Mata kirinya tidak pernah berbohong. Mungkin itu memang bukan hantu."

Gekko terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengamini ucapan ayahnya. "Ya, Ayah. Akan kucari tahu penyebabnya."

"Hn."

.

.

.

Usai bermeditasi singkat bersama ayahnya, Gekko memilih pergi ke geladak kapal untuk menyegarkan pikiran peningnya. Awak kapal berlalu lalang, setiap kali ia melewati mereka, ia akan disapa sedemikian hormat. Gekko hanya mengangguk kecil sebelum akhirnya bersandar di pinggiran geladak seraya melihat laut luas yang membentang.

Aroma air laut menari di sepanjang udara yang membentang, hatinya pun sedikit tenang.

Seraya melihat burung camar dan warna biru sejauh mata memandang, Gekko merenungi alasan mengapa sekarang ia berada di atas kapal.

Usianya kini lima tahun, dan ayahnya akan memperkenalkan dia dengan dunia luar yang penuh aneka. Ia akan menjelajah China sampai Eropa, bertemu dengan manusia berupa-rupa warna, menikmati makanan bergula maupun berempah. Jika beruntung, ia akan menetap di salah satu negara yang dikunjunginya.

Kakak sulungnya sudah menetap di Perancis, sedangkan kakak ke dua yang merupakan ahli waris akan selalu bersama Ayah, bersiap menjadi kepala keluarga yang baru. Hanya Gekko yang belum memiliki tujuan pasti ke mana ia akan pergi ketika dewasa. Pikirannya masih di awang-awang, tanpa impian, tanpa harapan.

Sebagai anak bungsu dari keluarga pengusaha, Gekko sebenarnya memiliki peluang untuk menekuni bisnis yang sama dengan ayah-ibunya. Ia bisa menjadi pedagang atau mungkin seorang dokter.

Hanya saja, menjadi Hakai tidaklah sepolos kulit luar yang bening dan indah. Sebab, meskipun terlihat seperti pebisnis biasa, keluarganya adalah salah satu penggerak hiruk-pikuk dunia. Di luar tampak agung, di dalam busuk dan hina.

Ayahnya terkenal sebagai donatur di berbagai gerakan sosial, tapi ia juga menjual senjata. Ibunya termasyur sebagai tabib berhati mulia, tapi juga menebar bibit penyakit dan perkara. Kakak sulungnya pandai bicara, hingga bangsawan dengan suka cita mengekori pantatnya. Sedangkan kakak ke dua, dia serba bisa, serba tahu, dipenuhi anugerah langsung dari dewa.

Hakai, seperti namanya, mereka membawa kehancuran. Meskipun nama depan anggota keluarganya sangat baik dan suci, tapi nama belakang mereka tetaplah Hakai.

Hal itu karena keluarganya memang tidak pernah memihak siapa pun. Tidak pada kebaikan maupun kejahatan. Bukan pihak yang ingin menghancurkan dunia, bukan juga yang ingin membersihkan dunia menjadi telur yang bersih. Hanya saja, orang baik dan orang jahat datang bersamaan, meminta tolong pada sesuatu yang sama, kepada klan Hakai, keluarganya.

Dalam hati paling dalam, Gekko tidak suka berkonflik. Ia lebih suka meneguk teh sore di teras rumah daripada mengongkang senapan untuk melubangi kepala orang lain. Menyakiti tanpa alasan bukanlah gayanya.

Meskipun ia familier pada penderitaan, bukan berarti ia suka.

Namun, untuk menjadi orang baik dan bersikap seperti malaikat ... ia juga tidak dapat melakukannya. Ia masih tega membunuh seseorang yang dianggapnya bersalah, masih tega menyiksa orang lain yang memang perlu disiksa.

Mungkin karena darah pekat Hakai mengaliri tubuhnya, sehingga ia tidak dapat menjadi manusia yang sepenuhnya bersih bercinta kasih. Lagi pula, usianya kini baru lima tahun. Apa yang bisa dilakukan anak berusia lima tahun seperti dirinya? Kakak-kakaknya bilang, dia masih terlalu naif, pikirannya terlalu sederhana dan kekanakan.

Sampai saatnya ia memiliki tujuan dalam hidupnya, ia akan berada di bawah ketiak ayahnya. Seraya memikirkan hal-hal rumit mengenai kehidupan, dia hanya harus banyak belajar.

Lagi pula ... "bertemu lagi di surga."

Mungkin ia harus melakukan banyak derma, sehingga ia bisa menemui pemilik suara familier yang selalu mengganggunya. Bertemu dalam keadaan baik dan bersahaja, di surga yang suci nirbencana.

.

Sekilas sapa:

Arti nama depan keluarga Hakai bagus-bagus.

Shansain: cahaya

Kusuri: obat

Ryu: naga

Yuki: salju

Gekko: cahaya bulan

Tapi kalau digabung dengan Hakai, artinya jadi beda. Hakai artinya kehancuran.

Bagi yang sudah baca Blossoming: Snowdrop, pasti tahu kalau mata kirinya Yuki itu buta, tapi bisa lihat yang lain.

(Disimpan 27 November 2019)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top