5 Kuntum

Kereta kuda Bibi Eli sampai di depan pintu kastil, ketika Gekko sedang asik menggoda anak itik yang berenang di dalam parit. Saat Bibi Eli turun dari kereta, Gekko langsung mengernyit mendapati bibinya itu memakai kimono berwarna merah jambu lembut. Bahkan rambut yang biasa ditata seperti bangsawan Angles terhormat, kini digelung sederhana dengan sebuah tusuk konde berhias batu mulia.

"Ayo, sarapan."

Dalam hati Gekko menduga-duga, bibinya itu pasti memiliki rencana terselubung dengan berpakaian seperti itu, dan bahkan mengosongkan perut dari Meopham sampai Hever untuk sekadar mengajak makan bersama.

Gekko sempat mengecek jam sakunya, dan ternyata baru pukul sepuluh pagi. Itu berarti, Bibi Eli-nya bangun tidur lebih awal hari ini. Mengingat biasanya usai datang ke pesta-pesta, bibinya baru bangun sekitar sepuluh atau sebelas siang.

Meskipun sudah sarapan, tetapi Gekko akhirnya menggandeng Bibi Eli ke ruang makan. Tidak apa-apa sarapan dua kali, asal bibinya gembira seperti kupu-kupu di musim semi.

.

Blossoming

.

Sarapan kali ini, pelayan menghidangkan kalkun bakar dengan potongan kentang, ada pula fricassee dan nasi putih yang uapnya mengepul hangat.

Mengingat Bibi Eli menyukai sesuatu yang segar dan dingin, es jeruk disajikan dalam gelas panjang. Tidak lupa sedikit wine untuk mengatasi rasa pusing di kepala.

Gekko yang hanya menemani sarapan, lebih memilih potongan apel yang disiram madu. Kemudian pelayan menuangkan teh hangat tanpa gula ke cangkirnya.

Dalam hati, ingin sekali Gekko menghidangkan natto untuk Bibi Eli, tetapi ia sendiri tidak begitu menyukai makanan lengket itu, sehingga tidak ada persediaan yang bisa digunakan untuk mengusili bibinya sendiri.

"Kudengar, kemarin kau membawa seorang omega ke dalam rumah? Seorang omega yang sedang mengalami musim kawin." Bibi Eli memulai percakapan. Tangannya yang hari ini tidak dilapisi sarung berenda sutra, mengiris daging kalkun pelan-pelan.

Gekko mengangguk ringan. Tidak ingin menjawab dengan ucapan saat mulutnya telah penuh dengan apel segar berlumur madu.

Usai satu suapan, bibi Eli bicara lagi. "Untuk apa membawanya ke rumah? Kau tidak ingat bahwa di rumahmu ini, sudah punya beberapa perempuan omega yang seharusnya, aroma feromon mereka cukup untuk membuatmu hilang akal."

Gekko menghentikan memakan apel, dan menyesap teh hangat untuk melegakan kerongkongan. "Saat itu keadaan sedang genting," jawabnya kemudian. "Lagi pula, dia mendirikan rumah di hutan pribadiku. Aku harus menuntut pajak darinya. Jadi tidak mungkin kubiarkan dia lolos begitu saja."

Namun, Bibi Eli tersenyum sangsi. "Oh, dan kuyakin dia tidak punya uang untuk membayar pajak yang kau maksud mengingat bagaimana omega itu membangun rumah secara ilegal. Dan biar kutebak, kau akan mempekerjakannya di kastilmu yang besar dan mewah ini. Bukankah begitu, Nona Gekko yang terhormat?"

Gekko melihat Bibi Eli sekilas, lalu kembali menancapkan garpu pada apelnya, baru setelah itu dia mengangguk sekali.

Mendapat jawaban yang sebenarnya sudah bisa diduga, entah mengapa Bibi Eli masih ingin mengembus napas lelah. "Kau sudah menjauhkan semua pelayan omega dari kamar calon pelayan barumu itu, 'kan? Hanya mengingatkan, omega yang mekar sering kali memicu heat yang lain. Aku tidak tahu bagaimana prosesnya, tapi mereka itu seperti penyakit menular. Aku yang beta ini mana mengerti."

"Tidak ada masalah," jawab Gekko tenang.

Hanya saja, seringkali ketenangan Gekko itu sedikit menakutkan dan membuat penasaran. Bibi Eli kerap bertanya-tanya, mengapa keponakannya yang satu ini kadang punya perilaku yang tidak mencerminkan layaknya manusia.

Terkadang, sekelebat pikiran bahwa Gekko adalah penyihir, pernah mampir di malam ketika Bibi Eli sendirian.

Countess of Meopham itu menggeleng-geleng cepat, mengusir prasangka.

"Aku terkadang heran dengamu. Mengapa alpha sepertimu begitu tahan dengan feromon omega." Mata Bibi Eli lekat memandangi Gekko. "Anakku saja, Alex yang begitu bijaksana dan budiman, sering kali mengeluh tentang aroma omega. Apalagi omega yang sedang mekar. Dan kau di sini, hidup bersama ... lima atau enam omega, tampak nyaman-nyaman saja. Kau ini manusia atau patung?"

"Aku manusia, Bibi."

"Iya aku percaya, itu tadi sindiran. Namun, yang kupertanyakan adalah caramu bertahan dari feromon mematikan itu? Tidak mungkin, kan kau berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, lalu bersemedi di dalam goa untuk mendapat rahmat Tuhan."

Namun, Gekko diam di tempatnya. Lalu dengan entengnya menjawab, "ya."

Bibi Eli ikut terdiam beberapa saat, setelah itu menegakkan punggung berlebihan, disusul mata melotot, dan akhirnya berteriak dengan suara melengking. "Yang benar?!"

Tatapan datar Gekko pun menjawab segalanya.

Jus jeruk yang dihidangkan untuk Bibi Eli, diteguk dengan rakus. Setelah berdehem, Bibi Eli kembali kepada sikap semula; santun, lemah lembut, dagu terangkat angkuh. "Ha ha ha, aku lupa jika kau ini seorang Hakai," tawanya mengada-ada.

"Sebenarnya, Bibi ke sini punya tujuan khusus, bukan? Mengapa kita tidak bicarakan itu saja," sela Gekko.

Mata Bibi Eli berbinar, dengan senyum paling manis dan kekanakan, dia pun memulai bujuk rayunya. "Jadi, suamiku yang sangat menyayangimu dan berjasa atas segala bisnismu, sedang ingin mengadakan pesta pedesaan. Kau tahu, kan season sudah dimulai dan aku sedang tidak ingin pergi ke London. Ya ... mengapa tidak mengadakan pesta sendiri saja. Lagi pula sudah lama keluarga Gray tidak menjadi tuan rumah untuk sebuah pesta."

"Dan?"

"Dan pamanmu yang baik hati dan menyayangimu itu, ingin mengadakan pesta di kastilmu alih-alih rumahnya sendiri. Boleh, ya?"

Gekko diam sesaat memandangi wajah semringah Bibi Eli. Sejujurnya agak geli dengan bagaimana Bibi Eli mendeskripsikan sang suami, bahkan dengan jelas mengingatkan bahwa Gekko memiliki banyak hutang budi pada kepala keluarga Gray. "Kurasa itu bukan sepenuhnya ide suamimu."

Sangat riang, Bibi Eli menjawab, "Benar. Itu adalah ideku, sebagian. Tapi suamiku menyetujuinya dengan mudah. Kabar baiknya aku sudah menyebar undangan. Jadi persiapkan tempatnya. Seminggu lagi pesta diadakan."

"Ya." Gekko pun mengelap mulutnya menggunakan serbet lembut, membiarkan Bibi Eli girang sendiri.

.

oOo

.

Usai lima hari penuh dirawat Sarah, dan dinyatakan bahwa heat-nya sudah selesai, Silca dikejutkan dengan kunjungan sore seorang laki-laki berambut merah kuncir kuda ke kamarnya.

Laki-laki rambut merah itu berpakaian sangat rapi, dan meskipun bukan omega, tetapi baunya harum. Silca yakin bahwa hanya parfum kualitas terbaik yang mampu memberi wangi seperti itu. Pelayan biasa mana mungkin memiliki keistimewaan memakai minyak wangi.

"Nama saya Cherry. Dan mari, Master Gekko sudah menunggu Anda di ruangannya."

Tidak tahu harus menjawab bagaimana, Silca hanya mengangguk. Ia mengikuti setiap langkah laki-laki bernama Cherry itu, dan semakin merasa bahwa dia begitu dekil.

Bagaimana tidak, Silca hanya mengenakan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana hitam panjang. Tanpa rompi, ia diberi mantel coklat sederhana.

Dalam perjalanan yang cukup panjang, Silca melihat para pelayan berseliweran. Entah ada berapa, Silca tidak menghitung, yang jelas lebih dari yang bisa dihitung jari. Matanya juga jelalatan, memperhatikan perabotan rumah yang antik tetapi mewah. Cukup menyadarkannya bahwa dia memang berada di rumah orang berada.

Ternyata malaikat maut yang mungil itu, tinggal di tempat sebesar ini, batinnya ingin menangis.

Akhirnya setelah sampai di depan pintu berukir rumit, laki-laki bernama Cherry itu berhenti. Ia membuka pintu, dan mengintruksikan Silca untuk masuk. Usai Silca menjejak ke dalam ruangan, pintu pun ditutup dari luar.

Belum sempat Silca mengendarkan pandangan ke mana-mana, matanya segera bersirobok dengan iris kelam seseorang yang selalu dirindukan aromanya. Mungkin efek terpesona, sehingga Silca mematung di tempatnya.

"Silakan duduk."

Untungnya, suara tuan rumah yang kemarin memperkenalkan diri bernama Gekko Hakai itu langsung menyadarkan Silca. Tubuhnya yang kaku mulai bisa digerakkan, meskipun terasa sangat canggung.

Silca pun duduk di sebuah sofa panjang, berhadapan langsung dengan Gekko yang duduk di sofa panjang lainnya.

Nyala perapian sangat membara, dan hal itu membuat rambut samping Gekko berkilau. Entah mengapa, Silca seperti melihat sebuah boneka untuk anak perempuan berukuran raksasa.

"Langsung saja. Aku telah menghancurkan rumahmu yang ada di hutan."

"Apa?!"

Mata Silca sudah seperti ingin keluar. Tidak menyangka bahwa setelah ditimang-timang keindahan, dia dijatuhkan dengan sangat keras ke dasar jurang.

"Tidak perlu marah. Aku hanya melakukan tindakan sesuatu aturan. Mengapa? Karena kau telah membangun rumah di atas tanah milikku, tanpa izin, dan tanpa membayar pajak. Sudah berapa lama kau tinggal di sana?"

"Du-dua tahun."

"Benar. Dua tahun tanpa membayar pajak."

Rasanya, Silca ingin menampar mulut kecil itu. Padahal, kandelir-kendelir dipenuhi nyala lilin, menempel di dinding. Suasana ruangan sangat terang, tetapi entah mengapa mata Silca terasa terlalu gelap. Pikirannya pun gelap. Tidak tahu harus berbuat apa dalam keadaan terdesak seperti sekarang. "Kenapa kau sangat kejam?" hanya itu kalimat pamungkasnya. "Kau sangat tidak adil!"

Silca bisa melihat Gekko yang menaikkan sebelah alis, dan sayangnya hal itu sukses membuat perut Silca melilit.

"Tidak adil? Bukankah kau yang tidak adil? Kau tinggal di wilayah orang lain tanpa izin. Sangat merugikanku."

"Ta-tapi mengapa kau begitu kejam? Tidak bisakah membicarakannya denganku dulu?"

"Jika kubicarakan lebih dulu pun, kau tetap tidak bisa berbuat banyak untuk mempertahankan rumahmu. Aku hanya mempercepat prosesnya. Dan sekarang, aku ingin meminta pertanggungjawaban darimu."

Takut-takut, Silca memberanikan diri mengeluarkan suaranya. "Pertanggungjawaban apa?"

"Silakan membayar pajak padaku. Dua tahun penuh."

Bahu Silca merosot lunglai. "Ta-tapi, aku tidak punya uang," akunya lirih. Wajahnya sudah pucat mirip mayat.

"Aku sudah tahu."

Kurang ajar! Ternyata wanita berwajah boneka itu memang seperti malaikat maut. Silca merasa nyawanya bisa dicabut kapan saja.

"Oleh sebab itu, aku menawarkan pekerjaan untukmu di rumahku yang sederhana ini."

Silca memutar bola matanya. Rumahku yang sederhana katanya.

"Kau bisa mulai bekerja menjadi pelayan."

"Pelayan?"

Gekko mengangguk. "Namun, separuh dari gajimu akan kupotong untuk melunasi hutang pajakmu."

"Kau memerasku?!"

Masih dengan ketenangannya yang luar biasa, Gekko menjawab, "Tidak. Aku berusaha membantumu. Tentu pilihan ini lebih baik daripada aku menjebloskanmu ke penjara."

Silca mati kutu. Sudah tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Merasa tidak punya pilihan, dia pun hanya mengangguk lesu.

Gekko memalingkan wajah, menghadap ke perapian seraya menopang dagu dengan satu tangan, siku bersandar ke lengan sofa yang tinggi. Telapak membungkus mulut, menyamarkan seringai kecil di sana.

Diperbaruhi tanggal 9 Nopember 2018(dipublikasi kembali dengan sedikit editan pada 20 Desember 2019)

.

Sedikit catatan tentang setting rumah yang dipakai sebagai rumah Gekko.

Tempat ini adalah kastil yang dibangun pada tahun 1462 sampai 1539. Lokasinya ada di Desa Hever, Kent, Inggris. Dikenal sebagai rumahnya Anne Boleyn, istri ke dua Raja Henry VIII.

Desa Hever ini merupakan desa paroki, yang terdiri dari desa Hever, Four Elms, dan Markbeech.  Gerejanya ada di dekat kastil Hever, namanya St. Peter.

Ini video kalau mau lihat lebih detil.

https://youtu.be/giicaoHmmgM

Lokasinya memang nyata, tapi cerita ini fiksi semata. Saya cuma pinjam gambaran kastilnya, biar gampang dibayangin aja gitu.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top