27 Kuntum
Tuan Penguasa yang mempekerjakan Gekko saat itu adalah seorang comte, seorang bangsawan dengan tanah titipan dan kekuatan cukup besar. Seseorang berkata, Sang Comte sudah menikah tiga kali, dan istri terakhir ini adalah seseorang dari kalangan rakyat biasa.
Walaupun cantik, walaupun seorang omega, tapi istri dari kalangan jelata hanyalah pajangan sempurna. Mereka diam, tidak begitu terdidik sehingga jarang mengeluh, jika bosan pun sewaktu-waktu dapat dibuang.
Sang Comte bahkan tidak perlu sembunyi-sembunyi meniduri gundik meskipun sudah beristri.
Kemudian masih di musim panas yang berkeringat, Gekko akhirnya bertemu dengan Sang Countess dan putranya yang masih delapan tahun.
Kesan pertama tidak begitu istimewa, walau harus Gekko akui kecantikan Countess kala itu cukup membuat seorang bangsawan tersandung kaki sendiri.
Di samping Countess, seorang pria kecil terlihat berbinar matanya. Bocah dengan kulit putih kemerahan menatap Gekko dengan wajah gembira. Entah mengapa bisa begitu, tapi sebenarnya Gekko sedikit terganggu.
“Ini putraku, namanya Leicas. Sepertinya kalian sepantaran.” Sang Comte, Salome namanya, memperkenalkan putranya yang jelita. Seorang putra yang kecantikannya melebihi wanita.
“Saya Gekko.” Sayangnya respon Gekko selalu kering seperti biasa. Cukup mengecewakan mungkin, apalagi bagi orang yang baru pertama menyapa.
Anehnya respon dingin itu malah membuat Leicas terkekeh. Mata bocah itu bulat besar berwarna hitam, jernih seperti giok yang baru dirempelas. Pipinya putih bersemburat merah, mirip persik gembul yang pasti banyak airnya.
Lagi-lagi hal itu membuat Gekko terganggu, sedikit jengkel karena respon yang didapat tidak seperti biasa. Bukankah anak kecil cenderung takut padanya? Mengapa Leicas malah bersikap ramah?
Bocah aneh, batin Gekko menggerutu.
"Apakah hari ini Gekko yang akan menemaniku bermain?" tanya Leicas, sangat bersemangat.
"Saya hanya menjaga," jawab Gekko cepat.
Leicas menggeleng-geleng kecil, "sama saja, sama saja," ucapnya kukuh. "Ayo, Ma sœur, kita berkeliling kebun bersama!" Tangannya yang masih seperti bayi menggenggam tangan Gekko cepat, lalu mengajak berlari sambil terkekeh bahagia.
Sebenarnya Gekko semakin kesal, tapi tangan Leicas sangat lembut dan hangat. Walau ingin lepas, tapi rasanya sedikit enggan.
.
.
.
Di perkebunan anggur yang begitu luas, Leicas sibuk berlari seperti tupai. Ia sangat senang ketika Gekko mengejarnya. Padahal saat itu, Gekko berlari dengan ogah, sedikit bermalas-malasan karena sebenarnya ia bisa menangkap Leicas kapan saja.
Sementara itu, Salome hanya duduk di tanah yang lebih tinggi. Sebuah karpet dari kain digelar, dan pelayan pribadinya menyajikan kue serta buah. Ia mengawasi Leicas bermain, senyumnya lembut mirip ibu peri.
"Gekko! Lihat! Ada bekicot!" Leicas berseru girang. Ia berhenti di salah satu pohon anggur, mengamati bekicot putih yang tidak bergerak sama sekali.
Ketika Gekko mendekat, Leicas sudah mengambil bekicot itu dengan tangannya. "Bukankah ini yang kita makan saat perjamuan?" tanya si pipi persik.
Gekko mengedikkan bahu. "Saya tidak suka makan bekicot."
"Benarkah? Aku pernah memakannya, dan cukup enak. Papa sangat suka bekicot," jelas Leicas sekali lagi.
"Selera orang berbeda," sahut Gekko.
Leicas mengangguk, lalu meletakkan kembali bekicot putih itu ke tempat semula. "Lalu, apa yang Gekko suka?"
Gekko mengernyit ketika mendapati Leicas mengelap tangan yang kotor ke bajunya sendiri.
Sambil menjawab, Gekko mengambil sapu tangan dari saku celana dan mengelap tangan Leicas pelan. "Mungkin apel."
Mata bening Leicas berbinar, menatap Gekko dengan perasaan senang. "Apel? Aku juga suka apel. Apa kau juga suka pai apel?"
Gekko mengangguk, melipat sapu tangannya dengan rapi dan kembali mengantunginya.
"Bagaimana kalau besok kita makan pai apel bersama?"
Gekko diam sejenak, menatap Leicas aneh, tapi pada akhirnya menganggukkan kepala.
"Yei!! Aku tidak sabar untuk besok." Leicas meloncat-loncat kegirangan. "Bagaimana dengan minuman? Apa yang kau suka?"
"Susu."
Mata Leicas kembali membulat penuh binar. "Aku juga! Waa senangnya kita punya dua hal yang sama yang kita sukai!"
Entah sejak kapan apel dan susu menjadi hal yang Gekko sukai. Seingatnya, ia tidak punya ikatan seperti itu pada makanan tertentu, tapi karena Leicas bertanya, dan ia menjawab sembarangan, akhirnya diputuskan dengan mudah jika susu dan apel menjadi bagian yang disukainya.
Sungguh konyol.
.
.
.
Masih di musim panas. Gekko tiba-tiba saja dipanggil Tuan Tanah, lagi.
Si Comte yang masih peduli pada istrinya itu mengutus Gekko untuk menemani Leicas ke acara bermain anak-anak.
Bangsawan memang rumit, bahkan pertemanan anak-anak diatur oleh orangtua. Si Comte bilang, tugas Gekko menemani Leicas akhir-akhir ini membuatnya senang. Leicas terlihat nyaman dan antusias tiap kali bermain bersama Gekko. Sampai-sampai, Gekko diberi sekeping uang yang bisa digunakan untuk membeli pakaian.
Betapa dermawan Si Comte juragan kebun anggur itu.
Gekko menerima permintaan itu dengan cukup baik. Setidaknya ia tidak merasa kesal atau menderita saat menyetujuinya. Lagi pula, bertemu Leicas dapat menyegarkan pikirannya.
Di hari sabtu siang, pertemuan antar anak-anak pun dilakukan. Gekko mendampingi sebagai pelayan kecil, selain itu ada juga Salome, seorang pendamping, dan seorang pelayan.
Acara dilakukan di rumah Madam Cristina. Tamu yang datang diarahkan ke taman belakang dan greenhouse tuan rumah.
Tidak banyak yang diundang, hanya kenalan dekat Madam Cristina, sekitar delapan orang termasuk Leicas.
Pesta teh para ibu terlihat anggun dan bermartabat. Saat itu mereka menggunakan hiasan bulu burung merak di kepala, tampak meriah dan berwarna warni.
Meskipun Gekko menganggap penampilan mereka seperti anggota sirkus, tapi Madam Cristina terlihat puas oleh riasan tamu-tamunya. Ia bahkan sesumbar telah memesan burung merak hidup pada pamannya yang sedang menjelajah di lautan sana.
Sementara itu, anak-anak memiliki jadwal mereka sendiri.
Delapan anak dengan rentang usia berbeda melakukan permainan petak umpet. Seseorang yang jadi setan adalah mereka yang mendapat bola warna merah ketika undian.
Kebetulan sekali, Leicas yang cantik itu yang mendapat bola sial warna merah. Artinya, dialah setannya.
Namun, sungguh aneh. Anak itu tampak tak keberatan. Ia gembira walau harus bersusah payah menemukan teman-temannya.
Leicas yang lugu itu berlarian ke sana ke mari, memanggil setiap nama pemain dengan suara lucu yang lantang. Gekko ada di belakangnnya, membuntuti sekaligus memberi penjagaan.
"Sulit sekali menjadi setan. Aku sedikit lelah," keluh Leicas sambil menarik napas teratur, mencoba mengendalikan jantungnya yang semakin menderu-deru.
"Anda ingin berhenti?" tanya Gekko.
Leicas menggeleng cepat, sangat kukuh pendirian. "Aku harus menyelesaikan permainan ini dengan baik. Jika aku bermain dengan baik, aku akan mendapat banyak teman."
Gekko hampir memutar bola matanya mendengar celotehan naif yang bodoh itu. Mau bagaimana lagi, seumur hidup ia tidak pernah mencari teman. Apa bagusnya mendapat teman dengan berkorban seperti itu? Tidak bermanfaat.
Mengembus napas pendek, Gekko akhirnya bicara, "Saya akan membantu Anda. Ayo."
Sejenak wajah Leicas tampak kebingungan, tetapi ia mengikuti Gekko dengan ceria. Apalagi, setelah Gekko turun membantu, pencariannya jadi sangat mudah.
Tidak butuh satu jam untuk menemukan semua peserta petak umpet. Leicas merasa bangga.
Sayangnya, perasaan senang Leicas hanya ia rasakan sendiri. Entah mengapa anak-anak yang lain memandangnya tidak suka. Ah, mungkin hanya perasaannya.
"Kau sangat pandai menjadi setan, Tuan Leicas."
"Benar, Tuan Leicas sangat berbakat menemukan orang lain." Seorang anak saling menyahut untuk memberi pujian kosong.
"Karena Tuan Leicas sangat berbakat menemukan orang, bagaimana kalau di permainan selanjutnya, Tuan Leicas saja yang menjadi setannya?"
Mendengar itu Leicas hanya menelengkan kepala. Ia merasa memiliki kemampuan yang mungkin akan membuat orang lain senang padanya. Walau sebenarnya, Gekkolah yang membantunya.
"Benar. Aku akan senang saat Tuan Leicas yang jadi setan. Aku akan berusaha bersembunyi dengan lebih baik."
Satu persatu anak-anak itu mendesak Leicas dengan memberi pujian. Berupaya mengendalikan seseorang yang polos dan naif dengan kata-kata manis.
Leicas tentu saja setuju dengan gampang. Ia bahkan berseru kegirangan ketika mengajak Gekko kembali menjadi setan.
Sudah diputuskan, ronde ke dua dalam permainan petak umpet itu, Leicas menjadi si setan jahat.
Bocah lugu yang hanya ingin bermain itu menutup matanya, lalu menghitung sampai tiga puluh. Setelah itu ia menggandeng Gekko dan mulai berjalan riang mencari teman-temannya.
Sambil melangkah dan melompat kecil mengitari taman, Leicas bersenandung girang.
"Bukankah seharusnya giliran orang lain?" tanya Gekko memancing pembicaraan.
Leicas mengangguk, lalu menjawab, "Benar. Tapi, teman-teman menyukaiku yang menjadi setan. Jadi kurasa itu bukan masalah."
"Anda memang mudah dimanfaatkan," tegas Gekko.
Leicas menghentikan langkahnya, ia memandang Gekko seraya tersenyum lembut. Seolah ia adalah malaikat yang tabah walau sudah tahu busuknya dunia.
"Tidak apa-apa, Gekko. Count bilang, kelahiranku cukup bermanfaat baginya. Mungkin ini salah satunya."
Gekko benar-benar hampir memutar bola mata. "Anda punya ayah yang tidak begitu bijak."
"Benarkah? Kurasa Count sangat baik. Ibu dan aku memiliki hidup yang mudah sampai sekarang. Dia sering membelikanku mainan dan menggendongku."
Gekko tidak berkata apapun lagi. Rasanya percuma banyak bicara pada seorang bocah yang sudah tercuci otak oleh orangtua sendiri.
Mengambil napas panjang, Gekko pun menyeret lembut Leicas ke arah dimana seorang anak bersembunyi. Digenggamnya tangan majikan kecil cukup erat, seolah menyalurkan rasa khawatir dan kesal yang diam-diam ia rasakan.
Namun, dua pasang kaki kecil itu berhenti ketika mendengar bisik-bisik dari balik semak.
Wajah Leicas sudah gembira karena akhirnya ia menemukan targetnya. Sayang sekali, ucapan orang-orang di balik semak membuat bocah itu mematung dengan wajah pucat pasi.
"Anak comte itu? Namanya Leicas, bukan? Dia benar-benar mudah ditipu."
Seseorang bicara cukup keras, mungkin tidak menyangka jika percakapannya bisa didengar oleh yang lain.
"Ibuku bilang, dia anak dari istri ke tiga. Keturunan rakyat jelata. Artinya, dia berada di level berbeda dengan kita."
"Madam Cristina memang aneh. Mengapa mengundang anak dengan darah campuran."
"Tuan Comte kaya raya. Ibu bilang, Madam Cristina ingin lebih dekat dengan Tuan Comte melalui istrinya. Madam Cristina ingin memberikan keponakannya yang tidak suci itu kepada Tuan Comte."
"Tidak suci? Apa maksudnya?"
"Tidak tahu. Ibuku yang mengatakan hal itu. Kemungkinan Madam Cristina akan menyingkirkan wanita rakyat jelata itu dan mengganti dengan keponakannya yang tidak suci."
"Ibumu yang bilang?"
"Bukan hanya Ibu, tapi Nenek dan Bibi-bibiku."
"Jadi artinya kita tidak perlu menaruh hormat pada Tuan Leicas, bukan?"
"Tentu saja. Dia hanya rakyat jelata. Lagipula dia juga bodoh. Kita bisa membodohinya dengan berpura-pura ramah padanya."
"Kau benar. Kita kan bangsawan sesungguhnya. Untuk apa berteman dengan keturunan rakyat jelata."
"Kau tahu, ibunya adalah seorang omega. Aku yakin Tuan Comte tidak akan bertahan lama. Ibu bilang omega adalah makhluk yang vulgar."
"Apa itu vulgar?"
"Tidak tahu. Tapi omega dari rakyat jelata bisa dijual dengan harga mahal."
"Ugh, terdengar tidak menyenangkan."
Ya. Memang tidak menyenangkan. Hidup seorang omega, bahkan jika seorang bangsawan pun, masih cukup tidak menyenangkan.
Bahkan Gekko bisa mengerti mengapa ibunya sampai bersusah payah meminum banyak obat-obatan supaya tidak pernah melahirkan seorang omega. Mungkin karena ibunya yang jahat itu tahu, bahwa hidup sebagai omega terlalu berat dan mengerikan.
"Sebaiknya kita pulang. Bermain di ladang anggur lebih menyenangkan," ucap Gekko memberi alasan.
Leicas mengangguk. Tangan kecilnya yang sejak tadi bergandengan dengan Gekko, semakin mengerat kuat.
"Kau benar. Ternyata memang cuma Gekko yang bisa bermain denganku," ujar Leicas seraya tersenyum lebar.
Senyum seperti itu sangat menyakitkan hati. Entah mengapa kali ini Gekko memang sakit hati.
TBC_
15 September 2024
Hai, hampir setahun, ya?
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top