24.5 Kuntum

BLOSSOMING

POISONOUS PERFUME

.

Seminggu belakangan Gekko memang bekerja hampir seperti orang gila. Padahal ia sedang menghadiri acara penting di rumah Francis Russell, tapi yang dilakukannya hanya mengerjakan ini dan itu, kehidupan sosialnya baru terasa ketika Vincent sengaja merecokinya atau memaksanya beristirahat.

Bukan karena Gekko menyukai pekerjaannya secara berlebihan. Ia suka, tapi bukan maniak. Ia hanya sedang merindukan seseorang, sehingga sebagai pengalih perhatian, ia memilih fokus pada strategi meningkatkan bisnisnya.

Lalu lihat sekarang, seseorang yang dia rindukan bermalam-malam malah menghampiri dengan sendirinya.

Silca ada di depannya, datang untuk menemuinya. Gekko bahkan berani menjamin jika keberanian omeganya itu berkat rasa rindu yang begitu menggelora, sama seperti dirinya.

Mungkin karena itu, ketika Silca berada tepat di depannya, Gekko segera menyeret kekasihnya pergi ke tempat yang lebih layak untuk melepas rindu. Di kamarnya yang saat itu temaram dan hanya diterangi satu lilin, Gekko mengunci pintu tanpa mau melepas genggaman tangannya pada Silca.

Ketika ia membaringkan Silca ke atas tempat tidur yang sebelumnya rapi, ia segera mengecupi wajah kekasihnya tanpa henti. Silca di bawah tubuhnya terkekeh kecil, tampak geli dan bahagia.

"Kau menjadi tidak sabaran, hm?" tanya Silca di sela-sela rasa senang karena Gekko terus menciumi wajahnya dengan begitu lembut tapi juga tergesa-gesa.

"Aku harus menghapus aroma Yuki dari tubuhmu," ucap Gekko mutlak. Setelah itu ia beralih mengecupi bibir Silca beberapa kali, setelah kecupan ke lima ia mulai menekan bibir omeganya dan menghisapnya hikmat.

"Ngh...." Silca melenguh kecil, tangannya mulai bergerilnya untuk mengusap punggung Gekko, mengusap dengan lembut sampai ke leher dan belakang kepala. Ketika ia membuka mulutnya, Gekko mulai memasukkan lidah dan menghisap lidah Silca cukup lama. Dihisap dengan pelan, nikmat, dan sangat menghayati.

Ketika Gekko melepas sejenak ciuman penuh kerinduan itu, wajah Silca sudah memerah seperti tomat masak. "Aku bahkan belum melepas sepatu ...."

Gekko mengecup bibir Silca dua kali. "Memangnya itu penting?"

"Tidak juga ... aku hanya, ngh...." Kalimat Silca bahkan belum selesai ketika Gekko mulai menjilat dan mengulum cuping telinganya. "Aku hanya ... nggh... akh! Jangan menggigit sembarangan!" tangan Silca reflek memberi tamparan kecil di punggung Gekko ketika alphanya dengan sengaja menggigit bagian di bawah daun telinganya.

"Hm, hanya apa?" Gekko, walau ia bertanya begitu, tapi tindakannya yang mulai memberi hisapan-hisapan dan gigitan kecil di leher Silca malah terlihat seperti pendengar yang ogah-ogahan. Ia suka aroma Silca di bagian itu, di antara leher yang kerap bekeringat dan sering membuat Silca terangsang dengan cepat. Di sana ada titik sensitif yang menyenangkan untuk dimainkan.

"Uuh ... Gekko ... ngh, ngh. Di sana, di sana sangat ... ah! ah!"

Ucapan Silca tertelan angin ketika Gekko mulai menghisap kuat titik sensitifnya di tengah leher. Itu benar-benar sensasi yang membuat tubuhnya merinding dengan rasa enak.

Gekko tersenyum kecil usai mengerjai omeganya. Ia memandang Silca yang mulai berkaca-kaca. Lalu karena tidak tega, ia pun memberi ciuman lembut yang panjang. "Tadi ingin berkata apa?" tanyanya kemudian.

"Tidak begitu penting. Tapi sepertinya kau sedikit tidak sabaran."

"Bukannya sudah kukatakan, aku ingin menghapus aroma Yuki padamu?" tanya Gekko sedikit mengernyit. Tapi, karena wajah Silca saat ini cukup menggemaskan, ia pun tidak tahan untuk memberi sedikit ciuman manis. Satu, dua kecupan sangat menyenangkan untuk dilakukan.

"Bukan seperti itu. Kau sepertinya sedang tidak enak hati. Aku bisa merasakan perbedaan feromonmu, kau tahu?"

Gekko mengernyit lagi, lalu tersenyum miring dengan cukup mencurigakan. "Sebenarnya, hari ini aku dilamar seseorang."

Alis Silca seketika menukik begitu tajam. "Siapa orang yang berani melamarmu?!"

Melihat emosi Silca terpancing, Gekko dengan sengaja memberi senyuman samar. "Kau pasti tahu."

Kali ini, mata Silca yang menjadi setipis garis. "Jangan bilang Julius Turner."

Gekko mengangguk. Ia mengusap pelipis Silca pelan, lalu memberi cubitan kecil pada hidung omeganya yang mulai kembang kempis menahan kesal. Ia pun membawa wajahnya kembali ke leher Silca, menghirupi wangi di sana seraya memberi ciuman-ciuman ringan. "Kau mulai marah," ujarnya.

"Aku membaca semua berita tentangmu. Huh, kalian sudah seperti pasangan yang siap menikah saja."

Sebenarnya, Gekko ingin tertawa, tapi jika ia melakukannya, Silca akan semakin marah padanya. Betapa aneh, melihat Silca kesal malah membuatnya senang. "Bukankah yang akan menikah denganku adalah dirimu?"

"Iya ... aku juga tahu, tapi memangnya aku tidak boleh cemburu?"

Tidak tahan lagi, Gekko mengecupi bibir Silca berkali-kali. Sangat aneh, benar-benar hal paling aneh di dunia adalah perasaannya sekarang ini. Ia bisa merasa sangat bahagia hanya karena seorang manusia.

"Malam ini mau berapa kali?"

Silca mengernyitkan dahi. "Apanya?"

"Bagaimana kalau sampai pagi?"

Setelah diam beberapa detik, akhirnya Silca pun mengerti. Wajahnya yang semula terkekuk, kini menjadi lebih merah dan mungkin hampir berasap.

"Sampai pagi apanya?! Tidak ada sampai pagi. Aku mau istirahat! Istirahat!!"

Namun, walau berteriak seperti itu, ia tetap bertahan hingga dini hari.

♦♦♦

Walau sedikit memalukan, tapi Silca bersyukur ada Cherry yang selalu menemani Gekko ke mana-mana. Di saat begini, di saat ia tidak ingin dilihat orang lain dalam kondisi sedikit kacau, Cherry lah yang membereskan dengan diam-diam.

Usai menikmati mandi air hangat dan memakai piyama, Silca berbaring telungkup di atas ranjang yang baru diganti seprai. Gekko yang sedang duduk santai di sofa, hanya memandanginya sembari sesekali meneguk teh panas.

"Aku memang bilang ingin istirahat, tapi bukan berarti aku harus istirahat seperti ini," gerutu Silca tampak sedikit kesal walau wajahnya juga terlihat bahagia.

"Aku sudah mengurus dokumen pernikahan kita selama berada di sini. Jangan terlalu banyak menggerutu. Istirahatmu yang seperti itu akan semakin sering ketika kita sudah menikah nanti."
Itu adalah penjelasan panjang lebar yang jarang dikeluarkan Gekko, tapi entah mengapa kedengarannya malah menyeramkan.

"Bukannya aku tidak senang, tapi ucapanmu terdengar mengkhawatirkan," sahut Silca.

Gekko hanya tersenyum samar. Ia menikmati teh pagi tanpa banyak bicara lagi, melihat Silca berbaring saja sudah cukup membuat harinya terasa cerah berbunga-bunga.

Namun, tidak lama setelah itu pintu kamarnya diketuk seseorang. Ketika Gekko pergi untuk melihat tamunya, ia mendapati Vincent sedang menatapnya kesal.

"Kau! Kau sedang berbuat apa semalam?!" Vincent menuding dengan suara menggelegar, tapi Gekko di depannya hanya memandang bosan.

"Perbuatan apa yang kau ingin dengar?"

Vincent mendelik. Kepalanya memanjang untuk melihat ada siapa di kamar Gekko saat itu, dan benar saja seseorang sudah berbaring tengkurap di ranjang istimewa Gekko yang bahkan ia sendiri tidak berani merusaknya.

"Oh, omegamu?" tanya Vincent kemudian.

"Hm."

Vincent menghela napas sedikit panjang, cukup untuk membuat rasa kesalnya teredam. Sejujurnya, ia tidak begitu suka melihat Silca berada di samping Gekko, tapi karena takut Iimarahi, ia jadi belajar untuk menekan emosinya yang setinggi mercusuar.

"Bisa kita pindah ke ruang kerjamu? Aku sedang ingin membicarakan sesuatu," pinta Vincent.

Mengangguk singkat, Gekko pun pergi menemani Vincent setelah memberi kecupan singkat pada Silca yang terlihat tidak begitu peduli.

.

Ketika Gekko sudah duduk di sofa ruang kerjanya bersama Vincent, ia segera mendapat lemparan koran pagi.

"Itu isi koran yang akan diedarkan pagi ini. Aku mendapatkannya lebih dulu karena khawatir dengan ceritamu kemarin malam. Benar saja, namamu dijelek-jelekkan sangat parah," terang Vincent.

Gekko tidak banyak berkomentar, hanya membaca hikmat isi dari headline yang tertera. Di sana tertulis, Borjuis Hever yang Tidak Tahu Nilai Seorang Bangsawan.

Isinya adalah tentang dia yang sudah menolak lamaran Julius Turner, seorang omega dengan nilai paling tinggi saat ini. Ungkapan-ungkapan frontal seperti Gekko yang angkuh dan tidak tahu diri tertuang di dalam sana.

Hanya seseorang dari rumah sakit Bethlem yang mungkin akan melakukan tindakan seperti itu. Bahkan mungkin, orang-orang di sana lebih pintar dari Miss GH yang sombong itu.

Rumah sakit Bethlem adalah tempat untuk mengurus orang-orang dengan gangguan jiwa, secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa Gekko lebih buruk dari orang yang punya gangguan mental.

"Wartawan ada di mana-mana. Walau Lord Turner memilih tempat paling sepi, tapi aku yakin ada dua atau tiga orang yang menguping entah dari mana," ujar Vincent.

Gekko mengangguk-angguk saja. Ia juga tahu hal itu, bahkan lebih dari tahu. Ia seorang alpha dengan insting yang cukup peka, sehingga ketika ada seseorang di sekitarnya, ia bisa merasakan dengan baik.

Saat itu, Gekko juga sudah tahu ketika ada yang mencoba membuntuti dirinya dengan Julius Turner, tapi ia bungkam karena merasa malas mengurusi hal-hal demikian. Sekarang, namanya menjadi tercemar berkat kemalasannya.

"Lalu? Bukankah aku sudah sering menjadi bahan berita seperti ini?"

Vincent mengernyit dalam. "Kau tidak ingin mencabut berita ini? Dengan kemampuanmu, aku yakin kau bisa melakukannya. Apalagi, kakakmu sekarang ada di sini, 'kan?"

"Biarkan saja. Ini dan itu tidak harus selalu diurus."

Vincent hanya dapat menghela napas lelah. "Kau benar-benar ... di saat semua orang mengkhawatirkanmu, kau malah santai seperti bebek."

"Bebek tidak bersantai. Mereka rajin mencari makan."

Vincent benar-benar kehabisan kata.

.

TBC_

24-10-2023


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top