22 Kuntum

BLOSSOMING

.

Pintu menuju taman belakang sedang tidak ramai orang, hanya satu atau dua pelayan yang sekadar lewat sembari membawa nampan anggur di tangan.

Juli menikmati ketenangan itu. Bersama Gekko ia berjalan pelan, sikunya juga digandeng sopan. Mereka berjalan sambil melihat-lihat bebungaan yang tertata rapi dan sedang mekar menawan. Lalu menuruni tangga untuk menjangkau taman yang lebih indah di bawah sana.

Jalan setapak taman yang halus memang hanya cukup dilewati berdua. Seandainya ada orang lain yang datang, mereka tidak akan bisa bersisian bertiga. Bukankah tempat yang memang sengaja dibangun untuk berkencan?

"Saya pikir Nona Hakai tidak datang ke pesta Lady Alice," ucap Juli memulai percakapan. Pandangannya lurus ke depan, badannya tegap berwibawa, dan langkah kakinya pelan mengikuti langkah Gekko yang lebih pendek darinya. "Saya sempat merasa khawatir," lanjutnya.

"Saya bermaksud muncul ketika pengumuman pertunangan Lady Alice dilakukan, dan itu bukan hari ini," timpal Gekko.

Juli pun mengangguk paham, sudah biasa dengan perangai Gekko yang tidak begitu menyukai keramaian. Bahkan, di pesta yang diadakan oleh pasangan Grey, yang notaben adalah kerabat sendiri, Gekko jarang mau berbaur terlalu lama. Namun, walau sudah mengerti hal itu, Juli tetap mengungkap keingintahuannya. "Bukankah Anda biasanya suka membicarakan pekerjaan dengan rekan bisnis? Ada banyak yang datang kali ini, Ayah saya juga datang."

Gekko tidak lantas menjawab, ia diam selama hampir satu menit. Bukan tidak mau menjawab, hanya sedang menikmati semilir angin yang tiba-tiba datang. Ah, ia sedang merindukan seseorang yang jauh di mata. "Saya lebih suka membahas pekerjaan di ruang kerja. Lord Russell tahu itu dan mengirim semua rekan bisnis saya ke ruang kerja saya."

"Ah, Nona Hakai juga punya ruang kerja di rumah ini, ya? Saya pernah mendengarnya."

Gekko mengangguk. Rupanya Julius Turner cukup tahu mengenai informasi seperti itu, benar-benar omega yang kompeten. Seandainya secondary gender-nya tidak berubah, mungkin gelar ayahnya akan diwariskan padanya.

"Lord Turner sepertinya banyak belajar untuk mulai melakukan bisnis? Saya dengar, Your Grace Duke of Queensberry sedang mencari perusahaan untuk berinventasi. Jika My Lord tidak keberatan, saya memiliki beberapa usaha yang memerlukan sokongan dana," jelas Gekko. Walau rasanya kurang elok membicarakan bisnis saat kencan tengah malam, tapi hanya itu yang bisa Gekko janjian untuk usaha Julius Turner mendekatinya.

Ia sudah memiliki omega, dan ia tidak suka mendua.

"Benarkah itu? Nona Hakai memang sangat pengertian." Senyum di bibir Juli mekar bak bunga, wangi feromonnya pun menjadi lebih gila. Mungkin karena sedang bahagia, ia jadi tidak sadar sudah mengeluarkan feromon begitu banyak.

Untung saja saat itu yang bersama Juli bukanlah alpha lainnya, hanya Gekko yang sedang menahan rindu pada kekasih nan jauh di mata. Seandainya itu adalah alpha lain, ah bisa dibayangkan betapa panas hal-hal yang bisa dilakukan kemudian.

Bahkan, seandainya Gekko tertarik pada omega elok rupawan itu, Gekko pun tidak akan keberatan pergi ke kamar terdekat dan menjadi gila sejenak.

Sayang sekali Tuan Muda Turner, alpha yang sedang menggandengmu sudah memiliki pujaan hati sendiri.

Malam yang romantis terasa begitu ironis.

.

.

.

Hari itu Gekko baru tidur dua jam. Usai menemani Julius Turner berjalan-jalan di taman, ia kembali ke meja kerjanya untuk membenahi sisa pekerjaan. Baru menjelang subuh, ia beranjak ke kamar dan tidur dengan nyaman.

Akan tetapi, bahkan sebelum bermimpi, kamar Gekko sudah diketuk oleh seseorang yang ingin menganggu pagi-pagi. Itu adalah Vincent Keighley, yang sudah lengkap dengan pakaian berkudanya.

Ketika Gekko membukakan pintu, seyum lebar Vincent terasa sedikit menyebalkan.

"Aku. Baru. Tidur," ujar Gekko jelas.

"Kau bilang ingin berjalan-jalan denganku kemarin?" tuntut Vincent dengan wajah memelas seperti anjing terlantar. Betapa kukuh usahanya untuk merepotkan Gekko pagi-pagi begini.

"Bilang pada pelayan, aku butuh kopi," ujar Gekko pada akhirnya. Ia masuk lagi ke dalam kamar, membiarkan pintu terbuka supaya Vincent yang menutupnya.

Gekko pun membasuh wajah usai menarik tali bel untuk memanggil Cherry, sementara Vincent ikut masuk usai memberitahu pelayan untuk membawakan dua kopi dan sepotong roti.

Di depan perapian yang mati, Vincent menyamankan diri. Matanya bergerak-gerak mengikuti ke manapun Gekko pergi. Ia bahkan terus memperhatikan penyekat rotan yang digunakan Gekko untuk berganti baju, bermaksud mencuri-curi pandang, berharap bisa melihat Gekko telanjang.

Sayang sekali, penyekat rotan itu sangat rapat dan dilapisi kain tebal bermotif bunga peoni. Tubuh Gekko yang berganti pakaian pun tidak bisa dilihat dengan sempurna, bahkan siluet pun tidak kentara.

"Haaah." Helaan napas Vincent terdengar berat dan kecewa.

Saat Gekko keluar dan sudah memakai pakaian berkuda, pintu kamar diketuk oleh Cherry.

Pelayan Gekko dengan rambut merah dan wajah galak seperti guru gereja itu membawa troli berisi roti dan kopi.

Cherry menuangkan kopi dari ceret ke dalam dua cangkir yang sudah ia letakkan di depan Gekko dan Vincent. Ia juga mulai menyuguhkan roti panas, dan beberapa sajian pelengkap seperti balok gula, juga susu. Tanpa mengatakan apa pun, ia pergi begitu saja.

Gekko yang sudah duduk nyaman di sofa, mengambil cangkir kopi dan menyesap isinya pelan.

Melihat itu, Vincent juga melakukan hal yang sama. Namun, kerutan di dahinya menjadi lebih besar ketika rasa kopi yang pahit lewat di atas lidahnya. "Kenapa kau minum kopi dengan cara seperti ini? Rasa pahitnya benar-benar bukan seleraku. Teh lebih baik," keluhnya ketika meletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja.

"Hn." Gekko tidak banyak menanggapi. Lagi pula sudah sering seleranya dikritik orang. Apalagi yang mengritiknya adalah Vincent, benar-benar tidak bisa dijadikan pedoman.

Pada akhirnya, dua saudara jauh itu pergi menunggangi kuda menuju Hyde Park.

Seperti yang sudah bisa diduga, taman di tengah kota London itu selalu menjadi tujuan rekreasi untuk banyak kalangan. Apalagi, orang-orang dengan pakaian bagus seolah berlomba menjadi yang paling modis.

Di antara banyaknya kereta kuda yang berlalu-lalang di Hyde Park, sebuah kereta dengan atap dan lambang keluarga Queensberry menjadi salah satu yang banyak diminati. Apalagi, ketika jendela dan gorden dalam kereta dibuka, orang-orang yang lewat pun mencuri-curi pandang dengan sengaja.

Lihatlah itu, sepasang kakak-beradik Turner. Dua-duanya berambut pirang, dengan mata bening seperti bebatuan mahal, satunya alpha dan satu lagi omega. Menarik sekali, bukan?

Namun, walau banyak mendapat lirikan kanan-kiri, dua saudara itu hanya tertarik dengan satu orang yang tidak sengaja tertangkap mata.

Oh, lihat di sana, ada Miss Gekko Hakai yang sedang mengendarai kuda menggunakan celana ketat dan helm berkuda. Imut sekali, cantik sekali.

Julius Turner, dengan kondisi yang sadar dan waras, akhirnya menyuruh kusirnya untuk lebih mendekat ke tempat Gekko sedang beristirahat. Jantungnya bahkan terpacu lebih cepat seiring laju kereta kudanya.

"Selamat pagi, Nona Hakai." Dari dalam kereta, suara Juli menyapa halus.

Gekko yang baru saja turun dari kudanya, menoleh dan mendongak sedikit. Ia mengangguk pada Juli yang sudah menyapanya. Vincent di sampingnya, yang juga sedang sibuk memegang tali kekang kuda, ikut mengangguk pada Juli.

"Selamat pagi juga, Sir Keighley," sapa Juli lagi.

"Sedang berjalan-jalan, Lord Turner?" tanya Vincent berbasa-basi. Padahal sudah tahu mengapa Julius Turner naik kereta kuda pagi-pagi di Hyde Park, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pembahasan berarti.

"Udara di Hyde Park sangat bagus di pagi hari," jawab Juli seadanya. Matanya membentuk bulan sabit ketika tersenyum, dan semakin melengkung ketika sadar bahwa Gekko telah memandanginya sejak tadi.

"Pagi, Sir Vincent." Itu adalah Alex yang menyembulkan kepala dari balik tubuh Juli. "Pagi juga, Nona Hakai."

Vincent dan Gekko mengangguk serempak.

"Sepertinya menyenangkan berkuda pagi-pagi begini. Tidak sepertiku, yang terjebak dengan kakakku di dalam kereta sempit. Aaah, aku juga ingin berkuda. Sebentar saja." Entah mengapa, Alex Turner berceloteh seperti itu. Pandangan matanya lurus menatap Gekko, seolah memberikan sandi tertentu yang harus dipecahkan.

Sedikit menahan helaan napasnya, Gekko yang paham dengan permintaan Alex akhirnya bicara. "Mengapa tidak menggunakan kuda saya untuk berjalan-jalan? Vincent bisa menemani Anda supaya tidak kesepian."

Vincent melirik Gekko sekilas, tapi akhirnya menganggukkan kepala.

"Tapi, bagaimana dengan Nona Hakai? Apakah Anda akan berada di sini dalam waktu lama, atau ingin segera kembali ke rumah?" tanya Alex cepat.

"Saya masih ingin berjalan-jalan di sini, dan saya bisa pulang sendiri," jawab Gekko.

Namun, Alex menggelengkan kepala. Ia membuka pintu keretanya, lalu turun dari sana. ketika menghampiri Gekko ia berkata, "Bagaimana jika naik kereta keluarga saya? Biar Kak Juli yang menemani."

Tampak ada kernyitan tipis di dahi Gekko, tapi pada akhirnya ia menggeleng sopan. "Terima kasih tawarannya, Tuan Muda. Tapi saya memang masih banyak keperluan sepanjang jalan pulang. Saya tidak ingin merepotkan Lord Turner untuk itu."

Mendengar bagaimana Gekko menjawab, Juli pun segera turun dari kereta dan dengan gugup mengatasi semua masalah yang disebabkan adiknya. "Astaga, Nona Hakai, maafkan permintaan Alex yang terlalu lancang. Nona Hakai dan Sir Keighley memiliki banyak pekerjaan, saya mengerti hal itu. Tolong abaikan permintaan adik saya yang tidak sopan."

Gekko menggeleng kecil. "Tidak apa, My Lord. Jika tidak keberatan, mungkin besok kita berempat bisa berkuda bersama. Tampaknya Tuan Muda Turner sangat ingin menunggang kuda. Saya akan meminta His Grace Russell untuk menyiapkan empat kuda tunggangan esok hari."

Ah, Gekko bicara terlalu panjang. Betapa melelahkan harus berhadapan dengan bangsawan di luar rumah.

Untung saja Juli dan Alex mengangguk serempak. Masalah pagi itu pun berakhir begitu saja. Namun, satu masalah harus tetap diselesaikan esok hari.

Berkuda berdampingan bersama omega bukanlah hal yang mudah. Bahkan pertemuan mereka yang seperti ini saja, bisa menjadi pembicaraan seru ketika sudah ditulis di atas majalah gosip.

.

.

.

Penulis adalah orang yang terpercaya di London, sudah menulis berbagai berita yang dijamin akurat kebenarannya.

Tanggal xx, bulan xx, tahun xx, London, Angles.

Pada pesta yang diadakan lebih dari tujuh hari di rumah bangsawan terhormat Russell, banyak yang melihat bahwa Lord J, putra dari penguasa Dover, hadir di pesta tersebut bersama seluruh keluarganya.

Tidak perlu diragukan lagi betapa Lord J sangat populer, pengantar pos sering terlihat bolak-balik ke rumahnya untuk mengantar undangan resmi maupun sembunyi-sembunyi.

Kabar ini ditulis pada malam hari, dan penulis melihat sendiri bahwa Lord J pagi tadi bertemu dengan seorang alpha di Hyde Park.

Siapa alpha beruntung itu? pembaca pasti terkejut jika tahu.

Alpha itu adalah Gagak Hever yang sangat terkenal sepak terjangnya di dunia bisnis. Gagak Hever yang selalu suram itu tampak tersenyum dan berseri-seri ketika bersama Lord J di Hyde Park. Tidak hanya itu, Lord J juga tampak selalu tertawa dan tersenyum lebar setiap bicara bersama Gagak dari Hever itu.

Ada apakah gerangan? Pembaca pasti tahu apa yang penulis maksud, bukan?

Apakah akan ada kabar pernikahan dalam waktu dekat? Penulis tidak sabar dengan kelanjutan kisah mereka.

.

Surat kabar yang datang saat dini hari itu bukanlah surat kabar khusus untuk gosip. Akan tetapi, tajuk-tajuk yang bersifat profokasi atau pun gosip bangsawan selalu ada di satu lembar terakhir. Entah mengapa, bagian itu malah yang paling digemari pembaca.

Silca juga suka membaca halaman terakhir dari koran tersebut, tapi untuk pagi ini rasanya ia sedikit menyesal sudah membukanya.

"Pernikahan apa yang penulis gila ini maksud? Pernikahanku dengan Gekko, HAH?!" Koran yang tidak bersalah dilempar ke atas meja. "Sembarangan sekali mereka membuat berita!" lanjut Silca tampak ingin mengamuk.

Yuki yang ada di depannya, malah tertawa sangat kencang. Remah roti di bibirnya terus bertambah seiring ia tertawa tanpa henti.

"Tidak kusangka, Adikku populer juga di negeri ini. Selera omega itu pasti sangat buruk karena bisa-bisanya hahahaha! ... bisa-bisanya dia dekat dengan Gekko yang aneh seperti itu. Buahahaha!"

Silca melotot mendengar Yuki yang mengejek Gekko seenaknya. Ia pun dengan berani menghardik, "Kau lebih aneh! Gekko itu alpha yang lembut dan pengertian! Siapa pun suka padanya, tahu!"

"Tidak, memang selera kalian saja yang aneh."

"Kau yang aneh, Yuki."

"Gekko itu adikku. Perilakunya adalah hasil didikanku, bajingan!"

"Gekko tidak bicara kasar sepertimu."

"Heh, kau saja yang tidak tahu." Bibir Yuki tertarik tinggi ke atas.

"Dasar kepala batu. Tidak pernah mau mengalah!"

Tanpa ragu, Yuki pun berdiri dan membenturkan kepalanya ke kepala Silca dengan cukup keras.

Mendapat serangan yang tidak disangka-sangka, Silca baru mengaduh-aduh kesakitan beberapa detik kemudian. Bahkan ia bisa merasakan keningnya mulai mengeluarkan darah, sementara Yuki yang menjadi pelaku malah tersenyum sangat puas dan gembira.

"Yah, kepalaku memang sekeras batu," ucap Yuki santai. Ia pun beranjak dari sana, tetapi berhenti sejenak ketika sudah di daun pintu. "Kalau tidak ingin kalah saing, sebaiknya kau selesaikan latihanmu dengan cepat." Setelah itu ia benar-benar pergi tanpa menutup pintu ruang makan.

Silca mengembil napas panjang, diusapnya darah di keningnya menggunakan ujung kemeja. Entah ini sudah luka ke berapa yang ia terima dari Yuki, Silca sudah tidak pernah menghitungnya lagi.

Seandainya Gekko ada di sini, ia pasti sudah diurus dengan baik. Gekko akan memeluknya, mengusapkan salep dengan lembut ke setiap luka di tubuhnya, dan bahkan memberinya hadiah untuk menyenangkan hatinya.

"Semoga dia tidak merawat omega bangsawan itu seperti ketika ia merawatku," gumam Silca seorang diri. Dielus pelan-pelan dadanya sendiri, meredakan rasa marah dan cemburu yang datang setiap kali seorang omega mencoba mendekati miliknya.

Entah mengapa, ia menjadi semakin egois semenjak Yuki selalu menjadi teman mengobrolnya. Jangan-jangan, dia sebenarnya sudah dihasut tapi tidak sadar diri.

Silca menggelengkan kepala beberapa kali, mengusir kegelisahan yang mengabuti nurani.

.

TBC_

08-07-2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top