2 Kuntum
Alpha, beta, omega.
Hanya dengan sematan salah satu tiga kata itu, sedamai apa pun kehidupan manusia, akan mengalami perubahan yang menakutkan.
Gekko masih ingat, di usia dua belas tahun, ketika pertama kali ia menginjakkan kaki di tanah Angles yang dingin, masyarakat lekas melihatnya dengan tatapan kasihan.
.
Malang sekali, sedini ini dia sudah menjadi alpha. Padahal, dia seorang perempuan.
Masa depannya akan sulit. Aku ragu dia bisa menikah di usia muda.
Dia mungkin akan sulit bergaul, baik dengan laki-laki atau pun perempuan.
Kasihan sekali, kasihan sekali.
.
Saat itu, hanya keluarga Bibi Eli yang menatapnya tanpa keluh kesah. Mereka memperlakukannya sewajarnya, dengan sopan santun dan kasih sayang yang tidak berlebihan.
Ketika Gekko melihat dirinya sendiri sekarang, di depan cermin tinggi yang memperlihatkan jasad utuhnya, dia hanya melihat seorang gadis tidak begitu tinggi yang wajahnya tak sama sekali memperlihatkan emosi. Bahkan dia sendiri tampaknya lupa, bagaimana wajahnya terlihat ketika tertawa, atau berduka.
Bukan karena apa-apa, sejak belia dia memang tidak begitu suka berekspresi. Melelahkan, dan tidak berguna, pikirnya. Tidak heran jika Bibi Eli sering mengomelinya perihal tabiatnya ini.
Namun, Bibi Eli memang sering mengomel tentang banyak hal. Mengenai gaya busananya yang kekanakan, suram, dan tidak sopan. Mengenai rambutnya yang selalu digerai, juga caranya berkuda, juga ucapan nyelekitnya, juga kegemarannya menenggelamkan diri pada pekerjaan, juga sikapnya yang terlalu santai pada pelayan, dan ini, dan itu, dan masih banyak lagi sampai rasanya harus dicatat penuh dalam satu buku bersampul kulit domba.
Oh, benar, dia memang tidak sopan. Panjang roknya tidak pernah sampai mata kaki, rambutnya tidak pernah digelung dengan rapi. Tidak heran Bibi Eli sering menyebut penampilannya seperti pelacur.
Akan tetapi, menggelung rambut sama sekali tidak ada dalam catatannya. Dia tidak suka terlihat seperti ibunya. Mengingat betapa mirip ia dan sang ibu dari ujung rambut sampai ujung kaki; sama-sama bertubuh kecil dan kurus, berkulit sepucat pualam, rambut hitam bagai sutera yang dilumuri tinta, mata bulat seperti kelereng onyx. Padahal, Gekko tidak suka ibunya. Ia ingin terlahir seperti ayahnya, jika bisa. Sayangnya, di usia yang sudah dua puluh tahun ini, ia semakin persis penampakan sang ibu.
Meskipun bertubuh kecil, Gekko tetaplah alpha, seorang perempuan alpha yang sulit sekali dilirik pria lalu membuat mereka terpanah jatuh cinta. Alih-alih mendapat lirikan memuja, dia sering ditatap sinis karena dianggap pesaing dalam menjerat hati omega perawan. Meskipun tidak sedikit pula yang memperlakukannya layaknya gentleman konglomerat, lebih tepatnya sebagai teman pria.
Tidak salah jika orang-orang mengkhawatirkan masa depan pernikahannya.
Jangan salahkan Gekko jika ia pun menjadi sosok nyentrik seperti sekarang. Untungnya, wajahnya yang mirip bocah, sering kali dimaklumi orang-orang ketika ia berpenampilan agak sembrono.
"Master Gekko. Sarapan sudah disiapkan pelayan, dan Countess of Meopham sudah menunggu Master di meja makan."
Seorang pelayan berambut merah memberi tahu dari balik pintu. Suaranya kalem tapi terdengar jelas.
"Hn."
Mengerti arti gumaman sang majikan, palayan tersebut pun mengucap permisi.
Gekko lekas menuju lemari pakaian, mengambil sendiri satu setel baju untuk dikenakan sepanjang hari ini. Tidak ada dayang yang membantunya berpakaian atau menata rambut, karena memang ia tidak suka dilayani berlebihan.
Namun, baru ia berganti dengan setelan gaun hitam tanpa mencapai mata kaki, dan belum memakai stoking maupun sarung tangan, telinganya menangkap sesuatu yang mencurigakan.
Lolongan serigala dari dalam hutan. Disusul beberapa tembakan yang terdengar memekakkan.
Tanpa mempedulikan penampilannya yang kurang sopan, Gekko berlari ke luar kamar usai memakai sepatu sekenanya. Langsung ia pergi ke istal kuda, dan membawa satu kuda hitam yang masih basah karena usai dimandikan.
"Master Gekko! Hati-hati!" Seorang penjaga istal berteriak melihat Gekko yang mengendarai kuda seperti joki derby. Lap di tangannya yang meneteskan air digenggam dengan erat.
"Ada apa?" Penjaga lainnya datang bertanya, seember air ada di tangan kanannya.
"Sepertinya pemburu liar, baru saja aku mendengar suara tembakan."
Penjaga istal itu pun mengangguk. "Semoga tidak ada hewan hutan yang tertembak mati. Mereka semua favorit Master"
"Dan semoga pemburu itu tidak mati di tempat."
"Bicaramu. Master tidak sejahat itu."
.
oOo
.
Setelah mendengar suara tembakan dari arah hutan, Cherry yakin sekali jika Master Gekko-nya tidak akan segera ke ruang makan untuk menemui Countess of Meopham yang sudah menunggu sedari tadi.
Sebagai pelayan yang cakap, Cherry tentu tahu apa yang harus dilakukan. Ia pergi ke ruang makan, di mana ada Countess of Meopham yang menunggu dengan wajah tertekuk.
"Di mana Gekko?" tanya Countess ketika Cherry baru saja datang.
"Maaf, My Lady. Tampaknya Master tidak bisa menemani Anda sarapan."
Sang Countess mengangguk mengerti, tapi bagi Cherry, wajah Countess terlihat sedang marah.
"Kalau begitu, temani aku di sini. Aku tidak suka makan sendirian."
"Dengan hormat, My Lady."
Setelah itu, Countess of Meopham menikmati sarapannya yang mewah. Cherry berdiri di belakang kursi Sang Countess, tegap, menatap lurus ke depan, tanpa berekspresi. Posisinya siap siaga, seolah bisa segera lari jika ada yang mengutusnya.
Di antara pelayan lain yang berjejer bagai patung seraya membawa serbet di pergelangan tangan, Cherry dengan rambut merahnya memang tampak paling menonjol. Entah itu karena warna rambutnya, pakaiannya yang paling berbeda, atau juga sikapnya yang seakan tak tercela.
.
Cherry. Itu bukan nama aslinya, melainkan pemberian Gekko ketika ia pertama kali menapak di tanah Angles. Gekko pernah berkata bahwa namanya akan sulit diingat masyarakat Angles lainnya, sehingga nama Cherry dipilih untuk mempermudah semuanya.
Tidak sama sekali Cherry memprotes, meskipun namanya terdengar sangat manis dan feminin. Bukan masalah, selama itu dari Gekko, Cherry tidak akan peduli jika ada yang mengejek panggilan barunya. Bahkan jika nama itu terinspirasi hanya gara-gara Gekko melihat penjual ceri di pedagang kaki lima. Ah, inspirasi yang datang dengan tidak keren.
.
Cherry melihat waktu lewat jam sakunya. Pukul 8.30. Sebentar lagi dia harus mengantar Countess of Meopham pulang ke estat besar di Meopham. Lalu menghadap Earl of Meopham untuk menanyakan perkembangan bisnis yang dilakukan bersama masternya.
Pukul 12.30, dia harus pergi ke ladang berley untuk mengecek pekerja di sana. Kemudian ke perkebunan anggur untuk melihat hasil panen. Lalu ke pabrik pembuatan wine untuk mengatur beberapa hal. Setelah itu ke peternakan domba untuk membicarakan beberapa perkara dengan para pekerja. Baru dia bisa ke pabrik kain untuk melihat produksi yang ada di sana.
Oh, mungkin Cherry baru bisa pulang tengah malam. Dia harus melaporkan semua perkembangan itu kepada Gekko dengan segera. Lalu membuat laporan tertulis, dan mengerjakan pekerjaan lainnya menyangkut kepengurusan pelayan di rumah besar Gekko.
Dia memang selalu sibuk, setiap hari tidak pernah terlihat beristirahat. Namun, saat semua pekerjaannya terselesaikan dengan baik, Gekko biasanya akan membebaskannya berhari-hari. Sayangnya, Cherry tidak suka beristirahat terlalu lama. Mengurusi Gekko adalah prioritasnya, dia sudah terlatih dengan itu, dan bangga jika bisa berguna.
Lagi pula, Gekko bukanlah majikan yang merepotkan. Masternya itu selalu melakukan hal-hal pribadi sendiri, seperti mandi, berganti pakaian, bahkan tidak jarang pergi mengambil makanannya sendiri ke dapur. Countess of Meopham, alias Bibi Eli, sering mengomeli kebiasaan masternya itu.
Namun, Gekko selalu berdalih bahwa ia bukan bangsawan, dan masih punya dua tangan serta dua kaki lengkap yang bisa digunakan bekerja. Itulah mengapa, sebagai perempuan berada, dengan harta melimpah di mana-mana, wanita alpha itu tidak memiliki dayang satu pun.
Sangat aneh, tapi Cherry memaklumi dan semakin mengagumi.
"Cherry." Sang Countess memanggil.
"Ya, My Lady."
"Bilang pada Gekko untuk mengunjungiku di Meopham. Dia berhutang sarapan pagi bersamaku."
"Baik, My Lady."
Bibi Eli pun beranjak dari kursinya, berjalan ke luar ruangan.
Cherry mengikuti, lalu melihat jam sakunya lagi. Pukul 8.55. Perjalanan dari Hever ke Meopham tidak lama, hanya satu jam. Berarti mulai pukul 10.00, dia harus menyelesaikan segala urusan dengan Earl of Meopham. Semoga anak-anak Bibi Eli tidak ada yang mengganggunya hari ini..
TBC
Diperbaruhi tanggal 14 Oktober 2018(update 27 November 2019)
Catatan kaki, silakan dibaca:
Di era Victoria, biasanya para lady memakai gaun sampai menutupi mata kaki. Karena mata kaki ke atas dianggap hanya untuk suami. Sedangkan penampilan Gekko lebih seperti anak kecil, yg masih boleh memakai rok di bawah lutut.
Contoh pakaian saat itu
Sedangkan gaya busana Gekko seperti ini:
Perempuan biasanya bawa aksesoris berupa kipas atau tas kecil, tapi Gekko lebih suka bawa tongkat, mirip style para gentleman. Bootsnya juga tinggi, dan pakai stoking hitam biar menutupi seluruh kakinya. Karena busananya yg aneh pada masa itu, dia pun sering dibilang eksentrik. Untungnya anaknya gak tinggi, cuma 152cm, jadi sering disalahpahami sbg anak kecil, tp bagi yg tahu usia aslinya, jelas dia dicibir.
Pakai gaun normal kalau ke event penting saja.
Dan dan dan, karena ini alternate universe, jadi suka-suka saya Gekko mau pakai baju apa #dicekek
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top