19. Kuntum

Blossoming

.

Sebelum menikmati sarapan, Silca sudah membalut lehernya dengan perban dan sapu tangan. Ketika ia selesai melakukannya, Gekko mengetuk pintu kamarnya dengan pelan.

Tentu saja Silca tahu bahwa itu adalah Gekko, perasaannya terhadap wanita itu entah mengapa menjadi lebih peka. Tanpa sadar, ia pun mengelus lehernya yang terbalut berlapis-lapis kain dengan sangat pelan.

"Padahal dia belum benar-benar menggigitku," gumamnya seorang diri.

Menggeleng samar, Silca membuka pintu kamarnya, dan benar-benar ada Gekko di sana.

"Kau gugup?" tanya Gekko padanya.

Silca mengangguk pelan. "Sedikit," jawabnya singkat. "Tapi karena kau menjemputku, aku merasa lebih tenang."

"Kemarilah," ujar Gekko mengulurkan dua tangannya.

Silca pun tanpa sungkan maju untuk merengkuh tubuh yang lebih kecil. Ia menghidu wangi Gekko dengan sedikit rakus dan terburu-buru. "Rasanya sangat nyaman memelukmu."

"Kau sudah melakukannya semalam."

Sedikit malu dengan jawaban alpha di pelukannya, Silca malah menampar bahu Gekko dengan kuat. "Jangan membahas yang bukan-bukan. Kau ke sini untuk mengantarku berlatih bersama kakakmu,''kan?"

Gekko mengangguk. Ia melepas dekapannya, dan dengan sangat natural menggenggam tangan Silca ketika mulai berjalan menyusuri koridor demi koridor.

Entah perasaan Silca saja, atau memang saat itu sepanjang ia dan Gekko bersama, tidak ada seorang pun yang mereka temui. Suasana terasa sepi dan sejuk, nuansa yang pas untuk saling mengagumi antar kekasih.

Oh, apakah Silca sudah merasa menjadi kekasih Gekko sekarang? Apakah dia terlalu percaya diri?

"Saat bersama Yuki, cobalah jangan menangis di hadapannya. Dia benci orang yang mengeluarkan air mata." Tiba-tiba saja Gekko bicara, genggaman tangannya pada Silca terasa lebih kuat.

Silca pun ikut melakukan hal yang sama, seolah tahu bahwa alpha di sampingnya ini sedang merasa gundah. Wangi feromon yang keluar bahkan mulai merembes dari keduanya. Wangi yang tidak begitu nyaman karena sama-sama merasa gelisah.

"Bagaimana jika aku tidak sengaja mengeluarkan air mata?" tanya Silca kemudian.

Namun, Gekko menggeleng. "Aku tidak tahu. Jika suasana hatinya bagus, mungkin dia akan diam saja."

"Ha ha ha, aku merasa seperti kau akan melemparku pada orang gila yang sudah tidak tertolong. Padahal kau sedang membicarakan kakakmu sendiri."

"Dia memang orang gila. Otaknya sudah rusak sejak dia dilahirkan Ibu."

Silca menggeleng prihatin. "Jangan begitu. Dia saudara kandungmu. Aku yang tidak punya saudara saja ingin sekali memiliki setidaknya satu orang dalam hidupku."

"Jika kita menikah, orang gila itu juga akan menjadi saudaramu."

Mendengar itu, semu merah muda yang tipis segera merambat di pipi Silca. Ia pun tidak banyak berkomentar lagi, khawatir jika Gekko akan mengatakan hal yang bukan-bukan. Padahal mereka akan berpisah, bukankah bahaya jika Gekko terus merayunya?

.

.

.

Sebuah phaeton terparkir di halaman kastil, di sampingnya ada sebuah kuda yang juga tampak dipersiapkan untuk perjalanan. Entah siapa yang akan menunggangi kuda coklat itu, Silca hanya merasa sedikit aneh dengan kondisi tersebut. Bukankah sudah ada kereta kuda lengkap? Kenapa masih harus menyiapkan kuda yang lain?

"Siapa yang akan naik kuda?" tanya Silca pada Gekko di sampingnya.

"Orang gila."

Mendengar jawaban Gekko yang secepat angin, Silca langsung tahu siapa orang gila yang dimaksud.

"Gekko ... jangan seperti itu." Walau seperti menasihati, tapi sebenarnya Silca juga tidak bisa menahan cengiran di sudut bibirnya sendiri. Ah, jika orang yang dibicarakan tahu, mungkin dia akan dibunuh.

"Senang ya, pagi-pagi sudah membicarakan orang gila sepertiku."

Namun, betapa mengagetkan ketika ada sebuah tangan yang merangkul pundak Silca tanpa sungkan. Dari aroma yang tiba-tiba terhidu, Silca jelas tahu siapa gerangan.

Tubuh Silca membeku, tidak berani melirik atau menoleh. Lagi pula, bagaimana bisa seorang alpha tidak tercium aromanya? Feromon yang menyeruak itu baru tercium ketika orang itu bicara.

"Singkirkan tanganmu darinya, Yuki." Suara Gekko memecah kebekuan.

Silca pun segera bernapas pelan dan panjang ketika Yuki melepaskannya. Betapa melegakan.

"Priamu ini sangat penakut," tuding Yuki pada Silca yang masih diam di samping Gekko. Ia berjalan seperti juragan tanah, melenggang ke arah kuda coklat yang masih dipegangi seorang pelayan lalu menaiki hewan tunggangan besar itu dengan sekali sentak.

Gekko tidak begitu peduli, dan memang sangat tidak peduli pada Yuki yang selalu memulai perkara dengannya. Ia menggenggam tangan Silca lembut, lalu bicara dengan sangat halus, "Untuk sementara bertahanlah dengannya. Aku akan menemuimu setiap kali pekerjaanku selesai."

Silca mengangguk kecil. "Aku harap kau tidak memaksakan diri. Walau aku pasti akan merindukanmu, tapi saat sudah lelah, jangan pergi menemuiku. Beristirahat dan tidur dengan baik."

Sudut bibir Gekko naik sedikit, entah mengapa perutnya seolah digelitiki sesuatu. Mungkinkah itu adalah perasaan senang karena ada seseorang yang memperhatikannya seperti itu? Tapi, bukankah Cherry juga sering melakukannya? Mengapa jika itu Silca, rasanya sedikit berbeda?

"Menunduklah sedikit."

Silca berkedip dua kali sebelum akhirnya benar-benar menunduk. Wajahnya sejajar dengan alpha pujaannya, dan betapa terkejut ia ketika mendapat sebuah kecupan ringan di ujung bibirnya.

Astaga!

"Gekko ...."

"Jimat keberuntungan," sahut Gekko.

Silca merasa malu luar biasa, apalagi ketika melihat sudut bibir Gekko tertarik sedikit ke atas. Ah, wanita itu sedang menggodanya di depan umum. Benar-benar tidak tahu malu. Perlakuan menyenangkan yang sangat tidak tahu malu.

"Cepat naik dan hentikan adegan mesra kalian! Ew, geli!" Suara Yuki yang lantang sukses membuat Silca menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.

Tanpa berpamitan lagi, Silca pun segera naik ke phaeton yang pintunya sudah terbuka sejak tadi. Ketika pintu phaeton ditutup, ia melambaikan tangannya, menghadap Gekko yang tersenyum jahil ke arahnya.

Tidak lama, kuda yang ditunggangi Yuki berjalan lebih dulu. Setelah itu kereta kuda Silca mengikuti. Mereka pun berlalu pergi hanya dalam sekejap mata.

Gekko terus memandangi kepergian kekasihnya, seolah enggan berbalik dan melangkah ke dalam rumah. Namun, Cherry datang padanya dengan sebuah amplop tersegel di tangan.

"Surat dari Francis Russell, Master," ungkap Cherry.

Gekko menerima amplop dengan stempel berlambang burung elang. Ia sobek bungkusnya dan membaca surat di dalamnya.

"Dia mengundangku ke acara ulang tahunnya," jelas Gekko.

Cherry pun menyahut dengan khawatir. "Apakah sebulan lagi?"

Gekko mengangguk.

"Jika benar sebulan lagi, dari informasi yang saya terima, Francis Russell sepertinya akan mengumumkan pertunangan anak perempuannya. Dan juga ... ia sepertinya akan membuka pesta perjodohan untuk para omega yang belum memiliki alpha. Apakah Master akan datang ke tempat seperti itu?"

"Jika aku tidak datang, dia mungkin akan mempersulit bisnisku."

Cherry mengambil napas panjang. "Master benar. Tapi saya sangat khawatir jika Master ke sana. Orang itu suka memainkan trik ketika menjodohkan orang lain. Sangat berbahaya berada di rumahnya dalam waktu yang lama."

"Hn."

Gekko tidak menjawab apa pun. Ia hanya dengan cepat melangkahkan kaki untuk masuk ke kastilnya yang megah. Pandangan matanya menyorot seperti gagak di atas batu nisan, siap menerkam bangkai bukan permata.

.

.

.

Butuh tujuh jam dari Hever ke Petersfield. Walau saat itu cuaca sedang bagus, tapi perjalanan jauh memang melelahkan.

Di rumah satu lantai dengan lima atap dan empat cerobong asap, kereta kuda yang dinaiki Silca berhenti. Saat ia turun dengan membawa satu koper kecil, seorang pelayan tampak tergesa-gesa membantunya.

Pelayan itu keluar dari rumah seraya menyincing roknya, lalu membawakan koper Silca setelah mengenalkan diri.

Silca tidak banyak bertanya, dia melenggang dengan tenang ketika si pelayan wanita bernama Anie membimbingnya ke dalam rumah.

"Ini adalah salah satu rumah Master Gekko di Petersfield. Walau jarang dikunjungi, tapi kami selalu merawat rumah ini sebaik mungkin. Karena jika Master Gekko tahu propertinya tidak diurus, dia akan marah besar dan menghancurkan rumah ini di depan mata kami sendiri."

Anie bercerita panjang, terdengar mengeluh tapi sebenarnya sangat bersemangat.

Silca tersenyum tipis ketika tahu bahwa di manapun Gekko berada, selalu ada pelayan yang takut sekaligus mengagumi alpha kesayangannya itu.

"Kamar Tuan Silca ada di sini," jelas Anie sekali lagi ketika ia sampai di depan salah satu pintu yang tertutup rapat. Ia pun memutar kenop dan membukakan pintu untuk kekasih majikannya.

"Terima kasih," ujar Silca.

Anie mengangguk dan tersenyum kecil. "Sebentar lagi adalah jadwal makan siang. Saat makanannya siap, saya akan memanggil Tuan Silca ke ruang makan. Tuan Muda Yuki juga akan makan bersama, jadi hari ini kami menyajikan makanan kesukaan Tuan Muda."

Silca pun tiba-tiba teringat. "Tuan Muda Yuki ke mana, ya? Sejak kami berpisah di belokan, aku sudah tidak melihatnya lagi."

"Mungkin sedang ke tempat latihan. Bukankah Tuan Silca ke sini untuk melatih diri sebagai Hakai? Tuan Yuki sepertinya sedang mengeceknya."

Silca mengangguk mengerti.

"Oh ya, Tuan Silca. Tuan Muda Yuki biasanya suka melakukan pelatihan di malam hari sampai dini hari. Jadi ada baiknya Tuan tidur siang dan beristirahat untuk persiapan."

Silca mengangguk lagi. "Aku mengerti, terima kasih."

"Senang bisa membantu. Kalau begitu saya permisi, Tuan Silca. Selamat beristirahat." Anie menganggukkan kepala sedikit, lalu pergi meninggalkan Silca yang akhirnya bisa bernapas panjang dan khidmat.

'Banyak yang harus kulakukan mulai sekarang'

.

.

.

Beberapa potongan ikan mentah segar, tersaji di atas piring dengan dekorasi yang cantik. Awalnya, Silca mengira warna merah muda yang terlihat mengilat itu adalah kue, tapi saat diperhatikan ternyata ikan yang tidak dimasak.

Tunggu dulu, kenapa pelayan menyajikan ikan yang belum dimasak? Siapa orang gila yang makan ikan dengan cara seperti itu?

"Wah, sashimi ya? Sejak datang ke tanah ini, aku belum sekali pun makan sashimi." Tiba-tiba saja sebuah suara masuk ke gendang telinga. Itu adalah Yuki yang entah dari mana saja sehingga meninggalkan Silca seorang diri.

Yuki yang saat itu menguncir kuda rambut peraknya, duduk di kursi yang masih tersisa. Ruang makan di rumah ini memang tidak menggunakan meja persegi panjang, melainkan meja bulat dengan dua kursi saja.

"Selamat siang," sapa Silca pada calon gurunya yang rupawan tapi eksentrik itu.

Yuki terkekeh, lalu tanpa sungkan menggunakan sumpit di sebelah piringnya untuk mulai menyuap sashimi. "Wah, ternyata pintar juga koki di sini memotong ikan," pujinya pada koki yang jauh di dapur sana.

Anie yang saat itu ada di dalam ruang, menyahut cepat. "Saya akan menyampaikan pujian tersebut pada koki dapur, Tuan Muda. Dia pasti senang mendengar Tuan Muda mengapresiasi masakannya."

Yuki tidak menanggapi, karena terlihat asik dengan setiap potongan ikan di atas piring. Ia sesekali juga mencelupkan ujung potongan ikan ke dalam saus berwarna gelap, dan kadang juga menambahkan sesuatu seperti pasta hijau yang berbau menyengat.

"Kenapa kau tidak makan?" tanya Yuki usai menghabiskan sepiring sashimi untuknya sendiri.

Silca yang merasa diajak bicara pun hanya bisa menyuarakan keluh kesahnya. "Tapi ini ikan mentah. Bagaimana bisa aku memakan ikan mentah?"

"Kau hanya belum pernah mencobanya. Rasanya lebih baik daripada yang ada di bayanganmu. Lagi pula tidak ada bau amisnya, kok. Makan saja lah."

"Tidak ada pisau, sendok, bahkan garpu," sela Silca lagi.

Yuki pun tergelak bahagia. "Pakai ini, dong," jelasnya seraya memainkan sumpit di tangannya. "Lihat caraku memegangnya, begini, begini. Belajar lah, kalau kau ke rumah mertuamu, kau akan sering makan dengan sumpit bambu begini."

Tanpa banyak mengeluh, Silca mencoba yang dicontohkan Yuki padanya. Ah, sulit sekali memegang dua stik bambu di sela-sela jari. Orang Timur memang mengagumkan, bahkan tidak terbayang di benak Silca bahwa seseorang bisa makan dengan benda seperti ini.

"Makan makananmu sampai habis. Gekko juga suka sashimi," terang Yuki lagi.

Silca mengangguk. Walau sedikit memaksakan diri, tapi ia akhirnya mencoba menelan ikan mentah yang sudah susah payah ia sumpit. Semua ini demi Gekko.

Ah, seumur-umur, ia benci ikan yang tidak dimasak. Bahkan dulu ketika masih tinggal sendiri di hutan, ia selalu membakar ikan tangkapannya dengan benar. Darah dibersihkan, jeroan dikeluarkan, kulit disayat sampai lepas, dan baru ia memasak ikannya walau tanpa bumbu yang cukup.

Cukup lama Silca menghabiskan makanan di piringnya, sekitar setengah jam dan ia baru bisa meneguk wine untuk menghilangkan sisa rasa aneh di lidahnya.

Di sisi lain, Yuki yang dalam waktu setengah jam itu memperhatikan Silca, hanya tertawa-tawa tanpa ada niat memberi dukungan. Ia tampak gembira melihat orang lain menderita.

"Lihat lah wajahmu, seperti orang bodoh saja." Tidak lupa, ejekan-ejekan menyebalkan yang keluar dari mulut si alpha.

Untung saja Silca sudah menyiapkan kesabaran dan tekadnya sejak kemarin, sehingga ia dapat bertahan walau Yuki semakin menjengkelkan.

"Anie, bawakan sesuatu yang manis untuk bocah ini!" perintah Yuki pada Anie yang siap siaga.

Tanpa bertanya lebih banyak, Anie segera melangkahkan kakinya menuju dapur dan datang dua menit kemudian untuk menyajikan es krim dengan banyak topping coklat di depan Silca.

"Es krim ...." Mata Silca berbinar seperti gemintang. "Boleh aku memakannya sendiri?"

Yuki mengangguk. "Itu untukmu."

"Terima kasih!" Tidak menunggu lama, suapan demi suapan es yang manis masuk ke dalam mulut Silca.

Akan tetapi, di suapan ke lima, Silca mulai memegangi dadanya.

Melihat perubahan sikap omega di depannya, Yuki pun berkomentar santai, "Oh, mulai ada reaksi, ya?"

Silca menatap Yuki sengit, tapi ia tidak mampu berkata apa pun karena menahan sesuatu dalam dirinya yang seolah mulai bergejolak. Tubuhnya memanas dan napasnya memburu. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mengkerut seperti trenggiling di atas kursi.

"Aku sudah memasukkan obat perangsang hormon. Jadi selama kau berada di sini, seluruh makananmu akan kuberi obat khusus setiap harinya."

Tatapan mata Silca menjadi lebih redup. Entah dia mengerti atau sudah habis energi.

Sambil menumpu dagunya menggunakan satu tangan di atas meja, Yuki tersenyum menyeringai. "Jangan menatapku begitu. Semua Hakai harus mampu bertahan dalam keadaan genting kapan pun dan dimanapun."

Usai mengatakan hal itu, Yuki menebar aroma alphanya dengan sengaja. Aromanya yang seperti lemon segar menyeruak di dalam ruangan, bertabrakan dengan feromon Silca yang meliuk-liuk di udara dan siap meledak.

Ah, Silca rasanya mau mati saja. Dalam sekejap ia menginginkan seorang alpha menyetubuhinya dengan sedikit gila. Sayangnya, alpha yang disukainya berada nan jauh di sana.

"Bertahanlah calon adik ipar. Aku akan melakukan ini padamu sampai bulan depan."

Senyum Yuki di seberang meja sangat tidak membantu. Silca hanya dapat menggeliat dan bahkan jatuh dari kursinya untuk lebih meringkuk.

'Gekko ... Gekko ... aku ingin kau menyentuhku. Menyentuh hingga ke dalam, sangat-sangat dalam sampai aku hilang akal'

TBC_

18-06-2023

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top