Chapter 7 - Traitor
...
..
.
Kagome terperangkap di antara dinding gua dan tubuh laki-laki itu, satu tangan besar dan kuat mencekik lehernya. Gadis itu terkesiap saat merasakan cakar-cakar di tengkuknya semakin dalam menembus kulit dan menusuk daging.
Kedua kaki Sesshoumaru mengapit kedua paha sang hanyou, tubuhnya menekan, matanya menatap murka. Segala usaha Kagome agar terbebas dari siksaan itu sia-sia, dia berjuang sekuat tenaga untuk memompa udara ke dalam paru-paru. Perempuan itu merintih kesakitan. Sepasang emas berkilat oleh kemenangan, kedua sudut bibir Sesshoumaru sedikit terangkat, youkai itu hampir tersenyum.
Kagome memejamkan mata, tidak ingin melihat wajah puas pria itu. Ia merasa tiba di ujung batas, jurang kematian telah menunggu untuk melahapnya. Di titik terendah itulah, youkai itu mengendurkan cengkramannya. Kagome megap-megap mengisi paru-parunya dengan udara, tulang lehernya terasa remuk, dan dadanya bagai terbakar. Matanya berkunang-kunang, bumi yang dipijaknya seakan berputar-putar.
Sesshoumaru melepaskan tangan kanannya yang mencengkram leher Kagome, matanya memandangi bibir Kagome yang terbuka. Ujung cakar dari jari telunjuknya menelusuri pipi Kagome dengan gerakan mengambang. Ia bergerak ke bibir bawah, cakarnya tersebut berhasil membuat jejak goresan di semua tempat yang telah ditelusuri. Goresan itu tidak terlalu dalam, tapi cukup untuk membuat darah mengalir keluar dari kulitnya. Pada bibir Kagome, darah mengalir lebih deras bila dibandingkan tempat yang lain.
Kagome tidak mengerti apa yang coba dilakukan pria itu. Sungguh, dia tidak mengerti sama sekali. Pertama-tama, dia membawanya kembali dari kematian. Pertemuan kedua, ia menerima penghinaan secara verbal. Kemudian, lelaki itu menolongnya lagi saat seekor serigala besar hampir menggigit putus kepalanya. Baru saja dia hendak meremukan tulang lehernya hingga mati, dan sekarang?
Dengan was-was Kagome menanti. Dengan waktu yang dimiliki, ia bisa memikirkan berbagai cara untuk bebas dari cengkraman pria itu. Walaupun siluman itu terlalu kuat sebagai lawan, ia yakin ada satu cara yang bisa digunakannya untuk bebas.
Bau wanita ini sekarang bercampur dengan rasa takut, itu memang sudah sepatutnya, pikir Sesshoumaru. Sedikit bermain dengan mangsa tidak akan ada bedanya. Ia ingin melihat hanyou itu gemetar ketakutan. Dia ingin membuatnya memohon untuk melepaskannya dan memberinya kesempatan hidup lagi. Hanyou itu harus tahu tempat dan derajatnya.
Kendati demikian, tujuan awal Sesshoumaru menguap tanpa sisa laksana tetesan air di bawah terik matahari musim panas. Perbuatan Sesshoumaru selanjutnya diluar dari rencana. Hal yang akan disesali dan disyukuri oleh sebagian dirinya di kemudian hari, tapi tidak hari ini.
Darah Kagome tercium berbeda, lebih manis dibandingkan yang lainnya. Seperti aroma madu yang bercampur karat, Sesshoumaru ingin mencicipinya. Kelopak lentur mereka bertemu sesaat. Kelembutan itu membuat sang siluman mengawang, kehangatan itu menghantarkannya pada kegilaan. Bibir Sesshoumaru basah oleh darah gadis itu. Lidahnya terselip keluar, ia menjilat likuid berma yang mengalir langsung dari mulut gadis itu.
Sontak, desakan itu menyerang Sesshoumaru lagi, mengimpitnya dengan ketidak berdayaan untuk menolak.
Kedua alis Kagome terangkat, dia amat sangat terkejut dengan tindakan youkai itu. Semua itu di luar ekspektasinya, kecupan lelaki itu begitu lembut bila dibandingkan dengan cakarnya yang tajam menusuk. Kagome terperangah dan hanya mampu menyambut apa yang dihadiahkan. Jantungnya mulai berdegup cepat. Kagome tidak mengerti apa yang dia rasakan, tidak mengerti apa yang dia tunggu, yang ia tahu sesuatu di dalam dirinya begejolak oleh keantusiasan.
Semua pengalaman berada di tepi maut yang pernah dirasakan oleh Kagome memang selalu membuatnya bersemangat. Akan tetapi, yang dirasakannya kali ini jauh berbeda dari yang sebelumnya. Sesuatu yang baru itu membuatnya merasa lebih hidup, mendidihkan darahnya ke titik tertinggi, nyalinya bergetar, menggelegar di dalam wujud suatu bentuk pengharapan. Berharap untuk sentuhan, tubuhnya berteriak meminta perhatian dari youkai tampan nan mematikan.
Kecupan pertama itu membuat Sesshoumaru semakin lapar untuk merasakan lebih. Bibir gadis itu terbuka, memberikan undangan. Apa yang dilakukan Sesshoumaru bukanlah suatu tindakan yang akan dibanggakannya kemudian hari, walau begitu, bukan berarti dia tidak menyukainya. Pria itu bisa mendengar denyut jantung sang hanyou semakin berpacu kencang dan lantang. Ia pun menyadari napas mereka semakin memburu.
Amat fatal, harum kebangkitan hanyou cantik itu menyerbu penciumannya.
Aroma itu menggiring Sesshoumaru ke tepi kewarasan. Hampir saja ia kehilangan akal serta kendali. Demi mempertahankan prinsip serta harga diri, ia menekan sisi buas yang berusaha mengambil alih. Bagian liar dari instingnya tak rela menyerah begitu saja, keinginan untuk menaklukan gadis itu di pergumulan selain pertarungan sangatlah membumbung. Akan tetapi, kehormatannya sebagai siluman besar membuatnya tetap tegar menahan godaan.
Sesshoumaru menarik diri. Ia memandang gadis itu; kelopak matanya tertutup, bibirnya terbuka, ia menyerah. Begitupun dengan tubuhnya yang kini pasrah dalam impitannya, tidak ada lagi upaya untuk berontak. Sesshoumaru bisa saja menancapkan cakar tajam ke leher dan memisahkan kepala itu dari badannya dengan mudah. Tetapi, hasrat membunuh telah lama surut dan tersapu gelombang nafsu.
Tak lagi berjarak, lekuk tubuh mereka saling melengkapi. Hasrat yang ditekannya itu kini berontak, meledak di tubuhnya yang semakin panas. Sesshoumaru memperdalam pertautan, ia melumat dan lidahnya menjelajah mulut gadis itu. Taring Sesshoumaru dengan sengaja menggores sudut bibir bawah Kagome. Ciumannya semakin mengganas dan Kagome membalas. Mereka bergerak seirama, mulut Kagome begitu panas dengan hasrat yang sama. Satu tangan Sesshoumaru menyusuri sisi badan sang hanyou dengan sentuhan melayang.
Segala perbuatan Sesshoumaru membuat semua bulu halus di tubuh Kagome berdiri, membuat dadanya menegang, membuat hatinya bergetar, dan merinding untuk alasan lain selain ketakutan.
Dada Kagome masih bergerak naik turun dengan gairah, tubuhnya mengilat oleh selapis tipis keringat. Matanya masih terpejam, tubuhnya terasa mengambang kala pria itu melepaskan diri secepat kilat darinya. Kepalanya berat. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, bagian bawah tubuhnya ikut berdenyut, berteriak meminta perhatian dengan mengeluarkan cairan yang tidak pernah dia tahu dia miliki sebelum ini.
Sesshoumaru berhasil membuatnya merasa begitu butuh penawar atas desakan yang ada dalam dada. Kagome membuka penglihatan, ia menatap lurus-lurus sang dewa penolong yang kemungkinan besar musuh yang dikejarnya. Youkai itu menatapnya dengan dingin dan dagu terangkat. Sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, Kagome merutuk diri sendiri, "Sial!"
Sesshoumaru seperti tercambuk oleh kesadaran saat mata emasnya bertemu dengan mata biru indah milik hanyou itu. Sesshoumaru tidak mengerti apa yang menguasainya. Kebuasannya yang harus dipersalahkan, tentu saja.
Ke mana perginya pengendalian dirinya yang selama ini dibanggakan? Mengapa ia merendahkan diri dengan menolong seorang penyimpangan? Mengapa mencemari dirinya sendiri dengan menyentuh tubuh wanita itu? Terpuaskan? Tidak. Kebutuhan yang kejam malah semakin tumbuh di dalam dirinya.
Hal yang selalu Sesshoumaru coba untuk sangkal adalah, kurioritas dan ketertarikan kuatnya pada hanyou tersebut.
Pada akhirnya, logika menendang mundur kebuasan pria itu secara paksa. Ia membalik badan dan hendak pergi, saat itulah suara gadis itu menggapai indra pendengarannya.
"Tunggu!" suara Kagome pecah. Menelan ragu, ia bertanya, "Siapa namamu?"
Sosok anggun di hadapannya tidak berpaling, hening sejenak. Tanpa memberikan reaksi, Sesshoumaru melangkahkan kaki.
"Kumohon," sambung gadis itu lagi.
Tanpa menoleh, ia menyahut dingin, "Dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Jangan pernah berada di jalanku lagi!" baritone itu bergema dalam gua.
Entah mengapa Kagome tak lantas menyanggupi. Akhir-akhir ini, takdir selalu melemparkan mereka pada rute yang bersinggungan. Setelah beberapa detik berpikir, ia pun mengiakan, "Baiklah."
"Sesshoumaru," suara pria itu penuh dengan kebanggaan saat menyebutkan nama.
Sesshoumaru sedikit menolehkan kepala, memberi sang hanyou pandangan menusuk dari sudut mata, lalu menebar ancaman, "Jika sekali lagi kau berada di hadapanku, aku tidak akan segan-segan mencabut pedangku!" Rambut silvernya yang panjang bergerak indah, berayun lembut seiring dengan langkahnya. Perlahan namun pasti, sosok itu menghilang ditelan kegelapan gua.
Kagome tersenyum sinis. "Aku juga tidak akan segan-segan lagi," bisiknya. Ia tahu bahwa omongannya masih bisa sampai ke telinga siluman itu, tapi ia tidak peduli.
Kejadian sesaat tadi tidak akan mempengaruhi tujuan Kagome, hatinya akan tetap teguh. Semua yang terjadi adalah kebodohan belaka. Walau tidak akan ada pembelaaan yang mampu menghapus fakta bahwa Sesshoumaru telah menolongnya berkali-kali. Kekeras kepalaan Kagome tidak akan membiarkan dirinya yang rapuh menguasai sepenuhnya, dia akan menyelesaikan apa yang telah dimulai.
.
.
.
Keesokan malam, tidak ada bunyi embusan angin bahkan hewan terkecil, hutan begitu sunyi. Kagome sedang bertengger di dahan sebuah pohon besar, dia memeluk kedua kakinya, matanya terpejam, pikirannya menerawang. Yang terbayang hanyalah satu youkai tertentu.
"Sesshoumaru. " Kagome mengucapkan nama itu dengan lirih.
Nama itu sekarang menjadi kata kesukaannya, nama itu terasa manis kala bergulir di lidahnya serta terdengar indah di telinganya. Sesshoumaru adalah mahluk yang tidak dia mengerti, perbuatan dan ucapannya selalu bertentangan, pria itu seperti bergelut dengan dirinya sendiri.
Mengucapkan nama itu membuat Kagome kembali mengenang bagaimana bibir Sesshoumaru yang hangat bertemu dengan miliknya. Bagaimana hangat tubuh Sesshoumaru saat mengimpitnya, cara tangan pria itu menjelajahi tubuhnya.
Ingatan itu mengirimkan perasaan yang sama persis seperti yang dirasakannya saat bersentuhan fisik dengan Sesshoumaru. Jantung berdetak keras, tubuh semakin memanas. Bagaimana harum napas Sesshoumaru saat membelai wajahnya, panas udara yang diembus Sesshoumaru begitu menggelitik lehernya.
Kagome memekik kecil seraya bangkit berdiri.
Dia mengutuk diri atas apa yang dia bayangkan dan rasakan saat ini. Tangannya terkepal kuat-kuat hingga membuat telapak tangannya memutih, dadanya bergerak naik turun. Matanya tidak lagi terpejam untuk menghalau bayangan itu kembali melintas di pikirannya.
Usahanya sia-sia, kelebatan-kelebatan kejadian itu dapat dia lihat dengan mata terbuka. Kagome terkhianati oleh tubuhnya sendiri. Dia bisa merasakan bagian bawah tubuhnya kembali lembap. Dia duduk kembali dan berselonjor. Tangannya bersilang di dada, dia mencoba untuk menenangkan diri.
Harum kebangkitannya adalah bukti jelas kebutuhannya. Kebutuhan alaminya setelah mencapai usia matang sejak setahun lalu untuk ukuran seorang hanyou. Tahap dimana tubuhnya mencapai kedewasaan dan akan terus bertahan seperti itu hingga beberapa ratus tahun ke depan hingga kematian menjemputnya. Meski begitu, siklus kesuburan Kagome sama seperti perempuan manusia pada umumnya.
Walaupun Kagome baru merasakan kebutuhan alamiah yang baru dirasakan, bukan berarti dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia pernah beberapa kali tidak sengaja melihat adegan intim manusia dengan manusia, youkai dengan youkai, di hutan yang dia lewati. Bahkan, dia pernah tidak sengaja melihat manusia dengan siluman di ruang tengah pondok kecil yang dia tempati dulu, dan mereka adalah kedua orang tuanya.
Saat itu, dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi, yang dia tahu hanyalah ibunya yang dikelilingi bau yang lucu sedang berbahagia karena bertemu lagi dengan ayahnya. Kini, dia mengerti bahwa bau itu adalah aroma kebangkitan yang kuat.
Kagome membayangkan skenario-skenario terburuk yang akan terjadi kemudian. Menghela napas, gadis itu menyandarkan punggung ke dahan kasar pohon di belakangnya. Tak mau pusing memikirkan masa depan, ia akan membiarkan waktu yang menjawab segala terka serta melerai segenap rasa yang ia punya.
.
Bersambung
.
Bab yang tersisa akan diusahakan untuk di-posting tiap empat hari sekali. Tetapi, perlu dicatat bahwa ini fic kedua yang kutulis bertahun-tahun lalu, jadi harap maklum kalo belum rapi.
Terima kasih untuk semua pembaca!
06/02/2021
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top