Chapter 3 - Alter Ego
Disclaimer: I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.
***
**
*
Bagi para youkai dan manusia, jauh sebelum jaman feodal, wilayah Jepang hanya terbagi menjadi empat bagian; Wilayah Utara dan Wilayah Timur dikuasai oleh dua ookami youkai. Sedangkan, Wilayah Barat dan Wilayah Selatan dikuasai oleh para inu youkai.
Tugas para penguasa wilayah adalah mengatur semua youkai yang tinggal di dalam wilayah kekuasaannya, baik youkai kelas menengah maupun mononoke yang tak lebih pintar dari hewan buas yang liar. Bagaimanapun juga, kebuasan dan keliaran adalah insting alamiah para youkai, mereka tetap butuh seorang pemimpin yang dapat mengatur agar tidak terjadi banyak pertarungan yang hanya akan menuntun mereka pada kehancuran kaum mereka sendiri.
Tidak hanya para youkai, beberapa di antara penguasa itu juga membawahkan ratusan desa manusia. Di dua wilayah, para youkai dan manusia hidup berdampingan dengan tenteram. Wilayah Selatan yang dikuasai Takigawa dan wilayah Barat dipimpin oleh Touga yang berjuluk Inu no Taisho adalah kedua wilayah yang memiliki toleransi tinggi terhadap manusia. Keduanya memerintah dengan cukup adil, baik itu untuk manusia maupun para youkai.
Dibawah kekuasaan mereka, tidak akan ada youkai yang menyerang dengan membabi buta desa yang mereka lindungi, begitupun sebaliknya, tidak akan ada youkai yang diserang oleh para hoshi maupun miko dengan kemampuan spiritual mereka tanpa alasan kuat. Bahkan, pertempuran antar klan manusia juga jarang terjadi di wilayah yang mereka lindungi. Para Daimyo (Tuan tanah) dan para petinggi klan pun patuh pada keduanya.
Walau tidak dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang sangat baik diantara keempatnya, para Daiyoukai yang menjadi penguasa selalu saling menghormati satu sama lain. Di luar dugaan siapapun jua, dengan kekuasaaan dan kekuatan besar yang ada, sangat kecil sekali pergesekan yang terjadi di antara mereka. Hanya beberapa insiden kecil yang terjadi di batas-batas wilayah yang tidak akan berpengaruh besar kepada kedua belah pihak yang bersinggungan.
Selama berabad-abad lamanya, tidak ada benturan langsung antar para penguasa wilayah. Namun, pada akhirnya, pergeseran terjadi, masa telah bergulir. Keadaan berubah seiring bergantinya zaman dan para penguasa. Kerenggangan hubungan di antara para penguasa wilayah mulai menyeruak sepeninggal Penguasa Wilayah Utara dan Timur yang hampir bersamaan. Ketegangan yang terjadi bermula dari dua Dai youkai yang menjadi Penguasa Wilayah baru yaitu, Tokushin dan Kuroichi. Situasi seperti itu tak berlangsung lama, Inu no Taisho lekas menekan gejolak yang ada. Agar keadaan kembali tenang, ia mengikat keempatnya dengan sebuah perjanjian. Perjanjian yang membuat para penguasa wilayah tidak menganggu satu sama lain.
Situasi memang terkendali, tetapi, kedamaian itu hanya bertahan untuk beberapa sesaat. Inu no Taisho, sang pencetus perdamaian, menemui ajalnya. Dengan itu, kekuasaan jatuh kepada satu-satunya putra yang ia miliki, Sesshoumaru.
Dengan kepemimpinan Sesshoumaru yang dipandang remeh oleh Tokushin dan Kuroichi, suasana Timur dan Utara kembali memanas. Berawal dari kejadian kecil di perbatasan, perseteruan sengit keduanya pun pecah. Dahaga para penguasa akan kekuasaan dan kekuatan tak lagi tertahankan, mereka tak lagi menyatakan diri sebagai rival secara diam-diam. Karena kini, perjanjian terlupakan, dan peraturan kuno tak tertulis kembali dijunjung oleh ke empat Daiyoukai, peraturan purba tentang siapa yang terkuatlah yang akan bertahan dan menjadi pemenang pun kembali diagung-agungkan.
Siapapun yang bisa mengalahkan para penguasa wilayah yang lain, dalam arti membunuhnya, tentu saja akan menjadi penguasa wilayah tersebut. Dan, pola pikir para Daiyoukai itu semakin memburuk dengan fakta yang ada, walau sejak ribuan tahun lamanya penguasa wilayah dan pemilik pedang yang terpilih itu diwariskan secara turun-temurun, tapi kenyataannya, penguasa wilayah sejati hanya dilihat dari kepemilikan pedang legendaris yang berasal dari masing-masing wilayah.
Oleh sebab itulah, keempat senjata yang menjadi penanda kekuatan dan kekuasaan diperebutkan. Keempat pedang yang menjadi wadah berkumpulnya kekuatan para penguasa wilayah yang telah wafat itu adalah; Makaze, napas iblis yang berasal dari Utara. Akaiittou yang juga berjuluk pedang merah dari Timur. Yoarashi, petir hitam dari Selatan. Dan yang terakhir adalah Tenseiga, pedang langit dari Barat.
Meskipun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, para Daiyoukai benar-benar mengambil waktu mereka. Selagi keempatnya sibuk memikirkan matang-matang taktik terbaik untuk mengalahkan lawan, para penantang kecil sebagai teman latihan tanding pun berdatangan.
Kabar tentang perpecahan para Daiyoukai yang beredar sudah pasti membangkitkan perhatian siapapun yang mendengarnya; para manusia tak henti-hentinya merasa khawatir, mononoke lemah tanpa nyali hanya dapat mengkerut takut, para youkai yang cerdas__yang mengerti bahwa yang mereka tantang tidak hanya sang penguasa wilayah tapi juga akumulasi kekuatan para penguasa terdahulu__hanya duduk manis dan memperhatikan perkembangan yang ada. Sedangkan sisanya, mereka yang berbekal sedikit keahlian namun menjadi wadah ketamakan, kebodohan, juga kepongahan yang tak tertanggungkan, satu-persatu datang tuk merebut salah satu dari keempat pedang tersebut
Para penantang yang bertandang hanya meninggalkan nama, nama yang kan segera dilupakan. Sudah pasti, kabar itu menciutkan nyali siapapun yang mendengarnya. Semakin lama, jumlah para penantang semakin mengerucut sebelum menghilang sama sekali. Akan tetapi, fakta itu tidak mengurangi sedikitpun nyali seorang hanyou wanita tertentu yang hidup karena api dendam di dalam dadanya, yang tidak takut akan kematian, dan mungkin, kematian itu sendirilah yang ia harapkan.
______
Sore itu, hutan seakan ikut terdiam bersama Kagome yang berjalan dengan langkah limbung dan kepala tertunduk. Dengan satu hentakan, ia melompat ke pohon besar terdekat. Hampir di dahan tertinggi, dia menyandarkan tubuhnya yang letih lalu memejamkan mata. Waktu telah terentang setelah pertempuran terakhirnya dengan Kuroichi, tubuhnya hampir sepenuhnya pulih total.
Kagome membuka matanya, iris biru kelabu menatap tajam bayang senja. Tangan kanannya merayap ke dada sebelah kirinya__untuk sejenak, ia menghayati tiap entakan di dalam rongga dadanya__sebelum kembali terkulai lemah di sisi tubuhnya. Dadanya masih saja terasa sakit, bukan karena luka fisik yang disebabkan oleh ookami youkai yang menjadi lawannya, melainkan oleh luka batin yang menyiksa.
Keberanian dan tekadnya seakan ikut tenggelam bersama matahari di ufuk barat. Tidak ada lagi Kagome sang hanyou tangguh, yang ada hanyalah Kagome si sebatang kara yang menyerah kalah oleh rasa putus asa yang menggerogoti hati, tubuh, dan jiwanya. Misi yang ia emban terasa melelahkan, lagi-lagi ia terombang-ambing dalam ketidakpastian. Satu-satunya kepastian yang tersedia baginya dan bagi semua mahluk hidup di muka bumi ini hanyalah satu hal: Kepastian akan kematian.
Iya, kematian. Kematian yang baru kemarin menghampirinya! Dan, setelah kematian yang ia lalui, yang ia rasakan sekarang hanyalah kehampaan. Kehampaan yang begitu mencekik. Selama ini, yang menjadi penggerak tubuhnya adalah bara dendam dan kobaran api amarah. Meskipun kedua perasaan negatif yang dipupuknya semakin lama semakin merusaknya, setidaknya, hidupnya tidak sepenuhnya kosong. Itu yang ia pikirkan, satu-satunya pembenaran atas apa yang telah dia lakukan selama ini.
Akan tetapi, entah mengapa, setelah dia bangkit dari kematian, bara dendam dan kobaran murka di jiwanya sedikit terpadamkan. Hasratnya untuk merobek-robek kerongkongan musuhnya sedikit memudar, tergantikan oleh rasa muak kepada dirinya sendiri. Hanyou muda itu tak tahan lagi karena kini ia menjadi apa yang dia benci, seorang pembunuh. Dan, yang paling memuakkan bagi Kagome adalah menjadi apa yang para manusia tuduhkan padanya, seorang monster.
Seorang monster, sebutan itu memang cocok untuknya, tidak ada rasa syukur di hatinya kepada siapapun yang telah menciptakannya, dan tidak juga rasa terima kasih kepada youkai yang telah memberinya kesempatan kedua. Bukan berarti ia mengharapkan kematian secepat itu, saat ini tidak! Berbeda dengan dirinya yang beberapa tahun lalu, dengan seluruh ketidakpastian yang melingkupinya saat ini, dia tidak ingin mati, tidak sebelum dia dapat memastikan kalau misinya telah tercapai.
Lalu, setelah misinya telah tercapai, apa yang akan ia lakukan? Kagome tak dapat menjawabnya.
Bila suatu saat__entah dendamnya terbalaskan ataupun tidak__kematian yang tak dapat ditolak datang menjemputnya, adakah seseorang yang akan kehilangannya? Adakah seseorang yang akan bersedih? Dia tahu jawabannya dengan pasti: Tidak ada. Tidak ada tetes air mata yang jatuh karena kepergiannya. Bagaimanapun juga, ia hanyalah sebuah penyimpangan yang teramat sangat dibenci. Dia hanyalah bahan olok-olok agar Sang Pencipta tidak kekurangan hiburan untuk disaksikan. Dia bagaikan sebuah lalat diantara kupu-kupu. Tak peduli di mana pun ia berada, tidak ada tempat untuknya, baik di dunia manusia, maupun di hadapan para youkai.
Dengan kedua mata yang masih terpejam, Kagome meluruskan kakinya di atas dahan pohon, lalu menyilangkan dua tangan di atas dada. Perutnya sudah meneriakkan protes, namun tubuhnya masih terlalu lemah untuk mencari buah atau hewan kecil untuk diburu. Efek racun Kuroichi terlalu kuat untuknya yang hanya seorang hanyou__sebuah kepastian bahwa dia tidak akan bisa hidup kembali bila tidak karena dewa penolongnya kemarin. Mengingat youkai misterius itu, satu hal yang Kagome yakini, pria itu adalah salah satu penguasa wilayah.
Arus pikiran membawa Kagome kembali mengingat masa-masa awal perburuannya. Tokushin, Penguasa Wilayah Utara adalah yang pertama di carinya. Pencarian itu tidaklah mudah, jarak yang di tempuh juga tidaklah dekat. Dia memulai perjalanannya ke Utara hingga menemui Daiyoukai itu lebih dari dua tahun lamanya. Pada awalnya, pencariannya hanyalah sebuah misi bunuh diri, seorang hanyou kecil menantang sang penguasa hanya dengan berbekal nyali.
Perjalanan itu sendiri telah menempanya dengan cara yang teramat keras. Di sepanjang perjalanan, tak terhitung banyaknya youkai yang berusaha ingin memakannya, membunuhnya hanya untuk kesenangan, bahkan ada juga yang ingin menyetubuhinya. Semua itu adalah pembelajaran untuknya, pembelajaran untuk bertarung dan juga sebuah latihan untuk bertahan hidup. Latihan mahal yang mempertaruhkan nyawa, tetapi, dengan itu dia telah menemukan kekuatan sejatinya.
Cara bertarungnya alami; tidak ada seorang guru pun yang mengajarinya bagaimana cara cepat membaca pertarungan, bagaimana cara menemukan kelemahan musuh, dan menghadiahkan sebuah serangan di titik fatal 'tuk melumpuhkan sang lawan dalam sekejap. Cakar, taring, kecepatan, kekuatan, pendengaran serta penciumannya yang super sensitif, semua hal yang pada awalnya dia anggap sebagai kutukan kini menjadi anugerah. Semua kelebihan yang Kagome miliki ia gunakan semaksimal mungkin demi satu tujuan inti, bertahan hidup walau hanya untuk memadamkan api dendam.
Tidak sedikit youkai kuat yang ditemuinya di dalam perjalanan, dan tak jarang pula dia sekarat setelah pertempuran. Anggota tubuh yang retak, patah, luka tusuk, dan beragam jenis luka sudah terbiasa bersemayam di tubuhnya. Pada kondisi seperti itu, ia akan bersembunyi berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk memulihkan tubuhnya di tempat yang ia anggap aman. Untuk mengisi perut, Kagome akan memakan apa saja yang ada di sekelilingnya, walau itu hanya daun-daunan yang rasanya pahit dan sepat, buah-buahan yang masih mentah, maupun hewan kecil malang yang tak sengaja lewat di dekatnya. Pada dasarnya, ia akan memakan apapun yang terjangkau olehnya.
Segera setelah tubuhnya hampir sepenuhnya pulih, ia 'kan melanjutkan perjalanan. Sebuah keberuntungan baginya, menemui penguasa youkai tidaklah sesulit menemui Daimyo dari kalangan manusia, tidak ada penjaga karena mereka adalah sang penjaga wilayah. Karena peraturan tak tertulis yang berlaku, siapapun boleh menantang sang youkai penguasa. Siapapun yang menjadi Penguasa Wilayah harus siap melayani pertarungan yang hampir tiada henti. Dan bagi sang penantang, nyawa adalah syarat mutlak yang dipertaruhkan, tidak akan ada hasil seimbang atau kesempatan kedua.
Yang ada hanyalah kemenangan atau kematian.
Akan tetapi, menjadi youkai penguasa wilayah pun bukan tanpa imbalan, selain disegani oleh para youkai lain dan ditakuti manusia. Ada kebanggaan yang tak terhingga dari gelar yang tersemat yang lebih berharga dari nyawa.
Di dalam hidup Kagome, tidak ada hitam dan putih, yang ada hanyalah abu-abu suram. Tidak ada satu hal pun yang benar-benar baik maupun benar-benar buruk, keduanya menjadi samar. Di sudut manapun di dunia yang Kagome tempati selalu menjadi ladang pertempuran dan darah berceceran. Bila saja pertarungan sudah menjadi bagian dari alam, maka, semua yang telah dilakukan olehnya sudah berada di jalur yang tepat walau tujuan hidup kosong yang selama ini dikejarnya perlahan semakin jauh merusak dirinya sendiri.
Mengejar seorang iblis untuk pembalasan dendam tak ayal membuatnya berlumuran darah oleh iblis-iblis yang dibantainya, lama kelamaan, dia akan menjadi iblis itu sendiri. Makhluk terkutuk yang selalu membawa kesengsaraan bagi siapapun yang bertamu di hidupnya.
Kendati demikian, memangnya apa yang bisa dia harapkan dari hidupnya selain dendam yang terbalaskan?
Hingga kini dia tidak bisa menjawabnya, dia tidak berani berharap lebih dari kematian yang cepat dan tidak menyakitkan untuknya bila saat itu tiba. Mungkin itu satu-satunya tujuan hidup yang masuk akal baginya, sama masuk akalnya dengan menanti sang fajar esok hari.
Dengan malas Kagome melirik langit di celah-celah dedaunan, garis jingga kemerahan di batas langit sudah sirna, selimut malam telah terbentang, bintang-gemintang menampakkan diri, kegelapan menyelimuti. Di tengah kesunyian yang menusuk, kerapuhan jiwa mulai merajai, serpihan jiwanya yang susah payah dia rekatkan saat siang hari kini kembali tercerai-berai menjadi serpihan yang lebih kecil yang mungkin suatu saat nanti akan berubah menjadi debu yang menghilang tertiup bisik angin. Kehampaan malam itu begitu menyiksa, keputusasaan akan hidup yang tak menentu kian membunuhnya secara perlahan.
"Aku hidup," hening. "Aku kuat, aku tidak butuh siapapun," kata-kata itu bagai mantra yang dibisikan Kagome kepada dirinya sendiri berulang-ulang.
"Kamu hidup," suara lembut anak kecil yang Kagome kenal tak membuatnya terkejut.
Di tahun-tahun menyakitkan yang telah ia lalui dalam kesendirian, langit menjadi atapnya, hutan menjadi rumahnya, pohon menjadi ranjangnya, siulan angin menjadi musik yang menemani di kesepian yang selalu menghantuinya. Lima tahun hidup dalam perjuangan, hanya satu teman yang dimilikinya, teman yang tidak pernah ia duga akan didapatkannya. Teman aneh untuk dirinya yang juga tak kalah aneh. Dari dialah Kagome mengetahui segalanya, bagaimana cara mencari ayahnya dan pembunuh ibunya. Sahabatnya itu bernama Kanna, youkai kecil yang tidak mempunyai aura juga bau, muncul di dahan pohon yang berseberangan dengannya. Dengan tatapan kosong, sosok kecil serba putih itu sedang memperhatikan dengan seksama sebuah cermin kecil bulat dengan tepi berwarna perak.
"Setengah hidup," imbuh Kagome.
Tiba-tiba, youkai kecil bersurai putih itu mengangkat kepala dan memandang lekat Kagome untuk sesaat sebelum beralih ke cermin kecilnya lagi. Beberapa waktu terlewati dalam keheningan yang nyaman. Sebuah persahabatan yang aneh antara seorang hanyou yang hidup hanya karena dendam dengan seorang youkai yang tak memiliki emosi dan ekspresi. Tidak banyak yang bisa dikatakan dari persahabatan mereka, meski keduanya lebih sering duduk dan tenggelam dalam kesunyian masing-masing, sesekali mereka pun melakukan percakapan pendek sarat makna.
"Dendam tidak akan membawa kebahagiaan. Dendam hanya akan merusak dirimu," suara Kanna begitu pelan hampir seperti bisikan.
"Sudah terlambat."
"Belum," balas youkai kecil itu lagi. Kedua kakinya yang menjuntai berayun-ayun.
"Andai itu benar," tambah Kagome, "sudah terlalu jauh untuk berhenti." Lagi-lagi matanya memejam, ia menghirup napas dalam-dalam.
"Kau bisa," bisik Kanna meyakinkan.
"Dan sudah terlalu jauh untuk dapat melupakan semuanya begitu saja." Rahang hanyou itu mengeras seketika, kemudian matanya pun terbuka. "Tidak setelah aku menemui penguasa yang tersisa, setelah itu, barulah aku bisa mengabulkan permintaan terakhirnya." Lamunannya terbang pada apa yang terjadi di masa lampau yang membuat dadanya sesak.
"Pedang itu telah ..., patah," ucap Kanna seperti berbicara kepada dirinya sendiri.
Kalimat sang sahabat membuat Kagome terempas keluar dari renungan, ia mengerti yang dimaksud Kanna adalah Makaze. Sang hanyou menghela napas, lalu menyandarkan kepalanya ke batang pohon. Gadis bersurai kelam itu menolak berputus asa. "Dengan ataupun tanpa pedang, aku akan menyelesaikan apa yang aku mulai." Matanya berkilat oleh emosi yang bercampur aduk.
Inu hanyou itu telah berjanji pada diri sendiri, dia tidak akan berhenti sampai dia bisa menemukan pembunuh ibunya. Siapapun dia, Kagome tidak akan berhenti memburunya. Bagaimanapun caranya, dendam itu harus terbalaskan. Tak peduli gelar sebesar apapun yang dimiliki makhluk itu, tetap saja, si keparat itu harus menerima kematian yang sama seperti yang telah ia berikan kepada ibunya. Kematian yang perlahan dan menyakitkan! Itulah janji Kagome. Dan ia takkan mati dengan tenang sebelum janji itu terpenuhi.
"Kau akan mendapatkan lebih dari itu," Kanna berkata masih dengan nada lembutnya. Mendengar itu, Kagome menatap Kanna dengan pandangan bertanya. "Segera," lanjut youkai pucat itu.
Misteri lain yang harus ia pecahkan, pikir Kagome. Entah mengapa, ia merasa setiap perkataan Kanna tak ubahnya seperti teka-teki dan sebuah petunjuk disaat yang bersamaan. Meskipun begitu, ia tidak keberatan. Lagipula, ia telah lama paham bahwa hidup yang dijalaninya hanyalah suatu perpindahan, dari satu teka-teki ke permainan pikiran yang lainnya. Dari sebuah pertarungan ke dalam peperangan, dari kesusahan berpindah kesengsaraan. Semua itu seperti sebuah pola yang akan terulang terus dan menerus. Memikirkan hal itu hanya memicu sebuah pusaran angin kencang berdesing di dalam kepalanya, membuatnya semakin tenggelam di dalam kegelapan yang dia ciptakan untuk dirinya sendiri.
Ingin sekali dia bertanya bagaimana Kanna bisa mengetahui segala sesuatu tentang dirinya juga masa lalunya? Iya, tentu saja dari cermin miliknya. Tetapi, mengapa cermin itu tidak memberitahu semuanya sekaligus? Misalnya, siapa ayahnya sebenarnya? Siapa pembunuh ibunya? Dibalik keterangan-keterangan yang telah gadis kecil itu sampaikan, mengapa Kanna terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu? Sesuatu yang lebih besar, yang mungkin saja tak ingin Kagome ketahui.
Tetapi, Kagome merasa mengenal teman anehnya itu, lima tahun adalah waktu yang lebih dari cukup yang dibutuhkan untuk mempelajarinya. Pertanyaan yang terlontar takkan berguna, Kanna tidak akan berbicara diluar kemauan dan kemampuannya. Yang ia harus lakukan sekarang adalah terus mencari target berikutnya, dan target itu telah dia kunci: Sang dewa penolong.
"Barat," suaranya yang halus dan tipis hampir mengagetkan Kagome yang tidak menyangka bahwa Kanna akan memberikannya petunjuk lain.
Kagome menyeringai, menampakkan kedua taringnya. "Saat fajar tiba aku akan menuju ke Barat."
"Tidak, yang menolongmu kemarin adalah Penguasa Wilayah Barat," jari telunjuk Kanna menyusuri dengan sangat perlahan bingkai cermin miliknya
"Target berikutnya," kata Kagome acuh tak acuh.
"Dia sangat kuat. Jangan meremehkannya."
Seringaian Kagome pudar. "Tidak, aku tidak akan pernah meremehkannya. Aku akan bertahan." Karena hanya dua penguasa lagi yang tersisa.
"Dia menuju ke Selatan."
Kalimat berikutnya dari Kagome menjadi penutup percakapan keduanya malam itu. "Bagus! Dengan begitu, satu dayung dua pulau terlampaui. Aku akan menemukan Penguasa Barat dan Selatan di satu tempat." Sedikit bertentangan dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, sedikit keraguan menyelinap keluar dari diri sang hanyou. Keraguan yang berasal dari kerapuhan yang telah lama terkunci di dalam dirinya. Bagian dirinya yang tersembunyi di satu sudut kecil hati yang berkarat karena telah lama ditinggalkan. Tempat dimana cinta bersemi dan kasih sayang menguasai. Tempat itu juga adalah tempat di mana, segala kesengsaraan karena kehilangan berasal.
Namun, kerapuhan yang hanya muncul sesaat itu tidak cukup untuk menghentikan langkahnya. Dirinya tetaplah hanyou Kagome! Dia adalah sang penantang, keberanian adalah napasnya, kekuatan adalah modalnya untuk hidup, ketegaran adalah nama lain dari dirinya. Tidak ada lagi yang bisa menyakitinya, karena Kagome, tak lagi mempunyai sesuatu yang layak yang ditangisi.
Gadis setengah siluman anjing itu menutup kedua kelopak matanya, ia berjuang keras untuk mengenyahkan potongan-potongan memori masa kecilnya yang menyayat hati. Agar dapat tidur, Kagome memfokuskan perhatiannya pada suara burung hantu di kejauhan, gesekan daun di tanah saat ular merayap melewatinya, desir semilir angin, bau dedaunan di malam yang lembab, dan pada apapun agar pikirannya teralihkan. Semuanya itu selalu berhasil membantunya masuk ke alam mimpi.
Sayangnya, ketenangan yang ia raih di alam mimpi pun hanya sesaat sebelum kenangan buruk menyerbu masuk dan mimpinya pun diperkosa oleh kegetiran yang melumpuhkan.
Di lain pihak, Kanna yang masih terjaga memperhatikan cerminnya, dia seperti terpesona oleh refleksinya sendiri. Namun, bukan refleksi dirinyalah yang tengah ia amati melainkan masa depan tak terduga yang menunggu teman hanyou-nya. Sepasang kaki mungilnya yang berjuntai terus berayun-ayun, dan mendadak, sebuah kelangkaan terjadi, walau hanya untuk sedetik, sebuah senyum tipis terpahat di wajah datarnya.
.
.
.
Notes: Terimakasih banyak untuk semua yang mau vote meski sudah membaca cerita ini di ffn.
Sedikit penjelasan;
- Hoshi = Biksu
- Miko = Pendeta perempuan di ajaran Shinto.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top