🚀Mengulik Rintik yang Pelik

Hingga jam olahraga habis dan seluruh anak X MIPA-1 sudah mengganti pakaiannya dengan seragam putih-abu kembali, Iris lebih banyak tenggelam dalam diam. Bahkan dua kotak susu stroberi favorit Iris jadi terasa tidak seenak biasanya.

Sebelum bergabung dengan barisan teman sekelasnya di lapangan tadi, Iris hanya bicara lewat tatapan begitu berpisah dengan Juno yang berniat kembali ke kelas. Iris memutuskan untuk tidak memedulikan kalimat terakhir Selena dan Bianca. Meski begitu, tak dapat terelakkan, resah-resah semakin nakal mengganggu pikirannya.

Hari ini, Iris tidak punya jadwal bimbingan astronomi maupun latihan performa bersama Hexatas Voice. Iris harus pulang cepat. Setidaknya, dengan begitu, Iris berharap bisa mempercepat regenerasi luka di penjuru hatinya, untuk menjadi Iris yang seperti biasa.

Tak mampu ditampik, siapa pun akan tahu kalau Iris sedang tidak baik-baik saja saat ini. Banyak terdiam. Tatapan kosong tanpa digantungi binar-binar antusias. Sungguhan bukan Iris ....

Tak terasa, tibalah jam pelajaran terakhir untuk hari ini. Fisika. Bu Yanti sudah memasuki kelas, tak lupa dengan metode pembelajaran andalannya: PELAKOR, Pecahkan Latihan Soal dan Raih Skor. Di titik ini, sudah dapat dipastikan, seluruh agen MaFiKiBi Society akan berlomba-lomba maju ke depan untuk menorehkan jawaban mereka di papan tulis. Karena pelajaran ini berjudul Fisika, jelas saja Alfis yang menang telak, disusul dengan Mat, lalu Bintang dan Kiano.

Lazimnya, Iris juga ikut membara, mengerjakan seluruh latihan soal dalam buku khusus hitung-hitungannya. Akan tetapi, tidak dengan kali ini. Tinta hitam itu malah memenuhi halaman buku tanpa arah yang jelas, seolah tersesat, dan malah menghasilkan benang kusut tak berujung. Tersadar dengan apa yang diperbuatnya, Iris mengangkat pulpen dari permukaan kertas.

Matanya terpejam erat. Oh, apa ini? Iris sampai tak sadar sudah menopang dagu di tengah berlangsungnya pembelajaran? Mustahil ... Iris tidak pernah terlihat lesu begini selama menghadapi rumus-rumus. Iris kembali membuka mata, membiarkan indra penglihatannya menembus lensa kacamata bulat untuk memperhatikan seberapa cepat Alfis menyelesaikan soal di papan tulis.

Embusan napas berat keluar dari mulut Iris. Baiklah. Jam olahraga tadi hanya digunakan untuk praktik silat, tidak begitu banyak energi yang dikeluarkan, tetapi kenapa Iris merasa penat sekali? Istirahat kedua dan susu stroberi bahkan tak kunjung meredakan lelah ini. Aneh. Sangat tidak beres.

Bel pulang berbunyi nyaring, memenuhi setiap sudut Persatas. Bersamaan dengan rintik hujan yang menitik permukaan bumi, lantas memperbanyak pasukannya dalam waktu singkat. Hujan deras. Sepersekian detik sejak Bu Yanti melangkahkan kaki ke luar kelas, semua anak langsung mengeluh keras. Desahan kecewa terdengar di sana-sini. Kebanyakan anak Persatas memang pergi ke sekolah menaiki sepeda motor, pasti ada saja yang tidak membawa jas hujan.

Juno bawa jas hujan, enggak, ya? Kayaknya enggak, deh.

Tanpa banyak bicara, Iris membungkus ransel penguinnya dengan jas hujan khusus yang tersedia di bagian bawah tas. Setelah menggendongnya di punggung, Iris pun bergerak keluar kelas, turun tangga, menuju halaman belakang sekolah. Tak peduli dengan serangan air hujan yang mulai membasahi sekujur tubuh, Iris berjalan dengan santai.

Iris menyingkap poni basahnya yang terasa mencolok mata. Anak itu menghampiri genangan air di dekat pohon kersen, lantas loncat-loncat di atasnya. Air di genangan itu terciprat-ciprat. Meski begitu, Iris mengangkat sedikit rok abunya. Bagaimanapun keadaannya, tentu saja Iris masih punya rasa takut akan diceramahi Bunda tujuh hari tujuh malam. Main di tempat becek sampai meninggalkan noda membandel? Mimpi buruk!

Iris membuka kacamata bulatnya yang sudah mengembun parah, lalu menyimpannya ke dalam saku. Mulai bosan dengan genangan, kini Iris berlarian mengelilingi setiap penjuru halaman belakang. Jangan lupakan kedua tangannya yang terentang lebar, bermaksud menerima sentuhan air hujan.

Supaya meminimalisir masuknya air ke dalam mata, Iris memejam sesekali. Karena pandangan yang blur, Iris tak sengaja hampir menabrak seseorang. Nasib baik, orang itu sudah menggenggam bahu Iris lebih dulu, menghentikan pergerakan Iris yang sejak tadi lari-lari tidak jelas.

"Ris? Kenapa malah hujan-hujanan! Harusnya tunggu aku di kelas aja."

Mendengar salah satu suara yang paling sering diputar selama hidupnya di dunia ini membuat Iris susah payah memicingkan mata. "Oh, Juno."

"Ayo, pulang!"

Juno sudah kuat-kuat menarik pergelangan tangan Iris agar segera menyingkir dari halaman belakang sekolah yang memang tidak memiliki atap selain rimbun daun pohon kersen untuk dijadikan tempat berteduh. Akan tetapi, Iris malah bergeming di posisinya.

Setelah menjilat bibir bawah, Juno menatap Iris dengan tampang keberatan, berniat meminta penjelasan. Akan tetapi, semua itu urung ketika Juno dapati air muka Iris yang tidak seperti biasanya. Tampak tenggelam dalam pikiran. Kedua manik cokelat terang itu bahkan terlihat sendu, mengamati sepatu hitamnya sendiri yang sudah kuyup.

Iris menghela napas panjang. Tanpa bisa dicegah, kalimat yang ingin dilupakannya malah terngiang-ngiang semakin keras di telinga.

"Anak X MIPA-1, anak ambis. Harusnya, kerjaanmu belajar aja, enggak usah cinta-cintaan. Bapakmu enggak pernah larang pacaran, ya?"

Mendapati ekspresi murung Iris, Juno pun berinisiatif untuk meraih bahu Iris ke dalam rengkuhannya. Hujan-hujanan sekali ini saja ... bukan masalah besar, kan, ya. Apa boleh buat.

Difasilitasi begitu, refleks saja Iris membenamkan kepalanya ke dada Juno karena faktor tinggi badan. Kurva melengkung ke bawah di kedua sudut bibir Iris bertambah jelas. Juno tahu Iris menangis. Karena di antara air hujan yang membasahi seragamnya, ada beberapa tetes yang terasa hangat.

"Iris lupa malah cuma tanya Bunda soal perizinan ... apa Ayah emang larang Iris pacaran, ya? Juno, apa Ayah enggak mau Iris pacaran?"

Pertanyaan yang diiringi suara tarikan ingus itu membuat Juno memejamkan mata, tak tahu harus menjawab apa. Juno kira, selama terdapat kehadirannya di sisi Iris, tidak akan pernah ada yang mampu mengorek luka lama anak itu. Iya. Juno tahu sejak awal, luka Iris memanglah tidak pernah sembuh.

Beberapa detik lamanya, yang terdengar hanyalah isakan tertahan Iris yang diredam suara debum air hujan. Tangan Juno terulur untuk terus mengusap pucuk rambut Iris perlahan-lahan. Seulas senyuman terbit di bibir Juno. Ada kehangatan yang sulit dideskripsikan ketika suatu kesadaran bermunculan di kepalanya. Suatu kesadaran mengenai sudah seberapa jauh mereka melangkah beriringan, bertumbuh bersama semesta yang menerbangkan waktu-waktu untuk berlalu tanpa terasa.

Begitu merasa anak itu sudah lebih tenang, Juno menepuk pundak mungil Iris, lalu berjongkok untuk menatap mata Iris dengan lebih leluasa. Juno melebarkan senyuman, membalas tatapan Iris yang mendung karena air mata. "Yang pasti, Ayah enggak mau putri kecilnya sakit. Ayo, pulang."

•   🦁   🐧   🐻   •

Hujan belumlah berhenti, tetapi Juno memutuskan untuk langsung pulang. Kini, Juno sedang mengayuh sepedanya sambil mencari bagian jalan yang tidak tergenang air. Di jok belakang, masih dengan helm penguinnya, Iris ndusel-ndusel pada punggung Juno, baru menyadari betapa dinginnya udara sekitar. Iris dan Juno tidak bawa jaket, yang ada hanya jas OSIS Juno. Dengan gigi bergemeletuk karena menggigil, Iris merapatkan jas abu-abu tersebut di pundaknya.

Tanpa aba-aba, tahu-tahu kikikan geli lolos dari bibir Iris yang pucat kedinginan. "Juno, kalau kelihatan sama Kakak MPK bakalan disidang, lho."

"Salah Iris."

"Mana bisa. Juno yang OSIS, kok. Juno yang dipermasalahin, lah." Lama, setelah itu hanya sunyi. Tanpa bisa dikendalikan, senyuman Iris berubah hambar. Keheningan yang ada memberi celah pada keresahan untuk mengisi. "Juno ... kayaknya Ayah bakal marah sama Iris, deh."

Juno tidak mengurangi laju sepedanya. Dengan suara kencang untuk meningkahi gemuruh air hujan, Juno jadi balas berteriak, "Kenapa? Ayah, kan, belum tentu larang Iris pacaran."

"Bukan itu. Tapi dulu, katanya, Ayah pengin hidup di ingatan Iris yang lagi senyum. Kata Ayah, Iris enggak boleh nangis kalau lagi mikirin Ayah ...." Lagi, semua sistem kehidupan Iris malah bertolak belakang dengan bait-bait harapannya. Iris mengepalkan tangan, berusaha menghentikan air mata yang ingin main seluncuran di pipinya lagi.

Sampai. Juno menghentikan sepeda di gang depan rumah mereka yang bersisian. Setelah memastikan sepedanya terstandar dengan benar, Juno turun lalu menatap mata Iris lamat-lamat. "Enggak apa. Yang Ayah maksud, mau sekeras apa pun Iris nangis, jangan lupa buat senyum lagi. Oke?"

Kedua telunjuk Juno terulur untuk menarik kedua sudut bibir Iris ke atas, membuat buntalan tebal pipi Iris jadi ikut mengembang. Juno mendesis menahan tawa. Lucu. Tanpa alasan konkret, Iris jadi ikut terkikik. Kenapa, deh? Iris sendiri heran.

Hingga Juno menjauhkan telunjuknya pun, senyuman itu masih tinggal di bibir Iris. Juno mengangguk. Kemudian, Iris menerima sodoran tangan Juno. Keduanya berlarian menerobos hujan, memasuki halaman depan rumah Iris.

Persis ketika Iris sudah ternaungi oleh atap rumah, barulah keduanya menghentikan langkah. Di depan bingkai pintu depan, Iris melepaskan jas OSIS Juno, lalu diserahkan pada pemilik aslinya. "Makasih, Juno."

"Iya. Sana, langsung mandi, keramas yang bersih. Biar enggak ada kutu."

Belum sempat Iris membalas, muncullah Ana dari dalam rumah. "Ya ampun, kalian hujan-hujanan?" Detik berikutnya, wanita itu langsung kembali ke dalam, mengambil handuk bergambar penguin milik Iris, lantas melingkarkannya di pundak anak itu. "Kenapa enggak tunggu dulu di sekolah, sih? Basah, 'kan! Untung besok enggak pakai seragam batik."

Iris memasang cengiran polos. "Ampun, Bunda. Tas penguinnya aman, kok. Enggak basah." Tanpa merasa berdosa ataupun malu dengan Juno yang masih berada di sana, Iris lekas memerosotkan rok abunya.

Ana langsung memekik kencang, bermaksud menghentikan aksi Iris. Refleks, Ana ikut memegangi handuk yang terpasang di bagian depan tubuh putrinya. "Jangan lepas bajunya di sini atuh, Iris. Ada Juno!"

Iris mengerjapkan mata. "Tapi, kan, udah kehalangin handuk."

Kaget sekaligus kena mental, Juno langsung membenarkan posisi tali ransel di pundaknya. Astaga. Lagi pula, untuk apa ia masih di sini? Kenapa Juno malah nge-bug begini? "Juno ... Juno pamit, pulang dulu, ya, Bunda."

"Ah, iya. Kalau kelamaan, bisa masuk angin, Jun. Makasih, ya."

"Dadah, Juno!" timpal Iris dengan suara nyaringnya. Tangan Iris melambai-lambai di udara, tampak begitu santai, tak memedulikan handuknya yang akan lepas kalau saja tidak dipegangi Ana. Iris lanjut membuka seragam atasnya, membuat Ana berdecak sebal.

"Ris, malu kamu di mana?"

Iris menatap bundanya dengan sorot bertanya-tanya. "Kenapa, sih, Bun? Biasanya juga Bunda yang marahin Iris kalau habis hujan-hujanan malah buka baju di dalam, 'kan? Lantainya banjir, Bunda jadi harus ngepel dua kali! Gitu, kan, biasanya?"

Dengan polos, anak itu malah berakting sebagai Ana dalam mode marah. Jangan lupakan posenya yang berkacak pinggang. Ana melotot. "Beda kasus. Harusnya, Iris buka bajunya pas Juno udah pamitan, tadi!"

Iris meringis. "Oh ... iya, ya. Maaf, Bunda. Besok enggak lagi."

"Besok bawa jas hujan."

"Iya." Iris memasang muka memelas supaya tidak dimarahi, sementara Ana sibuk membuka dan membawa seragam basah Iris untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci.

Iya juga. Iris tadi menangis gara-gara hampir direkam Selena saat ganti baju. Akan tetapi, kenapa ia malah seenaknya melepas baju di depan Juno, barusan?

Ih, sepertinya Iris hanya mengira kalau mereka masihlah dua anak kecil yang suka mandi hujan sambil telanjang bulat bersama, deh ... iya! Hanya karena itu! Iris memejamkan mata ketika ditarik Ana untuk masuk kamar mandi. Ya ampun, malu! Semoga Juno langsung lupa atau tak sengaja menghantamkan kepalanya pada benda tumpul hingga lelaki itu hilang ingatan seketika. Semoga.

•   🦁   🐧   🐻   •

Hai! Ini salah satu chapter favoritku, lho ... wkwkw, maap kalo anu. Btw, fyi, Binary Asteroid di draft otw tamat, lho! Dikit lagi:3 Dadaaah!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top