🚀Kode dan Blokade Barikade

"Jadi, tadi itu, kamu belum janjian sama Kak Gamma buat pulang bareng sebelumnya, Ris? Terus kenapa enggak iya-in ajakan aku aja, kalau gitu?"

Pertanyaan retoris Juno yang bermaksud mengklarifikasi ceritanya, malam itu, terus menghantui benak Iris, bahkan di saat Iris sudah bersiap untuk sekolah di hari Senin ini. Iya! Pada malam kejadian, Iris terpaksa bicara soal kenyataan tersebut. Gara-gara Juno, sih! Anak itu malah mempertanyakan muka keruh Iris ketika membaca pesan dari Gamma.

Jadinya keceplosan, 'kan! Eh, tetapi Iris juga masih bisa berbohong, sih. Bilang saja kalau ada nomor salah sambung yang meresahkan, atau tumbalkan salah satu teman sekelasnya sebagai oknum menyebalkan yang rusuh memintai lembar jawaban untuk tugas Kimia ....

Eh, bohong itu tidak baik! Iris memejamkan mata erat-erat, berusaha menghilangkan rasa penyesalan karena telah berkata apa adanya. Ya sudahlah. Apa boleh buat.

Nasib baik, kejadian di angkot tersebut terjadi pada Jumat sore, sehingga Iris punya dua hari libur untuk beristirahat. Meski begitu, sudah hari Senin pun, luka Iris belum sepenuhnya sembuh. Dalam rangka menghindari kontak langsung dan infeksi dari debu di luaran sana, Ana membebat lecet Iris dengan perban, terutama yang masih parah, seperti di bagian pinggang, lutut, dan kedua telapak tangannya.

"Iris!"

Seruan familiar yang tidak pernah berubah sejak belasan tahun lalu itu sukses mengalihkan perhatian Iris. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang sibuk pecicilan lari-lari mengitari rumah, kini Iris hanya guling-guling di atas kasur sembari menunggu Juno datang ke rumah. Untunglah Ana masih sibuk di dapur, kalau tidak, bisa diomeli habis-habisan Iris, karena rok seragam sekolahnya jadi tidak rapi lagi. "Iya!"

Detik berikutnya, Iris langsung berdiri dan menggendong ransel berkarakter penguin miliknya. Iris berlarian menuruni anak tangga, berpamitan rusuh pada bundanya, lalu menghampiri Juno yang sudah bersiap dengan Akashi di halaman depan rumah. Ya. Pada akhirnya, Iris kembali pada rutinitas biasa, berangkat sekolah bersama Juno. Cengiran lebar melintang di kurva bibir Iris, seolah kejadian kemarin tak lebih dari cerita fiksi yang tak usah dipikirkan ... setidaknya begitulah yang tampak dari luar.

"Ayo!"

•   🦁   🐧   🐻   •

Iris Jelek Kayak Penguin Penyek

Kok, belum keluar juga, sih?

Katanya, istirahat kelas Iris hari ini digeser dulu ke jam pelajaran selanjutnya. Bu Yanti lagi ngasih tugas tambahan buat yang remed di ulangan harian kemarin, soalnya.

Iris enggak?

Enggaklah! Hihi. Iris, kan, enggak pernah remed, kecuali bahasa sama prakarya.

Sesaat, Juno memutar bola mata sebal begitu membaca pesan balasan dari Iris. Iyalah! Anak pecicilan yang ceroboh parah semacam Iris mana bisa bikin kerajinan, sih? Waktu SD, tugas membuat miniatur rumah dari stik es krim saja dikerjakan Juno. Iris kerja apa? Dia cuma menghabiskan sekeresek es krim, lalu menyerahkan stik bekasnya pada Juno. Dengan gaya sok keren, anak itu malah beralasan, 'Peran Iris sebagai penyedia bahan, ya. Sana, Juno kerja! Jangan malas!'.

Kalau soal pelajaran bahasa ... sepertinya memang tidak akan pernah akur dengan manusia tanpa perasaan dan kepekaan yang tumpul macam Iris, ya? Biasalah.

Iris Jelek Kayak Penguin Penyek

Tapi Iris tetap ngerjain tugas remed-nya,sih. Kepo!
Juno udah istirahat, ya?

Iya.

Nitip beliin susu stroberi ke Mang Dod, dong! Hehe>.<

Juno berdecih tanpa sadar. Apanya yang 'nitip'? Biasanya juga langsung ambil, bilang 'makasih', sama sekali enggak dibayar, terus pura-pura amnesia! Dikira Juno tidak sadar, ya, diperlakukan begitu dari dulu? Wah. Anak itu tampaknya memang meremehkan Juno sebagai sahabat kecilnya, ya. Kurang ajar. Meski begitu, Juno tetap mengirimkan pesan balasan.

250 ml?

IYA! YEAAAY>.< Makasih, Juno!

Tanpa aba-aba, Juno langsung keluar kelas dan turun ke lantai bawah menuju food court, lalu membeli sekotak susu stroberi. Tak sampai dua menit, Juno sudah kembali ke lantai dua dengan pesanan Iris di tangan. Juno langsung teringat teori yang sempat dikemukakan Alfa berbulan-bulan lalu.

Katanya, ketika seseorang telah memutuskan untuk jadi bucin, maka saat itulah ia resmi menandatangani kontrak untuk menjadi seorang babu sepanjang hidup.

Tidak lucu, tetapi Juno susah payah menahan cengiran yang timbul tanpa diundang. Teori yang terdengar konyol sekaligus menyedihkan. Meski begitu, Juno malah mengakuinya dengan bangga di dalam hati. Oke. Juno memang sudah terverifikasi mengalami gejala bucin kronis. Mari kita tunggu waktu untuk menghadirkan vaksin yang ampuh menanganinya. Semoga saja masih bisa diselamatkan.

Dalam keadaan berbunga yang tak mampu terdefinisikan itu, mendadak saja senyuman Juno memudar. Langkah kakinya terhenti di koridor ketika mendapati kakak kelasnya sedang sibuk menengok ke jendela kelas Iris. Itu Gamma, yang kini menyadari kedatangan Juno, lalu menghampirinya. "Jun, kok, Iris belum keluar kelas, ya? Kenapa masih ada guru?"

"Jam Istirahat kelas X MIPA-1 digeser khusus hari ini, Kak."

Setelah menganggukkan kepala, sudut mata Gamma tak sengaja menangkap bayangan sekotak susu stroberi di tangan Juno. Susu stroberi ... jelas saja buat Iris, 'kan? "Kamu mau ngasih itu ke Iris? Sekarang?"

Ah, iya. Juno memang berniat menyerahkan pesanan Iris lewat jendela kelas. Toh, Iris bukan peserta remed, 'kan? Bu Yanti seharusnya tidak akan protes. Namun, rencana tersebut Juno urungkan karena kehadiran kakak kelasnya ini. "Uhm, enggak. Istirahat kedua aja, deh."

"Iris yang minta dibeliin?"

"Iya."

Jawaban mantap Juno sukses memantikkan emosi tak kasat mata di setiap penjuru hati Gamma. Iris malah meminta Juno untuk membelikan susu stroberi, bukan meminta dirinya? Jadi ... Iris memang lebih mengandalkan Juno dibandingkan pacarnya sendiri? Gamma mengembuskan napas berat, berusaha mengontrol emosi. Mungkin karena kebetulan kelas Juno dan Iris sama-sama di lantai dua, biar Gamma tidak perlu repot-repot naik-turun tangga. Gamma mendengkus, masih ada yang mengusik pikirannya. "Tangan Iris diperban?"

"Iya. Lebih tepatnya, tangan, pinggang, dan lututnya yang diperban."

Gamma melotot. "Apa? Kenapa?"

Menghadapi rentetan pertanyaan Gamma malah membuat Juno keki setengah mati. "Aku bukan informan yang dibayar untuk buka mulut, terima kasih."

"Oi, jawaban kurang ajar macam apa, itu?" Gamma terkekeh sinis begitu mendapati adik kelasnya itu malah berbalik memunggungi, bersiap kembali ke kelasnya. Namun, Gamma lebih dulu mencengkeram bahu Juno kuat-kuat. "Aku cuma tanya. Kamu meledek aku sebagai pacarnya Iris?"

"Iya." Tanpa ragu sedikit pun, Juno kembali membalikkan badan untuk menghadap Gamma. Kepala Juno terangkat untuk membalas tatapan Gamma dengan netra hitam legamnya yang tajam, menguarkan aura ancaman. "Sejak awal, aku memang jauh lebih mengenal Iris, 'kan? Kenapa? Enggak terima?"

Refleks, Gamma menarik kerah Juno. Kesabarannya sudah benar-benar terkuras habis. "Sialan!"

"Apa? Mau melampiaskan amarah sekaligus merasa dipecundangi karena tidak tahu apa-apa, hm?"

"Tutup mulutmu!" Gamma meninju rahang Juno dengan telak. Lelaki itu tak peduli lagi dengan citranya yang turun dengan menyerang seorang adik kelas, lebih-lebih lagi di koridor kelas sepuluh. Beberapa siswa yang berlalu-lalang hanya bisa melirik takut, lalu berlalu cepat-cepat, tak mau berurusan dengan masalah orang lain, apalagi ini kakak kelas macam Gamma. "Jangan sembarangan."

Meski langkahnya terempas sedikit ke belakang, Juno kembali mengarahkan tatapan penuh intimidasi pada Gamma yang sudah tampak kalap. "Sembarangan apanya? Itu fakta. Iris nunggu kamu jemput pulang sampai hampir malam. Karena kamu enggak datang, Iris naik angkot, ada om-om cabul, dan Iris terpaksa loncat dari angkot yang lagi jalan, sampai akhirnya diperban kayak sekarang. Karena apa? Kamu. Kamu bahkan enggak tahu soal Iris dilabrak mantan sahabatmu itu, 'kan?"

"Selena?" gumam Gamma, pelan, tersentak begitu ditampar serentetan kenyataan dari Juno yang baru diketahuinya.

Bel berbunyi. Jam istirahat pertama sudah habis. Kemudian, Juno langsung kembali ke kelasnya, meninggalkan Gamma yang masih bergeming membisu.

•   🦁   🐧   🐻   •

Iris Jelek Kayak Penguin Penyek

Junooo! Susu stroberi Iris udah Juno beli?
Ini Iris udah istirahat, ke kelas Juno, jangan?

Juno mengangkat sebelah alisnya. Spontan, sudut mata Juno melirik bingkai pntu kelas, memastikan situasi.

Sini aja. Belum ada guru, kok.

Tak perlu menunggu waktu lama, gadis berkacamata bulat itu tahu-tahu sudah menyembulkan kepala di balik daun pintu. "Psst, Juno!"

Ow, cepat sekali. Diam-diam, Juno keluar kelas, menghampiri Iris. Syukurlah Alfa sedang tidak ada di sekitarnya, sehingga Juno tidak perlu kerepotan dua kali. Anak itu pasti masih di food court. Beberapa saat lalu juga sudah mengirimi pesan pada Juno, untuk memberitahunya kalau Bu Rika datang. "Nih."

"Asyik! Makasih, Juno!" Iris langsung menyambar susu kotak yang disodorkan Juno. Sebelum berbalik untuk kembali ke kelas, sudut mata Iris telanjur mendapati memar di rahang Juno lebih dahulu. Keningnya mengernyit dalam. "Juno habis pakai blush-on? Eh, kok, di rahang?"

Tanpa permisi, anak itu dengan santainya menepuk memar Juno. Juno sontak mendesis perih. Lelaki itu sigap menahan pergerakan tangan Iris yang penasarannya belum tertuntaskan. "Hei!"

"Juno berantem?" Kedua mata Iris membulat, menyedot Juno sepenuhnya ke dalam manik cokelat terang tersebut.

Lekas-lekas Juno mengalihkan tatapannya. Cukup. Jangan salah fokus, Juno. Huft. "Luka lecetnya Iris enggak apa-apa?"

Oke. Topik perbincangan berhasil dialihkan. Iris refleks menunduk untuk mengamati kedua telapak tangannya yang masih berbalut perban. "Entah. Enggak begitu sakit, sih, sekarang. Tapi kalau lutut ... buat naik-turun tangga masih susah. Apalagi waktu hari Jumat! Bunda sampai suruh Iris tidur di lantai bawah. Iris baru ke kamar atas lagi pas semalam aja, sekalian latihan buat naik-turun tangga ke kelas, 'kan ...."

Juno mengangguk-angguk paham. Bukannya kembali masuk kelas, meskipun belum ada guru, lelaki itu malah sibuk mengamati Iris yang sedang menyedot susu stroberi di tangannya. Juno menelan ludah susah payah. Apa coba aja, ya ....

Menyadari bahwa sosok di hadapannya terus memperhatikan, Iris langsung mendongak untuk menatap Juno. Kepalanya sedikit dimiringkan. Jangan lupakan kedua alis Iris yang terangkat, seolah bermaksud mempertanyakan maksud Juno, tanpa merasa perlu untuk berhenti meminum susu favoritnya.

"Ris, kamu cinta dirimu sendiri, enggak?"

Pertanyaan yang keluar dari mulut Juno malah membuat Iris tambah kebingungan. Kenapa topiknya jadi ke sana? Meski begitu, Iris rela merentangkan jarak antara sedotan dengan bibirnya untuk sejenak. Tanpa merasa perlu berpikir apalagi menuliskan perhitungan-perhitungan rumus, Iris langsung menjawabnya dengan mantap. "Iya, dong!"

"Aku ... juga." Semesta Juno seolah dihentikan tangan jahil tak kasat mata. Sesaat, jantung Juno berhenti berdetak, lantas kembali berdegup dengan menggila. Keringat dingin bercucuran deras di pelipis. Juno panik. Ini ... tidak apa-apa, 'kan?

Namun, timpalan Iris sungguh di luar ekspektasi lelaki itu. Iris memandangi Juno dengan binar yang biasa hidup di kedua bola matanya. "Aaah, bagus! Self-love itu emang penting."

Self-love? Hei ... maksud Juno bukan itu!

Tanpa beban sama sekali, Iris justru melambaikan tangan begitu mendapati Bu Rika sudah muncul dari tangga. Iris pergi, dan Juno harus kembali masuk ke dalam kelas. Oh, jangan lupa juga untuk mengabari Alfa.

Juno balik badan. Kalau tidak ingat ada Bu Rika yang hendak masuk kelas di belakang, rasanya Juno ingin menghantamkan kepalanya pada daun pintu saja.

Apa-apaan coba, reaksi anak itu? Padahal Juno sudah memberanikan diri! Kepada Terdakwa, Saudari Iris Larasati, Anda tidak bisa menghargai usaha dari Saudara Juno Kenandra yang sudah menyusun kata-kata itu semalaman penuh, ya? Dasar, Penguin Penyek!

Kalau ini akun berbagi konspirasi, ada suatu misteri yang selalu Juno pertanyakan selama ini. Anak itu punya barikade sekuat apa, sih? Heran. Selalu saja berhasil memblokade kode dari Juno.

Sehabis ini, sepertinya Juno harus join populasi LPM, tetapi bukan Lembaga Pers Mahasiwa, melainkan Lembaga Pasrah dan Menyerah. Entah sampai kapan semuanya akan terasa anu begini.

•   🦁   🐧   🐻   •

Ini salah satu part fav-ku juga, xixi. Aku lupa deh. Waktu selasa sempet apdet, 'kan?😭

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top