Chapter 5 || Ide Gila

Di dalam mobil yang dikemudikan oleh ibunya, Rossa duduk tenang memandangi jalanan kota. Orang-orang terlihat bersiap memulai hari mereka masing-masing. Begitu juga dengan dirinya yang sedang bersiap menyambut minggu kedua bersekolah di salah satu SMA elit di Bali.

"Bagaimana sekolahmu, Sa?"

"Baik, Ma."

Sita mengusap puncak kepala anaknya itu. "Semoga di sekolah ini gak ada hal buruk lagi ya sayang."

Rossa mengangguk. Dia tahu, ibunya pasti menjadi orang yang paling sedih di dunia ini saat mengetahui dirinya menerima perlakuan buruk dari orang lain. Dia bahkan masih ingat raut sedih itu. Guratan emosi yang membuncah dan memerah padamkan wajah ibunya. Air mata yang berlinang sebab emosi dan lelah yang meluruh jadi satu. Semua itu tidak akan Rossa lupakan. Itu juga lah yang mendorong Rossa untuk memperbaiki diri menjadi lebih normal. Bahkan Rossa rela mengkonsumsi obat penenang dari psikiaternya. Padahal sejak kecil Rossa tidak suka minum obat-obatan.

Semua dia lakukan demi melihat wajah bahagia ibunya, bukan lagi wajah khawatir. Ibunya sudah banyak berkorban, bahkan merelakan posisi yang lebih tinggi di perusahaannya demi kembali ke Bali untuk memulai hidup baru.

"Ma, Rossa satu kelas lagi sama Safira."

"Safira? Safira teman SMP mu dulu? Yang pindah sekolah ke jakarta pas kelas 8?

"Iya." Rossa tersenyum.

"Kok baru cerita? Kapan-kapan ajak dia main ke rumah."

"Iya, Ma." Rossa tersenyum.

Sesampainya di depan gerbang sekolah, Rossa menyempatkan diri memeluk dan mencium tangan ibunya lalu berpamitan. Rossa sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun. Karena dia tahu, hidup sebagai orang tua tunggal pastilah tidak mudah. Ibunya harus merawat sekaligus menafkahinya. Ayah Rossa telah meninggal sejak Rossa berusia 10 tahun. Sejak saat itulah ibunya memulai hidup menjadi wanita karir. Untunglah ada perusahaan besar dan stabil yang mau mempekerjakan ibunya.

Rossa berjalan memasuki gerbang sekolah. Ada banyak siswa dan siswi yang berjalan bersamanya. Beberapa terlihat bahagia, tersenyum dan tertawa. Meskipun ada juga yang tampak murung dan biasa saja. Rossa terkejut karena tiba-tiba tiga orang siswa menghampiri dan menghalangi jalannya.

"Oh jadi ini siswa baru di kelas Sasha," ucap siswa yang tertera nama Alexio Pradipta di seragamnya.

Rossa menunduk takut dan berusaha menghindari. Namun Alex dan dua temannya terus mengikuti dan menggodanya. Rossa merasa sangat tidak nyaman. Apa lagi saat Alex mulai memegang lengannya agar Rossa berhenti melangkah.

"Hei. Lo kenapa?"

Rossa berusaha membebaskan tangannya.

"Gue pikir lo setipe sama Safira karena duduk sebangku. Ternyata sikap lo lebih manis dari yang gue kira. Iya gak guys?" goda Alex lagi. Kedua temannya ikut tertawa bersama Alex.

Rossa masih berusaha melepaskan lengannya dari pegangan Alex. Namun, tetap tak bisa. Hingga akhirnya Gafi datang dan menepis lengan Alex lalu menariknya pergi.

"Yuhuuu pahlawan kita telah datang. Hahaha." Alex menyoraki.

Rossa tak berani menoleh. Dia bernapas lega, namun dua detik kemudian sadar bahwa kini Gafi lah yang memegangi lengannya.

"Oh, maaf," ucap Gafi setelah melepaskan lengannya.

Rossa menunduk malu dan memegangi tali tas di kedua sisi tubuhnya. Jantungnya serasa berdetak lebih cepat dari biasanya. "Ma-makasih ya. Lo udah nolong gue lagi."

"Lagi?" tanya Gafi.

"Iya. Di kantin, perpus dan barusan."

Gafi menatap Rossa dengan bibir yang sudutnya tertarik. "Gue senang bisa nolongin lo."

Gafi mengantarkan Rossa sampai di depan kelasnya. "Oh iya, bagaimana dengan ajakan gue ke perpus? Udah lo putusin?"

Rossa ingin sekali menjawab sudah dan berkata mau pergi bersamanya. Namun, entah mengapa lidahnya terasa berat mengucapkan kalimat itu. Seperti ada suatu hal yang menghalanginya.

"Gafi?" Tika baru saja datang yang menyapa Gafi yang berhenti di depan kelasnya. "Ada Rossa juga? Kalian ngobrolin apa?"

Rossa kini tahu apa yang menghalangi dirinya. Apa yang mengganjal hatinya dan apa yang mencegah mulutnya berkata iya. Semua itu karena Tika.

"Bukan apa-apa." Gafi pergi begitu saja. Rossa sampai terheran sendiri dengan sikap dingin Gafi terhadap Tika. Bukankah mereka bertunangan? Tapi kenapa sikapnya seperti itu?

Wajah Tika terlihat sedih, namun berusaha tersenyum ketika berbicara dengan Rossa. "Lo baru datang juga?"

"Iya."

"Tadi ngobrol apa sama Gafi."

"Hm ... Gak ada." Rossa terpaksa berbohong. "Dia gak sempat ngomong apa-apa." Kebohongan kedua. Rossa lebih gugup saat berbohong dibandingkan saat bersama Gafi tadi.

"Oh gitu. Yaudah yuk masuk," ajak Tika.

    ***

Rossa menyantap makan siangnya bersama Safira. Lagi-lagi, tidak ada interaksi di antara mereka. Safira pernah bilang bahwa dia tidak suka berbicara apa lagi bergosip saat makan. Selain membuang-buang waktu.  Nafsu makannya bisa hilang tiba-tiba. Oleh karena itu, jika bukan hal penting, lebih baik tidak usah diucapkan selagi makan bersama Safira.

"Saf," panggil Rossa hati-hati.

"Hm."

"Nyokap gue nyuruh gue ajak lo main-main ke rumah."

"Oke."

"Lo ada waktu kapan?"

"Kapanpun. Available tiap saat."

Tiba-tiba seorang siswi menghampiri mereka. "Gu-gue boleh gabung makan di sini gak?"

Rossa melihat gadis yang berdiri di sampingnya itu sambil tersenyum lalu mempersilahkan dengan ramah. "Boleh."

"Makasih," ucapnya sambil meletakkan piring di atas meja. Menarik kursi lalu duduk tetap di samping Rossa.

"Nama gue Andin."

Rossa menerima jabatan tangan Andin. "Rossa," balasnya lalu menatap Andin dan Safira bergantian. Safira masih makan dengan tenang. Sedangkan Andin terlihat bahagia. "Kalian udah saling kenal?" tanya Rossa.

Andin mengangguk. "Hm. Iya."

"Oh ... begitu. Lo kelas mana?"

"XI IPA 1."

"Oh, anak IPA. Kok bisa kenal Safira. Kenal di mana?"

"Di gang," jawab Safira lebih dulu.

Rossa mengerjapkan matanya dan terkekeh. "Di gang?"

Andin meneguk minumnya terlebih dahulu. "Safira nolongin gue pas diganggu sama anak sekolah lain," jelas Andin.

"Lo diganggu di gang, terus Safira nolongin lo, gitu?"

"Iya." Andin tersenyum lalu menjelaskan detail kejadiannya kepada Rossa.

Rossa juga ikut tersenyum. Walau terlihat acuh dan tidak peduli lingkungan sekitar. Ternyata Safira masih memiliki sisi baik. Dia tidak akan tinggal diam jika seseorang mengusik ketenangannya. Terkadang sikapnya yang unpredictable itulah yang secara tidak langsung menyelamatkan orang lain. Itulah yang terjadi pada Rossa dulu, dan sekarang terjadi pada Andin.

"Padahal gue gak niat nolongin. Mereka aja yang halangin jalan gue. Kayak tikus. Gue benci tikus!"

Rossa dan Andin tertawa melihat ekspresi menggemaskan Safira saat berucap benci tikus.

BRUKK!!

Rossa langsung menoleh ke arah suara. Ternyata seorang siswa berkacamata, baru saja terjatuh dan piring makanannya terbalik. Anehnya orang-orang ramai menertawakannya.

"Deron ... Deron. Mata lo udah empat tapi masih aja jatuh. Wkwk." Seorang siswa yang duduk di meja tepat di samping siswa yang jatuh.

"Lo yang buat gue jatuh," ucap siswa bernama Deron tersebut.

"Oh. Gue yang buat lo jatuh. Oke gue minta maaf," ucap siswa tersebut lalu tertawa.

Rossa memperhatikan tanpa tersenyum apa lagi tertawa sedikit pun. Baginya hal tersebut tidak lucu. Siswa itu menepuk-nepuk pundak Deron yang masih sibuk membersihkan lantai. Siswa tersebut berbalik dan saat itulah Rossa mengenalinya. Dia adalah Alex. Siswa yang mengganggunya tadi pagi.

Rossa tiba-tiba merasa tidak nyaman. Pikirannya kembali teringat kejadian buruk di masa lalu. Diganggu saat makan, diusili saat jam olahraga dan dipermalukan di depan umum. Melihat perundungan membuat dirinya teringat perasaan saat menjadi korban. Kepala Rossa pusing tiba-tiba. Napasnya juga terengah-engah.

"Kasian Deron, dia sering banget dijailin sama Alex." tutur Andin.

Mendengan perkataan Andin, Rossa semakin pusing. Kini dia memegangi sebelah kepalanya. Pandangannya mulai berbayang.

"Rossa, lo gakpapa?" tanya Andin.

Safira menghentakkan sendoknya kencang di atas meja. "Aissh! Gue paling gak suka ada yang berisik saat gue makan."

"Ma-maaf," Andin berucap dengan gugup.

"Bukan kalian." Safira membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang sudah mengusik jam makan siangnya. "Ehm. Jadi dia orangnya. Good." Safira tersenyum sambil memikirkan sesuatu. "Sebuah ide baru terlintas dipikiran gue."

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top