Curious [ 1 ]

Bad Guy
================
Warning :
1 . No Children area !

2 . Typo bertebaran

3 . Yaoi pairing , so buat yang gak
Suka hubungan sesama jenis harap tidak membaca

Easy right ?

Happy Reading !!

=

============---------------===========


“Baiklah,pelajaran kita mulai dengan perkalian sigma phytagoras bervariabel”

Mendengar kata belajar membuat kepala itu diambang kalimat meledak atau mungkin telah hancur berkeping-keping.

Kedua alisnya beradu temu dan bertautan sangat erat hingga menimbulkan banyak kerutan pada dahinya.

Ia memutar bolpoin ditangannya dengan helaan nafas yang terlihat letih karena diruntuk rasa bosan.

Kedua mata nya nampak sayu bahkan tergurat lesu untuk sekedar memandang papan tulis kapur yang terpajang didepan kelas.Duduk paling belakang dan ditambah dengan ketidak mauan dirinya untuk belajar sudah menjadi perpaduan yang pas untuk menarik kesimpulan betapa bodohnya ia.

Dia berdoa,meronta kepada Tuhan bahkan dewa-dewa yang ia yakini dihidupnya untuk melenyapkan pelajaran yang begitu ia benci dari setiap mata pelajaran yang ada.

Matematika..

Mengapa pelajaran itu harus tercipta?
Siapapun yang menciptakan pelajaran itu?

ia sangat ingin menemui orang tersebut dan memberi sebuah penghargaan sebagai manusia yang berperan penting didalam kehidupannya,bukan peran yang menyangkut hal baik namun lebih pas dikategorikan sebagai peran buruk berupa siksaan yang teramat kejam bagi otaknya yang lamban dan payah saat ingin mengerti dengan baik perhitungan ilmu pasti tersebut.

Ia merutuk kesal dan membuang wajahnya kesamping kanan,kedua bola matanya bahkan memutar malas.

Ia lebih memilih menilik kearah luar jendela dengan raut wajah yang ditekuk murung.

“Murid yang dibelakang,kau dengar aku?”

Tegur guru Lee menunjukkan tampang tidak sukanya dan sedikit menaikan kacamata tebalnya yang melorot kebawah.

Rupanya ia sedang memantau seorang siswa yang menurutnya salah satu anak pembangkang dikelas,sampai-sampai guru berperawakan sadis itu menjedakan sebentar kegiatan mengajarnya yang tengah berlangsung.

Tatapan mata sengit bagai seekor burung elang bercakar tajam yang seolah ingin memangsa membuat siapapun beringgut takut akan guru yang terkenal killer satu sekolahan itu dan tak mengenal istilah ampun.

“Wonho sedang menghayal menjadi seorang jutawan ssaem !”

Celetuk anak murid pria yang berambut cokelat tua,tersenyum sumringah menunjukkan potret wajah jahilnya dan menahan tawa saat melihat lemparan tajam mata Wonho yang tertuju kepadanya.

“Diam Minhyuk-ssi ! Nilaimu mau ku kurangi juga ?!”

Bentak Guru pria paruh baya itu lalu membanting penggaris kayu panjang hingga semua murid terdiam dan semakin takut termasuk Minhyuk yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat lalu berpura-pura membaca buku pelajarannya tanpa menegok ke kanan maupun ke kiri.

“Maafkan aku Lee ssaem..”

Sesal Wonho berdiri lalu membungkukkan tubuhnya hormat,ia menggaruk tengkuk belakangnya dengan menahan malu yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Baiklah Wonho-ssi  , beri aku penjabaran secara harfiah dari perkalian pytaghoras bervariabel dua . Hanya secara teori tanpa kau jelaskan kedepan”

Ucap Lee Ssaem menyunggingkan senyum segaris yang sarat akan makna horror bagi Wonho.

Seketika tubuh Wonho mendadak lemas dan lidahnya seolah kaku hingga tak bisa berkata sepatah kalimatpun.

“aa.. aa..kk.. aku..”

Jawab Wonho terbata-bata berupaya menganggapi pertanyaan yang berisikan deretan kartu kematian bagi dirinya.

Semua siswa pun memasang wajah tegang namun tidak dengan satu anak laki-laki yang terlihat tenang.

Ia duduk dibarisan dua paling depan,sibuk dengan buku tebal yang dipenuhi akan banyaknya sederetan rumus dari goresan tinta hitam penanya.

Ia terlihat tidak terlalu memusingkan mengenai apa yang sedang terjadi dan malah asyik dengan dunianya sendiri.

Sesekali menatap barisan angka yang tertulis rapi dipapan berwarna hitam yang dihiasi oleh tulisan dari kapur putih yang meninggalkan sederik debu pada ujung-ujung angka dan huruf.

“Kalian semua benar-benar .. “

Segak Guru Lee sembari melotot kesepenjuru ruangan dan tak luput membidik diri Wonho yang tengah menciut dipojok kelas.

“Chae Hyungwon.. Bisa kau jelaskan penjabaran secara harfiah mengenai perkalian phytagoras bervariabel dua?”

Tanya lee ssaem melempar pertanyaan kepada seorang siswa yang berpostur tinggi dengan kaki panjang yang tergelar jenjang,ialah murid yang sedari tadi tak memperdulikan keadaan sekitar dan sibuk berkutat akan rumus diatas lembaran-lembaran buku tebalnya.

“Penjabaran phytagoras secara harfiah dapat diterangkan dengan variabe x berpangkat dua dikali dengan variabel y berpangkat sama akan menemukan hasil dari pertanyaan perkalian sigma phytagoras bervariabel dua angka,semua pangkat harus berjumlah sama agar dapat menghasilkan jawaban dari soal yang dibahas”

Jelas siswa berwajah tampan itu panjang dan lebar hingga membuat seisi kelas menunjukkan ekspresi melongo dengan mulut yang menganga lebar seakan takjub.

Termasuk Wonho yang nampak dihentak rasa tak percaya dan tak sedetikpun mengusir bayangan akan sosok Hyungwon dikedua pelupuk matanya.

Guru Lee mengembangkan senyuman rasa bangganya dan menghampiri Hyungwon yang duduk diam dikursinya,menepuk pelan pundak Hyungwon dan menyisipkan acungan ibu jari gempalnya kearah Hyungwon sebagai sebuah bukti jika ia sangat puas akan jawaban yang Hyungwon jabarkan.

“Besok sekolah diliburkan selama satu hari dan lusanya sudah masuk kembali , jangan lupa untuk mempersiapkan diri menghadapi tes harian yang akan Bapak adakan . Mengerti ?”

Jelas Lee ssaem berjalan menghampiri meja guru yang terletak dididepan kelas,semua murid nampak antusias dengan kalimat liburan namun seketika menghela nafas berat secara serempak saat kata ulangan terlontrkan pada waktu yang bersamaan.

Minhyuk melempar sebuah gumpalan kertas kearah belakang tubuh Hyungwon yang terlihat kembali bergelut dengan buku-buka pelajaran yang berserakan diatas meja belajarnya.

Hyungwon menoleh kebelakang saat buntalan kertas itu mengenai punggungnya keras dan mendapati wajah Minhyuk yang tersenyum ceria nan lebar kearahnya.Minhyuk melambaikan tangannya hendak mengatakan sesuatu.

“Hyungwon-ah.. Nanti kita pergi ke perpustakaan bersama,kau mau kan ??”

Bisik Minhyuk dengan volume suara merendah,Hyungwon mendelik cuek dan tidak menanggapi ajakan dari seorang Minhyuk.

Wonho mendecih pelan melihat reaksi Hyungwon yang memasang wajah datar tanpa ekspresi ketika merespon bagaimana semangatnya Minhyuk mengajak diri itu pergi ke ruang perpustakaan bersama.

Wonho melirik jam di dinding yang telah menunjukkan pukul dua siang  tepat,ia mulai menghitung mundur dengan semangat yang bergelora didalam hati kecilnya.

“Hana.. dul.. set.. Yass!!”

KRING !!!

Pekik Wonho riang didalam hatinya ketika mendengar bunyi bel berdering pertanda jam pelajaran telah habis.

Sejujurnya setelah pulang dari sekolah ia tidak langsung menuju kerumah,Wonho selalu menghabiskan waktu diluar karena ia merasa terlalu asing meskipun rumah itu notabennya disimpulkan sebagai sebuah tempat tinggal.

Siswa sudah mulai berhamburan keluar kelas,hanya menyisakan segelintir sisa siswa lainnya yang masih berada dikelas.

“Hyungwon-ah..”

Usik Minhyuk menyenggol keras bahu Hyungwon membuat pria itu mendelik gusar.
Hyungwon menutup buku tebal berisikan jutaan macam rumus yang mengerikan bagi Minhyuk dan juga siswa lainnya termasuk Wonho yang sangat benci dengan hal berbau matematika maupun sejenisnya.

“Bisa tidak kau jangan mengangguku? Jangan bertingkah akrab meskipun kita teman sekelas,ara?”

Cecar Hyungwon menunjukkan wajah terganggunya yang tetap saja terlihat tampan dan tak mengurangi pesona keindahan yang tergambar digaris mukanya yang kecil.

Minhyuk menundukkan kepalanya murung saat mendengar kalimat Hyungwon yang begitu dingin.Bahkan beberapa siswa yang masih menetap dikelas nampak sungkan untuk bergaul dengan Hyungwon karena sifat tertutup dari pria itu.

“Minhyuk-ah.. ayo kita kekantin..”

Ajak Kihyun membuyarkan rasa sedih Minhyuk,sementara Shownu yang berdiri disamping Kihyun turut tersenyum ramah bermaksud agar Minhyuk sudi bergabung bersama mereka.

“baiklah..”

Ucap Minhyuk kemudian mengiyakan ajakan Kihyun,mereka meninggalkan Hyungwon yang masih diam ditempat duduknya tanpa berkusit sedikitpun.

Namun Hyungwon tak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang tengah memperhatikan dirinya dari arah belakang.

“Apa seorang anak pintar tak berniat berteman ?”

Ucap seseorang yang terlihat muak akan sifat Hyungwon,tak lain dia adalah Wonho yang mendecih pertanda kesal karena kesombongan yang Hyungwon tunjukkan.

Hyungwon tak menoleh sedikitpun meski ia mengetahui pasti jika sindirian itu ditujukan untuk dirinya.

“Padahal tadinya aku ingin belajar beberapa rumus yang tidak aku ketahui kepadamu,tetapi aku urungkan niatku”

Celetuk Wonho lagi lalu menaikkan kedua kakinya seronoh keatas meja dan menopang lehernya dengan kedua tangan kebelakang.

Hyungwon tersenyum tipis dan mendesis pelan seolah mengejek diri Wonho yang ia pikir sangatlah bodoh bagi dirinya.

“Belajar ataupun tidaknya dirimu,itu bukan urusan yang harus aku pusingkan”

Jawab Hyungwon merespon cibiran Wonho tanpa menoleh sedikitpun,Pria berwajah anak nakal yang selalu cari ulah itu tertawa hampa dengan isyarat jika ia sedang kesal ketika mendengar penuturan kasar yang Hyungwon luncurkan untuk dirinya.

“Yak.. Kau ..”

Wonho berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekat kearah Hyungwon dengan ekspresi wajah tidak terima.
Wonho merebut buku tebal yang sedari tadi Hyungwon baca dan melemparkan buku yang tak bersalah itu kelantai hingga menimbulkan bunyi barang jatuh yang terbanting hingga menimbulkan suara keras.

“Mwo haneun geoya jigeum???”

Bentak Hyungwon yang juga tidak terima lalu memungut cepat-cepat buku miliknya dan menatap tajam mata Wonho yang juga melakukan hal yang serupa.

“Apa kau pikir didunia ini hanya butuh orang yang cerdas ? Apa kau pikir teman adalah sesuatu yang tidak penting??”

Tanya Wonho bertubi-tubi dan balasan yang ia terima hanyalah diam dari diri Hyungwon.

Hyungwon memasukkan buku yang dijatuhkan Wonho tadi kedalam tas ranselnya beserta bolpoin yang ia pakai juga tak luput dari perhatiannya.

Tak habis pikir,Wonho merasa naik pitam ketika diacuhkan dan diperlakukan bagai seekor binatang jalanan yang tak digubris.

Ia mencengkram lengan Hyungwon kuat hingga menimbulkan ringisan suara sakit dari bibir tebal pria berparas elok dan deretan rapi bulu mata lentik yang menghiasi kelopak mata bulat nan indah itu.

DEG..

Wonho terdiam untuk beberapa saat seakan dunia tengah memberikan sebuah penampakan paling mengesankan yang tak pernah ia lihat semenjak ia dilahirkan dimuka bumi.

Manis..

Wonho menyimpulkan sebuah kata manis yang tak berlebihan namun berhasil menggetarkan hatinya dalam rasa gugup.

Akal pikiran jernihnya hilang ketika menangkap potret wajah Hyungwon yang sangatlah cantik untuk ukuran seorang pria,ditambah kacamata bergagang plastik tipis berframe persegi panjang nampak apik bertengger diatas tulang hidung mancung Hyungwon,ia bahkan terhenyak ketika mengalihkan pandangan matanya lalu terpusat tepat pada bibir merah ranum nan tebal milik Hyungwon yang merekah sempurna.

Sempat-sempatnya serigala berperawakan berandalan itu meneguk salivanya bulat-bulat seolah menemukan sebuah makanan untuk disantap disaat perut sudah lapar dan keroncongan.

"Tsk..!"

Hyungwon menghempaskan cengkraman tangan Wonho hingga pria itu tersadar dari lamunan konyolnya.

“Didunia ini aku tidak membutuhkan teman yang hanya berlaku sebagai parasit,Aku bisa hidup diatas kakiku sendiri tanpa bantuan siapapun.
Aku pun tidak ingin berurusan dengan anak bodoh seperti dirimu dan...berhenti menatap wajahku”

Peringat Hyungwon telak dan sukses membuat Wonho seakan terlempar kedalam jurang mematikan yang penuh dengan ribuan kalajengking berbisa dan siap membunuhnya dalam keadaan hidup-hidup.

DAMN !

Wonho menggelakkan tawa hambarnya,jujur ia tersulut emosi akan kasarnya perkataan Hyungwon namun sebisa mungkin ia meredam amarah yang memuncak.

“Apa kau bilang ? Bb.. bodoh ??”

Pekik Wonho melontarkan pertanyaan keberatan kepada Hyungwon yang memandang rendah dirinya.
Hyungwon membenarkan kacamatanya barang sebentar dan berjalan melewati Wonho sembari memakai tas ransel dibelakang punggungnya.

“Apa aku kurang memperjelasnya? Iya bodoh..”

Ucap Hyungwon mengulang untuk kedua kalinya mengenai kalimat yang Wonho pertanyakan.
Ia berjalan meninggalkan Wonho yang diselubungi oleh amarah.

Telapak tangan Wonho menggepal keras sebagai bukti jika ia benar-bebar dirundung rasa emosi.

Sementara Hyungwon,ia berjalan santai sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku keluar kelas dan mengabaikan Wonho yang melemparkan tatapan mematikan yang seolah ingin menerkam dan menghabisi dirinya.

***

“Yak!! Yak !! Aishh.. apa benda ini rusak ?!!”

Rutuk seseorang yang tengah duduk bersila diatas sofa dan membanting kesal stik game yang ia pegang.

Mulutnya sedang asyik mengulum satu batang permen lollipop dan kedua matanya tak lepas dari layar televisi datar yang berada tidak jauh dari hadapannya.

“kau yang payah , jangan salahkan benda mati".

Celetuk seseorang yang duduk tepat disampingnya sembari tertawa pelan.

“aish..”

Wonho menghempas tubuhnya kedinding sofa,untung saja empuknya sofa itu bisa menahan tulang punggungnya jika tidak sudah dipastikan jika tulang-tulang belakangnya akan retak karena hempasan yang ia lakukan begitu semene-mena meskipun menyakiti dirinya sendiri.

“Donghyun hyung..”

Ucap Wonho kemudian,memandang wajah seorang pria tampan yang lebih tua darinya itu dengan wajah kesal dan sedih.

Donghyun adalah kakak sedarah dari ayah dengan Wonho namun berbeda ibu,Mereka tinggal berdua tanpa pengawasan kedua orang tua dikarenakan Ayah dan ibu mereka lebih memilih menetap di China untuk urusan pekerjaan.

Donghyun masih berstatus mahasiswa jurusan fisika di unversitas negeri Seoul,bisa dibilang Donghyun adalah seorang pria yang cerdas dan IQ nya yang diatas rata-rata sangat memungkinkan jika ia dikategorikan sebagai mahasiswa berprestasi di Universitas negeri Seoul.

Tidak seperti Wonho yang berbanding terbalik dengan Donghyun.Pria bertampang nakal dengan kemampuan otak berIQ jongkok yang selalu mendapat hukuman dari guru disekolah karena ulah berandalannya.

“Ada apa denganmu hari ini ?”

Tanya Donghyun kemudian meletakkan stik game itu diatas meja dan melempar pandangan kearah Wonho seolah penasaran.

Wonho mengacak rambutnya frustasi dan entah mengapa sekelebat bayangan akan wajah pria yang telah membuatnya kesal tadi siang masih saja nyaman bersemayam di lingkup otaknya.

KRAK!

Bunyi permen yang hancur didalam mulut akibat gigitan sekali hentak yang Wonho perbuat membuat wajah Donghyun semakin mengiaskan rasa penasaran.

Kedua mata Wonho seolah menyilapkan emosi yang menggebu-gebu dan mengabaikan wajah Donghyun yang sudah mati akan rasa keingin tahuan.

“Hei bodoh.. “

Tegur Donghyun sekenanya yang membuat Wonho mendelik kesal.
Wonho berdiri memasang wajah tidak terima karena telah di panggil bodoh oleh Donghyun tetapi bukan itu sebenarnya,kalimat bodoh yang ia dengar tadi siang lebih menyakitkan ditambah sebuah senyuman merendahkan sudah cukup mengakibatkan kekesalan dihatinya.

“Aku tidak bodoh hyung !”

Tegas Wonho lalu membuang tongkat batang permen yang sudah habis kesembarang tempat.

Donghyun menyimpulkan sebuah tawa renyah dan tak tega untuk memberikan hinaan lagi mengingat sensitivenya hati Wonho dikala gusar.

DRRT.. DRRT..

Sebuah panggilan masuk membuyarkan sungutnya hati Wonho,ia bahkan mengabaikan Donghyun yang duduk sembari menampilkan wajah datar karena Wonho tak kunjung menjawab rasa penasaran yang Donghyun tanyakan.

Wonho merogoh ponsel disaku celana depan jeans hitamnya dan mengangkat sebuah panggilan masuk yang mengacaukan amarahnya.

Kedua mata Wonho menyipit dengan alis yang beradu heran hingga menimbulkan kerutan-kerutan pada dahinya,sering kali ia melakukan itu dikala rasa heran mendatangi dirinya dan itu sangat menggemaskan.

(Gue yang gemes sih sebenernya xD)

“Minhyuk?”

Gumamnya pelan lalu menempel ponsel itu pada telinga kanannya.

“Wonho-ya!!”

Pekik suara serak yang nyaring terdengar dari pengeras suara ponsel Wonho,ia sempat menutup sebelah matanya karena tak kuat mendengar lengkingan suara Minhyuk yang akan menghancurkan gendang telinganya yang semula baik-baik saja.

“Kau dimana ?? Sepertinya ramai sekali..”

Jawab Wonho disambungan telepon,memang benar jika Wonho mendapati suara bising saat menanggapi panggilan masuk Minhyuk.

“Aku sedang berada di Manhwa Diskotik ! Kau bisa bantu aku tidak ??”

Sahut Minhyuk nampak bersuara gelagap hingga menimbulkan sedikit kecemasan dihati Wonho.Mengingat Minhyuk adalah teman baiknya disekolah maka tak menampik jika rasa peduli menyelimuti hati Wonho karena bagaimanapun pria petakilan itu adalah teman dekatnya.

“Ada apa denganmu??”

Simbat Wonho merespon kalimat pertolongan Minhyuk,ia bisa mendengar jika nafas Minhyuk seolah memburu tak berujung.

“cepat kau kesini !! Palliwa !!"

Perintah Minhyuk yang juga tak sabaran,Donghyun menyaksikan dengan diam percakapan yang Wonho bicarakan dari balik sambungan telepon tanpa niat untuk menyela.

“Baiklah,aku akan kesana!”

Potong Wonho laku mematikan secara sepihak panggilan yang Minhyuk tujukan,ia segera meraih jacket berbahan semi kulit diatas sofa dan tak lupa meraih helm hitamnya yang terletak disamping rak sepatu yang nampak berantakan.

“Hei ! Kau kemana??”

Pekik Donghyun berdiri dari duduknya saat melihat aksi Wonho yang  terburu-buru seperti sedang dikejar sesosok arwah jahat yang bergentayangan.

“Aku ada urusan sebentar hyung! Jangan tunggu aku pulang!!”

Sahut Wonho setengah berlari lalu berjalan keluar pintu apartement tanpa mengindahkan diri Donghyun yang menatap kepergiannya.

Cemas sudah pasti tetapi Donghyun tak ambil pusing karena ia menyadari jika Wonho sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.
Terlebih lagi Wonho lebih pandai dalam urusan bela diri dan memegang sabuk hitam pada kelas karate empat tahun yang lalu saat mereka masih menetap di China jadi Donghyun bisa bersikap santai dan melanjutkan permainan playstation yang sempat tertunda.

**

Lampu disko berkerlap-kerlip samar menyoroti lantai dansa yang menjadi setapak alas perpijakan menggoyangkan tubuh dengan leluasa bebas untuk melampiaskan banyak jiwa yang haus akan kenikmatan malam di dunia yang fana.

Dentuman musik bertaut kencang dengan tempo yang cepat semakin menambah riuh gemerlapnya dunia yang terhipnotis akan banyak kesenangan yang ternaung dalam limbah penuh dosa.

Kedua mata itu nampak menyipit seolah mencari sebuah objek yang tak kunjung ia temukan.

Ia berjalan sangat hati-hati agar tak bersenggolan secara fisik tetapi tetap saja tidak luput menghindarkan tubuhnya dari tabrakan beberapa orang yang terlihat menari-nari bebas bagai hilang kesadaran akibat dari pengaruh minuman keras.

“Wonho-ya!!”

Panggil seseorang yang duduk didepan counter bar sembari melambaikan secangkir kecil vodka merah maroon pekat yang ia pegang dengan senyuman khas yang mengembang pada kedua sudut bibirnya.

“Yak kau !!”

Wonho berjalan cepat untuk menghampiri sosok itu yang terlihat baik-baik saja tanpa kekurangan apapun.

“Kalau tidak begini mana mungkin kau mau..”

Kekeh Minhyuk lalu meminum seteguk vodka beralkohol sedang itu dan sesekali memejamkan matanya karena tak tahan akan sensasi kuat yang menyerang dikala ia meneguknya.

"Cih.."

Wonho mengambil tempat dan duduk disamping Minhyuk,ia memesan segelas limun dan kembali melempar pandangan tak suka kearah Minhyuk yang menunjukkan sebuah tampang tak berdosa bagai lupa akan kebohongan yang ia perbuat pada Wonho dan mengelabui pria itu untuk datang menemuinya.

“Sudahlah.. Jangan marah”

Sela Minhyuk seolah mengetahui ekspresi yang Wonho pantulkan kepadanya.

Bartender menaruh segelas limun jeruk didepan Wonho dan pria itu meminumnya perlahan lalu diam memandang kedepan dengan tatapan datarnya.

“Kau suka menari?”

Tanya Minhyuk memecah keheningan yang Wonho hulurkan dan otomatis wajah Wonho mendelik keheranan akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Minhyuk.

“Jika kau mabuk , siapa yang akan mengantarmu pulang??”

Cecar Wonho tak menanggapi pertanyaan pria manis itu melainkan menjitak dahi mulus Minhyuk dengan satu kali ttakbam hingga menimbulkan ringisan sakit dari suara serak itu .

“Hei man.. Menghabiskan gudang besar yang dipenuhi  ratusan botol wine pun aku sanggup , Mabuk .. adalah hal yang konyol untuk seorang pria dewasa seperti aku!”

Ucap Minhyuk membusungkan dadanya dengan ekspresi wajah angkuh yang semakin membuat Wonho tersenyum meremehkan dirinya.

Wonho tidak menyauti kalimat sombong yang Minhyuk luncurkan,ia meraih kembali segelas limun yang telah setengah kosong dan meminumnya dengan tegukan yang tak berjeda.

Minhyuk tertawa renyah memandang lekat kearah Wonho,disaat mabuk seperti ini ia bahkan tak menampik jika pria itu sangatlah tampan dan mempesona.

“Kau tidak minum?”

Tanya Minhyuk menyenggol lengan Wonho pelan dengan cangkir kecil Wine yang sudah kosong,Wonho menggeleng pertanda ia menolak dan tak berniat untuk pulang dalam keadaan mabuk seperti yang sering ia lakukan tempo dulu.

“Jika aku mabuk , bagaimana bisa aku mengantarmu pulang nanti..”

Jawab Wonho berwajah datar tanpa ekspresi dan tampak terhanyut kedepan akan silaunya lampu disko yang tergantung di pusat ruangan disko yang diringi suara dentuman bass pengeras suara sembari berputar dalam tempo sedang hingga menguarkan kerlipan cahaya warna-warni yang samar.

“Ahh Wonho-ya.. Manis sekali..”

Minhyuk semakin tak sadar,ia tertawa pelan dan untuk kesekian kalinya meneguk habis secangkir vodka dengan satu kali tegukan habis sampai tak meninggalkan satu tetes pun.

“Tsk.. Kau benar-benar sudah gila.. Minhyuk-ah.. Aku ke toilet sebentar..”

Ucap Wonho menepuk-nepuk pipi kanan Minhyuk,kepala pria berambut hitam itu terhantuk-hantuk di meja bar dengan kedua mata yang terpejam erat.Wonho mendecak kesal dan pergi meninggalkan Minhyuk barang sebentar untuk buang air kecil.

Pria itu tak menghiraukan diri Wonho,ia tengah sibuk dengan fantasi nakal didalam otaknya.Meskipun vodka yang ia minum mempunyai kandungan alkohol tidak terlalu tinggi tetap saja Minhyuk akan mabuk berat mengingat banyaknya tuangan Vodka yang ia minum tanpa henti.

**

Wonho berjalan keluar dari toilet,menaikkan resleting celananya yang terlihat ketat sambil berjalan.Wonho melangkah santai sembari bersiul pelan untuk mengusir keheningan pada sepanjang lorong yang terlihat senggang.

“Ajhussi! Cepat berikan bayaranku”

Sebuah suara terdengar disudut lorong yang panjang,telusuran langkah santai Wonho mendadak berhenti akibat bunyi sesosok suara yang terdengar familiar pada indera pendengarannya.

“Cium dulu anak manis.. Ayolah..”

Suara asing nampak meminta satu cumbuan nakal di bibirnya yang haus akan kenikmatan.Kedua mata Wonho menyipit demi memperjelas pandangan yang terpampang didepan mata kepalanya.

Sepersedetik kemudian mata itu terbelalak bagai mau keluar dari rongga tengkorak mata ketika melihat hal yang begitu mengejutkan.

“Chae Hyungwon..”

Lirih Wonho pelan dengan nafas yang seolah terhenti tepat dibatang tenggorokannya.Wonho membungkam mulutnya agar tetap diam tak mengeluarkan suara saat menyaksikan bagaimana liarnya Hyungwon mendaratkan ciuman nakal kepada seorang pria yang terpaut usia jauh lebih tua dari diri Hyungwon.
Lebih tepatnya seorang pria paruh baya,di lihat dari banyaknya helai rambut putih beruban terlihat buas membalas kecupan yang Hyungwon tautkan.

Wonho meneguk salivanya bulat-bulat terlebih lagi melihat Hyungwon yang terlihat lihai memainkan lidah dan juga mengulum bibir si pria tua.

Kakek berusia lanjut yang seolah tak mengenal lagi apa itu arti sebuah kematian yang akan berjalan dekat menghampiri dirinya pada usia yang semakin bertambah senja.

Wonho berbalik dan menyeka keringat karena rasa nervous dengan tangan yang gemetar.

Memang benar jika Wonho adalah tipe pria yang berperawakan berandalan dan terkesan bajingan namun jauh dari lubuk hatinya ia tak akan menyangka jika seseorang yang selama ini memiliki tampang bagaikan tak ubahnya malaikat putih suci tanpa sayap ternyata lebih binal dari dirinya.

Wonho menyentuh jantungnya yang berdegup lebih cepat dari skala normal dan coba kembali mengintip namun sayangnya Hyungwon maupun pria tua yang bersama Hyungwon telah pergi tanpa ia sadari.

=

====

Raut muka Wonho yang masih berkabung syok berjalan lamban menghampiri Minhyuk yang benar-benar teler dan tertidur pulas di atas meja bar.

Ia melihat sekilas arloji dipergelangan tangannya yang telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Tetapi semakin malam akan semakin ramai mengingat sebuah tempat diskotik adalah layaknya seperti surga malam bagi banyaknya hasrat dari nafsu yang tak tercukupi pada waktu di siang hari dan tak akan pernah sepi sampai matahari menyingsing fajar dengan cahaya terangnya.

Wonho menggoyangkan tubuh Minhyuk bermaksud agar pria itu membuka kedua matanya.

Namun yang ia dapat adalah hal yang tidak ia inginkan.Minhyuk tiba-tiba saja berdiri dan memeluk tubuh Wonho begitu erat bahkan sesekali menghamburkan tawa kosongnya yang terdengar begitu bahagia tanpa sebab.

“Wonho-ya.. Aku menyukaimu..”

Racau Minhyuk,tangan nakalnya melingkar sempurna pada pinggang Wonho dan berhasil membuat Wonho menahan nafas sebisa mungkin karena bau alkohol yang keluar dari mulut Minhyuk menyeruak dan menyengat indera penciuman Wonho.

“Dasar kau!!”

Kesal Wonho seakan mengutuk Minhyuk dengan berjuta celaan yang tertahan pada ujung pangkal lidahnya.

Ia memapah tubuh Minhyuk dan dengan susah payah membopong Minhyuk yang berjalan dengan langkah yang uring-uringan dan terseok tanpa penyanggah.

“Aigoo.. Hahahaha.. Temanku begitu tampan bagai vampire di dunia webtoon yang sering aku baca..”

Ujar Minhyuk yang benar-benar hilang kesadaran dan memecahkan sebuah tertawaan yang terdengar riang lalu tersenyum nakal sembari mengusap-usap pipi Wonho dengan tangannya.

Sebenarnya Wonho risih dan ingin membanting diri Minhyuk lalu pergi dari tempat ini namun karena rasa setia kawan masih ada didalam sanubarinya maka ia mengurungkan niat buruk itu dan lebih memilih untuk mengantar Minhyuk pulang kerumah dengan selamat.

Bagai menempuh rute perjalanan yang teramat sangat jauh saat hendak keluar dari tempat diskotik yang sesak akan bermacam-macam manusia,Wonho pun berhasil membawa Minhyuk keluar.

Wonho merogoh ponsel disaku jacket semi kulit cokelat tuanya dan menelpon jasa taksi untuk membawa Minhyuk pulang.

“Aku tunggu sepuluh menit,Jalan gyeongbok diskotik Manhwa,ghamsahamnida ajhussi..

Wonho menutup sambungan telpon lalu kembali terfokus pada diri Minhyuk yang berdiri disampingnya dengan kepala yang bersandar pada bahu tegapnya.

“Aku pastikan hal ini tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya”

Tegas Wonho sembari menyoroti jam tangan yang tersemat dipergelangan tangannya.

Sebuah taksi tepat berhenti didepannya setelah menunggu sepuluh menit ditepian jalan raya yang terlihat lenggang akan mobil yang berlalu-lalang.

Seorang paman keluar dari kursi pengemudi dan berjalan cepat untuk membuka pintu belakang kursi penumpang.

Bobot tubuh Minhyuk yang tidak terlalu berat tetapi entah mengapa nafas Wonho nampak tersengal-sengal ketika membopong Minhyuk untuk masuk kedalam taksi.

"Aish.."

Wonho menyerah,ia melempar tubuh Minhyuk hingga tubuh pria itu terhempas diatas kursi penumpang.

Wonho mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya dan memberikan uang tersebut kepada supir taksi kemudian menyebutkan alamat tempat tinggal Minhyuk yang akan supir taksi itu tuju.

“Ghamsahamnida ajhussi.. “

Ucap Wonho menyematkan sebuah ucapan terima kasihnya ketika selesai melakukan pembayaran tarif taksi yang ia berikan untuk menghantar Minhyuk kembali kerumah dengan selamat dan tidak tersesat.

Sekarang Wonho tengah berdiri seorang diri dalam kesenyapan,memandang jauh pepohonan yang tumbuh bersusun rapi disepinggiran jalan setapak yang dihiasi dengan selingan lampu taman yang berpendar redup mengeluarkan sinar cahaya kecil.

Ingatan Wonho kembali berputar kebelakang saat mengulang sebuah pertunjukkan tak ia duga-duga beberapa menit yang lalu.

Ia tersenyum dengan sejuta makna yang meraungi otak nakalnya,tidak menyangka jika pria berimage lugu dan cerdas seperti Hyungwon yang notabennya seorang siswa berprestasi melakukan hal yang tidak bisa Wonho telaah untuk berpikir jernih.

BRAK !!

Wonho terkesiap dengan kelopak mata yang terbuka lebar.

Tubuh ramping itu terhempas diaspal jalanan bersama di iringi lemparan dari sisa puntung rokok yang sudah habis hingga mengenai wajah indah itu.

“Chae hyungwon..”

Gumam Wonho yang tersulut rasa iba melihat diri Hyungwon yang jatuh tersungkur karena ditendang oleh seorang pria tua dan jelas pria itu adalah pria yang sama saat Wonho mengintip aksi yang Hyungwon dan ajhussi tua itu lakukan.

Tampaknya paman berjas hitam khas setelan kantor itu beringas dan kesal akan diri Hyungwon.

Hyungwon mencoba bangkit dari jatuhnya yang terduduk menyapa aspal dan memberanikan diri untuk memberikan sebuah perlawanan.

“Pria sepertimu tak patut diganjar kehormatan ! Murahan ! Jangan bertingkah sok jual mahal !”

BRAK !!

Lagi dan lagi Hyungwon didorong kasar hingga ia berjalan mundur kebelakang,Wonho menggeram karena bisa-bisanya pertahanan diri Hyungwon terlihat begitu lemah tanpa ada sanggahan untuk melakukan perlawanan.

Wonho berlari cepat menuju kearah Hyungwon dan juga ajhussi tua itu.

Jalanan aspal yang sepi mendadak dihiasi riuh kecil karena di isi oleh keributan tengah malam dari sebuah perkelahian.

“Hyungwon-ssi !!”

Pekik Wonho dengan volume suara meninggi lalu menghentikan aksi kekerasan brutal si paman tua yang nampak tak memiliki sebuah rasa empati.

Wonho mencengkram tangan paman itu,Hyungwon terdiam tanpa bersuara saat melihat diri Wonho yang tengah beradu tegang dengan paman tersebut.

“Yak! Siapa kau?!”

Maki ajhussi paruh baya itu lalu menepis cengkraman tangan Wonho begitu kuat,ia tak terima dengan aksi pembelaan heroik yang Wonho lakukan untuk menyelamatkan Hyungwon.

BUG !!

Satu bogeman mentah mendarat tak percuma tepat mengenai wajah paman tua itu,Wonho melayangkan satu hantaman keras sampai-sampai paman tersebut jatuh terpelanting kebelakang.

BUG !!

Dua kali tonjokan tepat mendarat diwajah paman itu hingga ia merasakan sakit.Lawan tak seimbang,badan besar si pak tua tak mampu mengimbangi badan kekar dari Wonho hingga dua kali bogeman mentah pun dihadiahi dengan mudah.

“Sebaiknya kau pergi pak tua!”

Bentak Wonho dengan kedua mata yang memerah,Ia hendak melayangkan satu tonjokkan untuk ketiga kalinya namun paman tua tersebut segera mengambil ancang-ancang berdiri dan langsung berlari tunggang-langgang meninggalkan Wonho dan juga Hyungwon.

Hyungwon berdiri,ia sempat memegangi sikut kanannya yang memar karena terbentur keras diatas aspal panas.Wonho berbalik dan menoleh kearah Hyungwon,ia hendak ingin mengatakan sesuatu namun lidah itu seolah keluh hingga ia mengurungkan niatnya.

Namun..

“Apa yang kau lakukan di sini?”

Akhirnya Wonho memberanikan diri dengan memulai percakapan yang diawali satu pertanyaan mengenai hal apa yang menyebabkan Hyungwon bisa berada ditempat yang dipenuhi dengan barang haram dan juga aktifitas malam yang jauh dari kesan terpuji dan cap anak baik-baik.

Hyungwon tersenyum getir dan menyapu kebelakang poni rambutnya,dari ekspresi wajahnya terlihat benar jika ia tak sudi memberikan sebuah jawaban akan pertanyaan yang Wonho berikan untuk ia jawab.

“Sebaiknya kau tak mencampuri urusanku”

Ucap Hyungwon dingin dan hendak berlalu dari pandangan Wonho.Sebisa mungkin ia menghindar dari Wonho yang berdiri tidak jauh dari dirinya.

Gelak tawa Wonho hambar terdengar membuyarkan kesenjangan langit yang semakin malam dan gelap,tidak ada satupun bintang ataubahkan setitik sinar bulan yang menerangi bentangan langit gelap yang terlihat kosong tanpa adanya sebuah penghias.

Hyungwon tak melanjutkan kalimat sepatah katapun bahkan ia tak bergeming untuk mengalihkan kedua retina matanya demi memandang wajah Wonho barang sekejap saja.

“Jalang ?”

Cekat Wonho sepersedua detik ketika langkah Hyungwon mulai berjalan hendak beranjak dari penghilatannya.

Hyungwon tersentak dan menggigit bibir tebalnya kuat,membungkam sederet kata yang hendak keluar dari mulutnya.

Tangan kanan Hyungwon mengepal erat,Wonho menyadari jika Hyungwon sedang dirundung rasa kesal akan kata jalang yang ia luncurkan tadi tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.

“Urus saja hidupmu sendiri..”

Lirih Hyungwon yang enggan berbalik,namun tak bisa ia sembunyikan air muka murungnya yang beringsut sedih ketika beberapa orang selalu saja mengumpat bahkan membidik sebuah kata jalang untuk dirinya.

Dalam diam Wonho mengamati Hyungwon dari atas kepala sampai kebawah mata kaki secara terperinci.Cara berpakaian Hyungwon yang sedikit mencolok dan terbuka sama sekali tidak menggambarkan pribadi dari diri Hyungwon saat sedang berada disekolah.Berbeda jauh hingga terpental sampai tiga ratus enam puluh derajat tak sama.

"Ahh geurae.."

Campah Wonho melihat punggung Hyungwon yang berjalan perlahan jauh dari jangkauannya.

Wonho tak lagi mengacau Hyungwon untuk pergi dan ia lebih memilih tak bersuara,rasa penasaran akan diri Hyungwon memaksa ia untuk tidak berbuat hal yang macam-macam dan melewati batas wajar.

Sementara Hyungwon berjalan dengan langkah yang berat sembari memegangi tubuhnya yang hampir remuk karena dihadiahi aksi kejam dari paman tua brengsek yang menyiksanya tadi tanpa belas kasihan sedikitpun.

Hyungwon merogoh sesuatu dikantong belakang celana jeans pendek seperlututnya.

Sebatang rokok ia jejalkan pada mulutnya yang dirasa hambar,tak lupa menghidupkan api di ujung batang rokok tersebut dengan pemantik yang mengeluarkan tunu api berwarna biru muda bercampur warna kemerahan,sukses membakar rokok yang ia hisap dan mulai menyesapnya hingga mengeluarkan gumpalan-gumpalan asap yang mengepul dari hembusan nafas yang ia keluarkan dari lubang rongga mulutnya.

Sedangkan Wonho tak kunjung melepaskan jarak pandangannya menangkap sosok Hyungwon yang berjalan selangkah demi selangkah dengan sejuta tanda tanya yang menghukum otaknya dalam keingin tahuan.

“Siapa kau Hyungwon-ssi..?”

Batin Wonho bersuara keras dan kedua matanya yang melihat kearah Hyungwon membidik sangat tajam bagai bilah mata pisau yang telah sempurna diasah dari tumpulnya.

Wonho tak akan melepaskan diri Hyungwon sampai rasa penasarannya akan sosok itu terpenuhi oleh sebuah jawaban.

TBC

NOTEFOOT:

Balik lagi bawa epep Hyungwonho xD
Entah kenapa suka banget jadiin Wonho sebagai male lead di ff absurd gue .. /ketawa nista/
Mungkin karena aku dan dia berjodoh ? :3 /dibakar massa/

Anyway , Ni epep chapternya lebih panjang gak kayak two sides /nyengir/
Kalo lagi mood ya di lanjutin ..

Jangan lupa click Vote dan tulis komentar kalian ya .. itung2 jadi sebuah penyemagatlah buat gue makin nistain Wonho sama Hyungwon /evil laugh/

Thank you ~

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top