04. Girl On The Roadside
Myungsoo turun dari mobilnya, bergerak dengan luwes menghampiri pintu di seberang dan membukanya dengan santai. Senyumnya tidak pernah pudar sepanjang malam ini, pekerjaannya menuntut agar ia selalu terlihat ceria dan salah satunya adalah saat ini, saat mengantar kliennya kembali. Ketika ia meraih tangan sang wanita untuk menuntunnya keluar dari mobil, senyumnya semakin merekah.
"Terima kasih, Myungsoo," wanita itu membalas senyumnya dengan malu-malu. Myungsoo hanya mengangguk kemudian meninggalkan mobilnya untuk mengantar sang wanita ke dalam hotel.
"Kau yakin tidak ingin bergabung?"
Myungsoo menunduk menatap wanita di sampingnya kemudian tersenyum penuh penyesalan, ia melirik jam tangan kemudian kembali kepada wanita itu lagi, "jam sepuluh kurang tiga puluh menit," ia hanya bergumam pelan tanpa penjelasan namun, sang wanita memperlihatkan mimik seakan mengerti.
"Ah waktunya sudah habis ya? Baiklah...tidak masalah, lagipula malam ini kau sudah bekerja dengan baik," wanita itu mengangguk, mengusap lengan Myungsoo sekilas lalu menjatuhkan sebuah kecupan selamat tinggal sebelum bergegas ke meja penerima tamu untuk memesan kamar.
Myungsoo masih berdiri di dekat pintu masuk, memperhatikan wanita itu hingga selesai memesan kamar, si wanita menoleh padanya sekilas sebelum menghilang di balik lift. Setelah pintu lift berdenting menutup, raut wajah Myungsoo tiba-tiba berubah, rahangnya mengencang ketika berbalik untuk keluar dari lobi.
Tidak ada alasan yang tepat mengapa sekarang ia merasa muak dengan pekerjaannya saat ini, tapi Jo jelas tau memanfaatkan dirinya dengan baik. Pria tua itu bahkan menerima klien sebanyak yang bisa dia dapatkan untuk satu bulan terakhirnya, dan itu membuat Myungsoo menjadi berang. Namun, tidak ada yang bisa dilakukannya untuk memberontak karena mereka telah sepakat. Dan ia bukanlah pria yang mengingkar janji.
Angin malam menerpa wajahnya saat melangkah keluar dari gedung hotel, ia menghela nafas panjang sepanjang jalan menuju mobilnya. Alisnya berkerut saat tangannya menyentuh gagang pintu, membuka dan menunduk untuk melihat keadaan mobilnya.
Batinnya berseru marah ketika mendapati seorang wanita asing sedang duduk bersandar dengan nikmat di jok belakang mobilnya. Myungsoo menggeram ketika membawa dirinya untuk duduk di balik kemudi, mengamati wanita itu dari balik spion di atas kepalanya.
"Apa yang kau lakukan di mobilku?"
Kemudian Myungsoo bisa melihat pergerakan wanita tersebut. Ia bisa menebak baru saja wanita itu membuka mata yang sebelumnya terpejam dari balik kacamata hitamnya, matanya menyipit tajam ketika dagu mungil itu terangkat dengan angkuh, "jalankan mobilnya."
Myungsoo berdecak mendengar seruan yang terasa seperti sebuah perintah kemudian memberikan jawaban , "jam kerjaku telah habis nona."
"Aku akan memberikanmu tips yang banyak."
"Aku tidak butuh uangmu. Sekarang keluar dari mobilku."
"Tidak. Aku mau ke bandara, jalankan mobilnya."
Myungsoo mendengus, ia tetap pada posisinya. Tidak menyalakan mesin seperti keinginan wanita itu, "keluar dari mobilku. Atau aku melaporkanmu ke pihak berwajib karena telah menyusup ke dalam propertiku?" Tukasnya dengan mengancam, ia bisa menyaksikan bagaimana kedua bahu wanita itu mengencang karena tegang.
"Kau tidak akan berani."
"Just try me then."
Myungsoo mendelik ketika kepala wanita itu perlahan menunduk, menutup hampir seluruh wajahnya hingga tidak terlihat dan ia merasa heran dengan tingkah tersebut.
"Aku sudah melihat wajahmu, percuma kau tutupi," sahutnya dengan suara rendah, "aku bisa sangat kooperatif untuk memberikan sketsa wajahmu pada polisi dan kau tid..."
"Berhenti!" Myungsoo menggantung kalimatnya di udara saat wanita itu menjerit menyelanya, ia mengangkat alis ketika wanita itu mencondongkan tubuh ke depan sehingga mau tak mau membuatnya menoleh, menatap wajahnya lebih dekat secara langsung.
"Kau tidak mengenaliku," itu adalah sebuah pernyataan bukan pertanyaan dan Myungsoo semakin dibuat bingung.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Dengan sekali gerakan cepat sang wanita membuka kacamata hitamnya, memperlihatkan wajah angkuh dan arogan yang dibungkus oleh kulit putih bersih dan terlihat mulus, Myungsoo menatap kedua bola mata yang membulat dengan kilat marah di depannya sekilas lalu pandangannya turun ke hidung mancung tapi terlihat mungil di antara wajah oval tersebut dan sampai ke bibir merah muda yang terlihat alami, ia menelan ludah. Membayangkan betapa lembutnya bibir itu ketika menyentuh....
"Kau tidak mengenalku!" Jeritan itu membuat segala hayalan kotornya terhenti, ia mengerjap kembali memfokuskan pandangan ke mata wanita itu, sekali lagi ia menelan ludah. Sinar kemarahan yang terpancar dari sana entah mengapa terasa sangat menggoda dan panas. Myungsoo menggelengkan kepalanya, ia memalingkan wajah kemudian kembali menghadap ke depan, menolak untuk menatap wanita itu.
"Apa..." Myungsoo berdehem ketika merasakan suaranya terdengar parau, "apakah aku perlu untuk mengenalmu?" jelasnya kemudian.
"Aku hanya ingin kau keluar dari mobilku nona. Jam kerjaku sudah habis."
"Aku Bae Sooji."
"Oh, sekarang kau sedang memperkenalkan diri?" Myungsoo melirik spion di atasnya dan mengumpat pelan ketika menangkap rona merah di wajah garang wanita itu. Mengapa itu terlihat sangat menarik?
"Apa kau tidak mengenalku, bahkan setelah aku menyebutkan namaku?"
Myungsoo mendesah panjang setelah mengembalikan kewarasannya, ia kembali berbalik untuk memberi tatapan tegas pada wanita itu, "dan aku tidak peduli siapapun kau, yang kubutuhkan saat ini adalah kau keluar dari mobilku." Tandasnya dengan kejam, menatap wanita yang terkesiap kaget di depannya.
"Apa kau tidak punya tv di rumah? Aku adalah artis terkenal!"
Sooji menatap horor pria di hadapannya, bagaimana bisa ada orang yang tidak mengenalinya? Seluruh pelosok negri ini pasti tau siapa itu Bae Sooji. Namanya selalu menghiasi kolom majalah lokal maupun nasional, mulai dari majalah fashion, bisnis, hingga kolom gosip selalu dipenuhi oleh namanya. Di setiap kota selalu terpampang wajahnya di papan iklan besar yang menggantung di sepanjang jalan, sudah banyak drama, CF, serta acara talkshow yang ia hadiri. Mustahil jika ada yang tidak mengenalinya.
"Ya aku tidak punya. Cepatlah keluar, sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar." Sooji merasa menggigil mendengar nada serius dari pria itu, ia menatap wajahnya dengan tegang.
"A--aku..."
Myungsoo mengangkat alisnya, "tunggu apa lagi? Apa kau perlu aku untuk membukakan pintu untukmu?"
Sooji menggeleng samar, "aku kecopetan," gumamnya dengan cepat.
"Dan kau pikir aku akan percaya? Bah!"
Sooji mengernyit tidak suka saat secara tak langsung pria itu menuduhnya sebagai penipu, matanya berkilat tajam ketika mengamati pria di hadapannya, "aku tidak memintamu untuk percaya! Aku hanya mengatakan aku kecopetan, mobil, koper, handphone dan semua barang milikku hilang! Kau pikir itu adalah sebuah candaan?" Omelnya dengan suara keras dan wajah marah.
"Jika kau tidak memintaku percaya, lantas kenapa kau memceritakannya padaku?"
Wajah Sooji seketika merah padam, dalam hati ia merutuk. Mulut pria ini sangat cerdas dan tajam, dan Sooji tidak suka berdebat dengannya.
"Kalau begitu pinjamkan saja aku ponselmu, aku akan menghubungi manajerku."
Mata Myungsoo menyipit curiga dan itu membuat harga diri Sooji kembali terinjak-injak, wanita itu menggeram lalu mengeluarkan dompet dan mencari kartu identitasnya, melemparkan benda persegi itu tepat di atas pangkuan Myungsoo.
"Lihat dan baca! Namaku benar Bae Sooji dan aku warga negara ini, aku tidak memiliki catatan kriminal apapun, kau bisa bertanya ke pusat informasi kepolisian pusat kalau kau tidak percaya!"
Myungsoo dengan acuh mengambil kartu identitas milik Sooji kemudian membacanya, benar namanya adalah Bae Sooji, dia juga adalah warga negara Korea Selatan seperti yang tertera di sana, ia berdecak kemudian mengembalikan kartu itu kepada pemiliknya.
"Ini tidak lantas membuatku mau memberikan ponselku kepadamu. Kau orang asing dan aku tidak peduli apapun masalahmu."
"Oh dasar pria tua jelek! Berikan saja ponselmu," Sooji kehabisan kesabaran, ia menendang sandaran jok yang diduduki oleh Myungsoo lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sehingga ia bisa meraih dashboard, dengan cekatan mengambil benda persegi panjang yang sejak tadi sudah mencuri perhatiannya.
Myungsoo tidak menyadarinya karena tindakan Sooji terlalu cepat, pria itu hanya berbalik dan menatap horror Sooji yang sedang sibuk mengutak atik ponselnya.
"Aku harus menghubungi Junhee Oppa," gumamnya pelan, menyalakan ponsel di tangannya kemudian bernafas lega karena ponsel itu tidak meminta kata sandi. Ia lalu memilih menu pangilan dan siap menekan nomor ponsel Junhee. Namun, tiba-tiba jarinya menggantung di udara, alisnya berkerut untuk memikirkan sesuatu hingga ketika pemikirannya sampai kepada keuntungan-keuntungan yang mungkin saja didapatkannya, ia langsung tersenyum lebar.
Myungsoo terpaku di tempatnya, ia bisa melihat dengan jelas senyuman wanita itu, sungguh memikat dan membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Ia baru sadar jika wanita di hadapannya ini memanglah sangat cantik dan menarik, tidak akan ada pria yang menolak pesona wanita itu dan ia salah satunya.
"Ini.." Mata Myungsoo mengerjap cepat ketika ponselnya sudah berada tepat di depan hidungnya, ia menatap bingung. Sooji bahkan belum melakukan panggilan seperti niatnya tadi, "aku melupakan nomor ponsel manajerku. Jadi sepertinya ini tidak berguna."
Seandainya Myungsoo adalah pria yang cerdas, seharusnya ia tau untuk seorang wanita yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang artis terkenal pasti bisa menemukan cara untuk menghubungi agensi ataupun sponsornya. Di laman website official agensi tersedia banyak cara untuk berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak, sayangnya malam ini otak Myungsoo sedang error, akibat senyuman Sooji yang tanpa sengaja dilihatnya barusan, jadi ia hanya mengangguk menerima alasan wanita itu.
"Jadi sekarang jalankan mobilmu."
Kesadaran Myungsoo seketika kembali, pria itu melotot tidak percaya bahwa hampir saja...hampir saja ia terperdaya oleh wanita itu.
"Tidak sebelum kau keluar dari sini."
"Ayolah, kumohon...aku ikut bersamamu, setidaknya sampai aku menemukan cara untuk menghubungi manajerku."
Kali ini mata Myungsoo semakin melotot hingga bisa saja bola matanya keluar, ia menatap ngeri pada Sooji yang sudah memelas di belakang sana. Bukankah baru saja wanita itu berteriak memakinya? Mengapa sekarang ia terlihat.....seperti kucing yang kehilangan arah?
"Tidak."
"Aku akan membayar ganti rugi. please?" Sooji terus memohon, ia menarik kemeja Myungsoo kemudian mendekatinya, "apa kau tega meninggalkan seorang wanita di tengah jalan? Di sini sangat sepi, aku tidak punya uang untuk kembali ke kota dan...aku lapar."
Myungsoo menatap wajah Sooji dan rasa iba perlahan menyergapnya, wanita itu terlihat benar-benar jujur ketika mengatakan semuanya, tapi ia masih memiliki kewarasan sehingga menjawab dengan tegas, "tetap tidak. Keluar sekarang!"
"Oh ayolah kumohon, kau akan sangat berjasa jika menolongku," Sooji kembali berusaha, "coba bayangkan bagaimana jika ibumu yang tersesat dan bertemu dengan orang sepertimu yang tidak mau menolongnya? Kau pasti tidak akan senang kan? Jadi tolonglah aku..."
"Brengsek!" Myungsoo mengumpat, entah darimana Sooji bisa menebak bahwa menyebut ibunya adalah suatu kelemahan untuk pria itu, jadi tanpa pikir panjang ia menjalankan mobilnya dengan harapan bahwa tidak akan ada kekacauan yang timbul akibat perbuatan impulsifnya ini.
¤¤¤
Sooji tidak mengerti mengapa dirinya bisa senekat ini mengambil tindakan, ia bahkan berbohong ketika mengatakan melupakan nomor ponsel Junhee yang telah dihapalnya di luar kepala namun, pemikiran gelapnya berkata lain. Ia bisa menebak bahwa dirinya akan mendapatkan keuntungan jika ikut bersama pria itu. Belum genap satu jam bertemu dengan pria itu, ia dengan bodoh malah meminta untuk di bawa bersamanya, bahkan baru dua jam yang lalu saat tiba di sini Sooji mengetahui nama pria itu. Dan bodohnya lagi ia merasa tidak perlu khawatir ataupun resah karena baru saja kehilangan segala harta benda yang dibawanya kemari, karena apa yang ada dalam benaknya saat ini sudah membuatnya tenang.
Ya, Sooji berencana untuk tetap melanjutkan liburannya. Jika pria itu tidak mengenalinya, berarti besar potensi orang-orang di sekitarnya juga tidak mengenal siapa Bae Sooji. Ia tidak perlu bersembunyi atau takut berjalan dengan bebas, karena mungkin saja orang-orang tidak akan mengenalinya. Ia pasti akan menghabiskan waktu liburannya dengan tenang.
Tapi, semua perkiraannya tentu saja tidak akan selalu berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan bukan? Karena saat ini ia hanya bisa menatap ngeri rok katun sebatas betis yang membungkus kakinya serta kaos lusuh berwarna biru langit yang terlihat sedikit kebesaran di tubuhnya. Menatap penampilannya dari balik cermin satu badan yang tertempel di dinding samping pintu, kemudian mendelik ke arah pantulan dirinya.
"Kau seperti gadis kampung!" Rutuknya dengan mata melotot, "apa tidak ada baju yang lebih bagus?" Kemudian menggerutu sendiri, ia melarikan pandangan ke kamar yang akan di tempatinya dan sekali lagi mendelik.
"Bagaimana bisa aku tidur di sini?" Jeritnya hampir akan menangis, kamar itu tidak terlalu besar, tidak pula kecil. Ukurannya sederhana dan pas, tapi yang membuat Sooji frustasi adalah alas untuknya. Di sini bahkan tidak ada ranjang, hanya sebuah kasur lantai, satu bantal kepala serta selembar selimut tipis. Ia jelas tidak akan bisa tidur di sana, tulang belakangnya sudah pasti akan remuk redam besok pagi.
Tapi apa yang di dapatkannya ketika menolak kasur itu?
"Tidur di sini atau di jalanan. Kau yang memilih nona."
Dengan kejamnya Myungsoo memberikannya pilihan yang sama sekali tidak menguntungkan dari sisi manapun, ia tau bahwa tidak ada pilihan lain untuknya, tapi tidak bisakah pria itu memberikannya ranjang yang lebih layak?
"Sooji?" Ia langsung menoleh saat mendengar suara itu, menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka dan seorang wanita yang dikenalinya sebagai ibu Myungsoo tersenyum di sana, "kata Myungsoo kau belum makan, ayo keluar. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu."
Sooji mengernyit tidak enak, sebenarnya jam makan malamnya sudah lewat, ini hampir tengah malam, siapa wanita bodoh yang mau mengkomsumsi kalori semalam ini dan membiarkan timbunan lemak muncul di tubuhnya? Ia bergidik ngeri. Tidak, tentu saja ia tidak mau, tapi melihat wajah ramah ibu Myungsoo membuatnya tidak tega. Wanita itu sudah repot-repot menyiapkan makanan untuknya.
"Aku akan keluar sebentar lagi bibi, terima kasih," Sooji tersenyum saat menyahut. Ia menghela nafas saat Hyera membalas senyumannya kemudian menutup pintu kamar. Ia kembali berdiri menghadap cermin dan menatap wanita kampung yang beridiri di dalam sana.
"Baiklah, kau sepertinya memang harus menjadi wanita kampungan untuk sementara waktu," gumamnya, meski tidak rela, tapi Sooji tidak punya pilihan. Hanya ini satu-satunya cara agar bisa ia menikmati liburannya dengan hati tenang dan damai.
Ya semoga saja.
¤¤¤
To be continued...
[31/08/17]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top