Prolog : 1.300 Tahun Kemudian
✴ ✴ ✴
Meja yang kadang-kadang bergoyang bukanlah tempat yang bagus untuk menulis. Ditambah lagi dengan sinar temaram dari kristalit cahaya yang sudah hampir kehabisan Aura. Suara mesin uap yang terdengar sampai ke dalam kabin semakin memperburuk situasi. Namun, Aswyn tidak peduli. Sebentar lagi apa yang ditulisnya akan selesai. Tinggal satu kalimat dan ... ah, selesai juga.
Aswyn langsung meminum kopi botol yang ada dekat bukunya. Sambil mengucek mata, dia membaca kembali bagian yang baru ditulisnya. Sudah bagus dan tidak ada kesalahan. Buku yang dibacanya ini memuat berbagai catatan yang berkaitan dengan perjalanannya dari Pilters, Corona dan berbagai tempat lainnya di Imperium Elandor. Seperti buku harian, tapi lebih detail. Aswyn mengangguk puas.
Karena asyiknya membaca, tanpa Aswyn sadari kristalit cahaya di ruangannya meredup. Dia jadi kesulitan melihat huruf-huruf yang ada di atas kertas itu. Apa cadangan kristalit cahaya masih ada? Benda yang dijadikannya sebagai lampu itu sudah dihidupkannya sejak dua hari yang lalu. Agak malas, dia mengambil kopernya di ranjang dan memeriksa tas tersebut. Aswyn menghela napas lega. Bagus, masih ada satu. Dengan ini dia tidak perlu meminta kristalit pada awak kapal.
Diambilnya benda berbentuk buah anggur putih tersebut. Menarik napas, Aswyn menghidupkan Auranya. Kehangatan yang terasa di seluruh tubuhnya menandakan kalau Aura telah hidup. Aswyn bukan seorang Caster. Dia tidak bisa melihat bagaimana bentuk Aura yang sebenarnya. Dia hanya dapat merasakan Aura itu, dalam hal ini kehangatan di seluruh tubuh. Dia memberikan kehangatan yang ada di tangannya menuju kristalit.
Para Caster menamakan proses menghidupkan dan menggunakan Aura ini dengan nama aucast atau aura casting. Tapi, tentu saja Caster tidak memerlukan kristalit untuk melakukan aucast. Mereka tinggal menghidupkan Aura mereka dan mengendalikan elemen yang paling mereka kuasai. Sedang manusia biasa seperti Aswyn harus menggunakan kristalit untuk melakukan hal tersebut.
Kristalit yang dipegang Aswyn langsung menyala dan menerangi seluruh ruangan, sementara kristalit yang lama akhirnya menghilang, seolah tidak pernah ada sebelumnya. Aswyn memasukkan kristalit baru pada tempatnya, sebuah bejana kecil dari kaca yang dapat digantung. Besok atau lusa, kristalit ini akan kehabisan Aura juga dan menghilang seperti kristalit yang tadi. Aku harus segera membeli kristalit cahaya yang baru setelah sampai di Enice nanti.
Dengan penerangan yang baru, Aswyn kembali melihat bukunya.
Merasa bagian akhir sudah benar, dia membaca ulang bagian awal catatannya. Sebuah surat lusuh terselip di bagian itu. Surat yang seharusnya dikirim pada Raja Harnish. Aswyn bergidik. Ini hanya surat. Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Bagaimanapun juga, dia tetap tidak senang membaca surat ini. Malam naas itu akan langsung berputar dalam pikirannya.
Tanpa harus dibaca, isi surat itu bergema sendiri dalam pikiran Aswyn.
"Yang Mulia Harnish, apa Yang Mulia takutkan benar-benar terjadi. Kaisar dan Pangeran Albert meninggal dunia. Kaisar meninggal dalam tidurnya. Mereka masih memperdebatkan apakah dia diracun atau karena sakitnya sudah semakin parah. Pangeran Albert sendiri telah dibunuh oleh Putri Karina di saat pesta pernikahan mereka berlangsung. Putri tersebut meninggal malam itu juga, gantung diri. Saat saya meninggalkan Corona, Pangeran Allen telah menduduki tahta Elandor untuk sementara. Suasana kacau sekali di sini. Jika Elandor dan Milderia berperang gara-gara ini, kerajaan kita yang akan terkena akibatnya.
Pelayanmu yang Setia, Aswyn Wendell, Duta Thrusia untuk Kekaisaran Elandor"
Aswyn meringis kalau mengingat atau membaca surat itu. Kepanikannya saat keluar dari pesta tersebut telah menjadikannya tidak beres dalam menulis. Untung saja dia membuat yang baru dan tidak mengirim yang ini.
Namun, membaca ini langsung mengingatkannya pada peristiwa malam itu. Pernikahan Pangeran Albert dari Elandor dengan Putri Karina dari Milderia seharusnya berjalan dengan lancar. Akan tetapi, yang terjadi malah kekacauan. Putri Karina tiba-tiba menusuk dada Pangeran Albert dengan pisau makan saat mereka mulai bersantap. Wajah terkejut Pangeran Albert dan wajah shock Putri Karina beberapa saat kemudian pasti akan terus menghantui Aswyn selama hidupnya.
Selama sepuluh tahun bekerja sebagai duta kerajaan Thrusia untuk Elandor, baru kali ini Aswyn mengalami kejadian itu. Dia terbiasa dengan kematian, tetapi kematian yang disebabkan oleh sakit atau racun, bukan karena pisau. Aswyn harus mengakui kalau dia takut dengan darah, karena itu dia lebih memilih jadi diplomat daripada prajurit.
Kasihan Allen dan Alvena, melihat saudara mereka meninggal tepat di depan mata mereka sendiri. Sedang anak kedua-Pangeran Alexander-menghilang entah ke mana setelah melihat saudara tuanya meninggal. Alexander harusnya yang jadi Emperor, tetapi dia pergi dan malah "menitipkan" posisi kaisar pada Allen yang baru berumur 12 tahun.
Kapal yang ditumpangi Aswyn bergoyang sedikit. Hal itu cukup untuk membuyarkan lamunannya. Terkena ombak lagi? Sejak berangkat dari Pilters, kapal pengangkut barang ini selalu saja diserang ombak. Ombak itu cukup mengganggu kegiatannya menulis, sebab itu dia selalu ingat.
Melupakan masalah ombak, Aswyn melihat lagi bagian surat yang baru saja dibacanya. Ada yang sengaja tidak dia tulis. Aswyn sebenarnya mempunyai teori tersendiri tentang peristiwa yang terjadi di Elandor. Teori yang dia sendiri tidak berani menulisnya. Mengapa pesta yang sudah ditunggu oleh orang-orang dari dua kekaisaran tiba-tiba berubah jadi pesta berdarah. Mengapa Putri Karina yang baik hati itu tiba-tiba membunuh suaminya. Sayangnya dia tidak bisa memberi tahu itu pada Allen. Allen terlalu muda dan Permaisuri ada di belakangnya. Aswyn masih tidak tahu harus mempercayai Permaisuri atau tidak. Karena itu lebih baik dia pulang ke kerajaannya sendiri dan berkonsultasi dengan raja.
Sebentar lagi dia akan tiba di Enice. Setelah itu dia dapat pergi ke Mircea dan memberikan buku hariannya pada Raja serta memberi tahu apa yang dicurigainya selama ini. Raja Harnish pasti tahu apa yang harus dilakukan. Merasa tidak ada lagi yang dapat ditulisnya, Aswyn berjalan keluar kabin.
Semoga saja apa yang kutakutkan hanya khayalanku saja. Sang Pencipta selamatkan kami jika itu benar ... dan mereka telah bangun kembali. Aswyn bergidik.
✴ ✴ ✴
Setelah berada di luar, bunyi mesin uap semakin keras. Berhari-hari di atas kapal membuat telinga Aswyn sudah agak terbiasa mendengarnya, walau kegiatan menulisnya jadi agak terganggu.
Hal pertama yang dirasakannya ketika tiba di geladak kapal adalah tidak adanya angin. Sama sekali tidak ada. Padahal baru sebentar tadi ada ombak yang menghantam kapal ini. Aswyn mengecek keadaan di sekitarnya. Kapal tetap melaju dengan kecepatan normal. Namun, dia tetap tidak merasakan adanya angin. Rambut pirangnya yang agak panjang seharusnya bergerak-gerak, tapi tetap biasa saja. Aneh sekali.
Dia melihat ke langit. Seperti biasa, Thrusia selalu dibayangi oleh awan. Tidak ada bintang yang terlihat. Hanya cahaya bulan yang tertutup awan menerangi langit. Langit di tanah kelahiran Aswyn memang tidak seperti di Kerajaan Kalara atau Imperium Elandor yang selalu mempunyai langit cerah, baik siang atau malam.
Aswyn berjalan ke geladak atas. Dia tersenyum pada beberapa kelasi yang langsung menghormat melihatnya. Walaupun begitu, wajah mereka tampak tidak tenang. Pasti karena angin yang "hilang" ini.
Dia memperhatikan keadaan di kapal ini. Kapal Rancewind merupakan kapal barang yang cukup kecil untuk ukurannya. Namun Aswyn tahu kalau kapal ini sudah bertugas di Laut Herring selama bertahun-tahun, mengantar kristalit cahaya dari Mazell ke Enice dan beberapa pantai di Olarion dan Elandor. Kapal ini menggunakan kristalit api sebagai bahan utama pembakaran dan mesin uap untuk menggerakkan propelernya. Awaknya ada sekitar dua puluhan dan Aswyn cukup menyukai mereka semua.
Kabin kapten masih menyala ketika Aswyn sampai di geladak atas. Kapten Harlake sepertinya masih ada di ruangannya itu. Aswyn merapikan kumis tipisnya.
Pintu kabin kapten tiba-tiba terbuka. Bunyi benturan pintu itu pada dinding membuat Aswyn hampir meloncat saking terkejutnya. Dia langsung menoleh ke pintu itu. Aswyn menyangka kalau Kapten Harlake yang akan keluar, tetapi yang keluar malah seorang pemuda dengan baju putih yang sama seperti awak kapal lainnya. Baju itu basah oleh uap air, setelah Aswyn perhatikan dengan teliti. Pemuda itu bersungut-sungut sambil menutup pintu, sama kerasnya dengan saat dia membukanya.
"Boc!" panggil Aswyn pada pemuda itu.
Boc menoleh ke arah Aswyn dan langsung tersenyum. Wajah kesal yang tadi dibawanya keluar dari ruangan kapten sekarang sudah tidak tampak lagi.
"Malam, Tuan Wendell. Apa yang Anda lakukan di sini?"
"Mencari udara segar. Sudah seharian aku berada dalam kabin. Aku mengharapkan angin malam yang menyegarkan, tapi harapanku ternyata tidak kesampaian."
"Benar juga. Aneh sekali. Mengapa angin sama sekali tidak terasa? Padahal kita cukup laju," ujar Boc sambil melihat sekitar mereka. Dia agak menggigil. Pasti karena merasa ini tidak biasa. Boc berkata lagi, dengan nada yang tidak senang, "Sebaiknya saya kembali dulu ke ruang mesin, Tuan Wendell. Kapten tidak senang melihat ada awaknya yang menganggur."
"Katakan pada kaptenmu itu," sahut Aswyn, "aku yang membayar dia untuk pelayaran kali ini. Selain itu, tugasmu bukannya memperbaiki mesin yang rusak? Sepertinya tidak ada yang rusak saat ini."
"Jika itu kemauan Anda," kata Boc, walaupun dia kelihatannya masih agak ragu.
"Ngomong-ngomong, apa yang kapten katakan padamu sampai kamu menghantam pintu tak berdosa itu?" tanya Aswyn.
Boc menjadi merah padam. Sinar dari kristalit cahaya yang ada di dekat mereka membuat wajahnya tampak lebih merah.
"Maafkan kelakuan saya yang kurang ajar tadi," kata Boc dengan nada menyesal. "Saya bahkan melakukannya di depan orang terhormat seperti Anda."
"Tak apa. Kadang-kadang kalau marah kita memang akan lupa dengan situasi di sekitar. Kamu tidak perlu minta maaf, bangsawan seperti kami juga melakukan hal yang sama. Lagi pula, kita sama-sama tidak menyukai Kapten Harlake," kata Aswyn sambil tertawa. "Jadi, kamu ingin menceritakannya?"
Boc menghela napas. "Saya meminta kapten agar kapal berhenti semalam di Enice setelah menurunkan anda di sana. Namun kapten bersikeras agar kami tetap melanjutkan perjalanan ke Mazell. Singkat cerita kami bertengkar setelah itu, lalu saya keluar." Boc memandang kelasi-kelasi yang ada di geladak bawah. "Bukan hanya saya yang ingin singgah di Enice. Mereka juga. Kami orang-orang Enice memang agak kesulitan melupakan kampung halaman. Jangan tanya mengapa kami jadi pelaut. Kami semua mempunyai alasan yang berbeda."
Ceritanya kurang jelas, tapi tidak apa. Ini masalah Boc. "Memangnya mengapa kamu ingin singgah?" tanya Aswyn.
"Ada seorang gadis...," kata Boc pelan tanpa melanjutkan perkataannya.
Aswyn mengangguk mengerti. Remaja, pikirnya. Berapa sebenarnya umur Boc? Mungkin baru 19 atau 20 tahun. Normal saja kalau dia ingin menemui gadisnya itu. "Aku juga pernah muda, Boc. Tapi, kamu tidak perlu menceritakannya kalau kamu tidak mau."
Boc tampak tenang sekaligus merasa bersalah setelah mendengar kata Aswyn. "Anda mengatakan itu seolah-olah Anda sendiri sudah tua, Tuan Wendell."
Aswyn tersenyum. "Menurutmu umur 45 dapat dikatakan muda?"
Mata Boc membesar. Dia menatap Aswyn tidak percaya. "Tidak mungkin! Anda kelihatan baru 27-28. Anda terlalu muda untuk berumur 45. Rambut Anda masih lebat dan tidak beruban. Wajah Anda juga bebas dari keriput."
"Haha, orang yang pertama kali mengetahui hal ini pasti mengatakan itu." Aswyn tertawa.
"Saya tidak percaya," kata Boc lagi.
"Percayalah, Boc. Bulan depan saya mungkin akan mendapatkan cucu pertama."
Boc hanya menggaruk kepalanya. Dia menggumamkan sesuatu, namun suaranya teredam oleh suara mesin uap.
"Menurutmu berapa lama kita akan sampai ke Enice?" tanya Aswyn mengalihkan pembicaraan, berharap Boc tidak menanyakan umurnya lagi.
Boc melihat daerah sekeliling. "Saya mengenal daerah laut ini, jadi sekitar tiga jam lagi, Tuan Wendell. Anda sudah mengepak barang-barang?"
"Sejak pagi tadi."
"Baguslah, Tuan Wendell. Kapten sering membuang barang yang dianggapnya tidak berguna ke laut. Dia mungkin saja melakukan hal yang sama jika Anda melupakan buku-buku Anda di sini," kata Boc.
Aswyn telah memasukkan barang-barangnya sejak Boc mengatakan kalau mereka akan sampai ke Enice sekitar malam ini, termasuk buku-buku penemuannya. Selain buku harian itu, barangnya yang lain sudah masuk rapi dalam kopernya.
Boc permisi ke ruang mesin setelah percakapan tersebut. Aswyn masih tetap di tempatnya dan menunggu datangnya angin. Namun karena angin tidak datang-datang juga, dia masuk kabinnya kembali. Buku hariannya masih ada di meja. Dia memikirkan apakah harus melanjutkan tulisannya pada buku itu. Tulis saja. Dia membuka kembali buku tersebut dan mulai menulis kembali percakapannya dengan Boc. Lagi pula, sebentar lagi dia akan sampai ke Enice, tidur jadi terasa kurang efektif.
✴ ✴ ✴
Aswyn baru selesai menulis ketika pintu kamarnya diketuk seseorang. Sepertinya orang tersebut sedang buru-buru karena dia langsung mengetuk lebih keras lagi. Membuka pintu, Aswyn melihat wajah pucat Boc menatapnya.
"Ada apa, Boc?" tanya Aswyn was-was. Wajah Boc membuatnya tidak tenang.
"Sebaiknya Anda lihat sendiri, Tuan Wendell. Oh, bawa juga koper Anda."
Dengan agak ragu, Aswyn kembali lagi ke geladak atas kapal. Suara mesin tidak lagi terdengar. Kapten Harlake sudah ada di sana, termasuk beberapa awak kapal yang lain. Awalnya Aswyn tidak tahu mengapa hampir setengah awak kapal berkumpul di geladak atas, tapi ketika dia menoleh ke depan, dia langsung mengerti.
"Kita sudah sampai?" tanya Aswyn heran. Di kejauhan dia dapat melihat sedikit tiga cahaya dan beberapa cahaya lagi, yang langsung dianggapnya berasal dari Enice.
"Sepertinya," kata Kapten Harlake.
"Tapi kata Boc, seharusnya masih ada sekitar dua jam lagi," kata Aswyn melihat arlojinya.
"Seharusnya. Aku tidak meragukan anak ini." Kapten Harlake melirik Boc. "Namun, kapal kita-tanpa alasan yang jelas-menjadi lebih laju dari biasa."
"Apa itu bukan hal yang bagus?" tanya Aswyn.
"Kemudi tidak bisa digerakkan , mesin mati," balas kapten Harlake. "Kita akan terus melaju ke Enice dalam kecepatan seperti ini. Jika kapal tidak dihentikan, kita akan menabrak pantai. Menurut Anda itu bukan hal yang bagus?"
Aswyn terdiam mendengar perkataan kapten itu. Dia baru sadar kalau mesin kapal tidak hidup. Pantas saja bunyi itu tidak mengganggunya. Ditambah dengan tidak adanya angin membuatnya semakin tidak enak. Mereka sudah melaju di atas air, tetapi Aswyn sama sekali tidak merasakan angin yang menerpa tubuhnya. Beberapa awak kapal bergumam di sekitar Aswyn. Mereka pasti membicarakan keanehan-keanehan ini juga.
Entah mengapa, Boc menoleh ke atas. Namun, dia malah hampir terduduk setelah melihat ke atas kapal.
"Kapten, a-apa yang ada di atas kita?" tanya Boc.
Aswyn dan Kapten Harlake ikut menoleh.
"Itu ... orang kan?" tanya Boc lagi tidak percaya.
Seseorang yang berjubah melayang di atas mereka, mungkin sekitar 10 meter. Orang tersebut berdiri dan kelihatan sedang bersedekap. Aswyn tidak dapat melihat wajahnya karena tertutup tudung jubah. Melihat posisinya yang tetap berada di atas mereka, Aswyn menyimpulkan orang itu terbang dengan kecepatan sama seperti kapal ini. Namun jubah orang itu tidak ikut melayang terkena angin. Apa di sana tidak ada angin juga?
"Caster Angin," kata Kapten Harlake tidak senang. "Pasti dia yang melakukan ini."
"Itu tidak menjelaskan bagaimana dia menghentikan kemudi kita dan mematikan mesin," kata Aswyn tanpa sadar, tetap melihat orang itu. "Caster Angin hanya bisa mengendalikan angin, bukan mesin."
"Pasti ada temannya, Caster Air mungkin," balas Kapten Harlake ketus. "Itu menjelaskan bagaimana kapal kita melaju dan kemudi yang tidak dapat digerakkan."
Caster Air terus mendorong mereka dengan kemampuan aucast-nya, dan temannya di atas, apa yang dilakukan orang itu di sana? Untuk menggerakkan perahu ini dengan kecepatan penuh tanpa menggunakan mesin, hanya Caster Air yang diperlukan. Namun, Caster Air tidak akan mampu mematikan mesin juga. Lagi pula, apa yang dilakukan orang berjubah itu di atas? Menghilangkan angin di sekitar mereka? Itu pekerjaan yang tidak perlu. Aswyn mengenal beberapa orang Caster dan hampir semua dari mereka tidak akan mau menghabiskan Auranya hanya untuk menghilangkan angin. Ada yang salah di sini.
"Kapten, lihat kota!" teriak seorang awak kapal yang ada di depan.
Aswyn dan Kapten Harlake sama-sama menoleh ke arah Enice yang sudah dekat. Apa yang dilihat Aswyn setelah itu membuat hatinya langsung menciut. Beberapa tempat di Enice terbakar dengan api yang sangat tidak biasa. Tiga buah api meninggi, melebihi bangunan manapun yang ada di Enice. Semakin mereka mendekat, Aswyn semakin dapat melihat dengan jelas keadaan kota. Beberapa orang penduduk tampak berlarian. Ketika mendekati pantai, dia dapat melihat beberapa orang yang sedang bertarung. Di beberapa tempat, mayat-mayat bergeletakan begitu saja.
Kapal mengurangi sendiri kecepatannya, tapi tetap saja menabrak pantai. Aswyn terjatuh ke belakang. Beberapa awak kapal juga mengalami nasib yang sama. Hanya Kapten Harlake dan Boc tidak terjatuh. Aswyn berdiri lagi sambil tetap memegang kepalanya.
Setelah berdiri, otot-ototnya langsung menegang. Dia tidak bisa bergerak. Semua bagian tubuhnya kaku. Hanya matanya saja yang tidak terkena efek itu.
Orang berjubah dan bertudung gelap yang ada di atas mereka turun tepat di depan kapal. Dia tidak menoleh ke arah mereka, namun berjalan menuju seorang yang berjubah biru, yang seperti sedang menunggunya. Aswyn tidak tahu harus melakukan apa, kakinya juga tidak mau digerakkan. Dari sudut matanya, dia melihat kalau yang lain juga seperti dirinya. A-apa yang terjadi?
Mayat-mayat yang ada di pantai-sekarang Aswyn baru menyadari kalau mereka adalah prajurit kota-tampak mengenaskan. Beberapa di antara mereka terbakar hidup-hidup. Yang melakukannya pasti orang-orang berjubah itu karena hanya mereka yang tampak tenang.
Seseorang yang bertopeng tiba-tiba muncul di samping orang berjubah biru. Orang yang berjubah biru membuka tudung jubahnya, menampakkan seorang wanita berkulit putih dan rambut biru panjang. Yang berjubah hitam menoleh ke arah Aswyn dan Kapten Harlake.
"Aku sudah membawakan kalian kapal, jadi cepat pergi dari sini!" kata orang itu. Si wanita hanya mengangguk.
"Di mana Shelk?" tanya wanita itu pada yang orang bertopeng di sampingnya.
"Masih bersenang-senang di kota. Meledakkan apapun di sana-sini."
"Panggil dia kemari!" perintah wanita biru.
Sebuah jalan transparan langsung muncul di kaki orang bertopeng. 'Jalan' itu berawal di dekat orang bertopeng dan menuju kota. Dia menginjakkan kakinya di jalan dan-Aswyn tidak percaya dengan apa yang dilihatnya-orang itu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali di atas jalan itu. Aucast apa itu? Angin? Kemampuan Accelerating? Accelerating bisa membuat seseorang bergerak laju, tapi biasanya tidak memerlukan medium seperti 'jalan'.
"Jadi dia tidak ada di sini," kata orang berjubah hitam. "Menurutmu dia ada di kota berikutnya?"
"Hanya kota itu yang tinggal. Dia mungkin ada di sana," kata wanita biru hati-hati.
Orang berjubah hitam melihat ke sekitar mereka. "Seandainya dia tidak ada di sana, jangan asal-asalan menyerang seluruh kota. Kita masih belum bisa menampakkan diri sekarang."
Mata Aswyn membesar. Kalimat terakhir pernah didengarnya di Elandor hanya beberapa Minggu yang lalu, walau yang membicarakannya orang yang berbeda. Berbagai macam kemungkinan berkelebat di pikirannya. Sang Pencipta, jangan-jangan mereka....
Wanita biru mendengus. "Katakan itu pada Shelk."
Baru saja wanita itu selesai bicara, orang bertopeng itu kembali lagi. Seperti tadi, kedatangannya sangat tiba-tiba. Dia muncul begitu saja, tapi kali ini dia membawa seorang anak kecil yang meronta-ronta. Tangan anak itu terbakar oleh api, tapi Aswyn tidak merasa kalau anak itu meronta gara-gara api tersebut.
"Lepaskan aku!" teriaknya.
"Nah, anak labil ini yang memulai semuanya. Tiba-tiba saja dia meledakkan rumah seseorang dan memulai semua pembantaian yang tidak perlu ini," kata wanita biru.
"Kau harus bisa mengatur anak buahmu sendiri, Vega," kata orang berjubah sambil berjalan melewati wanita biru itu, Vega. "Gunakan kapal yang telah kubawakan untuk kalian itu baik-baik. Aku masih punya urusan lain." Setelah mengatakan itu kegelapan tiba-tiba datang dari langit dan menyelimutinya. Kegelapan tersebut kembali lagi ke langit dan menghilang bersama-sama dengan orang berjubah tadi.
Aswyn langsung menghela napas panjang. Keringat dingin bermunculan di wajahnya. Dia menggerakkan jari-jarinya. Berhasil. Dia sudah bisa bergerak sekarang. Dia menoleh ke arah yang lain. Mereka juga berhasil menggerakkan diri lagi.
Namun, hati Aswyn semakin kalut. Kemampuan aucast yang orang-orang ini tunjukkan sangat berbeda dengan kemampuan aucast Caster sekarang. Yang mereka lakukan hanya dapat dikerjakan oleh Caster-Caster pada zaman Anima dahulu. Mereka benar-benar telah bangun....
"Tadi itu apa?" tanya Boc dengan wajah pucat mengatur napasnya. Vega dan kedua anak buahnya langsung menoleh ke arah mereka. Boc terdiam.
"Cih! Kita naik kapal itu?" tunjuk anak berapi pada kapal mereka. Api di tangannya perlahan menghilang.
"Ya, gara-gara kamu. Sekarang kita jadi orang paling diinginkan di seluruh Thrusia," kata orang bertopeng. Suaranya hanya samar saja terhalang oleh topeng yang dipakainya. "Kita tidak akan bisa menggunakan kereta api lagi."
"Hehe, kita tinggal membunuh orang-orang yang akan menangkap kita," kata anak itu dengan wajah senang. "Lalu membakar kota mereka. Membakar kota menyenangkan. Jangan katakan kalau kau tidak menyukai membunuh orang-orang itu, Slaft?"
Tanpa menantikan jawaban Slaft, anak itu-siapa namanya? Shelk?-langsung meloncat ke kapal. Slaft sendiri membuat sebuah tangga transparan. Dia dan Vega naik melalui tangga itu.
Baru saja Shelk naik, beberapa buah pedang langsung mengarah padanya. Kelasi-kelasi yang berada di geladak bawah menyerangnya secara bersamaan. Kapten Harlake berteriak menghentikan mereka. Namun mereka tetap menyerang. Shelk sempat mengelak. Tangannya kembali berapi. Dia menyentuh pedang-pedang yang akan menyerangnya. Pedang-pedang itu meledak jadi pecahan-pecahan kecil. Shelk tersenyum lebar. "Kalian ingin bermain?"
Shelk bergerak cepat sekali, dia langsung berada di depan seorang kelasi yang paling dekat dengannya. Dia menyentuhkan tangan berapinya pada orang itu. Dengan perasaan ngeri, Aswyn melihat tubuh orang tersebut terbakar. Dia masih sempat mendengar orang tersebut berteriak, sebelum Shelk melemparkan kelasi yang terbakar itu ke arah kumpulan kelasi lain. Tubuh orang itu langsung meledak seperti bom, mencederai beberapa orang yang berada di sana.
Vega naik ke kapal tepat sebelum Shelk akan menyerang yang lain.
"Cukup!" kata Vega. Nadanya biasa saja, tetapi anak itu berhenti. "Kita tidak ingin semua awak kapal mati, kan?"
Perkataan wanita itu membuat Shelk mematikan apinya. Slaft berjalan ke arah anak itu, menangkapnya leher bajunya dan menyeretnya kembali ke arah Vega.
"Siapa kapten-" Vega langsung menghindar dari sebuah anak panah. Anak panah itu hampir saja mengenai kepalanya.
Aswyn dan mungkin semua orang yang berada di sana menoleh tempat asal panah itu berasal. Di pantai, seorang pemuda dengan rambut sebahu-mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Boc-membidikkan busurnya ke arah Vega. Seekor anjing abu-abu menggonggong di sampingnya.
"Dia lagi," kata Vega tidak senang. "Slaft, pastikan dia tidak mengacaukan kita. Racunku ternyata tidak menghentikannya."
"Dia tampak marah," kata Shelk sambil membuat tangannya berapi lagi.
"Kau menghancurkan rumahnya, tentu saja dia marah," kata Slaft mengeluarkan pedangnya.
Slaft membuat beberapa gerakan dengan tangan kirinya. Anak panah kembali meluncur ke tempat mereka. Namun, anak panah-anak panah itu tidak sampai. Semuanya berhenti tepat di depan Slaft. Pedangnya langsung menghancurkan panah yang tetap terapung di udara itu.
Perisai angin, pikir Aswyn.
"Kapten kapal, keluarkan kapalmu dari tempat ini. Sekarang!" perintah Vega pada mereka semua.
Kapten Harlake tampak bimbang. Vega langsung melihat ekspresinya. "Jadi kamu kapten kapal. Cepat keluarkan kapal ini!"
"Atau kami bisa membunuh kalian semua, seperti kami menghabisi ramai prajurit di kota," sambung Shelk sambil tersenyum lebar.
"Baiklah," kata Kapten Harlake akhirnya. "Kalian dengar apa yang dikatakan wanita ini. Cepat hidupkan mesin dan keluarkan Rancewind dari pantai!"
Awak kapal yang lain setengah hati menurutinya. Beberapa awak lain masih berdiri di tempatnya. Aswyn menghela napas. Dia sudah takut kalau akan ada pertumpahan darah lagi. Boc di sampingnya masih pucat.
"Hei," kata Shelk sambil memegang baju Aswyn. Bagaimana dia bisa ke atas secepat ini? Keringat dingin bermunculan di wajah Aswyn. Walaupun Shelk hanya menyentuh bajunya, kulit Aswyn langsung terasa terbakar. Dia meringis kesakitan. "Orang ini memiliki pakaian yang berbeda. Dia bukan pelaut. Boleh aku membunuhnya, Vega?"
Tangan Shelk mulai berapi lagi. Kulit Aswyn tidak lagi terasa terbakar, tapi benar-benar terbakar sekarang. Dia meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari pegangan Shelk, tapi tidak bisa. Pegangan Shelk pada bajunya sangat kuat. Tubuh Aswyn melemah dan dia memejamkan mata saking tidak tahannya dengan api Shelk. Koper yang berisi semua barang-barangnya jatuh ke laut. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalanya. Aku tidak boleh mati sekarang, tidak boleh mati, tidak mati ... Orang-orang harus diperingatkan ... Aku ingin melihat cucuku ... Sang Pencipta, jangan ambil nyawaku sekarang! teriak Aswyn. Pikirannya semakin kacau.
"Tuan Wendell!" Samar-samar dia mendengar suara Boc. Shelk bergerak sedikit. Suara seseorang yang jatuh ke geladak bawah langsung terdengar.
"Hei, jika dia kulemparkan pada orang yang terus mengganggu kita itu, apa yang akan terjadi?"
"Orang itu mungkin akan terganggu, selama beberapa detik," kata Slaft datar.
"Cukup lama," balas Shelk.
Tubuh Aswyn terbakar seluruhnya. Dia sudah tidak tahan lagi. Tubuhnya terasa mau meledak sekarang. Aswyn hanya dapat merasakan kalau dia dilempar ke arah pantai. Tidak mati ... cucuku ... mereka bangun....
Kegelapan langsung menjemputnya.
✓✓✓
Well, jangan lupa vote kalau suka dengan chapter ini ^^. Ada pertanyaan, saran atau komentar, silakan masuk ke comment.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top