Bab 9 : Anima Cahaya

♢ ♢ ♢

Tiga pilar api merangkak tinggi ke angkasa, dilatari oleh kota yang merah membara. Seorang anak kecil tertawa sambil meledakkan apa pun yang disentuhnya. Dua orang lagi, wanita berambut biru dan seorang yang bertopeng, memperhatikan anak itu tanpa melakukan apa-apa. Dia telah berada di antara ketiga orang itu sejak tadi, berusaha menghentikan mereka. Apa daya, tubuhnya transparan; menyentuh mereka saja dia tidak sanggup.

Entah apa yang terjadi, wanita berambut biru tiba-tiba menoleh dan berjalan ke arahnya. Dia berusaha lari, terbang atau apa saja. Tubuhnya masih melayang, tapi dia tetap terpaku di tempat. Wanita tersebut tersenyum senang setelah mendekat. Jari-jari halus wanita itu mulai membelai pipinya. Senyumannya semakin melebar.

Api biru tiba-tiba keluar dari tangan si wanita, membakar seluruh jiwa dan raganya.

Ren langsung bangkit.

Gelap. Jantungnya berdegup kencang. Dia menyentuh pipinya, mencoba merasakan apakah masih ada api biru di sana. Tidak ada. Menghela napas lega, dia memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mimpi aneh, lagi. Mengapa wanita itu dan anak berambut merah tampak familiar?

"Argh!"

Nyeri di bahu kiri membuat dia langsung terjaga. Aku ... di mana? Cuma warna hitam yang menemaninya. Telapak tangan yang bergores dan terasa diiris oleh pisau membuat Ren mulai menyadari situasinya sekarang. Dia sempat bergulat dengan sulur gelap itu saat berusaha mengambil tas kristalit. Setelah itu....

Aku ... terjatuh, kan? Apa aku mati? Keringat dingin mengalir dari pelipis Ren. Ajaran Sang Pencipta mengatakan kalau dunia setelah kematian cuma ada dua, sebuah tempat penuh cahaya dan satu lagi penuh dengan kegelapan, tergantung perbuatan manusia saat hidupnya. Sekarang, dia ada di tempat yang dipenuhi kegelapan.

Jangan pikirkan ... kegelapan. Ren menutup mata sebentar, menenangkan hatinya yang kacau. Jantungnya semakin melaju menyadari ketidakadaan cahaya sekarang. Tenang. Tenang! Pikirkan yang lain. Seperti ... protes! Aku harus protes. Aku selalu berbuat kebaikan selama hidupku. Tidak seharusnya berada di sini.

Ren berusaha mengangkat tangan kanannya, tapi rasa nyeri di sendi-sendi tulangnya membuat dia mempertanyakan lagi apakah dia masih hidup atau tidak. Tangan kirinya tak sengaja menyentuh bola kecil. Kristalit cahaya. Dia pasti sudah melompat senang sekarang, jika tubuhnya tidak sakit.

"Sepertinya aku belum mati," gumam Ren. Orang mati tidak seharusnya merasakan sakit, apalagi membawa barang bawaan.

Ren berbaring lagi. Tanah tempat dia merebahkan diri terasa sangat lembut, tidak terasa seperti tanah, malah seperti ranjang. Menolehkan wajah ke samping, lumut-lumut langsung menyambut pipinya. Ren mengambil kristalit cahaya dan menyalakan benda itu.

Kegelapan abnormal itu sudah tidak ada. Cahaya dari kristalitnya dapat menerangi bahkan sampai ke ujung tempat dia berbaring. Ren berusaha bangkit. Kali ini dia berhasil, walau ringis kesakitan tetap keluar dari mulutnya. Seluruh bagian kiri tubuhnya terasa baru dilindas lok mini. Tulang tangan kirinya pasti patah. Saat dia jatuh, mungkin sisi kiri tubuhnya menghantam tanah terlebih dahulu. Ren cuma mengingat kalau dia langsung pingsan ketika tubuhnya menabrak tanah.

Dan aku masih hidup. Ha ha.

Memperhatikan sekitarnya, Ren bersiul pelan. Dia pasti berada di lautan lumut; lumut yang namanya menggunakan nama Elysa itu. Warna hijau menjadi warna paling dominan di lantai. Dia menghentakkan kaki kanan; kakinya memantul sedikit seolah ada pegas di tanah. Berapa sebenarnya tebal lumut-lumut itu? Lumut tidak seharusnya bersikap seperti ini. Apakah mereka yang menyelamatkannya? Membuatnya memantul kembali mungkin? Betapa pun konyolnya gambaran seperti itu, Ren tetap tidak bisa menghilangkannya. Siapa lagi kalau bukan mereka? Susah payah, tapi penuh kegembiraan, dia mengambil lumut itu dan mengecupnya. Hah, jika Elysa ada di sini, Ren akan menarik gadis itu dan menciumnya. Persetan Elysa membekukannya atau tidak.

Setidaknya otakku masih normal, sempat berpikir seperti itu.

Dinding gua—jika ini masih bisa dipanggil gua—menjulang tinggi, campuran antara cokelat kehitaman tanah dengan putih lightite murni. Jika Ren tidak teliti, mungkin dia tidak akan menyadari pintu setinggi empat meter yang hampir menyatu dengan dinding gua di sisi kirinya.

Dia menengadah. Cahaya kristalit sepertinya tidak bisa menerangi sampai ke atas. Cuma warna hitam yang mengisi kekosongan di sana. Semoga saja yang lain dapat melihat dirinya. Apa yang teman-temannya lakukan? Apa mereka panik? Dia harus cepat kembali sebelum pingsan lagi.

Energi Ren perlahan-lahan kembali, tapi rasa sakit di tubuhnya bertambah parah seiring dengan semakin lama dia terjaga. Merasa tidak ada yang dapat dilakukannya di sini, dia berjalan lambat menuju pintu.

Dia membuka pintu itu dengan ragu.

Ruangan yang dimasukinya sekarang tampak bersih. Lantainya bahkan agak mulus seperti lantai rumah. Jika dibandingkan, luas seluruh ruangan ini hampir mirip dengan perpustakaan Tuan Laird. Sebuah pintu menghiasi dinding di sisi yang berlawanan. Tulisan-tulisan menggunakan huruf yang sama dengan huruf yang ada di cincinnya terukir di atap dan dinding.

Ren mendekati dinding yang tidak ada tulisannya, tapi mempunyai gambar-gambar. Dia mendekatkan kristalit cahaya untuk memperjelas gambar-gambar itu. Napasnya langsung tertahan. Tampak seorang wanita dengan empat pasang sayap memberikan pedang kepada seorang laki-laki yang berlutut. Di belakang laki-laki itu seekor elang raksasa merentangkan sayap hitamnya, sepertinya ia milik laki-laki yang berlutut itu. Banyak orang yang memandang. Tak jauh dari kerumunan orang itu, seorang laki-laki bersayap hitam bersedekap dan seekor makhluk menyerupai manusia, namun berkepala kumbang tanduk dan berkulit serangga memperhatikan dengan saksama. Wanita itu jelas penting sekali kelihatannya.

Itu Lucia, kan? Yang bersayap hitam itu pasti Herol—Anima Kegelapan, yang seperti kumbang Dyzek—Anima Tanah. Ini ... ini hebat! Melupakan sakitnya, dia bergerak mendekati dinding yang lain. Sial, pena dan buku catatannya tertinggal di atas. Dia harus mengandalkan memorinya sekarang.

Semua gambar di sini sepertinya melukiskan kejadian penting di kehidupan Lucia. Dari kelahirannya, sampai dia menikah dengan Herol, lalu menjadi ratu Anima. Anima-Anima lain juga tergambar dengan jelas. Ada gambar wanita yang seluruh tubuhnya terbuat dari air—pasti Visela—sedang berdebat dengan Lucia. Lucia dan Herol menonton pertarungan Pyralis, Anima Api dengan Dyzek. Ren berjalan sampai gambar terakhir, yang memperlihatkan Lucia dan Herol terbang di langit Riege sambil memperhatikan ... matahari? Tapi mengapa seperti ada orang dalam matahari itu? Dia cuma bisa menduga maksud lukisan itu, karena dinding di sebelahnya masih bersih dari ukiran-ukiran.

Tempat apa ini? Mengapa tidak berlanjut? Berbagai macam pertanyaan sekaligus jawabannya—walau terkesan asal-asalan—memenuhi otak Ren. Dia sudah tidak lagi peduli dengan tangan dan kakinya yang berteriak kesakitan. Apa karena ... setelah ini Anima-Anima mulai menghilang dari dunia?

Penemuan ini bisa membuat dunia arkeologi terguncang. Frozen Kingdom yang terjadi seribu tahun lalu menyebabkan kehancuran pertama Riege, satu-satunya pusat segala ilmu pengetahuan saat itu. Kontak dan pengetahuan dengan era sebelumnya hampir menghilang, termasuk dengan era di mana Anima masih menguasai dunia. Hanya sedikit informasi tentang zaman sebelum Frozen Kingdom yang terhindar dari bencana tersebut. Pengetahuan tentang Anima, Caster, dan juga ajaran Sang Pencipta merupakan contoh yang selamat, tapi masih dirasa sangat kurang.

Akan tetapi, ada juga orang yang berhasil menemukan dokumen-dokumen yang luput dari kejadian itu. Seperti Anima di Revaris. Elysa seperti yakin sekali kalau buku itu memuat informasi yang lebih lengkap. Well, pantas saja dia seperti bernafsu sekali untuk memilikinya.

Setelah termenung beberapa saat, menatap puas—dan sedikit kecewa—ke sekeliling ruangan itu, Ren menuju pintu yang satunya lagi. Semoga saja kristalit cahayanya tidak segera menghilang setelah menghabiskan Aura yang dipakainya. Apa lagi itu adalah kristalitnya yang terakhir. Tas kristalit yang jatuh dengannya tidak dia temukan di lautan lumut itu.

Jari Ren memanas ketika dia membuka pintu. Cincinnya menyala, berkedip, kemudian terang kembali. Seperti biasa, kristalitnya pun mati. Hanya saja yang tidak disangka-sangka, cincin itu melepaskan diri dari jarinya dan melayang di udara.

"Apa—"

Cincin itu langsung terbang ke pintu yang terbuka. Susah payah, dia mengejar cincin itu, tidak menghiraukan darah di telapak tangannya yang menetes lagi. Cincin tersebut tetap terbang dan bersinar terang, membuat Ren dapat melihatnya dalam kegelapan. Sekarang dia ingin tahu mengapa cincin itu ingin kabur darinya.

Bukankah itu yang kau inginkan?

Cincin itu berbelok ke kiri. Dia tetap berlari di lorong dan mengambil jalan ke kiri juga. Cincin itu masuk ke sebuah ruangan yang bersinar terang. Melihat ada cahaya, Ren semakin mempercepat larinya dan masuk ke ruangan itu.

Napasnya langsung tercekat.

Banyak sekali lightite yang menyala di ruangan ini, menyebabkan seluruh ruangan layaknya terkena sinar matahari. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya. Seorang wanita, wanita yang sama persis dengan gambar yang dilihatnya di dinding tadi, sedang berbaring di ranjang batu. Di sampingnya, sebuah pedang pendek tergeletak begitu saja.

Cincin itu melayang dekat wanita tersebut. Ren mendekat dengan ragu. Kepercayaan dirinya ketika membuka pintu tadi menguap seketika.

Lucia. Sang Anima Cahaya sendiri.

Mata Ren berkedip-kedip, meyakinkan dirinya ini bukan mimpi. Ini merupakan kali pertama dia melihat seorang Anima secara langsung. Hah, ini mungkin kali pertamanya manusia melihat Anima setelah 1.300 tahun. Anima yang terbaring itu tinggi, dua kali lebih tinggi daripada Ren, sama sekali tidak cocok dengan pedang kecil di sampingnya. Kulitnya putih dan rambutnya panjang berwarna putih keperakan. Matanya tertutup. Keempat pasang sayapnya terkulai lemah. Tidur? Dress putih yang dipakainya bersinar sendiri. Dia yakin kalau kulit Anima itu juga bersinar. Keberadaannya sendiri bahkan cukup untuk menerangi ruangan ini. Masih agak shock, Ren menggerakkan tangannya di wajah Lucia, namun tidak ada reaksi.

Ruangan ini agak sempit dari ruangan yang sebelumnya. Jika batu yang dijadikan ranjang oleh Lucia memang ranjang, ini mungkin kamar tidurnya. Ren tiba-tiba saja ingin keluar, tapi keingintahuannya menang. Ini kesempatan langka, etika nanti saja. Di kamar ini, lightite bahkan lebih banyak lagi. Benda itu menghiasi hampir sebagian dari dinding dan atap. Tidak seperti lightite yang ditemukan di pertambangan yang acak letaknya, lightite di sini sangat teratur. Beberapa di antaranya membentuk pola bunga di dinding. Semua pola-pola itu berpusat pada Lucia.

Ini mungkin menjelaskan mengapa banyak sekali lightite ditemukan di Anora, bahkan hampir mengalahkan lightite di Riege. Keberadaan Lucia pasti membuat batuan di sini bertransformasi menjadi bahan baku pembuat kristalit cahaya itu.

Cincin itu tetap menyala dan terapung di atas Lucia. Ren berusaha mengatur napas melihat pemandangan tersebut.

"Apa cincin itu milik Anda?" bisik Ren akhirnya.

Lucia tidak menjawab. Ren tidak mengharapkan jawaban, hanya sebuah alasan agar dia bisa berbicara. Ketika dia perhatikan dengan lebih teliti lagi, wanita itu bahkan tidak bernapas. Tapi Lucia tampak hidup sekali; Ren tidak percaya kalau dia sudah mati. Wajahnya memancarkan sinar kehidupan yang sulit dipahami Ren.

Cincin terapung itu tetap bersinar terang. Mengapa tidak padam-padam sih? Jangan-jangan kristalit cahaya di seluruh kota sedang padam sekarang. Elysa dan Basil mungkin masih berada di dekat jurang itu. Bagaimana kalau mereka ikut terjatuh gara-gara gelap? Sang Pencipta, bagaimana kalau sulur gelap itu kembali lagi? Tenang. Mereka tidak bodoh—oke, Basil mungkin, tapi Elysa tidak. Mereka pasti aman dan tidak akan melakukan kesalahan yang sama dengannya.

Tapi bagaimana dengan kota? Dia harus melakukan sesuatu. Mungkin kalau dia menjauhkan cincin itu dari Lucia, cincin akan kehilangan cahayanya dan kristalit akan hidup lagi. Sebaiknya dia membawa benda itu ke ruangan tadi, tempat di mana ia masih tidak bertingkah aneh. Ren langsung mengambilnya.

Banyak hal aneh yang selama ini melintas di kehidupan Ren, dan kejadian ini menambah lagi koleksinya. Ketika dia menyentuh cincin itu, benda tersebut langsung mengeluarkan sinar yang terang, sangat terang bahkan sampai tangan Ren tampak transparan. Dia refleks menutup mata. Ren tidak tahu apa yang terjadi, dan dia tidak bisa melepaskan genggamannya. Walaupun matanya tertutup, tetap saja silaunya tak tertahankan.

Setelah terasa berjam-jam, akhirnya cahaya itu meredup. Perlahan dia membuka mata, takut kalau sinar itu masih ada.

Mengapa akhir-akhir ini setiap membuka mata, aku akan berada di tempat yang aneh? Dia tidak lagi berada di kamar Lucia. Berlawanan sekali dengan saat dia bangun tadi yang serba hitam, sekarang semua serba putih. Setiap benda yang ada di tempat itu berwarna putih dan bersinar. Lucia dan ranjangnya sudah tidak ada. Panik, ingin tahu, bingung bercampur jadi satu.

"Aku di mana?"

Cincin itu terapung beberapa meter di depannya. Padahal tadi masih Ren genggam. Mungkin dengan cincin itu dia akan kembali. Tapi terlalu banyak kemungkinan. Jangan-jangan dia akan terlempar ke tempat yang lebih aneh lagi. Ren menghela napas panjang. Bagaimanapun, dia harus tetap mengambil risiko. Sekarang dia tidak mempunyai banyak pilihan. Lagi pula, tempat ini membuat bulu kuduknya berdiri. Terlalu monoton ... dan terlalu putih.

Ren mendekati cincin itu. Tangannya mulai terjulur, ketika terdengar suara dari belakangnya.

"Kamu ingin meninggalkan tempat ini?" tanya seseorang.

Suara lembut dan sejernih air itu membuatnya berhenti dan langsung menoleh. Lucia yang berbicara.

"Saya...." Ren menelan ludah.

Lucia diam, mungkin menunggu dia menyelesaikan kalimatnya. Lucia melayang, tapi keempat pasang sayapnya tidak terlihat bergerak. Dia mulai terbang mendekati Ren. Ren cuma terpana.

"Ada apa denganmu?"

Ren menelan ludah mendengar suara yang seperti bernyanyi itu. Dia pernah mendengarnya, dan terjadi belum lama ini. Tapi di ma— Oh, mimpi semalam.

"Anda yang menyelamatkan saya, saat saya jatuh...," mulai Ren. Jatuh, dalam mimpi. Apa kita harus berterima kasih untuk itu? "Terima kasih."

Kali ini Lucia menyipitkan matanya. Ren langsung merasa kecil di bawah tatapan itu. "Aku tidak tahu bagaimana kamu masuk ke dalam Dunia Mimpiku, pindah ke Dyzek, lalu pindah lagi ke Starion." Lucia berlutut, membuat mereka sama tinggi. Kedua tangannya memegang pundak Ren. Sedangkan matanya semakin tajam menatap Ren. "Tapi jangan pernah lakukan itu lagi, jika kau tidak ingin terbakar hidup-hidup."

"Saya...." Apa yang harus dikatakannya? Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi.

Lucia mendesah. Dia melepaskan pegangannya pada pundak Ren dan terbang menuju cincin yang masih bersinar itu. Lucia menggenggam cincin tersebut.

"Terlalu awal," gumamnya sendiri. "Aku masih lemah." Lucia mengepakkan sayapnya. Dalam sekejap dia sudah berada di depan Ren. "Di mana yang lain? Bawa aku pada mereka. Pada Herol lebih bagus lagi."

Awalnya Ren agak bingung dengan maksud pertanyaan itu. "Maksud Anda pada Anima lain?" tanya Ren hati-hati. "Maaf, Nyonya, tapi Anima lain sudah tidak ada. Mereka sudah menghilang 13 abad yang lalu. Bukannya Anda ... ikut menghilang bersama mereka?"

Lucia menatapnya tajam, lagi. Ren kembali menciut. Mengapa wanita yang kutemui akhir-akhir ini sering melihatku seperti itu? Lucia menjawab perlahan, "Aku cedera parah saat perang sudah mencapai puncaknya. Aku tertidur dan cuma tahu kalau yang lain berhasil menyegel Starion."

Dia ngomong apa? Dan siapa Starion? Kalau ada perang dalam era Anima, wajar saja Ren tidak tahu. Dia cuma tahu tentang perang-perang yang terjadi setelah Frozen Kingdom berakhir.

"Dyzek sudah meninggal. Tidak ada lagi yang menjaga penjara Starion," ucap Lucia sambil menatapnya. Ren melihat ke arah lain, tidak tahan dengan iris mata hitam berkilat—satu-satunya warna hitam pada Lucia—yang terasa menembus pikiran itu. "Kau sendiri juga mendengar teriakannya, kan?"

Ren mengangguk perlahan. Jadi itu suara Dyzek. Wow. Ren langsung menyadari kalau dia telah menyaksikan—atau mendengar—kematian salah satu Anima. Dia bisa masuk sejarah. Tentu saja dengan berasumsi kalau orang lain percaya dengan mimpinya.

"Aku harus keluar dari sini," kata Lucia.

"Boleh saya ikut ... keluar?" tanya Ren. "Saya juga ikut tersesat di sini sebenarnya."

Untuk pertama kalinya, wajah Lucia melunak. Dia tersenyum. "Tentu, Ren Altera. Aku harus berterima kasih juga karena kau telah membangunkanku."

Ren mengernyitkan dahinya. Dia tidak yakin bagaimana dia membangunkan Lucia atau bagaimana Lucia tahu namanya. Dia cuma menyentuh cincin itu. Apa mungkin presensinya membuat Lucia terbangun? Tidak mungkin sesederhana itu.

Cincin di genggaman Lucia melayang kembali. "Pegang itu."

Merasa diperintah, Ren berjalan mendekati Lucia. Namun, melihat cincin itu tetap bersinar dia berhenti.

"Kristalit di kota pasti masih padam sekarang. Bagaimana mematikan cincin itu?" desak Ren langsung. Sedetik kemudian baru dia menyadari kelancangannya.

"Kristalit?" Lucia tampak kebingungan sesaat, sebelum mengerutkan dahi. "Cincin ini memang selalu bersinar kalau dekat denganku. Aku dapat memadamkannya kalau kau mau."

"Tolong padamkan, dan jangan buat ia bersinar lagi," mohon Ren.

Cincin itu pun padam.

"Akhirnya." Ren menghela napas lega. Masalah kristalit yang padam mungkin sudah selesai.

"Satu hal yang harus kau ketahui Ren, cincin itu bukan milikku. Altair membuatnya agar bisa berkomunikasi denganku. Sumber energinya berasal dari Aura milik Revaris sendiri. Jadi jangan heran kalau benda itu bersinar sendirian. Setiap ada gangguan dalam Aura Revaris mungkin akan membuatnya bersinar lagi. Apalagi jika ada manusia atau makhluk lain mem-Binding Aura Revaris dalam skala besar. Itu yang pernah Altair katakan padaku."

Huh? Ren cuma mengerti setengah dari yang dikatakan Lucia, tapi maksudnya jelas sekali. Bahkan saat Altair—pahlawan dongeng yang selalu diidolakannya saat kecil—disebut, Ren tidak bergeming sama sekali. Masalah ini mungkin lebih ruwet daripada yang dikiranya.

Apa yang kau pikirkan? Tentu saja tidak akan semudah ini!

Dengan agak kecewa, dia memegang si cincin. Tidak seperti saat menyentuh cincin itu pertama kali, kali ini cincin itu tidak bersinar. Tempat putih di sekitar Ren mulai berputar dengan dia sebagai porosnya. Warna-warna lain mulai menunjukkan diri mereka. Sekejap kemudian, Ren sudah berada di kamar Lucia.

Lucia masih berbaring di ranjang. Ren menolehkan wajah. Seekor merpati putih bertengger di bahu kanannya. Dia menoleh pada Lucia lagi.

"Siapa merpati ini?" tanya Ren.

"Ini aku sebenarnya. 'Pikiranku', lebih tepatnya," kata merpati itu. "Dan itu tubuhku."

"Lucia? Kau ... baru saja bicara di kepalaku!" seru Ren dengan mata membesar.

"Aku masih terlalu lemah untuk bergerak dengan tubuhku. Hanya ini yang bisa kulalukan. Kita harus keluar."

"Bagaimana dengan tubuhmu?" tanya Ren sambil memandang Lucia yang 'tidur' dengan tenang. Oh, mengapa aku bicara biasa-biasa dengannya? Tidak seperti Lucia yang anggun dan berwibawa, merpati itu tampak biasa-biasa saja. Terlalu biasa malah. Tidak ada lagi nada bernyanyinya, suara yang seperti air itu, dan lain-lain. Walau kelihatannya mereka dua orang yang sama.

"Kita tinggalkan dulu. Nanti aku akan kembali untuk bersatu dengannya."

"Pedangmu?"

Lucia tampak ragu, tapi akhirnya dia berkata, "Ambil saja. Pemilik aslinya mungkin sudah tidak ada lagi sekarang."

"Oh, ini bukan pedangmu?"

"Aku punya senjata sendiri."

Ren mengambil pedang itu dan mengamatinya. Pedang itu mempunyai panjang sekitar 80 senti. Pegangannya terbuat dari kulit dan berwarna hitam, dengan sebuah senar melilit pegangan itu. Penahan atasnya berbentuk seperti sayap burung. Sayap elang mungkin. Bilahnya berwarna putih—yang seperti cincin, kadang-kadang bersinar pelan. Ren mengayunkannya beberapa kali. Dia langsung menyukai pedang itu. Beratnya pas lagi.

Setelah meneliti lebih cermat lagi, Ren baru menyadari kalau pedang itu sama dengan pedang yang ada pada lukisan di ruangan tadi.

"Apa namanya?"

Sekali lagi Lucia tampak ragu, sebelum menjawab, "Eaden."

Ren mulai berjalan keluar dari ruangan itu. Padahal dia masih ingin berlama-lama di sini. Entah mengapa dia berpikir kalau dia sebaiknya keluar sekarang. Pikiran saling kontradiksinya membuat dia memegang kepala.

"Sepertinya kekuatanku untuk memberikan sugesti masih bisa digunakan."

"Kau ... apa?"

"Aku mempengaruhi pikiranmu agar kita keluar sekarang."

Ren seharusnya marah. Tapi, mengapa dia malah ... kebingungan? Ren menoleh pada Lucia—bentuk merpatinya. "Kau mempengaruhi pikiranku!"

"Haha, maaf. Aku memang akan aneh jika mengambil bentuk ini. Herol selalu menjauhiku, mengatakan kalau aku menjadi remaja labil lagi. Jika ingin melihat Lucia yang 'anggun dan berwibawa'-mu itu, kau tidak akan menemukannya untuk sementara."

Ren mendesah pelan. "Tolong jangan permainkan emosiku." Dia menggerakkan tangannya. Luka-lukanya tidak terasa menyakitkan lagi. Tulangnya masih patah. Namun, tidak terasa sedikit pun.

"Aku tidak bisa menyembuhkanmu dengan keadaanku yang seperti ini, tapi aku bisa menutup rasa sakitmu untuk sementara," kata Lucia berdengung dalam kepalanya. Ren harus terbiasa dengan ini. "Bersiap-siap saja untuk merasakan sakit lagi, ketika aku membukanya kembali."

"Aku tidak tahu bagaimana kita bisa keluar," kata Ren. Walau tubuhnya terasa sehat sekali sekarang, dia tetap oleng. Bagaimanapun juga, kakinya sebenarnya masih belum sembuh.

"Ada jalan keluar dari tempat ini. Tetap lurus," kata Lucia.

Ketika tiba di pertigaan, Ren menoleh ke kanan. Ke ruangan yang banyak lukisan Lucia.

"Tidak ada lagi jalan di sana. Di sana sudah ada jurang, kan?"

"Teman-temanku ada di sana."

"Kita akan menemui mereka, dengan jalan yang kutunjukkan."

Ren terpaksa setuju dengan itu. Mengetahui kalau Lucia bisa mempengaruhi pikirannya membuat rasa hormatnya menurun sedikit. Sekarang dia harus menguji emosinya sendiri, apakah itu dorongan Lucia, atau murni dari dirinya.

"Apakah di tempat ini juga ada manusia lagi?" tanya Ren. Pikirannya langsung melayang pada Hein yang masih hilang.

"Di sini cuma kamu sendiri manusianya."

Ren memijit pelipisnya. Ke mana bawahannya itu pergi? Atau dia sudah keluar? Semoga dia tidak apa-apa. Hein merupakan salah satu teman sekaligus anak buahnya yang terbaik; dia tidak mau kehilangan itu.

"Aku agak terkesan juga melihat kalian berhasil melewati Tembok Gelap Herol serta bolanya itu," kata Lucia tiba-tiba. "Kau bukan Caster—apalagi Caster yang dianggap Tembok itu sebagai Caster yang berbahaya, jadi Auramu tidak akan dilahapnya. Tapi bola tersebut tidak akan memberi ampun pada siapa pun yang mendekat."

Apa maksudnya kegelapan yang pekat itu? Jangan-jangan Hein.... Tidak, jangan berpikiran negatif dulu. Tapi, bagaimana Lucia mengetahui itu?

"Aku bisa membaca pikiranmu, Ren Altera."

"Kau ... apa?"

"Aku bisa membaca pikiranmu, Ren Altera," kata Lucia lagi, kali ini bergema beberapa kali dalam pikirannya.

Ren tahu seharusnya dia marah. Dan lagi-lagi dia kebingungan, lalu berubah senang, seolah-olah emosi yang dikendalikan oleh orang lain adalah anugerah terbesar dalam hidupnya. Lucia pasti sudah bermain-main dengan emosinya.

"Maaf jika aku mempengaruhimu lagi. Tapi kau harus tenang untuk keluar. Nanti setelah keluar, aku tidak akan 'bermain-main' dengan emosimu lagi. Aku janji."

Setidaknya aku masih bisa sadar kalau emosiku diubahnya, pikir Ren.

"Aku bisa mendengar itu, kau tahu," kata Lucia mengepakkan sayapnya. Kontan sayapnya mengenai pipi Ren. Ren dapat merasakan kalau Lucia sebenarnya senang dengan hal itu.

Bagus sekali, gerutu Ren.

Merasa kalau di jalan sebelumnya dia tidak akan bisa kembali, Ren berjalan lurus. Ditemani oleh seekor merpati yang bisa bicara dalam kepalanya, cincin yang bersinar sendirian dan pedang pendek yang juga melakukan hal yang sama.

Masalahku pun bertambah satu lagi.

✓✓✓

A.N:

Akhirnya selesai juga ngetik bab ini. Sorry lama baru update. Things happen, dan yah waktu nulis ane jadi dikit banget. At least I manage to write 100 words a day for a month, dan jadilah chapter ini.

Jika merasa ada yang harus dikomentari, be my guest. I don't bite. :)

Chapter selanjutnya mungkin akan lama, tapi akan saya coba untuk update kurang dari tiga minggu. See you again later!

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top