Bab 5 : Pertemuan Kembali

♢ ♢ ♢

Pandangan Ren menyapu pintu perpustakaan di depan. Pintu dari white oak itu tampak menantang Ren untuk membukanya. Ren tersenyum. Sambil menghela napas, dia membetulkan letak dasinya agar tidak miring. Dia mengamati dirinya sekali lagi dari balik kilauan pot porselen yang ada di samping pintu itu. Rambut hitamnya walau agak acak-acakan, tetap terkesan rapi. Kombinasi kemeja putih dan jas hitamnya juga cukup sempurna.

Tambah fedora hitam, dan aku akan lebih tampan lagi. Elysa pasti langsung jatuh hati padaku.

Pintu berderit. Pelayan Elysa—Ren lupa namanya—membuka pintu itu. Sial, padahal aku ingin membukanya sendiri.

"Anda ingin menemui Nona?" tanya pelayan itu.

"Ya." Ren tersenyum, memamerkan gigi putihnya.

"Masuk aja," sahut Tuan Laird yang sedang bersandar di dinding dekat Ren. Dia tetap mengunyah ayam goreng yang pasti dilarikannya dari dapur. Dua orang pelayan yang ada di samping Tuan Laird melihat kesal dengan tingkahnya. Tuan Laird sama sekali tidak peduli.

Malam yang menyenangkan. Suasana hati Ren juga cukup baik. Walaupun dia mempunyai segudang masalah sekarang, dari sengketa tanah di hutan luar Mazell sampai kristalit yang padam dan cincin yang menyala sendiri, tapi dia benar-benar menikmati malam ini. Lagi pula, dia akan bicara dengan calon istrinya. Dia harus mengenyahkan semua masalah tersebut dari kepalanya, baru menerima mereka kembali saat dia sendirian dan siap kerja.

Ren memandang pintu yang sudah setengah terbuka. Elysa, huh? Mungkin karena memikirkan nama itu, ingatan Ren merantau kembali ke masa lalunya. Elysa kecil yang tertawa terbahak-bahak, dengan muka kotor celemotan tanah berlari-lari di hutan Mazell. Ren kecil berusaha menangkapnya, namun selalu gagal. Kelincahan gadis itu membuatnya frustrasi. Di belakang, Basil yang lebih muda menangis karena tidak mampu mengejar mereka berdua. Mau tak mau Ren tersenyum sendirian. Waktu yang indah.

Lamunan Ren buyar ketika langkah ringan Dies terdengar di tangga. Wajah serius Dies membuatnya mengurungkan niat masuk ke perpustakaan. Pemuda yang setahun lebih tua daripada Ren itu mendekati Tuan Laird.

"Yah, Master Porren di bawah. Katanya penting."

Tuan Laird berhenti menyantap ayamnya. "Yaa ... mengapa kakek itu tidak datang saat kita makan tadi? Setidaknya kita bisa menyambutnya dengan makanan mewah. Makanan-makanan itu belum habis, kan?" Kedua pelayannya menggeleng. "Bagus. Hal penting apa?"

Dies menoleh Ren sebentar sebelum bergumam, "Frost merah dari istana."

Ren langsung berpaling ke arah mereka berdua. Pelayan Elysa tampak menaikkan alis kanannya. Muka Tuan Laird berubah datar. Dies sendiri semakin serius. Tidak ada seorang pun yang bicara.

"Pastikan Master Porren belum pulang saat aku selesai bicara dengan Elysa," tegas Ren mengambil inisiatif. Sial. Mengapa harus ada hal lagi di saat seperti ini? "Aku ingin mendengar kabar apa yang dibawanya."

"Baik, Tuan Muda," sahut Tuan Laird langsung menegakkan tubuh. Laki-laki itu lalu turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa. Dies menghela napas. Dia tersenyum sebentar terhadap Ren.

"Aku harap kau masih bernyawa saat keluar dari tempat itu, Ren," kata Dies berusaha mencairkan suasana. "Ada masalah yang harus kita diskusikan."

"Apa maksudmu 'bernyawa'?"

"Pokoknya jangan sampai Elysa membekukanmu hidup-hidup," cengir Dies sebelum ikut turun ke lantai satu.

"Mungkin Elysa melakukan itu cuma padamu," balas Ren.

"Kita lihat saja nanti," seru Dies dari lantai bawah.

Ren memperhatikan lagi pelayan Elysa yang masih berada di pintu. Kelihatannya keterkejutan wanita itu mendengar berita Dies sudah menghilang. Dia memandang Ren tidak sabar. "Jadi, Anda mau menemui Nona atau tidak?"

Menyampingkan mood buruknya yang sempat muncul, Ren memasang wajah cerianya lagi. Dia tersenyum sambil melangkah penuh gaya ke perpustakaan pribadi Tuan Laird. Pelayan Elysa menutup pintu, kemudian mengikutinya.

Ren hanya beberapa kali masuk ke perpustakaan ini. Walaupun tidak sebanyak buku-buku di Perpustakaan Royal Mircea—perpustakaan elit milik Raja Harnish, tapi tetap saja jumlah buku di sini membuatnya takjub. Ada 22 rak dengan berbagai topik yang berbeda, mulai dari kristalit, sejarah, aucast, politik sampai pertanian daerah tropis. Mazell merupakan daerah dingin dengan tanah yang tidak bersahabat, tapi Tuan Laird tetap juga mengoleksi buku seperti itu. "Kamu tidak tahu apa yang dapat kamu ambil dari buku-buku yang kelihatan tidak berguna ini," demikian dia pernah berkata.

Perpustakaan itu terang dengan kristalit cahaya yang terus bersinar di langit-langit. Di sisi kanan ruangan, sebuah meja cokelat dari mahoni—dari mana Tuan Laird mendapat kayu itu masih menjadi pertanyaan Ren—ditemani beberapa buah kursi menyambut kedatangannya. Bersebelahan dengan kursi yang paling ujung, sebuah perapian menyala dengan api kecil yang terlihat menari-nari. Tak jauh dari perapian dua jendela kaca tertutup rapat, menahan desiran angin malam yang ingin masuk ke perpustakaan.

Di kursi yang menghadap perapian, duduk seorang gadis yang langsung dikenal Ren sebagai Elysa Laird. Wajahnya menunduk pada buku yang dibacanya. Di samping Elysa duduk seorang gadis pelayan yang juga dikenalnya, Trista Graffam. Trista langsung berdiri melihat kedatangannya. Tangannya membawa baki sisa makanan. Pantas Elysa tidak berada di ruang makan tadi.

"Kalian bisa keluar," kata Elysa tanpa melepaskan matanya dari buku itu. "Cleva, pastikan tempat tidurku sudah tertata dengan rapi."

"Baik, Nona," kata Cleva, wanita yang menyambut Ren tadi. Kedua pelayannya pun berjalan keluar. Trista sempat mengerling pada Ren. Dia hampir membalas kerlingan Trista, namun berhasil menahan dirinya dari melakukan itu.

Elysa mengenakan gaun malam sederhana berwarna biru muda, dengan rambut yang dibiarkan bebas. Pilihan pakaiannya agak aneh dengan tempat seperti ini. Elysa yang membaca buku juga tampak aneh menurutnya. Setahu Ren, Elysa tidak menyukai buku. Namun, lihatlah sekarang! Dia tampak sibuk membuka lembaran buku itu. Ren sempat berpikir apakah Elysa tidak menyadari kehadirannya. Menguji hal tersebut, dia menarik kursi yang berhadapan dengan Elysa.

"Nona Laird," kata Ren dengan hormat.

Elysa mendongak dari bukunya. Dia menatap Ren tajam. "Oh, hai Ren," balas Elysa sebelum kembali ke bukunya lagi.

Hanya itu? Ren hampir saja meringis. Sebenarnya dia mengharapkan Elysa berdiri dengan suka cita dan langsung memeluknya. Bagaimanapun, ini pertemuan pertama mereka setelah sekian lama. Mungkin dia berharap terlalu banyak.

Ren memperhatikan Elysa sekali lagi. Sudah delapan tahun sejak dia terakhir kali melihat gadis di depannya ini. Dia tahu kalau Elysa biasa pulang saat musim dingin, tapi gadis itu selalu mengurung diri dalam kamarnya dan tidak mau menemui tamu.

Elysa agak tinggi sekarang, mungkin cuma beberapa senti lebih rendah daripadanya. Rambutnya pirang gelap bergelombang, terurai bebas sebatas bahu. Kulitnya sendiri agak pucat, seperti baru sembuh dari sakit. Namun, Ren yakin bukan itu penyebabnya.

Urutan ketiga tercantik.

Bulu kuduk Ren berdiri. Suhu ruangan itu tiba-tiba turun beberapa derajat. Dia melirik Elysa. Gadis itu masih tetap tenggelam dalam bukunya. Dia sendiri tidak tampak kedinginan. Gaun yang dipakainya termasuk dari bahan yang agak tipis. Apa dia tidak merasa dingin sama sekali? Ren menoleh ke jendela kaca yang ada di sisi perpustakaan. Jendela itu tetap tertutup. Perapian yang ada di dekat meja masih menyala. Jadi dari mana datangnya udara dingin ini?

Ren mulai membuka mulut, tapi kata-kata Dies saat makan malam tadi terngiang di kepalanya. Jangan sampai kau mengucapkan atau melakukan hal yang salah. Akibatnya akan sangat menyakitkan. Dies dengan sengaja tidak menyebutkan "hal yang salah" itu apa. Sepertinya dia harus hati-hati dengan apa yang akan diucapkannya sekarang.

Desiran angin malam terdengar nyaring di luar. Namun, suasana di dalam tetap hening. Hening ... dan dingin.

Keheningan mencekam yang ada di antara mereka berdua bahkan lebih mengganggu Ren dibandingkan dengan kedinginan yang terasa menusuk tulangnya. Dia kehilangan kata-kata. Kalimat-kalimat romantis yang sudah dirangkainya seharian tadi terasa tidak berarti di depan Elysa. Dies benar, aku salah langkah. Mengapa aku tidak mendengarkan perkataannya tadi? Elysa sendiri tidak begitu membantu. Dia masih tenggelam dalam bukunya dan seperti tidak menyadari lagi kalau Ren ada di ruangan ini.

Ren berdehem. Elysa mendongak sekali lagi.

"Buku apa yang kamu baca, Elysa?" Karena Elysa tadi sudah memanggilnya dengan "Ren", Ren merasa tidak apa-apa jika dia langsung menggunakan nama depan.

Dan kelihatannya Elysa juga tidak peduli dengan itu.

"Sejarah Awal Revaris," jawab Elysa singkat.

"Buku yang bagus," sahut Ren.

"Memang. Una Calvius tahu apa yang ditulisnya," kata Elysa.

"Apa kau fans-nya?"

"Ya."

"Aku juga suka bukunya tentang perebutan kekuasaan di Revaris pada Era Pemisahan," kata Ren.

"Sama," ucap Elysa sambil membuka halaman selanjutnya.

"Buku yang bagus, kan?"

"Tidak juga."

"Tidak?"

"Tidak jika dibandingkan dengan masterpiece-nya yang satu lagi."

Eh?

Demi Sang Pencipta, kami ngomong apa sih? Ini jelas bukan arah pembicaraan yang direncanakan Ren. Sia-sia saja dia membuat rencana seharian tadi. Apa karena kedinginan ini membuat otaknya kehilangan kemampuan untuk bekerja? Sudah terlambat. Lebih baik dia mengikut arus saja.

Ren melirik dua buku lagi yang ada di meja itu. Satu buku berjudul cukup jelas, Aucast untuk Profesional. Namun buku satunya agak sulit dibaca Ren. Buku itu agak bolong di beberapa tempat. Kertasnya kelihatan lusuh sekali. Dia masih berusaha membaca judul buku yang kelihatan antik tersebut, tapi gagal.

"Apa di Riege banyak buku yang seperti itu?" tanya Ren basa-basi. Apa yang kutanyakan? Tanyakan pendapatnya tentang perjodohan ini, bodoh!

"Kalau kau menanyakan tentang buku aucast, ya, tentu saja. Riege kan sekolah Caster, jadi pasti memiliki banyak buku yang berkaitan dengan Caster itu sendiri."

Jawaban itu membuat apa yang mengganggu Ren dari tadi akhirnya keluar. "Kau ... senang membaca, ya?"

Elysa cuma mengangguk.

Ren tersenyum getir. Jauh sekali dengan Elysa yang dulu. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba melanda hatinya. Perasaan yang sama seperti saat dia menyadari Elysa tidak lagi mau menemuinya sejak gadis itu menjadi Caster, bertahun-tahun yang lalu. Dia tak habis pikir apa yang dipelajari Elysa di Riege, sehingga dia dapat berubah drastis seperti itu. Delapan tahun, itu waktu yang cukup lama untuk mengubah seseorang. Tapi tetap saja.

"Aku ingin tahu...," kata Ren pelan.

"Hmm?" Elysa melihatnya.

"Oh, tidak. Tidak apa-apa."

Mereka berdua terdiam lagi. Situasi ini membuat Ren menjadi semakin terganggu. Dia merasa gagal tidak bisa membuat Elysa mengalihkan perhatian padanya. Belum lagi suara angin di luar yang tiba-tiba terdengar lebih kencang membuat suasana menjadi canggung, untuk Ren. Apa Badai Mazell akan terjadi lagi?

Sial, apa yang kupikirkan?

"Bagaimana menurutmu tentang kita?" tanya Ren akhirnya. Dia sudah tidak tahan dengan kesunyian ini. Inilah saatnya untuk menanyakan itu.

"Aku setuju saja," jawab Elysa tanpa ada perubahan nada sedikit pun.

Ren berusaha menahan keterkejutannya. Seperti biasa, dia berhasil.

"Mengapa?"

Elysa akhirnya menatap Ren. Mata birunya seolah mencari sesuatu dalam jiwa Ren. Mendadak ruangan itu menyempit. Panas dari perapian sudah tidak terasa lagi. Dia menghembuskan napas.

"Mungkin karena aku anak yang terlalu penurut. Aku sudah tidak lagi membangkang perintah Ayah sejak Ibu meninggal."

Sunyi. Ren membalas tatapan Elysa. Dia yakin pasti ada alasan yang lain lagi. Namun, dia tidak sanggup mengatakan itu. Mengapa aku malam ini?

"Kita sama-sama kehilangan ibu, bukan?" Ren mengalihkan pembicaraan. Jika ada persamaan di antara mereka, mungkin itu yang paling kentara.

"Countess Altera wanita yang baik," ujar Elysa sambil tersenyum kecil. "Kau tahu, sewaktu aku pulang liburan dia selalu mengunjungiku. Dialah yang menceritakan keadaan terbaru Mazell. Ayah selalu sibuk saat musim dingin, walaupun dia berusaha meluangkan waktunya. Sedangkan Dies tidak pernah serius menanggapiku."

Keingintahuan Ren melonjak seketika. "Aku tidak pernah tahu dengan itu. Apa saja yang kalian bicarakan?"

"Biasa saja. Kami hanya membicarakan tentang Mazell, tentang perjalananku, tentang pertambangan."

"Apakah dia juga menceritakan tentangku?"

Elysa berhenti sebentar untuk mengingat-ngingat.

"Ada, sewaktu kami terakhir bertemu. Dia mengatakan kalau anak cengeng dan kotornya telah berubah menjadi pemuda paling tampan yang ada di Thrusia. Mungkin dia benar." Elysa tetap memandangnya dengan tatapan itu.

Apa itu pujian? Elysa mengatakan itu dengan nada datarnya yang membuat Ren kesulitan memastikan apakah itu pujian atau sarkas. Tapi, bagaimanapun juga perkataan tersebut sudah cukup untuk membuat hatinya senang.

"Mengapa kamu menginginkan perjodohan ini, Ren?" tanya Elysa tiba-tiba. "Oh, mengapa kau memilihku di antara sekian banyak gadis yang ada di Thusia ini? Kau memilih anak Baronmu sendiri, jadi melebarkan kekuasaan jelas tidak mungkin."

Ren menatap malam kelam di balik jendela kaca. Gumpalan awan hitam mulai bermunculan di langit. Menahan kesedihannya, dia tersenyum kecil. "Hanya karena sebuah janji."

"Janji?"

"Itu permintaan ibu sebelum dia meninggal. Dia mengatakan kalau kita akan menjadi pasangan yang cocok."

Kedua alis Elysa terangkat. Tangannya yang sedang membalikkan halaman buku terhenti. Namun secepatnya dia membalikkan halaman tersebut. Jika Ren tidak melirik Elysa, dia mungkin tidak akan menyadari kejadian kecil itu.

"Oh," ucap Elysa pendek. "Hanya karena alasan seperti itu?" Dia terdengar skeptis.

"Kau mengharapkan jawaban yang lebih dramatis?" Aku punya segudang jawaban seperti itu, tapi kau tidak akan percaya. "Jujur saja," kata Ren menyilangkan tangannya dan kembali menatap Elysa, "aku ingin tahu. Apa alasan ibu mengatakan itu? Bahkan saat dia hampir meninggal sekali pun, dia tetap menyuruhku." Ren memandang lurus Elysa, mengharapkan gadis itu memberinya jawaban.

"Kau menunggu dua tahun hanya untuk saat ini?"

"Keingintahuan tidak mengenal waktu, menurutku," sahut Ren.

"Tapi dua tahun? Mengapa dua tahun yang lalu kau tidak e ... melamarku?"

"Sekolahmu belum selesai? Aku masih berkabung? Aku harus belajar jadi seorang Count?" Semua alasan sampingan, menurut Ren. Saatnya juga belum tepat. Tapi sekarang? Ya, sekarang saat yang tepat.

"Aku tidak terlalu percaya dengan apa yang kau katakan."

"Kau tidak perlu mempercayainya," kata Ren pelan dan serius. "Tapi dengar, Elysa. Aku sudah berjanji untuk setidaknya mempertimbangkan usul ibuku itu. Dan aku tidak akan pernah melanggar janji yang telah kubuat, apalagi terhadap orang yang telah meninggal."

Apa yang dikatakan Ren membuat suasana sunyi lagi.

Elysa menutup bukunya, membalas tatapan Ren, dan tersenyum kecil. "Hmm, kau ... menarik juga."

"Oh, apa yang kau pikirkan tentangku sebelumnya?"

"Seorang pemuda yang akan melontarkan kata-kata puitis yang kelihatan indah, namun kosong dan tidak ada artinya, cuma untuk membuatku terkesan. Itu kesan pertamaku terhadapmu."

Ouch. Keseriusan Ren menguap seketika. Dia harus mengakui kalau itu adalah rencana awalnya. Tapi, dia tidak harus mengatakan itu pada Elysa kan?

"Nona Laird, jangan samakan aku dengan mereka," kata Ren dengan nada tersinggung yang dibuat-buat.

Elysa tidak membalas apa yang dikatakannya. Gadis itu membuka buku keduanya. Mereka terdiam. Namun, kali ini kesunyian yang melanda mereka tidaklah setebal sebelumnya. Ren malah menikmati kesunyian ini. Setidaknya dia memiliki waktu untuk memikirkan apa yang akan dikatakannya lagi.

Elysa beranjak dari kursinya dan berjalan menuju salah satu rak. Setelah sampai di sana, dia bertanya, "Apa pendapatmu tentang Caster, Ren?"

Ren yang tidak menyangka akan ditanyai tentang itu hanya bisa terdiam saja. Akhirnya dia balik bertanya, "Mengapa kau menanyakan hal itu?"

"Jangan masa bodoh. Kamu tahu kan kalau aku Caster?"

Elysa berjalan kembali dari rak itu. Dia duduk dan menatap tajam Ren, seperti yang dilakukannya di awal pertemuan mereka tadi.

"Ya, tentunya." Semua orang sudah tahu, siapa pun yang pergi ke Riege pasti seorang Caster. Membicarakan Caster membuat Ren menyadari kedinginan tadi. Apa Elysa yang membuatnya? Dia kan Caster Es.

"Jadi, apa yang kau ketahui tentang Caster?" tanya Elysa lagi.

Ren masih tidak mengerti mengapa Elysa tiba-tiba menanyakan hal ini. Namun dia akan meladeninya.

"Caster, mereka merupakan pengendali Aura. Mereka tidak memerlukan kristalit untuk melakukan kegiatan seperti aucast. Caster sendiri terbagi menjadi lima bagian: Caster Api, Tanah, Air, Angin, dan Caster Elektrik. Mereka bermarkas di Riege, yang merangkap sebagai kerajaan sekaligus sekolah."

Aku pasti kelihatan seperti sedang membaca buku.

"Asal mereka?" tanya Elysa sambil membuka buku yang diambilnya dari rak tadi. Apa ini semacam tes?

"Err ... zaman dahulu para Anima memberi kelebihan pada manusia yang dianggapnya terpilih. Orang yang terpilih itu kemudian menjadi Caster."

"Tapi bagaimana dengan Caster zaman sekarang? Anima sudah tidak ada lagi di Revaris," dorong Elysa. Ren akhirnya memutuskan untuk menganggap ini sebagai tes.

"Kemampuan untuk menjadi Caster bersifat menurun. Jika kedua atau salah satu dari orang tua adalah Caster, maka anak, cucu atau cicit mereka kemungkinan akan jadi Caster juga. Pokoknya satu atau dua orang yang ada di keturunan itu pasti akan jadi Caster. Jadi, Caster zaman sekarang pasti keturunan dari Caster yang terdahulu itu. Hanya itu yang kutahu."

Ren sengaja tidak mengatakan kalau Caster juga berumur pendek. Setahunya tidak ada yang berumur lebih dari empat puluh tahun. Dia tahu masalah usia merupakan hal yang agak kurang mengenakkan dibicarakan dengan seorang Caster.

"Mengapa kau menanyakan semua ini?"

"Kau akan menikahi seorang Caster, Ren. Sudah sepantasnya aku menanyakannya." Elysa berkata lagi, "Selain itu, mungkin kau harus baca ini." Dia memberikan buku tua yang bersampul jelek itu. Mata Ren membelalak ketika berhasil membaca judul buku itu.

Anima di Revaris, oleh Una Calvius. Masterpiece yang dikatakan Elysa tadi. Hati Ren langsung terbang tinggi melihat buku itu disodorkan padanya. Tanpa sadar dia bersiul. "Ini buku yang seharusnya telah hilang di Era Discovery seratus tahun yang lalu. Bagaimana kau mendapatkannya?"

"Apa itu penting sekarang?" Elysa balik bertanya.

"Tidak," sahut Ren sambil membuka buku itu tidak sabar. Di halaman pertama cuma daftar isi. Halaman kedua dia melihat gambar lima sosok makhluk yang langsung dikenalinya sebagai Anima. Dua sosok lagi berdiri di atas mereka. Seorang wanita bermahkota, bergaun putih dengan empat pasang sayap putih dan seorang laki-laki berzirah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, memiliki sepasang sayap hitam, berambut hitam dan juga bertopeng hitam. Kontras sekali dengan wanita serba putih yang ada di sampingnya.

"Lucia dan Herol. Anima Cahaya dan Kegelapan," kata Ren tanpa sadar. "Aku cuma pernah mendengar deskripsi tentang mereka. Namun secara visual.... Jadi ini wujud mereka?"

"Yang tergambar di sana cuma bentuk kedua mereka. Kecuali Lucia, tidak ada yang tahu dengan bentuk manusia Anima lain," jelas Elysa.

"Mengapa kau menunjukkan ini padaku? Pengetahuan tentang Anima bukannya hanya boleh diketahui oleh keluarga kerajaan atau Caster itu sendiri?"

Elysa mendesah. "Coba kau buka halaman terakhir. Tidak usah dibaca."

Ren melakukan itu tanpa menunggu lagi. Walau dia agak kecewa tidak diperkenankan membacanya. Halaman terakhir itu menampilkan Arden—Anima Elektrik—dalam bentuk naganya melawan dua sosok makhluk dan seekor anjing raksasa. Namun hanya sampai di sana saja.

"Ada halaman yang hilang," kata Ren. Dia berpikir sebentar. "Menurut daftar isi, seharusnya setelah halaman terakhir ini ada halaman tentang Visela, kemudian Dyzek."

"Benar sekali," sahut Elysa.

"Aku masih tidak mengerti kaitan ini denganku."

"Kau ingin melihat sambungan buku itu atau tidak?" tanya Elysa.

"Tentu saja," kata Ren. "Buku seperti ini sayang sekali tidak dilanjutkan."

Elysa tersenyum aneh. "Kau benar-benar ingin melihat lanjutannya?"

"Ya," sahut Ren yakin.

"Maukah kau berjanji untuk menolongku mendapatkannya?"

"Tentu. Aku berjanji," sahut Ren, terlalu cepat menurutnya.

"Aku tahu di mana sambungannya itu."

"Di mana?" tanya Ren lambat. Dia akhirnya mulai mewaspadai pertanyaan-pertanyaan gencar Elysa. Sial. Buku ini menyebabkan kehati-hatiannya berkurang.

"Perpustakaan Royal Mircea." Elysa tersenyum lagi, yang entah mengapa terasa menyeramkan. "Kau anggota perpustakaan itu kan, Ren? Dies mengatakannya padaku kemarin."

Ren menelan ludah. Dia mengangguk perlahan.

"Apa perpustakaan itu masih hanya menerima bangsawan tinggi saja?" tanya Elysa.

"Masih. Kau ingin ke sana?" Ren tahu kalau hal itu tidak akan mungkin. Perpustakaan Royal Mircea hanya untuk bangsawan-bangsawan tinggi kerajaan Thrusia saja. Bangsawan kecil dan orang kerajaan lain dilarang masuk ke sana. Elysa hanya anak seorang Baron. Tapi kalau dia menikah dengan Ren—

Ohh ....

"Kau mempertaruhkan masa depanmu hanya untuk sebuah buku?" selidik Ren.

Elysa tersenyum kecil sekali lagi. "Mengapa? Kau tampak heran. Ini situasi menang-menang, kan? Kau mendapatkan pertambangan lightitejangan menyangkal, aku tahu tentang wasiat Countess, sedangkan aku menjadi Countess Altera yang baru dan mendapatkan buku yang kuinginkan. Aku juga tidak peduli dengan trivialitas yang kalian namakan cinta, jadi kau tidak perlu merasa bersalah."

Ren menaikkan alisnya mendengar itu.

"Tidak, cuma.... Memangnya apa yang kau cari dari buku itu sehingga kau melakukan ini?"

Elysa memejamkan matanya. Sunyi sekali. Desir angin di luar terdengar semakin keras saja. Elysa akhirnya membalas, "Sebuah jawaban, Ren, dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menghantuiku."

Itu sama sekali tidak menjelaskan apa pun.

"Katakan Ren," ucap Elysa tiba-tiba sambil menoleh jendela. "Apa frekuensi badai Mazell semakin meningkat beberapa bulan terakhir?"

Ren ikut menoleh jendela itu. Di luar, awan-awan gelap telah menutup langit Mazell. Bulan di langit barat tampak berusaha mempertahankan eksistensi cahayanya, walau akhirnya kalah pada awan-awan itu. Pemandangan yang sebenarnya biasa di musim dingin seperti ini, tapi pertanyaan Elysa itu membuat Ren menjadi ragu apakah ini memang normal.

"Memang sih. Sekarang sudah hampir seminggu sekali, tidak lagi per bulan seperti biasa."

Badai Mazell merupakan badai salju yang berasal dari Laut Utara. Disebut seperti itu karena badai tersebut cuma menyerang kota Mazell dan daerah sekitarnya saja. Akan tetapi, Ren masih tidak mengerti apa kaitan itu semua dengan percakapan ini.

Elysa menggigit bibir bawahnya. Udara di ruangan mendingin, namun secepatnya normal kembali.

Ren baru akan membuka mulutnya ingin menanyakan apa yang terjadi, tapi terhenti. Seluruh ruangan tiba-tiba menjadi gelap. Kristalit cahaya bermatian. Dari saku jasnya, keluar sinar terang yang seakan-akan membentuk lubang di pakaian Ren itu. Dengan cepat dia memeriksa apa yang menyebabkan sinar itu. Matanya nanar ketika melihat cincin yang ditemukannya di gua Anora kemarin.

"Apa—." Ren yakin sekali kalau dia tidak membawa cincin itu ke sini. Cincin ini telah terkunci rapat dalam kotak di kamarnya. Tapi mengapa....

Sinar yang dikeluarkan cincin itu malah sangat terang sekarang, lebih terang daripada yang diperlihatkannya saat dalam gua dan di pabrik. Cahaya dari perapian seperti tidak ada artinya. Kegelapan di sekitar mereka berdua sampai takut untuk mendekat. Ren sempat menangkap wajah terkejut Elysa yang menatap cincin itu. Sebelum dia sempat bicara, cincin itu kehilangan sinarnya. Kristalit cahaya bersinar kembali, seperti tidak ada kejadian apa-apa yang menimpa mereka.

Sepuluh detik padam. Rekor baru, pikir Ren walau hatinya sedang kacau.

"Lihat!" kata Elysa tegas sambil meraih cincin itu dari tangan Ren. Dengan saksama diperhatikannya cincin yang kerap bersinar sendiri itu, menatap satu per satu bagian yang mungkin memberinya petunjuk tentang cincin tersebut. Elysa menggumamkan sesuatu, tapi tidak bisa didengar oleh Ren. Semoga dia tahu itu cincin apa. Atau milik siapa.

"Kau seperti anak kecil yang menemukan mainan baru," ucap Ren.

Elysa tetap memandang cincin itu dengan cermat. Dia mungkin tidak mendengar apa yang Ren katakan. Dia akhirnya mengalihkan pandangannya dari cincin itu, kali ini menatap Ren dengan pandangan yang aneh.

"Ini ... cincin apa?" tanya Elysa pelan.

Ren menghela napas. "Seharusnya aku yang bertanya itu padamu. Aku kira kamu tahu."

"Aku tidak tahu." Wajah Elysa berubah muram. "Ini bukan cincinmu, kan?"

"Bukan. Aku menemukan itu di gua Anora. E ... kau ingin mendengar cerita bagaimana aku menemukannya?" Ren balik bertanya.

Elysa mengangguk. Ren mulai bercerita. Ekspresi Elysa semakin muram ketika mendengar ceritanya berakhir.

Elysa menimang cincin itu. Dia memejamkan mata, menghela napas dan membuka matanya kembali. Udara dalam perpustakaan kembali mendingin. Apa yang dipikirkannya? Ini sudah ketiga kalinya dia mendinginkan ruangan.

"Uap cincin ini ...." Elysa tampak ragu untuk mengatakannya.

"Uap? Ohh...."

Uap Caster. Menurut yang didengar Ren, Caster sepertinya akan mengeluarkan uap ketika mereka menghidupkan Auranya. Warna uap itu beragam tergantung jenis Caster. Caster Api akan mengeluarkan uap merah dari tubuhnya. Caster Angin mempunyai uap berwarna hijau, Air berwarna biru, Tanah berwarna cokelat, dan Elektrik berwarna kuning. Non-Caster sendiri kalau menghidupkan Aura akan mengeluarkan uap yang tak berwarna, seperti uap air. Selain mengeluarkan uap, Caster juga bisa melihat uap yang dikeluarkan oleh Caster lain, atau benda apa pun yang bisa menggunakan Aura.

Namun, semua uap itu tidak akan bisa dilihat oleh non-Caster seperti Ren. Jadi dia hanya terdiam saja, mengharapkan Elysa menjelaskan lebih lanjut.

"Cincin ini tidak mengeluarkan uap," ucap Elysa, heran dan takjub bersatu dalam suaranya. "Padahal sudah jelas cincin ini memiliki Aura sendiri, tapi mengapa uapnya tidak ada?"

Elysa memandang Ren tajam. Mata birunya tampak semakin menua. "Hidupkan Aura-mu!"

Tanpa menunggu disuruh lagi, Ren menghidupkan Aura. Tubuhnya terasa sedikit memanas dalam kedinginan ruangan.

Elysa mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Tubuhmu mengeluarkan uap biasa. Tangan kananmu mengeluarkan uap putih dan merah. Kau pasti menggunakan kristalit cahaya dan api kan tadi? Perapian itu mengeluarkan uap merah. Tubuhku sendiri mengeluarkan uap biru." Perhatiannya kembali ke cincin itu. "Tapi mengapa benda ini tidak? Benda ini jelas sekali masih menggunakan Aura."

Ren tidak tahu harus membalas apa tentang itu. Dia pun mematikan Auranya. Elysa menghela napas. Udara di ruangan perlahan menghangat. Ren beralih memandang Elysa. Mata biru Elysa juga sudah kelihatan normal kembali.

"Kau baru saja menghidupkan Aura?" tanya Ren.

"Ya," jawab Elysa singkat. Apa seperti itu kalau Caster menghidupkan Aura mereka? Elysa berkata lagi, kali ini dengan nada pelan, "Kau harus membawaku ke tempat di mana kau menemukan ini."

Tanpa terasa Ren tersenyum. Semangatnya langsung terpacu. Walau masih merasa ngeri dengan kejadian kemarin, dia senang juga mendengar itu. Dia mengingat lagi kegelapan hidup yang menyentuhnya saat dia ada di gua.

"Aku menduga cincin itu ada kaitannya dengan padamnya kristalit cahaya. Apa kau juga berpikiran sama?" tanya Ren.

"Kemungkinan itu tetap ada. Saat kristalit padam, cincin ini bersinar terang sekali. Kristalit hidup, cincin ini padam. Pasti ada kaitannya kan?" Kali ini wajah bingung Elysa terganti oleh semangat yang tiba-tiba muncul.

"Pasti," sahut Ren menatap Elysa lagi. Pandangan mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Prospek untuk pergi ke gua Anora dengan Elysa sekaligus untuk mengungkap misteri ini membuat Ren tidak dapat menahan senyumannya. Entah atas alasan apa, Elysa juga tersenyum.

"Apa kau ingin ikut denganku ke gua Anora, Nona Laird?" ajak Ren resmi. "Tapi aku tidak menjanjikan perjalanan romantis ke sana."

"Dengan senang hati," sahut Elysa tetap tersenyum. Tersenyum dalam arti yang sebenarnya, bukan cuma senyum kecil atau senyum aneh tadi. Sang Pencipta, dia tampak lebih hidup sekarang.

"Aku akan memberitahumu kapan kita bisa ke sana," kata Ren melepaskan pandangannya.

Elysa memberikan cincin itu kembali.

Ren menghela napas. Sekarang dia merasa segar setelah terkena udara dingin tadi. Dia memperhatikan cincinnya, sebelum memasukkannya kembali dalam saku jas. Ren tiba-tiba ingin menitipkan cincin itu pada Elysa untuk mengetahui apakah cincin itu akan tetap mengikutinya. Namun, secepat datangnya ide itu, secepat itu pula ide itu menghilang. Dia menggelengkan kepala.

Ketokan di pintu membuat Ren dan Elysa sama-sama menoleh.

"Cleva. Aku hafal langkahnya," kata Elysa. "Masuk!"

Cleva datang membawa dua kristalit api kecil. Sambil meletakkan kristalit itu di meja, dia berkata, "Saya membawa ini sebagai cadangan kalau kristalit cahaya padam lagi, Nona." Lalu setengah berbisik dia berkata pada Ren, "Mereka menunggu Anda."

Ren menghembuskan napas panjang. Dia berdiri. Elysa cukup mengerti untuk berdiri juga.

"Kau ingin pergi?"

"Sayangnya, ya."

Agak ragu, Elysa mengulurkan tangannya. Ada kemajuan, pikir Ren senang. Dia membungkuk, lalu mencium punggung tangan Elysa. Tangan Elysa agak dingin, tapi dia tidak peduli.

"Lain kali kita bicara lagi," kata Ren. "Masih banyak yang ingin kutanyakan. Kita juga masih belum membahas rencana pertunangan kita dengan detail."

"Datang saja ke sini ... kapan-kapan."

Ren tersenyum sebelum mengangguk hormat pada Elysa. Agak enggan dia melangkah keluar dari perpustakaan, walaupun udara yang lebih hangat menyambutnya.

Dan apa yang "dikhawatirkan" Dies tidak terjadi, pikir Ren.

Langkah kaki Cleva mengekor di belakang.

"Setelah Nona Kayri dan Tuan Duane, Anda orang ketiga yang berhasil membuat Nona tersenyum seperti itu di pertemuan pertama," kata Cleva ketika mereka sudah berada di tangga. Nada hormat Cleva membuat Ren menoleh wanita tersebut.

"Begitukah?" gumam Ren. Aku sudah cukup beruntung melihat senyumannya.

"Apa pendapat Anda tentang Nona?"

Ren tersenyum. "Oh, dia langsung menduduki urutan pertama dalam 'Sepuluh Wanita Paling Menarik yang Pernah Ditemui René Altera'." Dan dalam daftar "Wanita Paling Cantik", dia nomor tiga.

Dari ruang tamu, Ren dapat mendengar suara Master Porren yang sedang bicara. Dia menghilangkan Elysa dari pikirannya, mengganti gadis itu dengan berita Dies tadi. Senyumnya perlahan memudar. Ekspresi datar yang biasa dipasangnya saat membicarakan hal-hal serius yang berkaitan dengan Mazell mulai menghiasi wajahnya. "Wajah Count Altera", Basil dan Dies biasa memanggilnya seperti itu.

Untuk kedua kalinya, Ren membetulkan letak dasinya yang miring.

"Saat untuk membicarakan satu masalah lagi."

#

A.N:

Wew, akhirnya chapter ini selesai juga. Tidak begitu menarik, isinya 4,5k words tapi cuma percakapan doang XD, tanpa ada aksi sama sekali. Karena chapter ini akan jadi basis untuk chapter-chapter selanjutnya, jadi ya harus di-publish.

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih (formal amat ni orang :v) kepada yang telah meluangkan waktunya untuk membaca cerita yang gaje ini, baik yang cuma jadi silent reader, apalagi yang telah memberi vote, komen, masukan dan sebagainya. That's mean a lot.

Dan supaya ke depannya lebih baik, jangan lupa mengkritisi chapter/cerita ini jika ada yang salah, tidak konsisten dan lain-lain. I'd like to hear your thought about it.

See you next chap~ (yang mungkin agak lama karena saya sudah kembali sibuk, wkwk)

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top