Bab 3 : Basil dan Mazell

♢ ♢ ♢

Salju telah turun ketika Ren sampai di mulut gua. Angin yang agak kencang langsung menyambut kedatangannya. Namun, dia tetap berjalan. Salju yang menerpa wajahnya tidak terlalu dipedulikan. Yang penting sekarang adalah dia pulang ke Mazell, menenangkan pikiran dan mulai memikirkan cincin itu serta kegelapan yang "hidup" dalam gua tadi.

Para penambang Lightite yang ada di luar gua tetap bekerja dengan giat. Beberapa orang pekerja mengangguk hormat padanya sambil memanggul sekarung besar Lightite. Ada juga pekerja sedang menarik beberapa gerobak penuh Lightite dengan sebuah lokomotif mini, untuk dibawa ke pabrik yang akan mengubah Lightite tersebut menjadi kristalit cahaya.

Ren merapatkan jaketnya. Sebaiknya dia menumpang pada salah satu lok mini-panggilan untuk lokomotif kecil itu-yang akan berangkat menuju Mazell, supaya tidak terlalu basah ketika dia datang ke Mazell nanti. Ren mendekati White-kuda frost putih miliknya-yang diletakkan di sebuah pos penjaga. Ren mengangguk sambil membisikkan kalimat agar White mengikutinya.

Sebuah lok mini berdesis dan mulai bergerak. Ren menghentikan bisikannya pada White dan segera mengejar lok itu. Tangan kanannya melambai-lambai, sementara tangan kiri diletakkan di atas dahinya untuk melindungi kepala dari salju. White ikut berlari di belakangnya.

"Hey, tunggu!" teriak Ren.

Sopir lok mini sepertinya tidak mendengar perintah Ren tadi karena kendaraannya malah melaju. Suara mesin dan deru angin mungkin membuat perintah Ren tidak kedengaran. Beberapa orang sempat menoleh ke arahnya gara-gara teriakan itu.

"John, suruh sopir itu berhenti!" teriak Ren lagi, pada salah satu orang yang melihatnya.

John langsung berlari menuju lok yang dimaksud. Kebetulan dia berada di antara Ren dan lok sehingga dengan mudah dia dapat mengejar lok itu. Satu kantong besar Lightite yang dibawanya terjatuh begitu saja di tanah bersalju.

Lok tersebut berhenti setelah berhasil dikejar John. Dia berbicara dengan sopir lok kemudian menunjuk diri Ren.

Ren setengah berlari menuju lok itu. Salju di tanah sangat menghambat larinya, tidak seperti John. Dia sendiri tidak menduga kalau salju akan turun sore ini. Laporan cuaca mengatakan kalau sepanjang hari akan cerah.

Setelah sampai di lok, Ren berhenti.

"Terima kasih, John."

"Sama-sama, Tuan Muda," kata John. "Sebaiknya Anda segera naik, sebelum salju ini membasahi seluruh pakaian Anda."

Ren tersenyum kecil.

Sopir telah membuka pintunya ketika Ren datang tadi. Secepatnya Ren masuk dan menutup pintu untuk menghindari kedinginan. Melihat siapa yang jadi sopir lok itu, dia hanya bisa mengangkat alis.

"Maaf Tuan Muda, tadi saya tidak mendengar teriakan Anda," kata sopir sopan, namun nada suaranya malah meremehkan. Apalagi ketika dia mengatakan "Tuan Muda".

"Kamu tadi sengaja kan Sil?" tanya Ren, melihat temannya yang jadi sopir itu.

Basil tertawa. "Haha, tentu saja. Aku bahkan sudah meningkatkan kecepatan lok ini ketika kamu memanggil. Tapi gara-gara Si Tua John itu menghadangku, terpaksa aku harus berhenti."

Basil meletakkan tangan kirinya ke sebuah kristalit api kecil. Kristalit itu menyala, namun tidak terbakar seperti kristalit api yang dipakai Ren. Ren tahu kalau kristalit kecil itu merupakan bagian dari sebuah kristalit api yang lebih besar. Ruangan dalam lok berubah hangat. Tanda kalau kristalit api yang menjadi sumber tenaga lok itu dan tepat berada di bawah mereka telah hidup.

Mesin uap kembali berdesis. Lok pun mulai bergerak lagi.

"Mengapa kamu ada di pertambangan? Aku menyangka kamu ada di tempat Master Porren."

"Master tiba-tiba saja menyuruh kami pulang ketika ada surat datang. Yah, karena nganggur, aku langsung ke sini. Bagaimana dengan petualanganmu?" tanya Basil tiba-tiba.

"Sedikit unik. Aku menemukan jurang di akhir perjalananku ... oh, dan cincin juga," sahut Ren sambil membersihkan salju yang belum mencair di jaketnya.

"Oi oi. Jangan membuang salju di lokku!"

"Siapa bilang ini lokmu? Aku yang memilikinya." Ren menaikkan alis.

"Lok ini milik pertambangan."

"Pertambangan adalah milikku," sahut Ren cepat.

"Pertambangan akan menjadi milikmu ketika kau menikah. Pemilik sementara adalah Tuan Laird, seperti yang ada di wasiat ibumu. Tuan Laird yang menyuruhku memelihara lok ini, jadi secara tidak langsung akulah pemiliknya," sahut Basil lebih cepat lagi.

Logika seperti apa itu?

"Mana ada peraturan yang demikian? Yang membuat lok ini ...."

"Adalah si tua Berret, yang dijualnya pada Ibumu, yang diberikannya pada Tuan Laird, yang Tuan Laird berikan padaku. Lihat, tidak ada kamu di dalam orang-orang yang kusebutkan."

"Tentu saja tidak ada, karena itu adalah versimu," sahut Ren tiba-tiba malas. "Walaupun agak benar sedikit."

Basil tersenyum jahil.

"Sepertinya kau sudah tenang sekarang. Kau harus lihat bagaimana wajahmu, sangat pucat sekali. Aku tidak tahu apa yang kau lihat di gua sampai kau seperti ini. Jadi sekali lagi, bagaimana petualanganmu dengan jurang dan cincin ajaib?"

Apa aku sepucat itu?

Ren memejamkan mata, mengingat kegelapan pekat yang menyelimutinya dekat jurang. Dia mulai menceritakan dari awal sampai bagian itu.

"Jurangnya gelap, bahkan kristalit cahaya sendiri seperti tidak mau meneranginya. Sangat dalam, mungkin. Sedang cincinnya ... aku tidak tahu apakah ajaib atau tidak, walau cincin itu memiliki tulisan aneh. Mungkin bahasa Drasia atau Kalara."

"Cincinnya kamu ambil?" tanya Basil.

"Tentu, masa aku tinggalkan begitu saja di sana," sahut Ren.

"Ketika kita sampai di Mazell, aku ingin melihatnya. Dan ceritakan lagi tentang kegelapan itu. Sepertinya menarik."

Ren mengangkat bahu. "Kegelap ...."

Basil tiba-tiba menekan rem dan berhenti memberikan Aura pada kristalit api kecil. Ren sendiri hampir saja menabrak kaca depan. "Mengapa kau melakukan itu?"

Basil mendongakkan wajahnya ke depan.

Tumpukan salju menghadang. Salju itu menutup rel sepanjang beberapa meter ke depan.

Mereka berdua keluar. Ren memandang tumpukan salju itu dengan bingung. Dia melihat wajah Basil dan menemukan ekspresi yang sama.

"Mengapa rel ini terkena salju?" tanya Ren.

"Kristalit apinya sudah habis? Apa sih yang dilakukan Hein? Jangan-jangan dia ketiduran," sambung Basil sambil menendang tumpukan itu.

Kalau mereka tetap memaksa untuk menerobos, rasanya tidak akan mungkin. Lok Basil hanya memiliki tenaga yang kecil. Belum lagi lok itu membawa gerobak penuh Lightite.

"Nih! Cairkan saja!" Ren melemparkan kedua kristalit apinya. "Aku tidak tahu berapa sisa Auraku sekarang. Mungkin sudah hampir habis gara-gara tiga jam dalam Anora. Jadi, kamu saja yang mencairkannya."

Basil segera menyambut kedua kristalit itu. Memegangnya di kedua tangan, kristalit itu berubah menjadi bola api di kedua tangan Basil. Basil mengarahkan bola api tersebut ke tumpukan salju. Kobaran api langsung membuat tumpukan salju meleleh. Dia terus melakukannya sampai rel bebas dari tumpukan salju. Beberapa saat kemudian, api yang ada di tangan Basil menghilang bersama-sama dengan kedua kristalitnya.

"Mungkin Hein tertidur dan lupa memberikan Aura pada kristalit apinya," kata Ren.

Basil melihat sekelilingnya.

"Sepertinya tidak mungkin. Rel bagian lain tidak ditumpuki salju. Hanya bagian ini saja yang ada saljunya," bantah Basil.

"Apa kristalitnya sudah habis, ya?" Ren menggaruk kepalanya. "Sebaiknya nanti aku diskusikan ini dengan Tuan Laird."

"Ya, lebih baik begitu."

"Ini cuma masalah teknis biasa," kata Ren menenangkan diri.

Mereka berdua terdiam sejenak setelah membicarakan hal tersebut. Di depan Ren sudah dapat melihat siluet kota Mazell di balik jatuhnya salju. Dia tersenyum.

"Sil, sebaiknya kita langsung jalan saja daripada tetap di sini." Ren naik kembali ke tempat duduknya.

"Sepertinya kamu ingin cepat-cepat ke Mazell."

"Tentu saja. Kegelapan yang hidup, kristalit yang padam, rel yang bermasalah, perut yang lapar, keberadaanmu yang menjengkelkan. Apalagi yang membuatku tidak ingin cepat ke sana?"

"Ya, ya."

♢ ♢ ♢

Mazell merupakan kota yang indah. Ren telah tinggal di kota ini sepanjang hidupnya, jadi tidak terlalu heran jika dia berpikiran seperti itu. Walaupun dia sudah pernah melihat Mircea-pusat dari kerajaan Thrusia ini-dan kelima menaranya, namun kemegahan Mircea masih belum bisa mengalahkan keindahan unik berbalut salju yang dimiliki oleh Mazell.

Dari kejauhan Ren sudah dapat melihat bangunan-bangunan Mazell yang telah diselimuti salju. Beberapa rumah yang berada di luar kota tetap melakukan aktivitas mereka. Setidaknya sekarang salju telah turun dan Ren dapat melihat beberapa orang sedang menyalakan api di perapian mereka. Mengapa mereka tidak melakukannya sejak tadi, dia tidak tahu. Dari dalam lok Ren dapat melihat penduduk berdekatan dengan api sambil menghangatkan diri.

Lok berhenti ketika telah sampai di tempat tujuannya, yaitu pabrik pengolahan Lightite menjadi kristalit cahaya. Beberapa orang pekerja datang menghampiri lok. Ren dan Basil segera turun. Para pekerja itu pun mengeluarkan bongkahan Lightite yang ada di gerobak lok.

"Lebih baik kita melihat Hein sekarang," sahut Basil.

"Terserah. Kamu duluan saja, aku mau mengeringkan jaketku."

Basil hanya mengangkat bahu.

Ren pergi ke ruang pekerja. Ruang itu sederhana saja, dengan dinding yang terbuat dari bata yang telah diberi kristalit api supaya tetap hangat, terutama di situasi seperti ini. Ren meletakkan jaketnya di sana, kemudian dia ke dalam toilet.

Dia mencuci muka sebentar. Rambutnya hitamnya yang acak-acakan semakin tidak beraturan. Sedikit rambut cokelat di kedua sisi kepalanya bahkan hampir tidak tampak lagi, ditutupi oleh rambut hitamnya. Ren merapikan sedikit rambutnya. Seorang Count harus berpenampilan rapi. Setelah melakukan hal tersebut, dia pergi ke ruangan Hein yang tidak begitu jauh dari toilet.

Ren membuka pintu ruangan Hein. Di pintu itu tertulis "Hein Alaster, Kepala Bidang Riset dan Pemeliharaan Pabrik". Ren tersenyum. Ketika Ren masuk dalam ruangan, dia melihat Basil telah sampai di sana. Sedang Hein sedang duduk di kursinya sambil memberikan Aura pada kristalit api yang ada di mejanya. Dari bawah kristal itu ada kabel-kabel yang merayap ke sana ke mari. Kabel yang berhubungan langsung dengan rel-rel yang ada di luar.

Ruangan Hein tidak dapat dikatakan rapi. Banyak kabel yang tidak beraturan letaknya. Beberapa kristalit yang ada di sana juga terkesan asal-asalan. Belum lagi wajah pucat Hein yang menyambut Ren. Satu-satunya yang tampak bagus di ruangan itu hanya Basil yang tersenyum sendirian.

"Tuan Muda akan memecat saya?" tanya Hein gemetaran.

"Huh?" Ren tidak jadi berbicara.

Basil langsung tertawa terbahak-bahak, sedangkan Hein berubah jadi kebingungan. Ren mulai sedikit mengerti apa yang terjadi.

"Tidak. Aku tidak akan memecatmu. Lagi pula kamu percaya dengan apa yang dikatakan Basil? Dia kan tukang bohong," kata Ren menenangkan. Dia menatap tajam Basil yang berhenti tertawa. Basil tersenyum lagi. "Apa yang dikatakannya padamu?"

"Dia mengatakan kalau seluruh rel lok dari luar kota sampai gua Anora ditimbun salju. Tuan Muda serta dia harus menggunakan banyak kristalit api untuk melelehkan salju-salju itu."

Ren melirik Basil lagi. Yang dilirik tetap tersenyum senang. Dia menghela napas. Seharusnya aku tidak mengajak Basil. Anak itu cuma tahu menyusahkan saja.

"Tidak ada yang seperti itu. Hanya saja di bagian tengah daerah Mazell Barat ada salju yang menimbun rel sepanjang ...." Ren berhenti untuk mengingatnya.

"Sepuluh meter," sambung Basil.

"Ya, sepuluh meter."

Hein tampak kebingungan.

"Tapi Tuan Muda, sejak turun salju sampai sekarang saya tetap berada di sini, memberi Aura pada kristalit ini agar rel tetap panas. Saya rasa itu tidak mungkin, kalau yang menceritakannya bukan Anda, saya pasti tidak percaya."

"Jadi kamu tetap di ruangan ini?" selidik Ren.

"Iya Tuan Muda. Sejak salju turun saya tetap di sini."

"Kalau begitu mengapa saljunya tidak mencair, ya?" Ren menggaruk kepalanya.

"Mungkin kristalit apinya tidak sampai," kata Basil.

"Kalau begitu seharusnya rel yang kita pakai sebelum sampai ke bagian yang tertimbun itu juga ikut tertimbun juga," bantah Ren.

Mendengar itu Basil hanya mengangkat bahu, mengisyaratkan kalau dia tidak tahu lagi. Hein kemudian berbicara.

"Tenang saja Tuan Muda, nanti saya akan menyelidiki masalah ini. Akan saya laporkan pada Anda bagaimana hasilnya nanti." Nada suara Hein mengandung kepercayaan, membuat Ren mau tak mau menjadi terkesan juga.

"Sejak kita menemukan bagian gua itu, Mazell jadi tempat yang aneh," kata Basil tiba-tiba, nada cerianya menghilang.

"Semua kejadian itu pasti ada alasannya," sahut Ren. Namun, dia harus mengakui kalau dia agak takut dengan semua kejadian ini. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di Mazell?

Tidak, jangan biarkan emosi mengendalikanmu. Menatap Hein, sekali lagi, dia berkata, "Baiklah Hein. Kalau kamu memiliki kesulitan dalam melanjutkan penyelidikanmu, bicarakan saja."

Setelah mengucapkan itu Ren berjalan keluar.

"Hei, ada yang kamu lupakan," kata Basil tiba-tiba.

"Apa?"

Basil membuat gerakan memasukkan cincin ke jarinya. Ren langsung mengerti.

"Di sini?"

"Di mana lagi?" Basil balik bertanya.

Ren segera meraih cincin yang ditemukannya itu dan memperlihatkannya pada Basil dan Hein.

"Cincin untuk siapa itu, Tuan Muda? Untuk tunangan anda ya?" tanya Hein.

"Aku belum memiliki tunangan. Lagi pula ini bukan cincinku, aku menemukannya di gua Anora."

"Coba lihat," rampas Basil dari tangan Ren. Basil mengarahkan cincin itu ke arah lampu kristalit, kemudian bersiul.

"Wah, sepertinya ini terbuat dari kristalit cahaya asli. Lihat saja teksturnya, aku belum pernah melihat perhiasan seperti ini."

Hein mengambil cincin itu dari Basil dan melakukan hal yang sama, kecuali dia tidak bersiul.

"Benar Tuan Muda, ini memang kristalit cahaya asli. Anda menemukannya di mana tadi?"

"Gua Anora, bagian yang belum dijelajahi."

"Tempat yang dirumorkan ada hantunya itu?" tanya Hein lagi.

"Ya, tentu saja yang itu."

Hein tidak bertanya lagi. Dia tetap memperhatikan cincin itu. Basil ikut-ikutan memperhatikan cincin itu juga.

"Kamu tahu apa yang tertulis di sini Hein?" tanya Basil menunjuk bagian dalam cincin.

Hein terdiam. Dia mengamati sekali lagi bagian dalam cincin itu, kali ini dengan bantuan kristalit cahaya yang diambilnya dari meja.

"Tadi aku menyangka ini tulisan Drasia, tapi aku tidak terlalu pasti. Bahasanya agak aneh," kata Hein.

"Awalnya aku juga berpikiran seperti itu," sambung Ren. "Aku bahkan mengira kalau bahasa yang digunakan adalah bahasa Kalara. Huruf-hurufnya agak mirip sih."

"Mungkin orang di Mircea tahu tentang bahasa ini," kata Basil menimpali.

"Mungkin juga. Tapi sebelum itu kita harus memastikan kalau cincin ini bukan milik penduduk lokal. Walaupun itu sebenarnya agak tidak mungkin," kata Ren.

Cincin itu tiba-tiba bersinar temaram di jari Hein. Hein yang terkejut hampir melepaskan cincin itu dari pegangannya.

"Aku tidak memberi Aura pada cincin ini, tapi mengapa ia bersinar sendiri?" tanya Hein.

"Aku lupa mengatakan kalau cincin itu juga bisa melakukan hal tersebut," kata Ren.

"Coba lihat lagi!" kata Basil sambil mengambil cincin itu dari Hein. Cincin itu padam.

Basil kelihatan sekali menggunakan Aura untuk menghidupkan kembali cincin itu. Namun, cincin itu tetap tidak mau bersinar.

"Bersinarlah, cincin bodoh!" perintah Basil. Dia bahkan sampai memicingkan matanya untuk memfokuskan Aura pada cincin itu. Cincin itu tetap seperti tadi, tidak mau bersinar.

"Sini," ambil Ren. "Sampai kapan pun kamu tidak akan bisa menghidupkannya. Cincin ini ... mengikuti peraturannya sendiri," kata Ren sambil menimang cincin itu.

"Sepertinya cincin itu bukan untuk pertunangan anda Tuan Muda," kata Hein.

"Tentu saja bukan," kata Ren. "Lagi pula aku belum bertunangan."

Hein mengernyitkan keningnya.

"Tapi kata Tuan Laird anda akan bertunangan," kata Hein lagi. "Calon tunang Anda sudah datang, katanya."

Mata Ren membesar. Elysa sudah datang? Kapan? Mengapa dia tidak tahu? Ren menggeleng. Tidak, kita membicarakan Tuan Laird di sini. Selera humornya bahkan lebih aneh lagi dari Basil. Siapa tahu dia berbohong.

Kalau benar sekalipun, ini lebih cepat dari yang dikiranya. Dia masih belum begitu percaya kalau Elysa setuju dengan pertunangan ini. Ren sendiri tidak pernah lagi melihat Elysa sejak bertahun-tahun yang lalu.

"Kamu percaya dengan apa yang dikatakan Tuan Laird?" tanya Ren memastikan.

"Sepertinya dia serius tadi."

"Sudahlah Hein, Tuan Laird pasti sedang bercanda. Ayo Sil," kata Ren mengajaknya keluar.

"Oke Tuan Muda." Tuan Muda dikatakannya dengan remeh sekali, sudah kebiasaan Basil.

"Kamu tahu, kalau bukan temanku, kau pasti sudah kupecat dari dulu," ujar Ren ketika mereka berada di lorong, berusaha menghilangkan pikirannya dari Elysa.

"Apa kamu bisa melakukan hal itu Ren?" tanya Basil lagi, sambil tetap tersenyum. "Ketika si Sion dan gengnya ketahuan menjual Lightite diam-diam ke Enice, kamu tetap mempekerjakan mereka sampai sekarang."

"Itu karena mereka ahli dalam menentukan kualitas Lightite. Kamu? Hanya bisa mengendarai lok saja," ejek Ren. "Aku bisa mencari pengganti yang lebih baik."

"Hah, walaupun kamu ingin memecatku, Tuan Laird harus setuju juga dengan pemecatanku," kata Basil sambil meninju lengan Ren.

Ren tidak menjawab, namun dia melayangkan tinjunya pada Basil. Basil menghindar. Senyumannya semakin lebar.

"Ayo Ren kita buktikan siapa yang lebih kuat di sini."

Ren ikut tersenyum. "Dalam permainan pedang, aku mungkin kalah. Namun pertarungan kosong, aku tidak akan kalah padamu." Sedetik kemudian dia langsung menyerang Basil kembali. Kali ini Basil tidak menghindar, dia menghadang pukulan Ren dengan tinjuannya sendiri. Ren meringis ketika serangan mereka bertemu. Tulang jarinya terasa patah. Basil ikut meringis juga.

"Sial, tinjuanmu seperti batu saja. Apa kamu menggunakan kristalit tanah?" tanya Ren.

"Tentu saja tidak." Basil meninju Ren sekali lagi. Kali ini Ren menghindar ke belakang.

"Siapa yang mukanya ditinju terlebih dahulu harus menari-nari di hadapan Master Porren," kata Basil.

"Baik."

Ren berlari lagi ke arah Basil. Ren pura-pura akan meninju Basil. Namun ketika Basil akan mengelak, dia langsung mengaitkan kakinya pada kaki Basil. Basil terjatuh ke lantai dan tanpa membuang waktu lagi, Ren meninju muka Basil.

"Hah, tidak ada larangan yang mengatakan tidak boleh menggunakan kaki. Aku menang."

Ren mengulurkan tangannya pada Basil.

Basil hanya mendengus jengkel. Dia mengambil uluran tangan Ren, dan langsung menariknya. Tangan kirinya langsung meninju muka Ren. Ren tidak sempat mengelak. Pipinya terasa panas setelah ditinju oleh Basil. Setelah itu dia langsung menabrak lantai, semakin memperparah situasinya.

"Sial," umpat Ren. "Kau menggunakan kristalit tanah."

Basil hanya tertawa. "Akui saja kalau pukulanku lebih menyakitkan, jangan pakai alasan kristalit tanah segala. Dan walaupun kau menang, aku tidak akan puas kalau tidak menghajar wajah sombongmu itu," kata Basil sambil berdiri.

Ren ikut berdiri juga sambil memegang wajahnya yang terasa panas. Seorang Count harus berpenampilan rapi sepertinya tidak berlaku lagi sekarang.

"Tapi aku tetap menang kan?" tanya Ren menghilangkan darah yang ada di bibirnya.

Muka Basil berubah masam.

"Ya," kata Basil, kelihatan sekali tidak ikhlas. Ren tersenyum senang.

"Ingat, menari di hadapan Master Porren. Aku sudah dapat membayangkan apa reaksinya nanti."

"Baik, baik," sahut Basil kesal.


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top