Bab 16 : Api dan Es
❄ ❄ ❄
"Mati! Mati! MAATI!" raung Shelk.
Caster itu melayang lima meter di udara; sambil terus-menerus melemparkan bola api ke segala arah. Ledakan demi ledakan menyertai api tersebut. Serpihan bangunan, tanah, dan salju berhamburan. Elysa meringis sambil mundur. Jubah Riege-nya berkibar terkena angin ledakan.
Hujan pisau Elysa tadi tidak ada satu pun yang melukai Shelk. Si Caster Aneh dengan teliti menempatkan api-api kecilnya di jalur serangan pisau Elysa, tindakan yang tidak akan pernah dia perkirakan dari orang yang terus meraung seperti hewan liar itu. Ada beberapa pisau yang berhasil melewati blokade api Shelk, tapi malah menguap saat mendekati tubuhnya.
Ck, berapa sih suhu tubuh anak ini? Elysa melirik dua pisau Marvae di tangannya. Kalau menggunakan mereka, aku mungkin bisa melukainya, tapi....
Menyerang Shelk dengan pisau es biasa terbukti gagal. Tubuh Shelk yang terlalu panas bahkan membuat pisau menguap sebelum mengenainya. Elysa yakin Marvae tidak akan menguap; pisau es yang disalinnya dari Marvae asli milik moyang Kayri itu memiliki kekerasan yang setara dengan berlian. Membuat satu pisau saja menghabiskan seperlima dari Auranya. Hanya karena melimpahnya Aura bebas di udara yang membuat Elysa berani membuat pisau itu sekarang.
"Argh!!" Shelk meluncurkan berbagai bola api pada Elysa. Elysa mau tak mau berlari mundur. Dia membuat beberapa perisai es, mengantisipasi ledakan api itu.
Api meledak, memorak-porandakan perisai Elysa.
Shelk berteriak lagi. Elysa meringis sambil menganalisa serangan Shelk, mencari celah yang bisa diterobosnya.
Pola serangan anak itu monoton sekali: buat api, lemparkan, buat api lagi, lemparkan. Sama sekali tidak memiliki keanggunan yang dimiliki Caster Api lain. Namun, pengendaliannya yang kasar tidak mengurangi keefektifannya dalam membuat kehancuran. Biasanya Elysa tidak akan kewalahan menghadapi taktik itu. Tapi kecepatan Shelk membuat api lebih laju daripada Caster Api manapun yang dikenal Elysa.
"Kau sebenarnya apa?" gumam Elysa.
"Ma-ti!" desis Shelk membalasnya. "Aarrgh!!"
Elysa meringis. Teriakan itu membuat telinganya terasa ditusuk jarum. Ledakan "bunuh diri" Ren memang sukses memperburuk Shelk. Anak itu tidak terlihat seperti manusia lagi. Seluruh kulitnya hitam terbakar. Rambutnya gosong dan berasap. Pakaiannya ikut berapi dan berlubang. Mendengar cerita singkat Ren tadi, dari segi mental Shelk juga sudah tidak tertolong lagi.
Sang Pencipta! Dalam kondisinya sekarang, dia harusnya sudah mati.
Elysa berharap dia bisa melumpuhkan Shelk dalam sekali serang. Kerusakan yang dibuat anak tersebut di Distrik Rumah Sakit sudah terlalu parah. Tidak ada lagi bangunan yang berdiri dalam radius lima puluh meter. Hancur, terbakar, roboh, meledak. Bau hangus menyebar di udara pagi yang dingin ini. Elysa cuma bisa berdoa agar penduduk distrik telah dievakuasi. Dia tidak ingin melihat kematian penduduk Mazell lagi.
Mengapa kau jadi peduli dengan mereka? tanya pikiran Elysa yang lebih sinis.
Daripada menjawab itu, Elysa memilih untuk fokus pada Shelk. Dua perisai esnya sekali lagi berhasil mencegat serangan api-api Shelk.
Elysa mengusap keringat di dahinya dengan napasnya turun-naik. Terlalu sering meng-Casting pisau dan perisai es dalam waktu singkat membuat tubuhnya lelah dengan cepat. Lawan-lawan Elysa yang lain biasanya sudah tidak bergerak atau mati saat dia mulai kelelahan. Tapi hal tersebut tidak berlaku pada Shelk. Si Caster aneh malah makin gencar menyerangnya.
Es dan api kembali bertemu. Dini hari berawan ini seperti pentas untuk Elysa dan Shelk, di mana kedua peserta berlomba untuk mendominasi lainnya. Elysa tidak mempunyai dendam apa-apa terhadap Shelk. Namun, Shelk telah membuat kesalahan dengan menyerang kota ini. Saat mengetahui kalau tunangan misteriusnya adalah Ren, Elysa telah memutuskan untuk membuat Mazell sebagai rumah masa depannya. Dia merasa bertanggung jawab untuk melindungi itu.
Semua ini akan cepat selesai kalau aku bisa mendekatinya! geram Elysa. Mendekat sebelum aku terluka.
Sejak tadi serangan Shelk selalu berhasil dihindari atau dihentikannya. Tapi dia tidak bisa terus-menerus menghindar. Suatu saat, Shelk pasti akan mengenainya. Sebelum itu terjadi, anak itu harus sudah tidak berkutik.
Salju di sekitar Elysa mengeluarkan uap biru transparan yang terlihat menari di matanya.
Mungkin ... aku bisa menggunakan mereka....
Elysa memperhatikan sekitar. Ren dan teman-temannya telah Elysa usir ke rumah sakit, walaupun mereka terlihat tidak mau meninggalkannya. Para penjaga kota dengan senjata siap di tangan mengelilinginya dan Shelk, tapi dari jarak yang cukup aman. Bagus. Elysa tidak mau mereka membeku tanpa sengaja atau terkena api nyasar Shelk.
Dia menghela napas panjang. Dengan cepat dia menyebarkan Aura pada salju di sekelilingnya. Salju yang menutup jalan, tanah, dan bangunan di distrik itu langsung berubah jadi es. Es menutup hampir seluruh distrik, menjadikan daerah itu seperti sebuah padang es. Elysa tersenyum. Untunglah dia berada di daerah bersalju, jadi bisa membuat trik ini tanpa takut kehabisan Aura. Aura-Aura sisa badai masih berkeliaran bebas di udara. Dia bisa mem-Binding dan menyerap Aura itu untuk menggantikan Aura miliknya. Dengan begitu, Auranya tidak akan habis.
Gara-gara melamun, Elysa tidak menyadari sebuah bola api telah menghampirinya dengan sangat cepat. Tidak akan sempat membuat perisai! Dia langsung membungkus dirinya dalam es. Tabrakan api itu dengan tubuhnya membuat Elysa terlempar beberapa meter ke belakang.
"Arh!" teriak Elysa. Es yang membungkusnya langsung mencair; gaun tidur dan jubah Riege-nya gosong, tidak lagi berwarna putih. Dia sendiri merasa dipanggang dalam oven raksasa.
Elysa langsung membuang jubahnya untuk mengurangi panas.
Baiklah, pikir Elysa geram sambil berdiri. Dua pisau Marvae-nya digenggam dengan erat. Mengingat kau adalah Caster liar, aku tidak perlu merasa bersalah membunuhmu.
Sebuah bola api raksasa—dengan garis tengah hampir lima meter—melaju pada Elysa. Dia mengelak dengan susah payah. Perisai esnya tidak akan mampu menahan api sebesar itu. Api tersebut diikuti oleh puluhan api kecil yang menyerbu Elysa bagai hujan. Menggunakan padang esnya seperti area ski, Elysa meluncur pada Shelk selaju mungkin. Ledakan kecil terdengar bersahutan di belakangnya. Telinga Elysa sakit mendengar bunyi-bunyi itu. Serpihan es dan tanah bertaburan di udara.
Semakin mendekati Shelk, udara menjadi semakin panas. Sekitar sepuluh meter dari anak itu, Elysa tidak tahan lagi. Dia melambatkan luncurannya dan mulai mengitari Shelk dari jarak aman, sambil tetap mengelak dari serangan apinya.
Sial! Bagaimana mengalahkannya kalau mendekat saja aku tidak mampu?
Shelk meraung, dan dalam sekejap, Elysa bisa melihat seorang berambut putih melayang di samping anak itu. Bayangan tersebut menghilang sesaat kemudian. Entah apa yang terjadi, tapi Shelk malah menghentikan serangannya.
Elysa sedikit menjauh sambil memikir ulang strateginya. Dia bisa melempar Marvae; Elysa yakin Marvae tidak akan menguap saat mendekat Shelk. Tapi, Marvae bukan pisau lempar; peluangnya untuk meleset jauh lebih tinggi dari pisau Elysa yang biasa. Walaupun masih memiliki Aura, Elysa tidak yakin bisa membuat Marvae yang baru lagi. Pisau itu memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk dibuat, dan konsentrasi merupakan sebuah kemewahan di saat seperti sekarang.
Apa dia harus mem-Binding Shelk? Elysa langsung menggeleng. Jika dia mem-Binding Shelk dengan benang Auranya, sebuah 'hubungan' akan terbentuk antara dirinya dan Shelk. Dengan 'hubungan' itu, Elysa bisa saja menyerap Aura Shelk atau mengubah struktur tubuh Shelk jadi es, langsung memenangkan pertarungan itu. Akan tetapi, dengan 'hubungan' yang sama, Shelk juga bisa menyerap Aura Elysa atau mengubah Elysa jadi api. Elysa tidak mau mengambil resiko itu sekarang.
"Ma-ti!" geram Shelk sambil menembakkan peluru api dari kedua tangannya.
Elysa berdecih kesal dan mengelak dengan susah payah.
Sialan! Apa aku cuma bisa menahan atau mengelak saja?
Satu-satunya cara adalah menunggu Aura Shelk habis. Dia pasti menggunakan banyak Aura waktu mengebom kota dan menyerang Ren; sekarang Auranya pasti tinggal sedikit. Momen itu bisa digunakan Elysa untuk menghabisinya.
Berapa lama lagi sampai dia kehabisan Aura?
Elysa sendiri tidak yakin kapan Shelk akan habis. Aura Caster lain bisa dilihat dari uapnya. Caster dengan Aura yang tinggal sedikit biasanya mengeluarkan uap yang lebih tipis. Namun, dengan Shelk hal tersebut tidak berlaku.
Shelk sama-sekali tidak mengeluarkan uap. Tidak ada uap merah, atau uap dengan warna yang dikenal Elysa. Yang dilihat Elysa cuma kabut ungu tipis yang kadang-kadang muncul saat Shelk menggunakan apinya.
Tubuh seorang Caster akan konstan mengeluarkan uap selama Auranya dihidupkan, seperti uap biru yang terus keluar dari tubuh Elysa sekarang. Tapi, kabut ungu Shelk tidak keluar dari tubuhnya. Lebih terkesan seperti turun dari langit. Satu lagi bukti kalau yang dilawannya bukan Caster biasa.
Bola api kembali menyerang. Elysa mundur sambil membuat perisai es. Perisai itu meleleh, tapi bola tersebut juga ikut menghilang.
Kalau begini terus, pertarungan tidak akan selesai-selesai. Tangisan dan rintihan beberapa anak kecil samar-samar didengar Elysa. Tak jauh dari tempat ini—tapi dari jarak yang cukup aman, para penjaga kota berkeliling mencari yang selamat: membongkar bangunan yang roboh, mengangkat warga dari timbunan rumah mereka, atau sekedar memberi pertolongan pertama pada korban.
Mereka punya tugas mereka sendiri, pikiran Elysa menjadi tenang. Setidaknya aku berhasil mengalihkan perhatian Shelk dari mereka.
"Aarrgh!" teriak Shelk sambil menengadah ke langit. Sepuluh bola api langsung keluar dari tubuhnya, lantas melesat ke segala arah. Elysa menunduk; bola api itu terlalu laju sampai dia tidak sempat membuat perisai. Elysa mengumpat tanpa sadar. Panas api kembali membakar kulitnya. Walaupun cuma lewat, api tersebut membuat gaun tidurnya yang tipis semakin gosong, bahkan berlubang.
Sekarang aku harus melindungi kehormatanku juga, pikir Elysa sambil menggigit bibir. Dia menggeleng. Tidak ada waktu untuk itu.
Beberapa pisau Elysa balas menyerang Shelk. Anak tersebut mengayunkan tangan, tanda kalau dia akan membuat bola api lagi. Bola api yang dibuat biasanya sama dengan jumlah pisau yang menyerang.
Tidak ada api yang terbentuk.
Mata Shelk melebar. Dia langsung terbang mengelak. Tidak hanya itu. Tubuhnya juga mulai turun ke tanah dengan perlahan.
Shelk menelengkan kepala, tampak kebingungan dan geram.
Mengapa dia menghindar? Panas tubuhnya tetap akan mencairkan pisauku. Kecuali....
Auranya kritis, sadar Elysa. Sekarang!
Elysa tidak tahu apa yang merasuknya, tapi dia meluncur bagai kilat di area es. Pisau-pisau terbang mengikutinya. Kedua Marvae-nya digenggam erat, siap untuk digunakan. Shelk masih melayang beberapa meter di udara, tapi Elysa yakin bisa melompat setinggi itu dengan menggunakan momentum luncurannya.
Menyadari Elysa semakin dekat, tangan kanan Shelk teracung ke langit. Lima bola merah dengan berbagai ukuran mulai keluar dari tubuhnya. Luncuran Elysa semakin cepat, tapi kelima bola itu telah terbentuk sempurna sebelum dia sampai. Sisa senjata Elysa langsung menyerbu Shelk. Shelk menggeram, tapi tidak lagi menghindar. Kelima bola merah itu terbang ke depan, berputar-putar, menghancurkan setiap es yang berusaha menyerang Shelk.
Bola merah yang sebesar kepala tiba-tiba melesat pada Elysa. Elysa mengelak dengan memutar tubuhnya. Bola lain dengan ukuran lebih kecil menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang.
Oh si—
Bola merah sekeras baja itu menghantam perut Elysa dengan kuat. Sesaat, Elysa kehilangan napas. Perih dan sakit yang tak tertahankan membuatnya hampir hilang kesadaran. Elysa samar-samar mengingat dirinya terlempar, lalu menabrak reruntuhan sebuah rumah.
Rasa sakit menyerang setiap inci tubuh Elysa. Napasnya turun-naik dengan kacau. Perutnya perih; tubuhnya seperti baru ditabrak lok mini. Untunglah saat terlempar, dia sempat membuat es membungkus dirinya, sehingga tidak ada luka berarti pada kulitnya.
Tidak terluka bukan berarti tidak sakit.
Mata Elysa berair menahan perih. Dia cuma bisa menatap nanar pada Shelk yang melayang turun tak jauh dari sana; bola-bola merah itu berputar mengelilinginya.
Aku ... mulai benci ... dengan ... bola!
Mungkin merasa Elysa tidak lagi berdaya, Shelk tidak lagi memperhatikannya. Dia malah mengatupkan tangan di depan dada dan memejamkan mata. Ekspresi Shelk masih menahan sakit, tapi dia tidak lagi berteriak.
Aura-Aura sisa badai mulai mendekati dan berputar pada Shelk. Mata Elysa membesar. Apa dia mengisi Auranya? Dengan mengambil Aura dari salju? Tapi cuma Caster Air atau Es yang bisa melakukan itu.
Oh, tidak! Kalau Aura Shelk terisi kembali, kesempatan Elysa untuk mendekat jadi nol lagi. Semua serangan esnya juga akan sia-sia gara-gara tubuh panas Shelk. Selain itu, kalau Auranya penuh, dia bisa menggunakan kembang api bom itu lagi. Bisa jadi bukan cuma distrik ini saja yang akan hancur, tapi seluruh kota.
Elysa berdiri dengan susah payah. Kepalanya pusing dan matanya masih berair menahan sakit. Sang Pencipta, dia ingin sekali tidur. Kelelahan dan rasa sakit di sekujur tubuhnya semakin menggoda Elysa untuk membiarkan dirinya terlena dalam kegelapan. Tapi Elysa susah payah memaksakan diri untuk tetap membuka mata dan menatap Shelk dengan garang.
Bola merah dengan berbagai ukuran itu tetap berputar mengelilingi Shelk; fungsinya pasti melindungi anak itu dari serangan Elysa. Sementara Shelk mengisi Aura, mereka berperan sebagai bodyguard-nya.
Sekali lihat, bola-bola merah itu seperti ... planet yang mengelilingi bintangnya, pikir Elysa tiba-tiba.
Kesempatanku ... cuma sekarang, saat dia masih ... mengisi Aura.
Meringis, Elysa memegang dua pisau Marvae-nya semakin erat. Tak tahan menunggu, dia pun memulai inisiatif. Sisa pisaunya terbang menyerang Shelk. Bola-bola merah itu kembali menyergap pisau Elysa.
Shelk membuka mata dan mendesis pelan. Bola api bermunculan di udara dan melesat pada Elysa. Elysa tetap maju sambil menghalangi itu dengan beberapa perisai.
Shelk tiba-tiba terbang ke depannya, meninju perisai Elysa sampai hancur.
"Sam-pah!" serak Shelk. "Meledak-lah!"
Tangan berapinya berusaha menggapai kepala Elysa.
Elysa mundur dengan terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Shelk akan mendekat. Keringat mengucur membasahi gaunnya sampai basah. Kulit Elysa kembali terbakar karena berhampiran dengan Shelk. Beberapa pisau esnya bahkan mencair. Tapi sedekat ini.... Haha, bodoh! Dia langsung melemparkan Marvae di tangan kirinya, tapi pisau itu cuma ditepis Shelk.
Sebuah benda keras menyerang Elysa dari belakang. Urh. Dia melupakan bola-bola itu. Elysa terjungkal ke depan. Shelk telah menunggunya, dengan tangan terulur untuk menyentuh kepala Elysa. Dia tersenyum penuh kemenangan. "Ma-ti!"
Kehilangan akal untuk menghindar, Elysa membungkus kepalanya sendiri dengan balok es setebal sepuluh senti. Dia langsung menahan napas.
Tangan berapi Shelk menyentuh balok es di kepalanya. Es tersebut menguap seketika, tapi untung lah tubuh Elysa tidak meledak. Elysa kembali bernapas. Sekarang bukan cuma kulitnya saja, tapi paru-parunya juga ikut terasa terbakar menghirup udara sekitar Shelk. Tangan Elysa bergetar memegang Marvae terakhir. Sakit dan perih ini menyeret Elysa semakin ke batas kesadarannya. Tidak! Tidak! Jangan pingsan! Sudah sangat dekat! Shelk tampak terkejut, tapi kembali mendekatkan tangan berapinya ke kepala Elysa. Elysa—yang dasarnya lebih tinggi dengan jangkauan tangan lebih luas daripada Shelk—berhasil menancapkan pisau Marvae terakhirnya pada jantung Shelk, bersamaan dengan tangan berapi Shelk yang tinggal satu senti saja dari wajah Elysa.
Mata Shelk melebar. Mulutnya tampak berusaha mengeluarkan suara.
Selamat tinggal. Elysa menekan pisau itu.
Darah dengan warna hitam kemerahan muncrat pada pakaiannya.
Seolah ingin membalaskan dendam tuan mereka, bola-bola merah Shelk langsung menyerbu Elysa dari berbagai arah, sebagai bentuk serangan terakhir.
Elysa tidak akan sempat mengelak. Bola-bola itu praktis mengepungnya. Bergerak saja dia kesulitan. Panas tubuh Shelk membuat esnya hampir tidak bisa terbentuk untuk dijadikan pelindung.
Aku....
Entah datang dari mana, beberapa tombak batu dan bongkahan tanah menghantam bola-bola itu. Gerakan bola tersebut menjadi kacau, dan Elysa melihat ada celah untuk mengelak. Dengan sisa tenaganya, dia memasuki celah itu. Bola-bola tersebut bertabrakan sesama mereka, bahkan ada yang mengenai Shelk dan membuat pisau Marvae semakin dalam menyayat jantungnya.
Shelk mematung dan terjatuh ke tanah. Tatapan penuh kebencian dilemparkannya pada Elysa, sebelum nyawa akhirnya meninggalkan raga anak tersebut. Bola-bola merah Shelk jatuh ke tanah, lalu menguap menjadi kabut ungu dan menghilang.
Tertatih, Elysa memegang perutnya dan memastikan Shelk telah mati. Merasa puas, dia terduduk dan mencairkan Marvae. Dia mendengar dua sosok berjalan tertatih padanya. Para prajurit dan penjaga yang selamat juga mulai mendekat dengan hati-hati. Elysa memutar kepala untuk melihat sosok yang mendekat itu. Dia berusaha tersenyum; baru kali ini dia merasa senang bisa melihat Ren.
Ren berjalan dipapah oleh Nelson. Tiga perban menutup luka di pipi dan dahinya. Seluruh lengan dan kakinya juga ditutup oleh perban panjang. Cincin Ren sedikit bersinar; kristalit air, angin, dan tanah bermunculan begitu saja di tangan kirinya.
Itu ... Sealing? Bagaimana? Dia bukan Caster.
"Apa yang ... kalian lakukan di sini?" bisik Elysa. Sang Pencipta, bicara saja sakit sekali.
"Menyelamatkanmu dari diremukkan bola-bola itu. Sebagai ungkapan terima kasih, aku ingin kita kencan lagi," balas Ren dengan nada main-main. Tapi matanya mengeras, apalagi saat melihat Shelk. "Apa dia mati?"
Elysa berpaling. "Aku menusuknya ... tepat di jantung."
Ren menghela napas panjang. "Terima kasih." Nada tulus Ren entah mengapa membuat Elysa tersanjung. Untuk sesaat, sakit yang dirasakannya menghilang. Pemuda itu memegang pundaknya dengan lembut. "Ini." Ren memberikan jubah Riege kembali pada Elysa. Elysa baru menyadari kalau dia cuma mengenakan gaun tidur tipis gosong yang hampir memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Wajahnya sedikit merona. "Betapa pun aku mengagumi tubuhmu, aku kasihan dengan Nelson. Dia tampak akan pingsan," tambah Ren.
Wajah Nelson memerah. Pemuda itu mungkin seumuran dengan Basil. Tidak seperti Ren yang terang-terangan menatap Elysa tanpa malu, Nelson memandang ke segala arah, kecuali pada Elysa sendiri. Elysa bisa mendengar dia menggumamkan sesuatu tentang "tidak sopan" dan sebagainya.
"Ingatkan aku ... untuk membekukanmu ... besok," ujar Elysa masam.
"Yaah, bagaimanapun kau kan calon istriku. Sebelum kita menikah setidaknya aku mendapat sedikit ... preview, kan?" tanya Ren enteng.
Nelson tampak semakin malu berada di antara mereka berdua. "Tuan Muda," bisik Nelson. "Sebaiknya saya membantu di rumah sakit lagi."
"Ya, sebaiknya kau ke sana," kata Ren manggut-manggut. "Bawa medis ke sini. Tunanganku sepertinya akan pingsan sebentar lagi."
Setelah Nelson menjauh, Ren duduk di samping Elysa. Perawakannya langsung berubah seperti siang dan malam. Humor dan kepercayaan diri Ren hilang begitu saja. Matanya mengeras sampai membuat Elysa hampir takut.
Pemuda itu tiba-tiba bergetar. Dia terlihat seperti mau menangis, meraung, atau malah menyerang Shelk penuh dendam. Mungkin semuanya.
Saat itu lah Elysa melihat rumah sakit. Tangannya terangkat ke mulut tanpa sadar. Bagian barat bangunan tersebut hancur tanpa sisa. Tempat itu seingat Elysa penuh dengan pasien. Dia melihat beberapa petugas rumah sakit membawa beberapa pasien yang selamat.
Bola api raksasa. Yang kubiarkan lewat. Pasti itu penyebabnya.
Elysa tidak tahu harus merasakan apa. Jika dia menghalang bola itu, sebagian rumah sakit tidak akan hancur. Tapi kemungkinan besar dia akan mati. Kalau dia mati, tidak ada yang menghentikan Shelk.
Bukan salahku, pikir Elysa keras sampai terkesan ngotot.
Dia melirik Ren hati-hati setelah hatinya agak tenang. Apa Ren menyalahkannya? Dengan mata sekeras itu, Elysa tidak bisa membaca pikirannya.
"Aku sangat ingin membunuhmu!" desis Ren penuh racun.
"A-aku...." gumam Elysa. Mengapa aku harus merasa bersalah? Itu bukan salahku! Baru sesaat kemudian Elysa menyadari kalau perkataan Ren ditujukan pada Shelk, bukan dirinya. Napas lega berhembus dari Elysa.
"Berani-beraninya kau mengacaukan tempat tinggalku!" Berbagai jenis kristalit terus-menerus muncul dan menghilang di tangan Ren, seperti merefleksikan emosi pemilik mereka yang berantakan.
Elysa menoleh mayat Shelk. "Dia ... mati, Ren."
"Teman-temannya masih ada. Mereka di Anora sekarang."
Elysa terbatuk. Masih ada lagi yang seperti Shelk? Dia menatap Ren dengan tajam. Menahan perih dia berkata, "Kau ingin ... melawan mereka? Berjalan saja ... kau sudah kesulitan."
"Aku tahu," ucap Ren. "Tapi, aku ingin melakukan sesuatu, daripada harus diam seperti ini!"
"Kota ini ... memerlukanmu," hibur Elysa. "Kau harus ... istirahat dulu. Aku juga."
Elysa batuk lagi. Mulutnya terasa asin. Setelah mengusap bibirnya, Elysa baru menyadari darah yang mengalir dari sana. Tubuh Elysa menjadi goyah. Daripada ke es yang pasti akan sakit, Elysa menjatuhkan dirinya pada Ren. Pemuda itu memeluknya tanpa sadar.
"El? Oh, tidak, tidak. MEDIS!" teriak Ren panik.
Jangan khawatir, pikir Elysa. Aku pernah mengalami luka yang lebih serius dari ini. Yang kuperlukan cuma tidur.
Berada dalam pelukan Ren ternyata tidak buruk juga. Elysa tersenyum sambil memejamkan mata dan membiarkan dirinya terlena dalam kegelapan.
✓✓✓
A.N :
Terima kasih bagi yang mau baca cerita yang jarang sekali di-update ini. Jangan lupa vote atau komen kalo suka ^^.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top