Bab 15 : Angin dan Tanah
❚ ♦ ❚
Satu bulir keringat mengalir di pelipis Basil. Betapa pun dia ingin mengusap keringat itu, dia tidak ingin ekspresinya pecah. Sikunya tetap bertumpu pada meja, dengan satu tangan tetap memegang kartu. Dua orang di depannya melakukan hal yang sama, melirik ekspresi lawan sambil menatap tajam kartu yang ada di tangan masing-masing.
John menurunkan kartunya hati-hati, diikuti oleh Gilbert. Two Pair dan Full House. Wajah Basil yang datar sejak tadi segera tersenyum.
"Haha, Straight Flush. Aku menang!" seru Basil sambil meletakkan kartunya ke meja. John dan Gilbert mengerang. Beberapa Deuce uang taruhan mereka langsung Basil kantongi. Tiga buah kristalit api yang dipertaruhkan Gilbert juga diambil.
"Sialan!" gerutu Gilbert. Dia cuma bisa melihat dengan setengah hati kemenangan Basil. "Aku curiga kau curang. Royal Flush atau Straight Flush dalam empat giliran! Bagaimana itu mungkin?!"
Basil sama sekali tidak tersinggung, malah tersenyum bangga. "Silakan periksa diriku lagi, Pak Tua. Bukti kalau aku curang tidak akan kau temukan." Di sisi lain meja, John mendengus.
"Haha, sepertinya dewi keberuntungan sedang tersenyum padaku," tambah Basil sambil memainkan tiga kristalit api yang baru didapatkannya.
Gilbert tetap memandangnya tak percaya. Basil nyengir melihat reaksi laki-laki itu.
Salju telah berhenti turun. Udara dalam pos penjaga cukup hangat dengan perapian yang terus dinyalakan selama badai. Basil melirik keluar. Udara masih terlalu dingin, toh baru pukul tiga pagi. Sudah berapa jam dia ada di sini? Badai kali ini berlangsung lebih lama daripada yang pernah diingatnya. Dia yang ingin berlatih menggunakan Fang di gua Anora harus membatalkan rencana itu.
Untung saja kali ini Basil tidak berubah "gila-gilaan" seperti badai sebelumnya. Berjaga-jaga, dia telah menyuruh Gilbert untuk memukul kepalanya kalau peristiwa itu terjadi lagi.
Badai memang datang, tapi membawa kejutan tersendiri buat Basil. Uap biru yang sangat banyak berkumpul di udara membentuk kabut, menyamarkan badai itu sendiri. Tapi saat Basil mematikan Aura, uap itu menghilang, digantikan oleh salju yang turun deras. Saat Aura dihidupkan, uap itu kembali kelihatan.
Dia baru tahu kalau Badai Mazell ternyata memiliki uap Aura. Mengapa tidak ada yang pernah bercerita?
Basil bisa melihat semua uap itu. Tanpa ragu lagi, dia memang Caster. Atau akan Bangun menjadi Caster. Dia tidak tahu apakah harus senang atau terbebani atas fakta tersebut. Yang ada malah kebingungan. Elysa mengatakan kalau dia tidak perlu khawatir, tapi tetap saja....
Kesenangan Basil menghilang sedikit.
Dia menghabiskan kopinya dalam sekali teguk. "Aku harus berlatih kembali. Fang dan aku, kami harus saling mengenal lebih dekat lagi. Badai juga telah berhenti."
"Kau ingin kabur setelah mencuri uang kami?" tanya Gilbert.
"Pak Tua, kau cuma mempertaruhkan kristalit apimu, bukan uang," seru Basil.
John mengetuk meja. "Sil, kau bahkan tidak menolak kalau kau curang."
Basil ingin tertawa, tapi ditahannya. Dia berdiri mengambil Fang. Dia harus berlatih lagi. Elysa menambahkan kalau fisiknya akan menguat sendiri, karena itu merupakan karakteristik Caster Tanah. Tapi Basil merasa itu sebuah kecurangan. Itulah mengapa dia masih terus berlatih di Anora. Dengan Master Porren pergi ke Mircea, dia tidak bisa berlatih di rumahnya. Dies telah mengganti Master dalam melatih anak-anak Mazell menggunakan pedang, dan Basil tidak mau mengganggu pemuda itu.
"Hei, apa itu? Sepertinya ada kebakaran," kata John tiba-tiba, menunjuk jendela. Dia langsung berlari ke luar pos.
"Kebakaran?" tanya Gilbert seolah-olah John sedang bercanda. Basil juga memikirkan hal yang sama. Namun, dia dan Gilbert tetap mengekori John.
Langit timur memang tampak memerah. Berasal dari kota. Mereka tidak dapat melihat api karena dilindungi oleh hutan dan pepohonan, tapi langit yang terang, padahal baru pukul tiga pagi, menceritakan hal yang lain.
"Badai baru selesai sudah ada kebakaran di kota?" tanya Gilbert tak percaya.
"Api pasti sudah besar sekarang," sahut John.
Basil menjadi gelisah, tapi dia tidak tahu mengapa. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. "Sebaiknya aku pulang. Latihan bisa menunggu. Aku ingin tahu apa yang terjadi." Dia menoleh Gilbert. "Oh, ya. Jangan khawatir Pak Tua, kristalitmu akan kukembalikan, kok."
Setelah memegang Fang dan merapatkan jaket lusuhnya, Basil berlari ke lok mini tak jauh dari pos penjaga. Tapi baru sepuluh langkah, dia berhenti lagi.
Di rel lok mini, dua sosok manusia tampak berjalan ke pos penjaga. Seorang wanita berjubah hitam dan berambut ... biru? Di belakangnya mengekor laki-laki bertopeng kayu. Kegelisahan Basil semakin menjadi-jadi.
"Hai," kata Basil melambaikan tangan. "Maaf, area pertambangan tidak dibuka untuk umum. Apalagi jam segini. Sebaiknya kalian pergi."
Kedua orang itu tidak mengindahkan peringatan Basil. Mereka malah berjalan tenang seolah tidak ada orang di pos. "Hei!" seru Basil keras. Dia mengeluarkan Fang, cuma untuk menakuti mereka berdua.
Mereka akhirnya berhenti berjalan setelah dihadang Basil. Si wanita memang berambut biru, memakai jubah hitam yang menutupi pakaian putih. Basil memperkirakan umurnya di akhir 20-an. Sedangkan yang laki-laki memakai topeng kayu berbentuk wanita yang menangis, dan memakai rompi hitam dan bercelana panjang. Kulitnya lebih gelap daripada kebanyakan penduduk Mazell. Orang dari daerah selatan?
Si wanita mengangguk pada pria bertopeng. Basil kembali berkeringat dingin. Jika tadi dia ingin menakuti mereka, entah mengapa setelah dekat, yang takut malah dirinya sendiri.
"Slaft, urus dia."
Slaft, orang yang bertopeng, mengambil sesuatu di punggungnya. Wanita biru kembali berjalan. Basil segera mengacungkan sarung Fang pada si wanita.
"Sil, mundur!" teriak John.
Sejak melihat dua orang itu, insting Basil telah membisikkan bahaya. Tapi teriakan John membuat insting Basil juga berteriak. Untunglah dia mundur tepat sebelum sebuah pedang membelah tubuhnya jadi dua. Basil cuma terkejut sebentar; dia langsung mundur sambil mengeluarkan Fang. Dalam sekejap, kuda-kudanya telah siap.
"Siapa kau? Mengapa menyerang?" tanya Basil keras.
Slaft mengayunkan pedangnya asal-asalan seperti ingin menebas nyamuk. "Aku tidak ingin membunuhmu, tapi perintah adalah perintah."
Mem-bunuh? Dia mengatakan itu dengan kasual sekali, seolah-olah membunuh adalah makanan sehari-hari. Basil menelan ludah.
"Apa kau ... assassin?"
"Pengawal pribadi." Setelah mengatakan itu, Slaft langsung menghunus pedangnya.
CLANG!
Gerakan Slaft sebenarnya cukup dasar bagi ahli pedang seperti Basil. Basil bahkan bisa membaca gerakan tersebut dengan mudah. Tapi, tenaga yang digunakan Slaft untuk mengayunkan pedangnya sangat besar; menangkis saja membuat tangan Basil langsung lecet.
Slaft menyerang, lebih cepat daripada tadi. Basil menghindar ke belakang sambil berusaha mencari pembukaan untuk menyerang balik. Dia tidak mungkin menangkis Slaft. Tangannya bisa lecet lagi.
Slaft tiba-tiba menghentikan serangannya.
Sementara Basil melawan Slaft, John dan Gilbert disibukkan oleh si wanita berjubah—yang tidak Basil sadari kapan berada di sana. Wanita itu membuat sebuah bola api biru yang melindunginya dari serangan dua penjaga tersebut. Basil langsung menyadari kalau bola biru itu memiliki karakteristik yang hampir sama dengan bola gelap yang pernah dilawannya di Anora beberapa hari lalu. Bedanya cuma bola itu tidak membuat sulur, melainkan membuat bola-bola api yang lebih kecil. Dan ... tunggu, bola itu mempunyai mulut?
"Sudah puas melihat teman-temanmu?" tanya Slaft. "Jangan khawatir, mereka akan mati tak lama lagi. Begitu juga denganmu. Kalau kau tidak melawan, aku akan membuat kematianmu tidak menyakitkan."
Sial, perhatiannya teralih. Slaft bisa saja membunuhnya selama dia memperhatikan pertarungan John dan Gilbert. Basil menggeram. "Aku tidak mengerti mengapa kalian menyerang kami. Tapi, kami tidak akan kalah dengan mudah. Pengacau sepertimu yang akan kalah!"
Slaft terdengar menghela napas panjang. "Baiklah. Sebelumnya aku minta maaf."
Setelah mengatakan itu, dia langsung menghilang dari pandangan.
❚ ♦ ❚
CLANG!
Cuma pengalaman dan insting menggunakan pedang selama bertahun-tahun yang membuat Basil tahu kalau Slaft ada di belakangnya. Bunyi pedang yang diayunkan pada kepalanya membuat Basil memutar Fang ke belakang, menangkis serangan Slaft tersebut. "Sial!" desis Basil. Jarinya yang memegang Fang terasa diremukkan oleh batu.
Meringis, Basil membalikkan tubuh sambil mengarahkan pedang Slaft ke samping. Melihat ada pembukaan, dia menggunakan kesempatan itu untuk menghunuskan pedangnya. Basil tersenyum penuh kemenangan. Fang hampir mengenai tubuh Slaft, dan Slaft ... tidak ada.
Gerakan Basil menjadi kacau; targetnya menghilang seketika. Tapi dia berhasil mengelak ketika pedang Slaft hampir membelah tubuhnya kembali. Laki-laki bertopeng itu muncul lagi di belakang. Basil menjauh, memberi ruang pada mereka berdua. Namun sepertinya Slaft tidak akan membiarkan itu. Dia kembali menyerang Basil.
Selama semenit, Slaft menyerang dan Basil cuma mengelak, bertahan kalau tidak ada pilihan lain. Slaft masih tidak melukainya. Namun, Basil tidak dapat melukainya juga. Pria bertopeng itu sangat cepat, tapi Basil selalu berhasil memperkirakan di mana dia akan menyerang. Mereka cukup imbang, tapi Basil yakin tidak akan bertahan lebih lama lagi.
Slaft menggunakan pedangnya seperti sebuah rapier, tapi kadang-kadang berubah teknik seolah pedang itu adalah sebuah greatsword. Basil tidak pernah melihat teknik itu sebelumnya. Jadi dia cuma mengelak dan menangkis, sambil mencari celah.
"Argh!" teriak John.
"John!"
Basil sempat melirik apa yang terjadi pada teman-temannya. John terkena api yang dikeluarkan bola biru, sementara Gilbert.... Mata Basil melebar. Bola biru itu membesar dan membuka mulutnya. Dalam sekali suap, tubuh Gilbert langsung lenyap. "Gil—"
"Fokus!" kata Slaft.
Basil tidak melihat hunusan pedang Slaft pada jantungnya. Terlambat. Dia berusaha menghindar; Fang membuat arah pedang Slaft melenceng dari target aslinya. Pedang itu tetap mengenai Basil, bukan jantung, melainkan menembus bahu kiri Basil.
Darah segar muncrat dari luka itu, mewarnai pedang Slaft. Basil berusaha bersuara; tidak ada yang keluar dari mulutnya. Bergerak saja tidak mampu.
Setelah Slaft mencabut pedangnya, Basil baru merasakan sakit. Napasnya mulai tak menentu, pikirannya kosong. Tangan kanannya bergerak otomatis mengeluarkan kristalit api yang dipertaruhkan Gilbert tadi. Sebelum Slaft sempat menyelesaikan hidup Basil, bola api raksasa telah menyerang pria bertopeng itu.
Basil menggigit lidahnya sendiri agar tidak berteriak. Tangan kirinya gontai tak berdaya. Aura dalam tubuhnya menggebu-gebu ingin dikeluarkan. Perasaan itu—entah mengapa—membuatnya menjadi agresif. Basil meletakkan kristalit api di mulut dan menyerang Slaft. Fang beradu kembali dengan pedang Slaft. Dia menarik Fang sedikit, karena tekanan dari pedang Slaft terlalu kuat. Basil menghidupkan kristalit api di mulutnya. Bola api kembali menyerang Slaft. Slaft yang tidak mengelak langsung ditelan oleh api itu.
Basil menggunakan kesempatan tersebut untuk melirik John dan Gilbert. Cuma mayat John yang tampak. Wanita biru dan bola api yang memakan Gilbert sudah menghilang. Gilbert ... mayatnya bahkan tidak ada.
Tidak, tidak mungkin.
Tubuh Basil mengeras. Napasnya semakin tak menentu. Darah terus mengalir dari bahu. Pandangannya juga semakin kabur.
Api yang membakar tubuh Slaft padam. Basil beralih memandang pria itu. Slaft tidak terlihat seperti hangus. Rompinya sedikit gosong, tapi cuma itu.
Slaft mundur. Angin di sekitar mereka bertiup kencang tanpa alasan jelas. Salju-salju bertaburan ke udara terkena angin Slaft. Angin itu semakin bertambah kencang, dan menghantam Basil. Insting Basil berteriak menyuruhnya untuk lari sejauh mungkin. Tapi dengan tubuh yang melemah, lari saja rasanya dia tidak akan sanggup.
Dia ... Caster Angin? Mengapa ... tidak beruap?
"Biar kuakhiri penderitaanmu," kata Slaft. Dia mengayunkan pedang, walau jarak mereka cukup jauh. Basil tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia langsung menunduk. Pohon kecil di belakang Basil tumbang, terbelah seolah digesek oleh gergaji yang tak kelihatan.
Apa—?
Slaft mengayunkan pedangnya. Perasaan itu datang lagi. Basil kembali mengelak dengan susah-payah. Tanah tempatnya berdiri berhamburan, seperti terkena benda yang tak tampak. Angin ... dia menggunakan ... angin yang tajam. Slaft masih tetap berdiri, sambil mengayunkan pedangnya pada Basil. Basil terus mengelak; entah bagaimana dia tahu harus menghindar ke mana, tanpa mengenai angin tajam itu.
"Kau bisa merasakan anginku, ya?" Slaft mendesah. "Aku terpaksa menggunakan ini. Maaf." Sebuah bidang putih menyerupai jalan terbentuk antara Slaft dan Basil. Jalan putih itu muncul begitu saja, menghubungkan Slaft dan Basil. Dengan 'jalan' itu, secepat kilat Slaft sudah berada di depannya. "Dan matilah sekarang!" kata Slaft pelan. Dia langsung menusukkan pedangnya pada tubuh Basil.
Basil tahu dia tidak mungkin mengelak. Dia masih terkejut atas kemunculan 'jalan' yang tiba-tiba itu, membuat reaksinya terhadap kedatangan Slaft terlalu lambat. Dia berusaha menghadang pedang Slaft dengan pegangan Fang—dan tangan kanannya sendiri, memperlambat tusukan pedang itu. Basil meletakkan kristalit apinya yang terakhir pada ujung pedang Slaft. Berteriak keras, mata semakin mengabur, dia menendang Slaft menjauh.
"Tanganmu harusnya sudah putus—"
Baru saja Slaft mengatakan itu, kristalit api di pedangnya langsung meledak. Dia melepaskan pedang itu, menghindar cukup jauh dari ledakan kristalit. Pedangnya tergeletak begitu saja, tanpa ada cacat sedikitpun.
Kedua tangan Basil sudah tidak bisa digunakan sekarang. Dia melepaskan Fang, lalu meletakkan tangan kanannya yang penuh darah ke tanah. Dia tidak tahu mengapa melakukan itu. Tapi terasa cukup natural baginya. Aura yang kadang-kadang dirasakannya sekarang tampak semakin menggila ingin dikeluarkan. Auranya masih banyak, tapi staminanya telah habis. Belum lagi pendarahan di tangannya, membuat Basil ingin pingsan. Belum pernah dia mendapat pendarahan sebanyak itu.
Saat menoleh ke tempat John, angin tajam Slaft kembali menyerangnya. Basil sudah tidak dapat bergerak lagi. Darahnya semakin banyak berkeluaran. Aura yang ada dalam tubuhnya semakin berontak untuk keluar. Angin itu langsung menabrak tubuh Basil. Basil terkulai lemah. Jaketnya robek di sana-sini. Luka di tubuhnya sudah tidak bisa dihitung lagi.
Bayangan Ren, Dies, Elysa, Master Porren, John dan Gilbert tiba-tiba melintas di pikiran Basil.
Belum. Aku ... belum ingin mati!
Berteriak senyaring mungkin, Basil mengeluarkan Auranya tanpa berpikir lagi.
❚ ♦ ❚
Mata Basil terbuka lebar. Uap cokelat mengucur keluar bagai air terjun dari tubuhnya. Pandangannya menjadi jelas seketika. Uap-uap biru salju tampak semakin nyata sekarang. Begitu juga Slaft dan warna ungu yang mengelilinginya. Basil merasa baru melihat dunia untuk pertama kali. Walaupun sekarang sedang gelap, tapi dunia terasa berwarna-warni oleh uap-uap yang ada di udara.
Pikiran Basil langsung dikuasai oleh kekuatan yang baru dilepaskannya.
Dia tersenyum lebar. Tanah bergetar merefleksikan kegembiraannya. Slaft sendiri tampak tertarik dengan apa yang terjadi.
Benang-benang cokelat keluar dari kaki Basil, masuk ke dalam tanah. Tanpa tahu bagaimana, dia menyerap habis humus di sana dengan benangnya. Mendapat asupan energi dari tanah, luka di kedua tangan Basil mulai menutup dengan sendiri.
Basil tertawa pelan. Fang diambilnya kasar. Aura dan uap cokelat yang keluar tanpa henti dari tubuhnya membuat pikiran Basil menjadi tak beraturan. Dia merasa ingin sekali membunuh sesuatu, seseorang, siapa saja. Kekuatan, ya, ini dia kekuatan yang sebenarnya! Slaft akan menjadi orang pertama yang akan merasakan kekuatan Basil.
"Haha." Tertawa saja membuatnya sakit. Tapi euforia yang dirasakannya membuat Basil tidak peduli. Seseorang harus mati. "Mengapa kau tidak berdiri saja di sana, dan membiarkanku membunuhmu?" tanya Basil tersenyum lebar.
Jauh di lubuk hatinya, Basil tahu dia melakukan kesalahan dengan melepaskan Aura itu. Tapi dia tidak mampu melawan kekuatan yang menguasai dirinya sekarang.
"Kau baru Bangun?" Slaft menggeleng. "Inilah mengapa aku benci Anima. Pelayan yang baru mencicipi kekuatan mereka dibuat seperti hewan."
Ucapan Slaft cuma Basil anggap sebagai angin lalu. Dia terlalu bersemangat untuk mendengar. Tanah bergetar kembali. Bukit di sekitar mereka sampai longsor, menutup pos penjagaan.
Slaft langsung bergerak ke tempat pedangnya. Basil refleks menaikkan tangan kiri. Bongkahan tanah bermunculan di udara dan menyerang Slaft. Slaft mengelak santai. Satu hentakan tangan lagi, dan tanah tempat pedang Slaft naik secara tiba-tiba, melemparkan pedang tersebut pada Basil.
Basil melompat mengambil pedang itu, lalu menghunuskannya pada Slaft yang melesat padanya. Basil menyambut Slaft dengan dua pedang di tangan. Angin tornado tiba-tiba muncul mengelilingi Basil. Membalas, Basil mengangkat tanah yang ada di sekitarnya untuk melindungi diri. Slaft berhenti tepat di depan tanah itu.
Kedua tangan Basil tiba-tiba tergores. Eh, ternyata tornado itu tajam juga? Basil semakin semangat. Bongkahan-bongkahan tanah di sekitarnya kian banyak bertaburan ke udara. Basil berusaha mengendalikan tanah yang diinjak Slaft, namun Slaft menghindar dengan mudah. Sebagai balasan, Slaft membuat angin di sekitar Basil jadi semakin tajam; puluhan luka mulai mengoyak tubuhnya kembali. Tapi, dengan benang cokelat itu, Basil terus menyerap humus, membuat luka itu menghilang seketika.
"Cuma itu?" teriak Basil. "Haha, aku akan membunuhmu! Mati!"
Basil mengeraskan tanah-tanahnya menjadi batu, melepaskan mereka pada Slaft. Slaft mengelak dengan lancar, namun dia tidak dapat mendekati Basil. Bongkahan-bongkahan tanah yang mengelilingi Basil praktis melindunginya dari serangan jarak dekat. Lagi pula pedang Slaft ada di tangan Basil sekarang.
Slaft masih berada di atas 'jalan' putihnya itu. Di atas jalan itu gerakannya memang lebih laju, tapi Basil tidak kehilangan akal. Dia mengayunkan Fang. Bongkahan tanah yang melindunginya langsung menyerbu Slaft. Seperti diperkirakan Basil, Slaft menghilang lagi.
Basil melesat dari tempatnya. Gerakan Slaft bisa dibacanya sekarang. Slaft mungkin lebih laju, tapi pertarungan di atas tanah seperti ini, Basil yakin dia akan menang. Getaran sedikit saja pada tanah membuatnya langsung tahu ke mana Slaft akan pergi. Dia mengayunkan dua pedangnya. Slaft menghindar di saat-saat terakhir; tangan kirinya langsung menyentuh dada Basil. Sedang tangan kanan digunakan untuk mengambil kembali pedangnya.
Udara dengan tekanan luar biasa menghantam dada Basil. Matanya melebar. Jika bukan karena proteksi yang diberikan tanah, dada Basil mungkin telah bolong. Dia terlempar belasan meter ke udara; berteriak kesakitan sambil memuntahkan darah. Tapi Slaft tidak berhasil mengambil kembali pedangnya, karena Basil telah merekat pedang itu seperti lem pada tangan kirinya.
Merasa gagal, Slaft melompat. Angin di sekitar tangannya berputar laju, membentuk dua buah bor. Kakinya mengeluarkan energi angin besar, membuatnya terlempar ke udara. Basil yang masih melayang cuma bisa membelalakkan mata. Dalam situasi ini, dia tidak mungkin mengelak.
Dua bor angin itu merobek pundak Basil. Dia berteriak lagi; tidak bisa merasakan tangannya. Fang dan pedang Slaft terlepas. Darah mengucur keluar dari dua luka yang baru itu.
Teriakan Basil membuat puluhan benang cokelat keluar dari tubuhnya. Ada yang ke atas, ada yang melewati tubuh Slaft. Tapi, sebagian besar menuju ke tanah. Benang-benang itu—seolah-olah ingin melindungi pemiliknya—menarik bongkahan-bongkahan tanah runcing, menyerbu Slaft dari bawah. Slaft mengelak dengan menggunakan Basil sebagai pijakan. Basil semakin terlempar ke udara.
Namun, Slaft tidak bisa menghindar ketika sebuah tangan raksasa dari tanah yang dibuat Basil memegang kakinya. Dia meronta. Tangan itu mulai menghempaskan Slaft ke semua tempat: batu, tanah, pohon, seolah-olah dia adalah sebuah mainan. Bunyi tulang yang patah dan remuk terdengar seperti musik di telinga Basil yang masih kesakitan.
Entah bagaimana, Slaft tidak terlihat luka atau sakit. Basil semakin geram. Sebagai puncaknya, dia membuat tangan itu menarik Slaft ke bawah tanah. Tanah menutup keras, mengubur Slaft hidup-hidup. Basil masih bisa merasakan Slaft bernyawa di bawah sana, meronta-ronta keluar.
"Mati kau!" teriak Basil sambil mendarat. "Arg!" Berteriak membuatnya kembali memuntahkan darah.
Basil baru menyadari kalau Auranya tinggal sedikit. Cuma seperti itu? Panik, benang-benang Aura menyebar ke tanah dan pepohonan. Basil menyerap Aura yang dimiliki pohon-pohon itu; di tanah dia menyerap humus lagi. Tanah menjadi kering, pohon-pohon yang Auranya diserap langsung layu dan mati. Dua luka di bahu Basil menyembuh. Akhirnya, dia bisa menggunakan tangannya kembali.
Basil tidak lagi merasakan Slaft. Sepertinya pria bertopeng itu telah mati. Aura Basil akhirnya habis. Uap cokelat berhenti keluar dari tubuhnya. Dunia menjadi tempat yang kelabu sekali lagi.
Pikiran Basil kembali normal, setelah kekuatan yang menguasainya menghilang.
"Huh? Apa—"
Pos penjaga telah hancur ditimpa longsor. Sejak kapan ada longsor? Rel lok mini putus. Beberapa pohon di hutan tampak layu. Tanah di sekitar Basil kering kerontang dan berhamburan seperti baru dibajak oleh traktor raksasa.
Memori pertarungan tadi menghantam Basil dengan keras. Dia langsung memegang kepala, tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya. Pikiran Basil semakin kacau ketika memandang luka-lukanya yang telah sembuh.
Apa tadi yang namanya Bangun? Slaft—
Panik, Basil berusaha mengontrol tanah di sekitarnya. Demi Sang Pencipta, Slaft masih berada di bawah sana! Tapi, tanah tersebut seperti tidak mau mendengar. Auranya habis, dia tidak bisa mengendalikan mereka lagi.
Tidak! Bukan ini yang kuinginkan! Aku tidak ingin membunuhnya!
Basil mengais dengan sengit. Dia mulai terisak, masih ngeri dengan kejadian tadi. Terlambat. Slaft terkubur terlalu dalam, mungkin sampai belasan meter.
Suara ramai langkah kaki dari hutan tidak membuat Basil berhenti.
"Sil! Apa yang kau lakukan?" seru Dies. Dia berlari bersama beberapa orang penjaga kota.
"Sang Pencipta, apa yang terjadi di sini?" tanya seorang penjaga takjub. Ini kesalahanku. Gua Anora dan sekitarnya menjadi seperti baru terkena gempa berskala tinggi.
"Jangan dekat!" teriak Basil. Suaranya melemah. "Jangan ... dekat!"
Dies berhenti. Basil beralih memperhatikan mayat John dan Gilbert tak jauh dari sana. Tidak, jangan mereka juga. Air matanya mulai mengalir tanpa henti.
"Sil," kata Dies lirih.
Fang dan pedang Slaft tertancap di tanah. Susah payah Basil bangkit dan mengambil mereka. Dia berjalan lambat, menyeret kedua pedang itu ke dalam gua Anora.
Kali ini, Dies benar-benar mengejarnya. Basil langsung berpaling, menggeram, "Jangan mengikutiku!"
Basil cuma ingin membuat Dies berhenti saja. Tapi, suara geramannya membuat Dies berhenti saking terkejut. Basil—bergetar oleh suaranya yang mirip hewan marah—melanjutkan berjalan ke dalam gua.
"Jangan ... ikut. Aku ... ingin menyendiri."
✓✓✓
A.N.
Jujur saja, saya merasa kurang sreg dengan bab ini. Udah seminggu selesai, and I always get the feeling that there's something wrong with it. Tapi saya sempat berpikir kalau terus merasa salah, cerita ini gak akan update-update. :/
Satu lagi. Kalo ada yang tertarik dengan pembagian sejarah di Revaris, bisa dilihat di "Aura of Revaris : The Appendix" bagian Timeline. Minor spoiler though.
Well then, vote dan komen kalo suka, ya. :)
See you next.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top