Bab 13 : Suara Dalam Mimpi
❄ ❄ ❄
Padang es, kabut tebal, dan awan gelap. Serta bintang-bintang terang aneh yang memenuhi langit. Entah mengapa, semua pemandangan ini terasa sangat tidak mungkin, bertentangan dengan realitas itu sendiri.
Elysa menengadah dan mengerdipkan mata. Butuh beberapa saat kemudian untuk membuatnya sadar di mana dia sekarang.
Mimpi ini lagi.
Elysa bergetar. Kedua tangannya mengepal keras.
Mulutnya terasa asin, membuat Elysa sadar kalau bibirnya berdarah. Dia mendesah pelan, membersihkan darah itu dengan sapu tangan. Cleva akan meradang melihatku seperti ini. Cleva memang selalu mengingatkannya untuk menghentikan kebiasaan buruknya yang suka menggigit bibir itu. Trista yang mendengar langsung menambahkan kalau Ren pasti tidak akan mau menciumnya jika bibir gadis itu terus-menerus merah karena darah.
Mengingat percakapan itu membuat hati Elysa sedikit tenang. Dia berpegang erat pada memori tersebut dan memori-memori berharga lainnya; memantapkan hati dalam menghadapi mimpi buruk yang akan segera datang.
Alur mimpinya tetap sama. Dia berada di padang es. Lalu terdengar suaranya sendiri yang menggema di seluruh dunia gelap ini. Elysa mengejar suara itu. Padang es langsung berubah menjadi bukit. Di sana, mayat keluarga dan teman-temannya terpampang begitu saja. Tubuh Ayah yang menghitam, pedang yang menancap di dada Dies, tali yang mengikat leher Cleva sampai remuk, dan lainnya. Elysa cuma menonton dengan berbagai emosi yang silih berganti: sedih terhadap apa yang dilihatnya, marah karena reaksinya selalu sama, merasa lemah dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Cuma mimpi! Cuma mimpi! Ulang Elysa berkali-kali, seolah dua kata itu akan menyelamatkannya.
Sampai di sini, mimpinya selalu sama. Namun, seperti mimpi yang lalu, ending yang ini mungkin akan sedikit berbeda.
Di tepi jurang, sosok Ren berdiri membelakangi Elysa. Pedang putihnya bersinar menerangi daerah sekitar mereka. Merpati putih yang Ren temukan di Anora bertengger di bahu kanan. Elysa tidak tahu harus memikirkan apa ketika melihat Ren di sini. Senang, atau harus khawatir? Ren tidak pernah muncul dalam mimpinya, kecuali di mimpi yang terakhir dan sekarang. Apa kehadirannya memberikan sebuah arti baru?
Pemuda itu menoleh. Napas Elysa langsung tertahan. Darah mengalir dari sudut bibir Ren yang tersenyum sedih. Di mimpi sebelumnya, Ren memang ada, tapi tidak dalam kondisi ini. Mengapa sekarang mimpinya mulai berubah-ubah?
Ren beralih menatap mayat-mayat yang ada di bukit, lalu memandang padang salju es di bawah mereka. "Aku telah melakukan semampuku, El. Sekarang, hanya kau yang bisa menghentikan semua ini," katanya lirih. Dia memejamkan mata, sebelum menjatuhkan diri ke jurang. Merpatinya terbang ke langit gelap.
Elysa cuma terkejut sebentar. Menghidupkan Aura, es-es di sekitarnya membentuk sebuah tangan yang langsung menangkap Ren dengan mudah.
Walau ini cuma mimpi, jangan harap aku akan membiarkanmu jatuh untuk kedua kalinya!
Ren tampak kebingungan, sebelum menoleh kembali pada Elysa. Pemuda itu menggeleng. Tangan es Elysa hancur; serpihannya bertaburan ke seluruh jurang. Dia jatuh lagi.
Dan Elysa ikut terjatuh juga. Bukit dan tanah tempatnya berpijak tiba-tiba menghilang. Bukit berganti latar menjadi jurang gelap. Elysa berusaha membuat tangga es, atau seluncuran, tapi semua benda itu hancur ketika dia menyelesaikan mereka. Ren telah hilang ditelan kegelapan. Berusaha tidak panik, Elysa memerintahkan Auranya untuk membuat es lagi. Dan gagal kembali.
Elysa mengatur napasnya dengan susah payah. Dia terus bergerak ke bawah, tanpa ada kepastian kapan tubuhnya akan menabrak dasar. Lebih parah lagi, dia tidak bisa melakukan aucast; panik dan takut mulai menggerogotinya.
Ini cuma mimpi. Aku masih tidur dengan tenang di ranjang. Ini cuma mimpi. Mimpi tidak akan melukaiku.
Dia terus mengatakan kalimat itu untuk menghibur diri. Tapi sulit sekali terhibur jika gravitasi telah mengklaim dirinya. Mata Elysa perih ditiup angin; dan dia terus bergerak semakin cepat ke bawah, melebihi kecepatan kereta api, rambut dan dress-nya berkibas liar, semakin cepat ... cepat....
Dan Elysa berdiri di sebuah gua. "Eh?" Perubahan suasana yang terlalu tiba-tiba itu membuatnya terjungkal ke lantai dengan keras. Mungkin karena tubuhnya masih menganggap kalau dia bergerak.
Otaknya belum bisa mengikuti apa yang terjadi. Tadi dia jatuh, kan? Mengapa dia sekarang berada di gua, seolah-olah tidak pernah jatuh? Tidak masuk akal!
Ini cuma mimpi, pikir Elysa lagi. Mengapa harus masuk akal?
Tempat kali ini agak berbeda. Sebuah gua es dengan tinggi dan lebar sekitar sepuluh meter. Bagian atas gua penuh dengan stalaktit runcing. Elysa berdiri kembali dengan mudah; tubuhnya tidak terluka. Masih setengah percaya, dia menghentakkan kaki. Benar-benar tanah. Dia tidak lagi jatuh.
Berusaha menormalkan jantung dan napasnya yang menggila karena peristiwa "jatuh" tadi, Elysa memperhatikan gua. Gua es ini cukup terang, tapi dia tidak dapat memastikan dari mana sumber cahaya berasal. Dia juga tidak bisa melihat ujung gua. Ren sendiri tidak kelihatan.
Ke mana perginya dia?
Suara gerincing membuat Elysa menoleh ke belakang. Dia langsung memicingkan mata.
Lima puluh meter dari tempatnya, seorang gadis berdiri dengan kepala menunduk. Yang membuat Elysa takjub, seluruh tubuh gadis itu dan pakaiannya terbuat dari es. Enam rantai api mengikatnya dari berbagai sudut gua. Empat rantai di masing-masing tangan dan kaki, satu di leher dan satu lagi di perut.
Dilihat sepintas, gadis itu terlihat seperti patung. Cuma gerakan lemah tangannya yang membuat Elysa yakin kalau dia berhadapan dengan makhluk hidup. Elysa menghampiri gadis itu. Dia membuat beberapa pisau, sekedar berhati-hati.
Semakin dekat, Elysa menjadi semakin gelisah. Gadis itu ... terlalu mirip dengan dirinya. Bentuk tubuh, gaya rambut, sampai ke aksesori yang dipakai juga sama. Kalau ada pemahat yang mengukir Elysa dengan es, mungkin gadis yang dirantai itu adalah hasilnya.
Si gadis es mendongakkan kepala menatap Elysa. Elysa merasa seperti melihat cermin. Dia langsung mundur selangkah, tidak tahu harus melakukan apa. Sesuai dugaan, wajah gadis itu persis dengannya.
'Kembaran es'-nya itu bergumam.
"... selamatkan mereka. Aku harus menyelamatkan mereka." Dia berusaha bergerak, tapi rantai-rantai itu menghentikannya.
Suara mereka juga sama. Apa selama ini suara si gadis yang terus bergema di mimpinya?
"Siapa kau?" tanya Elysa.
Gadis es tidak mengindahkan pertanyaan itu. Dia terus bicara berulang-ulang tentang "menyelamatkan mereka" dengan nada paling putus asa yang pernah didengar Elysa. Dia tetap memandang Elysa, tapi Elysa mulai curiga gadis itu sebenarnya tidak menyadari keberadaan dirinya.
Mereka cuma dipisahkan oleh beberapa langkah lagi sekarang. Elysa menjulurkan tangan, ingin menyentuh kembaran esnya itu. Namun, pilar api tiba-tiba keluar dari tanah, hampir membakar tangan Elysa dan membuatnya harus menjauh. Pilar api itu mengecil, lalu menghilang.
"Kau tidak akan bisa mendekat," kata seorang laki-laki di belakang. "Aku sudah mencobanya puluhan kali."
Elysa berbalik sambil mengacungkan pisau. Matanya menyipit. Tidak ada orang di sana. Dia yakin suara itu berasal dari belakangnya. Elysa mengalihkan pandangan ke seluruh gua. Lagi-lagi dia tidak menemukan orang lain di sini; cuma dia dan kembaran esnya.
Preserving—yang seharusnya mengingatkan Elysa akan bahaya—ternyata tidak berguna lagi.
"Tunjukkan dirimu!"
"Maaf, manis, aku tidak bisa melakukannya," kata suara itu, tepat di depan Elysa. Dia mengayunkan tangan kanan, tapi cuma menyentuh udara kosong. Elysa setengah berharap siapa pun yang bersuara itu cuma menggunakan kristalit kegelapan untuk membuat dirinya menjadi tidak kelihatan, tapi sepertinya bukan itu yang terjadi.
"Jangan buat dirimu lelah. Aku tidak bisa disentuh," kata si suara, masih terdengar di depannya.
Pisau-pisau Elysa berpencar ke segala arah, kecuali pada kembaran esnya. Namun, mereka tidak mengenai siapa-siapa. Elysa memasang kuda-kuda bertarung. Pisaunya yang tersisa mulai mengelilingi dirinya. Dia tidak menyukai pemilik suara itu. Beberapa pisau es kembali dibuatnya. Matanya semakin tajam mengamati sekitar. "Siapa kau?"
"Itukah yang diajarkan orang tuamu? Serang dulu, tanya kemudian?"
"Bagaimana kau bisa berada di mimpiku?" tanya Elysa.
Suara itu langsung tertawa. "Aku bukan seseorang yang penting. Dan mimpi ini? Wah, wah. Kau salah, manis. Dunia es yang mirip dengan Frozen Kingdom ini bukan mimpi, melainkan masa depan."
"Selamatkan mereka," kata gadis es lagi. Si gadis sepertinya juga tidak menyadari kehadiran si suara itu.
"Apa maksudmu dengan 'masa depan'?" tanya Elysa, berusaha tidak mengacuhkan suara kembarannya.
"Sudah jelas, kan? Frozen Kingdom akan kembali, tanda-tandanya telah kau baca beberapa bulan terakhir. Dan—"
Bulu kuduk Elysa langsung berdiri. Sebuah ledakan Aura tiba-tiba terasa menyerang kulitnya. Apa si suara yang membuat itu? Elysa menggeleng. Tidak, sumbernya cukup jauh, bukan berasal dari sini, melainkan ... dunia luar. Dunia nyata.
"Ah, ada saja yang mengganggu," kata suara itu. "Kau ingin menghentikan dunia es ini sebelum terjadi? Kau ingin keluargamu selamat? Cari Visela. Lebih. Giat. Lagi!"
"Menurutmu apa yang kulakukan selama ini?" sahut Elysa berusaha terdengar datar. Tapi hatinya agak kacau. Bagaimana si suara bisa tahu apa yang dicarinya? Dan ledakan apa tadi?
"Kulihat kau cuma bersenang-senang, membuang waktu pada buku-buku kuno, serta mengharapkan bantuan dari seorang pemuda bodoh!" seru si suara merendahkan.
Elysa menggeretakkan gigi. Berani-beraninya dia menghina kegiatanku.
Pundak Elysa tiba-tiba terasa rileks, seolah ada orang memijatnya. Suara itu terdengar lagi, kali ini di dekat telinganya; bernada lebih lembut, bahkan terkesan merayu. "Kembali ke kota ini adalah kesalahan besar, manis. Kau tidak akan menemukan petunjuk tentang Visela di sini. Lagi pula, kau selalu sendirian menghadapi masalahmu; mengapa sekarang kau mengharapkan bantuan orang lain? Dan mengikatkan hidupmu pada pemuda bodoh itu? Kau bisa melakukan ini sendiri. Ya, lebih baik seperti itu."
Elysa harus mengakui dia menyukai rasa nyaman di bahunya. Stresnya juga menghilang. Dia berbalik. Masih tidak ada orang lain, kecuali kembaran esnya.
Apa yang dikatakan si suara sedikit benar. Elysa sebenarnya juga mulai meragukan rencana yang dibuatnya. Tapi dia tidak akan terang-terangan mengakui itu.
"Pergi, siapa pun dirimu!"
"Kau mengusirku?" Si suara terdengar terluka. Dia mendesah. "Sebelum pergi, sebaiknya aku memperingatkanmu. Jangan pernah percaya pada Ren Altera. Apalagi kalau merpati itu ada di dekatnya. Kombinasi mereka berdua akan membahayakanmu."
"Ocehan apalagi ini?" tanya Elysa kembali kesal.
"Haha. Apa kau ingin tahu mengapa nafsu membunuhmu tiba-tiba melonjak drastis saat melihat merpati itu?"
Ledakan Aura kembali dirasakan Elysa, membuat pertanyaan terakhir itu tidak terlalu didengarnya.
"Ah, hilangkan dulu pengganggu itu; kita akan bicara lagi. Selamat tinggal, manis!"
Bibir Elysa terasa memanas, sebelum perasaan itu menghilang. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari apa yang terjadi. Wajah Elysa langsung memerah menahan geram. Si Suara baru saja menciumnya! Menciumnya tanpa izin. Bahkan Ren sendiri tidak berani melakukan sejauh itu. Pisau-pisau Elysa beterbangan liar seolah-olah ingin mencabik seluruh gua.
Tapi semua itu tidak ada gunanya. Presensi Si Suara tidak lagi dirasakan Elysa.
"Selamatkan mereka."
"Siapa kau?" geram Elysa. Dia menoleh kembaran esnya, berkata lebih lembut. "Dan kau juga?"
"...selamatkan mereka."
"Nona!" Terdengar suara samar-samar seseorang. Gua sekarang mulai menghilang, dihapus sedikit demi sedikit oleh kegelapan.
"Selamatkan mereka!!" teriak kembarannya tiba-tiba, bersamaan dengan ledakan Aura sekali lagi.
Elysa langsung bangun. Tangannya refleks menyentuh pipinya yang terasa panas.
"Nonaa!" teriak Trista.
"A-apa?"
Trista sedang mengangkat tangan, seperti hendak memukul Elysa. Si pelayan langsung menurunkan tangan itu. Dia berkata cepat, "Syukurlah Anda sadar. Kita harus pergi. Ada yang menyerang kota. Anda hampir saja membunuh Cleva. Tuan Laird dan Dies telah keluar. Ada kembang api dan DHUAAR! Lalu DHUAARR lagi!"
Tangan Trista mengembang, meniru setiap ledakan.
"Lambat-lambat!" kata Elysa mengangkat tangannya. "Apa maksudmu aku hampir—"
Dia baru menyadari Cleva yang terduduk di meja hiasnya. Wajah wanita muda itu agak pucat. Beberapa pisau es tertancap di dinding kamar. Elysa menoleh pisau-pisau itu, lalu beralih pada Cleva. Cleva berusaha tersenyum.
Elysa langsung berdiri dan menghambur pada wanita itu. Apa aku melukainya? Agak panik dia memeriksa tubuh pelayannya. Dia bernapas lega ketika tidak menemukan luka.
"Apa yang terjadi?"
"Ada Caster menyerang kota, Nona," kata Cleva pelan.
Trista menambahkan, "Kami berusaha membangunkan Anda, lalu muncul pisau-pisau es. Satunya hampir menusuk Cleva, tapi saya alihkan arahnya dengan kursi itu." Cleva melotot pada Trista, mungkin wanita itu tidak suka Trista mengatakan peristiwa itu terang-terangan. Trista tersenyum masam sambil melanjutkan ceritanya. "Maaf, saya harus menampar Anda beberapa kali, empat kali lebih tepatnya. Soalnya Anda tidak sadar-sadar juga."
"Begitu?" gumam Elysa. Dia memegang pundak Cleva dan meremasnya pelan. Suara Elysa agak bergetar. "Maaf, Cleva. Aku...."
"Shhh," bisik wanita yang cuma beberapa tahun lebih tua daripada dirinya itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Elysa yakin pisau-pisau yang menyerang pelayannya terbentuk saat dia berusaha mencari keberadaan Si Suara. Di dalam mimpi dia membuat pisau-pisaunya berkeliaran. Siapa sangka kalau pisaunya di dunia nyata juga melakukan hal yang sama?
Aku hampir membunuh mereka! Kesadaran itu membuat kaki Elysa melemah.
Ledakan dari kota terdengar lagi. Ledakan yang tadi dirasakannya dalam mimpi. Elysa berdiri dibantu Cleva. Kejadian dirinya yang hampir melukai Cleva membuat suasana hatinya memburuk. Ditambah lagi kejadian dengan Si Suara tadi.
Dia memandang Cleva dan Trista bergantian. "Aku harus mengurus ini dulu."
"Hati-hati," kata Cleva.
"Anda mau ke mana?" tanya Trista.
"Meringkus Caster yang membuat kacau ini."
Setiap siswa dan alumni Riege bertanggung jawab untuk melindungi daerahnya dari penyalahgunaan Aura. Trista mungkin tidak mengetahui hal itu, tapi Cleva yang telah bersama Elysa sejak dia pergi ke Riege telah melihat bagaimana Elysa memburu kriminal-kriminal Aura. Seperti yang akan dilakukannya sekarang.
Dari jendela kamarnya Elysa bisa melihat sebagian wilayah kota terbakar. Ini bukan ulah Caster pemula yang baru Bangun dan mengamuk; Caster pemula tidak mempunyai Aura untuk membuat kerusakan dalam skala sebesar ini. Elysa langsung menghapus Basil dari daftar tersangkanya. Lagi pula Basil Caster Tanah, bukan Api.
Sebuah rumah penduduk meledak terkena serpihan kembang api. Trista menjerit. Cleva memucat. Elysa berusaha tidak menampakkan emosinya, walau dia cukup terkejut melihat itu.
"Trista, terima kasih ... telah membangunkanku," ucap Elysa setelah keadaan sedikit tenang.
Walaupun ketakutan, gadis yang seumuran dengan Basil itu sempat berujar, "Akhirnya Anda mengatakan dua kata itu padaku. Tidak hanya pada Cleva saja."
Elysa cuma menggeleng melihat tingkah gadis itu. Dia mengambil jubah putih birunya yang berlambang Riege dan terjun dari jendela. Seluncuran es terbentuk dan membawanya ke jalan kota.
Diamemerlukan sesuatu untuk mengalihkan perhatian dari mimpi dan kejadian tadi.Menangkap Caster ini mungkin akan membuatnya lupa, walau cuma sebentar.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top