Bab 1 : Perjalanan Pulang
❄ ❄ ❄
Lokomotif uap di depan terus berdesis.
Elysa berusaha sebaik mungkin untuk tertidur. Memejamkan mata, merenggangkan tubuhnya, namun tidak ada yang berhasil. Kursi empuk yang sedang didudukinya juga tidak memberikan kenyamanan yang diinginkan. Melamunkan berbagai tempat dan kejadian, memikirkan penyelidikannya, menebak siapa sebenarnya yang jadi tunangannya, memilin rambutnya yang hanya sebahu, tapi tetap tidak bisa. Suara lokomotif itu bagai menghapus berbagai hal yang dilakukannya.
Kereta ini kelas royalti, namun suaranya .... Dia mendengar Kayri mendesah di depannya.
"Ini sudah kelima kalinya kamu mendesah, Kayri," kata Elysa membuka mata. Dan seharusnya aku yang melakukan itu.
Gadis berambut merah yang ada di depannya itu cuma cemberut.
"Demi Sang Pencipta, demi Eris, demi ... dewa apapun yang dipuja oleh orang-orang Kalesia, ini membosankan sekali," kata Kayri keras, lalu melihat Elysa, "dan ternyata Ratu Es cuma pura-pura tidur saja. Selamat siang, eh sore. Sial, dengan langit yang mendung seperti ini sangat sulit menentukan waktu," sahut Kayri sambil melihat keluar jendela.
Bosan bukanlah kata yang tepat. Menjengkelkan lebih tepatnya.
"Ini belum sampai tengah hari," kata Elysa memandang Kayri. Temannya itu tampak tidak seperti biasanya. " Sadarkah kamu Kayri kalau kamu baru saja bersumpah pada tiga tokoh dalam agama-agama yang berbeda?"
"Oh, jangan bicara masalah teologi denganku, Elysa sayang. Aku tidak semangat untuk itu sekarang."
Elysa tetap memandang Kayri tanpa berkedip.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Kayri.
"Tidak ada. Wajahmu tetap ... cantik?" Elysa jadi kehilangan kata-kata. "Hanya saja kelakuanmu lebih buruk dari biasanya."
"Aku yakin sekali kalau kau menggunakan tanda tanya pada kata cantik," kata Kayri menaikkan alisnya.
Dia pasti tidak mendengar apa yang kukatakan di bagian akhir.
"Benar," ucap Elysa dengan wajah lurus, "Dan denganmu? Aku sama sekali tidak menyesal mengatakannya."
Kayri mendesah sekali lagi. Enam kali. Menghitung berapa kali Kayri mendesah mungkin bisa menghiburnya dari suara berisik ini. Elysa melirik keluar kompartemen. Cleva dan pelayan pribadi Kayri sedang berbincang-bincang. Mereka bahkan kadang-kadang tertawa. Apa mereka tidak terganggu dengan suara ini?
"Kau tahu aku berteman dengan siapa, Elysa," kata Kayri lemah. "Sifat buruk mereka pasti menular padaku. Tapi mungkin juga cuaca jelek ini benar-benar mempengaruhiku. Ah, aku rindu sekali dengan musim panas di Riege. Burung-burung beterbangan dengan bebasnya. Kita dapat melakukan apapun saat musim panas lalu. Tapi sekarang, semakin ke utara yang kulihat hanya salju, salju, dan oh demi ... salju lagi."
Elysa cuma menggeleng.
"Ini sedang musim dingin. Selain itu, untuk seorang Putri dari sebuah Kekaisaran yang tinggal di atas salju, kata-kata yang baru kamu ucapkan tadi agak tidak biasa," kata Elysa.
"Tidak juga. Aku Caster Api, aku tidak suka dingin. Tidak sepertimu." Kayri menerawang lagi. "Ah, musim panas Riege. Betapa aku ingin kembali pada masa-masa itu."
"Ya, tapi musim panas selalu ditemani oleh tugas-tugas yang menumpuk, perkamen-perkamen yang tidak jelas kapan baru selesai menyalinnya, serta aucast-aucast yang berbahaya," sambung Elysa.
Kayri menguap. Kepalanya digerakkan ke kiri kanan, mengacuhkan omongan Elysa. Rambutnya yang lurus panjang itu ikut bergerak seiring dengan kepalanya, sama dengan mantel bulu abu-abu yang dipakainya.
"Kita harus melihat musim panas dari sisi terbaiknya, Sayang. Aku tidak seperti kamu yang memandang apapun dari sisi buruk atau praktis tidak-nya."
"Rasanya aku tidak seperti itu juga," kata Elysa pelan.
Kayri memandangnya tak percaya.
"Sayang, semua orang di Akademi Riege tahu kalau kau adalah orang paling dingin di sana, bahkan hewan dari naga sampai tikus juga tahu hal paling mendasar seperti itu. Dan paling bodoh, menurutku. Kau bahkan menolak lamaran dari Pangeran Ragen sendiri," kata Kayri agak lantang. "Menurutmu dari mana datangnya gelar Ratu Es?"
"Dari mu. Kau yang memulai memanggilku dengan nama itu. Semua siswa mulai memanggilku dengan panggilan itu juga," sahut Elysa datar.
Kayri hanya tertawa.
Percakapan ini jelas semakin ngawur. Elysa bahkan sudah melupakan apa yang menyebabkan dia sampai berada di titik percakapan ini.
Suara mesin uap itu mengganggunya lagi.
"Apa kau tidak terganggu dengan suara desisan mesin itu?" tanya Elysa tanpa menyembunyikan kekesalannya.
"Suara apa? Mesin? Menurutku biasa-biasa saja," kata Kayri. Kali ini dia yang menatap Elysa lama. Apa telingaku yang tidak beres? Suara ini jelas sangat mengganggu.
Kayri yang tiba-tiba tersenyum langsung mendekatkan wajahnya pada Elysa.
"Lihat aku, Elysa sayang!" kata Kayri sambil memegang kedua pipi Elysa. "Kakakku baru saja terbunuh dalam pesta pernikahannya sendiri. Ibuku ditawan oleh Elandor. Jika aku pergi ke pernikahannya waktu itu, mungkin aku akan ditawan juga. Akan tetapi, aku tetap bergembira ria."
Kayri mengatakan itu dengan emosi biasanya yang selalu ceria, membuat Elysa hampir percaya dengan apa yang dikatakannya. Hampir.
Aku akan percaya jika tangisanmu tiap malam tidak membangunkanku.
Merasa risih karena Kayri tetap tersenyum dan memegang pipinya, Elysa menepiskan tangan Kayri. Kayri tertawa lagi.
"Aku jadi ingat kalau Duane juga pernah melakukan ini padamu. Kau membekukannya hanya karena dia menyentuh pipimu?"
"Aku tidak sengaja," kilah Elysa.
"Sengaja atau tidak, dia itu pangeran kerajaan Ragen. Untung saja Raja Ravenel tidak mendengar peristiwa ini. Kalau dia tahu, entah apa yang akan dilakukannya padamu," sahut Kayri. "Kau hampir membunuh Duane, tapi dia malah melamarmu. Dengan bodohnya kau menolak. Apa sih yang dilihat Duane pada dirimu?"
Aku tidak tahu.
"Sudahlah, jangan ungkit lagi peristiwa memalukan itu," desah Elysa. "Lagi pula kalau aku terlibat dalam politik, kau akan mengeluarkanku dari itu kan? Kau kan putri Kekaisaran Milderia. Hampir semua petinggi kerajaan yang ada di Revaris Timur mengenal dan menghormatimu. Raja Ravenel mungkin hanya masalah kecil untuk orang sepertimu."
"Revaris Timur mungkin menghormatiku, kecuali Elandor," kata Kayri sambil tersenyum. Senyum yang sering dilihatkan Kayri kalau dia marah.
Uap merah tipis—tanda Caster Api yang sedang menghidupkan Aura—mulai berkeluaran dari tubuhnya. Oh, aku tidak seharusnya mengatakan itu. Kayri tetap menghidupkan Auranya. "Dalam seminggu ini, mereka bahkan sudah mengirim dua pembunuh untuk melenyapkanku. Mereka mengira aku adalah Putri yang tidak mau mengotori tangannya sendiri. Hah, mereka salah besar. Aku bakar semua pembunuh bayaran yang mereka kirim itu."
Kompartemen yang tiba-tiba memanas membuat Elysa menghidupkan Auranya juga. Uap biru keluar dari tubuhnya. Membuka jendela, dia mengumpulkan semua uap air yang ada di udara luar dan mulai mendinginkan udara dalam kompartemen itu.
Kayri mematikan Auranya. Uap merah itu menghilang. "Tutup jendela itu!"
Agak ragu Elysa menutupnya kembali. Dia juga ikut mematikan Aura.
"Aku cuma bercanda tadi. Kau tidak perlu sampai membuka jendela segala," ucap Kayri sambil kembali pada dirinya yang asal.
Bercanda apanya? Kau hampir membakar kompartemen ini.
"Aku tidak suka hangat," hanya itu yang dapat keluar dari mulut Elysa. "Dan Kayri, lengan kanan mantelmu agak gosong."
"Sial," seru Kayri sambil keluar dari kompartemen. "Ganti mantel ini. Cari dengan yang tidak berbulu!" terdengar suara Kayri memberi perintah pada pelayannya. Suara pelayan yang berlari-lari dan terjatuh di luar kompartemen terdengar sampai ke dalam. Elysa mendengar Kayri menggerutu.
Tak lama kemudian dia masuk lagi dengan sebuah mantel yang mirip dengan mantel Elysa. "Pelayan-pelayanku sama sekali tidak kompeten. Berbeda sekali dengan Cleva."
"Cleva memang terbaik di bidangnya," kata Elysa setuju.
"Dia sudah mengikutimu sejak kau pertama kali ke Riege kan? Delapan tahun yang lalu?"
"Dari saat itu sampai aku pulang sekarang."
"Berbicara tentang pulang...," kata Kayri sambil berpikir-pikir, "kamu pulang ke Mazell karena pertunangan dengan seseorang."
Elysa melihat kalau Kayri tetap menatapnya, pasti menginginkan agar Elysa membalas ucapannya tadi. Ikuti saja permainan Kayri. Ini sudah keberapa kalinya dia mengubah arah pembicaraan?
"Ya. Aku pulang ke Mazell karena itu. Ayah menjodohkanku pada seseorang yang masih tidak aku ketahui siapa."
Kayri mendengus. "Kau menolak lamaran dari Duane, tapi menerima yang ini? Kalau di Milderia, hal seperti ini pasti tidak akan kubiarkan. Akan kujebloskan ayahmu itu ke penjara."
"Masalahnya ini bukan Milderia. Kita membicarakan Thrusia. Ayahku memang bangsawan, tapi dia cuma seorang Baron. Dia akan kesulitan menolak seandainya ada Viscount atau yang lebih tinggi lagi tiba-tiba ingin ... bertunangan denganku."
"Kau seharusnya menolak, sayang."
"Mungkin," ucap Elysa pelan. Pikirannya langsung tertuju pada hal yang membuatnya kesulitan menolak ini. "Lagi pula, ada peraturan raja tentang Caster."
"Maksudmu peraturan bodoh yang dibuat Harnish itu?" tanya Kayri. "Peraturan yang mengharuskan Caster Thrusia untuk menikah sebelum berumur 18 tahun?"
Elysa mengangguk.
"Orang-orang Thrusia memang aneh. Rajanya, penduduknya. Itu berlaku juga untukmu Sayang, yang mau saja menerima peraturan yang asal-asalan seperti itu."
"Mungkin karena kita tidak lama hidup," kata Elysa pelan. "Umur kita lebih pendek daripada manusia biasa, kau harus mengakui itu. Raja Harnish mungkin ingin agar Thrusia tidak kekurangan Caster. Jadi dia membuat peraturan itu."
Jika dipikirkan sekali lagi, memang mungkin itulah alasan yang sebenarnya. Di antara semua kerajaan di Revaris, Thrusia merupakan kerajaan yang paling sedikit mempunyai Caster. Jika Caster menikah lebih awal, kemungkinan anak mereka akan menjadi Caster juga sangat tinggi. Tidak peduli yang jadi pasangannya Caster atau bukan.
Namun, Elysa pada dasarnya tidak menyukai peraturan itu. Dia lebih menyukai kalau anaknya nanti terlahir biasa saja. Tidak ada embel-embel Caster pada namanya. Setidaknya anak itu tidak akan berumur pendek seperti mereka.
Lihatlah aku, baru menerima berita pertunangan saja sudah memikirkan anak.
Mungkin aku bisa mengelak. Elysa penasaran dengan apa hukuman bagi orang yang melanggarnya. Selama ini dia tidak pernah mendengar ada Caster yang melanggar peraturan itu, jadi mungkin dia yang pertama. Elysa langsung menggeleng. Kalau dia melakukan itu, ayahnya akan terkena masalah. Dia tidak mau itu terjadi.
"Bagaimana kalau tunangan misteriusmu diculik oleh rekan-rekanku?" tanya Kayri tiba-tiba.
"Ugh." Elysa langsung memijat kepalanya. "Lebih baik jangan. Akibat yang ditimbulkan akan lebih buruk lagi. Kadang-kadang aku heran bagaimana bisa seorang Putri Kekaisaran sepertimu berasosiasi dengan orang-orang seperti mereka."
"Mereka orang yang menyenangkan," kata Kayri.
"Kayri, mereka itu penjahat, pencuri, pembunuh, penculik, pemerkosa bahkan mungkin ada juga. Pokoknya hampir seluruh predikat tidak baik melekat pada diri mereka."
"Aku tidak mengatakan kalau mereka orang baik-baik. Aku mengatakan kalau mereka menyenangkan. Lagi pula," kata Kayri tersenyum sambil menghidupkan Auranya kembali. Semburan api kecil langsung keluar dari tangan kirinya. "Mereka takut padaku. Aku tinggal membakar mereka, kalau mereka melakukan pekerjaan mereka pada orang-orang yang kusayang. Dan aku punya kamu. Kamu akan 'menghukum' mereka kalau mereka menggunakan aucast tanpa izin."
Elysa jadi malas kalau Kayri sudah bersikap seperti ini. Dia lebih memilih diam. Kayri sepertinya juga tidak ingin bicara lagi. Uap merah tipis setelah menghidupkan Aura keluar dari kulitnya.
Mereka berdua terdiam lagi setelah itu. Bunyi desisan mesin uap sesekali mengurangi kesepian itu. Entah mengapa suara itu tidak terlalu mengganggunya lagi sekarang, walaupun bunyinya masih tetap sekeras tadi.
Aku berharap aku bisa tidur. Namun rasanya itu tidak akan mungkin lagi sekarang.
Elysa melihat ke luar jendela. Salju telah mulai turun. Kaca-kaca yang sebelumnya hanya buram sedikit mulai hampir buram seluruhnya.
"Sudahlah Elysa, daripada membicarakan hal-hal menyedihkan lebih baik kita membicarakan hal-hal yang menyenangkan saja," kata Kayri sambil ikut memandang keluar.
"Seperti?" tanya Elysa.
"Seperti aucast atau sejenisnya."
"Aucast tidak begitu menyenangkan bagiku."
"Itu menurutmu, menurutku..." Kayri berhenti berbicara di tengah kalimat. Mungkin dia menyadari kalau seharusnya dia tidak memulai debat lagi dengan Elysa. Secepatnya dia berkata, "Bagaimana dengan bangsawan-bangsawan tampan yang menghadiri Riege tahun kemarin?"
"Aku tidak mau memikirkannya. Aku sendiri sudah punya masalah dengan hal itu."
"Kalau penyelidikanmu tentang Frozen Kingdom?" sambung Kayri.
"Pertunangan ini akan membuatku menundanya atau lebih parah lagi, membatalkannya. Itu malah membuatku sedih, bukan gembira," sahut Elysa.
"Bagaimana dengan kristalit?"
"Memangnya ada apa dengan kristalit?" Elysa balik bertanya.
"Aha, jadi kamu tidak tahu. Sebentar."
Kayri berdiri dari tempat duduknya. Dia langsung membuka pintu kompartemen dan melongokkan kepalanya keluar. Elysa dapat mendengar dia memberi perintah pada pelayannya untuk membawakan sebuah koran. Beberapa saat kemudian dia masuk ke dalam kembali, sambil membawa koran tersebut.
"Koran baru. Kubeli di Cissa tadi pagi. Coba baca halaman lima."
Elysa mengambil koran itu dan membuka halaman yang dimaksud.
"Hampir semua kristalit cahaya yang ada di Riege pada hari Sabtu, tanggal 31 Jhan 1890 TA pukul 9.30 malam sampai 10.30 malam mengalami pemadaman total. Hal yang tidak pernah terjadi sejak penemuan kristalit ini menuai banyak teori dari berbagai pihak, baik dari Caster maupun non-Caster. Para ilmuwan muda Riege sudah mulai menyelidiki mengapa ini bisa terjadi. Ilmuwan-ilmuwan non-Caster juga tertarik dengan masalah ini. Tim Riset dari Kerajaan Ragen rencananya akan mulai investigasi dengan ilmuwan-ilmuwan Riege."
Elysa melangkahi beberapa paragraf, lalu membaca satu bagian lagi.
"Peristiwa ini menyebabkan Riege harus kembali menggunakan obor dan lampu gas untuk menerangi ruangan. Walaupun kejadian ini tampak merugikan, namun ada yang merasa diuntungkan dengan peristiwa pemadaman tiba-tiba ini. Siswa-siswa yang belajar astronomi jadi semakin mudah melihat bintang. Berikut adalah wawancara kami dengan mereka:"
Elysa membaca lagi sebagian dari artikel itu. Wawancara yang dimaksud hampir menghabiskan satu halaman penuh koran. Namun tidak ada hal berarti lagi yang ada di koran itu.
Tanggal 31. Peristiwa itu terjadi kemarin malam. Elysa dan Kayri sudah ada di kereta kalau begitu.
"Apanya yang menyenangkan dari berita ini?" tanya Elysa. "Eh, tunggu. Kau mengatakan membeli ini di Cissa. Padahal Cissa sudah termasuk jauh dari Riege. Bagaimana mereka tahu tentang kejadian di Riege hanya dalam waktu semalam?"
Kayri langsung tersenyum. "Kau menyadari itu? Tentu saja orang-orang Cissa tahu karena Riege dan Duke Cissa kan sedang membuat sebuah alat yang mampu untuk berkomunikasi jarak jauh yang namanya teler... telegraf atau apalah. Bayangkan sayang, kita tidak perlu lagi mengirim surat untuk komunikasi."
Apa yang akan terjadi pada tukang pos kalau begitu? Namun, perhatian Elysa lebih tertuju pada masalah yang ada dalam koran itu.
"Jadi bagaimana menurutmu?" Kayri balik bertanya. "Ini menyenangkan, bukan?"
Elysa tidak menghiraukan perkataan Kayri.
Kristalit cahaya yang padam tiba-tiba, tanpa kehabisan Aura, merupakan sebuah peristiwa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan hal ini dapat ditelusuri sampai penciptaan kristalit dua abad yang lalu.
Elysa tahu seharusnya semangatnya meningkat mendengar itu, namun dia sama sekali tidak merasakan semangat itu. Saat ini yang hanya ada di pikirannya hanya Frozen Kingdom saja. Aku terlalu terobsesi dengan kerajaan kuno itu. Bahkan peristiwa ini jadi sama sekali tidak menarik.
"Aku mungkin akan menyelidikinya bersama yang lain seandainya aku masih berada di Riege sekarang," kata Elysa.
"Eh, apa yang kau katakan?" tanya Kayri heran.
"Peristiwa padamnya kristalit cahaya ini," jawab Elysa.
"Padahal aku membicarakan tentang telegraf atau apalah itu."Wajah Kayri yang kesal tiba-tiba menjadi cerah. "Bukankah ayahmu pembuat kristalit cahaya? Mungkin dia bisa tahu apa yang menyebabkan kejadian ini."
"Mungkin," kata Elysa ragu. Ayahnya memang pembuat kristalit, namun pemilik dari semua itu, dari penambangan Lightite sampai pabrik pembuat kristalit adalah milik Countess Altera. Mungkin yang tahu adalah Countess itu sendiri.
Tapi itu sudah terlambat sekarang. Pemiliknya pasti Ren.
Mengingat Ren membuat Elysa melamunkan masa kecilnya. Ren dan Basil, bagaimana keadaan kedua teman masa kecilnya itu? Sejak Elysa mulai Bangun sebagai Caster Es delapan tahun yang lalu, dia sudah memutuskan hubungan dengan teman-temannya yang lama. Bahkan saat dia berlibur ke Mazell, dia hanya mengurung diri dalam kamar atau perpustakaan ayahnya saja. Hanya Countess Altera yang kadang-kadang bertemu dan bicara dengannya.
Elysa menunduk sedih. Countess sudah meninggal sekarang. Aku bahkan tidak mengikuti upacara pemakamannya.
Elysa terus terdiam saja setelah itu. Anehnya, Kayri sama sekali tidak bicara sampai kereta api mencapai kota Olarin. Di sana dia akan berpisah dengan Kayri. Elysa tiba-tiba mengharapkan agar Kayri mengikutinya ke Mazell, agar perjalanannya tidak membosankan. Tapi itu tidak mungkin. Kayri sendiri sudah punya masalah yang lebih besar daripadanya.
Masalah yang melibatkan hubungan dua Kekaisaran yang sedang tegang-tegangnya.
❄ ❄ ❄
"Jaga dirimu baik-baik, Elysa. Tolak juga pertunanganmu dengan sang orang misterius itu," lambai Kayri ketika Kereta Api Ekspres Milderia mulai meninggalkan stasiun.
Elysa tidak berkata apa-apa, namun dia tetap melambaikan tangannya. Cleva yang ada di sampingnya ikut melambai, mungkin pada pelayan Kayri.
Setelah kereta api itu menghilang, Elysa baru beranjak dari tepi platform kereta. Dia berjalan menuju kereta api lain, kereta yang akan membawanya ke Mircea. Cleva tetap membawakan barang-barangnya.
"Apakah kau senang akan pulang, Cleva?" tanya Elysa sambil tetap berjalan.
Wanita yang hanya beberapa tahun lebih tua dari Elysa itu diam dulu sebelum menjawab.
"Tentu, Nona. Sudah dua tahun kita tidak pulang," jawab Cleva.
Cleva tampak senang. Hal yang Elysa rasa masih kurang didapatkannya. Apa karena ayahnya tiba-tiba memutuskan untuk menjodohkannya? Atau karena penyelidikannya pada Frozen Kingdom jadi terbengkalai karena ini?
Elysa hanya bisa menghela napas, sambil memperhatikan Stasiun Olarin.
Stasiun di kota Olarin ini agak ramai. Elysa tahu sejak kereta api diciptakan sekitar lima puluh tahun yang lalu, penduduk di seluruh Revaris, setidaknya di Thrusia, Ragen, Milderia dan Olarion—tempat-tempat yang pernah dikunjungi Elysa—langsung menyukai transportasi yang satu ini. Pada awalnya hanya Imperium Elandor yang menggunakan kereta api. Namun, pengetahuan untuk membuatnya menyebar di kalangan ilmuwan di seluruh Revaris. Beberapa orang yang melihat kereta api sebagai peluang bisnis yang baru menciptakan rel-rel dan stasiun di kota-kota besar. Keluarga kerajaan di Revaris juga membuat kereta api mereka sendiri. Seperti yang ditumpangi oleh Elysa dengan Kayri tadi.
Di samping stasiun, istana Raja Olarion yang lama masih tetap berdiri. Istana yang pernah terbakar beberapa tahun yang lalu itu sudah tidak berpenghuni sekarang. Raja Olarion sudah membuat istana yang baru. Namun Elysa dapat melihat beberapa orang wisatawan berjalan-jalan di sekitar istana. Mungkin dia dan Cleva dapat ke sana sambil menunggu kereta.
Pikiran Elysa tentang istana berhenti ketika dia telah sampai ke tempat pembelian tiket.
Seorang dengan pakaian yang penuh dengan warna-warna, seperti baju karnaval langsung tersenyum lebar melihat Elysa.
"Ah, Nona Elysa. Sudah dua tahun saya tidak melihat anda. Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya penjual tiket itu.
"Hai, Rof. Tiket ke Mircea, seperti biasa," kata Elysa.
"Baiklah, Nona."
Rof langsung mengambilkan tiket untuknya. Rof tampak seperti seorang pemuda yang tegap. Namun Elysa yakin kalau dia itu sudah berumur. Baju yang dipakainya agak kebesaran. Baju yang dipakai Rof memang aneh. Beda sekali dengan pegawai yang lain. Hampir semua warna yang Elysa kenal ada pada bajunya. Belum lagi topi besar yang dipakai oleh Rof, membuat dia kelihatan seperti orang aneh dari Imperium. Tetapi, hal itulah yang membuat Elysa mudah mengenal Rof, tidak seperti dengan orang lain yang senang dilupakannya.
Mengapa orang seperti Rof dapat diterima bekerja di stasiun masih menjadi misteri sendiri bagi Elysa.
Elysa sudah mengenal Rof sejak dia pertama kali menggunakan stasiun ini delapan tahun yang lalu, ketika dia diantar ke Riege oleh ayahnya. Waktu itu Elysa baru berumur sembilan tahun dan Rof sudah bekerja di stasiun ini. Rof hanya agak tua sedikit dari wajahnya yang sekarang. Elysa sendiri heran mengapa Rof seperti tidak menua.
"Oke Nona. Anda beruntung kereta api yang akan ke Mircea akan berangkat setengah jam lagi. Kalau tidak Nona harus menunggu seharian lagi di sini."
"Terima kasih, Rof," kata Elysa sambil mengambil tiket yang disodorkan Rof tadi.
"Nona, apakah tadi Kereta api keluarga Mildrev yang saya lihat?" tanya Rof tiba-tiba. Elysa yang akan berjalan menuju Cleva yang sedang menunggunya berhenti.
"Benar. Memangnya mengapa?"
"Hati-hati saja, Nona. Anda pasti sudah tahu kalau hubungan Elandor dan Milderia sedang tidak baik sekarang. Melihat atau berasosiasi dengan salah satu dari mereka saja bisa membawa bencana. Seperti beberapa hari yang lalu, ada orang yang mengaku melihat salah satu pangeran Elandor. Beberapa jam kemudian mayat orang itu ditemukan di bekas istana yang terbakar itu."
"Ada yang membunuhnya?" tanya Elysa langsung tertarik.
Rof hanya mengangkat bahu. "Apalagi kalau bukan itu? Jadi hati-hati, Nona. Namun, orang seperti Anda bisa menghadapi yang seperti itu, kan?"
Elysa tersenyum kecil. "Jangan khawatir, Rof. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Seperti yang diharapkan dari Caster Es terhebat abad ini," kata Rof tersenyum senang.
Elysa hanya menggeleng. Rof sering memanggilnya dengan gelar itu. Bahkan sejak mereka bertemu pertama kali bertahun yang lalu, Rof sudah memanggilnya dengan nama itu.
Setengah jam lagi, ya. Setidaknya aku harus berterima kasih pada Kayri karena tepat waktu.
Elysa bicara lagi dengan Rof. Dia tidak menunggu lama, karena tanpa disadarinya, kereta api yang menuju Mircea itu pun berangkat. Kali ini, akhirnya dia dapat tidur, setelah seharian tidak tidur. Auranya juga akan penuh kembali lagi.
❄ ❄ ❄
Elysa sampai di Mircea pada pagi keesokan harinya.
Setelah keluar dari kereta dia melihat orang sekitar yang kedinginan. Udara pagi di Mircea ini benar-benar sukses membuat orang-orang terus berada dalam selimut. Dia bahkan melupakan kalau di musim dingin seperti ini, Mircea dapat berubah menjadi kota yang mematikan bagi sebagian orang. Orang-orang dari daerah panas pastinya.
Mircea saja seperti ini, apalagi Mazell yang lebih jauh di utara. Tapi karena Elysa seorang Caster Es, maka cuaca seperti ini tidak begitu mempengaruhinya. Suhu yang mampu membuat seseorang terkena frostbite tidak membuatnya terkena hal itu juga. Es, salju dan kedinginan adalah temannya.
Setelah mengecek jadwal kereta, Elysa menghela napas. Kereta ke Mazell baru besok berangkat. Dia terpaksa harus menginap di sini semalaman.
Elysa dan Cleva keluar dari stasiun menuju hotel yang biasa dipakainya ketika dia pergi ke Mircea. Setelah menyewa seorang kusir, dia langsung menyuruh kusir tersebut membawanya ke hotel yang dimaksud.
Cleva tampak masih lelah dari perjalanan mereka. Elysa mengharapkan agar pelayannya itu memulai percakapan, agar dia tidak terlalu merasa bosan. Namun, Cleva hanya memejamkan mata ketika mereka masuk dalam kereta. Elysa mendesah.
Dari jendela kereta, Elysa dapat melihat dua dari lima menara yang menghiasi Mircea. Empat menara di setiap penjuru mata angin dengan menara istana di tengahnya. Jalan kota masih agak sepi dari manusia. Dapat dimengerti karena sekarang baru jam enam pagi. Hanya para pekerja yang lalu lalang di jalan itu. Dua jam lagi mungkin baru ramai.
"Dari Olarion, Nona?" tanya Sang Kusir memecahkan kesunyian. Ringkikan dari kuda frostnya mengikuti pertanyaan dari sang pemilik.
"Ya."
"Tidak biasanya seorang gadis bangsawan seperti anda berjalan sendirian, hanya ditemani oleh seorang pelayan saja. Apa itu kebiasaan orang-orang Olarion?" tanya kusir. Kudanya ikut meringkik juga.
"Oh, tidak. Saya sebenarnya berasal dari Mazell, hanya baru pulang dari Olarion."
Sang Kusir tertawa. "Maaf. Seharusnya saya sudah tahu. Rambut pirang Anda memang menunjukkan kalau anda berasal dari sini."
Elysa menyentuh rambut pirang gelapnya tanpa sadar.
Baru beberapa menit sejak percakapan itu, Sang Kusir tiba-tiba menghentikan kereta. Elysa dapat melihat kalau jalan kecil yang akan mereka lewati menjadi sesak dan sulit dilalui.
"Ada apa ini? Hei, minggir dari jalan!" teriak Sang Kusir.
Teriakan Sang Kusir membuat Cleva terbangun dari tidurnya. Elysa akhirnya merasa tertarik juga dan melihat ke depan.
"Ada apa?" tanya Elysa.
"Entahlah Nona, tapi sepertinya perkelahian."
Di depan memang banyak orang berkerumun, seperti mengelilingi sesuatu. Sebagian besar dari mereka adalah para pekerja kota. Namun Elysa tidak dapat melihat apa dari atas kendaraannya. Orang-orang masih berkerumun, namun sekarang mereka mulai meneriakkan nama-nama yang tak dikenal, mungkin nama orang yang berkelahi itu.
"Sialan, orang-orang tetap tidak mau minggir," sahut Sang Kusir tidak tenang dari tempat duduknya. "Mana para penjaga kota? Jangan-jangan mereka masih tidur."
Elysa dapat merasakan kalau sang kusir ingin turun dari kendaraannya dan melerai orang-orang itu. Namun, dia tidak mau meninggalkan Elysa dan Cleva dengan kudanya. Entah apa yang akan terjadi kalau kuda frost ditinggalkan sendirian oleh pemiliknya. Kuda itu terkenal karena takutnya pada orang asing. Mereka biasanya menyebabkan banyak masalah kalau sudah takut.
Sebuah uap hijau tipis keluar dari balik kerumunan orang. Mata Elysa masih cukup awas kalau sudah menyangkut aucast. Tiba-tiba ada orang yang terbang keluar dari lingkaran manusia yang mengelilingi jalan itu. Lebih tepat disebut terpelanting sebenarnya, karena orang tersebut langsung melanggar atap toko di samping jalan.
Ada yang menggunakan aucast...
Elysa turun dari kereta itu. Sang Kusir yang melihatnya langsung berteriak, "Nona, apa yang kamu lakukan? Cepat naik kembali!"
Elysa tidak menghiraukan ucapan Kusir tadi, dia berjalan menuju kerumunan orang yang tampaknya mulai melerai. Mereka pasti takut karena ada yang menggunakan aucast di pagi-pagi seperti ini.
Elysa sekarang dapat melihat orang yang telah menggunakan aucast tadi. Seorang laki-laki, yang dilihat dari umurnya, mungkin sudah empat puluhan. Pakaiannya amburadul dan dia jelas sedang mabuk. Di tangannya Elysa melihat ada 2 bola menyerupai kaca berwarna hijau muda. Kristalit angin. Baguslah, sebab dia tidak ingin melawan Caster asli.
"Rasakan itu!" kata orang tersebut sambil menggeretakkan giginya. "Itulah yang terjadi jika kau macam-macam denganku."
Suaranya serak. Tangannya menunjukkan kristalit angin pada orang yang ada. Orang-orang yang berkumpul tadi semakin berpencar. Dia kemudian berjalan menuju Elysa. Elysa tetap tidak bergeming. Dia mendengar Sang Kusir kembali, menyuruhnya menyingkir dari orang mabuk itu.
Orang mabuk itu menoleh ke belakang Elysa. Setelah dekat dia berhenti.
"Hah, gadis muda, jangan menghalangi jalanku. Kau mau berakhir seperti dia, hah?" racau orang mabuk itu, tapi jelas dia tidak memedulikan Elysa. Karena dia langsung menggunakan salah satu dari kristal anginnya dan menunjukkan kristal itu pada Elysa.
Uap hijau keluar dari kristalit angin itu. Elysa mengelak sambil menghidupkan Auranya. Hembusan angin yang kuat, berasal dari kekuatan kristalit itu merobek lengan mantelnya. Sebentar kemudian, dia mendengar beberapa orang berteriak kesakitan di belakang. Seharusnya aku membuat perisai. Tapi sudah terlambat untuk itu.
Setelah mengelak, dia langsung membuat pisau es di tangannya. Dengan gerakan cepat dia menghunuskan pisau itu ke tangan orang mabuk, ingin menghentikan orang mabuk itu dari menggunakan kristalitnya yang satu lagi. Namun, orang mabuk itu berhasil mundur tepat waktu.
Elysa tidak kehilangan akal. Dia membuat satu lagi pisau es di tangannya dan melemparkannya ke orang mabuk itu, tepat saat orang mabuk akan menggunakan kristalit anginnya yang terakhir. Orang itu mengelak. Elysa bergerak maju dan menggunakan pisau satunya untuk melucuti kristalit angin itu. Orang itu berteriak kesakitan ketika pisau es itu mengenai tangannya. Kristalit angin itu terjatuh. Elysa langsung menancapkan ujung pisaunya pada leher orang itu.
Orang mabuk itu berhenti bergerak. Secepatnya Elysa menarik tangan orang itu dengan tangan kirinya, mencairkan pisau es yang ada di leher orang mabuk itu dan mengambil tangannya yang satu lagi. Elysa langsung membekukan kedua tangan orang itu, membuatnya menjadi semacam borgol. Tangan orang itu menjadi tidak dapat bergerak.
Orang mabuk itu berusaha melepaskan diri dari Elysa, namun Elysa lebih cepat. Dia membuat sebuah pisau lagi dan melemparkannya ke kaki orang itu. Orang mabuk tersebut terjatuh, karena pisau Elysa tepat mengenai betisnya. Darah segar menetes keluar.
Mendekati orang yang mabuk yang sedang meringis kesakitan itu, Elysa berkata, "Penggunaan kristalit untuk melukai orang lain harus mendapat izin tertulis dari Riege atau raja. Saya yakin Anda tidak mempunyai izin itu." Orang mabuk itu kembali meringis kesakitan.
Beberapa saat kemudian Pasukan Keamanan Kota berlari menuju lokasi perkelahian. Pasukan Keamanan melihat lambang Riege di dada mantel Elysa, membuat dia hanya ditanyai sebentar sebelum dibebaskan. Orang mabuk tersebut diangkat dari tempatnya. Sesekali Elysa mendengar orang itu mengumpat dan berdesis kesakitan sekaligus. Elysa juga melihat orang yang terlempar tadi, lawannya sang orang mabuk juga diangkat dari tempatnya. Kelihatannya pemilik tempat orang tersebut jatuh sedang mengomel, entah pada siapa.
Elysa berjalan kembali ke tempat sang kusir. Cleva menguap. Dia sudah terbiasa melihat Elysa 'menghukum' orang-orang yang menggunakan kristalit secara sembarangan. Namun reaksi Sang Kusir agak berbeda. Sang Kusir melihatnya atas bawah, seperti baru melihat Elysa saja.
"Ayo kita pergi," kata Elysa sambil naik kembali.
Sang Kusir menyentakkan talinya, membuat kuda frostnya bergerak melewati orang-orang yang sudah tidak lagi berkerumunan.
"Anda ternyata seorang Caster, Nona," kata Sang Kusir. Perkataannya itu lebih seperti orang yang sedang membicarakan cuaca, sangat kontras dengan reaksi awalnya tadi.
Elysa hanya mengangguk.
"Benar-benar hebat sewaktu anda mengalahkan orang mabuk tadi. Saya tidak menyangka kalau ada Caster yang mampu bergerak seperti itu. Anda ternyata bisa berkelahi."
"Tidak juga kok."
"Selama ini saya selalu menyangka kalau mau bertarung, Caster hanya diam dan melempar aucastnya begitu saja. Hanya bergerak kalau mau diserang."
Elysa diam lagi, tidak membenarkan dan tidak juga menyalahkan. Beberapa Caster yang dikenalnya memang seperti yang diceritakan oleh kusir itu. Mungkin Sang Kusir pernah melihat seorang Caster bertarung dan Caster tersebut dari jenis yang suka "berdiam diri".
Jalan yang dilalui kuda ini sekarang sudah melebar sedikit dari jalan tadi. Keributan di tempat tadi sepertinya tidak sampai di tempat ini.
"Oh ya, Nona," kata kusir itu tiba-tiba. "Karena anda seorang Caster, Anda mungkin dapat menjelaskan tentang kejadian di Enice dua hari yang lalu."
Keingintahuan Elysa meningkat.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Elysa.
"Anda tidak tahu? Oh maaf, saya baru menyadari kalau anda baru dari Olarion."
"Tidak apa-apa. Coba jelaskan apa yang kamu maksud."
"Yah, saya juga tidak bisa menjelaskan dengan terperinci. Tapi kata teman saya, pada hari Sabtu malam ada kebakaran di Enice. Menurut rumor kota itu diserang Caster liar. Ada yang mengatakan tiga buah api tinggi sekali dan tidak mau padam-padam selama sejam, walau Caster yang melakukannya telah lari. Agak ramai juga orang yang meninggal."
"Apa mungkin itu percobaan dari Imperium Elandor?" tanya Elysa.
"Wah, Nona. Untuk apa Elandor bereksperimen militer di daerah Thrusia? Walau mereka sekarang adalah sekutu kita, Raja Harnish tidak akan membiarkan hal itu. Apalagi sampai ada yang terbunuh. Apa mereka ingin berperang sekali lagi dengan kita? Situasi mereka bahkan sudah cukup tegang dengan Milderia."
Kusir ini ... cukup berpengetahuan untuk orang sepertinya.
"Mungkin tidak. Tapi apa yang membuatmu yakin kalau ini merupakan hasil dari aucast?"
"Awalnya itu semua hanya rumor belaka. Namun, tadi ada seorang pemuda yang mengatakannya, sebelum Nona naik ke kendaraan saya. Pemuda itu mengaku kalau dia melihat Caster-Caster yang telah menyerang kotanya. Kelihatannya dia akan melaporkan ini pada raja. Dia membawa sesuatu juga. Dia juga merupakan saksi hidup pertama yang mau melapor langsung pada raja, jadi saya langsung ingat. Apalagi anjing kelabunya cukup menakutkan."
Elysa tidak mendengar beberapa kalimat terakhir Sang Kusir karena pikirannya sudah melayang ke mana-mana memikirkan peristiwa itu. Dia cukup yakin kalau peristiwa ini bukan hasil dari kristalit. Tidak ada kristalit yang mampu membuat tiga buah api setinggi gedung. Kristalit api yang digunakan untuk membakar mesin uap memang bisa bertahan lebih lama, namun api yang dikeluarkan hanya cukup untuk memanaskan tungku pembakaran saja.
Kalau bukan kristalit, lantas apa? Elysa tidak pernah mendengar tentang aucast yang yang mampu membuat api setinggi bangunan selama hampir satu jam. Aura Caster yang melakukan itu pasti sudah habis dalam waktu sepuluh menit saja. Sang Kusir mengatakan ada tiga api itu. Apa dia tidak bohong? Atau mungkin peristiwa ini hanya berita bohong saja.
Elysa hampir tidak menyadari bahwa dia telah sampai di hotel yang dimaksud. Dia juga baru sadar kalau tidak memedulikan apa yang Sang Kusir katakan pada waktu melamun tadi. Cleva memandangnya dengan tidak senang. Jangan ajari aku tentang sopan santun sekarang, Cleva.
"Ini," kata Elysa sambil memberikan 20 Deuce pada kusir itu. "Ambil saja kembaliannya."
"Terima kasih, Nona."
Dengan barang-barangnya dibawa Cleva, Elysa masuk ke Hotel Bertrand, hotel yang selalu dipakainya selama dia menginap sebentar di Mircea. Apalagi pemilik hotel tersebut merupakan kenalan ayahnya.
"Selamat datang, Nona Laird," kata Tuan Combs, pemilik hotel itu. "Tuan Laird sudah mengira kalau Anda akan menginap di sini, jadi kamar Anda sudah kami persiapkan. Anda tinggal tanda tangan saja. Seacher, bawa barang-barang Nona ke kamarnya!"
Seorang anak kecil dengan senyum mengembang—bellboy dilihat dari pakaiannya—menghampiri Cleva. Barang-barang Elysa dan Cleva diambilnya dan dibawanya ke lantai atas.
Sebaiknya aku sarapan dan tidur lagi, pikir Elysa sambil berjalan menuju Nyonya Combs, wanita yang mengurus registrasi.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top