8. Uji Kelayakan

"Ryn," tegur Drina saat gadis itu kedapatan menatap tanpa berkedip ke arah sosok transparan berjubah di belakang Faenish.

"Oh maaf. Aku sudah berusaha keras mengabaikan keberadaannya seperti perjanjian kita. Hanya saja, aku belum terbiasa." Ryn buru-buru mengalihkan pandangan dan berjalan menghampiri Faenish di area baca perpustakaan Akademi. Ryn kemudian meletakan tiga buku yang baru saja ia ambil dari rak. "Untuk ujian segel tingkat pertama, kau akan membutuhkan ini."

Di hadapan Faenish kini bertumpuk lima buku dengan ketebalan beragam. Tiga tentang segel dan dua yang paling tebal tentang ramuan.

"Selama minggu ini, Kepala Akademi memintamu untuk mempersiapkan ujian kenaikan tingkat. Beliau ingin menempatkanmu di kelas yang tepat. Mengingat istrinya—maksudku Nenek Magda telah mengajarkan banyak hal padamu sebelumnya. Kau hanya akan menghabiskan jam pelatihan di akademi untuk beberapa hari ini dalam perpustakaan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana membosankannya itu, tetapi aku yakin kau justru menyukainya bukan?" Ryn setengah menyindir, ia tahu betul apa jawaban Faenish.

"Ya," jawab Faenish lengkap dengan senyuman bersemangat. Bukan hanya karena Faenish memang terbiasa berada di sekitar buku, tetapi ini juga berarti ia memiliki kesempatan untuk mencari segel yang mengikat dirinya dalam buku-buku di perpustakaan akademi.

"Kalau begitu kami akan menjemputmu setelah kelas selesai," kata Drina sebelum ia dan Ryn pamit ke kelas masing-masing.

Sekarang hanya tertinggal Faenish dan Evert di dalam perpustakaan akademi, buru-buru Faenish mendekati salah satu rak dan mulai mengambil beberapa buku. Ia tahu bahwa ia tidak akan punya cukup waktu untuk mengecek semua buku yang ada di ruangan itu, jadi setiap detik yang ada tidak boleh disia-siakan.

"Tidak ada di sana," ucap Evert tiba-tiba saat Faenish meraih satu buku untuk dibacanya.

"Ha?"

"Segel yang kau cari tidak ada di dalam buku itu."

"Kau menghafal isi buku ini?"

"Bab satu tentang kumpulan segel untuk menghubungkan dua permukaan padat, bab dua kumpulan segel untuk melekatkan permukaan padat yang licin, bab ketiga—"

"Kau benar-benar menghafalnya?" seru Faenish tidak percaya. Ia sudah membuka daftar isi buku dan semua perkataan Evert cocok.

"Baca saja buku lainnya."

Faenish menuruti perintah Evert dengan senang hati. Walaupun sulit dipercaya Evert dapat menghafal isi beberapa buku yang diambil Faenish, setidaknya hal ini menghemat waktu dan mengurangi jumlah buku yang harus dibaca.

***

"Apa kau sudah selesai?" seru Ryn tiba-tiba hingga membuat Faenish terlonjak kaget.

"Astaga, apa kau tidak membaca buku-buku yang seharusnya kau baca?" tanya Drina setelah memperhatikan kondisi buku-buku tebal yang berserakan di atas meja, serta lima buku yang masih bertumpuk rapi.

"Maafkan aku. Semua buku di sini terlihat begitu menarik, jadi...." Faenish berpikir untuk mencari alasan.

"Menarik?" Ryn hanya bisa menggelengkan kepala.

"Oh, terserah padamu Faenish. Bungkus saja lima buku itu dan baca di rumah. Aku akan mengurus izin peminjamannya," kata Drina.

"Boleh aku pinjam beberapa buku lain?" tanya Faenish.

"Apa tumpukan tinggi ini belum cukup untukmu?" Ryn menatap Faenish ngeri.

"Ambil apa saja yang kau mau," ucap Drina.

Di rumah, kelima buku itu kembali terabaikan. Faenish hanya membaca buku-buku yang ia curigai memuat segel yang sedang dicarinya. Kali ini Evert ikut membantu. Walaupun Faenish masih merasa tidak nyaman dengan keberadaan pemuda itu, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa ia merasa amat tertolong dengan keberadaan Evert yang ikut mencari. Sesuka-sukanya Faenish pada buku, tubuhnya tetap memiliki batas. Apalagi hari ini cukup melelahkan sehingga tak heran ia tertidur tanpa sadar.

"Ada orang di luar," kata Evert seraya membangunkan Faenish.

Dengan enggan Faenish memaksa matanya yang masih terasa berat untuk terbuka, diliriknya jam yang menunjukan pukul 00.47 malam.

"Kembalikan dahulu tubuhku," perintah Evert saat mengikuti langkah berat Faenish keluar dari perpustakaan.

Faenish menggeleng. "Bagaimana jika orang di depan bermaksud jahat?"

"Apa penjahat akan mengetuk pintu?"

Faenish hanya mengangkat bahu seraya berjalan ke pintu depan tanpa memenuhi permintaan Evert. Faenish tahu perbuatannya ini konyol, tetapi ia tetap saja khawatir.

Sebelum membuka pintu, Faenish mencoba untuk melihat siapa yang berada di luar melalui kaca yang ada di sebelah pintu. Betapa kagetnya Faenish saat mendapati wajah Yudi terpampang tepat di depannya. Polisi aneh itu dengan tiba-tiba ikut mengintip dari luar sehingga Faenish tidak bisa melihat apa pun selain wajah Yudi.

Namun saat membuka pintu, bukan sosok Yudi yang berdiri di depan Faenish, melainkan seorang wanita dalam usia sekitar tiga puluhan dengan tatapan yang sangat menusuk.

"Apa kau si pelayan kesayangan nenek?" Wanita itu memandang Faenish dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.

"Maaf jika kedatangan kami mengganggu, Faenish dan—Ehm, Evert," sapa Yudi tanpa memedulikan tatapan menusuk dari sang wanita di depan Faenish. Yudi justru memasang senyuman aneh yang diyakini Faenish ditujukan padanya dan Evert. "Ini Nyonya Ivone Landeng. Cucu Nenek Magda yang dulu pernah kuceritakan, beliau ingin cepat-cepat datang sehingga kami terpaksa mengganggu kalian pada jam begini."

"Dan aku Jovan," seru seorang pemuda yang dari tadi berdiri di samping Ivone.

"Mirip dengan Evert bukan?" ujar Yudi.

Kalau diperhatikan lebih saksama, Jovan memang memiliki bentuk wajah yang hampir mirip dengan Evert, hanya saja dalam artian lebih baik. Bukan berarti Evert jelek, pemuda itu rupawan, Faenish mengakui itu, hanya saja kalau dibandingkan dengan Jovan, Evert seperti kurang sesuatu. Namun itu cuma berlaku saat Jovan diam.

Faenish hanya bisa tercengang saat melihat senyum Jovan yang ditarik begitu lebarnya serta tingkah pemuda itu yang mengulurkan tangan dengan melompat-lompat seperti anak kecil. Jika Ryn bertingkah seperti gadis kecil yang sedikit heboh maka Jovan bertingkah seperti anak kecil yang kelewatan hiperaktif.

Ragu-ragu Faenish mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Jovan. "Fa-Faenish."

"Baiklah kurasa cukup, kami lelah. Bisakah kalian membawa masuk barang-barang kami." Ivone menerobos masuk dan langsung menghempaskan dirinya di atas sofa. "Siapkan kamar kami. Aku ingin istirahat begitu selesai memastikan semua barangku tidak ada yang hilang. Kau bisa membuat teh bukan? Kalau tidak, segera cari orang yang bisa membuatnya." Ivone dengan terang-terangan memandang Faenish dengan tatapan meremehkan. Namun tatapannya segera berubah bersemangat saat beralih ke arah Evert. Ivone bahkan memanggil pemuda itu untuk duduk di sampingnya.

Faenish ingin segera menjauh dari tempat itu, ia punya perintah yang harus segera dilaksanakan. Masalahnya, Faenish tidak punya pilihan selain bertahan di tempatnya. Ia harus tetap menjaga jarak dengan Evert agar tidak lebih dari lima meter.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya Ivone dengan nada tidak senang begitu menyadari Faenish masih berdiri di tempatnya.

"Maaf Nyonya, Evert tidak dalam kondisi baik, saya diminta mengawasinya." Faenish membuat alasan.

"Evert? Kau memanggil majikanmu dengan tidak sopan begitu? Dia jelas-jelas adalah bagian keluarga kami. Apa kau tidak bisa melihat kemiripan di antara Evert dan putraku Jovan? Evert bahkan memiliki bentuk mata yang persis denganku." Ivone menyempatkan diri untuk tersenyum ramah ke arah Evert sebelum kembali melotot kepada Faenish. "Nenekku sepertinya masih tidak berbakat dalam memilih pelayan. Karena itu aku akan mengadakan uji kelayakan untuk semua pekerja. Kumpulkan mereka semua setelah sarapan."

***

Seumur hidupnya Faenish tidak pernah membayangkan rumah Nenek Magda akan dipenuhi orang. Kini, saat hal itu terjadi, rasanya ada yang salah.

"Ada apa ini?" tanya Drina yang ikut tak percaya melihat pemandangan halaman rumah Nenek Magda sore itu.

"Apa kau punya acara di rumah?" seru Ryn dengan nada heran saat menepikan mobilnya.

"Kurasa ini ada hubungannya dengan Nyonya Ivone," jawab Faenish. "Entah apa yang ia lakukan dengan uji kelayakan untuk semua pekerja."

"Apa kau juga mengikutinya?" tanya Ryn.

"Ya. Aku adalah peserta terakhir, mengingat aku harus ke sekolah. Namun tak kusangka tesnya belum berakhir hingga sekarang."

"Aku ingin melihatnya, apa boleh?"

"Sebentar lagi matahari terbenam." Drina bergumam cukup keras hingga membuat Ryn mendengus kesal.

"Maaf Ryn, sepertinya Nyonya Ivone juga tidak akan mengizikannya. Aku pergi, terima kasih tumpangannya." Faenish pun melangkah turun dan melambaikan tangan. Begitu Mobil Ryn melaju pergi, Faenish berbalik untuk menuju ke rumah.

Bukan hanya dipenuhi para pekerja, halaman depan juga begitu bising karena semua orang di sana sedang berbagi cerita dengan bersemangat. Bahkan untuk bisa sampai ke pintu depan saja, Faenish butuh waktu beberapa menit karena harus berulang kali menjawab sapaan dari beberapa orang yang ia kenal.

"Kau sudah pulang Faenish," sapa Sarashalom saat berpapasan dengan Faenish di pintu depan. "Bisakah kau temani adikmu berbelanja, ada beberapa bahan yang kurang untuk tes memasak."

"Ayo cepat. Aku sudah tidak tahan berlama-lama di sini." Tanpa menunggu respons Faenish, Rexel langsung menyeretnya pergi. "Benar-benar berisik."

***

Di depan toko, Faenish sedikit ragu. Ini bukan pertama kalinya ia berbelanja di sini, hanya saja, ini pertama kalinya Faenish datang berbelanja setelah tahu bahwa penjualnya adalah seorang Profesor di Akademi Pelatihan Bakat.

"Ah, Faenish, Rexel," sapa Agristi ramah seperti biasanya. "Apa kalian butuh sesuatu?"

"Ya," jawab Faenish gugup, sementara Rexel langsung menyerahkan sebuah kertas berisi daftar belanjaan mereka hari ini.

"Kurasa semuanya ada." Agristi membaca kertas yang diberikan Rexel dan tersenyum lebar. "Sebentar, aku harus memanggil Rael untuk memotong daging yang kalian butuhkan—ah itu dia." Agristi menunjuk ke arah seorang pemuda yang baru saja masuk dari pintu belakang dengan menenteng sebuah kas besar. "Dia adalah pegawai baruku. Namanya Rael dan dia adalah seorang pendatang di pulau ini, jadi kuharap kalian membantunya beradaptasi di sini."

Faenish menatap pemuda yang cukup berotot dan tampak beberapa tahun lebih tua bernama Rael itu dengan lekat. Bukan karena tertarik, tetapi rasanya ia pernah melihat sosok itu sebelum ini. Hanya saja, ia tidak bisa ingat di mana. "Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Faenish kepada pemuda itu.

Rexel mendengus sebelum bergumam cukup keras, "alasan klise."

Agristi tertawa mendengarnya, sedangkan Rael terlihat agak grogi saat memotong daging.

"Bukan itu maksudku." Faenish buru-buru menjelaskan. "Wajahmu terlihat tak asing, tetapi aku tidak tahu di mana pernah melihatmu sebelumnya. Maaf, mungkin perasaanku saja. Aku memang sering salah mengira seseorang karena daya ingatku sedikit bermasalah."

"Sepertinya kau pernah melihat sepupuku. Penampilannya tidak jauh berbeda denganku dan kudengar dia juga datang ke kota ini." Rael tersenyum dan menyerahkan belanjaan Faenish.

"Kurasa juga begitu. Maaf," gumam Faenish.

Walaupun Rael tampak tidak salah paham lagi. Namun Rexel tetap memandang Faenish dengan tatapan yang hanya dapat diartikan sebagai sebuah sindiran. Jadi Faenish memilih untuk menyibukkan diri memeriksa semua bahan dalam kantong.

Seorang gadis melangkah masuk dengan suara yang dibuat mendesah aneh mengalihkan pandangan Rexel. Namun Faenish tidak melihatnya, ia masih meneruskan kesibukan memeriksa belanjaan agar bisa secepatnya kembali ke rumah.

"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Kepala Faenish langsung terangkat dan memandang sosok remaja yang kini berdiri di depan Rael dan menanyakan pertanyaan yang sama dengan Faenish sebelumnya, hanya saja dalam nada yang berbeda. Faenish jelas tidak mendesah berlebihan seperti gadis itu dan tujuan mereka berdua menanyakan pertanyaan itu tentu saja berbeda. Namun Rexel tetap saja tertawa dan memberikan kode mata ke arah Faenish.

"Ayo pergi." Faenish buru-buru membayar dan segera meninggalkan tempat itu.

***

Uji kelayakan yang dibuat Nyonya Ivone masih berlangsung selama beberapa jam setelah kepulangan Faenish dan Rexel. Namun Faenish tidak begitu memedulikannya dan sibuk membaca buku. Ia bahkan tidak mempersiapkan apa pun saat akhirnya ia dipanggil menghadap Nyonya Ivone.

"Kau masih dibawa umur yah?" tanya Nyonya Ivone begitu Faenish duduk di depannya.

"Ya."

"Sejak kapan kau dipaksa bekerja dengan nenekku?"

"Entahlah, saya juga tidak begitu ingat kapan pertama kali diminta membantu Nenek. Namun itu jelas bukan paksaan dan saya hanya membacakan buku."

"Apa kau bisa melakukan pekerjaan lainnya? Kau bisa memasak?"

Faenish menggeleng. Ia bisa memasak untuk dirinya sendiri, tetapi kemampuannya jelas di bawah rata-rata. Terima kasih untuk Rexel yang meneriakan kata-kata itu setiap kali dipaksa memakan masakan Faenish.

"Apa kau bisa membersikan rumah dengan baik?" tanya wanita itu lagi sebelum memandang berkeliling dan menjawab sendiri pertanyaannya. "Tidak, tempat ini terlihat agak kotor. Apa kau memahami mode?—Tidak tentu saja tidak. Aku jelas tidak dapat mempekerjakanmu. Kau di bawah umur dan aku masih bisa membaca buku tanpa bantuan. Kuharap kau segera mengemasi barangmu dan keluar dari rumah ini besok pagi-pagi."

Faenish sudah menduga ini akan terjadi, yang ia tidak tahu hanya alasan apa yang bisa ia gunakan untuk tetap bisa kembali ke rumah ini dan berada cukup dekat dengan Evert. Mengaku jadi pacarnya? Jelas tidak mungkin.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top